[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GANGNAMGU — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PARTNER in Gangnam-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chen

Supported by EXO`s Baekhyun, OC`s Do Ahrin

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chen of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Seodae-mun [Baekhyun]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Jongdae tidak biasanya seperti ini, Arin tahu prianya sedang banyak masalah. Sejak tadi, Jongdae melangkah mondar-mandir di dalam kamar Arin. Bukannya pria itu merasa tidak nyaman karena bau kurang sedap yang ada di kamar si gadis, melainkan karena hal lain.

“Apa yang sejak tadi kau pikirkan, Dae-ya?” akhirnya Arin beranikan diri untuk angkat bicara. Kalau boleh jujur, dia amat merasa terganggu karena sikap monoton Jongdae itu. Pasalnya, Arin juga bukan tipe orang yang senang melihat seseorang melakukan tindak monoton.

Jadi, bisa dikatakan kalau sekarang Jongdae sudah menyenggol ambang batas betahnya.

“Tidak ada, Arin-ah. Sudah, tidak perlu kau pikirkan.”

Nah, yang seperti inilah yang membuat Arin semakin kesal. Sifat Jongdae yang terlampau tertutup dan tidak bisa percaya pada orang lain ini. Buat apa pria itu mengikrarkan kata cinta dan mengurai keinginan untuk hidup bersama dengan Arin kalau untuk jadi terbuka saja dia tidak bisa?

“Kau tahu kau bisa menceritakan masalahmu padaku, Dae-ya. Aku bukannya seseorang yang tidak bisa kau percaya.” Arin kemudian berkata, enggan dia untuk beradu argumen di saat keadaan Chen sedang tidak stabil seperti ini.

Arin tahu benar bagaimana dia harus memainkan peran, menenangkan Jongdae sehingga pria itu bisa berpikir rasional lagi dengan tanpa mengedepankan emosi seperti saat ini.

“Sampai kapan, Arin?” sebuah tanya terlontar dari bibir Jongdae.

“Apanya?” Arin balik bertanya, kalimat gamblang Jongdae barusan rupanya sudah membuat Arin merasa begitu ragu untuk menarik kesimpulan sendiri mengenai maksud di balik pertanyaan si pria.

“Sampai kapan kita harus terikat padanya seperti ini? Aku sudah lelah, aku ingin melepaskan diri darinya, meski hanya sebentar. Aku ingin membawamu ke tempat yang aman, nyaman, dimana kita bisa hidup berdua tanpa harus memikirkan soal dosa-dosa yang sudah kita perbuat.” Jongdae berkelakar, rupanya, telah lama pria itu membendung kalimat tersebut di dalam hati.

Sehingga baru sekarang dia punya keberanian untuk mengutarakannya pada sang kekasih.

“Aku tahu kau lelah, Dae-ya. Dan aku pun begitu. Tapi kau tahu kita sudah mengikat diri dengan seorang iblis, dan tidak semudah itu untuk melepaskan diri darinya.” Arin menuturkan, gadis itu nyatanya juga merasakan hal yang sama dengan Jongdae. Hanya saja, dia lebih bisa menyembunyikan apa yang dirasakannya.

“Haruskah kita mati dahulu untuk lepas darinya?” tanya itu akhirnya Jongdae utarakan, setelah dia terdiam beberapa saat pasca mendengar kalimat yang Arin utarakan.

“Lalu apa yang akan terjadi pada keluarga kita?” Arin balik bertanya. Oh, wanita bermarga Do itu tentu tidak tahu tentang apa yang telah terjadi pada saudari kembarnya. Keduanya telah memilih untuk memihak pada iblis berbeda yang masing-masing dari mereka percayai.

Namun, hilangnya kepercayaan antar saudara juga kontak tidak lantas membuat Arin melupakan eksistensi saudarinya. Miris, memang, Arin harus memilih ikatan semu yang diciptanya daripada ikatan darah. Sehingga sekarang, dia mungkin jadi satu-satunya orang yang tidak tahu tentang keadaan sang saudari.

“Kau satu-satunya keluarga yang kupunya.” Jongdae berkata, hal yang lantas membuat Arin menatapnya seolah ingin menangis. Sungguh, Arin tak pernah tahan jika Jongdae sudah mengatakan hal yang mengingatkan Arin tentang apa yang telah Jongdae lalui.

Pria itu bukannya terlahir sebagai seorang pembunuh, atau pesuruh seperti ini. Sebenarnya, Jongdae punya keluarga yang bahagia, dahulu. Sebelum kemudian keluarga itu dihancurkan karena permasalahan politik yang tidak Arin maupun Jongdae pahami kala itu.

Jongdae kehilangan kedua orang tua dan tiga adiknya saat dia masih belia, bukan sekedar melihat bagaimana kelima keluarga intinya dibantai, Jongdae juga harus menelan pil trauma pahit dan luka robek lebar dalam batin sebab dia juga dipaksa untuk menyaksikan bagaimana keluarganya disiksa selama empat hari sebelum akhirnya meregang nyawa dengan kepala terpenggal.

Jongdae pernah membuka cerita, satu kali, pada Arin, dan cerita itu adalah cerita mengenai kematian keluarganya. Jongdae muda saat itu terkurung di lift sampah kecil yang ada di dinding rumah di ruang tengah. Dia terkurung sebab pintu keluar lift tersebut tertimpa lemari besar di sebelahnya yang roboh karena pertengkaran mendiang Ayah Jongdae dan belasan orang yang datang untuk membunuh keluarganya.

Jongdae sekarat kala itu, sebab selama empat hari ia tak makan, dan hanya minum dari tetesan air di kloset lantai dua rumahnya yang bocor dan menetes masuk melalui celah sempit yang ada di dalam lift.

Menjijikkan, memang. Tapi Jongdae sudah melupakan batas itu saat dia menyaksikan orang tua dan tiga saudaranya diikat di ruang tengah—tempat lift tersebut berada—dan mengalami siksaan selama empat hari.

Rekaman kejadian itu terlalu kental untuk bisa Jongdae lupakan. Terutama karena ingatannya merekam kejadian sadis itu di kala dirinya sendiri tengah sekarat, pada akhirnya Jongdae sama sekali tak bisa melupakan tiap sekon yang dilaluinya di dalam bilik sempit tersebut.

“Haruskah kita minta tolong, kalau begitu?” vokal Arin akhirnya terdengar.

“Pada siapa?” tanya Jongdae, vokalnya terdengar parau, Arin yakin benar prianya tengah berada dalam titik terendah dalam kesabarannya.

“Siapapun yang bisa membantu kita, Dae-ya. Kita tidak bisa terus begini, katamu. Dan aku juga tidak mau kalau salah satu di antara kita harus berakhir mati, atau terluka. Aku juga ingin bebas, Dae-ya. Tapi kalau kita hanya berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa, bagaimana kita bisa mengharapkan kebebasan?” tanya Arin kemudian, tidak berniat menyudutkan Jongdae yang memilih untuk terus mengeluh dan mengeluh tanpa berbuat apapun, memang.

Tapi entah kenapa Jongdae serasa disinggung. Kalau saja dia tidak ingat tentang siapa Arin dan apa makna gadis itu buatnya, mungkin Jongdae tidak akan segan menyarangkan sebuah pukulan di wajah, sebab dia benar-benar merasa tersinggung.

“Siapa yang bisa menolong kita?” tanya itu akhirnya Jongdae utarakan.

Dia putus asa, Arin tahu itu. Dibandingkan dengan dirinya, Jongdae sudah lebih sering menghadapi situasi yang mematikan, sebuah situasi dimana Jongdae harus memilih, mengakhiri nyawa musuhnya atau dia sendiri yang mengorbankan nyawa.

Jongdae tidak takut mati, Arin yakin, tapi Jongdae juga berharap untuk hidup lebih lama.

“Ruangan ini sudah kau amankan, bukan?” Arin bertanya.

Jongdae kini menatap wanitanya, “Tentu saja. Aku sudah pastikan tidak ada yang bisa mengawasi kita di dalam sini.” jawabnya.

Lantas, Arin mengembuskan nafas panjang. Sebenarnya, dalam benak gadis itu sudah terpikir mengenai satu-dua rencana yang mungkin bisa menyelamatkannya juga Jongdae. Tapi selama ini dia terlalu takut untuk mengutarakan rencana tersebut, sebab Arin sendiri juga tidak bisa sepenuhnya percaya pada Jongdae.

Tapi Arin tidak lagi punya pilihan. Kalau memang Jongdae bisa ia percaya, dia mungkin punya harapan untuk tetap hidup setelah semua ini berakhir. Kalau dia tidak beruntung, dia bisa saja mati. Daripada mati tanpa berusaha, bukankah yang Arin lakukan sekarang akan lebih baik?

“Kalau begitu, kau harus bicara dengan pembunuh itu, Dae-ya.” kata Arin kemudian.

“Baekhyun, maksudmu?” tanya Jongdae memastikan.

“Iya,” Arin mengangguk, dipandanginya Jongdae sejenak sebelum melanjutkan, “Dia bisa membantu kita, aku yakin itu.” sambung Arin.

“Tapi dia juga ada di pihak Tao, kau sudah lupa?” Jongdae mengingatkan gadis itu.

“Tao hendak membunuhnya. Itu artinya, bagi Tao dia tidak lagi berguna. Dan melihat bagaimana dia membelot dari Tao dengan membawa gadis incaran Tao untuk diselamatkan, tidakkah kau melihat bagaimana dia sebenarnya sudah punya rencana lain untuk Tao?” Arin menganalisis, well, gadis itu memang cerdas. Terlampau cerdas untuk bisa Jongdae saingi kecerdasannya.

“Baiklah. Menurutmu dia membelot pada Tao karena Wang Jia-yi lebih berguna baginya, begitu?” tanya Jongdae, rupanya pria itu juga selama dua hari ini sudah menganalisa situasinya.

“Kalau dugaanku benar, dia bukannya menganggap gadis itu lebih berguna baginya. Tapi dia memanfaatkan situasi pelarian yang ada. Dia punya lebih dari sekedar rencana untuk membawa pergi Wang Jia-yi, aku yakin itu. Dan dia bisa jadi satu-satunya jalan keluar kita, meskipun beresiko.” Arin menuturkan.

Jongdae terdiam selama beberapa saat, benaknya sekarang dipenuhi oleh belasan tanya juga curiga terhadap sosok yang sekarang hendak gadisnya percayai, hendak diajak bekerja sama oleh si gadis lantaran putus asa.

“Bagaimana kalau dia tidak percaya pada kita?” tanya Jongdae akhirnya.

“Kita coba dulu, kita bicara padanya, dan lihat bagaimana reaksinya pada apa yang kita beritahukan padanya. Kalau dia tetap menolak, kita lanjutkan rencana untuk membunuhnya.” Arin menandaskan.

“Dia tidak takut mati, Arin.” Jongdae mengingatkan.

“Maka kita paksa dia untuk masuk dalam situasi dimana dia tidak akan menginginkan kematian itu sekarang. Setidaknya, sebelum semua ini berakhir.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

TREK!

“Apa yang sekarang kau lakukan?” sebuah tanya lolos dari bibir Jia-yi kala dirasakannya moncong sebuah senjata di pelipisnya. Tidak lain dan tidak bukan, Baekhyun lah pelakunya.

“Hanya ingin tahu bagaimana reaksimu.” sahut Baekhyun ringan, lantas ditariknya senapan itu menjauh dari pelipis Jia-yi begitu si gadis didengarnya menghela nafas panjang.

“Kau sudah setidak sabar itu untuk membunuhku?” tanya Jia-yi sembari menatap si pria, sementara pria itu sendiri akhirnya menyunggingkan tawa kecil.

“Tidak.” jawabnya singkat, lantas dia pamerkan sebuah senyum sebelum akhirnya dia meletakkan senjata tersebut di atas meja.

“…, aku tidak sejahat itu, kau tahu.” kemudian Baekhyun melanjutkan kalimatnya.

Tidak jahat bagaimana? Jia-yi ingin sekali mengatakan hal itu pada Baekhyun. Bagaimana bisa pria itu dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa dia tidak jahat sementara semua hal yang dilakukannya begitu keji?

“Kata siapa kau tidak jahat?” akhirnya kalimat itu lolos juga dari bibir Jia-yi.

“Memangnya, menurutmu aku seorang pembunuh yang keji juga?” tanya Baekhyun tidak tahu diri. Malas menyahuti ucapan si pria, akhirnya Jia-yi memilih bungkam.

“Sudahlah. Tidak usah membahasnya karena kau sudah tahu pasti apa jawaban atas pertanyaan itu. Sekarang, kita harus bagaimana? Kau sudah tahu kalau dua orang yang bekerja pada Chanyeol itu adalah orang suruhan Arshavin juga.

“Lalu menurutmu juga, Ayahku adalah sumber masalahnya, dan aku juga Jin-yi jadi incaran semua orang sekarang. Kemudian, apa aku dan Jin-yi harus mati begitu saja dan menerima kebencian orang-orang? Padahal kami tidak salah apa-apa.”

Usai bertukar cerita tentang ‘siapa Arshavin’ itu bersama dengan Baekhyun, Jia-yi sekarang benar-benar sudah paham situasinya. Meski, dia tahu sedikit banyak Baekhyun masih menyembunyikan beberapa hal darinya.

“Tidak usah berbuat apa-apa. Terima saja apa kata takdir. Mudah ‘kan?” kata Baekhyun santai, berkebalikan dengan ekspresi geram yang Jia-yi pasang, Baekhyun justru terlihat lebih tenang.

Ya, memang dia tidak perlu repot-repot merasa khawatir seperti Jia-yi. Sebab bukan nyawanya yang jadi incaran banyak orang sekarang.

Jia-yi sendiri tidak habis pikir. Dia tidak pernah berangan-angan untuk jadi seorang yang terkenal, apalagi diincar oleh orang-orang yang menginginkan kematiannya. Tapi kenapa sekarang justru Jia-yi merasa dirinya seolah menjadi spotlight?

“Tapi aku tidak mau mati, dan aku juga tidak mau Jin-yi mati.” Jia-yi berkata, tegas, penuh penekanan dan tantangan.

Dia tahu dia tengah berhadapan dengan siapa, salah satu suruhan untuk menghabisi nyawanya dan Jin-yi juga. Tapi Jia-yi sudah lupa pada rasa peduli, dia tidak lagi mau mengalah. Hey, ini urusan nyawa. Memangnya siapa yang mau mati dengan pasrah?

“Kalau begitu kau harus melangkahi mayatku, jika kau ingin selamat.” kata Baekhyun, menegaskan di tiap kata yang ia utarakan bahwa dia sekarang tengah menggenggam erat nyawa Jia-yi dan Jin-yi, dan bisa kapan saja di remukkan dan lenyapkan tanpa bekas.

“Jika aku melangkahi mayatmu, aku akan terbebas, begitu?” tanya Jia-yi.

“Ya, tapi itu artinya kau harus membunuhku.” sahut Baekhyun ringan, dia tentu tak perlu merasa terancam barang sedikit pun kalau yang jadi sumber ancaman hanyalah seorang gadis ringkih macam Jia-yi.

Meski terlihat kuat dan menantang, tetap saja Jia-yi itu seorang wanita. Yang dari segi kekuatan fisik pasti akan kalah jika dibandingkan dengan Baekhyun. Terlebih lagi, Baekhyun adalah seorang pembunuh terlatih.

“Tidak, aku tidak perlu membunuh siapapun. Aku hanya perlu menjadikanmu tameng saja. Kau juga diincar oleh banyak orang, omong-omong. Jadi ada kemungkinan kau akan mati di tangan orang lain.

“Kalau dilihat-lihat, kau juga tidak begitu kuat. Buktinya, melawan Kyungsoo saja kau sudah bisa kalah. Kesepakatannya, aku hanya perlu melangkahi mayatmu, dan aku bisa terbebas dari ancamanmu. Mudah sekali.”

Jia-yi berkelakar sendiri di tengah pilu yang dia telan sendiri. Dia tahu, mengharapkan Baekhyun akan mati, atau dikalahkan untuk kedua kalinya adalah hal yang masuk akal. Tapi lebih masuk akal lagi kalau pria itu menghabisi Jia-yi atau Jin-yi sebelum dia mengalami kematian atau kekalahan itu, bukan?

“Wah, kau sudah benar-benar mengumpulkan keberanianmu untuk bicara begitu. Aku sangat tersanjung mendengarnya.” nah, memangnya Jia-yi tengah mengutarakan sebuah pujian?

Atau itu hanya sarkasme saja?

Jia-yi, baru saja hendak buka mulut untuk menyahuti ucapan Baekhyun saat didengarnya pintu ruangan mereka diketuk.

“Cepat kau lihat sana.” kata Baekhyun.

“Enak saja. Aku ini tawanan, sebagai penculik, kau yang seharusnya memeriksa keadaan.” timpal Jia-yi tidak terima, lantaran sejak tadi Baekhyun terus-terusan memberikan perintah padanya.

Padahal, karena siapa dia sekarang ada di tempat ini?

Kekehan kecil lolos dari bibir Baekhyun sebagai sahutan. Lantas dia bawa tungkainya melangkah ke arah pintu, sebelum dia buka sedikit celah di pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang.

“Apa kau ada waktu?” sebuah tanya menyapa begitu Baekhyun melongokkan kepala.

“Ada perlu apa?” tanyanya singkat. Berhadapan dengan dua orang yang memihak pada orang yang baru saja dia khianati rasanya tidak benar, bagi Baekhyun. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah di depan mata.

“Kami ingin bicara.” kata Arin.

“Denganku?” tanya Baekhyun.

Arin, kini menatap Jongdae, diremasnya jemari pria itu sebagai sebuah isyarat agar Jongdae ikut angkat bicara juga. Kemudian, Jongdae berdeham pelan. Dia mengedikkan dagunya ke arah ruang berisikan Jia-yi di belakang Baekhyun, sebelum akhirnya dia bicara.

“Ya. Denganmu. Tanpa didengar oleh wanita di dalam sana.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Gangnam-gu (2) —

IRISH’s Fingernotes:

Maaf enggak bisa panjang, emang jatahnya segini sih, LOLOLOLOL. Mungkin efek samping dari ngetik di tengah-tengah galau juga, eaa. Nanti ketemu lagi sama Chen di tengah perayaan ulang tahun Yixing ya…

Sampai ketemu!

Salam kecup, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

10 tanggapan untuk “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GANGNAMGU — IRISH’s Tale”

  1. Waenjey aku baru bisa komen wahai kak irisheuuu di sini aku ngekek sama kasian pas nyeritain plesbek jongdae 😂😂😂 ternyata ini pasangan kesayangan tao alias arshavin mau membelot, jadinya ini gimana hayooo, bday icing pasti rame nih mana suho sang suggar daddy /bahasanya kak len lol/ belom nampak, ini tamatnya gimandos kak gimandosss, tak tunggu pokoknee

  2. gak sabar aku,, nanti pas birthday chanyeol.. malah rindu bagian si bang ceye kemana sih dia.. ehh kan sekarang part nya chen..

    geregetann sama si bebek mau nya apa !! , belum ketebakk sumpahh gagal paham teruss

  3. Omaigat! Skuat tnaga diri ini berhati2 spy ga da chptr yg klewat/kloncat, akhr’ny.. msh kloncat jg 😞 td hbs bc prisioner part 2 tu mo lnjt ke yg ke 3 mlh ksini, udah ngrasa janggal pas awal bc scen arin-첸, cb cari ulang tp ga nmu yg ktiga 😢 /gegara da intrupsi dr tamu yg nyari nykp 😤 sigh..
    Kshn arin blm tau twin sis’ny dah ga da, itu 첸 kesian bgt bs survive ga mkn 4hr cm minum aer kloset 😰 /ksian tp pengen ngtawain jg 😆 미안..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s