[EXOFFI FREELANCE] ENTRE – Prolog

ENTRE - Poster.jpg

 

Tittle :   ENTRE (Prolog)
Casts :   Kwan Eunhye (OC)
      Oh Sehun (EXO)

Park Chanyoel (EXO)

Hwang Min Hyun (Wanna One)

Park Sohee (OC)

Moon Reina (OC)

Author  : Shin Eun So / Nugichan (WP)
Genre   : AU, Romance, Hurt/Comfort
Length  : Chapter
Ratting : PG-17
     

Ini bukan pilihan dan Eunhye tidak pernah memilih. Pada akhirnya hanya satu atau tidak satupun dari mereka.

Disclaimer : I only own the story. Just it ! Enjoy Reading !

 

Eunhye melirik sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya, entah kenapa ia merasa waktu terasa begitu lambat padahal baru setengah jam lalu ia memasuki gedung perbelanjaan dengan 21 lantai itu. Bola matanya menelusuri jejeran pakaian pria dari model casual sampai formal hingga sebuah suara memanggilnya.

“Eunhye-ah. Bisa kau pilihkan dasi yang cocok untuk kemeja ini.” Pria yang berdiri dengan jarak tak lebih 3 meter dari Eunhye nampaknya telah mendapat kemeja yang sesuai seleranya, setelah beberapa menit berdiskusi dengan pelayan toko.

Setelah mengamati kemeja hijau toska dengan beberapa motif garis yang diangkat pria tersebut, Eunhye mengedarkan pandangannya sekilas hingga maniknya menemukan deretan dasi yang tak jauh dari tempat ia berada. Jarinya menelusuri susunan dasi, gerakkan jarinya tertuju pada sebuah dasi berwarna jingga muda dengan serat timbul berbentuk bunga.

“Bagaimana dengan ini?” Eunhye menyodorkan dasi yang dipilihnya yang kemudian disambut pria itu dengan senyuman.

“Pilihanmu tak pernah salah, aku akan mencobanya.”

Hingga 3 jam  berikutnya, mereka keluar dari gedung perbelanjaan menuju tempat parkir. Tampak beberapa tas belanjaan memenuhi tangan si pria dan beberapa lagi di bawa oleh Eunhye. Eunhye sendiri lupa apa saja yang telah dibeli si pria berbadan tinggi itu karena ia tak begitu memperhatikan, dirinya hanya memberi saran dan sesekali memilih barang sesuai permintaan si pria.

“Untukmu” setelah keduanya memasuki mobil, si pria menyerahkan sebuah tas pakaian dengan merk yang Eunhye ketahui itu adalah salah satu merk pakaian terkenal.

“Kapan kau membelinya?” dahi Eunhye mengerut ketika melihat isi tas yang didalamnya terdapat sebuah dress berwarna peach. Ia sendiri tak menyadari kapan pria di sampingnya itu membeli dress, karena selain memberi saran dan memilihkan pakaian yang cocok, Eunhye hanya sempat memperhatikan beberapa wanita di pusat perbelanjaan yang sibuk mengagumi sosok pria dengan proporsi wajah dan tubuh nyaris sempurna itu.

“Setelah kita makan siang di restoran, aku mengajakmu ke butik pakaian wanita. Kau lupa?”

Eunhye ingat jika dirinya memang pergi ke butik pakaian wanita sebelumnya, namun bukan dengan alasan membeli baju untuknya.

“Kupikir kau hanya ingin membeli pakaian untuk Sohee.”

Tak ada sahutan dari bibir tipis pria dengan nama lahir Oh Sehun itu, yang terdengar hanya suara deru mesin mobil yang dinyalakan. Lagi pula Eunhye tak berminat melanjutkan percakapan, setidaknya ia bisa memanfaatkan waktu perjalanan pulang menuju apartemennya untuk meladeni rasa kantuk yang menggoda sedari tadi.

~

“Maaf tidak bisa mengantarkanmu sampai pintu apartemen.”

Eunhye menggeleng kecil kemudian tersenyum. Baru saja ia ingin membuka pintu mobil, tangan Sehun menahan lengannya. Dan detik berikutnya sebuah material lembut mendarat di bibir plum Eunhye. Eunhye hanya diam tanpa respon, bahkan detak jantungnya masih terdengar normal, hanya suara fikirannya yang berhenti pada hitungan keempat setelah Sehun menjauhkan wajahnya.

“Kau pasti sangat lelah, sebaiknya kau langsung tidur setelah ini.”

Eunhye mengangguk, ia tahu jika Oh Sehun pasti merasa bersalah karena telah meminta untuk menemani dirinya berbelanja siang ini. Akhir-akhir ini tekanan darahnya cepat menurun, sehingga ia mudah merasa lelah dan mengantuk, semua karena  shift malam selama 1 bulan penuh yang harus dilakoninya.

~

Rencana Eunhye untuk tidur lebih awal malam ini enyah begitu saja setelah melihat sepasang sepatu cokelat tergeletak di depan pintunya. Lamat-lamat terdengar suara desisan yang ia yakini berasal dari dapurnya. Setelah merapikan sepatu di rak dan meletakkan barang-barangnya di sofa, Eunhye menemukan sosok pria berbahu lebar dengan celemek tengah sibuk mengaduk-ngaduk sesuatu di penggorengan.

“Kau sudah pulang?” tanya pria bermarga Park itu tanpa melihat ke arah Eunhye yang berjalan menuju kulkas untuk mengambil air minum.

“Kau sudah lama datang ke sini?” tanya Eunhye berjalan mendekat kemudian melanjutkan potongan daun bawang yang belum selesai, sekilas ia dapat melihat pria yang biasa dipanggil Chanyoel itu memasukkan lada ke dalam masakannya, jadi menu malam ini adalah nasi goreng kimchi.

“Sekitar tiga jam lalu, namun aku keluar lagi setelah melihat persediaan kulkasmu yang menipis.”

Chanyoel selau merasa jengah jika menemukan ruang kosong pada kulkas Eunhye, minimal dua kali seminggu pria itu membelikan kebutuhan pokok untuk mengisinya. Padahal Eunhye sendiri tak begitu meghiraukan, telur, susu, dan air putih sudah cukup baginya.

Sepiring potongan buah mangga yang diletakkan Chanyoel di meja menjadi pelengkap hidangan makan malam mereka. Eunhye memejamkan matanya seraya bergumam memuji setelah satu sendok nasi kimchi melesat kedalam mulutnya. Masakkan seorang Park Chanyoel memang tak pernah membuatnya kecewa.

Hampir tak terlihat sisa pada hidangan makan malam mereka. Eunhye sempat mencegat Chanyoel saat tangan pria itu mengumpulkan piring untuk di bawa ke tempat cuci. Walaupun Chanyeol bersikeras untuk membantu, namun Eunhye tetap memintanya untuk duduk di sofa ruang tamu. Membeli kebutuhan dapur dan memasakkan makan malam lezat sudah kelewat cukup baginya.

Baru saja Eunhye akan memasang sarung tangan cuci, sebuah tangan melingkar cepat dipinggangnya. Dapat ia rasakan dagu pria itu kini tengah bertumpu pada bahunya.

“Tadi kau pergi dengan Sehun?” Eunhye dapat merasakan hembusan nafas dan tatapan Chanyoel di samping wajahnya. Ia hanya membalasnya dengan dehaman, pria ini pasti tahu setelah melihat barang belanjaan yang ditaruhnya di sofa. Namun detik berikutnya Eunhye cukup terkejut dengan tindakan Chanyoel yang membalik tubuhnya dan disambut dengan satu kecupan singkat.

“Setidaknya malam ini kau tidur dengan bekas bibirku, bukan bekas bibir Sehun.”

Eunhye memutar kedua bola matanya, oh kali ini apa lagi. Kedua pria ini nampak sangat akur jika bersama, namun di belakang mereka berlomba tak mau kalah.

“Ini sudah hampir jam 11 malam. Sebaiknya kau pulang Chanyoel-ah.” Ujar Eunhye dengan nada selembut mungkin seraya menepuk pundak Chanyoel.

Chanyeol melirik sekilas ke arah jam dinding kemudian berbalik ke ruang tamu untuk mengambil jas dan handphonenya. Tak lama kemudian sosok tinggi itu menghilang dari balik pintu apartemennya, tentunya setelah kalimat-kalimat perhatian yang diucapkannya untuk Eunhye.

Dan sekarang apartemennya kembali sunyi, membuat segala pikiran-pikiran Eunhye bermunculan kambali, menjadikan kepalanya semakin terasa berat. Beberapa pekerjaan di Botani Garden, shift malam yang masih harus ia lakoni hingga satu minggu ke depan, masalah kakaknya yang tak pernah berujung, dan dirinya sendiri yang masih  terjebak di antara dua pria dalam hubungan tak pasti. Eunhye menarik nafas dalam, bahkan hari libur tak mampu membuat satu detikpun dari waktunya merasa seperti burung tanpa sangkar.

 

Gaje kah…?? hehe

Ditunggu comments-nya…

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] ENTRE – Prolog”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s