[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 24

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle            : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 24

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast        :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating        : T

Length        : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

“Pria itu sudah tidak waras…” gumam Hyojin seraya menutup pintu.

“Pria yang mana lagi?”

“Haah, cuma senior yang -YAK! KAU MENGEJUTKANKU!” teriaknya kemudian begitu melihat sosok Jinhyo yang berdiri bersandar pada sofa ruang tengah, menatapnya dengan dingin dibawah penerangan lampu yang temaram.

Gadis itu berdecak seraya menekan saklar, “Sedang apa kau disini?, kenapa tidak menyalakan lampu? Sengaja ingin aku mati muda karena serangan jantung huh?!” semburnya pada sang adik yang membuat emosinya naik.

“Kuharap sih begitu, tapi Tuhan kan tidak selalu berpihak padaku…” balas Jinhyo seraya berbalik, membuka kulkas lantas mengambil sekaleng minuman.

Menyakitkan, siapapun yang mendengar perkataan Jinhyo barusan, meskipun itu hanyalah sebuah candaan, mereka pasti terluka perasaannya. Apalagi Hyojin yang merupakan kakak kandung dari laki-laki itu, pun ucapannya tersebut ditujukan pada gadis itu sendiri. Tapi dengan sebuah helaan napas panjang sudah cukup untuk membuat Hyojin terbiasa akan ‘pedang tajam’ yang keluar dari mulut adiknya. Toh dulu, Hyojin pun tak jauh berbeda dari sikap adiknya sekarang, lebih parah mungkin.

Tangan gadis itu merebut kaleng minuman yang hampir ditenggak oleh Jinhyo, memukul kepala pria itu dengan keras sampai sang empunya mengaduh kesakitan.

“Ini bir!” serunya, “Kau mau memanfaatkan situasi untuk minum ya?. Lagipula ini bukan milikmu, idiot!” Hyojin menaruh kaleng yang sudah terbuka itu kembali pada tempatnya.

“Kau jangan sembarangan mengambil barang dirumah ini!” lanjutnya yang kemudian melangkah pergi ke kamarnya.

Sesaat sebelum ia benar-benar menghilang dibalik pintu, Jinhyo berteriak marah kepadanya, mengatakan bahwa rumah mewah ini juga bukan miliknya, milik Hyojin, jadi dia juga tak pantas untuk memberikan aturan apapun pada Jinhyo. Laki-laki itu bahkan mengejek betapa hebatnya Hyojin bisa mendekati banyak pria tampan yang lalu memanfaatkan kekayaan mereka untuk kepentingan pribadinya, menuduh ini-itu pada sang kakak yang belum tentu apa yang ia katakan adalah benar adanya.

Tapi sekali lagi, Hyojin menarik napas panjang untuk menekan kekesalannya, ia ingin balas berteriak dan mengingatkan pada Jinhyo bahwa perkataannya sudah keterlaluan. Sayangnya Hyojin memilih cara lain untuk menghentikan Jinhyo membuang tenaganya pada hal tak penting semacam itu.

“Kau salah. Si pemilik rumah ini sudah menjadi satu denganku, dia bahkan lebih baik daripada saudaraku sendiri.” Ujar Hyojin tanpa menoleh. Tangan Jinhyo terkepal dan ia hendak mengatakan sesuatu lagi namun Hyojin dengan cepat memotongnya, “Kau yang sedang kesulitan karena luka-luka yang tak mungkin kau tunjukkan pada ayah dan ibu itu… sebaiknya diam sampai pulih. Kalau kau sendiri saja tak dapat melindungi dirimu sendiri, dan malah menyusahkan orang lain sampai harus menyelamatkan manusia tak tahu diri sepertimu, lebih baik hidup dengan tenang… jangan sampai membuat masalah lagi, bodoh!”

Lalu pintu kamar Hyojin dibanting dengan keras, menimbulkan bunyi berdebam yang memekakan telinga. Jinhyo yang marah meninju udara, menarik rambutnya kesal seraya menatap lantai untuk meredakan emosinya. Ia begitu kesal, dan yang membuatnya lebih kesal adalah… dia tidak tahu apakah dia marah atas perkataan Hyojin barusan…

Atau karena dia tak bisa mengucapkan ‘terima kasih’ walapun ingin?.

Seseorang dengan harga diri yang dijunjung tinggi, bahkan terlalu tinggi sampai tak sanggup mengekspresikan betapa dia juga bahagia bisa bertemu dengan saudara yang menjadi teman baik dimasa lalu, betapa dia takut kalau kakaknya berubah menjadi sejahat kakeknya yang sudah membuat keluarga mereka susah selama bertahun-tahun, betapa dia kesal karena merasa Hyojin hanya berpegang pada keajaiban yang mempertemukan mereka tanpa berusaha dari awal.

Bukan hanya Jinhyo, seorang gadis dibalik pintu, yang memeluk dirinya sendiri dengan erat untuk menutupi rasa frustasinya pun sama. Ia tak tahu harus bagaimana setelah ini, ia yang takut akan kehilangan keluarganya lagi, ia yang takut ditinggalkan teman-temannya, ia yang takut akan cintanya sendiri, yang begitu takutnya sampai merelakan cintanya yang bersambut untuk pergi.

Hyojin membekap mulutnya, menahan suara apapun untuk keluar. Gadis itu tak mau sikap angkuh yang sudah susah payah ia tunjukkan menjadi pandangan iba sang adik apabila mendapatinya sedang menangis seperti orang bodoh saat ini.

“Maafkan aku…”

Lirih keduanya, pelan, sampai tak seorang pun dapat mendengarnya kecuali diri mereka sendiri.

***

Suara dentingan sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring memenuhi ruang makan keluarga Tuan Lee. Tak ada percakapan selama makan, karena meskipun sang nyonya rumah menginginkan obrolan ringan sesama keluarga, suaminya pasti tidak senang karena ‘aturan makan’ yang harus keduanya patuhi, dia dan anaknya, Rae Mi.

“Kenapa kau tidak makan, Rae Mi-ah?. Makanannya tidak enak?” namun pada akhirnya nyonya Lee mengeluarkan suara, khawatir pada keadaan Rae Mi yang tampak tak menikmati makannya.

Anak kandung Lee Dae Ryeong itu mendongak setelah sekian lama melamun, menatap masakan buatan ibunya dengan pandangan kosong. Ia pun menggeleng seraya memasang senyum palsu, dan kemudian menjadi ragu apakah dia harus mengatakannya atau tidak. Rae Mi tidak mau merusak acara makan malam yang beruntung sekali ayahnya bisa meluangkan waktu dari jadwalnya yang padat mengurus perusahaan, tapi jika tidak sekarang, maka mungkin dia tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk bicara langsung pada ayahnya mengenai malasah yang baru-baru ini menimpa dirinya… juga Hyojin.

“Ayah-”

“Aku sudah bilang untuk tidak mengobrol saat sedang makan.” Potong ayahnya cepat tanpa meliriknya sekalipun.

“Tapi ayah-”

Kata-katanya kembali terhenti, kali ini ayahnya meletakkan sendok dan garpu yang ia gunakan lalu menatap anaknya dengan tajam.

“Ayah sudah bilang untuk tidak bicara saat makan bukan?. Meski sulit dan ada keadaan mendesak pun jangan kau lakukan, apalagi dihadapan keluarga calon tunanganmu.”

“Memangnya siapa yang akan menikah dengan Yongguk?!” seru gadis itu sambil berdiri, pertama kalinya dia bicara semarah itu pada ayahnya.

“Rae Mi-yah!” sang ibu berusaha menenangkan tapi percuma, gadis itu sudah menahan kekesalannya sejak Hyojin bilang mereka harus mengakhiri pertemanan mereka akibat kelakuan kekanakan sang ayah yang mencoba mencelakakan Jinhyo.

“Lee Rae Mi! jaga sikapmu!” bentak tuan Lee.

Rae Mi mendengus, “Selama ini aku hidup dengan nama Kang Rae Mi, menurut ayah aku akan terbiasa dengan panggilan baru?. Apa ayah tahu betapa sakitnya saat teman-teman dikampus meledekku anak pungut? Cinderella bodoh yang baru ditemukan setelah hidup miskin dari kecil?”

“Bagus.” Respon Lee Dae Ryeong yang membuat terkejut istri dan anaknya, “Ingat nama serta keluarga mereka dengan baik, jadi kau bisa memutuskan kerja sama atau mengubur mereka hidup-hidup. Lagipula, kenapa kau anggap sampah seperti mereka sebagai temanmu? Seorang pemimpin tidak butuh teman… mereka hanya rekan.”

Gadis itu mendelik tak percaya, “Ayah pasti bercanda… ayah! Aku juga manusia! Bagaimana pun juga aku butuh seseorang disampingku selain ayah dan ibu!” balasnya.

“Karena itu ayah menyiapkan anak dari keluarga Kim untukmu.”

“Ayah pikir dengan dijodohkan aku akan bahagia? Karena itu ayah juga membuat Hyojin menderita seperti ini!”

Ayahnya menoleh dan itu membuat Rae Mi sedikit gentar untuk sesaat melihat bagaimana menyeramkan ayahnya, serta membayangkan kekejaman beliau yang sering diceritakan oleh orang-orang, bahkan dialami sendiri oleh Hyojin dan keluarganya.

“Kau dan Hyojin berbeda. Gadis itu cuma anak kurang ajar yang menyusahkan, sedangkan kau anak ayah! Anak kandung ayah! Penerus Lee Dae Ryeong untuk memimpin perusahaan Jaeguk!”

“Aku terkejut ayah bisa bicara seperti itu.” Rae Mi menepis pegangan sang ibu terhadapnya, ia meninggalkan ruang makan dengan langkah kesal sambil mengatakan, “Sekarang aku mengerti kenapa Hyojin begitu membenci ayah.”

***

Pintu kamar Rae Mi terbuka, gadis itu mendongak seraya buru-buru menghapus air matanya begitu sang ibu masuk dengan segelas susu hangat serta senyuman yang tak kalah menenangkan hati.

“Ibu…” lirih Rae Mi dengan suara serak, ia meraih tubuh ibunya lantas memeluk wanita tersebut begitu erat, hampir menumpahkan minuman yang dibawa oleh beliau. Tak lama Rae Mi kembali menangis dipundak ibunya, menumpahkan segala emosi serta betapa sedihnya dia ketika Hyojin mengatakan hal paling menyakitkan yang tak ingin ia dengar.

“Sudah, tenangkan dirimu dulu…” kata nyonya Lee, menepuk punggung Rae Mi dengan lembut, membawanya duduk diatas kasur seraya meletakkan segelas susu yang ia bawa diatas nakas.

“Hal yang sama terjadi lagi, aku… benar-benar tidak ingin kehilangan teman-temanku.” Tangisnya kembali datang, “Ibu juga tahu, Hyojin dan teman-teman yang sekarang… aku tidak mau kehilangan mereka seperti dulu karena kebodohanku… aku tidak mau membuat mereka membenciku…”

Gadis itu menutup mata, dimana mau tak mau kenangan menyakitkan masa lalu soal pertemanannya muncul lagi. Ketika dia dan Hyojin bertengkar hebat karena seorang pria juga ketika ingatan tentang gadis-gadis berseragam SMA yang sering menghantuinya beberapa waktu ini. Dan sebelum Rae Mi benar-benar mendapat ingatannya yang sempat hilang sepenuhnya, sang ibu segera menenangkan anaknya pun mengalihkan pikiran Rae Mi dari masa lalu yang juga membuat nyonya Lee banyak terluka perasaannya.

“Semuanya akan baik-baik saja Rae Mi-ah… semoga…”

***

Dosen Im baru saja menyelesaikan kelasnya hari ini, beliau mengucapkan salam kepada tiga puluh lima muridnya kemudian keluar meninggalkan ruangan berisi mahasiswa yang sibuk berkumpul untuk menyelesaikan tugas dadakan yang dikumpulkan hari ini, walau beberapa nampak acuh dan santai karena sudah menyelesaikannya. Termasuk Hyojin yang kini melenggang santai keluar kelas dan langsung diserbu oleh kedua sahabatnya.

“Yak! Lee Hyojin!” panggil Sehun sambil berlari kecil sementara Jong In kepayahan mengemasi isi tasnya yang berhamburan kelantai akibat bertabrakan dengan mahasiswa lain.

“Kudengar kau habis berkelahi kemarin?” tanya pria rupawan itu cemas. “Kau baik-baik saja?”

“Yak Lee Hyojin! Setelah lama tak berolahraga kini kau mau membuat masalah dengan berandalan lagi huh?!” timpal Jong In yang sudah selesai dengan urusannya tadi.

Hyojin berdecak sambil mengangkat tangannya seolah akan memukul kepala pria berkulit kecoklatan itu, “Aigoo! Memangnya kapan aku pernah membuat masalah dengan berandalan huh?!”

“Mau kuceritakan lagi aib masa lalu?, kalau dibahas sekarang akan panjaaaaang sekali dan kau akan mengalihkan pembicaraan!” Jong In tersenyum bangga karena tak terpengaruh oleh perkataan Hyojin, “Jadi, kenapa kau berkelahi kemarin dan tak menghubungi kami?”

“Bukan kemarin, bodoh!, tapi dua hari yang lalu!” sanggah gadis itu.

“Karena itu!, kenapa?” tanya Sehun lagi, dengan nada mengintimidasi. Tapi Hyojin cukup paham bahwa itu adalah kepedulian Sehun yang khawatir akan keadaannya.

“Aku baik-baik saja, sobat!” serunya sambil menepuk bahu tegap Oh Sehun, “Kau sibuk beberapa hari ini, apalagi soal pertemuan keluargamu yang sulit ditunda, jadi aku berencana mengatakannya saat kalian sudah dalam keadaan yang lebih baik.”

“Jadi menurutmu, keadaanku sedang tidak baik?!” kesal Jong In yang merasa Hyojin menyindirnya soal ‘kesibukannya’ melupakan mantan kekasihnya.

Sehun menginterupsi, “Memang teman harus menunggu teman lainnya senggang baru mengatakan bahwa dirinya terluka bahkan hampir mati ya?”

Hyojin terdiam, tidak tahu harus menjawab apa karena apa yang Sehun katakan sudah menohok hatinya. Dari awal dia membawa Jinhyo ke apartement Sehun tanpa meminta izin sang pemilik rumah, ia berencana untuk tak menceritakannya pada Sehun, menunggu luka Jinhyo sembuh lalu membawa adiknya kembali kerumahnya sendiri lantas merahasiakannya pada kedua sahabatnya. Toh, Sehun tak akan punya waktu sampai sebulan untuk datang ke apartementnya.

“Kami sudah bersabar dengan tidak memaksamu membiarkan kami berkunjung menemui orangtuamu selama beberapa tahun sejak kau menemukan keluargamu, dan sekarang kau mau bermain rahasia lagi dengan kami?”

Jong In yang awalnya emosi jadi kalang kabut ketika Sehun nampak lebih marah daripada dirinya, ia tak mau Sehun semakin salah paham sebelum Hyojin menjelaskan semuanya. Pria itu juga tidak mau melihat marahnya ‘orang sabar’ semacam Sehun.

“Y-yak… lebih baik kau jelaskan sekarang, gadis berandal!”

Hyojin berdecak pada Jong In, “Oke, oke. Waktu itu aku mengikuti Yongguk dan dua cecunguknya, kupikir ada masalah besar karena mereka nampak tegang, dan ketika berada ditempat yang mereka tuju… adikku dan Rae Mi disekap oleh berandalan yang satu SMP dengan adikku dulu.”

“Seharusnya kau diam saja dan biarkan Yongguk dan dua cecunguk itu menyelesaikannya!” kata Jong In sambil menyentil dahi Hyojin.

“Yak!” keluhnya, tapi tak berlangsung lama karena ekspresi Sehun masih menunjukkan bahwa dia masih menuntuk kejelasan lebih lanjut. “Ja-jadi yah, karena aku juga butuh menyelamatkan adikku, aku tak mau berpangku tangan. Jumlah premannya juga ada banyak, karena itu aku berniat untuk membantu.”

“Sudah? Itu saja?” tanya Sehun dingin sambil bersedekap.

Hyojin mengangguk yakin, meski dia merahasiakan tentang alasan mereka menyekap Jinhyo dan Rae Mi, bahwa kakeknya juga merupakan dalang penculikan dua orang itu. Ia hanya tak mau membebani Sehun juga Jong In jika lagi-lagi ada masalah menyangkut presir Jaeguk itu.

“Hyojin, aku berharap kita tidak menyembunyikan apapun sebagaimana aku mengatakan segalanya yang terjadi padaku. Aku hanya tidak ingin kesalahpahaman merusak pertemanan kita…” Sehun memegang kedua bahu Hyojin dan menatapnya dengan lembut seraya tersenyum hangat.

Hyojin membalas senyuman tersebut lalu mengangguk. Sudut matanya menangkap sosok jangkung yang ia kenali, gadis itu menoleh dan segera menyapanya sebelum pria itu hilang dan menjadi sulit ditemui disaat ujian semester untuk mahasiswa tahun pertama hendak dimulai.

“Yak! Park Chanyeol!” serunya keras, membuat Jun Hong serta Himchan yang berpapasan dengan gadis itu jadi terkejut setelah apa yang terjadi pada dua orang tersebut didepan mereka dua hari yang lalu.

“Kukira, Hyojin tak akan pernah menyapa Chanyeol untuk selamanya setelah ungkapan kebenciannya waktu itu.” Gumam Jun Hong.

Himchan tak mengalihkan pandangannya dari Hyojin yang kini menyapa Chanyeol yang juga terkejut atas sikap tiba-tiba gadis itu.

“Yah… kukira juga begitu…”

Jong In menepuk punggung Sehun, “Bukannya jawaban gadis itu masih belum lengkap?”

Sehun pun menatap gadis yang sudah sangat lama menjadi sahabatnya itu, “Aku tahu, aku hanya ingin menunggu dia sendiri yang mengatakannya… saat dia sudah siap.” Kemudian menarik Jong In pergi untuk mengikuti kelas berikutnya.

***

Chanyeol terdiam seraya menatap Hyojin dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia merasa sedikit lega, bingung, pun kesal karena Hyojin tak dapat dimengerti olehnya.

“Wah, apa-apaan ini?, mentang-mentang jadi asisten dosen mulai sombong ya?, disapa malah diam saja!” goda Hyojin, menyikut perut Chanyeol dan membuat pria itu agak kesakitan.

“Oh, iya, soal kemarin aku minta maaf. Waktu itu aku terlalu emosi ya, hahahaha!”

Chanyeol masih tidak bereaksi, dan malah membuat keadaan semakin canggung. Hyojin bingung harus bicara apa lagi, ia memutar otaknya, berpikir amat keras lalu memutuskan untuk pamit saja daripada mengobrol dengan ‘patung’ yang menatapnya.

“Kalau begitu, aku permisi asisten dosen!” kemudian berjalan melewati Chanyeol.

“Semudah itu?”

Hyojin berbalik, “Huh?”

Chanyeol menatapnya intens, nampak kilatan amarah disudut matanya.

“Semudah itu kau bilang maaf?”

Hyojin agak tersinggung dengan bagaimana Chanyeol mengatakannya.

“Lalu kau mau aku bagaimana?”

“Kenapa kau begitu sulit dimengerti?”

“Hah?” Hyojin mulai kesal karena Chanyeol malah mengalihkan pembicaraan, “Kau ini bicara apa sih?”

“Kau yang pertama bilang suka padaku, lalu kau juga yang memutuskan hubungan kita dan sekarang kau minta maaf. Semudah itukah aku bagimu?”

“Jadi sekarang, kau mau aku melakukan apa?”

Chanyeol mendengus, “Hyojin-ah, tidakkah kau sadar bahwa orang lain juga terluka perasaannya oleh sikap semena-mena dirimu?”

Hyojin tak terima, “Yak! apa maksudmu semena-mena?!”

“Kau memutuskan segalanya atas keinginanmu, bukan atas apa yang diinginkan orang lain. Menurutmu, apa yang kau pilih itu sudah benar?”

“Terserah!” Hyojin berbalik.

Chanyeol bicara untuk yang terakhir kali sebelum dia juga pergi melakukan pekerjaannya.

“Aku tidak tahu sebanyak apa kau berubah semenjak aku pergi. Tapi… ini terlalu banyak.” Ia pun pergi tanpa menoleh lagi pada gadis itu.

Sementara Hyojin kembali berbalik seraya menatap hilangnya punggung Chanyeol dibalik koridor, sebelum akhirnya pergi ke arah berlawanan dari pria tingi tersebut.

~To Be Continue~

Doakan saya sehat selalu supaya bisa update FF ini tepat waktu sampai ‘The End’ readers-deul, soalnya akhir-akhir ini selain kena penyakit ‘males’ author juga sering sakit kepala kalau kelamaan hadap-hadapan sama laptop kekeke~

Okedeh, selamat menikmati FF TOPIY and…

RCL Juseyooooo~~~~

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 24”

  1. duhhhhhh…. bang ceye jan marah2 gitu dong hati ku serasa mencelos membaca perkataan mu disini. kak tetep sehat y supaya bisa ngelanjutin topiy HWAITINGGGGG!!!!!!

  2. hahh aku juga gk ngerti yeol.. prasaan aku ya tetep gini” aja
    kamu tuh yg kebanyakan berubah.. (warna rambut)
    yg semakin hari semakin membuat gejolak dihatiku.. ////paan siiiii///maaffff gaje ////

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s