[CHEN BIRTHDAY PROJECT] About Us-Sunflowerose

278ab45593a34b32a53fb6a3fc59a846

[CHEN BIRTHDAY PROJECT]
About Us-Sunflowerose🌸
Chen & OC || Angst || Oneshoot || G

.

.

.

“Hey, sudah lah… Diputusi tanpa sebab begitu sudah biasa. Kau saja yang berlebihan, Kai.” Seorang lelaki berwajah kotak itu berseru cukup keras pada seseorang diseberang teleponnya.

Ini sudah tengah malam. Musim dingin pula. Namun Tokyo tentu tak pernah mati. Jalanan dipusat kota ramai seakan jam digital raksasa yang ada dipuncak gedung tinggi itu tak berpengaruh apa-apa.

Seperti Jongdae-Si lelaki berwajah kotak- atau yang lebih akrab dipanggil ‘Chen’, masih menapak ditorotoar jalan lengap dengan mantel hitam khas musim dinginnya dan leher tenggelam dalam syal coklat tua.

“Sudahlah. Kau merusak acara makan anginku, Jong. Ternyata Kim Jongin yang sedang patah hati sungguh merepotkan. Kututup ya.. Besok pagi aku akan kerumahmu untuk memastikan kau masih waras agar tidak bunuh diri menjelang natal. Sampai Jumpa..”

Baru saja Chen hendak memasukkan lagi ponselnya ke saku mantel, getaran kembali dihasilkan dari benda petak tipis serbaguna tersebut. Ketika Chen melirik kembali layar ponselnya, hanya deretan nomor tanpa nama disana.

“Siapa yang salah sambung tengah malam begini? Aishh..” Menggerutu, Chen mengangkat telepon dengan malas.

“Ha-”

“Hey, Park Chanyeol! Kau ini bagaimana sih? Aku sudah tidak ada bedanya lagi dengan orang dungu berkat alamat bodohmu yang tidak membantu.” Chen mengernyitkan dahi ketika disambut oleh suara melengking seorang wanita. Dan satu lagi, gadis ini menggunakan bahasa korea, bahasa tempat asalnya.

“Tung-”

“Tengah malam begini menyeret tas raksasa dan bertanya-tanya pakai bahasa isyarat ditengah Tokyo yang maju ini. Seharusnya kau sadar aku ini tak bisa bahasa jepang dan tengah malam begini pedagang kaki lima tidak ada yang bisa berbahasa inggris!”

“Tap-”

“Jangan memotongku Chanyeol bodoh! Kau-”

“Maaf nona tapi aku bukanlah Chanyeol yang kau maksud itu. Kurasa kau salah sambung”

“Owh.. Benarkah? Baiklah baiklah maafkan aku telah mengganggu tidur nyenyakmu tuan. Kambalilah tidur dengan nyenyak dan mimpi indah. Maaf, kututup du-”

“Tunggu tunggu! Apa kau sedang dipusat Tokyo? Dan kau orang Korea?”

“Y-ya.. Ada apa?”

“Kebetulan nona. Kau salah sambung pada orang yang tepat. Aku orang korea yang tinggal di Tokyo. Mungkin aku bisa membantumu.. Kalau kau mau.. Kau sedang dipusat kota, kan?”

“Owh benarkah?! Tentu aku mau. Okay, aku sedang didekat sebuah pom bensin yang ramai dan, oh-oh didekatnya ada taman yang besar, dan..” Chen tersenyum ketika mendengar suara ceria si gadis.

“Yang dikanannya terdapat sebuah salon? Aku sedang berada didekat situ. Jangan matikan sambungan teleponnya, okay?”

“Benarkah? Syukurlah.. Kutunggu kalau begitu. Em.. agar kau bisa mengenaliku, aku berdiri didekat pohon paling rindang disana, mengenakan mantel cream dan syal merah tua. Jika sulit, namaku Jeosi. Kau bisa memanggilku.”

Jeosi? Mengapa nama itu tidak asing ditelinga Chen?

“Okay, aku sudah bisa melihatmu-”

Perkataannya terhenti, langkahnya terhenti, bahkan waktu juga seakan berhenti. Ketika ia melihat dirinya.

Dirinya, yang mengenakan mantel cream dan syal merah yang bahkan menutup sebagian wajahnya, berdiri dibawah pohon paling rindang disana. Menempelkan ponsel ditelinga kanannya sambil menatap Chen dengan pandangan kosongnya. Dirinya, yang membuat Chen menolak ajakan kencan dari gadis lain. Dirinya, yang memporak porandakan hati dan pikiran Chen dalam dua tahun terakhir. Dirinya, yang menciptakan rasa penyesalan terbesar di dalam diri Chen.

Disana mereka berdiri, saling berhadapan, menatap satu sama lain dalam diam dengan pandangan yang tercampur antara terkejut, marah, sedih, kecewa dan yang paling menominasi-rindu

Tentu saja nama itu tidak asing bagi Chen, karena itu adalah Park Jeosi. Jeosi-nya, gadisnya..

.

.

.

.

“Maaf, ini bukan rumah yang mewah. Tapi setidaknya, cukup nyaman untuk anak magang macamku ini.” Chen membuka pintu apartementnya, sambil sedikit bergurau untuk mencairkan suasana canggung antara sepasang mantan yang harus berpisah dengan cara yang tidak baik.

Chen menawarkan sebuah tumpangan tidur diapartementnya yang memiliki dua kamar karena rupanya alamat Park Chanyeol, sepupu Jeosi, lumayan jauh dari pusat kota.

“Tentu tak apa. Ini nyaman.”

Satu hal yang disesali. Jeosinya yang ceria seperti dulu dan saat tadi berbicara ditelepon, kini telah berubah dingin ketika bertemu dengannya. Walau senyumnya masih sama. Sama saja membuat hati Chen bergetar.

“Kamarmu disana. Kau bisa gunakan kamar mandi yang itu untuk membersihkan diri. Aku akan membuatkan coklat panas.”

“Emm, Chen..” Chen menoleh sebagai jawaban.

“Terima Kasih.”

Chen tidak tahu harus tertawa atau menangis karena dua kata sederhana itu.

.

.

.

Chen dan Jeosi duduk saling bersisihan di sofa putih gading dengan ditemani secangkir coklat panas dan suasana hening yang mendominasi.

“Jeosi-ssi” Jeosi menoleh sebagai jawaban.

Owh.. mengapa Chen merasa memanggil nama gadisnya dengan embel-embel ‘ssi’ begitu asing dan kelu dilidahnya?

“Aku.. menyesal.” Jeosi hanya diam, mendengarkan. “Aku benar-benar terpuruk selama ini. Aku selalu merasa kurang dan semua itu kerena mu..”

“Bisakah kita tidak usah membicarakan itu?” Jeosi berkata tanpa menatap lawan bicaranya.

Chen segera memutar tubuhnya menghadap Jeosi dan meraih kedua tangan gadis itu.

“Maafkan aku Jeo-ah.. Hidupku dipenuhi penyesalan tepat setelah hari itu” Jeosi menarik tangannya namun Chen meraihnya kembali dan menggenggamnya lebih erat lagi.

“Sudahlah, Chen!” Jeosi tentu juga ingin kembali. Namun, bagaimanapun, ketika kau menemukan kekasihmu-yang akan bertunangan denganmu dua minggu lagi-tengah bermain dengan wanita lain dimana yang kau tau hanyalah dia yang sedang menjalankan tugas bersama kelompoknya terlalu menyakitkan. Terutama ketika dibagian kau menegurnya dan dia malah mengatakan bahwa kau bukan siapa-siapanya. Itu adalah bagian yang paling menyiksa batin.

“Tidak, Jeo-ah, kumohon. Berikan aku kesempatan. Kali ini aku bersumpah, aku berjanji akan ketulusanku. Tidak bisakah kau lupakan semuanya dan kita kembali baik-baik saja? Tidak bisakah-”

Pernyataannya harus dipotong oleh mendaratnya telapak tangan si gadis dipipi si lelaki dengan kasar.

“Kau pikir semudah itu? Kau pikir mudah melupakan kesalahan bejatmu yang bahkan membuat keluargaku takut aku tidak akan menikah karena aku selalu menolak ajakan kencan pria manapun atau menolak perjodohan oleh nenekku. Kau, terlalu jahat untuk kuberi hatiku kembali, Kim! Kumohon, jadilah pria baik-baik untuk masa depanmu. Tapi aku tidak akan menerimamu lagi. Seorang lelaki yang lebih serius telah mendatangiku dan kami telah bertunangan. Maafkan aku..”

Jeosi bangkit, masuk kembali kekamarnya untuk mengambil tas-tas raksasanya, dan ketika keluar masih menemukan Chen dalam posisinya yang masih sama. Kaku dengan pandangan kosong layaknya patung. Namun Jeosi tidak lagi mau peduli, dan tetap meneruskan langkahnya menuju pintu apartement itu.

“Terima kasih untuk bantuannya, Chen-ssi. Kurasa akan lebih baik jika aku kerumah sepupuku malam ini saja. Selamat tinggal!”

Dan disana, hanya tinggal Chen seorang diri. Mentap punggung sempit yang menghilang dibalik daun pintu diiringi debuman tanda pintu tertutup rapat. Beginikah rasanya ketika ia meninggalkan Jeosi dulu itu?

.

.

.

.

–END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s