[CHEN BIRTHDAY PROJECT] DANGDUT SERIES : TARIK SELIMUT – by AYUSHAFIRAA

‘Jam 7, 8, 9… kok nyamuk yang datang?’

`TARIK SELIMUT`

 

A part of `Dangdut Series` by AYUSHAFIRAA

`Starring EXO’s Chen x TWICE’s Mina`

|| Comedy garing kriuk ulalaa, Fluff, Friendship, Romance ||

// Teen // Vignette //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata. Inspired by ‘Zaskia Gotik – Tarik Selimut’.


Dangdut Playlist :

NOW PLAYING ♫ [Chen Gotik – Tarik Selimut] ― [ Coming Soon ]


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

Tangan Mina cukup terampil menari-nari di atas pipinya sendiri, memoles bedak setebal mungkin untuk menutupi jerawatnya yang ―sialnya― baru muncul tepat di hari penting ini. Akhirnya setelah memendam rasa selama bertahun-tahun, Chen peka juga pada perasaannya. Kini, ia tidak perlu bergalau ria lagi akibat serangan friendzone dari lelaki itu yang terkadang begitu keterlaluan membuatnya terbawa perasaan.

Semalam lewat layanan video call, Chen berjanji akan mengajaknya kencan siang ini. Terbayang bukan bagaimana antusiasnya Mina untuk menghadapi hari paling membahagiakan ini? sampai-sampai, ia tidak tidur semalaman karena otaknya terus terganggu oleh bayang-bayang khayalannya sendiri tentang apa saja yang akan terjadi hari ini.

Demi Chen, Mina rela membeli kuota 12 GB dari provider termahal agar selalu bisa membalas pesan Chen secepat kilat tanpa harus naik-naik ke atas pohon hanya untuk mencari sinyal. Kebetulan yang sangat tidak diinginkan, perumahan gadis itu berada di area miskin sinyal. Jadi, provider mahal adalah salah satu jalan keluarnya agar terbebas dari ‘kebelet online’.

‘Chen, kalau udah hampir sampe rumah, bilang-bilang ya?’ ketik Mina pada nomor Chen.

Entah untuk yang keberapa kali, Mina memandangi pantulan dirinya di cermin panjang kamarnya, lagi dan lagi. Padahal, ia sudah terlihat begitu cantik dengan dandanan yang jauh dari kesan menor emak-emak arisan. Overall ngatung ala-ala anak hits, jaket bomber, dan tatanan rambut sebahu yang sengaja ia catok agar terlihat sedikit bervolume sudah membuat penampilannya begitu perfect hari ini. Apa lagi coba yang kurang dari pengorbanan seorang Mina untuk Chen?! Chen dijamin tak akan pernah menyesal jika memilikinya.

“Mimin!~ makan siang dulu yuk, Sayang?” ajak sang mami dengan panggilan penuh cinta dari meja makan sana.

Bibir merah Mina spontan mengerucut. Gadis belia itu melangkahkan kakinya ke meja makan sambil terus cemberut. “Mami apaan sih?! anak udah cantik gini malah dipanggil ‘Mimin’.”

“Loh? Loh? Emangnya kenapa? Panggilan itukan lucu.” Mami Mina super keheranan, padahal sejak kecil panggilan itu sudah melekat pada diri putri cantiknya dan baru kali ini putri cantik satu-satunya itu protes.

“Aku kan udah mau punya pacar. Aku gak mau aja pacar aku nanti ikut-ikutan manggil aku ‘Mimin’.”

“Ciye!~ ciye!~ Anak Mami udah gede, prikiciw!” goda sang mami tercinta yang akhirnya sukses membuat kedua pipi Mina terasa terbakar sempurna saking malunya.

“Calon pacar kamu emangnya janji mau jemput jam berapa?”

Mina menyelesaikan tegukan air minumnya dulu sebelum menjawab pertanyaan maminya.

“Jam satu sih bilangnya.”

Mami Mina cengo, “Ini udah mau jam 2 loh! Kamu gak mau tanya dia ada di manaaa gitu?”

“EU!” Mina bersendawa sebentar. Kebiasaannya setelah kekenyangan itu tak pernah hilang meski kini ia sudah menjadi remaja yang menarik perhatian banyak lawan jenisnya. “Udah berkali-kali, Mi. Dianya aja pasti udah bosen liat pesan aku yang isinya nanyain hal yang sama. ‘Kamu di mana?’.” Lanjut Mina, santai.

“Hati-hati loh, Sayang. Cowok yang di awal aja udah ingkar janji kayak gitu biasanya gak akan bisa dipercaya ke depannya.” Ujar Mami Mina, bisik-bisik. Sebagai wanita yang sudah memakan asam garam kehidupan, tentu Mami Mina harus memberitahu hal itu pada Mina agar putrinya tak salah dalam memilih pasangan.

“Ah, Mami!” keluh Mina bernada manja. “Kok malah nakut-nakutin sih?!”

“Ih, Mimin!~” Mami Mina mulai meniru nada bicara sang putri. “Siapa juga yang nakut-nakutin? Udah ah! Mami mau arisan dulu di Ceu Titi.”

Sebelum pergi, Mami mencipika-cipiki Mina dulu serta menyemangatinya untuk terus menunggu sang ‘calon kekasih’ yang nyatanya tak kunjung menampakkan batang hidung bahkan setelah berjam-jam Mina menunggu.

‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan-‘

“Apaan sih? daritadi yang ngangkat mbak-mbaknya mulu. Si mbak kurang kerjaan apa ya sampe-sampe ngangkatin telepon calon pacar orang?” rutuk Mina yang sudah duduk seorang diri di teras depan rumahnya selama 5 jam lebih. Maminya saja sudah pulang dari acara arisannya sedaritadi.

Chen berjanji akan mengajaknya kencan jam satu siang. Ditinggal makan sampai jam 2, lelaki itu belum juga datang. Ditunggui di depan rumah sampai langit dari yang awalnya terang jadi gelap, Chen tak datang-datang juga. Sebenarnya lelaki itu niat atau tidak sih?

TPAK! TPOK!

Karena menunggu Chen sejak siang tadi, Mina jadi tidak mandi sore. Karena tidak mandi sore, Mina jadi dikerubungi oleh nyamuk-nyamuk yang menciumnya di setiap inchi kulitnya.

“Kenapa malah kamu yang dateng sih, Muk?! Nyebelin banget!” Mungkin Mina mulai stres, hingga ia pun memilih mengomeli nyamuk-nyamuk yang tak mengerti satupun kata-katanya.

‘KALAU GAK JADI DATENG, BILANG AJA!!!!! GAK USAH GANTUNGIN ORANG KAYAK JEMURAN BELUM KERING!!!!!!’ ketik Mina penuh capslock dan tanda seru pada percakapannya dengan Chen. Percakapan mereka pun lebih terlihat seperti monolog karena lelaki menyebalkan itu yang tak kunjung membaca dan membalas pesan-pesannya sejak siang tadi.

BRAK!

Mina membanting pintu rumahnya saking emosi. Mulutnya terus berdumel ria tanpa ada objek yang bisa menjadi pelampiasan kekesalannya.

“Mending juga bobo cantik! Bodo amat dia mau datang tengah malem kek, subuh kek, atau besoknya kek! Gak peduli!”

Baru saja Mina menarik selimutnya, indera pendengarannya menangkap suara ketukan di jendela kayu kamarnya. Awalnya, Mina merasa horor. Sudah mau jam 10 malam, siapa juga yang datang dan mengetuk jendela kamarnya? Kalau tamu kan seharusnya mengetuk pintu rumah.

“Mina! Ini aku, Chen! Buka dong!”

Yap! Itu memang benar suara Chen. Mina yang terlanjur kesal pada lelaki itu lantas melakukan senam bibir terlebih dahulu demi melancarkan umpatannya. Mina melangkah malas ke arah jendela kayu di kamarnya.

“KENAPA BARU-“

“MAAF YA, MINA!” Chen ternyata sedikit lebih cepat menyodorkan sebuket bunga mawar merah padanya sambil meminta maaf. Saking romantisnya adegan itu, Mina jadi terpaksa menelan kembali segala umpatannya yang tadi sempat berada di ujung lidahnya.

“Kenapa baru datang sekarang sih?” tanya Mina lembut. Berbeda 180 derajat dari yang sudah ia rencanakan.

“Hari ini aku sial sekali. Bus yang kutumpangi mengalami mogok jadinya aku terlambat kembali ke kota ini. Saat hendak menghubungimu, ponselku mati kehabisan baterai. Saat hendak naik ojek, malah becek-becek. Eh bukan deng, malah dompetku hilang entah ke mana. Jadi, aku jalan kaki demi bisa sampai ke sini.” Terang Chen panjang lebar.

Mina tersentuh mendengar penuturan Chen. Lelaki itu memang tampak berkeringat dan deru nafasnya pun masih terengah-engah hingga detik ini. Sungguh perjuangan yang luar biasa berarti sekali bagi Mina.

“Jadi, setelah gak jadi kencan, ada yang mau kamu omongin ke aku?” tanya Mina, matanya berbinar penuh harap.

“Gak ada sih, ya, cuma maaf aja.”

Raut Mina langsung berubah drastis, menjadi datar.

“BODO!”

“Eits!” Chen berhasil mencegah gadis cantik itu untuk menutup kembali jendela kamarnya. Chen tertawa melihat ekspresi Mina. “Bercandalah. Untuk apa aku jauh-jauh dateng ke rumah kamu kalau gak ada hal penting yang mau aku omongin sama kamu.”

“Mina mau jadi pacar Chen?”

Semburat merah di pipi Mina perlahan tapi pasti mulai terlihat semakin jelas. Mina mengulum senyumannya, mencoba mengontrol rasa bahagia yang menyerang batinnya secara mendadak. Sudah lama, Mina menanti Chen menanyakan hal itu. Jadi, Mina bodoh jika harus berpura-pura menolaknya.

“Mau dong! Masa gak mau!”

“EHEM!” dehaman Mami Mina yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu kamar putrinya itu berhasil mencegah adegan pelukan Mina dengan temannya yang kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih. “Udah malem, gak boleh peluk-pelukan! Inget, nenek pernah bilang apa?”

“Makanya kalau sedang jatuh cinta, jangan suka main gelap-gelapan, nenek bilang itu bahaya, berbahaya~~~” jawab Mina yang malah jadi goyang dangdutan.

 

 

Sekian kegajean dari saya,

Tunggu kegajean saya berikutnya, salam dangdut! .-.

Dangdut is the music of my country, my country ohhh my country!~~~

– Happy Birthday, Chen! Kapan-kapan duet nyanyi lagu dangdut bisa kali ya? *kedipkedip /plak😂🔪

PicsArt_03-25-01.05.27

6 tanggapan untuk “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] DANGDUT SERIES : TARIK SELIMUT – by AYUSHAFIRAA”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s