[EXOFFI FREELANCE] SHADOW (Chapter 5)

SHADOW

SHADOW  |

| Oh Sehun & Hwang Mora |

| Bae Irene, Huang Zitao |

| Angst x Drama |

| PG-17 | Chaptered |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Seperti bayangan, kita selalu bersama.

Tetapi tidak dapat bersatu.

Prev : Prologue|1|2|3|4

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

Ada banyak hal di sekelilingku yang ingin kubagi denganmu

Meski itu hal kecil sekalipun

Tetapi dengan bersamamu, itu sudah cukup membuatku senang

—×◦ shadow ◦×—

In Sehun’s Eyes . . .

“Psst… Mora!

Hey, Hwang Mora!”

Yang dipanggil bergeming, gadis itu tak merespon sama sekali. Aku tahu, dia hanya berpura-pura tak mendengar panggilanku. Meski aku berbisik tapi aku yakin dia mendengarku, karena aku tepat duduk di hadapannya.

“Hwang Mora, kau pasti mendengarku. Tidakkah kau sudah sangat keterlaluan? Aku sudah bersabar lebih dari dua minggu atas sikapmu ini,”

Aku kembali berbicara dengan suara rendah sambil sesekali menatap ke sekeliling, perpustakaan sudah sangat sepi hanya tinggal kami berdua dan penjaga perpustakaan yang sejak tadi menatap tidak senang ke arah kami.

“Hey, sekolah sudah sepi. Kau tidak lihat? Penjaga perpustakaan sejak tadi melotot pada kita,”

Akhirnya, dia merespon ucapanku. Mora menghela napas dan menutup buku yang sejak tadi dibacanya, kini dia menatapku dengan pandangan kesal.

“Jika kau merasa tidak nyaman, kau bisa pulang duluan. Masih ada waktu dua puluh menit lagi gerbang sekolah dan perpustakaan tutup, aku akan tetap di sini.”

“Bicaralah dengan volume yang lebih kecil, perlukah aku mengingatkanmu bahwa kita sedang di perpustakaan. Lalu, apa maksud ucapanmu itu? Apa kau mencoba mengusirku?”

Mora mendengus kesal dan memutar kedua bola matanya jengah.

“Tidak ada pengunjung lain di sini, Oh Sehun. Hanya ada kau dan aku, kenapa kau cerewet sekali? Jika kau ingin pulang, pulang saja duluan.”

Ada apa dengannya? Kupikir setelah malam itu, malam saat dia menangis tersedu-sedu hubungan kami akan membaik. Bahkan, kami berjalan bersama sambil sesekali bercanda menuju rumah. Tapi, apa yang yang terjadi? Ke esokan harinya Mora terus mengurung diri di dalam kamar dan hanya keluar saat akan pergi les bersamaku. Dia pun mengacuhkanku bahkan sikapnya semakin dingin, aku mencoba untuk bersabar dan bertanya kesalahan apa yang sudah kulakukan. Tapi Mora hanya diam dan menghindar.

“Katakan sejujurnya, apa aku sudah menyakitimu? Kupikir hubungan kita sudah membaik, kau bahkan berkata akan terus bersamaku.”

“Ini hanya bentuk dari pertahanan diriku, Sehun-a. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya, jangan terlalu baik padaku. Kalau tidak, aku akan terus menempelimu kemana pun kau pergi.”

“Aku juga sudah pernah bilang padamu, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kenapa kau malah memperumitnya?”

“Karena itu tidak sesederhana seperti yang kau kira!”

Aku terkejut, Mora meninggikan nada suaranya. Belum pernah aku melihatnya sefrustasi ini, aku tidak mengerti dimana letak masalahnya.

“Ehem! Apa kalian sedang mencoba membuat keributan?”

Kami menoleh, penjaga perpustakaan yang sejak tadi mengawasi datang dan memberi peringatan agar kami segera pulang. Aku meminta maaf dan memaksa Mora mengikutiku untuk pulang ke rumah, dia hanya diam dan menurut. Aku tahu, Mora sedang menahan kesal. Sejak keluar dari perpustakaan, gadis itu tak bersuara dan hanya mengikutiku dari belakang.

Kudongakkan kepalaku dan melihat langit yang sedikit gelap, sepertinya hari ini akan turun hujan. Dari halaman, aku melihat mobil yang menjemput kami sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Kuperlambat langkahku agar jalan kami beriringan.

‘Dukk . . .’

Kurasakan sesuatu menabrak punggungku, aku berbalik dan melihatnya yang sedang meringis kesakitan sambil mengusap dahinya. Kutarik tangan Mora dan menyingkirkan beberapa rambut yang menutupi wajahnya, dahinya sedikit memerah karena membentur punggungku. Yah itu pasti sakit, aku bisa merasakan dari tabrakkan tadi dan sejujurnya punggungku juga sedikit sakit.

“Apa kita perlu ke klinik atau rumah sakit terdekat? Dahimu memerah, apa ada bagian lain yang sakit?”

Kuperiksa bagian wajah yang lain, kepala, hingga tangan Mora. Sepertinya, tidak ada yang terluka kecuali dahinya yang memerah. Aku mengelus dan meniup tempat yang memerah tadi, berharap itu akan mengurangi rasa sakitnya.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh tidak sengaja,”

Mora menghentikan tanganku dan mengangguk kecil, tanda bahwa Mora tahu aku tidak sengaja dan dia baik-baik saja. Tapi aku masih sedikit khawatir, itu dapat menciptakan benjolan kecil di dahinya.

“Kau berlebihan sekali, aku hanya perlu mengompres dahiku.”

“Aku tidak berlebihan, kau bisa punya benjolan kecil di dahimu jika tidak segera diobati.”

“Iya, aku tahu. Sebaiknya, kita segera masuk ke mobil. Pak Lee pasti sudah menunggu,”

Aku mengikutinya dari belakang, Mora sudah berjalan lebih dulu dan masuk ke mobil. Setelah aku duduk dan mesin mobil di jalankan, aku baru menyadari ada seseorang lagi yang berada di mobil.

“Hyung, kenapa akhir-akhir ini kau selalu mengikuti kami? Apa kakek yang menyuruhmu?”

“Kau kejam sekali berbicara seperti itu padaku, apa kau tidak ingin melihatku?”

“Hyung, aku serius.”

Tao hyung tertawa geli melihat reaksiku. Dia menghentikan tawanya, lalu melirikku dan Mora melalui kaca mobil.

“Iya, kakekmu yang memberi perintah. Perusahaan akan meluncurkan project baru, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan perusahaan pesaing. Karena itu, aku akan menjaga kalian.”

Aku mengangguk setuju, ini akan membahayakan Mora. Sebaiknya, aku juga tidak meninggalkannya sendiri baik di tempat les maupun di lingkungan sekolah.

“Tapi hari ini aku akan pergi ke rumah ayahku, aku juga perlu pergi ke toko buku dahulu.”

“Kalau begitu, aku akan ikut bersamamu. Kita bisa pergi bersama,”

“Tidak! Kau pulang saja, aku akan turun di toko buku. Aku akan naik taksi ke rumah ayahku,”

Apa Mora sudah melupakan ucapan Tao hyung? Sudah sangat jelas, kami harus waspada. Kenapa Mora begitu keras kepala? Dia tidak boleh ditinggal sendiri, apa dia tidak berpikir apapun bisa terjadi padanya. Aku tidak ingin melihatnya terluka.

“Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian! Terserah kau setuju atau tidak,”

“Apa kau ingin menemui Irene-mu itu? Makanya kau bersikeras untuk ikut pergi, kalau begitu temui saja dia. Tapi jangan jadikan aku sebagai alasanmu,”

Wow, aku sungguh terkejut mendengar ucapannya. Apa Mora sedikitpun tidak merasakan kekhawatiranku terhadapnya? Bahkan saat mendengar dia akan menemui ayahnya, sekalipun tidak terlintas di benakku tentang Irene noona. Wah, gadis ini benar-benar tak berperasaan. Dia tak memiliki kepekaan.

“Aku tidak sepert—“

“Kalian tidak perlu bertengkar, kami bisa mengantar kalian sambil menunggu di restaurant terdekat. Ucapan Sehun itu benar, Mora. Kau tidak boleh pergi sendiri,”

Tao hyung menyela ucapanku, setidaknya kami memiliki pendapat yang sama. Mora hanya diam, dia tidak mencoba untuk berargumen lagi. Mora mengalihkan pandangannya keluar, sepertinya dia tidak ingin berbicara padaku. Sejujurnya, aku paling benci situasi seperti ini.

“Nona, apa kita akan pergi ke toko buku di depan sana?”

Mora hanya mengangguk menjawab pertanyaan Pak Lee, tak lama mobil kami berhenti di depan sebuah toko. Mora keluar dari mobil dan meninggalkanku begitu saja, aku pun keluar dan berniat menyusulnya.

“Sehun, kami akan menunggu di restauran seberang sana dekat dengan minimarket. Jika kalian sudah selesai, hubungi hyung atau Pak Lee. Kami akan kemari,”

“Baik, hyung. Kami tidak akan lama,”

Setelah berpamitan, aku masuk ke dalam toko dan mulai mencari keberadaan Mora. Aku melihatnya, ia sedang sibuk memilih buku. Mencoba untuk mendekat, sepelan mungkin aku melangkah menujunya.

“Buku apa yang sedang kau cari? Mungkin, aku bisa membantumu.”

“Tidak perlu, aku bisa mencarinya sendiri.”

Aku menghela napas, apa sekarang dia sedang marah padaku? Seharusnya, di sini aku yang marah dan mengacuhkannya. Mora menuduhku atas hal yang tidak kulakukan, belum lagi sudah lebih dari dua minggu ini, dia menghindariku. Kupikir, aku tidak pernah sesabar ini dalam menghadapi seseorang.

Aku berbalik dan menjauh darinya, kutelusuri beberapa rak buku. Ketika mataku melihat rak yang berisi tentang buku astronomi, aku mendekat dan mengambil beberapa buku yang kupikir cukup menarik. Tidak ada salahnya, aku membeli beberapa buku ini. Buku-buku ini akan kubaca bersama dengan Mora, mungkin itu bisa meredakan sedikit amarahnya. Itu mungkin, aku juga tidak yakin.

Aku membawa buku-buku tadi ke kasir, Mora sudah berdiri di depan sana dan sedang membayar. Lagi-lagi dia meninggalkanku, Mora pergi begitu saja setelah membayar padahal aku berdiri tepat di belakangnya. Dengan cepat aku meminta kasir menghitungnya dan membayar, sedikit langkah terburu-buru aku mengejar Mora yang akan keluar toko.

‘Tes . . tes . . .tes . . .’

“Oh Tidak!”

Mora terdiam di depan pintu toko, perlahan hujan turun dan semakin deras. Setelah berhasil mengejarnya, aku mencoba mengatur napasku. Kulirik wajahnya yang menelan kekecewaan karena hujan turun, sejujurnya aku sudah menduga hujan akan turun hari ini.

Sambil mengeratkan pada belanjaannya tadi, Mora membuka pintu dan berdiri di depan teras toko. Aku pun mengikutinya dari belakang, kami sama-sama berdiri diam di depan toko sambil memperhatikan hujan yang turun.

“Biar aku yang membawa belanjaanmu,”

×◦◦×

In Mora’s Eyes . . .

Aku menoleh dan mendapati Sehun yang sudah mengambil belanjaan dari tanganku. Oh Sehun, kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Ini sangat sulit untukku. Aku tahu, kau hanya ingin bersikap baik padaku karena kita sudah menjadi keluarga. Tapi tidak bagiku, aku tidak menginginkan itu. Kenapa kau mempersulitku? Aku harus melupakan semua imajinasiku tentangmu.

Kualihkan pandanganku ke depan, kembali memperhatikan hujan yang turun. Aku teringat perlakuan Sehun tadi, saat dia begitu panik melihatku terbentur dan mengelus dahiku. Aku membeku saat itu, rasanya jantungku akan melompat keluar. Aku tidak bisa merespon apapun, perlakuannya membuatku sangat gugup.

Kulirik Sehun yang berada di sampingku, dia sedang memejamkan matanya dan tersenyum kecil sambil menikmati suara hujan turun. Setiap hari Sehun-a, setiap hari aku ingin berbagi hal kecil yang ada di sekeliling kita. Menikmati mentari pagi bersama, melihat bintang bertaburan di malam hari, memandang matahari senja yang indah, lalu menikmati suara hujan bersama seperti saat ini. Hanya ada kau dan aku.

Atensiku kembali pada hujan yang turun, ini aneh suhu memang sedikit dingin tetapi aku merasa hangat. Hangat dalam artian berbeda, mungkin karena sekarang Sehun berada di sampingku. Entah kenapa, aku ingin menyentuhnya. Air hujan, aku ingin menyentuhnya meski aku tahu air itu akan terasa dingin di kulitku.

Aku mencoba mengulurkan tangan, tetapi seseorang mencoba menghentikanku dengan cara mengenggamnya.

“Apa yang kau lakukan? Kau akan terkena flu, kau bahkan tidak tahan terkena angin malam.”

Aku menoleh pada Sehun, dia sekarang sedang melotot padaku. Lalu tanpa sadar aku tertawa geli melihat ekspresinya itu. Ah, kenapa aku melakukan ini? Seharusnya aku tidak tertawa.

“Kenapa kau malah tertawa? Tidak ada yang lucu di sini, sebaiknya kita menunggu di dalam sebelum kau terkena air hujan.”

Sehun masih mengenggam tanganku dan menarikku masuk ke dalam, ada beberapa kursi dan meja kecil di dalam. Jadi, kami duduk dan menunggu di sana.

“Aku akan menghubungi Tao hyung, kau duduk diam di sana.”

Aku hanya mengangguk setuju dan Sehun mulai sibuk menghubungi Tao.

“Halo, Tao hyung.

Kami sudah selesai, bisakah kau menjemput?

Di sana ada minimarket, bukan?”

Aku mengernyit heran, minimarket? Untuk apa Sehun menanyakannya, apa ada sesuatu yang harus dia beli?

“Tolong beli payung dan kompres untuk luka memar, jika ada handuk kecil juga.

Iya, kami akan menunggu di sini. Tenang saja, tidak usah terburu-buru.”

Sehun menutup telepon dan atensinya kembali padaku.

“Untuk apa kau membeli barang-barang itu?”

“Kompres untuk dahimu, payung dan handuk juga untukmu agar kau tidak terkena flu. Oh aku lupa, harusnya aku meminta juga vitamin.”

Sehun akan menghubungi Tao lagi, tapi aku mencoba menghentikannya.

“Oh Sehun, kau sungguh berlebihan. Dari depan toko sampai ke pintu mobil, tidak akan lebih dari lima belas langkah. Aku tidak akan terkena flu,”

Pemuda Oh itu menghentikan niatnya dan memasukkan kembali smartphone ke dalam saku, ia masih menatapku dengan wajah khawatir. Matanya kembali menatap dahiku yang terbentur tadi, Sehun mendekat dan menyingkap beberapa helai rambutku.

“Lihat, ada benjolan kecil di dahimu.”

“Aku tahu, tidak bisakah kau kembali duduk saja.”

Sehun menghentikan aktivitasnya dan kembali menatapku, perlukah aku mengingatkan bahwa aku benar-benar tidak tahan dengan tatapannya itu? Secara perlahan Sehun membuatku mati lebih cepat. Ini sudah kesekian kalinya, aku terkena serangan jantung.

Aku berpura-pura tidak tahu bahwa dia sedang menatapku, mataku lebih senang memperhatikan air yang berjatuhan dari langit.

“Kenapa kau ingin mengunjungi ayahmu? Apa sesuatu terjadi?”

“Tidak, tidak ada. Aku hanya ingin meminta persetujuan wali,”

Kulirik dia diam-diam, Sehun sedang berpikir. Sepertinya dia belum tahu bahwa aku belum mengumpulkan angket jurusan untuk universitas nanti. Aku menghela nafas dan menaruh atensi padanya yang sedang kebingungan.

“Angket, Sehun-a. Aku belum mengumpulkannya, aku tidak bisa meminta persetujuan dari ibuku. Aku memilih Universitas Cambridge departemen Astronomi untuk melanjutkan sekolahku,”

“Apa? Jadi kau akan pergi? Memangnya kau bisa hidup sendiri di sana?”

“Aku sudah lama membicarakan hal ini pada ayahku dan beliau sudah menyetujuinya. Lagipula, kakek dari sebelah ayahku sudah lama tinggal di sana. Jadi, aku tidak perlu khawatir harus hidup sendiri.”

Sehun menatapku dan aku tidak mengerti arti tatapan itu, ada sedikit rasa terkejut, kecewa, dan bercampur heran. Sudah kubilang, bukan? Aku tidak mengerti arti tatapannya.

“Jadi, kau hanya cukup bertahan kurang lebih sepuluh bulan lagi. Setelah itu, kau tidak akan melihatku lagi.”

“Apa itu artinya kau tidak akan kembali? Bahkan saat kau sedang libur?”

Aku mengangguk mantap. Tentu saja, itu adalah tujuanku sejak awal. Bahkan, jauh sebelum ibuku menikah dengan kakekmu. Katakan saja bahwa aku seorang yang pengecut, aku tidak peduli itu. Ada banyak hal yang ingin kulupakan di negara ini, sudah kubilang aku ini ahlinya dalam melarikan diri.

“Kau tidak pergi karena membenciku, kan?”

“Tidak, tentu saja tidak. Aku sudah merencanakan ini sejak lama, hanya saja kau menambah list alasanku untuk tidak kembali ke sini.”

“Kalau begitu, kau harus kembali nanti. Karena aku ingin melihatmu lagi,”

Oh ya ampun, Sehun belajar dari mana hingga ia bisa berkata seperti itu. Kenapa sikap dan perkataannya selalu bisa membuatku berdebar? Tidakkah dia tahu bahwa aku mencoba untuk bertahan agar tak menghambur ke pelukkannya.

Kugenggam tanganku erat, memperingatkan pada diri sendiri agar tak bereaksi apapun. Kembali kualihkan pandangan keluar jendela, aku melihat Pak Lee dan Tao yang sedang berjalan menuju kemari. Sungguh, aku tak pernah sesenang ini melihat kehadiran mereka. Ukh, aku benar-benar tak boleh terlalu lama bersama Sehun.

“Sehun, mereka sudah datang.”

×◦◦×

In Author’s Eyes . . .

Sehun tersenyum canggung melihat Ny. Bae yang duduk berseberangan dengannya, dia sungguh tidak nyaman dengan situasi ini. Berkali-kali Sehun melirik ruang kerja Tuan Hwang, Mora sedang berbicara berdua dengan ayahnya. Pikirnya, ini sudah terlalu lama gadis itu berada di dalam sana. Kenapa Mora belum muncul juga?

“Apa kau akan mengambil universitas yang sama dengan Irene?”

Pemuda Oh itu tersentak mendengar pertanyaan ibu Irene yang terlalu tiba-tiba.

“Iya, aku dan noona mempunyai ketertarikkan yang sama dengan modern dance.”

Lagi-lagi suasana menjadi canggung lagi, Sehun tidak tahu bagaimana harus memulai konversasi.

‘Dap . . . dap . . .dap . . .’

Sehun menoleh dan mendapati Tuan Hwang yang berjalan menuju mereka, tetapi dia tidak melihat keberadaan Mora. Sehun mengedarkan pandangan, tapi gadis itu tak kunjung dilihatnya. Tuan Hwang mengambil tempat duduk di sebelah istrinya, Sehun memberikan salam dengan pandangan yang masih tak fokus.

“Apa kau mencari Mora? Dia pergi ke kamar mandi sebentar,”

Tuan Muda Oh itu mengangguk mengerti.

“Sepertinya kalian berdua sudah mulai akrab,”

“Ya, kami mencoba berteman baik.”

Ayah Mora tersenyum mendengarnya dan Sehun hanya bisa tersenyum canggung, dia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

“Terima Kasih. Terima Kasih sudah menjaganya,”

“Tidak, itu bukan apap-ap—“

‘KYAAA! KAU!’

Tiga orang yang berada di ruang tamu itu terkejut mendengar teriakkan, mereka bertiga langsung berlari mendekati sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka mendapati Irene dan Mora yang sedang bertengkar, menarik rambut satu sama lain.

“Apa yang kau lakukan pada anakku! Lepaskan tanganmu!”

Baru saja Ibu Irene akan berjalan mendekat, tetapi Tuan Hwang menahannya. Sehun pun mengernyit heran atas reaksi ayah Mora.

“Tinggalkan saja mereka berdua, sudah seharusnya sekali-kali saudara bertengkar. Aku lebih tidak tahan melihat mereka saling melempar pandangan sinis, setidaknya setelah tiga tahun mereka melakukan hal selayaknya saudara.”

Tuan Hwang membawa istrinya dan Sehun kembali ke ruang tamu, meski dengan kebingungan. Sehun hanya diam dan mengikuti Tuan Hwang. Mereka meninggalkan Mora dan Irene yang sedang bertengkar dan berteriak satu sama lain.

“Kau! Hwang Mora! Aku sudah cukup sabar dengan sikapmu!”

Irene melotot kesal ke arah Mora tanpa melepaskan tarikkan rambut pada tangannya, Mora memperkuat tarikkannya hingga kepala Irene ikut tertarik ke belakang.

“Hey! Bae Irene, kau itu seorang pengkhianat! Kau itu benar-benar tak tahu malu,”

“Aku tahu, aku salah makanya aku meminta maaf padamu tapi kau terus mengacuhkanku.”

“KARENA KAU MENJADIKAN KAKAKKU SEBAGAI ALASANMU!”

Mora berteriak kesal di hadapan gadis Bae itu.

“Aku tahu itu salah, aku sungguh minta maaf. Tak seharusnya aku menjadikan Minhyun oppa sebagai alasan, karena itu aku benar-benar merasa bersalah. Dia sendiri sudah seperti kakakku,”

Suara Irene menjadi lirih. Dia tahu, mengatakan hal itu merupakan kesalahan terbesarnya. Padahal, Irene sendiri begitu menyayangi Minhyun. Saat itu, dia panik dan tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Mora.

Mora melepaskan rambut Irene dan Gadis Bae itu pun mengikutinya, tetapi sesaat kemudian Mora malah balik mencakar tangannya.

“HWANG MORA! Kenapa kau mencakarku?”

“Itu karena aku kesal padamu,”

Tidak. Sebenarnya, bukan karena hal itu saja. Cakaran itu bentuk kekesalan Mora atas kecemburuannya terhadap Irene, tentu saja penyebabnya Oh Sehun. Karena mereka sudah berkelahi, sekalian saja Mora membalas kecemburuannya.

‘Pukk . . .’

“BAE IRENE! Kenapa kau memukul pipiku? Kau tidak lihat di dahiku sudah ada benjolan,”

“Aku hanya membalas, Lagipula besok minggu. Sekolah kan libur, orang-orang tak akan melihatmu babar belur.”

Mereka melotot satu sama lain, saling melemparkan kekesalan. Irene pikir, ini sudah sangat lama mereka tidak bertengkar dan benar-benar bicara satu sama lain. Yah, meskipun mereka harus saling memukul.

Keduanya menghela napas dan jatuh terduduk, hanya keheningan yang terjadi dan satupun dari mereka enggan memulai pembicaraan. Irene melirik Mora yang berada di sampingnya, pipi adik tirinya itu memerah sepertinya akan meninggalkan bengkak. Sejujurnya, Irene sedikit merasa bersalah tetapi dia hanya ingin membalas atas apa yang telah Mora lakukan.

“Aku mau bicara padamu, bukan berarti aku sudah menerimamu sebagai saudaraku.”

“Aku tahu itu,”

Mora melirik lengan Irene yang tadi telah dilukainya. Wajah gadis itu memucat, keringat dingin meluncur dari pelipisnya. Mora segera berdiri dan Irene yang melihat hal itu hanya bisa menatap bingung.

“Aku pulang dulu, lenganmu sedikit berdarah. Kau harus segera mengobatinya,”

Mora berbalik dan melangkah dengan terburu-buru meninggalkan Irene.

“Hey! Tung—

Ya, baiklah. Kau juga segera kompres wajahmu,”

Irene sedikit berteriak agar Mora mendengar suaranya, itu terlalu membingungkan ketika Mora mendadak pergi meninggalkannya. Irene baru saja akan berdiri, ketika seseorang datang dengan wajah cemas.

“Noona! Kau tidak apa-apa?”

Itu Sehun, dia datang dari arah Mora pergi tadi.

“Tidak apa-apa hanya luka kecil,”

Sehun melirik lengan Irene yang sedikit terluka, sepertinya itu bekas cakaran. Wah, Sehun tidak percaya Mora cukup liar jika dia sedang marah.

“Noona harus segera mengobatinya, aku akan pergi menyusul Mora. Sepertinya dia ingin segera pulang,”

“Ya, Mora sepertinya sedang tidak baik. Kau harus segera menyusulnya,”

Sehun mengangguk dan pergi meninggalkan Irene. Dia tahu, Sehun tahu itu bahwa Mora tidak baik-baik saja. Saat Sehun menuju ke sini, dia melihat wajah gadis itu sedikit pucat tetapi egonya berkata lain. Setidaknya, Sehun hanya ingin melihat sebentar keadaan Irene sebelum meninggalkannya.

Setelah mengambil tas dan berpamitan pada Tuan Hwang, Sehun langsung berjalan terburu-buru menuju mobil. Ketika Sehun masuk ke mobil, dia melihat Mora yang sedang memeluk tas dan memendamkan wajahnya di sana.

“Mora, kau tidak apa-apa? Coba lihat aku,”

Sehun menarik tangan Mora, tetapi gadis itu menepisnya. Sehun sedikit terkejut tapi dia tidak ingin memaksa Mora, jadi Sehun lebih memilih untuk bertanya pada Tao dan Pak Lee. Tapi dua pria yang sejak tadi berada di dalam mobil itu hanya menggelengkan kepala, tanda bahwa mereka juga tidak tahu apa-apa.

“Pak Lee, tolong jalankan mobilnya. Kita pergi ke rumah sakit,”

Pak Lee mengangguk setuju dan menghidupkan mesin mobil. Belum sampai satu menit mobil berjalan, Mora membuka suara tanpa mengubah posisinya.

“Pulang! Aku hanya ingin pulang ke rumah,”

“Tapi kau terluka. Kau tidak baik-baik saja, Mora.”

“Pulang! Aku bilang pulang, yah pulang!”

Semua yang berada di dalam mobil terkejut, bukan hanya karena teriakkan Mora tapi juga melihat keadaan gadis itu. Sehun dapat jelas melihat wajah Mora yang pucat, mata merah karena menangis, dan pipi yang sedikit bengkak.

Sehun menatap cemas pada wajah Mora, dia tadi sudah cukup panik melihat benjolan kecil di dahi gadis itu. Kini harus ditambah dengan pipi yang sedikit membengkak, tetapi Sehun tidak ingin melihat gadis itu lebih frustasi.

Jadi, Sehun meminta Pak Lee untuk mengikuti keinginan Mora. Meski hanya diam dan sangat tenang, sekarang Sehun benar-benar panik. Dia tidak tahu, Sehun tidak tahu bagaimana cara menolong gadis itu. Biasanya, Sehun dapat melakukan sesuatu meskipun dia sedang dilanda kepanikkan. Tetapi sekarang, Sehun tak bisa memikirkan apapun. Dia ingin membantu, tetapi tidak tahu caranya. Jika Sehun bisa membantu, apapun, apapun itu dia bersedia melakukannya.

—×◦ to be continued ◦×—

Tetap di sisiku,

Hanya di sisiku,

Kamu seharusnya tidak meninggalkanku

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

JHIRU’s Note :

Maaf banget, minggu kemarin ane gak update karena kecerobohanku yg salah kirim email kayaknya. Email ane gak masuk ternyata, padahal udah selesai dari lama chapter lima. Jadi sebagai permintaan maaf, chapter kali ini di perpanjang sampai 3.500 kata. Biasanya, Cuma sampai 2.000 kata. Tadinya, mau update langsung dua chapter. Tapi ane pnya ff series lain yang kudu di update (dibaca y), sedangkan maksimal kirim ff freelance itu dua kali.

Hohoho . . .

Ada Tao y, keberadaan Tao udah pernah disebut di chapter 2. Tetapi nggak disebut aja namanya, karena baru sekarang ane memutuskan siapa yang bakal muncul. Tadinya sih mau pilih si CABE INTERNASIONAL, tetapi tinggi badan Baekhyun tak mendukung buat jadi bodyguard. Masa’ lebih tinggi yang dilindungi daripada yang melindungi, jd udah deh terpilihlah sang mantan kekasih.

Terima kasih sudah membaca fanfic ini hingga habis.

Dan please pakai banget-nget-nget, jadilah pembaca yang baik dan menghargai karya tulis penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment. Itu berarti banget buat ane. Sekian dan terima kasih ^^

 

 

 

 

 

19 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] SHADOW (Chapter 5)”

  1. emang kalo temen harus ada berantemnya biar lebih berwarna…tapi pada akhirnya bakal baikan lagi kalo emang temen sejati sih..wkwk
    kuharap mora-irene bisa baikan

  2. Sebnernya ngeselin banget nemuin cerita ang bagus tp msih sedikit chapternyaaa..
    gilaaa nunggu updateannyoo..
    makinnn keliatan aja klo mora suka ama sehunnn,, sehun juga seneng bikin baper sihhh

    1. mereka teman sejak kecil yg udah seperti saudara, tp jd musuh gra2 ortu mereka. Itu aja, kok. Cma gak tw, kira2 bisa gak y mereka temenan lg. ditunggu aja y, Thank u ats jejaknya ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s