[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN (2) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PRISONER in Seodaemun (2)  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chen

Supported by EXO`s Sehun, Baekhyun, Chanyeol; EXO`s ex Luhan, Tao

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chen of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Seodae-mun [Baekhyun]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Tentu saja aku tahu benar tentang siapa dirimu. Kau adalah kerusakaan, kematian, kedukaan, saudaraku. Kau adalah sebuah surat berisikan kesedihan, peperangan, dan ketidak-sempurnaan. Bukankah semua makna itu juga yang membuatmu memilih untuk tidak hidup di balik nama Tao lagi? Haruskah aku membiasakan diri untuk memanggilmu Arshavin sekarang?”

“Wah, tidak perlu menyindirku begitu, Lu. Kita tidak sedang bermain detektif-detektifan, jadi kau tak perlu memanggilku dengan dua nama seolah aku adalah seorang teroris.” ingin sekali Luhan tergelak mendengar apa yang Tao katakan sekarang, jika saja dia tidak sadar kalau dia tengah berada dalam situasi dimana nyawanya dan nyawa Hyerim bisa saja terancam karena eksistensi pria yang ada di hadapannya ini.

“Apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya? Siapa dua gadis itu sampai-sampai kau begitu memedulikan mereka?” tanya Luhan akhirnya. Meski Luhan tahu benar, pria yang tengah diajaknya bicara adalah seorang yang tidak pernah suka jika urusan pribadinya diusik, tak ayal Luhan merasa penasaran juga.

“Dua orang itu, mengingatkanku pada masa lalu yang ingin kulenyapkan.” ucap Tao memulai, pandangannya menerawang sementara Luhan menunggu. “Aku dibesarkan oleh Sersan Wang, sampai kemudian aku tahu Sersan Wang adalah dalang di balik kematian kedua orang tuaku. Dia, adalah pimpinan Operasi Xiaoyue yang dilakukan di kampung halamanku.

“Bagaimana menurutmu jika kau jadi aku, Lu? Dibesarkan oleh seorang yang telah mengubah tempat asalmu menjadi lautan darah dan bahkan kau dipaksa untuk menyaksikan bagaimana tubuh kedua orang tuamu tercabik karena bom, kemudian dia membesarkanmu layaknya binatang peliharaan.”

Luhan terdiam sejenak.

“Jadi, bom yang ada di Operasi Xiaoyue ini sama dengan yang sekarang menghancurkan Seoul?” tanya Luhan.

“Kurang lebih begitu, hanya saja… proyek ini punya kekuatan menghancurkan yang lebih dahsyat daripada yang dia miliki dulu saat Operasi Xiaoyue. Aku sudah tumbuh di lingkungannya untuk mengetahui semua ini, Lu. Kau pikir aku akan menyia-nyiakan kesempatanku untuk membalas dendam?” tanya Tao segera dijawab Luhan dengan sebuah gelengan pelan.

“Tidak, aku tidak mau tahu dan tidak mau peduli tentang balas dendam yang kau bicarakan ini, Tao. Tapi jelaskan padaku, mengapa harus Seoul? Mengapa tidak kau hancurkan saja tempat tinggalnya sehingga dia tidak akan bisa mendapatkan kehidupan yang layak lagi?” tanya Luhan.

Dalam pemahaman pria itu sekarang, alasan Tao menghancurkan Seoul sangatlah konyol dan kekanak-kanakkan. Tao membenci satu orang, tapi menjadikan seisi kota sebagai korban atas dendam perseorangan itu.

“Mengapa aku harus repot-repot menebang sebuah pohon, kalau aku bisa menghancurkan akarnya?” Tao beranalogi.

“Apa maksudmu?” tanya Tao.

“Jenderal Wang bukanlah orang bodoh. Dan dia besarkan aku untuk tidak menjadi orang bodoh juga. Jadi, aku sudah menyusun semuanya sedemikian rupa, Lu. Aku curi semua databasenya tentang Operasi Xiaoyue, kemudian kuhancurkan akar-akar yang telah membangun Jenderal Wang menjadi sebuah pohon kokoh.

“Semua tempat yang kuledakkan, adalah tempat Jenderal Wang menanamkan hartanya. Dengan menghancurkan sumber uangnya, akar yang menopang kekokohannya, dia akan jadi rapuh. Dan lantas hanya menggantungkan kehidupannya dari dua ranting yang dia miliki, putrinya.

“Jadi, setelah kuhancurkan akar-akarnya, akan kupatahkan dua ranting yang dia miliki. Sehingga dia akan berakhir bak seonggok potongan kayu tidak berarti. Potongan kayu yang siap untuk dibakar dan dimusnahkan.”

Lagi-lagi, Luhan temukan dirinya terdiam. Memang, dari apa yang Tao katakan dia terdengar seolah tengah berusaha membalas dendam pada satu orang saja. Tapi tidakkah Tao mengedepankan akal sehat untuk sadar kalau dia telah mengorbankan kehidupan manusia lainnya?

Sekarang dalam pandangan Luhan, tidak lagi ada Tao yang dikenalnya dulu. Pria yang dihadapinya adalah seorang psikopat yang tidak memedulikan nyawa orang lain demi kepuasannya sendiri. Tapi, Luhan tentu tak berani mengungkapkan hal itu. Takut nyawa Hyerim terancam, tentu saja.

“Setelah menghancurkan semua tempat yang kau incar, kau akan melenyapkan dua saudara itu secara diam-diam seperti biasanya?” tanya Luhan akhirnya.

Mendengar ucapan Luhan, tersungging sebuah senyum kecil di wajah Tao.

“Melenyapkannya secara diam-diam? Mengapa aku harus gunakan cara itu jika aku bisa membunuh keduanya di depan mata sang Jenderal?” sontak Luhan menegang begitu didengarnya Tao berucap. Sungguh, dia sudah tidak kenal lagi siapa pria yang bicara dengannya.

Dulu, Tao tak pernah bicara seperti ini. Untuk pertama kalinya, Luhan sungguh merasa waspada saat berhadapan dengan pria itu. Seolah satu kata salah terucap, nyawa Luhan atau Hyerim bisa melayang dengan sia-sia.

“Baiklah, apapun itu, aku hanya bisa menerima bayaranmu setelah menyelesaikan bagianku. Sekarang, aku hanya perlu membawa mereka berdua ke tempat yang kau inginkan, bukan?” tanya Luhan.

“Ya, bawa mereka padaku, Lu. Dan kupastikan kau juga gadis yang bersamamu akan berada di tempat yang aman.” baru saja Tao selesai berkata, keduanya sudah dikejutkan oleh erangan kesakitan seorang pria yang menggema sepanjang koridor menuju ruang gawat darurat.

Bukannya mereka tidak terbiasa mendengar teriakan macam itu, tapi teriakan yang sekarang mereka dengar sungguh familiar.

“Dia!” Luhan berseru.

“Oh Sehun, apa yang terjadi padanya?” Tao berucap, lekas pria itu memasang hoodie dari jaket yang ia kenakan, sebelum ia kemudian melangkah menjauh dari Luhan, tapi langkahnya dibawa menuju ruang gawat darurat.

Luhan pun melakukan hal yang sama. Langkahnya tanpa sadar dia bawa ke arah ruang gawat darurat, melupakan fakta bahwa di dalam ruangan yang ada di belakangnya sekarang Hyerim tengah menerima pengobatan—nyatanya Luhan tahu kalau Jia-yi memang ditolak dengan sengaja atas perintah Tao, dan saat Luhan datang, Hyerim telah mendapatkan pengobatan yang sepantasnya.

“Urgh!” seruan Sehun lagi-lagi terdengar, kedua lengan dan dada pria itu bersimbah darah, begitu pula dengan wajahnya.

“Apa yang terjadi padamu!?” Luhan berseru, Tao sendiri memilih untuk berdiri tidak jauh dari keduanya.

“T-Tao…” lirih Sehun, tatapannya sekarang bersarang pada Tao yang tampak seolah tak ingin terlihat di sana. Tapi silabel yang lolos dari bibir Sehun tak ayal membuat Tao terkejut juga. Sehun tidak biasanya dengan lantang dan berani menyebut nama Tao di sembarang tempat, kalau keadaannya sudah begini, sudah pasti Sehun hendak menyampaikan sesuatu yang ada hubungannya dengan Tao.

“Ada apa?” tanya Tao begitu dia paksakan dirinya melangkah mendekati Sehun.

“Baekhyun… dia mengkhianati kita.” lirih Sehun, sekarang pria itu menyernyit menahan sakit kala perawat menekan luka di lengannya. “Dia membawa Jia-yi pergi setelah menyerangku dengan membabi buta. Tolong… argh!” lagi-lagi Sehun mengerang kesakitan, lengan kirinya sekarang bersimbah darah, dan dengan lengan kanannya yang juga bersimbah darah, Sehun menggenggam telapak tangan Tao yang terbebas di dekatnya.

“Dia mungkin juga melakukan sesuatu pada adik Jia-yi, tolong aku Tao. Pastikan Baekhyun tidak akan melakukan apapun padanya…”

“Wang Jin-yi…” Tao menggumam pelan, rahang pemuda itu sekarang terkatup rapat, sementara dia hempaskan tangan Sehun yang tadi menggenggamnya.

Lekas, Tao bawa dirinya beranjak pergi meninggalkan Sehun, sementara tangan kanannya bergerak meraih ponsel yang ada di sakunya. Setelah menekan speed dial nomor satu di handphonenya, Tao menyandarkan tubuh di dinding ruang gawat darurat dengan ekspresi gusar.

“Ya?” terdengar sahutan di seberang sana.

“Bagaimana bisa kau biarkan dia lolos? Sudah kukatakan kau harus mengawasi gerak-geriknya. Dia itu pembunuh licik yang berbahaya.” Tao berucap, menekankan tiap kata yang dia ucapkan meski sekarang dia berusaha bicara sepelan mungkin.

“Aku melihatnya.”

“Apa?” Tao menyernyit.

“Dari CCTV yang kau pasang di rumah Luhan, dia menculik dua orang gadis yang ada di rumah itu setelah melakukan penganiayaan ringan pada mereka. Sekarang, aku melihatnya.” suara di seberang menjelaskan.

“Apa maksudmu dengan kau melihatnya sekarang?” tanya Tao.

“Dia dan gadis yang kau inginkan, Bos.”

“Di mana kau melihat mereka?” tanya Tao kemudian.

“Di rumah targetku. Bagaimana ini? Kau katakan aku harus meledakkan tempat ini, tapi dengan adanya gadis yang kau incar, bisakah aku meneruskan rencananya?” tanya suara di seberang.

Menahan kemarahannya yang hendak meledak, Tao akhirnya mengkeretakkan geliginya sembari memejamkan mata kuat-kuat, berharap dua cara itu bisa sedikit menekan rasa marahnya.

“Apa dia mengenalimu?” tanya Tao akhirnya.

“Tidak, kau tahu sendiri kami tak pernah bertatap muka. Bagaimana dengan rencananya, Bos?” lagi-lagi tanya menguar dari seberang.

“Kita pending dulu, Chen. Tunggu sampai aku memberimu kabar lagi.”

PIP!

Tao mengakhiri panggilannya setelah menyelesaikan kalimat tersebut. Tangan kanannya kini menggenggam kuat-kuat ponselnya, seolah benda itu bisa saja dia remukkan kalau saja dia bisa. Sayang, kekuatan Tao bukannya untuk menghancurkan ponsel melainkan mempermainkan pola pikir orang lain untuk dimanipulasinya dan kemudian dia manfaatkan demi kepentingan pribadi.

Tao sudah punya rencana sempurna, sebenarnya. Tapi sekarang, adanya pembelot dalam pihaknya sudah membuat rencana sempurna itu retak. Hanya retak, bukannya hancur. Rencana yang sudah Tao susun bertahun-tahun ini tentu tak akan hancur begitu saja hanya karena seorang pembelot.

Dan pengkhiatan sama sekali bukan masalah bagi Tao. Dia bisa saja dengan mudah memerintahkan suruhannya untuk melenyapkan pengkhianat itu. Tapi situasinya begitu berat bagi Tao, sekarang. Orang yang membelot darinya adalah seorang yang sudah jadi kaki-tangannya selama bertahun-tahun.

Selain menjadi pembunuh berdarah dingin yang jenius, sosok itu juga telah jadi sebagian otak dan memori Tao tentang rencana sempurnanya ini. Sekali saja sosok itu memberikan serangan pada rencana Tao lagi berupa pengkhianatan, Tao yakin rencananya bisa hancur.

Tapi Tao tentu tidak akan menyerah semudah itu. Dia masih punya rencana B. Dan Sehun, adalah medianya untuk rencana B itu.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Apa kau pandai bermain peran?”

“Bermain peran? Apa maks—”

“Wah. Lama tidak berjumpa, Park Chanyeol. Aku datang mengunjungimu untuk mengajak bekerja sama. Dan juga, kuperkenalkan kau pada wanitaku, namanya Jia-yi.”

Hampir saja jantung Jia-yi melompat keluar dari persinggahan ketika maniknya bertemu dengan manik gelap milik sosok yang beberapa waktu lalu sempat terjebak dengannya itu.

“C-Chanyeol-ssi…” lirih Jia-yi berhasil merenggut atensi Chanyeol.

“Senang bertemu denganmu lagi, Jia-yi.” kata Chanyeol, tersenyum ramah pada Jia-yi sebelum dia kemudian melemparkan pandang penuh kebencian pada pria yang ada di sebelah Jia-yi. “Dosa apa yang sudah kau perbuat, Jia-yi? Sampai kau harus berakhir dengan seorang monster sepertinya?” sambung Chanyeol membuat Baekhyun tertawa pelan.

Segera paham pada situasi yang tercipta di hadapannya, Jia-yi lantas memilih bungkam. Tak ada aura ramah yang menyambutnya di sini meski tadi dia jelas sekali melihat bagaimana Chanyeol tersenyum.

“Aku tak suka analogimu padaku sebagai seorang monster. Monster itu bodoh, meskipun mereka kuat dan keji. Aku, adalah seorang psikopat, Chanyeol. Kau sudah lupa itu?” Baekhyun berucap, lantas digenggamnya jemari Jia-yi yang sejak tadi terjuntai bebas—hal yang membuat Jia-yi berjengit terkejut tapi tidak juga memberikan perlawanan apapun.

“Ya, kau psikopat yang dua tahun lalu mengkhianati keluargaku.” sahut Chanyeol.

“Hah, aku bukannya berkhianat. Sebagai seorang yang cerdas, aku tentu harus pandai menganalisa situasi dan memanfaatkannya sebaik mungkin untuk keuntunganku. Sayang sekali, dua tahun yang lalu kau dan keluargamu sudah tidak menguntungkan lagi buatku.” ucap Baekhyun.

“Lalu apa sekarang kau mau memanfaatkanku lagi? Jangan harap kau akan berhasil menipuku untuk kedua kalinya, Baekhyun.” ucapan Chanyeol sekarang berhasil membuat Baekhyun tertawa sinis.

“Lihat siapa yang bicara sekarang. Kau rupanya sudah mulai berpikir dewasa, ya. Tapi perkataanmu ada benarnya juga, aku memang datang untuk memanfaatkanmu lagi. Kali ini, ada imbalan besar yang bisa kutawarkan sebagai barter atas keinginanku.” ucap Baekhyun, diremasnya jemari Jia-yi pelan, membuat gadis itu paham bahwa dia tidak perlu buka suara lagi saat ini karena bisa saja dia salah bicara dan akhirnya malah merusak rencana yang sudah Baekhyun susun.

Tapi atensi Jia-yi sekarang justru terusik karena likuid yang terasa mengalir di telapak tangannya. Baekhyun terluka, Jia-yi menangkap kemungkinan itu begitu dirasakannya jemari Baekhyun gemetar pelan dalam genggamannya.

Tanpa sadar, manik Jia-yi bersarang pada tetesan darah yang berjatuhan ke tanah. Hal yang membuat Jia-yi segera paham kalau pria yang sekarang menculiknya ini tidak mau terlihat lemah dan kalah. Lantas, lengan Jia-yi yang terbebas bergerak menggenggam tangan Baekhyun yang terluka, sementara tungkainya bergerak menutupi tetesan darah yang ada.

Terkejut karena sikap Jia-yi sekarang, Baekhyun alihkan pandangannya pada gadis itu, tapi Jia-yi hanya menyunggingkan sebuah senyum kecil pada si pria, tanpa ada niatan untuk menjelaskan maksud dari sikapnya.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Chanyeol akhirnya menarik Baekhyun pada konversasi yang sempat ia lupakan karena sikap Jia-yi. Chanyeol sendiri, memilih mengalihkan pandang lantaran hatinya merasa tidak senang saat melihat bagaimana eratnya Jia-yi menggenggam tangan Baekhyun sekarang.

Jelas, hubungan mereka tak hanya sekedar kenal saja, bagaimana Jia-yi merapatkan diri pada pembunuh yang ingin Chanyeol lenyapkan itu, adalah pertanyaan lain bagi Chanyeol. Setahu dan seingatnya, gadis itu tak pernah punya riwayat dekat dengan seorang pembunuh seperti Baekhyun, utamanya.

“Sebuah pesawat yang bisa membawa empat orang sampai ke Hunan.”

“H-Hunan?” tanpa sadar bibir Jia-yi menggumam, belum lepas dia dari kebingungan mengenai rencana Baekhyun saat pria itu membawa Jia-yi bertemu dengan Chanyeol, dia sudah disuguhi keterkejutan lainnya.

Apa maksud Baekhyun dengan membawa empat orang ke Hunan?

“Ya, sayang. Kau dan aku tentu harus selamat dari bencana mengerikan ini, bukan?” Baekhyun berkata, ditatapnya Jia-yi dengan isyarat kental tentang keharusan Jia-yi untuk menahan diri tetap bungkam saat ini.

Dan seolah keduanya telah terhubung dengan bahasa isyarat seperti itu, Jia-yi lantas menutup mulut rapat-rapat, sadar bahwa dia tidak seharusnya mengucapkan nama kampung halamannya selantang itu barusan.

“Kau menemuiku hanya karena kau berniat menyelamatkan diri ke Hunan? Seorang pembunuh sepertimu takut pada bencana ini?” tanya Chanyeol, diiringi sebuah tawa meledek.

“Bukannya takut, aku hanya mempertimbangkan keadaan Jia-yi. Aku yakin dia tak akan mau melihatku tetap di sini. Lagipula, aku bisa memberimu penawaran yang lebih menarik. Daripada mengurusi ketakutanku pada bencana yang sudah jelas jadi opini sepihakmu, mengapa kau tidak tanyakan saja soal tawaran dariku?” tanya Baekhyun kemudian.

“Baiklah. Apa imbalan atas permintaan konyolmu barusan?” Chanyeol akhirnya menurut juga.

“Arshavin. Bukankah kau ingin tahu tentangnya?” Baekhyun menatap Chanyeol sejenak, sebelum dia kemudian menyunggingkan sebuah senyum kemenangan saat ditangkapnya ekspresi kaku Chanyeol. “Aku adalah kaki-tangan Arshavin, Chanyeol. Apa yang harus kutawarkan padamu? Membeberkan semua rencana Arshavin? Atau… haruskah kutawarkan diri untuk membawa mayatnya ke hadapanmu?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pedal gas diinjak gila-gilaan oleh Sehun, di tengah kepanikan. Tak peduli bahwa tubuhnya sekarang terluka dan penuh perban, dia harus segera sampai ke tempat tinggal Luhan.

Hey, pelanlah sedikit! Tubuh Hyerim masih lemah!” Luhan membentak dari kursi belakang.

“Aku tidak akan bisa tenang. Bagimu kehidupan masih berjalan dengan begitu santainya karena kau bersama dengan orang yang ingin kau lindungi. Lantas bagaimana denganku?” tanya Sehun sembari membelokkan mobilnya dengan cukup tajam ke kiri.

Ugh! Kalau saja aku tidak dalam keadaan seperti ini kupastikan aku akan menendangmu keluar dari mobilku.” ucap Luhan, belum selesai pria itu dari rasa kesal karena bekas darah yang Sehun tinggalkan di mobilnya, sekarang Sehun sudah membuat pria itu kesal lagi.

Bagaimana tidak, Luhan hampir saja serangan jantung begitu mendapati bagian dalam mobilnya penuh dengan darah dari tubuh Sehun. Ditebaknya, Sehun tadi diserang di dalam mobil, sampai kemudian dia tertatih keluar dari mobil itu dan nyawanya diselamatkan oleh petugas rumah sakit.

Mengabaikan keselamatan Sehun, Luhan lebih mementingkan keselamatan barang-barang miliknya, tentu saja. Luhan kenal benar bagaimana kejamnya seorang Baekhyun sebagai pembunuh. Dan darah berceceran seperti ini jelas jadi gaya membunuh khas Baekhyun.

Tapi tidak Luhan sangka juga kalau dia lagi-lagi harus jadi korban dari ulah keji rekannya itu.

Ugh, Byun Baekhyun, akan kupenggal kepalanya begitu aku bertemu dengan bajingan satu itu.” ucap Luhan membuat Sehun mau tak mau tergelak juga.

“Memangnya kau akan punya kesempatan menyerangnya? Dia itu seorang pembunuh tidak berperasaan. Bisa-bisanya dia menyerangku padahal aku sudah jadi rekannya selama bertahun-tahun? Sialan.” Sehun mengumpat juga akhirnya.

Luhan sendiri memilih bungkam di kursi penumpang. Diperhatikannya bagaimana Hyerim sekarang terlelap di pangkuannya, sementara Sehun sendiri mulai berkendara di kecepatan stabil.

“Dia memang selalu seperti ini, meninggalkan darah berceceran di mana-mana di setiap pembunuhan yang dia lakukan. Selalu saja, merugikanku dengan merusak barang-barang mewah yang kumiliki. Tapi aku tak pernah menyangka dia akan jadi seorang pengkhianat. Di mataku, dia adalah seorang rekan yang memegang erat komitmen.” Luhan akhirnya berkelakar.

“Apa maksudmu? Kau percaya padanya, begitu?” Sehun berkata dengan nada menyindir yang begitu kental dalam suaranya.

“Bukannya aku percaya, bukannya juga aku tidak percaya. Baekhyun, bukanlah seorang yang bisa begitu saja mengkhianati kepercayaan seseorang. Aku mengenalnya dengan baik. Meski aku tidak tahu sejak kapan dia mengenalmu, tapi aku yakin dia tak akan berkhianat tanpa alasan. Seperti kataku tadi, Baekhyun memegang teguh komitmen yang sudah dibuatnya.”

Sejenak, Sehun terdiam, dipandanginya Luhan dari spion depan mobil sebelum dia mengembuskan nafas panjang.

“Lantas, komitmen apa yang sudah kau buat dengannya sampai menjadikanmu seyakin ini? Aku sendiri sudah bertahun-tahun hidup dengannya, dimanfaatkan olehnya, tapi pada akhirnya dia justru berusaha membunuhku dengan cara seperti ini.

“Bagaimana aku bisa memercayainya sekarang, sementara dia saja sudah menghancurkan kepercayaan yang kuberikan padanya?” kali ini Sehun yang berkelakar.

Luhan sendiri, memilih bungkam selama beberapa saat sebelum dia kembali buka suara.

“Tak ada rekan yang akan menjadi lawan, terkecuali jika rekan itu telah merusak kepercayaannya, itu adalah prinsip Baekhyun.” Luhan kini menatap Sehun, hal yang akhirnya membuat Sehun mendengus kasar.

“Jadi maksudmu, akulah yang merusak kepercayaan Baekhyun padaku, begitu?” kata Sehun.

Luhan belum sempat menyahuti lagi ucapan pria itu, karena sekarang mobilnya telah memasuki halaman sempit yang ada di depan rumah. Sehun sendiri lantas segera mematikan mesin mobil, berlari turun dari mobil tersebut dan masuk ke dalam rumah sementara Luhan sendiri membaringkan Hyerim di kursi mobil sebelum dia menyusul langkah Sehun ke dalam rumah.

“Sialan!” teriakan marah Sehun terdengar menggema dari dalam rumah saat tidak ditemukannya eksistensi Runa maupun Jin-yi di dalam rumah mungil tersebut.

“Baekhyun membawa mereka?” tanya Luhan saat ia masuk ke dalam rumah.

“Ya, keduanya. Dan sepertinya dia berbuat ulah di sini.” kata Sehun, tatapannya tertuju pada bercak darah yang ada di lantai rumah Luhan.

“Benarkah… Baekhyun yang berbuat ulah?” pertanyaan Luhan sekarang membuat Sehun berbalik, menatapnya dengan mata menyipit.

“Apa maksud ucapanmu?” tanya Sehun dengan nada dingin.

“Seperti kataku, Baekhyun bukanlah seorang yang bisa dengan mudah mengingkari komitmennya.” Luhan berucap, baru saja pria itu hendak melangkah mengambil senapannya yang terpajang di dinding, dia sudah dikejutkan oleh tindakan Sehun berikutnya.

DZING! BRUGK!

Argh!”

“Ah, sial. Kenapa tembakanku harus meleset? Sepertinya aku kurang belajar, ya?” Sehun berkata, baru saja dia sarangkan sebuah peluru dari senjata api berperedam suara di paha Luhan, membuat pria itu terjerembap ke lantai dengan luka baru di tubuh.

“Kau benar, Baekhyun memang memegang komitmennya. Dan kau juga benar, akulah yang berkhianat di sini. Sekarang, bagaimana sebaiknya aku membungkammu, peliharaan Arshavin?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Baekhyun-ssi, kau terluka.”

Bisikan Jia-yi, untuk ke sekian kalinya, membuat Baekhyun berdesis pelan mengisyaratkan gadis itu untuk diam. Kedua lengan Jia-yi masih dengan erat menggenggamnya, sementara keduanya sekarang melangkah mengikuti Chanyeol di dalam rumah megah pria bermarga Park tersebut.

Tidak terlihat adanya maid di rumah mewah itu, pikir Jia-yi mereka mungkin sudah sibuk menyelamatkan diri dan keluarganya di tengah katastrofi ini.

“Ada dua kamar kosong di sini. Kalian bisa gunakan masing-masing—”

“—Tidak perlu. Aku akan berada di kamar yang sama dengannya.” baru saja Chanyeol berucap, Baekhyun sudah memotongnya dengan perkataan luar biasa mengejutkan.

“Apa?” tanya itu lolos dari Chanyeol untuk memastikan.

“Kau sudah tahu kami bersama, bukan? Sudah jelas sekali kalau aku tak akan melepaskannya barang sedetik pun. Terutama, karena kami bukannya sedang berada di kediaman seorang kawan, melainkan lawan.” Baekhyun menjelaskan.

Jia-yi sendiri menatap Chanyeol dan Baekhyun bergiliran. Sesungguhnya ucapan Baekhyun juga terdengar tidak masuk akal dalam pendengarannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak berani ikut berkomentar selama dia belum tahu rencana Baekhyun sepenuhnya.

“Tidak bisa. Rumahku, aturanku. Aku tak akan biarkan kalian berdua berada di dalam satu kamar yang sama. Kau sudah gila, ya? Apa terlalu sering membunuh membuatmu lupa batas moral yang harusnya kau miliki sebagai manusia?” kata Chanyeol, terselip amarah dalam tiap kata yang dia luncurkan dengan lancar sekarang dari bibirnya.

“Permainanku, aturanku, Park Chanyeol. Ikuti aturan yang kutentukan, atau kau tak akan dapat apapun.” ucap Baekhyun berhasil membuat Chanyeol mendengus pelan.

“Bukannya kau juga membutuhkanku? Berhentilah bersikap seolah kau satu-satunya yang dipentingkan di sini.” sindir Chanyeol.

“Kalau kau melawan, aku hanya tinggal membunuhmu. Lalu kujalankan rencanaku yang lain. Mudah saja, bukan?” Baekhyun berkata.

“Sudahlah, Chanyeol-ssi. Aku lebih baik ada di kamar yang sama dengan Baekhyun, lebih aman untukmu, dan kami berdua juga.” Jia-yi akhirnya mau tak mau angkat bicara. Pasalnya gadis itu merasa takut juga pada aura penuh kebencian yang sejak tadi menghimpitnya.

Lagipula, jika Jia-yi ada di tempat yang sama dengan Baekhyun, dia juga bisa lebih leluasa bicara dengan pria itu. Bukan hanya keselamatan Chanyeol maupun dirinya yang sekarang Jia-yi bicarakan. Tapi juga keselamatan adiknya yang sampai detik ini masih menjadi tanda tanya.

“Lihat? Wanitaku bahkan ikut berargumen. Kau tidak merasa malu?” kata Baekhyun.

Menyerah, Chanyeol akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang.

“Aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan padamu, Jia-yi. Tapi keputusanmu untuk bersama dengannya adalah keputusan paling gila. Apa kau tidak bisa melihat orang lain yang lebih pantas untuk bersanding denganmu?” usai mengucapkan kalimat itu, Chanyeol membuka pintu kamar yang ada di sampingnya, mengisyaratkan pada dua orang itu untuk masuk sebelum akhirnya Chanyeol sendiri memilih hengkang.

“Apa yang dia bicarakan? Dia terdengar seperti seorang yang sedang patah hati saja.” ucap Baekhyun sebelum dia masuk ke dalam kamar tersebut.

“Baekhyun-ssi, tunggu sebentar. Kau terluka.” Jia-yi lagi-lagi berucap, Baekhyun sendiri bahkan sudah begitu hafal pada kalimat itu karena sejak tadi Jia-yi sudah belasan kali menggumamkannya.

“Aku tahu.” Baekhyun berkata, dia lantas melepaskan jaket gelap yang ia kenakan, menyisakan kemeja hitam yang membalut tubuhnya.

Jia-yi sendiri lantas menutup pintu kamar, maniknya sekarang lekat mengawasi gerak-gerik Baekhyun. Dilihatnya bagaimana pria itu berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar tempat mereka sekarang berada, dilepaskannya satu persatu kancing kemeja yang membalut tubuh penuh tattonya sementara Jia-yi masih mengawasi.

“Apa yang sudah terjadi?” tanya Jia-yi kemudian.

“Sehun menyerangku.” sahut Baekhyun sekenanya, dia lepaskan kemeja yang ia kenakan, sementara dia perhatikan luka-luka yang ditinggalkan Sehun di tubuhnya.

Dari pandangan Jia-yi sekarang, bisa dengan jelas dia lihat bagaimana luka robek cukup dalam ada di lengan Baekhyun, juga dadanya. Tapi untuk kedua kalinya melihat tubuh pria itu sekarang entah mengapa justru membuat Jia-yi merasa luar biasa canggung.

“Kenapa dia menyerangmu?” tanya Jia-yi lagi.

Tidak malah menjawab Jia-yi, Baekhyun justru memerhatikan gadis itu dari pantulan cermin yang ada di depannya.

“Ada apa denganmu? Apa tubuhku sebegitu mengagumkannya sampai membuat wajahmu memerah begitu?” tanya Baekhyun segera membuat Jia-yi mendengus pelan.

“Jangan bercanda.” kata gadis itu ketus, tapi tak ayal, diam-diam dia lagi-lagi memerhatikan apa yang Baekhyun lakukan.

Dengan menahan sakit, pria itu sekarang menekan luka menganga yang ada di lengannya. Sementara, Jia-yi akhirnya tanpa sadar memerhatikan tatto yang terukir di permukaan kulit Baekhyun.

“Ombak?” tanya Jia-yi membuat Baekhyun mengalihkan pandangnya sekilas.

“Hmm.” sahut pria itu.

“Apa maksudnya? Tatto yang ada di tubuhmu?” pertanyaan Jia-yi sekarang akhirnya membuat Baekhyun terdiam.

“Kurasa kita tidak sedekat itu untuk membicarakannya.” ucapan Baekhyun berhasil membungkam Jia-yi. Dengan canggung, gadis itu mengalihkan pandangannya, sebelum akhirnya Jia-yi tersenyum kecil.

“Kau benar, bagimu aku hanya seorang tahanan saja untuk rencanamu, bukan?” sebuah tanya akhirnya menguar dari bibir Jia-yi.

“Apa maksudmu?” tanya Baekhyun segera dijawab dengan gelengan cepat oleh Jia-yi.

“Lupakan saja. Aku akan mencari beberapa obat untuk mengobatimu, tunggulah di sini.” Jia-yi berucap, tanpa mendengar sahutan dari Baekhyun gadis itu melangkah keluar kamar, meninggalkan Baekhyun sendirian dengan air muka yang begitu keruh.

Beberapa menit Baekhyun menunggu, sampai kemudian didengarnya pintu kamar tersebut membuka, menampakkan Jia-yi yang membawa sebuah kotak dengan beberapa helai kain di tangan.

“Berbaringlah, Baekhyun-ssi. Luka-lukamu harus dijahit.” kata Jia-yi, dibentangkannya sebuah kain di atas tempat tidur besprei putih yang ada di kamar sebelum dia menatap ke arah Baekhyun, menunggu.

“Ayolah, setidaknya biarkan aku mengobatimu untuk kedua kalinya.” kata Jia-yi lagi.

Kali ini, Baekhyun tidak memilih untuk membantah. Dia lantas berbaring di atas tempat tidur, membiarkan Jia-yi melakukan bagiannya sementara keduanya memilih untuk sama-sama diam.

“Maaf.” akhirnya sebuah kata lolos dari bibir Baekhyun.

“Untuk apa?” tanya Jia-yi.

Lagi-lagi, Baekhyun memilih diam selama beberapa saat. “Aku dibesarkan di lingkungan yang mengerikan. Kau tak akan bisa membayangkan bagaimana kehidupan telah memaksaku untuk jadi seorang seperti ini, Jia-yi.

Tattotatto ini, semata-mata kuukir untuk menutupi tiap luka yang ada di tubuhku. Setiap satu dari mereka, punya makna masing-masing.” Baekhyun akhirnya mulai berkelakar, pria itu memejamkan matanya, sementara Jia-yi sekarang sudah sibuk dengan jarum berisi anestesi di tangan.

“Lalu, apa saja makna tatto yang ada di tubuhmu?” tanya Jia-yi, gadis itu sekarang mengenakan sarung tangan di kedua tangannya, dengan hati-hati dia menunggu efek anestesinya bekerja di lengan kanan Baekhyun.

“Ombak yang ada di kedua lenganku, adalah perlambang untuk kepercayaan dan kehidupan. Kau tahu, meski aku ini disebut sebagai seorang pembunuh keji, aku juga seorang yang bisa dipercaya. Jadi, kau tak perlu khawatir jika aku mungkin membohongimu. Aku, bukan seorang yang berbohong demi kepentinganku.”

Jia-yi kini terdiam. Beberapa kali dia menyentuh permukaan kulit Baekhyun di sekitar luka itu sebelum ia mulai menjahit luka terbuka itu saat Baekhyun tidak dilihatnya menunjukkan ekspresi kesakitan lagi.

“Apa ombak yang ada di tubuhmu… juga mewakili ketenangan yang kau miliki?” tanya Jia-yi.

“Hmm. Kau mungkin tidak mengerti, tapi menjadi seorang pembunuh berarti aku harus menjadi seorang yang tidak bisa dibaca oleh orang lain. Jadi, ketenangan itu sangatlah penting. Apa kau lihat ukiran pisau yang ada di dadaku?” pertanyaan Baekhyun berikutnya membuat Jia-yi menghentikan aktifitasnya, sejenak, dia perhatikan tubuh pria itu sebelum akhirnya Jia-yi mengangguk pelan.

“Ya, aku melihatnya.”

“Ada berapa banyak pisau yang kau lihat?” tanya Baekhyun.

Umm, sekitar empat, atau lima?” kata Jia-yi tak yakin.

“Ada enam. Masing-masing pisau itu melambangkan loyalitas dan komitmenku pada hal yang ada di kehidupanku. Pisau pertama kudapatkan dari loyalitasku pada ayahmu, lalu yang kedua adalah untuk aku bersama dengan timku—dimana Kyungsoo ada di dalamnya—yang ketiga adalah loyalitasku pada keluarga Chanyeol.

“Yang keempat adalah loyalitasku pada Arshavin yang kubicarakan dengan Chanyeol. Yang kelima adalah loyalitasku pada timku yang baru, kemudian yang terakhir adalah loyalitasku pada diri sendiri.”

Setelah menyelesaikan jahitan ke empatnya, Jia-yi lagi-lagi memerhatikan ukiran pisau tidak kentara yang terukir sepanjang tulang selangka kanan Baekhyun sampai ke bawah lehernya. Memang, ada beberapa pisau tersusun di sana, yang sekarang sudah membentuk setengah lingkaran melintasi dada atas Baekhyun.

“Oh, ada bunga lotus dan daun di bahu kirimu.” kata Jia-yi mengenali bentuk bunga lotus di antara ukiran sulur-sulur dedaunan yang melingkar di leher sampai lengan pria itu.

“Keindahan yang tidak sempurna, dan kelahiran kembali.” Baekhyun berkata.

“Karena kau sudah jadi pembunuh tampan yang mematikan? Juga karena kau sudah merasa bahwa kau terlahir kembali ketika kau mengukir loyalitas pada dirimu sendiri?” Jia-yi menerka-nerka.

Sontak, ucapannya membuat Baekhyun membuka mata, menatapnya dengan sebuah senyum di wajah sebelum ia berkata. “Benar, tiap daun kuukir ketika aku berhadapan dengan kematianku. Sayang, sejak ada bencana ini aku tak lagi bisa mengukir dedaunan yang baru.” ucap Baekhyun.

“Bagaimana dengan tatto yang ada di punggungmu?” tanya Jia-yi kemudian.

The eye of Rah yang ada di sela-sela seekor naga. Kurasa kau sudah cukup cerdas untuk bisa mengartikannya, bukan?”

Sebuah senyum tanpa sadar muncul di wajah Jia-yi, seiring dengan selesainya gadis itu dengan jahitan ke-tujuhnya di lengan Baekhyun.

“Benar, aku sudah paham benar apa artinya. Dan mengetahui makna tatto di tubuhmu, kupikir aku tidak lagi perlu merasa curiga ataupun takut padamu, Baekhyun-ssi.” ucapan Jia-yi sekarang membuat Baekhyun menatapnya.

“Mengapa kau bicara begitu?” tanya Baekhyun tidak mengerti pada arah pembicaraan Jia-yi sekarang.

Tidak lantas menjawab, Jia-yi justru bergerak menutup luka jahitannya menggunakan perban, sementara dia beranjak pada luka robek yang ada di dada Baekhyun.

“Kau bisa dipercaya, kau juga seorang yang loyal, sejujurnya kupikir… kau adalah lotus di tengah rawa itu, kau mungkin jadi perlambang dari kesempurnaan yang ada di tengah-tengah ketidak sempurnaan. Meski orang-orang menyebutmu sebagai pembunuh, meski gambaran pembunuh itu menjadi sebuah rawa mengerikan untukmu, kau masih punya belas kasih.

“Setidaknya, kau menyelamatkan nyawaku, padahal tidak seharusnya seorang pembunuh sepertimu mengkhawatirkan nyawa orang asing sepertiku. Lalu… kehidupan yang baru di tengah keinginan yang kuat, kau jelas tidak sekedar membunuh untuk bersenang-senang, tapi kau punya motif yang kuat.

“Jadi… aku tidak perlu merasa takut padamu, bukan?”

Baekhyun, tidak memilih untuk menjawab ucapan Jia-yi. Manik pria itu sekarang mengawasi jemari pucat Jia-yi yang bergerak dengan lihai di atas luka yang ada di tubuhnya.

“Nah, aku sudah selesai.” Jia-yi berkata setelah dia menutup luka jahitannya dengan plester.

“Terima kasih.” ucap Baekhyun, pria itu lantas bergerak bangkit dan duduk menghadap Jia-yi, dipandanginya gadis itu dengan sebuah senyum di wajah.

“Jia-yi kau… sama sekali tidak mengingatku, bukan?” tanya Baekhyun tiba-tiba.

“Mengingat apa, maksudmu?” Jia-yi menatap tak mengerti.

“Saat aku membunuh kakek sahabatmu di Hunan itu, kau melihatku. Di tengah jeritan ketakutanmu, kau melihatku berdiri di luar jendela dengan senapan di tangan. Apa kau… tidak mengingatnya?” pertanyaan itu lantas melemparkan Jia-yi pada ingatan pahit yang sudah selama bertahun-tahun berusaha dia lupakan.

“Aku… tidak mengingatnya. Dan aku tidak ingin. Kau tahu, kematian kakek Zhang adalah sebuah mimpi buruk bagiku. Jangan membicarakannya lagi, kumohon. Untukmu, mungkin itu adalah pengalaman pertama membunuh yang menjadikanmu seperti ini.

“Tapi untukku, momen itu adalah mimpi buruk yang terus memburu. Kau tidak tahu bagaimana takutnya aku ketika kudapati tubuhku bermandikan darah. Sekuat apapun aku menjerit, tidak ada yang datang. Satu jam, selama satu jam aku terkurung dalam ruangan itu bersama tubuh kakek Zhang yang tidak bernyawa sementara dia menatapku dengan kesakitan yang sarat dalam sepasang matanya yang membuka.

“Dan aku—”

Ucapan Jia-yi terhenti saat kedua telapak tangan Baekhyun bersarang di bahunya. Sebuah senyum pilu pria itu sunggingkan di wajah.

“Misiku kali ini, adalah membunuhmu juga adikmu, Jia-yi. Tidakkah aku akan jadi mimpi buruk lagi bagimu?” pertanyaan Baekhyun sekarang membuat Jia-yi menatapnya nanar.

Tanpa sadar, air mata mulai mengalir di wajah Jia-yi. Isakan pelan lolos dari bibir gadis itu.

CKLEK!

Gadis itu baru saja hendak buka suara saat didengarnya suara pintu dibuka. Sontak, Jia-yi menarik kedua bahu Baekhyun dengan paksa, gadis itu menenggelamkan wajahnya di bahu Baekhyun, sementara Baekhyun sendiri lekas paham pada situasi.

Dia rengkuh tubuh Jia-yi, sementara wajahnya dia tenggelamkan di surai gelap si gadis.

“Wah wah, baru sehari menumpang di rumahku kalian sudah berniat untuk bercinta di sini. Luar biasa.” vokal bass Chanyeol segera membuat Baekhyun mendongak, menatap pria itu dengan pandang tak senang.

“Siapa yang datang bersamamu?” tanya Baekhyun.

“Oh, dia adalah Jongdae. Seorang yang kutugaskan untuk ikut dalam pesawat jet pribadiku menuju Hunan. Aku tak bisa begitu saja menyerahkan harta bendaku pada seorang pengkhianat sepertimu.

“Sepertinya, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berkenalan dengan Jongdae. Aku akan kembali nanti, setelah kalian selesai bercinta.” Chanyeol berkata, ditekankannya kalimat terakhir yang dia ucapkan, seolah memang dia sengaja menyindir.

“Kami tidak sedang bercinta.” Jia-yi terdengar menyahut, dia lepaskan dirinya dari Baekhyun sementara tangisan masih mendominasi wajahnya.

“Kenapa kau menangis?” sontak Chanyeol bertanya dengan nada khawatir.

“Karena Baekhyun,” Jia-yi mengusap wajahnya sembari membuang pandang, “Dia baru saja membuat hatiku terlampau sakit karena dia katakan kami tidak bisa bersama dengan keadaannya seperti ini.” sambung Jia-yi membuat Chanyeol terperangah.

“Hah, aku sungguh tidak habis pikir… apa yang kau lihat dari seorang pembunuh sepertinya? Sudahlah. Aku tak mau berlama-lama dengan kekonyolan ini. Temui saja aku di ruang makan nanti saat makan malam.” kata Chanyeol dengan nada jengah.

Pemuda Park itu kemudian melangkah keluar ruangan, diikuti dengan seorang pemuda lain yang memasang ekspresi kaku.

“Apa yang baru saja kau ucapkan? Kita tidak bisa bersama?” ulang Baekhyun sepeninggal dua orang tadi, dipandanginya Jia-yi seolah kalimat yang baru saja lolos dari bibir gadis itu adalah kalimat paling konyol yang pernah didengarnya.

Berlawanan dengan ekspresi Baekhyun sekarang, Jia-yi justru menatap dengan pandang bertanya-tanya.

“Apa salahku? Kau katakan aku harus memainkan peranku dengan baik.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Seodaemun (3)

IRISH’s Fingernotes:

HAPPY BIRTHDAY JONGDAEKUUUUUU! CALON IMAMKU, MENANTU IDAMAN EMAKKU, CALON PENDAMPINGKU DI KUA DAN DI KUADE /SLAPPED/ kamu dan aku sudah sama-sama bertambah tua setahun tapi jarak kita masih aja jauh… aku tuh udah ngejadiin kamu sebagai imam goals Jongdae-ya ~~

Eh yaampun miane, efek pas ultah Suho absen, jadinya Hol(m)es versi Chen harus terkontaminasi sama sugardaddy (bahasanya Len, wkwk) dan cabe khatulistiwa (maaf loh Baek, meski kamu godain aku pake suara husky-mu itu, Jongdae tetep jadi imamgoalsku /slapped/)

Aku lagi memasang pertimbangan berat, harus bikin ending Hol(m)es di ulang tahun Lay atau Kris sekalian selesai di akhir tahun… berhubung aku belum ada ide buat series ulang tahun yang lain jadi yah… hal sekecil ini bikin galau juga.

HUHU, TAPI KIM JONGDAE ULANG TAHUN, YA LORD KAPAN DIA KAU JADIKAN JODOHKU /APA HUBUNGANNYA/

Udah dulu deh, ngetik sampe 5000 kata-an ini bikin diriku jadi mual-muntah macem hamil muda, dihamilin Jongdae setelah resmi menikah mah gapapa, kalo mual-muntah gak jelas penyebabnya ini tanda-tanda dispepsi mau kambuh ini huhu.

Sekian dulu dariku, intinya Jongdae itu calon imamku…

Sampai ketemu di part ke-tiga Seodaemun!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

16 tanggapan untuk “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN (2) — IRISH’s Tale”

  1. Wah, bc komen2ny bnrn da bbrp yg klewat bc part 3 dulu br yg ini. Krn smpt absen diultah suho jd dah aga lupa smp previous part’ny smp ke bday 첸 ini. Skng worry ga mo klewat bhkn eike smp nlusurin yg part 1 a.k.a yg ultah 백-ga da tlsn 1ny jd bingung & bc ulang kmrn.
    Well, back ke part ini, bingung knp 훈-백 slng srang smp luka2 gt 😕 ga ngduga klo yg tlp’an ma tao n manggil bos2 tu trnyt, no other than imamgoals’ny irish yg share same bday month sm eike, 첸 😃
    Wah, bdn topless’ny 백 ‘cem yakuza pnuh meaningful tattoes 😄 아이구.. 찬 jealous from d’1st 백 n jiayi holding hands 😆 sk sm aura2 triangle love 백-jiayi-찬 😀 I’ll go for 백 then /emang ga prnh ngsupport 찬 😋 백-jiayi somehow dah trikat dr their 1st tragic meeting in d’past.
    Klo bkl end di bday 크리스 will my ultimate bias ni comeback as cameo dimarih? Aa~ 😍 can’t wait!!

  2. dari part chanyeol dulu selalu gak sabar kalau jia yi bisa ketemu lagi chanyeol.. lama sih nunggu, sampe sekarang ketemu lagi malah jia yi ngabisin moment sama si baek..
    di buat pusing sama jalan cerita nya huhu tapi masih penasaran end nya gimana..

    well hbd buat chen yang maniss :*

  3. BIARKAN ANE BERKAMVRET RIA DULU KARENA BACA YANG KETIGA LALU BARU BACA YANG INI WKWKWKWK

    Efek sibuk nyari ekhem ekhem *YKWIM kak rish wkwkwk* aku pun gak meratiin series ini udah post, padahal aku udah nunggu semenjak bday suggar daddynya kak len diskip WKWKWK /SUGGAR DADDY PLSS/

    Sek bentar. Ini aku ngekek doloh, Ceye jeles ya sama Jia-yi? Ini serius mau ChanJiayi berjaya? Tapi kok di kata-kata akhir si cabe, dia kek baper si Jia-yi mainin perannya LOLOL.

    Wait, wait, aku masih penasaran sama rencana Baekhyun sama Sehun itu apa…. tp karena aku udah baca yg setelahnya, aku paham sih mereka berdua ini mau ngehentiin Tao walau Sehun punya plan B juga.

    Sudah kuberalih ke yang ketiga yang udah aku baca lebih doloh -___-

    1. XD kenapa sih els pake acara berkampret ria segala kayak aku tuh habis melakukan dosa besar pas ngerjain epep ini dan kamu juga berdosa karena udah ngelangkahin begitu banyak XD wkwkwkwkwk

  4. KAK RISH NISTA, MASA ANE UDAH BACA DULUAN YANG BAGIAN BARU, YG INI KELEWAT WKWKWKWK SEK BENTAR KUBACA DULU DARI KEMARIN MENCARI CANTOLAN SAMPE LUPA JD BACANYA MALAH KELEWAT YG INI. SUPPOT DOELOH

  5. happy birthday jongdaeku sayang~~
    .
    gak ngerti sma ini cerita tpi suka*loh*
    ah tpi klo bikinan ka irish emang selalu suka si..walaupun sukanya jdi hantu di ff ka rish. maapkn lh ka rish, situasi yg tdk memungkinkan ku untuk ngetik komen*alasan*
    nnti ak sering2 komen deh *insayaallah* /digampar/
    ok.sekian./gkjls/

  6. *ngebayangin baek topless omaigatt😂🔫

    Ngakak yaampun ceyee,,kamu cemburu bang,, yaudah sini sama dedeq aja wkwkw/plak

    Ini jia-yi terlampau polos yahh😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s