[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Dia itu Reyna by ShanShoo

chen

ShanShoo’s present

Kim Jongdae/ Chen, Baekhyun, Reyna

childhood, friendship, slight!comedy, family // ficlet // general

-o-

Beberapa teman sekelas yang lain pun pernah menjadi sasaran kejahilan Reyna. Membuat mereka jadi ogah-ogahan untuk pergi bermain ke rumah Baekhyun, ketika bocah itu mengajak mereka.

Sama halnya dengan Jongdae.

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

-o-

            “Hei, Jongdae,” panggil Baekhyun, ketika Jongdae sedang berjalan menyusuri koridor kelas yang masih ramai oleh para siswa, dan sebagian besarnya adalah anak laki-laki yang tengah berlari cepat menuju lapangan untuk bermain sepak bola, sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.

Jongdae mendapati Baekhyun kini berdiri di sampingnya, dan menatapnya sembari tersenyum lebar. “Hari ini jadi kerja kelompok di rumahku, kan?” tanya Baekhyun kemudian.

Jongdae menatap Baekhyun sangsi. Ia lalu membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Baekhyun.

Sebagai informasinya, kedua anak laki-laki berusia delapan tahunan ini berada di kelas yang sama. Hanya saja, mereka jarang sekali berbicara seperti ini. Dan, kalau saja guru pelajaran Bahasa Inggris mereka tidak memberikan tugas kelompok sebanyak dua orang per kelompok―yang dipilih oleh guru itu, mungkin Baekhyun tidak akan pernah menegur Jongdae. Lalu, Jongdae pun tidak akan pernah merasa ingin menghindar seperti ini dari seorang Byun Baekhyun.

Oh, mereka tentu tidak memiliki masalah pribadi seperti yang kaupikirkan. Jongdae tidak pernah membenci Baekhyun, begitu pun sebaliknya. Mereka berdua adalah anak laki-laki yang baik. Hanya, ketika Jongdae tahu kalau Baekhyun akan mengerjakan tugas itu bersama dengannya, rasanya… dunia tidak adil.

Jongdae pernah mendengar dari Kim Jongin, yang merupakan teman satu kelasnya juga, bercerita setelah ia mengunjungi kediaman keluarga Byun. Jongdae mendengar, Byun Baekhyun mempunyai seorang adik perempuan bernama Reyna. Adiknya itu memiliki sikap dan sifat yang menyebalkan, dan terkadang dia jahil. Jongin sampai berapi-api ketika ia menceritakan bagaimana Reyna mengejek kulitnya yang hitam seperti boneka Barbie gosong.

Semua teman dekat Jongin tertawa mendengarnya, begitu juga Jongdae yang secara diam-diam mendengarnya dari bangku depan. Boneka Barbie gosong? Yang benar saja? Bagaimana bisa adik perempuan Baekhyun bisa berpikir seperti itu? Ada-ada saja, batin Jongdae.

Beberapa teman sekelas yang lain pun pernah menjadi sasaran kejahilan Reyna. Membuat mereka jadi ogah-ogahan untuk pergi bermain ke rumah Baekhyun, ketika bocah itu mengajak mereka.

Sama halnya dengan Jongdae.

Jongdae bukannya lemah terhadap Reyna, apalagi mereka belum pernah bertemu.

Yang menjadi masalahnya adalah… Jongdae tidak mau menjadi sasaran kejahilan Reyna.

Hanya itu.

Tapi, takdir berkata lain.

Sepertinya, hari ini, Jongdae harus bertemu dengan Reyna dan mungkin saja akan menjadi sasaran kejahilannya.

Ugh, semoga saja tidak.

“Jongdae, bagaimana?” Baekhyun bertanya lagi, karena Jongdae tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Tersadar dari alam lamunannya, Jongdae lekas mengangguk sambil kembali membetulkan letak kacamatanya. “I-iya, jadi,” sahut anak laki-laki itu pada akhirnya.

*****

            “Aku pulang!” Baekhyun berseru, begitu ia membuka pintu rumah dan membuka sepatunya di sana. Jongdae melakukan hal yang serupa―membuka sepatunya, dan ikut meletakkannya di rak sepatu.

Kesan pertama yang Jongdae tangkap kala ia memasuki rumah Baekhyun adalah… rumah ini terasa nyaman. Tak hanya itu, sikap Baekhyun kepadanya pun tergolong ramah dan mengasyikkan. Di sepanjang perjalanan pulang, Baekhyun tak henti mengajaknya berbicara ini-itu, sampai-sampai Jongdae merasa bingung harus menjawab bagaimana. Ah, entahlah. Sepertinya, Jongdae tidak pandai berbicara banyak seperti Baekhyun.

“Jongdae, kau mau minum jus?” tawar Baekhyun saat ia meletakkan tas sekolahnya di kursi ruang duduk. Jongdae yang berdiri di dekatnya hanya mengangguk canggung, lalu mendapat tepukan dua kali di bahunya. “Santai saja. Anggaplah rumah sendiri. Kau tidak perlu merasa secanggung itu.” Baekhyun tersenyum lebar di akhir kata, lalu berjalan menuju ruang dapur, membawakan dua gelas jus jeruk untuknya dan Jongdae.

Sepeninggal Baekhyun, Jongdae mengamati keadaan sekitar yang cukup sunyi. Jongdae tidak melihat kedua orang tua Baekhyun dan juga… Reyna.

Ah, benar. Reyna!

Duh, kenapa Jongdae jadi merasa gugup seperti ini?

Dan lagi, kenapa Jongdae terus saja memikirkan ucapan Jongin tentang Reyna?

Ya Tuhan!

Sibuk berkutat dengan pemikirannya, Jongdae dikagetkan dengan suara anak perempuan yang berteriak menyerukan nama Baekhyun dari arah ruang duduk. Bocah perempuan itu berambut panjang dan diikat dua di bagian sisi kanan dan kiri kepalanya, namun di bagian kiri, ikatannya sedikit merosot. Sebelah tangannya membawa boneka Barbie dengan pakaian a la putri kerajaan yang bagus.

Apa mungkin… bocah ini adalah Reyna, yang pernah diceritakan Jongin di kelas?

“Kak Baekhyun, sudah pulang? Lagi buat apa?”

“Lagi ambil jus jeruk!” sahut Baekhyun dari arah ruang dapur.

Reyna mengerjapkan matanya yang tampak sayu, khas seseorang yang baru saja bangun tidur. Begitu ia hendak berjalan melewati meja ruang duduk, ekor matanya menangkap sosok seseorang yang duduk tidak nyaman di atas kursi sofa. Sontak, Reyna mengalihkan pandangan matanya dan mendapati sosok bocah laki-laki itu menatapnya dengan kesan horror yang kentara. Hal itu membuat Reyna mengernyitkan keningnya.

“Oh, kamu siapa?” tanya Reyna, sedikit serak.

Kim Jongdae terlihat tegang sekarang. Matanya masih saja membulat, sementara jantungnya berdegup kencang.

“Jong… jong…”

“Kak Jongin?” mata Reyna membulat, memerhatikan penampilan Jongdae dengan mata memicing, lalu ia menggosok matanya perlahan dan kembali menatap Jongdae. “Kak Jongin kok… kulitnya agak putih? Bukannya Kak Jongin itu item? Tapi, sekarang…”

Entah harus bagaimana Jongdae menyikapi celotehan Reyna. Yang jelas, Jongdae benar-benar ingin tertawa. Rupanya, apa yang dikatakan Jongin benar tentang bocah cilik ini.

“Bu-bukan, a-aku…”

“Dia Kim Jongdae, Reyna. Bukan Kim Jongin. Jongdae ini teman sekelas Kakak juga.” Baekhyun kembali menyahut, seraya berjalan kembali ke ruang duduk dengan dua gelas jus jeruk di tangannya. Ia lantas menyimpannya di atas meja. “Memangnya kamu lupa, seperti apa wajahnya Jongin?”

Reyna menatap Baekhyun sesaat, lalu kembali mengarahkan fokusnya pada Jongdae. “Ooooh begitu.” Reyna menyengir lebar. “Bilang dong, Kak. Nggak usah malu-malu sama Reyna.”

Jongdae mengerjap tak paham. Reyna yang berdiri di seberangnya kini berlari kecil dan duduk di sampingnya, membuatnya terlonjak kaget.

“Lho, kenapa, Kak? Kaget?” tanya Reyna keheranan melihat respons Jongdae saat ia mendekatinya.

Jantung Jongdae masih berdebar di atas rata-rata. “Ng-nggak, kok,” sahutnya gugup.

Reyna tidak terlalu menanggapi hal itu. Sebelah tangannya terulur pada Jongdae, mengajaknya untuk berkenalan. “Hai, Kak. Aku Reyna, adiknya kak Baekhyun.” Bocah perempuan itu menunjukkan cengiran lebarnya lagi.

“Kim… Jongdae,” balas Jongdae sambil menyambut uluran tangan Reyna.

“Iya, udah tahu, kok,” sahut Reyna jenaka. “Kakak ngapain di sini? Mau main sama kak Baekhyun, ya?” tanya Reyna, sambil mengalihkan pandangan pada Baekhyun yang ikut duduk di samping Jongdae.

“Enak saja,” timpal Baekhyun. “Kakak sama Jongdae mau mengerjakan tugas dari guru.”

“Oooh….”

Sementara itu, Jongdae tersenyum kikuk.

Selagi Baekhyun dan Jongdae mengeluarkan buku catatan Bahasa Inggris, Reyna kembali berceloteh, “Kak Jongdae, kenal kak Chanyeol nggak?”

“Eh?” Jongdae berpikir sesaat, lalu ia mengangguk. “Iya, kenal.”

Reyna tersenyum riang. “Kak Chanyeol mana kalau begitu? Kenapa nggak datang?”

“Kak Chanyeol nggak satu kelompok dengan kami, Rey,” sahut Jongdae.

“Ooooh….”

“Reyna…” Baekhyun menatapnya intens. “Jangan ganggu! Kakak mau ngerjain tugas! Sana, pergi ke mama saja.”

Reyna mendengus. “Mama lagi tidur. Jangan diganggu. Kasihan.”

Giliran Baekhyun yang mendengus. “Oh, ya, Jong, kita bikin percakapan tentang…”

“Kak Jongdae, ada tugas apa memangnya?” Reyna memotong ucapan Baekhyun dengan santainya, pun tidak peduli pada delikan tajam sang kakak yang mengarah kepadanya.

“Ini… membuat percakapan. Nanti disuruh ke depan buat dipraktikkan,” sahut Jongdae, tak sadar kalau mata sipit Baekhyun terlihat menyeramkan saat memelototi adik perempuannya itu.

“Rey, sudah, ya. Jangan ganggu. Mendingan kamu tidur saja…”

“Reyna baru bangun, masa disuruh tidur lagi?”

Jongdae berusaha menahan tawanya mendengar jawaban Reyna.

“Ya sudah, kalau begitu, jangan ganggu!”

“Iya!”

Tidak ada lagi yang berbicara setelah itu. Dan, Baekhyun kembali fokus pada tugas kelompoknya dengan Jongdae.

“Jadi bagaimana, Jong? Kau mau percakapan tentang perkenalan atau tentang menanyakan tugas?”

“Yang mana saja, aku setuju.”

“Hmm…” Baekhyun terlihat berpikir, kiranya percakapan tentang apa yang akan ia lakukan bersama Jongdae.

“Eh, Kak Jongdae, jangan lupa diminum jusnya, nanti kalo nggak dingin lagi, nggak bakalan enak.” Reyna menyenggol lengan Jongdae, sembari mengedikkan dagunya pada jus jeruk Jongdae yang ada di atas meja.

“Oh, iya. Terima kasih, ya, Reyna, Baekhyun.” Jongdae tersenyum kecil, kemudian mengambil gelas jus miliknya dan meminumnya sedikit.

Baekhyun melakukan hal yang sama, dan Reyna berbicara, “Gimana, Kak Jongdae? Jusnya enak? Itu mama, lho, yang bikin.” Reyna menyengir lebar.

“Iya, enak.” Jongdae kini tak lagi merasa canggung menunjukkan cengiran lebarnya. Karena kalau dipikir-pikir, sikap Reyna kepadanya tidaklah menyebalkan. Malah terasa menghibur.

“Kak Jongdae, bikin percakapan tentang perkenalan saja.” Reyna ikut menimpali tentang tugas kelompok mereka.

“Reyna…”

“Iya, ya. Perkenalan kan, lebih mudah,” potong Jongdae tanpa sadar.

Reyna mengangguk membenarkan. Lalu, “Kak Jongdae.”

“Iya?”

“Kak Jongdae pasti orangnya pintar, ya?”

“Hm?”

“Soalnya, Kak Jongdae, kan, pakai kacamata. Sementara Kak Baekhyun sama kak Jongin, nggak. Bukannya itu berarti…”

“Reyna!” Baekhyun sepertinya sudah habis kesabaran. Ia menutup buku catatan miliknya dan menatap Reyna geram. “Sudah, lebih baik kamu main sama Barbie saja di kamar, biar nggak ngeganggu Kakak sama Jongdae!”

Ucapan itu menimbulkan kerutan tidak suka di kening Reyna. “Kak! Barbie-nya punya nama! Eh, Kak Jongdae, Kakak mau tahu nggak, siapa nama Barbie-nya?” Reyna menatap Jongdae penuh binar kesenangan.

Jongdae yang sedari tadi terus menahan tawanya kini mengangguk. “Siapa nama Barbie-nya?”

“Jongdae, jangan didengar…”

“Namanya, Princess Reyna.”

“Huh?” Jongdae menatapnya tidak mengerti. “Kenapa nama kamu?”

Jongdae duduk menghadap Reyna. Karena mungkin, Jongdae mulai tertarik dengan obrolan ringan yang dilontarkan bocah perempuan itu ketimbang mengerjakan tugasnya bersama Baekhyun.

“Soalnya, nanti, kalo mama beli boneka Barbie laki-laki, Reyna mau ngasih nama Prince Chanyeol.”

Lagi, alasan itu yang dilontarkan Reyna.

Jongdae mengulum senyuman. “Kalau prince Jongdae, boleh, nggak?” godanya kepada bocah perempuan itu.

“Eh? Prince Jongdae?”

“Mm-hmm.” Jongdae menggumam. “Atau, Prince Chen juga boleh.”

“Chen? Siapa itu?” mata Reyna berkilat penasaran. Baru kali ini ia mendengar nama Chen.

Tanpa diduga, Chen mengembangkan senyuman lebar. “Chen itu namaku juga kok,” katanya santai.

“Hah?”

“Iya.”

“Jongdae… Reyna…”

“Nanti deh, Reyna mau minta mama beli boneka Barbie laki-lakinya dua. Biar aku bisa kasih nama Prince Chen nantinya.”

Dapat Jongdae dengar, erangan tertahan Baekhyun di belakangnya. Teman satu kelasnya itu pamit pergi ke kamarnya dulu untuk berganti pakaian. Sementara dirinya tetap asyik melanjutkan pembicaraan khas anak perempuan itu dengan raut semringah yang kentara.

“Kak Jongdae.”

“Iya?”

“Nggak.” Reyna terkekeh kecil. “Cuma senang saja, bisa kenal sama Kak Jongdae yang baik ini.” Reyna tanpa sungkan menepuk pundak kiri Jongdae. “Nggak kayak kak Jongin. Udah item, nyebelin pula.”

Dan, Jongdae tertawa lagi.

-fin.

Selamat ulang tahun ya, Mas Jongdae. Semoga panjang umur dan selalu diberikan kesehatan di sepanjang aktivitasnya x)

Oh ya, kalo ada waktu, kuy mampir ke wattpad aku @Ikhsaniaty udah ada beberapa karya yang aku tulis di sana. Semoga suka x)

9 tanggapan untuk “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Dia itu Reyna by ShanShoo”

  1. SEKK AKU MAMPIR DAN NGAKAK

    tak kira si jongdae sengsi napa sama baekhyun, nyatanya takut sama si reyna. Padahal kan reyna kagak ngigit elah wkwk kukira lagi si jongdae bakalan kapok karena dijailin reyna nanti. Eh nyatanya… DAN MAU CIE CIEEIIIN DULU DONG SI REYNA NAKSIR CANYUL WAKAKAKAK. DAN NGAKAK AKAN KATA-KATA ‘GAK KAYAK KAK JONGIN, UDAH NYEBELIN, ITEM PULA’

    NGAKAK WAKAKAKAK

    udah ya kupamit kak isan byeee 💖

    1. ELSA NGAPAIN KAMU KE SINI? SALAH TEMPAT! DI SINI RAWAN BUAT DIJADIIN TEMPAT MAIN XDXDXD

      Belum apa2 mas jong udah takut duluan, kan… Lucu xD tapi emang sih, kudu ati2 sama tuh bocah biar nggak kena jahil 😂😂😂😂😂😂😂 kakaknya aja tiap hari pusing sama kelakuannya 😂😂😂😂😂😂😂😂

      Jongin juga, nggak ada di sini tetep aja di-bully reyna 😁😁😁😁😁

      HUHUHU TERIMAKASIIIH ELS SYUDAH BERKENAN BUAT MAMPIR DI SINI, SEMOGA DIRIMU TIDAK KAPOK YHA ❤❤❤❤ /lempar Luhan/ 😄

  2. ‘Gak kaya kak jongin. Udah item, nyebelin pula.’ anjay, langsung ngakak 😀 😀 reyna kejam ya, sama kaya kakak. Jutek./gak deng 😀 / kai emang kaya barbie gosong, rakjel lagi, makanya di ko ko bop rambutnya gimbal, gara2 udah lama gak dikeramas 😀 /gak atuh, becanda/. Oya, happy birthday chen oppa. Kapan2 maen ke rumah reyna lagi, ya?/ngarep/ 😀 😀 ❤

    1. Kkk padahal jongin nggak ada di sini, tapi dia tetap ternistakan xD maunya reyna apa coba xD
      Mudah2an chen mau main lagi ke rumah keluarga baek ya xD
      Makasih arty buat komennya ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s