[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Hanya Sedang Jatuh Cinta – Cussonsbaekby

dd48edc10edbdcf7271faabf95851c56.jpg

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Hanya Sedang Jatuh Cinta – Cussonsbaekby
CHEN X OC || Romance, Hurt comfort || General

Lengkung bibir di pipinya demikian manis, pun sejak awal kulihat dari sudut mataku saat dia menyapa untuk pertama kali. Pertama, kedua, ketiga, hingga sekarang, senyumnya adalah hal yang ingin selalu kulihat dari dirinya.
Jina.

Bersamanya kulewati musim gugur di bawah riaknya daun kering yang beterbangan, berbagi selimut tebal dan bisikan hangat ketika api unggun berkobar di musim dingin, bercanda tawa di antara semerbak harumnya mekar bunga saat musim semi, dan saling mendekatkan diri walaupun musim panas tengah berkelana.

“Kali ini aku butuh lima belas menit, Jongdae,” bisiknya lirih. Suaranya lembut, mengalun bersama angin dan melebur di gendang telingaku. Manis, seperti senyumnya.

Matanya yang setenang telaga menatapku dengan penuh harap, begitu damai, begitu menenggelamkan.

“Sepuluh menit,” tawarku sambil membalas senyumnya, dia menggeleng dua kali dengan hidung berkerut, nampak tidak setuju dengan tawaranku. Maka dari itu aku menarik hidungnya dengan gemas lalu mengecupnya. “Baiklah, bagaimana kalau satu jam?”

Tawanya berderai, lengkap dengan wajah riang yang selalu terlihat indah. Lengan kurusnya melingkar di perut sampai punggungku, mengusapnya berkali-kali, hangat. Dia sehangat mentari pagi, detak jantungnya yang mengenai dadaku berirama seperti detikan jam, menenangkanku.

“Bisa gawat jika aku benar-benar tidak melepasmu selama satu jam. Tidak keberatan, Tuan Sok Sibuk?”

“Ehm – hm …” Aku berdehem menanggapi candaannya. Jina mengusakkan hidungnya ke dadaku, posisinya yang tengah berbaring sambil memelukku dari samping benar-benar mengundangku untuk balik memeluknya, maka dengan senang hati kulakukan itu.

Sambil menghidu harum rambutnya yang semanis madu, tanganku menyentuh perut yang terbalut piyama sutera yang Jina kenakan. Aku tersenyum karena merasakan pergerakan di sana. Bukan karena getar tawa Jina yang kegelian, atau yang lebih konyol karena gempa bumi, tapi gerakan dari sesuatu dari dalam perut Jina.

Sesuatu itu adalah seseorang.

Seseorang itu adalah buah hati kami.

“Sudah enam bulan umur baby kita.” Riang sekali terdengar dari bisikan Jina. Aku bisa merasakan senyum dari suaranya, walaupun aku tidak melihatnya karena dia menenggelamkan wajahnya pada dadaku. “Dan selama enam bulan ini aku hanya mengidam ingin dipeluk olehmu. Kau sangat beruntung.”

“Sulit jika aku tengah benar-benar sibuk, sayang.”

“Ya, Tuan Kim memang selalu sok sibuk.”

Begitu, dia selalu merajuk. Tapi aku menyukainya. Tingkahnya yang menggemaskan itu membuatku jatuh berkali-kali padanya. Jatuh tanpa tahu di mana dasarnya dan mustahil untuk kembali. Dosakah aku mencintainya seperti ini, Tuhan?

“Ingatlah Nyonya, kau sendiri yang mendatangiku saat baby merindukanku, kan?” dia merona, mengusakkan kembali wajahnya di dadaku sambil merengek, menyuruhku berhenti untuk menggodanya, padahal jelas-jelas dia duluan yang menggodaku. Sungguh tidak adil.

Biar kuceritakan bagaimana aku bisa menyayanginya begitu dalam, hingga aku tak mengetahui seberapa jauh lubang yang ia buat di dalam perasaanku.

Aku dan dia dipertemukan tidak dengan frasa indah. Aku tengah frustasi, dia lagi putus asa. Sebotol wine membuat garis takdir di antara kami. Aku tidak pernah menyalahkan takdir, aku bahagia bisa bertemu dengannya, yang mungkin saja takdirku yang tertunda, atau mungkin tertukar.

Senyumnya membuatku enggan untuk beranjak kala itu, ketika kami tengah berhadapan dengan segelas wine di masing-masing genggaman.

“Kau sudah punya pacar? Atau istri? Atau kau dipecat dari pekerjaanmu? Bosmu super duper otoriter? Atau kau lupa menaikkan resleting celanamu saat rapat di kantor?” itu adalah sederet kalimat tebakannya dan aku tidak diberinya waktu untuk mengelak atau menjawab. Kepalaku pusing dengan semua masalah keluarga dan pekerjaan, ditambah lagi dengan seorang wanita cantik berbicara panjang lebar di hadapanku. Aku sudah miring.

“Tidak lebih miris dariku. Pacarku selingkuh sehari sebelum pertunangan kami.” Jina menceritakan masalahnya sendiri kala itu. Aku tidak tahu harus menanggapi apa. Tapi dia terus saja meracau tentang betapa brengsek pacarnya dan bersumpah bahwa dia tak kan menerimanya kembali.

Kukira itu adalah hari pertama dan terakhir aku menemui wanita cantik yang suka ikut campur ke dalam masalah orang lain itu. Kukira perkenalan kami hanya sebatas mengetahui nama satu sama lain. Namun besoknya, besok dan besoknya lagi aku bertemu dengannya, terpesona lagi padanya, jatuh dan jatuh lagi tanpa aku sadar, dan melakukan kesalahan besar yang seharusnya tidak kami lakukan.

Kami bercinta. Kami mencinta.

Seiring berjalannya waktu, aku mendapatkan tempat untuk mencurahkan kasih sayangku. Aku mencinta Jina. Sejak hari pertama kami bertemu, besok, besoknya, dan besoknya lagi.

Dua tahun lalu, ketika pertama kali aku melihat senyumnya, aku tengah jatuh cinta.

Setahun lalu, ketika Jina tertawa dan berbahagia sembari memamerkan cincin pertunangan padaku, aku tengah jatuh cinta.

Setengah tahun lalu, ketika Jina mengenakan gaun panjang pengantin dengan wajah malaikat dan sebuket bunga melintasi altar, aku tengah jatuh cinta.

Kemarin, hari ini, saat Jina berada di pelukanku, aku pun tengah jatuh cinta.

Aku jatuh cinta pada Jina, aku tengah jatuh cinta padanya, aku masih jatuh cinta padanya, dan mungkin, aku akan jatuh cinta padanya.

Adakah yang lebih bodoh dari orang yang tengah jatuh cinta?

Sampai kapan aku harus terjebak dalam perasaan jatuh cinta yang menjerumuskan ini?

“Jam berapa suamimu pulang hari ini?”

FIN

2 tanggapan untuk “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Hanya Sedang Jatuh Cinta – Cussonsbaekby”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s