[EXOFFI FREELANCE] Secret #1 My Marriage – Chapter 3

Secret #1 - Chapter 3.jpg

SECRET

#1 MY MARRIAGE

 [ GOING CRAZY ]

Title : SECRET #1 My Marriage

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO) as Byun Baekhyun, Kim Jisoo (BLACKPINK) as Park Seolhyun

Genre : Romance, Family

Rating : PG + 16

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri yang terinspirasi dari beberapa novel atau bahkan fanfic yang pernah aku baca. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita SECRET #1 My Marriage.

Credit poster by @hyekimxxi

Cerita Sebelumnya : Prolog – > Chapter 1 ( Unfair ) – > Chapter 2 ( They Never Know )

Senyum lebar Baekhyun luntur kala ia melihat seseorang tengah duduk santai di ruang keluaranya sambil menonton televisi dengan sebuah toples makanan ringan di pangkuannya. Keningnya mengerut dalam, memikirkan bagaimana caranya ia masuk ke dalam apartemennya. Ia lalu menaruh barang belanjaannya tidak jauh dari sofa yang sedang di duduki oleh sahabatnya itu.

Lain halnya dengan Seolhyun. Ia malah tersenyum semakin lebar sepupunya itu tengah bersantai di apartemennya. Dengan langkah cepat ia mendekati sepupunya itu. Seolhyun menjatuhkan tubuhnya di samping sepupunya, lalu menarik lehernya, mengapitnya dengan kuat di antara lengan mungilnya.

“Uhukk…YA!” terdengar teriakan protes kala Seolhyun mengetatkan apitannya pada leher orang yang lebih besar darinya itu. “K-kau bisa membunuhku, Park Seolhyun!”

“Aku sungguh merindukanmu, Park Yoda,” Seolhyun langsung melepaskan apitannya, dan tidak disia-siakan oleh orang yang bernama asli Park Chanyeol itu untuk menjauh dan mengambil napas sebanyak-banyaknya. Ia hampir mati tercekik karena kehabisan napas dan tersedak makanannya sendiri. Sedangkan Seolhyun menatapnya tanpa rasa bersalah  sama sekali di hatinya.

“Byun Seolhyun. Jika kau lupa sepupumu itu sudah berganti marga,” protes Baekhyun yang tidak terima panggilan sahabatnya itu pada istrinya. Baekhyun ikut duduk di samping Seolhyun karena ia tidak rela istrinya itu duduk dengan laki-laki lain walaupun ia tahu Chanyeol hanya sepupu Seolhyun.

“Terserah,” jawab Chanyeol malas dengan protesan Baekhyun. Lalu Chanyeol mengalihkan kembali tatapannya untuk bersitatap dengan Seolhyun. “Kau hampir membunuhku,” protes Chanyeol yang ditanggapi dengan kekehan dari Seolhyun.

“Aku suka melakukan hal itu,” jawabnya tanpa rasa bersalah. Lalu ia kembali mendekati Chanyeol dengan mata berbinar.

Chanyeol yang merasakan ada yang salah pun segera memundurkan tubuhnya hingga mencapai tepi sofa yang membuatnya tidak bisa bergerak lagi. “Y-ya a-apa yang kau – aww…” ucapan Chanyeol terpotong karena Seolhyun langsung menangkup pipinya, mencubitnya sekeras mungkin dan itu sukses membuat Chanyeol memekik sakit.

Aigo… aku sungguh merindukan sepupu menggemaskanku ini,” ucap Seolhyun mengabaikan teriakan Chanyeol. Setelah puas, ia melepaskannya dan tersenyum tanpa rasa bersalah. Pipi putih Chanyeol langsung berubah menjadi merah padam.

YA!”

Tanpa mempedulikan protesan Chanyeol, secepat kilat Seolhyun kembali mendekati wajah Chanyeol dan mengecup pipinya itu tepat di mana ia mencubitnya begitu keras.

YA!!” sekarang terdengar pekikan protes dari Baekhyun. Sedangkan Chanyeol menatap tidak percaya pada sepupu perempuannya itu yang baru saja bertindak ajaib.

“Aku buatkan makan malam buat kalian,” ucap Seolhyun mengabaikan tatapan protes dari Baekhyun dan tatapan bingung dari Chanyeol. Seolhyun beranjak dari sofa, berjalan mengambil barang belanjaan yang ditaruh Baekhyun, membawanya ke dapur, lalu mulai memasak untuk makan malam mereka bertiga.

Selepas Seolhyun pergi, Baekhyun mengalihkan tatapan kesalnya ke arah Chanyeol yang masih belum sadar juga. Ia lalu mendekati Chanyeol, dan mengecup cepat pipi Chanyeol seperti apa yang dilakukan Seolhyun pada sahabatnya itu. setelah melakukan hal itu, Baekhyun tersenyum puas dan kembali ke tempat duduknya.

Selama beberapa detik Chanyeol masih terdiam. Ia masih sangat terkejut dengan kelakuan sepasang suami istri di depannya itu. Hingga saat kesadarannya kembali, ia langsung menatap horor ke arah Baekhyun.

YA!! Apa kau gila?” protes Chanyeol yang ditanggapi tak acuh oleh Baekhyun.

“Aku tidak suka ada bekas bibir istriku di tubuh laki-laki lain,” jawab Baekhyun santai sambil mengamati tayangan di layar televisinya.

Mwo?” Chanyeol menatap tidak percaya ke arah Baekhyun. Ia lalu mengacak rambutnya frustasi dengan kejadian yang baru dialaminya itu. “Tapi tidak dengan mencium pipiku, juga.” Tambah Chanyeol yang masih tidak ditanggapi apapun oleh Baekhyun. “Argh…” pekiknya gemas karena masih tidak ditanggapi oleh Baekhyun.

Chanyeol yang tidak tahan pun segera beranjak dari sana. Ia memilih untuk menghampiri Seolhyun di dapur, lalu mengambil air dingin dari kulkas untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas. Segelas air dingin langsung tandas diminumnya. Lalu ia mengalihkan tatapannya untuk melihat Seolhyun yang tengah asyik memotong sayuran. Tidak peduli dengan kehadirannya di sana.

“Suamimu sudah gila,” ucap Chanyeol mencoba mengadu pada Seolhyun.

“Dari dulu dia memang sudah gila.”

“Lalu kenapa kau mau menikah dengan laki-laki gila seperti dia?”

“Kau tahu sendiri awal mula kenapa ia dan aku bisa menikah,” jawab Seolhyun malas. “Dari pada kau terus mengeluh kenapa aku bisa menikah dengan Baekhyun, kenapa kau tidak membantuku saja mengiris daging itu?”

Chanyeol mengikuti arah tunjukan Seolhyun, lalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Seolhyun. Ia lebih memilih membantu Seolhyun daripada duduk berdua dengan sahabat gilanya itu. Mengiris daging bukanlah sesuatu yang asing bagi Chanyeol. Hobi memasak yang diturunkan dari ibunya membuatnya tidak asing lagi dengan berbagai macam peralatan dapur. Lain halnya dengan sang kakak, yang sangat jarang ke dapur sehingga kemampuan memasaknya kalah dari Chanyeol.

Baekhyun yang menyadari Chanyeol tidak kembali ke ruang keluarga memutuskan untuk menyusulnya ke dapur. Dapat dilihatnya Seolhyun dan Chanyeol tengah berkutat dengan berbagai bahan makanan yang akan mereka makan. Karena rasa cemburu yang kembali hinggap di hatinya, Baekhyun pun mendekati saudara sepupu itu tanpa mereka sadari.

Begitu berada di belakang Seolhyun, Baekhyun langsung memeluk perut besar sang istri dari belakang. Seolhyun sedikit tersentak saat merasakan pelukan tiba-tiba dari Baekhyun. Sebuah kecupan lembut dari Baekhyun dapat ia rasakan di pipinya, membuatnya tanpa sadar tersenyum lebar. Tanpa merasa terganggu sedikit pun Seolhyun tetap melanjutkan potong memotongnya karena sudah terbiasa dengan perilaku Baekhyun yang seperti ini.

“Uhh… menjijikan,” ucap Chanyeol yang melihat itu semua hanya bisa menahan perasaan mualnya akan perilaku sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta itu. Seolhyun terkekeh geli mendengar ucapan jijik dari Chanyeol. Sedangkan Baekhyun tetap pada posisinya, dan sesekali akan mencium pipi bahkan bibir Seolhyun tanpa adanya rasa canggung sama sekali.

“Lama-lama aku bisa diabetes lihat kalian berdua terus,” gerutu Chanyeol.

Satu jam berlalu. Meja makan Seolhyun dan Baekhyun sudah penuh dengan berbagai macam masakan yang dimasak ketiganya. Suasana canda dan tawa mengiringi makan malam mereka. Chanyeol dan Baekhyun yang memang pada dasarnya orang yang tidak bisa diam, terus berceloteh tentang apapun yang terlintas di benak mereka saat itu.

“Ahh…perutku penuh sekali,” gumam Chanyeol sambil mengelus-ngelus perutnya yang sedikit mengelembung. Begitu juga dengan Baekhyun. Ia malah merebahkan kepalanya pada bahu Seolhyun yang duduk di sampingnya. Butuh waktu empat puluh menit untuk menghabiskan semua makanan yang tersedia.

“Masakanmu memang yang terbaik,” tambah Chanyeol mengacungkan kedua jempolnya ke arah Seolhyun. “Pantas saja perut Baekhyun sedikit menggelembung setelah menikah denganmu.”

“Itu karena aku selalu menjadi kelinci percobaannya,” jawab Baekhyun sambil menegakan kembali tubuhnya. Satu buah suapan sendok puding langsung melayang di depan mulutnya, dan mau tidak mau ia harus memakannya. Seolhyun menyeringai puas melihat Baekhyun tetap menerima satu suapan puding yang diberikannya. “Kau lihat? Mana mungkin aku memiliki perut roti sobek jika setiap kali makan ia akan memaksaku untuk menghabiskan makanan hingga tidak ada yang bersisa sedikit pun.”

“Itu karena kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan yang ada di depan mata kita. Sekalipun kita sudah kenyang, karena belum tentu orang lain bisa hari ini seperti yang sedang kita lakukan,” bela Seolhyun karena tidak ingin disalahkan sepenuhnya.

“Hah…ucapan Seollie memang tidak akan bisa dibantah,” ucap Chanyeol. “Aku akan menginap di sini malam ini. Aku tidak tega meninggalkan kalian berdua disaat kehamilan Seolhyun sudah mendekati tanggal lahirnya,” tambah Chanyeol sambil beranjak dari duduknya dan mulai membereskan piring kotornya, membawanya ke bak pencuci piring agar Baekhyun bisa lebih mudah membersihkannya.

“Benarkah?” Seolhyun berbinar bahagia bertepatan dengan ucapan tidak terima dari Baekhyun.

“Tidak bisa!”

Waeyo?”

“Aku hanya tidak suka dia menginap di sini.”

“Channie hanya mengkhawatirkan kita berdua. Dan tidak ada yang salah akan hal itu.”

“Bukan begitu. Jika dia menginap di sini, dia tidak punya ganti. Ukuran bajuku dan baju Chanyeol itu berbeda,” Jelas Baekhyun hingga membuat Seolhyun pun berhenti memaksa. Ia terlihat berpikir keras, mungkin mengingat-ngingat pakaian mana yang ia miliki yang bisa muat ditubuh besar Chanyeol.

Sedangkan Chanyeol sendiri hanya menyenderkan tubuhnya di pinggiran bak pencuci piring. Memperhatikan pertengkaran tidak penting antara sepupunya dan sahabatnya itu. Tanpa baju ganti pun sebenarnya ia tidak masalah, karena ia sedang memakai kaos putih polos sebagai dalaman seragam sekolahnya. Bahkan jika tidak mungkin pun, mungkin ia akan memilih tidur dengan seragam sekolahnya.

“Aku punya sesuatu yang bisa dipake Channie untuk tidur,” pekik Seolhyun setelah ia berhasil menemukan solusinya. Tanpa menunggu tanggapan dari Baekhyun dan Chanyeol, Seolhyun segera berjalan ke arah kamarnya dengan Baekhyun untuk mengambil apa yang ia butuhkan. Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa saling pandang tanpa bisa menebak apa yang ada dipikiran Seolhyun saat ini.

“Seollie tidak menyuruhku untuk memakai salah satu baju hamilnya kan?” mendengar pertanyaan polos itu sontak membuat Baekhyun mengamati tubuh Chanyeol dan membayangkan jika sahabatnya itu memakai salah satu baju hamil milik Seolhyun, karena bagaimana pun bajunya tidak akan muat jika dipakai Chanyeol. Baekhyun menggelengkan kepalanya mengenyahkan bayangan menggelikan tentang Chanyeol, dan yang ditatap sendiri menatap bingung ke arah Baekhyun.

“Taraa…” teriak Seolhyun telah kembali ke dapur sambil membentangkan sebuah kaos warna jingga dengan gambar hello kitty di depannya yang memiliki ukuran paling besar di antara semua ukuran kaos. “Ini kaos terbesar yang aku miliki karena semua kaos Baekhyun tidak akan muat di tubuhmu,” ucapnya menjelaskan kaos yang berada di tangannya saat ini.

Di tempatnya Baekhyun berusaha menahan tawanya agar tidak meledak dengan cara mengulum bibirnya serapat mungkin, dan Chanyeol, menatap tidak percaya dengan apa yang ditunjukkan oleh Seolhyun saat ini. Itu sungguh kaos termenggelikan yang pernah Chanyeol lihat. Sungguh kekanakan.

Melihat Chanyeol tidak merespon sama sekali, dan Baekhyun yang berusaha menahan tawanya hingga wajahnya memerah, membuat Seolhyun tiba-tiba merasa ingin menangis. Ia sedih karena tidak ada yang menyetujui usulannya. Padahal tadi ia sudah berusaha bergerak secepat mungkin di tengah keterbatasannya, dan sekarang ia merasa usahanya sia-sia.

Baekhyun adalah orang pertama yang sadar jika mood Seolhyun sudah berubah. Mata berbinar semangatnya tergantikan oleh mata yang berkaca-kaca, dan ia sungguh tidak menyukai hal ini. Sebisa mungkin berdeham untuk menetralkan tenggorokannya yang sakit karena menahan tawa.

“Sayang…”

“Aku benci kalian!!” putus Seolhyun menyeka air matanya yang sudah mulai tumpah. Baekhyun dan Chanyeol langsung gelapan melihat hal itu. Mereka berdua berlomba-lomba untuk segera mendekati Seolhyun, menenangkan gadis itu agar berhenti menangis. “Aku setuju kok dengan pilihanmu,” ucap Baekhyun.

“Aku juga setuju kok. Aku pasti akan bertambah lucu jika memakai kaos ini,” tambah Chanyeol.

“Kalian jahat!” ucap Seolhyun sedikit teredam oleh pelukan Baekhyun. Entah sadar atau tidak, ia menyusutkan bekas air mata dan ingusnya di kaos yang digunakan oleh Baekhyun. Baekhyun hanya bisa mengerang dalam hati dengan kelakuan jorok yang dilakukan istrinya itu.

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Tadi aku hanya terpana dengan kaos yang bawakan,” bohong Chanyeol yang langsung membuat Seolhyun berhenti menangis seketika.

“Benarkah?”

“Kapan aku berbohong padamu?” Terkutuklah kau, Park Chanyeol karena kau baru saja berbohong padanya! Rutuk Chanyeol dalam hati. Tapi ia bersyukur karena detik selanjutnya, binar kebahagiaan sudah menghampiri Seolhyun lagi. Ibu hamil dengan hormon yang naik turun sungguh menakutkan. Pikir Chanyeol.

Seolhyun lalu menggesek-gesekan wajahnya ke dada Baekhyun, menghapus sisa air matanya di kaos putih Baekhyun. Seolhyun mendongak untuk menatap wajah Baekhyun. Senyuman lebar kembali terbit di bibirnya. Sebelum Baekhyun menyadari apa yang ada dipikirannya, Seolhyun segera menarik leher Baekhyun. Mengecup sekilas bibir suaminya itu, lalu terdengarlah suara erangan kesal dari sepupunya karena lagi-lagi ia tidak segan-segan menunjukkan kemesraannya dengan Baekhyun di depan mata Chanyeol.

Seolhyun menjauh dari tubuh Baekhyun, membungkuk untuk mengambil kaos yang sempat ia lemparkan, kemudian berjalan ke arah Chanyeol yang masih bergeming di tempatnya. “Ayo, kau harus mencobanya sekarang juga,” ajak Seolhyun menyeret Chanyeol ke kamar mandi untuk mencoba kaosnya dan melupakan Baekhyun yang masih berdiri di tempatnya.

Chanyeol menolehkan kepalanya untuk mencari pertolongan pada Baekhyun. Siapa tahu sahabatnya bisa menolong terlepas dari singa betina yang sedang hamil ini. Tapi jawaban Baekhyun selanjutnya membuat hatinya mencelos. Satu-satunya cara agar ia bisa terlepas dari Seolhyun adalah dengan membatalkan rencana menginapnya atau ia bisa gila karena harus memakai kaos menggelikan itu semalaman.

“Umm…. Seollie-ya, sebaiknya aku pulang saja. Aku baru ingat jika nanti jam delapan aku ada janji dengan eomma.”

Seolhyun menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Chanyeol. Ia memperhatikan wajah Chanyeol yang tengah berusaha meyakinkannya. “Kau yakin? Padahal aku ingin menghabiskan malam ini dengan cara nonton film denganmu dan Baekhyun.”

Tiba-tiba rasa bersalah bercokol di hatinya karena telah membohongi Seolhyun, tapi Chanyeol juga tidak bisa mundur lagi. Terus jalan atau tidak sama sekali. “Umm…lain kali. Ya, lain kali aku akan menginap di apartemen kalian. Aku janji,” ucap Chanyeol karena tidak tega bila terus melihat tatapan sedih Seolhyun padanya.

“Kau janji?”

“Kau boleh meminta apapun jika aku melanggar janjiku.”

“Yey…” pekik Seolhyun karena janji yang telah dibuat Chanyeol padanya.

Chanyeol berusaha tersenyum setulus mungkin ke arah Seolhyun. Lalu ia mengecup pucuk kepala Seolhyun sebagai salam perpisahannya hari ini. “Aku pulang. Jika ada apa-apa, jangan lupa untuk menghubungiku.” Seolhyun mengangguk mendengarnya.

Chanyeol lalu menghampiri Baekhyun yang sedang mengamatinya dari batas ambang menuju dapur. Ia meninju singkat bahu Baekhyun sebagai salam perpisahan. “Terima kasih sudah mau bersabar dengan sikap gila Seolhyun selama ini.”

“Kalau aku masih waras, mungkin aku tidak akan berada di sampingnya saat ini,” canda Baekhyun membuat keduanya terkekeh.

“Jaga dia baik-baik.”

“Itu sudah menjadi tanggung jawabku.”

Chanyeol tersenyum puas mendengar jawaban Baekhyun. Lalu ia berjalan ke arah tasnya berada. Baekhyun dan Seolhyun mengantarkan Chanyeol sampai ia berjalan ke lift berada. Tepat sebelum lift tertutup, Chanyeol berteriak, “Kau bisa mengembalikan scoopy-ku besok pagi.” Chanyeol melambaikan tangannya yang dibalas dengusan kesal oleh Baekhyun.

Oppa…” panggilan manja dari sampingnya sukses mengalihkan Baekhyun dari rasa kesalnya. Ia mengernyit ketika Seolhyun bergelayut manja di lengannya. Lalu jemari letik lainnya digerakkan membentuk putaran-putaran abstrak di dadanya. “Kaosmu kotor. Tidakkah kau ingin mandi?” tanyanya dengan nada manjanya.

Oh, bagaimana Baekhyun masih bisa waras jika di sampingnya berdiri gadis yang selalu berhasil membuatnya menjadi gila setiap harinya. Gila karena begitu mencintainya.

 

 

 

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret #1 My Marriage – Chapter 3”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s