[CHEN BIRTHDAY PROJECT] FROM THE BEGINNING UNTIL NOW – Hanafk

6e6b353dd5fb8a3a0f66af729d3691fc.jpg

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] || (FROM THE BEGINNING UNTIL NOW) || Hanafk || Chen and Choi Jiyeon (OC) || Romance || Rate: T

TANGANKU bergerak membetulkan kerah kemeja putihnya yang menurutku masih kurang rapi lalu beralih merapikan dasinya yang terlihat longgar. Setelah merasa benar, aku menepuk-nepuk dadanya yang bidang “Kau sangat tampan Kim Jongdae.” Ucapku tanpa sadar.

Senyum di wajahnya merekah, ia menarik pipiku gemas “Aku memang tampan sejak lahir, kau saja yang baru menyadarinya Choi Jiyeon.”

“Akh.” Aku mengaduh pelan dan menepis tangannya “Yang aku sadari dari dulu adalah sifatmu yang jahil.” Celetukku yang membuat ia tertawa pelan.

Melihatnya tersenyum dan tertawa membuat hatiku terenyuh. Setelah senyum dan tawa palsu yang ia lontarkan selama beberapa bulan belakangan ini, akhirnya aku dapat melihatnya tersenyum dan tertawa dengan tulus. Tawa favoritku, salah satu hal yang membuatku memilih menjatuhkan hatiku padanya.

“Tapi kau memang benar, mengapa sejak awal aku tidak pernah menyadari kalau kau setampan ini eoh?” aku menarik kedua sudut bibir Jongdae, mempertahankan senyumannya “Berjanjilah padaku kalau kau akan terus tersenyum seperti ini hm?”

Jongdae menyentuh kedua punggung tanganku “Kalau aku menuruti permintaanmu, rahangku akan cedera karena tersenyum terus. Kau mau aku tersenyum terus setiap hari seperti orang gila?” Candanya.

Aku menahan diriku untuk tidak tertawa “Aku serius Kim Jongdae!” Rajukku.

“Aku tau.” Suaranya mendadak kaku, ia merendahkan sedikit tubuhnya lalu menatapku “Aku sanggup mengabulkan semua permintaanmu Choi Jiyeon, tapi maaf kali ini aku tak bisa, dan aku yakin kau tahu benar apa sebabnya.”

Aku menghela napas panjang dan memalingkan wajah—melepas kontak mata kami karena aku tak sanggup memandang mata itu terlalu lama “Hidupmu harus terus berjalan Kim Jongdae, dengan atau tanpa adanya diriku.” Aku tersenyum tipis “Jangan sia-siakan hadiahku Ne, Chen-ah.”

Jongdae menggeleng pelan, merengkuhku ke dalam pelukannya “Aku mencintaimu Jiyeonnie.” Aku terdiam namun membalas pelukannya, melingkarkan tanganku di pinggangnya. Mataku terpejam saat kilasan masa lalu terbayang di benakku.

Ketika aku bertemu Jongdae untuk pertama kalinya, 18 tahun yang lalu.

.

.

Musim sudah berada di penghujung musim gugur, angin bertiup sangat kencang membawa hawa dingin yang kian menusuk tulang, ranting-ranting yang telah gugur daunnya bergerak mengikuti irama angin dan berderak pelan setiap kali angin yang lebih kencang menerpa. Saat itu pula aku dibawa ke rumah sakit oleh Orang tua dan kedua Kakakku.

Aku terbaring di tempat tidur saat melihat Orang tuaku masuk ke kamar rawatku dengan wajah suram. Kedua kakakku dan aku menatap Ayah dan Ibu penuh tanda tanya, Ayah tidak memandangku saat mengajak Kak Junmyeon dan Kak Joohyeon keluar ruangan. Sementara Ibu mengambil tempat duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku, matanya terlihat sembab seperti habis menangis.

“Ibu kenapa menangis.” Ingin sekali rasanya aku mengusap mata Ibuku, tapi tak bisa kulakukan karena tanganku yang tidak digenggam oleh Ibu ditusuk sebuah selang panjang “Apa Jiyeon membuat kesalahan?”

Ibu menggeleng dan mengusap lembut rambutku “Kau tidak membuat kesalahan apapun, Jiyeon adalah anak yang baik.” Suara Ibu terdengar sumbang.

“Ibu, kapan Jiyeon pulang dari rumah sakit? Jiyeon tidak suka lama-lama di sini.”

Ibu langsung terdiam, tidak menjawab pertanyaanku namun genggamannya pada tanganku mengerat “Maafkan Ibu Jiyeon, maafkan Ibu.” Ujarnya lirih, Ibu menunduk—aku dapat merasakan air mata Ibu yang membasahi tanganku.

Walaupun saat itu aku masih terlalu muda untuk mengerti banyak hal, tapi ada satu hal yang aku tahu dari tangisan Ibu saat itu, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

***

“Jiyeon, ayo kita ke kamar.”

Aku menggeleng, melepaskan tanganku dari perawat itu dan duduk di salah satu kursi taman “Jiyeon masih mau duduk-duduk di sini.” Ujarku.

Kakak perawat itu tersenyum “Baiklah tapi hanya 10 menit ya, nanti aku akan menjemputmu.” Katanya sebelum meninggalkanku.

Ayah dan Ibuku sedang bekerja sedangkan Kak Junmyeon dan Joohyeon sedang sekolah, jadi aku sendirian di rumah sakit. Membosankan memang  karena aku tidak punya teman sama sekali dan hanya ditemani oleh Kakak perawat tadi. Aku mengayunkan kakiku seraya memandang sekeliling. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingku. Aku menoleh dan mendapati dia sedang menatapku dengan senyuman lebar hingga kedua matanya menyipit. Mau tak mau saat melihat senyumannya, aku pun ikut tersenyum.

Dia memiringkan kepalanya seperti mengamati penampilanku “Aku tidak pernah melihatmu.”

Aku menggaruk kepala belakangku “Jiyeon baru datang dua hari yang lalu.”

Mulutnya membentuk huruf o lalu mengangguk “Berarti aku adalah seniormu di sini, aku sudah di rumah sakit selama seminggu.” Ia mengulurkan tangannya “Namaku Kim Jongdae.”

Aku menatapnya terkesima dan menjabat tangannya “Aku Choi—“

“Choi Jiyeon kan!” Ia memotong ucapanku lalu menepuk dadanya pelan “Aku sudah tau.”

Mataku berbinar-binar, hebat sekali dia bisa menebak namaku “Jongdae hebat ya.” Senyumku mengembang “Jongdae sudah satu minggu di sini? Apa tidak bosan?”

“Tentu saja tidak.” Ia mengambil sebuah crayon berwarna merah dari sakunya “Kan ada banyak orang yang bisa aku kerjai, coba saja lihat celanamu.”

Aku sontak berdiri dan berusaha melihat belakang celanaku “Jongdae nakal, kata Ibuku kita harus jadi Anak baik!” Pekikku sambil menepuk-nepuk bokongku agar noda itu hilang.

Jongdae tertawa melihatku, ia mengibas-ngibaskan tangannya “Aku tidak nakal, hanya iseng.”

“Iseng dan nakal itu sama saja.” Aku menggembungkan pipiku sebal, mataku membulat saat sesuatu jatuh di atas kepala Jongdae “Di atas kepalamu ada putih-putih.” Ujarku seraya membersihkan ‘benda’ itu dari kepalanya.

“Eh.” Jongdae menengadahkan kepalanya, matanya reflek terpejam saat benda itu jatuh di sekitar wajahnya “Ini adalah salju Jiyeon.”

“Salju?” Aku menadahkan tangan untuk menampung salju yang turun dengan perlahan “Salju pertama di musim dingin ya, Indahnya.”

Hari itu, hari pertama musim dingin berlangsung sekaligus hari dimana kami bertemu untuk kali pertama. Dia … Kim Jongdae, dengan kepribadiannya yang unik dalam sekejap berhasil menarik atensiku, layaknya Mentari yang menarik planet di sekitar agar mengitarinya, membuatku tak mampu berpaling.

Jongdae adalah duniaku, dan apapun akan ku lakukan demi dirinya.

.

.

.

Aku menarik napas dalam, meraup seluruh udara di ruangan ini dengan rakus, berharap rasa sesak yang kurasakan dapat berkurang. Mataku terbuka perlahan saat Ayah mengelus bahuku yang tertutup gaun berwarna putih, dapat ku lihat guratan khawatir yang amat sangat di wajahnya. Aku tersenyum lembut—mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. Ayah menghela napas panjang sebelum senyum tipis muncul di wajahnya “Kau siap?” Aku mengangguk pelan seraya melingkarkan tanganku pada Ayah.

Ayah memulai langkah dengan hati-hati—menuntunku yang berjalan tertatih melewati karpet beludru berwarna merah yang terbentang menuju altar. Altar itu begitu bersinar di mataku, membuatku tak bisa menahan diri untuk terus menatapnya. Dan dia di sana, berdiri di samping pendeta dengan tuxedo putih yang menempel pas di tubuhnya. Ia menatapku lamat-lamat, seolah menantiku untuk berdiri bersamanya di altar pernikahan, saling mengucapkan janji suci dan mengikat hubungan kami. Namun sayangnya, bukan aku yang akan berdiri di sampingnya hari ini.

Melainkan orang lain.

Ayah menuntunku menuju tempat duduk terdepan, di samping keluargaku dan keluarga Jongdae. Aku sadar bahwa hampir semua orang di tempat ini lebih tertarik memandangku, terutama orang-orang yang mengetahui kisahku dan Jongdae. Tentang musim salju pertama kami, tentang aku yang mengalihkan donor jantungku agar diberikan pada Jongdae, dan tentang aku yang meminta Jongdae menikahi gadis lain—seorang gadis baik yang mencintai Jongdae ku sepenuh hati, sehingga kelak ia tidak akan dibayangi terus oleh masa lalunya bersamaku.

Karena Jongdae adalah duniaku dan aku akan melakukan apapun demi dirinya.

Dadaku mulai sesak dan terasa sakit, mungkin tak lama lagi waktuku akan berakhir. Namun aku sudah cukup puas merasakan setiap detik dan menit yang ku lewati bersamamu. Dari awal hingga sekarang pun hati ini akan selalu menjadi milikmu Kim Jongdae.

Meskipun aku belum pernah mengatakan apapun padamu tentang rasa ini.

FIN.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s