[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Surcease

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Surcease-cedarpie24
Jongdae, Minseok, OC || Angst || PG

 

“Beri tahu aku cara paling efektif untuk melupakan masalah.”

Siang itu Jongdae duduk di kursi kafetaria kantornya dengan lesu, mengaduk-aduk kopinya yang masih menguarkan uap hangat sementara kedua matanya menatap pemuda di hadapannya lamat-lamat. Pertanyaan tadi melompat begitu saja dari mulut Jongdae, sama sekali tak direncanakan sebab otaknya saja sudah terasa begitu semrawut untuk mengontrol kerja bagian tubuhnya yang lain.

Minseok balas menatap Jongdae sambil menyeruput jus alpukatnya. Siang hari begini, kelihatannya memang hanya Jongdae seorang yang memesan kopi panas alih-alih minuman dingin. Fakta ini membuat Minseok tersadar betapa kacaunya Jongdae. “Kau tak bisa lari dari masalahmu, Kawan.”

“Aku tidak bilang ingin lari dari masalahku. Aku hanya ingin melupakannya, sebentar saja,” sahut Jongdae cepat. Kedua tangannya kini menangkup cangkir kopinya, mengantar rasa panas yang perlahan menyebar ke seluruh tubuh. Diliriknya jus dingin Minseok. Kelihatannya akan lebih baik jika dingin yang menyapa sarafnya. Ia menyesal tak memesan minuman dingin.

Ia menyesal.

Jongdae menggelengkan kepalanya ketika kelebatan kejadian kemarin kembali melintasi benaknya dan mengantar rasa sesal itu ke dadanya.

Berhenti, Kim Jongdae. Kau hanya perlu berhenti memikirkannya saja.

“Well, kata orang sibukkan dirimu dan masalahmu akan terlupakan.” Minseok menukas, menyeret Jongdae kembali ke realita.

Jongdae mengembuskan napas dengan berat. “Aku sudah cukup sibuk hari ini, kau melihatnya sendiri.”

Sejenak Minseok terdiam sebelum teringat seberapa repotnya Jongdae mengurus projek mereka beberapa jam lalu. Setiap senti meja kerja pemuda itu tertutup berkas dan ia kelihatan tak pernah berhenti mengetik, mengangkat telepon, atau berteriak pada bawahan mereka untuk lekas-lekas menyelesaikan bagian mereka. Jongdae memang sangat sibuk hari ini.

“Dan kau masih belum bisa lupa?” Minseok memastikan dengan ragu.

“Yah, masih belum bisa.”

Kini giliran Minseok yang mengembuskan napasnya. Kelihatannya Jongdae berhasil menularkan frustasinya sebab Minseok mulai mengerutkan kening dengan serius.

“Memang masalah apa, sih yang membuatmu sebegini repot? Sebesar apa sampai kau tak bisa melupakannya?” Minseok berhenti sejenak, ia memperbaiki posisi duduknya sebelum melanjutkan, “Kau … bertengkar lagi dengan Joo?”

Jantung Jongdae terasa berhenti bekerja untuk beberapa sekon. Tanpa sadar ia mengeratkan cengkraman kedua tangannya pada cangkir kopinya. “Y-yah, semacam itulah.”

Minseok tak menanggapi untuk beberapa saat. Ia kelihatan menimang-nimang jawabannya dengan sangat hati-hati sebelum berujar perlahan, “Kau tahu, Jongdae, terkadang mengakhiri segalanya bisa jadi jalan keluar terbaik untuk masalahmu.”

Jongdae tercenung mendengar ini. Ia paham betul yang didengarnya tadi bukanlah saran terbaik dari Minseok. Ia juga tahu dengan sangat baik apa yang nantinya akan terjadi jika ia memilih mengikuti saran Minseok. Namun ketika dilihatnya Minseok menyembunyikan seringai tipis sembari meneguk jus alpukatnya, Jongdae yakin tak ada yang lebih baik dari pada melakukan ini.

Mengakhiri segalanya.

“Kau benar, Minseok.” Ia berujar pelan, nyaris seperti bisikan.

Seluruh apartemennya gelap ketika ia pulang. Tidak seperti biasanya, tak ada cahaya lampu hangat yang menyambut kepulangannya, tak ada harum masakan yang menguar dari dapur, dan yang terpenting, tak ada Joo yang mengenakan apron memberinya pelukan dan ciuman di depan pintu masuk.

Jongdae melepas sepatunya kemudian melempar tas kerjanya sembarangan ke lantai. Tanpa menyalakan saklar, ia berjalan menembus kegelapan apartemennya sambil melonggarkan dasi di lehernya. Jongdae nyaris lupa, rutinitas yang biasa menyambut kepulangannya sudah lama terhenti sejak dua bulan lalu. Sebab dalang di balik seluruh rutinitas itu, tak pernah ada di apartemennya ketika ia pulang. Joo tak pernah menyambut kepulangannya lagi sejak dua bulan lalu.

Sembari menggulung lengan kemejanya Jongdae tersenyum tipis. Ia membuka pintu kamarnya perlahan, dan kini senyumnya kian melebar. Tak seperti dua bulan lalu, hari ini Joo ada di sini. Menyambutnya pulang, meski tidak dengan harum masakan, serta pelukan dan ciuman hangatnya. Gadis kesayangannya itu tengah berbaring dengan damai di ranjang mereka, yang sudah lama hanya ditempati Jongdae seorang. Kini Joo berbaring di sana, menempati ruang miliknya yang sudah dua bulan ini ditinggalkannya.

Jongdae mendudukan dirinya di sisi kasur. Tangannya bergerak membelai rambut kecoklatan Joo dengan sayang. Rasanya sudah lama sekali ia tak menyentuh helaian lembut rambut Joo. Mungkin Joo tak merindukan sentuhan tangannya lagi kini. Mungkin Joo telah menemukan sentuhan lain yang jauh lebih disukainya dari milik Jongdae.

Memikirkan ini membuat senyum Jongdae sedikit memudar.

Ia bukannya tak tahu ke mana Joo pergi selama dua bulan belakangan ini. Ia bukannya tak tahu alasan di balik absennya Joo menyambut kepulangannya selama ini. Ia bukannya tak tahu sosok mana yang membuat Joo memilih berpaling darinya.

Ia tahu. Sudah lama tahu. Namun memilih berpura-pura bodoh dan membiarkan Joo bermain-main di belakang punggungnya.

Tetapi kesabarannya juga ada batasnya. Ia juga tak bisa menahan semua ini terlalu lama.

Tangannya kemudian bergerak turun menyibak rambut panjang Joo. Membuatnya dapat melihat permukaan mulus leher Joo dengan jelas. Ah, tidak. Leher gadis itu kini tak lagi mulus seperti dulu. Lebam kebiruan tercetak dengan kentara di sana. Hasil cetakan kedua tangan Jongdae kemarin malam, yang sukses memblokir masuknya pasokan oksigen ke dalam tubuh gadis kesayangannya itu.

Jongdae membelai lebam itu perlahan. Rasanya pasti sakit. Sakit sekali. Namun Joo mungkin tidak tahu, selama dua bulan belakangan ini, Jongdae juga merasakan sakit yang sama akibat perbuatannya. Bagai dicekik dan dirampas kemampuannya untuk menghirup oksigen.

Sekarang mereka impas ‘kan?

“Kau tahu, Jongdae, terkadang mengakhiri segalanya bisa jadi jalan keluar terbaik untuk masalahmu.”

Perkataan Minseok memang benar. Mengakhiri segalanya adalah jalan keluar terbaik untuk masalahnya. Ia sempat menyesal telah melakukan ini, telah mengakhiri segalanya dengan Joo. Hal ini mengganggunya seharian di kantor tadi. Namun rupanya Minseok berhasil menghiburnya.

Minseok bilang, ia hanya perlu mengakhiri segalanya. Apa yang telah ia lakukan, dan yang akan ia lakukan, mungkin tak ada salahnya.

Perlahan Jongdae membungkukan tubuhnya, mengecup kening Joo lama. Bibirnya terasa beku ketika bertemu dengan dinginnya permukaan kulit Joo.

“Kau harus berterimakasih padaku, Sayang. Sebentar lagi aku akan membuat laki-laki yang diam-diam kaucintai menyusulmu di sana.”

Lalu ia meraih ponselnya, dan memanggil salah satu nomor di kontaknya. Tak sampai lima detik, seseorang di seberang sana sudah menerima panggilannya. Jongdae menyeringai tipis sebelum menyapa, “Minseok? Kau bisa datang kemari sekarang? Kurasa Joo ingin menemuimu.”

Fin

One thought on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Surcease”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s