[EXOFFI FREELANCE] Secret #1 My Marriage (Chapter 2)

SECRET

#1 MY MARRIAGE

[ THEY NEVER KNOW ]

Title : SECRET #1 My Marriage

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO) as Byun Baekhyun, Kim Jisoo (BLACKPINK) as Park Seolhyun

Genre : Romance, Family

Rating : PG + 16

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri yang terinspirasi dari beberapa novel atau bahkan fanfic yang pernah aku baca. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita SECRET #1 My Marriage.

Credit poster by @hyekimxxi

Cerita Sebelumnya : Prolog – > Chapter 1 ( Unfair )

Seolhyun dan Baekhyun sudah berganti pakaian dan siap untuk pergi ke swalayan terdekat untuk membeli bahan makanan yang sudah habis di apartemen mereka. Dikarenakan Baekhyun tidak membawa mobilnya, membuat mereka tidak ada pilihan selain berjalan kaki untuk menuju halte bis terdekat karena swalayan terdekat berjarak sekitar lima kilometer.

Sepanjang perjalanan menuju lobi apartemen, tangan mereka tidak pernah terlepas sedikit pun. Canda dan tawa saling mereka lemparkan terhadap satu sama lain. Menambah keharmonisan rumah tangga mereka selama ini.

Lingkungan tempat tinggal yang dipenuhi orang-orang kelas atas membuat Seolhyun maupun Baekhyun berjalan dengan santainya di lobi gedung apartemen tanpa harus memikirkan apa pendapat orang lain. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi sesama penghuni gedung apartemen. Kekurangpedulian terhadap tetangga apartemen, membuat mereka kurang mengenal satu sama lain. Bahkan sampai tidak mengenal sama sekali.

Hal ini juga ditambah dengan sistem perlindungan terhadap privasi para penghuni apartemen membuatnya semakin tertutup antar sesama penghuni. Hanya beberapa orang penjaga keamanan saja yang kadang menyapa Seolhyun ataupun Baekhyun. Itu juga dikarenakan Seolhyun atau Baekhyun yang dulunya sering menyapa mereka terlebih dahulu. Seperti sekarang ini.

“Selamat siang,” sapa seorang petugas keamanan yang sudah senior menyapa Seolhyun dan Baekhyun.

Langkah mereka pun berhenti seketika, lalu menengok ke arah sumber suara. Senyuman terbit di bibir ketiganya ketika pandangan mata mereka bertemu.

“Selamat siang juga, paman Han,” sapa Seolhyun dengan cerianya.

“Kalian mau pergi ke mana?”

“Kami mau pergi ke swalayan,” jawab Baekhyun.

“Dengan berjalan kaki?”

“Hanya sampai halte bis,” jawab Seolhyun kali ini.

“Kenapa tidak pesan taksi saja?”

“Sekalian memperbanyak jalan kaki paman. Bukankah orang yang akan mendekati melahirkan harus banyak berjalan kaki?” ucap Seolhyun sambil menampilkan senyuman terlebarnya karena pria hampir paruh baya di depannya itu masih memandangnya tidak setuju. Walaupun menyiratkan ketidaksetujuan, paman Han tidak berkata apa-apa lagi selain menyuruh agar Seolhyun lebih hati-hati dan Baekhyun lebih menjaga Seolhyun lagi. Setelah berbincang sebentar, mereka berdua pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka.

“Paman Han memang yang terbaik,” ucap Seolhyun dengan pandangan menerawangnya. Memang selama mengenal paman Han, Seolhyun sudah merasakan perhatian yang berlebih dari pria yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri. Apalagi setelah mengetahui keadaannya yang sedang hamil.

“Dia memang selalu baik pada kita,” jawab Baekhyun karena tidak sanggup melihat gurat kesedihan lebih lama lagi di wajah istrinya. Jika saja malam itu tidak terjadi, mungkin Seolhyun masih berkumpul dengan keluarganya di Jerman. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Mereka hanya tinggal menikmati kehidupan yang mereka jalani saat ini.

Baekhyun masih ingat betapa murkanya orangtua Seolhyun ketika mereka mengetahui anak gadis mereka tengah hamil diusianya yang masih belia. Mereka berdua dipaksa menikah, dan sebagai hukumannya, tidak ada lagi fasilitas mewah yang bisa mereka nikmati kecuali satu buah apartemen, satu unit mobil, dan uang bulanan yang hanya pas untuk makan mereka sehari-hari, dan sekolah yang terbaik.

Tinggal di kawasan apartemen mewah bukan berarti mereka hidup dengan mewah, mereka harus mengerjakannya sendiri. Seolhyun yang tidak biasa mengerjakan pekerjaan rumahtangga pun dipaksa untuk belajar. Begitu juga Baekhyun, ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai seorang pelayan di salah satu kafe jika malam tiba.

“Hei,” panggil Seolhyun sambil mengusap lengan suaminya itu saat dirasanya Baekhyun tetap diam, seperti orang yang sedang melamun. “Apa yang sedang kau lamunkan hingga kau tak sadar kita sudah sampai?” tanya Seolhyun lagi.

Baekhyun hanya tersenyum simpul sambil membelai puncak kepala Seolhyun. “Tidak ada,” bohong Baekhyun yang mengundang decakan kesal dari istrinya itu. Belum sempat Seolhyun melayangkan protesannya, bus yang mereka tunggu akhirnya tiba.

Seperti angin lalu, perdebatan kecil mereka pun hilang seketika. Seolhyun kembali bersikap seperti biasanya seolah ia tidak pernah kesal pada Baekhyun beberapa menit sebelumnya.

Mereka pun sampai di swalayan yang dituju. Baekhyun segera mengambil troler sebagai tempat menyimpan makanan yang akan mereka beli.

Genggaman tangan Seolhyun tidak pernah lepas dari lengan Baekhyun.  Hal ini membantunya untuk berjalan.  Semakin bertambahnya usia kehamilannya, semakin kesusahan juga ia dalam melakukan aktivitasnya.

Dengan dibantu Baekhyun, mereka memilih beberapa jenis buah-buahan,  sayuran, hingga perlengakapan sehari-hari lainnya. Tidak jarang orang-orang yang berpapasan dengan mereka, menatap penasaran, heran, kadang juga mencemooh.

Bisikan-bisikan menyakitkan tidak lagi menjadi beban pikiran bagi Seolhyun maupun Baekhyun. Mereka terlalu terbiasa. Wajah mereka yang masih terlalu muda dan bukti kehamilan Seolhyun yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi membuat siapa saja bisa melihatnya dengan jelas. Walau terkadang ada yang menanyakan berapa usia mereka sebenarnya, baik Seolhyun maupun Baekhyun hanya tersenyum sebagai jawaban.

Mengucapkan sebuah kebohongan disaat Seolhyun sedang hamil merupakan pendidikan yang tidak baik untuk calon bayi mereka. Seolhyun dan Baekhyun sepakat ingin mendidikan calon anak mereka sedari dalam kandungan. Untuk itu, mereka mulai menerapkan dari hal-hal kecil. Seperti tidak pernah berbicara berbohong kepada siapa saja. Mungkin bagi sebagian orang sesekali berbohong tidak apa. Tapi jika sebuah kebohongan diikuti dengan kebohongan dan kebohongan lainnya, maka itu sebuah bencana.

“Ada lagi yang ingin kau beli?” tanya Baekhyun pada Seolhyun yang tengah asyik memilah-milih daging mana yang akan ia beli.

Seolhyun yang masih sibuk dengan pikirannya pun hanya mengangguk malas. “Hm… Aku rasa kita perlu tambahan popok dan baju bayi.”

Baekhyun membulatkan matanya mendengarkan jawaban dari istrinya itu. “Bukankah seharusnya semuanya sudah siap? Apalagi yang kurang?”

Seolhyun menghentikan acara memilihnya. Ia mengernyitkan keningnya menatap Baekhyun yang masih setia berdiri di sampingnya. “Kau tidak mau mengeluarkan uangmu untuk anakmu sendiri?” tanya Seolhyun dengan nada tajamnya yang sukses membuat Baekhyun gelapan tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jika sudah seperti, ia hanya bisa diam menuruti apapun kemauan Seolhyun.

“T-tidak… Hanya saja… ” kalimat Baekhyun terpotong karena Seolhyun semakin menyipitkan matanya. Hembusan napas panjang pun keluar dari mulutnya, karena ia tidak bisa berkutik sama sekali. “Terserah… ” ucapnya pada akhirnya yang langsung memunculkan senyuman lebar di bibir Seolhyun.

“Terima kasih, appa,” ucapnya sambil mengecup bibir Baekhyun. Mode cerianya sudah kembali seperti semula. “Ayo.” ajak Seolhyun setelah ia berlama-lama menentukan daging mana yang akan ia beli.

Setelah selesai membayar, Seolhyun mengajak Baekhyun ke bagian swalayan yang menjual pakaian. Terutama pakaian bayi. Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat betapa antusiasnya Seolhyun tiap kali mereka ke bagian perlengkepan bayi. Jiwa shopaholicnya tengah kambuh lagi.

Baekhyun mengamati Seolhyun dari jarak yang tidak terlalu jauh. Bibir Baekhyun melengkung otomatis tatkala ia melihat beberapa ibu hamil seperti Seolhyun terlihat berbicara dengan istrinya itu. Entah apa yang mereka bicarakan, Baekhyun tidak mengerti. Tertawa bersama seakan mereka berbagi keluhan yang mereka derita selama masa kehamilan ini.

Saat seperti inilah yang bisa membuat Baekhyun tenang. Di sini ia bisa melihat Seolhyun tanpa beban. Bercengkerama sepuasnya, seperti dirinya biasanya. Seolhyun tidak perlu berpura-pura menulikan kedua telinganya karena tidak ada yang mencemooh atau bahkan menghina karena keadaannya. Tidak ada yang menghujatnya tanpa tahu perjuangan apa yang telah dilewatinya diumurnya yang masih sangat muda.

Entah sudah berapa lama Baekhyun hanya terdiam sambil mengamati Seolhyun yang tengah memilih pakaian buat bayi mereka. Dapat dilihatnya wajah sumringah Seolhyun ketika ia sudah mendapatkan apa yang ia mau.

Kebahagiaan Seolhyun pun seakan virus yang bisa menular, karena saat ini Baekhyun pun ikut tersenyum kearahnya. Baekhyun merengkuh tubuh Seolhyun dan mengecup bibir cepat.

“Sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?”

Pertanyaan Baekhyun hanya dijawab dengan anggukkan penuh semangat dari Seolhyun.

“Aku membeli dua popok dan dua baju. Mereka tidak mengeluarkan pakaian atau perlengkapan bayi lainnya yang menarik perhatianku,” adu Seolhyun dengan wajah masamnya.

Baekhyun menaikan sebelah alisnya mendengar jawaban itu. “Jadi kau membuatku menunggu selama lebih dari satu jam hanya untuk membeli dua popok dan dua baju bayi saja?”

Anggukan polos yang ditunjukkan Seolhyun membuat Baekhyun harus menahan napas.

Oke Baek, istrimu sedang hamil. Jangan melakukan apapun yang bisa menyulut emosinya.

Kau marah?” tanya Seolhyun karena Baekhyun tetap diam sambil memandangnya.

Senyuman manis terukir di bibirnya, lalu merapatkan tubuh mereka. Baekhyun mengecup sekilas pucuk kepala Seolhyun. “Tentu saja tidak. Kau boleh membeli apapun yang kau mau untuk keperluan calon bayi kita.”

Seolhyun mengurai pelukan mereka. Sedikit menjauhkan wajahnya untuk menatap langsung di mata Baekhyun. “Kalau begitu ayo kita pulang. Aku lapar.”

Seolhyun langsung menarik pergelangan tangan Baekhyun untuk segera pulang ke apartemen mereka.
Satu hal yang Seolhyun tidak tahu, jika Baekhyun mengetahui apa maksud dari tujuan Seolhyun.

Berapa pun uang yang kau keluarkan jika itu bisa membuatku melihat senyumanmu lagi, maka aku tidak masalah. Akan aku lakukan apapun itu. Mereka tidak pernah tahu seberapa tangguhnya dirimu, karena mereka tidak pernah mengenalmu.

 

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret #1 My Marriage (Chapter 2)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s