[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Gotten — Len K

 

What if our path ever crossed again in the future?

GOTTEN

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring : Kim Jongdae – Chen EXO, Im Kyungmi (OC) | Genre : Drama | Rate : T

 

 

 

 

WARNING!!

AU, possibly OOC, typo(s)

Inspired by a song from Slash ft. Adam Levine with the same title. Cek out here. Highly recommended. You also can listen to this song as you read this fanfiction.

 

 

 


 

I.

Bagaimana jika di masa depan, kita bertemu lagi?

Pertanyaan itu mengusik ketenangan hati Jongdae. Mengingatkannya akan sebuah penyesalan di masa lalu yang disebabkan karena dirinya yang pengecut.

Membayangkan ia tidak akan pernah bertemu orang itu saja membuat Jongdae mnejerit ‘tidak’ dalam hati. Tapi jika keduanya bisa bertemu lagi … memang apa yang akan terjadi? Memangnya Jongdae akan tiba-tiba menjadi tak gentar dan mengatakan sesuatu yang ingin dikatakannya sejak dulu pada orang itu, begitu?

Tapi takdir kembali menunjukkan kepiawaiannya.

Kepulangan Jongdae ke kampung halamannya di Junjeon untuk membuka cabang toko kue justru kembali mempertemukannya dengan orang itu.

“Oh, Kyungmi? Kau Im Kyungmi, kan?” Jongdae berusaha menetralkan debar jantungnya.

Pelanggan barunya itu mengerutkan kening. “Ya ampun! Ini kau, Jongdae?”

Senyum Jongdae merekah seiring rasa gembira yang membuncah dalam hatinya. Orang itu masih mengingatnya. “Astaga, aku hampir tidak mengenalimu. Sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu.”

Orang itu tersenyum. Masih senyum yang sama. Masih senyum yang memikat hati Jongdae. Mata itu melengkung layaknya bulan sabit saat kurva itu terlukis di bibir. Masih sama seperti yang terpatri di sanubari Jongdae. Hanya saja tubuh yang dulu kerap dibalut seragam sekolah kini nampak jauh lebih kurus dalam balutan baju kasual.

“Ya. Kau menghilang begitu saja begitu pesta kelulusan selesai.”

“Aku harus pindah ke Seoul. Kau kemana setelah lulus?”

Kyungmi tersenyum. “Aku tidak kemana-mana. Masih setia pada Jeonju.”

“Oh. Kau mau singgah sebentar untuk minum-minum teh sambil makan kue? Aku punya beberapa rekomendasi untukmu.”

“Sayang sekali aku sedang terburu-buru. Mungkin lain kali.”

“Oh, baiklah.”

Yah, memangnya apa yang akan terjadi? Masih sama kan? Hanya basa-basi yang keluar dari mulut Jongdae. Keberaninannya selalu menguap begitu saja.

 

 

 

II.

Sudah beberapa hari Jongdae tidak melihat Kyungmi. Hal itu membuatnya cemas dan lega di saat bersamaan. Apakah benar-benar tidak ada kesempatan untuknya? Apakah kata-kata yang telah Jongdae simpan begitu lama akan tetap tak terucap? Namun setidaknya dalam selang waktu itu Jongdae bisa mengumpulkan serpihan keberaniannya.

Dan pagi itu membawa kabar gembira bagi Jongdae. Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga sebagai pelanggan pertama.

“Pagi, Jongdae.”

“Pagi, Kyungmi.” Tenanglah, tenanglah. Jongdae merapalkan kata itu berulang-ulang dalam hatinya layaknya mantra.

“Aku ingin membeli beberapa potong roti isi.”

“Kebetulan stok roti isi sedang melimpah hari ini. Kau ingin beli yang apa saja?”

“Aku ingin roti isi daging!” sebuah suara menyela. Pemiliknya adalah bocah laki-laki yang memakai seragam olahraga taman kanak-kanak dan kini tengah menggelanyut manja di kaki Kyungmi.

“Oh, siapa dia?” Jongdae melempar senyum pada bocah itu ketika tatapan mereka bertemu.

“Ah, kenalkan. Dia Dohyeon, putraku…”

Jongdae bersumpah bahwa saat mendengar itu dirinya telah mati.

“Dohyeon, beri salam pada paman Jongdae. Paman Jongdae ini teman ibu.”

“Ah! Selamat pagi, Paman! Nanti beri aku daging yang banyak di roti isiku ya!” Dohyeon kelihatan begitu bersemangat dan ceria.

“Ya, tentu.” Jongdae memberikan satu senyum terbaiknya.

Memangnya apa yang akan berubah?

Tidak ada.

 

 

 

III.

Tidak ada yang berubah. Bahkan perasaan Jongdae. Tapi Jongdae sudah menyerah, mundur teratur. Tiada lagi kesempatan baginya. Tidak ada artinya lagi jika ia berjuang sekarang. Jongdae paham betul akan hal itu, jadi yang bisa dilakukannya hanyalah memberi senyum terbaiknya setiap kali Kyungmi berkunjung ke tokonya dan memperlakukannya seperti sahabat baiknya.

“Dia siapa?” tanya Kyungsoo selepas Kyungmi pergi.

“Kawan lamaku saat SMA.” Juga cinta-citaku yang tak akan sampai.

“Oh. Dia kelihatan aneh,” celetuk Kyungsoo.

Dahi Jongdae mengernyit. “Aneh bagaimana?”

“Ini musim panas, Jongdae. Dan temanmu itu mengenakan pakaian tebal yang menutupi sekujur tubuhnya. Dia tidak kepanasan apa?”

Perkataan Kyungsoo menyadarkan Jongdae. Kyungsoo benar, Kyungmi memang aneh. Bagaimana Jongdae bisa melewatkan itu?

Keesokannya, Kyungmi datang. Masih mengenakan pakaian tebal yang tertutup. Jongdae bertanya tapi hanya senyum dan ‘tidak apa-apa’ yang ia dapatkan. Beberapa hari kemudian, tanpa sengaja Jongdae menemukan bekas memar pada tangan Kyungmi. Lagi-lagi senyum dan ‘tidak apa-apa’ yang jadi jawaban. Saat Jongdae memaksa, Kyungmi hanya menjawab bahwa dirinya terjatuh tempo hari. Jongdae mempercayai Kyungmi, tapi masih menaruh curiga.

Dan kecurigaan Jongdae terbukti saat lagi-lagi ia tidak sengaja melihat pemandangan yang tidak ingin dilihatnya. Dengan mata kepalanya sendiri, Jongdae melihat Kyungmi disiksa oleh suaminya.

 

 

 

IV.

Toko Jongdae sudah tutup. Tapi di salah satu sudutnya, masih ada Jongdae yang tengah berbincang dengan Kyungmi.

“Kau harus melaporkannya, Kyungmi. Yang dilakukannya adalah kekerasan dalam rumah tangga!” bujuk Jongdae dengan gusarnya.

“Tidak, Jongdae. Dia begitu karena aku yang salah.”

Tangan Jongdae mengepal. Seandainya ia bisa menghabisi suami Kyungmi sekarang. “Tetap saja, Kyungmi!” bentak Jongdae. “Entah itu karena kau yang salah atau tidak, yang dilakukannya tetap terhitung sebagai kekerasan dalam rumah tangga. Laporkan dia kemudian ceraikan dia, kau bisa menemukan orang yang lebih baik.” Aku contohnya.

“Tidak, Jongdae!” Kyungmi tidak mau kalah.

“Lalu kau pasrah begitu saja diperlakukan seperti itu?” emosi Jongdae naik. Mana bisa ia melihat orang yang dicintainya terluka dan dilukai seperti ini? “Tidak bisa seperti ini, tidak. Aku tidak bisa melihatmu disiksa oleh keparat itu setiap hari, dan kau seharusnya juga tidak bisa diam saja diperlakukan seperti itu!”

“Kau tidak mengerti, Jongdae.”

“Ya! Aku memang tidak mengerti apapun karena aku orang luar! Tapi setidaknya aku peduli akan keselamatanmu. Tinggalkan dia, Kyungmi.”

“Aku tidak bisa.”

“Demi Tuhan…” Jongdae mengusap wajahnya kasar. “Apa yang menghalangimu? Karena kau mencintainya?” sakit sekali saat mengatakan itu. “Maka kau bodoh karena membiarkan dirimu terluka seperti ini hanya atas nama cinta. Karena dia selalu meminta maaf setelah menyiksamu dan membisikkan kata-kata cinta? Dia tidak akan melukaimu seperti ini jika dia benar-benar mencintaimu. Karena Dohyeon? Jadi kau tega membiarkan Dohyeon tumbuh di lingkungan dimana ayahnya menyiksa ibunya sendiri? Kau tidak peduli pada psikisnya?”

“Cukup, Jongdae!” bentak Kyungmi. “Sebaiknya kau tidak ikut campur masalah keluargaku,” lirih Kyungmi sebelum pergi.

Aku tidak bisa menyelamatkanmu jika kau tidak mengijinkannya, Kyungmi.

 

 

 

 

V.

Sudah dua minggu berlalu dan Kyungmi tidak pernah datang ke toko Jongdae lagi setelahnya. Jongdae merasa khawatir tapi tidak banyak yang bisa ia perbuat. Kyungmi bagaikan hilang ditelan bumi. Tapi kemudian pada suatu siang Dohyeon datang ke toko Jongdae.

“Paman, aku mau roti coklat itu,” pinta Dohyeon.

Sesaat kemudian Dohyeon duduk di salah satu kursi seraya menyantap black forest ditemani oleh Jongdae. Ada banyak yang ingin Jongdae tanyakan pada Dohyeon. Dimana ibumu? Apa dia baik-baik saja? Apa kau baik-baik saja? Tapi semua itu ditelan mentah-mentah oleh Jongdae sebelum mencapai mulutnya. Lidahnya belum-belum sudah terasa kelu dan tenggorokannya seperti tercekat.

“Rotinya enak?” justru itu yang ditanyakan Jongdae.

Dohyeong mengangguk cepat. “Ya. Ini enak sekali. Kue coklat terenak yang pernah aku makan.”

“Sudah lama kau tidak mampir kemari. Kupikir kau akan memesan roti isi daging seperti biasanya.”

“Aku pesan roti coklat ini agar tidak sedih lagi.”

“Apa?”

“Kata guruku yang suka makan coklat, coklat itu bisa membuat kita tidak sedih lagi.”

“Kau sedang sedih? Kenapa?” tanya Jongdae lembut.

Dohyeon berhenti melahap rotinya. “Paman ini teman Ibu saat sekolah, kan?”

Apa ini? Kenapa tiba-tiba? “Ya. Memangnya kenapa?”

“Ibu orangnya bagaimana saat sekolah dulu?”

Pertanyaan itu membuat Jongdae memutar balik kilas memorinya. “Dia cantik, kau pasti tahu itu. Sekarang dia juga masih cantik. Dia orang yang baik, suka menolong. Dia juga pintar. Ngomong-ngomong ibumu dulu seorang ketua kelas, lho. Dia ikut klub memasak juga. Masakannya lezat sekali. Kau pasti tahu itu, kan?”

“Ja … jadi Ibuku itu orang baik, kan?”

“Ya, ya. Tentu saja.”

“Lalu kenapa Ayah selalu memukuli Ibu, Paman?”

Jantung Jongdae rasanya berhenti bekerja untuk sepersekian sekon. Ia tidak sanggup merangkai kata untuk menjawab pertanyaan yang baru saja ditujukan padanya. Hatinya terasa begitu sakit saat melihat bocah laki-laki di hadapannya sudah menangis keras.

 

 

 

 

VI.

Esoknya adalah hari Minggu yang cerah. Jongdae baru saja akan membuka tokonya ketika tiba-tiba Dohyeon menghampirinya dengan nafas putus-putus sehabis berlari keras.

“Paman Jongdae!”

“Dohyeon! Kau kenapa?” sontak Jongdae cemas melihat bocah itu. Mukanya sudah begitu merah, terutama hidungnya. Air matanya terus mengalir.

“Tolong Ibuku, tolong Ibuku … hiks…” Dohyeon terus bergumam dalam tangisnya.

“Kenapa? Ibumu kenapa?” Jongdae panik.

“Ayah memukuli Ibu … hiks, hiks … dan tadi Ayah juga mengancam Ibu dengan pisau. Katanya Ayah mau membunuh Ibu. Paman, tolong Ibuku kumohon. Ibuku orang baik, kan?”

Tanpa menunggu lama Jongdae segera menghubungi nomor darurat. Tidak lama kemudian, polisi sudah datang menuju lokasi kejadian. Ayah Dohyeon berhasil dibekuk. Sementara Kyungmi dilarikan ke rumah sakit akibat luka tusuk di perutnya. Jongdae membawa serta Dohyeon untuk menemani Kyungmi menuju ke rumah sakit.

 

 

 

 

VII.

“Ini. Kau pasti lelah.” Jongdae menyodorkan minuman kaleng pada Kyungmi.

“Terima kasih,” ucap Kyungmi seraya menerimanya.

Waktu terus berjalan. Beruntung saat itu luka yang diderita Kyungmi tidak begitu parah. Tidak lama setelah keadaannya membaik, Kyungmi harus menjalani beberapa kali sidang untuk dua kasus yang melibatkannya. Pertama, kasus kekerasan dalam rumah tangga. Yang kedua adalah proses perceraiannya.

Hari ini sidang kasus kekerasan rumah tangga yang dialami Kyungmi sudah berakhir. Orang yang telah menjadi mantan suaminya itu dituntut lima belas tahun penjara disertai percobaan pembunuhan pada Kyungmi.

“Setelah ini, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jongdae.

“Entah. Yang pasti aku akan berjuang demi Dohyeon.”

“Bagaimana jika pindah ke Seoul bersamaku?”

“Apa?”

“Pindah ke Seoul bersamaku,” ulang Jongdae.

“Lalu tokomu?”

“Kyungsoo sudah bisa mengatasinya. Bagaimana? Kau bisa mulai hidup baru di sana. Juga, tinggal di lingkungan yang baru bisa membantu Dohyeon untuk memulihkan trauma psikisnya. Kalau masalah pekerjaan, aku bisa membantumu.”

“Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa kau sebegitu inginnya membantuku?”

Jongdae hanya tersenyum. “Aku akan menyimpan jawabannya untuk saat ini. Untuk sekarang, bukankah kau harus menjemput Dohyeon?”

 

 

FIN

 

A/N        :

Selamat repeat tahun Jongdae! Mas mulut toa tersayangku. Ane turut bahagia di kambek ekso kali ini ente mendapatkan spot tersendiri. Yes, people should notice you more since you have such an awesome voice, Muka Kotak Tapi Bukan Spongebob.

Dan yah, ane kembali dengan fanfiksi yang rada bener. Maapkeun kalo kerasa aneh dan kurang-kurang gimana gitu. I was drunk while I was writing this, so yeah….

For all those girl out there who suffer from whether it’s verbally, physically, or even mentally abuse … stand up. Stand up for your right, fight it. Because you’re worth it and you do not deserve those violences.

 

 

Salam anget dari kapten kentang,

Len

 

Ps : find out more about my other works at LINE! Search my id : kartoffellen

2 tanggapan untuk “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Gotten — Len K”

  1. Whoah.. Baru bc, kesian kyungmi, ky apa si bpk’ny dohyeon 😤 kyungmi sgitu susah’ny bwt lapor pulisi! Itu dohyeon anak tuan cha di pelem kill me..heal me kah? Jgn smp krn trauma psikis tu bikin dy pny klaenan multiple personality. Moga 첸 bs speak up bout his true feeling bwt kyungmi, bs mule lembaran br brsm kyungmi & dohyeon 👪
    & smg bpk’ny dohyeon tobatan nasuha, ga jht lg, pa lg bls dendam ke kyungmi & chenchen

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s