[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN (3) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PRISONER in Seodaemun (3)  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chen

Supported by EXO`s Sehun, Baekhyun, EXO`s Ex Tao, OC`s Do Ahrin & Kim Hyerim

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chen of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Seodae-mun [Baekhyun]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Apa yang baru saja kau ucapkan? Kita tidak bisa bersama?” ulang Baekhyun sepeninggal dua orang tadi, dipandanginya Jia-yi seolah kalimat yang baru saja lolos dari bibir gadis itu adalah kalimat paling konyol yang pernah didengarnya.

Berlawanan dengan ekspresi Baekhyun sekarang, Jia-yi justru menatap dengan pandang bertanya-tanya.

“Apa salahku? Kau katakan aku harus memainkan peranku dengan baik.”

“Dan ini peran yang kau bicarakan?” ucap Baekhyun, dia lantas mendengus pelan, beranjak bangkit dari tempat tidur dan melangkah meraih kemeja yang tadi dia sampirkan di punggung sebuah kursi.

“Aku berperan dengan cukup bagus, kurasa. Setidaknya aku tidak harus membuatmu hampir serangan jantung karena ucapanku. Sedangkan kau sendiri membuatku hampir serangan jantung karena perkataanmu.

“Apa kau sebegitu berkomitmennya, sampai-sampai kau yang tidak seharusnya membenci Ayahku, demi senilai uang harus membunuhku juga Jin-yi?” sebuah tanya Jia-yi utarakan setelah benaknya selesai menganalisis.

Baekhyun sendiri memilih diam. Dikancingkannya kemeja yang ia kenakan—mengabaikan fakta bahwa kemeja gelap itu sebenarnya penuh dengan noda darah yang mengering—sebelum akhirnya dia menghela nafas panjang.

“Berapa harga nyawamu dan Jin-yi?” tanya itu mengudara begitu Baekhyun buka suara.

“Harga?” Jia-yi mengulang dengan nada meninggi.

“Ya,” Baekhyun berbalik, dipandanginya Jia-yi sementara gurat di wajah gadis itu sekarang tak lagi terlihat bersahabat. “Berapa harga yang bisa kau tawarkan untuk menebus keselamatan kalian berdua? Kalau kau bisa menawarku dengan harga yang lebih tinggi dari yang musuh Ayahmu bayarkan padaku, aku bisa berbalik melindungimu, Jia-yi.”

Berbeda dengan ekspresi tenang yang Baekhyun pamerkan, Jia-yi justru memasang ekspresi menantang.

“Mengapa tidak kau bunuh saja aku sekarang, daripada terlalu lama mengulur waktu?” tanyanya membuat Baekhyun tertawa kasar.

“Bodoh. Membunuhmu sekarang sama saja dengan merusak rencana yang sudah kususun dengan sempurna.” ujarnya, lantas dia memandang Jia-yi. “Aku harus tahu tentang Jongdae itu omong-omong, kau tidak berniat membantu?” sambungnya lantas disahuti Jia-yi mendengus kesal.

“Membantu orang yang hendak membunuhku? Sungguh, apa pemikiranmu sekonyol itu?” tanya Jia-yi, lantas gadis itu bergerak membereskan perlengkapan medis yang tadi dia gunakan merawat luka Baekhyun.

“Kenapa aku bahkan repot-repot menyelamatkanmu malam itu? Aku sungguh melakukan tindakan yang konyol.” kata Jia-yi begitu dia selesai.

Lantas, gadis itu memandang Baekhyun yang sekarang mengawasinya dalam diam.

“Aku akan keluar dan mencari tahu apa yang kau inginkan. Jadi, kau akan berhutang budi lagi padaku.” tandas Jia-yi begitu disadarinya Baekhyun tak lagi menatapnya dengan cara yang bersahabat.

Tentu, Jia-yi bukannya takut karena ancaman yang tatapan Baekhyun berikan. Dia hanya tak ingin berdiam diri dan jadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa, itu saja. Dan tak lagi menunggu persetujuan Baekhyun, Jia-yi akhirnya melangkah keluar dari ruangan tempat ia berada, dibawanya perlengkapan medis tadi ke ruang kesehatan—sebuah ruangan kecil yang ada di sudut terjauh rumah Chanyeol—sebelum dia kemudian menemukan sasaran Baekhyun di ruangan yang sama.

“Apa yang sedang kau rencanakan dengan pembunuh itu?” sebuah tanya masuk ke dalam rungu Jia-yi begitu dia meletakkan perlengkapan medis tersebut di meja ruang kesehatan.

“Apa maksudmu, Jongdae-ssi?” tanya Jia-yi, dia berbalik, menatap Jongdae yang sekarang menatapnya dengan pandang menyelidik.

“Kau pikir aku tidak tahu siapa kau dan siapa pembunuh itu? Dia membawamu ke tempat ini setelah dia mengkhianati Chanyeol. Sekarang, dia ingin melarikan diri ke Hunan?” ucap Jongdae membuat Jia-yi menatapnya dengan senyum terukir di wajah.

“Wah, rupanya kau sudah sangat mengenalku. Padahal, aku tidak pernah bertemu dengan Chanyeol sebelum ini. Kami hanya bertemu selama satu-dua hari saja. Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak tentangku saat kita baru saja saling mengenal tidak lebih dari dua jam?” sadar bahwa gadis di hadapannya tengah berusaha memancing agar ia buka suara.

“Aku tidak tahu apa yang sekarang sedang jadi opinimu tentang diriku. Tapi yang jelas, aku tahu kau dan pembunuh itu sedang merencanakan hal yang buruk, dan aku tidak akan segan-segan melenyapkan kalian jika kalian berbahaya untuk Chanyeol.”

Jia-yi, lantas memutar pandang sejenak, sebelum dia kemudian kembali menatap Jongdae dengan pandangan menantang.

“Untuk keselamatan Chanyeol, atau untuk keselamatanmu sendiri? Asal tahu saja, aku mungkin tidak tahu apa-apa di sini, tapi menghabiskan waktuku untuk bertaruh nyawa dan berada di antara orang-orang yang begitu senang bergumul dengan urusan politik negara, tidak membuatku kehilangan waspadaku.

“Aku sekarang bahkan mulai bertanya-tanya, apa kau benar-benar ada di pihak Chanyeol?” pertanyaan terakhir itu sengaja Jia-yi tekankan. Meski dalam batinnya diam-diam bertanya-tanya, apa dugaannya tentang pria bernama Jongdae ini bisa benar?

Jia-yi tidak tahu siapa yang memihak siapa dalam perkara ini. Yang jelas, dia terjebak di tengah-tengah situasi membingungkan di mana dia bahkan tak bisa membawa dirinya sendiri untuk menjauh. Kalau saja bisa, Jia-yi ingin melepaskan diri dari semua ini, setidaknya ia ingin memastikan keselamatan Jin-yi sebelum dia pastikan dia bisa benar-benar melepaskan diri dari semua ini.

“Jangan berusaha mengetahui apapun dariku. Kau tak akan dapat apa-apa. Asal tahu saja, aku… bukannya orang bodoh yang bisa kau peralat.” kalimat itu Jongdae lemparkan sebagai pertahanan, sebelum dia kemudian melangkah meninggalkan Jia-yi sendirian dalam spekulasinya.

“Semua orang di sini sungguh luar biasa…” gumam gadis itu sembari mengikuti langkah Jongdae. Jia-yi baru saja akan melangkah keluar saat maniknya menangkap siluet seorang wanita yang berhasil menghentikan langkahnya seketika.

“Apa kau bertengkar dengannya, Dae-ya?” vokal itu, lembut silabel yang meluncur dari bibir itu, jelas Jia-yi mengingat siapa wanita yang sekarang tengah bicara dengan Jongdae.

“Tidak mungkin…” tanpa sadar bibir Jia-yi menggumam.

Wanita itu jelas sosok Reen yang ditemuinya saat ia masih berada dalam pelarian bersama Kyungsoo, dan pria bernama Minseok. Tunggu, kalau diingat lagi, Jia-yi tak pernah tahu apa yang terjadi pada mereka karena saat ia terbangun dia sudah ditenggelamkan oleh euforia tentang keberadaan Jin-yi di tenda penyelamatan.

Jia-yi bahkan berhasil melupakan apa yang seharusnya jadi pertanyaan utamanya. Baekhyun. Dia harus menanyai Baekhyun tentang hal ini. Kalau Reen ada di sini sekarang, bersama dengan Jongdae, lalu bagaimana kabar Kyungsoo dan Minseok?

Seingat Jia-yi, dulu Kyungsoo dan Reen tidak terlihat seolah keduanya saling mengenal baik. Tapi jika Reen ada di sini, bukankah itu artinya dia berada di pihak yang sama dengan Kyungsoo? Keduanya sama-sama jadi orang Chanyeol?

“Aku tidak bertengkar dengannya. Memangnya kau pikir aku akan berdebat dengan semua orang?” vokal Jongdae terdengar menyahuti.

“Tapi tadi saat masuk ke sana kau terlihat sangat marah. Memangnya, wanita itu tahu sesuatu?” pertanyaan Reen terdengar.

“Tidak. Berhentilah ingin tahu tentang hal-hal yang tidak seharusnya kau ketahui.” sekarang Jia-yi hanya bisa samar-samar mendengar konversasi dua orang itu. Suara ketukan sepatu yang dikenakan keduanya juga bisa Jia-yi dengar dengan jelas menjauhi ruangan tempat dia berada.

Lantas, Jia-yi bawa langkahnya keluar dari ruangan tersebut, dengan langkah cepat dan tergesa-gesa dia melangkah menuju kamar yang entah berapa jam lamanya akan dia singgahi bersama Baekhyun.

Begitu masuk ke dalam kamar, Jia-yi abaikan keadaan Baekhyun yang sekarang tengah membaringkan tubuh di atas sofa lebar yang ada di sudut kamar. Dengan tatapan kesal, gadis itu menghempaskan tubuhnya di dekat kaki Baekhyun, membuat pria itu mau tak mau terbangun karena tindakan Jia-yi.

“Ada apa?” tanya Baekhyun, suaranya jelas terdengar mengantuk, tapi Jia-yi tidak mau tahu.

“Kau belum memberitahuku, apa yang terjadi pada Kyungsoo? Saat kau menyelamatkanku, ada tiga orang lain yang bersama denganku di dalam mobil. Apa yang terjadi pada mereka semua?” tanya Jia-yi.

Baekhyun, berdecak pelan sebelum dia kemudian melempar pandang ke arah Jia-yi.

“Ketiganya mati, kurasa. Keadaan kalian saat itu sangat menyedihkan. Dan setelah aku menarik tubuhmu keluar dari mobil, benda rongsokan itu meluncur turun ke dalam sinkhole yang ada di dekatnya. Kenapa?”

“Jadi menurutmu, mereka sudah mati? Lalu kenapa aku melihat salah seorang dari mereka di rumah ini?” tanya Jia-yi, ditatapnya Baekhyun seolah mempertanyakan kebenaran ucapan pria itu.

“Siapa yang kau lihat?” Baekhyun balik bertanya.

“Wanita bernama Reen. Aku ingat dia adalah suruhan ayah Alessa Cho, gadis yang mengatakan bahwa kau mengincar data yang Ayahnya miliki. Bagaimana dia bisa ada di sini dan bahkan terlihat begitu akrab dengan pria bernama Jongdae itu?”

Baekhyun, terdiam sejenak sebelum akhirnya dia tertawa pelan.

“Ah, jadi kau pikir kau bertemu dengan mendiang istriku?”

“Istri?!” Jia-yi mengulang dengan nada terkejut.

“Ya. Sudah kukatakan aku sudah menikah, dan baru saja kehilangan istriku. Wanita yang kau ceritakan, Reen, adalah istriku. Dia sudah mati, aku yakin itu.” kata Baekhyun santai.

“Lalu maksudmu aku berhalusinasi, begitu?”

“Tidak. Aku tidak bilang begitu. Aku tahu kau seorang yang jeli, dan pasti kau tidak akan salah mata. Kalau memang kau merasa melihat sosok Reen di rumah ini, apalagi jika dia kau lihat akrab dengan Jongdae itu. Bisa kupastikan kalau Jongdae adalah seseorang yang bekerja di pihak Arshavin.”

“Apa maksudmu? Memangnya mereka ada hubungannya dengan Arshavin?” tanya Jia-yi.

“Ya.” Baekhyun mengangguk, “Wanita yang kau lihat, kemungkinan besar adalah saudara kembar Reen. Namanya adalah Arin, dan aku pernah bertemu dengannya beberapa kali di Hunan saat masih bekerjasama dengan Arshavin.

“Lantas saat aku ditugaskan ke Seoul aku bertemu dengan Reen dan kuketahui dia tidak berada di pihak yang sama dengan saudari kembarnya. Jadi, aku memanfaatkan Reen dengan menikahinya. Ah… apa Arin sudah tahu kalau saudaranya sudah mati?” alih-alih berusaha menjelaskan secara rinci pada Jia-yi, Baekhyun justru berandai-andai sendiri.

“Kau gila. Membiarkan istrimu terbunuh kemudian bercerita setenang ini padaku, apa kau sudah tidak punya hati nurani?” tanya Jia-yi dijawab Baekhyun dengan sebuah senyum kaku.

“Apa hati nurani bisa membantumu bertahan hidup? Tidak, bukan? Tak pernah ada cerita tentang cinta antara aku dan Reen. Wanita itu, hanya memanfaatkanku, seperti apa yang kulakukan padanya, dia juga melakukan hal yang sama.

“Setidaknya, dia seharusnya berterima kasih karena aku sudah membiarkannya mati bersama seseorang yang dia pikir dia cintai. Cih, setelah menyelingkuhiku dengan seorang pembunuh yang jadi rivalku, dia pikir dia bisa hidup dengan tenang? Tentu saja aku biarkan dia mati. Untuk apa membiarkan seseorang seperti Reen tetap hidup? Hanya memperbanyak populasi orang jahat saja.”

Penjelasan Baekhyun sekarang membuat Jia-yi sungguh tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Baekhyun bisa beropini seolah apa yang dia katakan adalah hal yang benar? Memperbanyak populasi orang jahat, katanya. Memangnya dia pikir dia sebaik apa?

Tapi sudahlah, Jia-yi tak ingin berdebat tentang hal itu sekarang dengan Baekhyun. Dia sudah terlampau jauh tenggelam dalam ketidak pahaman. Dan Jia-yi tak ingin bergelut lebih jauh lagi. Cukuplah dia tahu apa yang perlu dia ketahui saja.

“Sekarang aku setidaknya sudah tahu, sepasang kekasih cerdas kebanggaan Arshavin itu rupanya Jongdae dan Arin. Aku tak pernah tahu tentang hal ini, Arshavin selalu menutupinya dariku. Mungkin dia khawatir aku akan membeberkan semua rencananya begitu aku membelot darinya.

“Memangnya, Arshavin pikir aku akan terus berada di pihak yang sama dengannya?” kelakar Baekhyun sekarang justru membuat Jia-yi makin tidak habis pikir.

“Jadi maksudmu, kau akan membelot dari yang kau pihak begitu kau menemukan pihak lain yang lebih menguntungkan. Begitu?”

“Ya, begitulah aturan mainku. Bertahan dengan yang menguntungkan.” sahut Baekhyun ringan.

Tidak habis pikir dengan ucapan Baekhyun sekarang, Jia-yi temukan dirinya pada akhirnya menyerah juga terhadap perdebatan kecil yang sedang Baekhyun suguhkan. Ketimbang buang-buang tenaga dan waktu untuk berdebat dengan pria di hadapannya, bukankah lebih baik jika Jia-yi sekarang mengkhawatirkan hal lain? Seperti adiknya, misal.

“Jadi dimana Jin-yi sekarang?” tanya Jia-yi akhirnya.

“Ada di tanganku.” sahut Baekhyun, tahu benar jika Jia-yi tengah berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.

“Bagaimana aku bisa benar-benar tahu kalau dia ada di tempat yang aman?” tanya Jia-yi lagi.

“Kau yang bersamaku saat ini masih baik-baik saja. Katakan saja, adikmu yang tidak bersama denganku, pastinya berada dalam situasi yang lebih aman lagi.” tutur Baekhyun.

Lagi-lagi, Jia-yi dapati dirinya telah kalah telak atas argumen yang berusaha ia menangkan sekarang. Pikir Jia-yi, dia mungkin bisa mengetahui dimana tempat adiknya sekarang Baekhyun sembunyikan. Namun rupanya Baekhyun sekarang justru sudah memasang benteng pertahanan terhadap serangan yang Jia-yi lontarkan dari mulutnya.

“Aku justru lebih memikirkan keadaan Sehun sekarang. Dia belum menghubungiku sampai saat ini. Artinya, hanya ada dua kemungkinan. Dia membelot dari rencana yang sudah kuciptakan, atau dia sudah mati. Dan aku tak yakin kemungkinan mana yang benar.” ucap Baekhyun.

“Anggaplah dia membelot darimu, lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Jia-yi. Tak ayal dia penasaran juga pada rencana yang sejak tadi Baekhyun bicarakan tapi tidak sedikit pun tampak hendak dia ceritakan pada Jia-yi.

Padahal, Jia-yi juga dilibatkan di dalam rencana itu.

“Membunuh orang yang dekat dengannya, tentu saja. Membelot dariku berarti dia sudah mempertaruhkan nyawa orang yang berarti baginya. Sehun masih terlalu muda untuk memahami rencana busuk seperti ini.” kata Baekhyun, sekarang dia bicara seolah Sehun adalah seorang anak berusia tujuh tahun yang tidak tahu apa-apa.

“Baiklah. Jadi mari kita pikirkan kemungkinan bahwa Sehun sudah membelot darimu. Artinya, cepat atau lambat kau akan mempertemukanku dengan Jin-yi karena kau hendak membunuh gadis bernama Runa yang kaupikir jadi orang berarti bagi Sehun itu.

“Sekarang, daripada kita bertele-tele tanpa berbuat apapun di tempat ini, mengapa tidak kau ceritakan padaku tentang siapa Arshavin itu sebenarnya? Lagipula, pada akhirnya kau juga akan membunuhku. Tak akan ada ruginya buatmu jika kau bercerita tentang Arshavin, bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

BUGK!

Satu pukulan Sehun sarangkan di rahang Luhan begitu pria itu berusaha bangkit dari lantai. Demi Tuhan, Sehun tidak pernah berlatih untuk bertarung. Dia lebih senang jika dimintai untuk membedah mayat yang sudah hampir membusuk saja, mayat yang sudah dipenuhi belatung, daripada harus bertarung, apalagi melawan orang yang jelas-jelas diketahuinya sebagai bagian dari sindikat pembunuhan gelap, seperti Luhan ini.

Dan Sehun juga tak mau tertipu dengan raut lemah-kesakitan yang sekarang Luhan pamerkan. Meski sisi baiknya sebagai seorang dokter begitu ingin menyelamatkan Luhan dan mengobati luka-luka yang sudah Sehun tinggalkan di tubuh itu—sungguh, Sehun tidak menggunakan tangannya! Dia gunakan perabot rumah tangga yang ada di dekatnya untuk menyerang Luhan setelah senapannya kehabisan peluru.

Pada akhirnya, sebuah tendangan telak dari Sehun membuat kepala Luhan membentur sudut anak tangga yang akhirnya merenggut lebih dari separuh kesadaran pria itu. Sempat Sehun khawatir, kalau saja Luhan tewas karena benturan yang disebabkan oleh tendangannya. Tapi saat melihat Luhan bergerak ketika Sehun tengah sibuk membongkar seisi rumah pria China itu, Sehun bisa bernafas lega setelah menyarangkan pukulannya—pukulan yang pada akhirnya berujung pada ketidak sadaran Luhan lagi.

Anestesi yang Sehun suntikkan pada Hyerim melalui injeksi intravena beberapa menit lalu nampaknya juga bekerja dengan baik. Entah karena Hyerim memang terlalu kesakitan karena luka di tungkainya, atau karena Sehun yang terlampau terbiasa menyuntikkan anestesi tanpa rasa sakit yang berarti.

Yang jelas, Sehun sekarang sedang tergesa-gesa.

“Sialan, Tao memberiku waktu sampai matahari terbenam. Aku tidak bisa terus-terusan mencari benda itu di rumah ini.” Sehun mengumpat, lagi-lagi dibongkarnya tiap sudut rumah kecil Luhan, berharap dia bisa menemukan sebuah map yang Tao bicarakan.

Well, sebelum menjadi supir yang membawa Luhan dan Hyerim pulang, Sehun sempat bicara dengan Tao. Pria itu memintanya untuk menemukan amplop berisi salinan transaksi keuangan yang Tao lakukan selama empat tahun terakhir—salinan yang ternyata selama ini jadi ancaman Luhan pada Tao agar pria itu tidak mengusiknya—dengan imbalan: keselamatan Runa.

Sehun tentu tidak bisa percaya begitu saja pada Baekhyun. Dan mengetahui bagaimana Baekhyun mengatakan luka-luka robek karena pisau juga satu luka tembakan di lengannya sebagai ‘luka kecil’ yang mereka bicarakan di mobil tadi tentu bukan sekedar luka kecil melainkan upaya pembunuhan terencana.

Dan Sehun tidak bodoh. Dia juga sadar situasi yang sekarang mengimpitnya tidaklah bisa dia katakan sebagai situasi yang mudah. Jadi, Sehun sudah menyiapkan sebuah rencana cadangan untuk mengatasinya, tentu saja.

“Ketemu!” tanpa sadar Sehun berseru begitu ditemukannya map itu di dalam sebuah brankas yang tak terkunci. Sempat Sehun mengintip ke dalam map itu, membaca isinya tiap lembar ke lembar lainnya dengan tatapan tak percaya.

Ratusan juta won sudah mengalir masuk ke dalam rekening Tao hanya dalam kurun waktu begitu singkat. Dan nama-nama yang ada di dalam lembar-lembar itu juga tidak main-main. Sehun bahkan bisa menemukan nama beberapa pejabat penting di dalamnya.

Siapa sebenarnya Tao?

Tanya itu sempat mencuat dalam keingin tahuan Sehun, tapi dia tahu ini bukan urusannya. Sehun hanya perlu menyelesaikan bagiannya dan pergi bersama Runa. Mudah sekali, bukan?

Karena bagian Sehun terlampau mudah, akhirnya Sehun juga tidak merasa dia perlu tahu lebih banyak lagi soal kehidupan Tao dan apa yang sebenarnya dilakukan pria itu. Cukuplah Sehun pastikan saja dia dan Runa selamat.

“Bagus, sekarang aku bisa menyusulmu, Runa.” Sehun berkata sebelum dia akhirnya melangkah keluar dari rumah kecil yang agaknya sudah berubah jadi terlampau kacau. Sehun sendiri tidak bisa memastikan, apa yang akan terjadi pada Luhan saat dia terbangun nanti, atau… apa yang akan pria itu lakukan jika tahu Hyerim telah raib?

Tidak, Sehun tidak bisa pikirkan itu sekarang. Dia hanya perlu menemui Tao dan memastikan segalanya sudah sesuai dengan rencana. Lalu Sehun bisa pergi menemui Runa dan membawa gadis itu pergi menyelamatkan diri tanpa harus terlibat lagi dengan urusan mematikan macam ini.

Susah payah, Sehun bopong tubuh Hyerim untuk dipindahkannya. Setelah Sehun pastikan si gadis akan baik-baik saja selama perjalanan, Sehun akhirnya masuk ke kursi kemudi dan mulai mengendarai mobil gelap penuh bau anyir darah itu membelah jalanan senja yang sepi.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau datang juga, kupikir kau akan merangkak kembali pada Baekhyun.”

“Aku bukan pengkhianat, kau tahu.” Sehun menyahut begitu dia keluar dari mobil. Tadinya, Tao sudah berdiri menyambut tepat di sebelah jendela, sementara manik Tao memandangi bagian dalam mobil yang Sehun kendarai.

“Keduanya sudah mati?” tanya Tao dijawab Sehun dengan anggukan singkat.

“Kubiarkan mayat keduanya di rumah menyedihkan itu. Memangnya kau pikir aku akan datang dengan membawa mayat mereka?” tanya Sehun.

Tao kemudian tertawa pelan, lantas diterimanya sebuah amplop yang Sehun sodorkan.

“Bagaimana dengan racunnya?” tanya Tao segera membuat Sehun menghela nafas panjang.

“Aku sungguh tidak pernah membayangkan bagaimana rekanku akan dibunuh dengan menggunakan sianida seperti ini.” ucap Sehun, dikeluarkannya sebuah botol kaca berisi bubuk berwarna putih dan disodorkannya benda itu pada Tao.

“Lakukan saja bagianmu, Sehun. Aku akan mengurus sisanya.” tandas Tao.

“Tugasku sudah selesai. Sekarang, aku bisa pergi bukan?” kata Sehun.

“Ya, sesuai perjanjian kita, Sehun. Setelah kau selesai dengan bagianmu, kau bisa pergi.” sahut Tao, ditepuknya lengan Sehun sebelum dia akhirnya berbalik, melangkah ke arah mobil gelap yang terparkir tidak jauh dari tempat mobil Sehun terparkir.

“Dan bagaimana dengan Runa?” tanya Sehun sempat membuat langkah Tao terhenti.

“Akan kuhentikan usaha Baekhyun menculiknya. Kau tahu, ada orangku yang sekarang sedang bersama dengan Baekhyun. Tenang saja, dengan racun yang kau berikan ini, kuyakini dia akan meregang nyawa dengan cara yang tidak menyenangkan.” kata Tao.

“Baiklah. Kupercayakan Runa padamu, Tao.” ucap Sehun sembari berbalik. Tapi baru saja dua langkah diuntainya menuju mobil, Tao nyatanya sudah membalik tubuh, menodongkan sebuah senapan ke arah punggung Sehun sebelum—

DZING! DZING!

Ugh!”

BRUGK!

Tubuh Sehun ambruk ke tanah. Dua buah peluru baru saja menembus punggung sebelah kirinya. Hal yang akhirnya membuat tubuh Sehun terjatuh ke tanah tanpa perlawanan.

“Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? Jangan konyol, Oh Sehun. Semua orang yang tahu tentangku, harus mati.” ucap Tao sebelum dia tertawa pelan dan masuk ke dalam mobilnya, di mana telah ada seorang wanita di balik kemudi, dan seorang pria di kursi penumpang.

“Kau sudah selesai dengannya?” tanya si pria.

“Apa yang akan kita lakukan dengan tubuhnya?” tanya si wanita.

“Tidak perlu melakukan apapun, Arin. Biarkan saja dia di sana. Toh, sudah tak ada orang di kota ini yang mau repot-repot menyelamatkan orang lain. Dan juga, Chen, kau katakan akan ada acara makan malam indah di rumah target kita, bukan?” Tao berucap, dilemparkannya botol kaca itu pada pria bernama Jongdae yang kerapkali Tao panggil sebagai Chen di sebelahnya sebelum dia memberi isyarat pada si wanita untuk melajukan mobilnya.

“Ya, tak ada juru masak di rumah itu jadi Arin dipercaya untuk memasak menu makan malam kami nanti.” sahut Jongdae.

“Kalau begitu salah satu dari kalian bisa menyelesaikan tugas ini. Bunuh Byun Baekhyun, dan buat seolah Wang Jia-yi yang melakukannya. Mudah, bukan?” ucap Tao, terukir sebuah senyum kecil di wajahnya sementara dia mengawasi ekspresi masing-masing orang yang ada di dekatnya.

“Racun apa ini, Tao?” tanya Jongdae.

“Sianida. Aku tidak yakin apa Sehun memberikan racun yang benar, jadi uji cobakan dulu benda itu pada hewan percobaan yang Arin simpan. Mengerti?”

“Baiklah.” Arin menyahut dari kursi kemudi, “Setelah wanita itu masuk dalam perangkap, apa yang harus kami lakukan?” tanya Arin kemudian.

“Bawa dia ke hadapanku.” tandas Tao.

“Bagaimana dengan saudaranya?” tanya Jongdae, teringat pada adik dari wanita yang sekarang jadi incarannya. Seingat Jongdae, Tao juga menginginkan keberadaan adik si wanita.

“Lupakan saja dia. Aku hanya perlu mengakhiri nyawa si kakak di hadapan Jenderal Wang. Dari yang kau lihat, Baekhyun pasti membawa dua orang di rumah Luhan itu dengan penganiayaan, bukan?” ucap Tao kemudian.

“Ya. Saat diseret keluar dari rumah itu tubuh keduanya bahkan penuh darah. Mengingat Baekhyun tak punya siapapun lagi untuk jadi koneksi, kemungkinan besar dua orang itu sekarang dalam keadaan terluka parah.” Jongdae menjelaskan.

“Bagus. Biarkan saja dua orang itu. Kita bisa mengurusnya nanti. Untuk saat ini, kupikir Wang Jia-yi sudah berubah jadi ancaman untuk kita. Sebelum dia tahu lebih jauh, kita harus lenyapkan dia. Arin, kau bertugas untuk menelepon koneksi kita di Hunan, katakan padanya kalau aku melakukan perubahan rencana.” Tao memerintah gadis di kursi kemudi.

“Oke, aku mengerti.”

Lantas, Tao sandarkan tubuhnya di kursi sembari memejamkan mata. Tarikan dan hembusan nafasnya sekarang sarat akan kelelahan, tampak jelas bagaimana pria itu telah menunggu begitu lama untuk mengakhiri sandiwara ini.

“Setelah semua ini selesai, kau boleh membawa Arin pergi, Kim Jongdae.”

Well, sebenarnya Jongdae sendiri tidak yakin kalau Tao akan benar-benar membiarkannya pergi begitu saja setelah semua ini berakhir.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Sehun! Oh Sehun! Sadarlah!”

Ugh! Uhuk! Uhuk!” Sehun terbangun dengan terbatuk mengerikan. Rasa sakit luar biasa sekarang menusuk dadanya, begitu menyakitkan sampai Sehun pikir dia mungkin—

“Hyerim!” tiba-tiba saja Sehun berseru, sontak pria itu terbangun, dan pandangannya langsung bertumbukkan dengan pandang khawatir seorang gadis.

“Aku pikir epinefrin ini tak akan bekerja padamu. Syukurlah kau masih hidup.” ucap Hyerim, dilemparkannya sebuah tube kecil yang isinya tadi dia injeksikan di paha Sehun untuk mengembalikan kesadaran pria itu.

“Terima kasih, Hye. Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Sehun kemudian.

“Dua jam, kurasa. Peluru itu hanya sedikit menggores kulitmu tapi kau bisa terkena syok begitu parah. Ada apa denganmu?” tanya Hyerim.

“Kau tahu aku tak pernah berhadapan dengan kematian. Beruntung Luhan menyimpan rompi anti peluru ini di bagasi mobil saat aku memasukkanmu ke dalam bagasi tadi. Kau baik-baik saja?” Sehun kemudian mengutarakan sebuah tanya.

“Hmm, aku baik-baik saja. Kakiku juga sudah membaik. Aku tertidur begitu pulas karena anestesi yang kau berikan. Dan aku sudah membawa kita kembali ke rumah. Tapi Luhan tidak ada dimanapun. Apa Tao mungkin datang ke sini untuk memastikan kematianku dan Luhan?” sekarang Hyerim berucap khawatir.

Sehun sadari, dirinya sekarang terbaring di kursi penumpang sementara Hyerim lah yang dia yakini mengemudi. Meski terdengar tidak masuk akal bagaimana Hyerim mengemudi dengan keadaan kaki yang menyedihkan, tapi deru halus mobil yang jadi tempatnya terbaring sekarang seolah memberi sinyal pada Sehun tentang bagaimana Hyerim pasti menghabiskan waktu tidak sadarnya Sehun untuk mengendarai mobil ini.

“Tidak. Tao bukan orang seperti itu. Luhan mungkin saja sudah tersadar, dan sekarang mencarimu. Tapi tidak masalah. Selama dia masih hidup itu artinya kita masih punya peluang untuk menghentikan Tao.

“Sekarang, aku harus membawamu pergi, Hye. Setidaknya aku harus memastikan keselamatanmu.” penuturan Sehun sekarang membuat Hyerim tersenyum kecil.

“Kenapa? Apa kau masih merasa berhutang budi padaku karena aku sudah memata-matai Luhan selama beberapa tahun ini?” tanya Hyerim.

“Ya, begitulah. Aku tahu perasaanmu padanya tidak main-main. Tapi aku malah memintamu untuk melakukan hal semacam itu. Setelah semua ini berakhir, aku pastikan aku akan membawa Luhan dengan selamat untuk menemuimu.” Sehun berkata, lantas pria itu terkesiap, teringat pada hal yang seharusnya dia lakukan beberapa jam yang lalu.

“Astaga! Baekhyun!” serunya sambil mencari keberadaan ponselnya dengan panik.

“Jangan khawatir, dia meneleponmu tadi, dan aku sedikit berakting untuk meyakinkannya tentang keadaanmu sekarang. Aku juga menceritakan padanya tentang racun yang kau berikan pada Tao untuk membunuhnya.”

“Jadi… Baekhyun tahu tentangmu?” tanya Sehun.

Hyerim mengedikkan bahunya pelan. “Selama ini tidak ada yang tahu kalau aku adalah seorang mata-mata, bukan? Tentu saja dia juga tidak tahu.” Hyerim berkata, ucapannya lantas berhasil melahirkan sebuah senyum di wajah Sehun.

“Terima kasih, Hye. Dulu, tanpa adanya kau aku pasti tak akan bisa melepaskan diri dari negara kita. Dan kau bahkan harus membelot dari negara kita masing-masing untuk menjalani kehidupan yang kau inginkan.” Sehun bertutur.

“Kujelaskan seperlunya saja pada Baekhyun. Kita tidak tahu apa yang dia rencanakan, dan dia sekarang mungkin berpikir kalau kau akan mengkhianatinya karena yang dia tahu, kau memberikan racun pada Tao jadi… mari kita sama-sama berhati-hati, Sehun.” Hyerim berkata.

Well, Sehun tentu tidak perlu lagi menjelaskan tentang Hyerim, bukan? Keduanya sama-sama berasal dari akademi kedokteran yang sama. Hyerim adalah seorang mata-mata Korea Selatan yang ditugaskan untuk melakukan penyamaran di Korea Utara sebagai seorang dokter bedah seperti Sehun.

Ketika Hyerim dan Sehun sama-sama tahu soal rencana Korea Utara terhadap Korea Selatan, keduanya memutuskan untuk sama-sama melarikan diri. Saat Sehun dibawa keluar dari Korea Utara oleh Baekhyun, Hyerim juga ikut pergi saat itu.

Gadis itu kemudian hidup sebagai orang biasa-biasa saja dan diminta Sehun untuk mendekati orang-orang yang kemungkinan besar ada hubungannya dengan perang politik ini. Lantas, selain membuat rencana dengan Baekhyun, Sehun juga membuat sebuah rencana alternatif bersama Hyerim.

Meski Sehun sendiri tidak sepenuhnya percaya pada Hyerim, tapi dia tahu kalau setidaknya, Hyerim masih punya keinginan untuk hidup bebas dan merdeka, terlepas dari semua keadaan mengerikan ini.

Dan di sinilah mereka sekarang, siap untuk menjalankan rencana alternatif yang sudah Sehun ciptakan.

“Kau tahu apa yang selanjutnya harus kau lakukan, Hye?” tanya Sehun kemudian.

“Ya.” Hyerim mengangguk, “Memastikan Jia-yi dan Jin-yi sampai dengan selamat di Hunan, dan membuat kematian palsu tentang mereka berdua sehingga Tao akan berhenti memburu mereka, bukan?”

Sehun mengangguk. Dia lantas tersenyum kecil untuk membagi keberaniannya pada Hyerim.

“Kalau aku tidak berhasil menyusulmu ke Hunan, Hye. Tolong jaga Runa.” pesan Sehun segera membuat Hyerim tersenyum simpul.

“Pasti, Sehun-ah. Setidaknya bila kau tidak bisa percaya pada siapapun, kau bisa percayakan Runa padaku. Aku juga seorang wanita, dan aku tahu benar… perasaan apa yang Runa miliki padamu. Jadi, kau juga harus berjuang untuk kembali dan menemui Runa jika kau memang benar-benar menginginkannya.”

Mendengar ucapan Hyerim, Sehun lantas tersenyum miring.

“Aku tidak yakin, Hye. Baekhyun mungkin saja membunuhku setelah ini. Lagipula, aku masih harus menghentikan Tao di sini. Jadi aku benar-benar berharap banyak padamu, Hye. Kau satu-satunya yang masih punya alibi kuat sebagai seorang yang tidak tahu apa-apa di sini.”

Hyerim kemudian tersenyum simpul.

“Tentu saja, tidak akan ada yang pernah menduga kalau sebenarnya aku ini tahu hampir seluruhnya tentang sinkhole ini, bukan?” ucapan Hyerim sekarang berhasil membuat Sehun tersenyum kecil.

“Ya. Tidak ada yang tahu itu. Pastinya, tidak ada yang tahu juga kalau kau adalah seorang mata-mata yang bisa membunuh dengan cara lebih sadis daripada Baekhyun.”

Hyerim, mengedikkan bahunya acuh sebelum dia menepuk bahu Sehun, menenangkan pria itu.

“Benar. Tidak ada yang tahu kalau aku juga seorang pembunuh. Jadi percayakan saja nyawa wanita-wanita itu padaku. Siapapun yang menghalangi keselamatan mereka, nyawanya akan berakhir di tanganku.

“Sebagai imbalannya, selamatkan rekanmu dan selamatkan orang-orang yang tidak tahu menahu tentang hal ini, Sehun. Kita harus hentikan semua ini. Setidaknya, hanya orang-orang bersalah yang harus kita biarkan mati. Karena mereka sudah begitu banyak berbuat jahat di dunia ini, mereka lebih pantas untuk mati.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Gangnam-gu

IRISH’s Fingernotes:

HYERIM-ssi, KUPINJAM LAGI BUAT JADI PEMERAN PEMBANTU YANG PUNYA BAGIAN PENTING DI CERITA INI YHA. MAAF OH MAAF, KALAU KAMU HARUS DIPISAHKAN SECARA PAKSA SAMA LUHAN.

Chen-chen cintaku sayangku kasihku calon imamku menantu yang diidam-idamkan emakku kamu enggak bisa nampang banyak di sini. Aku harus menetralisir cerita ini dari racun dulu (apaan) artinya, aku harus netralisir cerita ini dari keterlibatan Baekhyun, Tao, dan Sehun, juga Luhan. JADI MEREKA BEREMPAT PATUT DIBUNUH DULU BARU KAMU BISA PENUH SATU CHAPTER, CHEN.

Eh tapi kalau tokoh antagonisnya dibunuh kan ga asyique. Padahal sebenernya tokoh paling antagonis itu bukan Tao loh /eh/. Tapi ya sudah, yuk mari besok diajak jalan-jalan ke Gangnam dulu bareng sama Chen dan Arin, duo jenius kesayangannya Tao.

Agak-agak enggak tega mau ngebangun love-line antara Chanyeol-Jia-yi di sini, tapi berhubung mereka udah ketemu jadi sekalian aja ya dibuat /slapped/ tapi enggak akan menyenangkan sih, soalnya cerita ini bukan cerita romens, WKWK. Semangat sekali saya kalau bagian buat cerita bunuh-bunuhan begini.

Bikos setelah ini Baek-Chen bakal berhadapan dan saling berdarah-darah. Aduh, Sehun kamu enaknya diapain, dibunuh atau dibiarin idup… kita belum ketemu Kai lagi ya? Kai masih disimpen sama Arin soalnya.

Yara juga belum mampir sebagai penyelamatnya Chanyeol /apaansih/ ah… yang jelas Aa’ Suho belum muncul juga. Nanti deh itu bagian spesial. Karena Aa’ Suho bakal berbagi cerita sama Chen dan Yixing.

Eh pakabar Yixing… terus apakabar Kris… dan Chanyeol lagi…

Ah, sudahlah, daripada mikirin ending mending daku mikirin cara buat ngebunuh Sehun dulu deh.

Sekian dariku, sampai ketemu di Gangnam!

Salam kecup, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

7 tanggapan untuk “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN (3) — IRISH’s Tale”

  1. Krn sblm ini udah klebihan loncat ke 강남 dulu jd ga shock n slh ngira ky jiayi pas liat arin td. Ykn msh brhrp 세훈 ada di phk 백 wlw msh blm diperjelas smp akhr dr chptr ni brsn.
    Sigh.. Lega 세훈 msh slamet, thx hyerim for saving my dearest bronis ☺ I’ll never 4get this, I owe u. Kmana tu si luhan? bkn diem2 di rmh. A bit shock trnyt hye tmn sperjuangan/rkan sjawat 세훈, thank God, bkn irish klo ga oustanding cem ini 😀 tkh plng jahad di hol(m)es bkn tao tp Tn. Wang-bpk’ny jiayi, prtm maksa 백 jd assasins-ngbantai kakek’ny lay, ortu’ny tao, etc.
    Rasa’ny pengen jambakin tao pas tetiba dy nembak bronis kesayangan kuh td!! 😭
    Jd racun apa yg di ksh 세훈 brsn? Si junmen msh blm nongol2 jg 😆 iya, apa kbr kai, lay & 그리스 😍!? Bikin 찬 lbh jeles lg ke 백 rish 😁 & Please don’t hurt 우리 세훈아 riseu..😭

    1. XD buakakakakakakak itu bukan reen kok yang diliat sama jiayinya kak XD wkwkwk yaampun apaan banget dia disebut bronis ya sekarang si sehun padahal dia udah ga nuansa bronis lagi dia udah nuansa rated gitu XD

  2. Bikos aku udah baca ini duluan dan gak curiga aku ngeskip yang sebelumnya abis nyambung2 aja jadi berasa mundur pas baca yang seodaemun (2)

    WKWKWKWK sudahlah sudah.

    Awalnya aku pan agak kaget kok Reen ada lagi? Tapi bentar sih soalne aku ingat kan Reen-Arin kembar dan ini series Chen, dan yeshhh! Benar, itu Arin, kembaran Reen yang berkhianat. Ini kok gereget gitu yha, si Arin satu atap sama suami kembarannya. Dan kok aku malah ngerasa kalo Arin dikasih tau tentang Reen yang udah metong, dia B aja bikos mereka beda pihak kan? Kumenyadari keluarga Do disini pecah belah WKWKWKWK. Di series sebelumnya aja si Kyungsoo kan yg nyekap Reen, nunanya dengan cara diiket (( iya sih bukan kakak-adek di series ini wkwkwk ))

    DAN AKU MENGUMPAT PAS BAGIAN ‘dia seharusnya berterima kasih karena aku sudah membiarkannya mati bersama seseorang yang dia pikir dia cintai.’ WANJIRRRR TAPIKAN REEN MENGKHIANATI MINSEOK JUGA DENGAN SETIA SAMA NEGARA. INI REEN EMANG TIPE CEWEK SESUATU, DAN BEKYUN DENGAN KMVRTNYA TIDAK MEMAKAI HATI NURANI

    Eh tapi kok aku rasa asik ya si Arin kalem gini, kan OC ente kan gesrek-gesrek kak. Jadi mata-mata kesayangan Tao alias Arshavin pula bareng Jongdae eyakkkkk.

    DAN TAO WHAYYY TAOOO, TAMPANG SANGARMU TETIBA NEMBAK SEHUN ITU YAWLAHHHH TAPI AKU YAKIN SIH SEHUN BAKAL TETEP HIDUP WALAU AKU RASANYA PALING WARNING ITU SEHUN-LUHAN YANG BAKAL MATI BFFFTTTTT. Aku malah berpikiran Bekyun yang bakal still alive sampai akhir, bareng si Hyerim juga kayaknya yang nyatanya tau semuanya tapi berlagak lugu WKWKWK sukak liat si Hyerim gini.

    Oh ya buat Hyerim, kutepuk tangan lagi donggg kak irish ngupas pribadi terpendam dia lagi WAKAKAKAK. AKU TERKEJOD TERNYATA DIA UDAH KENAL SAMA SEHUN DARI LAMA, DIA JADI MATA-MATA MENNN! KUSUKAK WEHHH KAK SI HYERIM JADI MATA-MATA.

    “Kenapa? Apa kau masih merasa berhutang budi padaku karena aku sudah memata-matai Luhan selama beberapa tahun ini?”  <- EH PAS BAGIAN INI TAK KIRA CINTANYA HYERIM KE LUHAN GAK SUNGGUH2, UDAH TERPUTAR DI OTAK MEREKA SALING TODONG SENJATA JOSSS. Ehhh tapi nyatanya Hyerim masih cinta Luhan dengan tulus kok wkwkwkwk. Abis cinta member exo sama cewek2nya di sini ora normal. Kea Reen yang ngebunuh selingkuhannya juga. Terus Ceye yang cuman manfaatin Yara buat nyari info. Kukira Hyerim tipe gitu, tapi dia masih sayang sama Luhan dong /jambak manja Hyerim/gaaa

    "Pastinya, tidak ada yang tahu juga kalau kau adalah seorang mata-mata yang bisa membunuh dengan cara lebih sadis daripada Baekhyun.” <- kmvrt aku lgsg ngakak, sementang julukan Hyerim si tukang ngebunuh, dia lebih keji dibanding si cabe WAKAKAKA. TRUE BANGET INI KAK, APALAGI KALO DIA LAGI LAPER, TAMBAH MENJADI-JADI NGEBUNUHNYA /WHAT

    KUTUNGGU BESOK POKOKNYA. MASALAHNYA MAKIN KEKUAK, LAGI RAME INI. YANG BENER AJA INI GARA2 TAO DENDAM SAMA 1 ORANG, DIA MAU NGENHANCURIN 1 KOTA?! KAN KEPO INI BERESNYA GIMANA. GAK SABAR JUGA BAEKCHEN HADEP-HADEPAN EYAK

    MAAPIN KOMEN DI SINI LEBIH PANJANG BIKOS AKU KEBURU BACA YANG INI DULUAN JADI SEMACAM BACA YANG SEODAEMUN (2) ITU UDAH KENA SPOILER WKWKWK

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s