[EXOFFI FREELANCE] Animosity (Chapter 2)

Title        : Animosity : Caring her

Author        : Rhifaery     http://rhifaery.wordpress.com/

Main Cast    :  Park Chanyeol and Kim Jihye

Genre        : Hurft

Rating        : PG-20

Disclaimer : Jalan cerita murni dari hasil imajinasi kami. Apabila ada kesamaan nama tokoh ataupun alur, itu ketidaksengajaan semata. Mohon dibaca setelah buka puasa. Dan tolong perhatikan rating.

   

    Chanyeol melempar kunci mobil dengan asal begitu tiba di ruangan mansion mewah bernuansa gold. Menghampiri sosok utama yang duduk dengan segelas vodka ditangannya. Sebuah musik rock terputar di ruangan itu dengan alunan sendu. Pria itu menyambutnya dengan senyum simpul, sekaligus menuangkan cairan itu pada gelas satunya dan menyerahkannya.

    Menolak minuman yang disodorkannya, Chanyeol lebih memilih untuk mengecilkan volume yang ada di ruangannya. Itu terlalu bising.  Lagi pula Chanyeol tak pernah suka musik rock yang membuatnya tak bisa berpikir jernih.

    “Ada masalah, kau tampak tertekan setelah menikah dengan wanita itu?” Tanya Jongin, sahabat karib yang bisa dikatakan tahu semua hal tentang Chanyeol.

    “Apa dia baru?” Bukannya menjawab, dia memalingkan wajah ke arah dua wanita cantik berpakaian minim yang tampak malu-malu menatapnya. Ya, rumah Jongin tak pernah absen dari para wanita. Entah itu baru ataupun lama. Jongin menggunakannya untuk bersenang-senang, sama sekali tak tertarik dalam menjalani hubungan serius.

    “Ya, Kris menyerahkannya sebagai imbalan.” Dia memanggil satu wanita itu dan duduk di pangkuannya. Memberinya sedikit servis hingga meloloskan satu desahan. Merasa berhasil, Jongin menatap sinis Chanyeol, dipikirnya pria ini benar-benar butuh sedikit kesenangan.  “Mau mencobanya?”

    “Tidak!”

    “Ayolah, aku tahu kau habis menghabisinya kemarin, jadi apa salahnya bermain dengan yang baru?”

    “Aku tidak tertarik, oke!” Chanyeol memalingkan wajah.

    Dari dulu memang Jihye lah satu-satunya wanita yang membuat Chanyeol tertarik. Jihye yang begitu baik, begitu cantik, yang mempu membuat Chanyeol bertekuk lutut hanya dengan senyuman tipisnya. Walaupun ada banyak cara mudah untuk menghianatinya, bermain dengan wanita. Ya, tentu saja mereka punya punya banyak slave atau wanita simpanan disini. Tapi Chanyeol tak merasa benar-benar tertarik.

    Dirasa tak berguna, Jongin pun akhirnya menyuruh wanita itu pergi. Tidak masalah jika Chanyeol sedikit meminta waktu darinya. Sebagai teman atau penasehat. “Mau kuberi rahasia satu hal yang tak bisa membuat wanitamu lepas?”

    “Apa?”

    “Hamili dia, maka dia tak akan punya alasan untuk meninggalmu.”

    “Dan dia akan membenci anakku seumur hidup?”

    Chanyeol tak habis pikir bagaimana pikiran Jongin bekerja. Selamanya, mereka bagaikan dua kutup yang saling berlawanan. Jongin sedikitpun tak pernah menganggap wanita berharga. Mereka hanyalah alat menuntaskan nafsu belaka. Mungkin itu akibat dari ibunya yang meninggalkannya waktu kecil hingga dia dibesarkan di panti asuhan bersama Chanyeol.

“Kau bisa menjadikan anak itu sebagai alasannya tetap tinggal?”

Chanyeol tak menyahut, terasa tak percaya terhadap saran yang diajukan Jongin. Jika saran itu terbukti berhasil, lalau mengapa dulu baik orang tuanya atau orang tua Jongin meninggalkannya di panti asuhan. Membuat mereka berdua terjebak pada dunia hitam tak tahu cara keluar.

“Kawan, ada apa denganmu. Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?” Ungkap Jongin pada akhirnya. Percakapan sebelumnya hanyalah murni basa-basi. Dia tidak pernah melihat temannya semenderita ini, meskipun dia adalah sosok nyata yang mendapat porsi penderitaan lebih baik dari yang lain. Jongin adalah saksinya, mengingat bagaimana pria itu bergelut pada kehidupannya yang terlanjur hitam. Chanyeol selalu ingin keluar, tidak seperti dirinya yang lebih dulu menyerah.

    “I love her!” Ucapnya parau. Chanyeol tidak pernah menunjukkan tangisannya pada siapapun kecuali dirinya. Jadi jika dia menangis, itu berarti sesuatu yang berat bahkan sulit telah terjadi padanya.

    “Kau sudah melakukan hal yang terbaik untuk mencintainya.” Komentar Jongin menguatkan.

    “But she hate me so much!” Oh ayolah, sejak kapan Chanyeol menjadi cengeng seperti ini. Lagi pula apa istimewanya Kim Jihye. Walau cantik, tetap ada ratusan wanita yang lebih cantik darinya. Dengan wajah tampannya, Chanyeol bisa saja mencari wanita yang lebih cerdas, lebih baik atau setidaknya tidak membuatnya terpuruk seperti ini.

    Dan bagi Jongin, Kim Jihye tak lebih dan tak lain adalah anak dari pembisnis gelap dan kotor bernama Kim Jinwoo. Bukan kesalahan Chanyeol jika harus membunuh ayahnya yang bajingan itu. Jihye tidak tahu pada dunia mana dirinya selama ini hidup. Kasih sayangnya terbutakan hanya pada ayahnya dan keinginan untuk memiliki orang tua.

    “Chanyeol, hentikan. Sepertinya alkohol bukan yang terbaik untukmu.” Jongin baru sadar bahwa Chanyeol sudah menyesap segelas whisky yang ia tuangkan. Dia tak pernah bisa tahan dengan alkhohol. Maka Jongin pun hafal dalam 2 menit pria itu pasti berbicara melantur kemana-mana.

    “Dia memilih mati dibanding hidup bersamaku.” Ucapnya yang mulai meracau, “Tapi sudah kukatakan padanya aku akan membunuh siapapun yang mengenalnya jika dia mati, termasuk kau Kim Jongin!”

    “Aku sama sekali tak keberatan jika mati di tanganmu.” Ucapnya tulus. Dia memang tidak main-main dengan perkataannya.

    Dua puluh tahun hidup bersama, membuat Jongin mengetahui seluk beluk yang terjadi dalam kehidupan rekannya itu. Chanyeol terlalu baik untuk terjebak di dunia hina seperti ini.  Itulah mengapa dia sedikit tak percaya saat Chanyeol mengatakan dia telah menyiksa gadis itu, gadis yang selama ini dicintainya. Mungkin Jongin bisa mengatakan Jihye sedang mengalami nasib sial, namun percayalah Jihye adalah wanita yang paling beruntung karena memiliki seorang Park Chanyeol.

    “Jongin bisa aku meminta tolong padamu?” Suara Chanyeol mulai serak.

    “Apa?” Perasaannya mengatakan tidak enak terhadap apa yang dikatakannya setelah ini.

    “Tolong jaga Jihye jika mereka benar-benar melenyapkanku!”

    “Oh shiitt, berhenti bicara begitu, tak ada yang akan melenyapkanmu.” Potong Jongin secepat mungkin.

    Chanyeol tersenyum menyeringai. Mengambil sebotol vodka dan langsung meminumnya. Perlakuan Chanyeol yang seperti itu membuat Jongin sedikit ngeri. Dia mendekati Jongin sekali lagi dan menepuk pungunggnya. Sesuatu yang biasa untuk menenangkan sosok yang sudah dianggapnya adiknya.

    “Kau hanya tidak boleh terlalu pecaya diri.” Hanya kata itu yang keluar sebelum Chanyeol ambruk di pundak Jongin.

***

    Pemandangan di rumah bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi Chanyeol. Terlebih saat ia memasuki kamar dan melihat nampan yang belum tersentuh isinya. Gadis itu masih betah meringkuk dengan posisi seperti itu, membelakangi Chanyeol seolah dia benar makhluk yang tak kasat mata. Oh ayolah, Jihye bahkan belum berpakain sejak tadi. Tubuhnya masih tergelut selimut dengan rambut yang tergerai menutupi wajah.

    Bukan tidak tahu bahwa pintu yang awalnya terkunci kini terbuka diiringi langkah kaki yang semakin dekat. Jihye tidak menoleh, tidak bereaksi apapun saat selimutnya sedikit turun memperlihatkan bekas hickey. Terkurung dalam rumah mewah, Chanyeol sama sekali tak memberinya askes keluar.

    “Kau tidak makan?” Tanya Chanyeol dengan suara beratnya. Percuma dia memesan kesukaan Jihye jika gadis itu sama sekali tak menyentuhnya. “Kim Jihye, aku bertanya pada-

    “Aku tidak lapar!” Tukas Jihye cepat.

    Seolah hilang kendali, Chanyeol menarik paksa tangan hingga duduk membuat selimut yang dipakai Jihye seketika melorot dan memperlihatkan bagian atas dadanya. Chanyeol sedikit memalingkan muka, hingga tangan dia sendiri yang menutupi bagian itu dengan selimut yang lebih tebal. “Kau harus makan, buka mulutmu!”

    “Tidak mau!”

    “Kau bisa sakit jika tidak makan.”

    “Biar saja, aku ingin menyusul ayahku!”

    PRAANGG!!! Seketika dentingan piring beradu dengan lantai marmer. Mata mereka beradu. Tampak lelah Chanyeol menghadapi Jihye begitupun sebaliknya, mata merah Jihye yang memberikat tatapan kebencian. Sungguh nasib bisa semudah ini berputar. Dalam benak keduanya tak lagi tersimpan memori indah saat menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Memori itu kian hilang terganti rasa benci yang mengebuh.

    “Aku membencimu!” Lagi, Jihye mengatakan sesuatu yang benar-benar menyakitkan untuk seorang Park Chanyeol.

    “Berhenti mengatakan itu!” Chanyeol tak mencoba terenyuh dengan tangisan Jihye yang semakin deras. Orang yang dulu menghapus tangisannya justru orang yang membuatnya berulang-ulang mengeluarkan air mata.  “Kau tidak tahu apa yang terjadi.” Desisnya.

    “Kau tidak perlu membunuhnya jika tidak mengetahuinya.” Bantah Jihye dengan suara yang penuh kebencian.

    Chanyeol berdecak, menarik panjang napasnya yang terdengar frustasi, “karena ketidak tahuanmu itulah, kau menjadi membenciku?”

    “Kau tidak berhak menghilangkan nyawanya.” Ucapnya, mungkin Jihye tak akan sebenci ini jika Chanyeol tidak menghilangkan membunuh ayahnya. Bagaimanapun perasaan itu mendominasi.

    “Kau tidak tahu apa yang dilakukan bajingan tua itu.”

    “Yang kau sebut bajingan tua itu ayahku!”

    Sekali lagi Chanyeol berdecak. Lihatlah bagaimana gadisnya ini bertahan di tengah kekeras kepalanya. Mungkin Jongin benar, sekalipun dia menyampaikan kebenarannya, Jihye bukanlah orang yang langsung menerimanya.

    “Dia ingin menjualmu….” Pada akhirnya Chanyeol telah mengatakan alasan dia melakukannya. Dan respon gadis di depannya tidak jauh dari dugaan.

    Tangan Jihye seketika bergetar. Tidak mungkin. Ia tahu betapa keparatnya ayahnya, seorang mafia penjual obat terlarang, juga pemilik beberapa diskotik termegah di Seoul. Jihye pernah melihat ayahnya mabuk, tidur dengan wanita-wanita lain atau menyiksa anak buahnya  di depan matanya sendiri. Tapi tak sekalipun pria itu menyakiti Jihye, satu-satunya putri semata wayangnya. Dia bahkan merestuinya menjalin hubungan dengan Chanyeol.

    Walaupun dulu Jihye sempat dibuang di panti asuhan, tapi di umur 18 tahun, ayahnya mengambil kembali. Dia tidak tahu motif apa yang membuat ayah tega membuangnya, hanya saja kerinduannya pada figur orang tua membuatnya melupakan pertanyaan tersebut.

    “Kau bohong!” Jihye menundukkan kepalanya. Kali ini tidak berniat memprovokasi Chanyeol, hanya saja kepercayaan dirinya menurun. Dia tidak mungkin percaya begitu saja pada bajingan yang membunuh ayahnya. Pada akhirnya tidak ada penjahat yang mengakui kesalahannya. “Kau berbohong hanya untuk membuat alibi, bukan?”

    Dan tanpa bukti atau alibi apapun ucapan Chanyeol memang terbukti benar. Bajingan itu Kim Jinwoo telah tertangkap basah menjual putrinya sendiri. Selama ini Chanyeol lah yang berperan melindungi Jihye. Membawa sekoper uang dan berusaha melepaskan Jihye dari niat busuk tersebut. Hingga sampai pada batasnya, Chanyeol akhirnya membunuh Jinwoo yang sialnya diketahui dari mata kepala Jihye sendiri.

    “Aku sudah menduganya kau tidak akan mempercayaiku semudah itu.” Ucapnya lirih, seolah-olah Chanyeol adalah sosok yang benar-benar menderita dari rumitnya masalah ini. Tentu saja Jihye tidak akan semudah itu mempercayainya, bajingan itu begitu pandai menutupi semuanya.

    Jihye menangis, airmatanya benar-benar banjir kali ini, badannya bergetar kuat, menolak uluran tangan Chanyeol agar dia tidak benar-benar tersentuh.“Kau telah membunuhnya, jadi jangan pernah mengarang cerita untuk menutupi kejahatanmu itu.”

    “Aku tidak pernah bohong Kim Jihye…” Ucapan Chanyeol seolah meluluh lantakan  seluruh pertahanannya. Ia memeluk Jihye paksa walaupun pelukannya itu tidak memberikan kenyamanan. Lagi pula siapa yang peduli, dalam keadaan ini yang diperlukan hanyalah membuat Jihye sedikit tenang.

    “Aku pun sama sekali tak keberatan jika kau  menganggapku pembunuh berdarah dingin, bajingan terjahat atau bahkan mafia tersadis yang pernah ada…” Chanyeol mengambil napas sejenak, semakin memepererat pelukannya terhadap wanita yang benar-benar dicintainya sepenuh hati. “tapi, yang perlu kau tahu adalah aku tak benar-benar ingin menghancurkanmu Kim Jihye.”

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Animosity (Chapter 2)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s