Rooftop Romance (Special Chapter – When it Rains) – Shaekiran

rooftopromancehappy.jpeg

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol (EXO)

 

Other Cast

Sehun, Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life? Work Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 |Chapter 26 |Chapter 27|Chapter 28 | Chapter 29 |Chapter 30 |Chapter 31 |Chapter 32 |Chapter 33|Chapter 34|[NOW] Special Chapter – When It Rains

catatan : untuk mereka yang sering berburuk sangka kepada Chanyeol, eki suguhkan sebuah special chapter berisi isi hati terpendam kakanda caplang. Ini sekaligus permintaan maaf eki yang php ya. selamat membaca.

———————————————————
☔☔☔

Hari-hari di Newyork membuat lelaki itu sedikit berbeda. Setelah setahun lalu sebuah burung besi raksasa membawanya pergi mendarat di Negeri Paman Sam itu, Chanyeol, yang dulunya sedikit kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda pun sudah dapat berperilaku seperti penduduk Amerika lainnya.

Seperti sekarang, saat Chanyeol turun dari sebuah taxi dan mengibarkan payung hitamnya setelah membayar argo kendaraan berwarna biru muda itu. Langkah perlahan Chanyeol menuju universitas tempatnya menimba ilmu pun sedikit terhalang karena kerumunan manusia yang berlalu lalang dengan payung bermacam warna di tangan. Musim hujan Newyork memang sedikit menyebalkan. Bahkan mantel coklat yang Chanyeol pakai sedikit basah karena hujan deras yang memenuhi pagi itu.

“Selamat pagi.” Sapaan ringan itu dilontarkan Chanyeol kepada seorang guru piket yang ia kenal, Miss Isabella yang juga baru sampai di pelataran kampus sambil menggengam cappucino panas di tangan kiri sementara tangan kanannya memegang sebuah payung berwarna merah muda.

Miss Isabela nampak mendongak sebentar sebelum akhirnya mengangguk disertai senyum tipis ketika menyadari sosok dibalik payung hitam yang menyapanya itu adalah Chanyeol—atau penghuni kampus mengenalnya sebagai Peter Park—, salah satu mahasiswa asal Asia yang cukup menarik perhatian karena termasuk yang terbaik di fakultasnya.

“Selamat pagi, Peter.” Sapa balik Miss Isabella dengan riang sambil melangkahkan kaki bersebelahan dengan pemuda tinggi itu. Keduanya pun berjalan beriringan menuju kantor tata usaha, sebelum akhirnya Chanyeol pamit karena harus belok kanan dari gedung tata usaha untuk sampai di gedung fakultasnya.

Hujan masih mengguyur Newyork hingga Chanyeol tiba di kelasnya dan duduk di salah satu bangku di deretan ketiga. Pria itu menutup payungnya dan meletakkan benda berwarna hitam itu di sebuah keranjang khusus yang sudah disediakan di balik pintu. Sudah seminggu hujan mengguyur Newyork dan sudah seminggu pula Chanyeol bertahan dengan payung hitam kesayangannya.

Chanyeol membuka buku tebal yang ia bawa di dalam tas ranselnya, lalu mulai membaca lembar per lembar halaman buku bersampul coklat itu dengan semangat. Kelas bahkan masih sangat pagi dan masih Chanyeol saja penghuni kelas itu, tapi Chanyeol tidak peduli dan tetap membaca. Setelah lebih kurang satu jam bergelut dalam buku, dua orang teman sefakultas Chanyeol masuk dan terkaget-kaget karena menemukan sosok Asia itu sudah dengan tenang membaca buku di dalam kelas.

“Kau datang pagi sekali. Ku pikir kami adalah penghuni pertama, tapi rupanya kau, Peter , lebih bersemangat lagi.”

Chanyeol tertawa ringan menyambut pujian entah hinaan yang dilontarkan Jessie, juga Mark yang terkekeh di sebelah gadis berkulit tan itu. “Bagaimana dengan penelitian mengenai masyarakat yang jadi susah bangun di musim hujan?” ucap Chanyeol random sambil tetap bergelut dalam bukunya, tanpa bersusah payah menatap Jessi barang sedetik pun.

“Dasar dingin,” balas Jessie kesal sambil menghentak kakinya berjalan menuju bangku deretan terakhir. Mark hanya mengerlingkan mata sambil tetap mengikuti gerak sang kekasih menuju bangku belakang, sementara Chanyeol tidak merespon berlebihan. Lelaki bermarga Park itu kembali bergelung dengan buku tebal bersampul coklatnya.

Fakultas kedokteran memang penuh dengan para kaum muda bermulut tajam dan punya bibir nyirnyir, jadi Chanyeol tidak pernah ambil pusing dengan semua ucapan menyindir yang ia terima. Jangan kira karena ras Asia yang ia punya Chanyeol tidak pernah mendapat diskriminasi, bahkan ia sangat sering dikucilkan. Tapi Chanyeol masa bodoh. Ia hanya akan terus belajar dan balas berkata tajam. Setidaknya dia masih bisa membalas kesarkasan manusia itu dengan kalimat setajam biluh pedang miliknya yang cukup pandai berbalas kata. Pun jika benar-benar kesal, Chanyeol akan mengumpat menggunakan bahasa ibunya yang tidak seorang pun mengerti. Yah, tujuh puluh persen Chanyeol baik-baik saja di kota itu dan bisa menjalani hari-harinya dengan normal.

Setengah jam kemudian kelas mulai terisi penuh. Chanyeol melirik jam yang melingkari tangan kirinya sambil tersenyum kaku. Dua menit kemudian sosok seorang proffesor tua masuk ke dalam kelas dengan langkah pelan dan mulai mengabsen para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah hadir. Chanyeol menghela nafasnya dalam-dalam. Minggu kemarin diadakan sebuah ujian akhir semester yang sepuluh besarnya akan mendapat reward kunjungan dan wawancara dengan Proffesor David dari John Hopkins yang terkenal di bidangnya selama libur akhir semester nanti. Chanyeol hanya sedang berharap-harap cemas namanya ada diantara daftar kesepuluh besar itu.

“Peter Park.”

Chanyeol berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju ke depan kelas, menerima selembar kertas dari Proffesor Mueller yang sudah berusia lebih dari setengah abad. Rambut putihnya nampak makin menyeramkan bagi Chanyeol ketika menemukan raut menyerngit dari proffesor yang mengajar mata kuliah wajib untuk fakultas kedokteran itu.

“Selamat.” Chanyeol terdiam, lalu menatap Proffesor dengan mata bingung. “Kau peringkat pertama. Persiapkan dirimu, minggu depan kau akan ke John Hopkins.” Lanjutnya yang membuat Chanyeol ingin berteriak sekarang juga jika dia tidak ingat sedang berada di mana. Finalnya Chanyeol hanya mengangguk sambil tersenyum lebar, menyalami Proffesor Mueler sebelum akhirnya kembali duduk di bangkunya dengan hati berbunga-bunga.

➖☔☔☔➖

Chanyeol tengah duduk di dalam perpustakaan ketika ia mendapatkan pesan lewat ponsel pintarnya. Tak ayal Chanyeol pun menutup buku yang tengah ia baca dan mulai mengecek pesan singkat yang masuk itu. Tak banyak yang mengetahui nomor Chanyeol, hanya sebagian kecil teman kuliahnya dan beberapa tetangga flat-nya saja, juga keluarganya di Seoul pun jarang menghubungi karena Chanyeol sudah berpesan bahwa ia yang akan menghubungi keluarganya jika terjadi sesuatu. Jadi Chanyeol bisa menduga pesan yang masuk itu adalah sebuah pesan yang cukup penting.

Dahi Chanyeol mengerut ketika menemukan nama yang cukup sering menghiasi layar ponselnya menjadi pengirim pesan yang baru saja ia terima. Dengan cekatan jemari Chanyeol membuka pesan itu dan mendapati sebuah potret seorang gadis yang tersenyum kaku sebagai objek utama foto. Chanyeol lantas membaca satu per satu kalimat yang dituliskan dengan huruf hangul itu lalu tersenyum lebar.

"Dia sedang tes ujian Universitas Harvard, sepertinya dia cukup gugup

“Dia sedang tes ujian Universitas Harvard, sepertinya dia cukup gugup.”

Satu minggu setelahnya, Chanyeol tengah berada di dalam mobil bersama kesembilan teman-temannya ketika sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponselnya. Ada sebuah foto lagi yang membuat hati Chanyeol menghangat.

"Dia lulus di jurusan bisnis

“Dia lulus di jurusan bisnis. Dia akan mulai kuliah minggu depan.”

Langsung saja ia membatin. Semester depan tidak akan semencekam semester sebelumnya.

➖☔☔☔➖

“Ini ruangan Proffesor David.”

Kesepuluh manusia berseragam jas putih itu mendadak harap-harap cemas. Mereka semua mendadak memegangi jantungnya yang tiba-tiba berdegup sangat cepat ketika seorang asisten membukakan pintu coklat ruangan di depan mereka. Proffesor Mueler tidak ikut dalam kunjungan ini karena ini adalah kunjungan mandiri, jadi mereka tidak akan punya harapan pembelaan dari proffesor mereka jika semisal salah bicara pada Proffesor David.

Chanyeol mengikuti langkah teman-temannya yang sudah masuk ke dalam ruangan itu dengan hati berdegup kencang. Ia masuk paling terakhir, lalu menutup pintu dengan sangat pelan. Chanyeol menatap lurus ke depan, tersenyum, sebelum akhirnya seseorang yang tak asing di matanya mencuri atensinya sepenuhnya dari celotehan Proffesor David yang beramah-tamah dengan mereka.

Chanyeol membuang muka, berusaha fokus dengan ucapan Proffesor David sambil sesekali mencatat apa yang menurutnya penting. Setengah jam terlewati dengan aman karena pencuri atensi Chanyeol nampak hanya diam tanpa membuka mulut. Akhirnya, tepat pada menit ketiga puluh, wawancara super singkat itu selesai. Chanyeol beserta rekannya yang lain mengucapkan terima kasih sambil menyalami Proffesor David, tapi tidak dengan si pencuri atensi karena mendadak orang yang sangat Chanyeol kenali itu menerima telfon mendadak dan mengharuskannya melewatkan acara bersalam-salaman.

Di luar ruangan, nampak rekan-rekan Chanyeol mulai berbisik-bisik tidak percaya. Ada yang berbisik mengenai cara bicara Proffesor David yang benar-benar lantang dan tidak ada keraguan, juga berbisik mengenai sosok yang ada di sebelah proffesor itu. Ah, memangnya siapa yang tidak mengenal nama Michael Son di negeri itu? Michael Son, seorang pemuda keturunan Asia yang merintis Star Empire hingga menjadi perusahaan multinasional paling berjaya yang pernah ada. Konglomerat yang mungkin selama tujuh turunan delapan tanjakan tidak akan pernah kehabisan keping-keping dollar.

“Itu benar pengusaha yang ada di berita pagi? Astaga, aku tidak percaya kita bisa bertemu dengannya di ruangan Proffesor David!” Calvin berucap heboh, sementara Chanyeol hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan.

Hm, benar juga. Tapi untuk apa dia di sana? Apa ia sakit?”

“Tidak, tidak mungkin. Mungkin mereka adalah kenalan lama? Atau Michael mungkin tengah berkonsultasi dengan dokter pribadinya? Bisa saja konglomerat sepertinya punya dokter pribadi sehebat proffesor David, kan?” Calvin menolak argumen Dean dengan keras. Sementara Chanyeol masih diam sambil mencerna apa yang baru saja terjadi.

Dari begitu luasnya Negeri Amerika ini, kenapa mereka bisa bertemu dalam kebetulan paling tidak mungkin di dunia? Rumah sakit? Oh, apa mungkin Dean benar? Atau argumen Calvin yang pantas untuk ia pertimbangkan? Chanyeol sama sekali tidak paham dengan duduk perkara yang ia hadapi sekarang.

Satu helaan nafas kasar pun Chanyeol lontarkan setelahnya. Berat, ia berat untuk bertemu dengan Tuan Son yang semakin menua itu. Sungguh berat mengingat luka lama yang tak kunjung sembuh. Terlebih ketika ponselnya berdering dan menampilkan sebuah nomor asing. Tanpa banyak berpikir, Chanyeol menggeser tombol hijau di layar ponselnya.

Hello?” sapanya menggunakan bahasa inggris yang fasih.

“Ini aku, Son Michael.” Dan mendadak, Chanyeol menegang ketika mendapati suara berat itu yang menjawab sapaannya.

➖☔☔☔➖

Bagai ditarik ke masa lalu, Chanyeol kini duduk berhadapan dengan Son Michael di sebuah café bernuansa hitam putih dengan interior elegan, khas monokrom. Belum ada percakapan yang menguar bahkan hingga dua buah kopi dengan asap yang masih mengepul tiba di atas meja keduanya. Chanyeol sendiri bingung, entah bagaimana ia dengan mudah menyetujui ajakan Michael untuk berbicara empat mata jika akhirnya mereka hanya akan saling diam seperti ini.

“Kupikir kau mungkin menyewa café ini karena hanya ada kita berdua di sini.”

Chanyeol membuka suara, entah keberanian dari mana. Michael nampak menanggapi dengan ringan. Percakapan setelahnya pun mengalir cukup lancar, hingga menyerempet ke sebuah konversasi paling tabu diantara kedua pria berbeda masa itu.

“Omong-omong Harvard—” Chanyeol menghela nafas. Ia sudah tau apa kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Michael. “Wendy juga sekarang sedang kuliah di Harvard, jurusan bisnis.”

Di dalam hati Chanyeol menggumam, tanpa kau beritahu aku sudah tau Wendy akan kuliah di Harvard.

Dengan kikuk Chanyeol menggaruk tengkuknya, berpura-pura kaget. “Ah, benarkah? Aku tidak tau kalau kami satu kampus,” ucapnya kemudian dengan gugup, takut kepura-puraannya diketahui oleh Michael.

“Aku tau ini sudah sangat lama sekali. Tapi entahlah, aku rasa kau memang yang paling tepat untuk itu.” Chanyeol memandang Michael dengan raut bingung. Kemana kira-kira percakapan ini akan berlabuh?

“Ini pertanyaan yang tidak pantas dan tidak tau diri, tapi Chanyeol, maukah kau menjawab jujur pertanyaanku ini?” Jantung Chanyeol mendadak berdegup dengan sangat kencang sembari ia mengangguk tanda setuju. Oh, sungguh. Jangan ada kata larangan lagi setelah sekian tahun Chanyeol hidup dalam diam dan hanya memandangi Wendy dari jauh.

“Apa kau masih mencintai putriku?”

Dan bagai ditarik kembali ke masa lalu, Chanyeol terasa terhempas ke dalam jurang dalam yang begitu gelap. Rasa sakit itu kembali hinggap dan mulai menggerogoti luka lama yang tak pernah hilang dari memori.

Ia tidak pernah menduga pertanyaan semacam itu akan menguar dari bibir tua Michael. Chanyeol memandangi mata coklat milik Michael yang kian merabun, seakan mencari tau apa yang mungkin menjadi tujuan percakapan mereka sekarang ini.

“Chanyeol?” Michael mengulang nama lelaki muda di depannya yang nampak melamun, membuat Chanyeol mengerjap dan sebuah keringat seukuran jagung mengucur dari pelipisnya.

“Bagaimana jawabanmu?” tanya Michael yang membuat degup jantung Chanyeol semakin tidak karuan. Mendadak ia merasa ditarik kembali ke masa lalu, ke masa-masa sekolah menengah atasnya bertahun-tahun yang lalu.

Kembali ke musim penghujan di Seoul, dan bukannya negeri asing di benua Amerika yang mempunyai lima puluh dua negara bagian.

Entahlah. Chanyeol bagai merasa dunianya berputar. Kembali ke masa-masa dimana ia baru mengenal Wendy dengan nama Seungwan. Seorang penyewa rumah atap milik keluarganya yang ternyata satu sekolah dengannya. Gadis itu punya cara berbicara yang unik bagi Chanyeol, benar-benar nampak bahwa bahasa Korea si gadis tidak terlalu baik. Terlebih pertemuan pertama yang jauh dari kata baik karena berhiaskan lemparan ramen dan coca-cola berbentuk kaleng.

Waktu bergulir begitu saja seakan mempermainkan mereka berdua. Siapa yang mengira gadis itu mendadak muncul di depannya dan mengatakan sebuah permintaan paling menganehkan di kamus seorang Chanyeol? Menjadi pacar pura-pura? Oh, yang benar saja!

Tapi takdir memang terlalu kejam untuk bergulir. Seperti anak air yang mengalir di sungai, Chanyeol menerima permintaan gadis yang nekat mencoba pura-pura bunuh diri itu setelah si gadis mengetahui kelemahan terbesarnya. Kyungsoo dan biaya perawatan lelaki bermarga Do itu menjadi awal bagaimana Chanyeol mengetahui betapa kaya gadis yang tinggal di rumah atap itu.

Dan detik yang bergulir semakin mempermainkan mereka berdua. Bukan hanya pacar pura-pura, Chanyeol merasa semua yang ada di gadis itu adalah sebuah kepura-puraan. Chanyeol mengenal gadis itu semakin dalam. Tentang kepergiannya dari Kanada, mencintai oppa tiri, tentang ibu tirinya, juga tentang ayah yang memperlakukan Wendy bak boneka. Dan entah sejak kapan, Chanyeol tidak menyesali keputusannya menjadi kekasih pura-pura gadis itu meski ia harus merelakan nama player wanita sepanjang masa yang ia pegang di sekolah menegah atas hangus tak bersisa. Chanyeol tidak peduli, mengenal Wendy dengan lebih baik jauh lebih menyenangkan baginya dibanding mempermainkan para wanita di luaran sana.

Di sebuah malam yang dingin, Chanyeol mengucapkan sebuah kata peninggalan ibunya. Mereka berdua duduk bersama, tidur menghadap langit berbintang di teras rumah atap Wendy dengan sebuah kalimat indah yang Chanyeol lontarkan. Tentang merindu. Tentang memilih bulan atau bintang. Tentang sosok yang memandang bintang yang sama.

“Aku harap orang itu kau…,”

Chanyeol mengucapkan kalimat itu harap-harap cemas. Entah keberanian darimana kalimat itu meluncur begitu saja dengan mulus dari bibirnya, membuat pipi Wendy seketika berubah memerah. Tanpa berniat meluruskan kalimatnya, Chanyeol mencap bahwa pipi memerah Wendy adalah daya tarik khas tersendiri dari gadis bermarga Son itu.

Selanjutnya terjadi pertengkaran di hari Minggu. Chanyeol marah karena Wendy membawanya menuju gedung pernikahan ibu kandung Chanyeol yang sangat lelaki itu hindari. Satu penyesalan terbesar yang pernah Chanyeol rutuki adalah ia meninggalkan Wendy di jalanan karena emosi. Finalnya Chanyeol pergi ke acara pernikahan itu, tanpa tau kalau Wendy juga ikut datang ke sana. Chanyeol benar-benar merasa malu kepada diri sendiri bagaimana ia berbohong tidak merindukan ibu kandungnya. Terlebih ketika tau kalau sang ibu memberikan kalung kepada Wendy beberapa bulan kemudian ketika hubungannya dengan Wendy tidak sama seperti dulu. Terjadi pertengkaran yang jauh lebih hebat daripada hari Minggu itu.

Chanyeol mengepalkan tangannya ketika mendapat telfon dari Baekhyun bahwa Wendy sudah pulang dengan diantar seorang lelaki menggunakan motor sport. Padahal Chanyeol tengah berdingin ria menembus malam untuk mencari gadis itu karena khawatir pada Wendy dan juga rasa menyesal yang menggerogoti hatinya. Dan ketika tau bahwa sosok yang mengantar pulang adalah Sehun, sosok adik kelas yang kemudian hari Chanyeol ketahui sebagai lelaki yang dipilih ayah Wendy untuk menjadi tunanan gadis itu, Chanyeol merasa hatinya terbakar.

Son Michael menjadi jarak yang mencipta diantara mereka berdua. Akhirnya, sang ayah yang tidak setuju pun membuat kontak ‘kekasih pura-pura’ yang mereka jalani terputus begitu saja. Jangan tanyakan Chanyeol bagaimana ia mengingat perlakuan Michael padanya, terlebih sebuah kebohongan yang diciptakan Michael bahwa ia dan Wendy mempunyai hubungan darah. Oh, rasanya Chanyeol ingin mati saja saat itu.

Berpisah setelah sebuah kencan manis yang mereka lewati di pinggir Sungai Han dan taman bermain. Di tengah hujan dan kukungan bodyguard suruhan Michael, tangan yang tak bisa saling menggengam itu, sungguh terngiang dalam benak memori Chanyeol.

Irene, gadis yang Chanyeol ketahui sebagai sosok yang menyukainya sejak tahun pertama sekolah menengah atas pun menjadi sosok gadis lain yang harus terluka karena Chanyeol. Sebuah pelampiasan kepada gadis yang tulus kepadanya, Chanyeol tidak pernah bisa menyebut dirinya lebih brengsek daripada menjadikan Irene sebagai pelarian dan berpura-pura bahagia di depan Wendy. Semuanya tidak pernah sama. Di mata Chanyeol, kencan dengan Irene sama saja seperti menghunuskan pedang ketidakmampuan Chanyeol untuk menggapai Wendy.

Puisi-puisi manis Chanyeol tuliskan sebagai pelipur laranya, yang sialnya diketahui oleh Wendy karena saudaranya, Baekhyun, membocorkan tentang puisi itu. Lagi-lagi kebohongan belaka yang menguar dari bibir tebal Chanyeol. Ia sungguh laki-laki penuh kebohongan.

Dan ketika Wendy frustasi dan mengajaknya bertemu di pinggir Sungai Han lewat surat yang diselipkan di buku perpustakaan, Chanyeol berlari seperti orang gila karena terlambat begitu lama dari waktu semestinya. Di sana Wendy menangis, sambil berteriak betapa gadis itu frustasi karena mencintai Chanyeol. Miris. Chanyeol menolak dengan mengatakan kalimat paling menohok bahwa ia tidak mencintai Wendy. Kalung ibunya menjadi saksi bagaimana sakit hatinya Wendy oleh kalimat dusta yang ia lontarkan. Bagaikan luka terbuka yang terkena asam, perih. Wendy tidak tau bagaimana inginnya Chanyeol berucap jujur pada gadis itu.

Chanyeol pikir ia sudah melupakan Wendy setelah sekian lama menyibukkan diri. Nama gadis itu perlahan terkikis, namun tidak sepenuhnya. Lalu malam itu, ketika bis yang ia tumpangi bersama Irene terjebak dalam lampu merah bernuasa sendu karena hujan yang jatuh mengguyur Seoul, Chanyeol beradu manik dengan Wendy yang duduk di sebuah mobil audi hitam milik Sehun. Keduanya beradu pandang dengan canggung, tersenyum tipis bagai tidak ada yang terjadi, dua pembual paling ahli di dunia, hingga kontak mata itu terputus karena mobil yang mulai berlalu lalang setelah lampu merah berubah menjadi hijau. Di saat itu, kala hujan yang mengguyur dan membuat embun di tiap kaca bis yang ia tumpangi, Chanyeol menyadari sesuatu. Ia benar-benar telah jatuh ke dalam pesona seorang Son Wendy. Wendy yang tidak pernah ia gapai, miris.

Upacara kelulusan dan pertunangan Wendy. Waktu bergulir sangat cepat. Chanyeol menatap terpaku pemandangan di depannya dimana Wendy berdiri seperti orang bodoh setelah Irene mengaku di muka umum bahwa ia menyukai Sehun dan Sehun kabur bersama Irene. Oh, bahkan Irene bisa menjadi seberani itu, tapi kenapa Chanyeol tidak sanggup? Apa karena desakan dari Son Michael hingga kakinya tidak berani memotong jarak untuk mencapai tempat yang lebih dekat dengan si gadis? Ah, semuanya menjadi semakin rumit.

Chanyeol nampak berjalan keluar dari gedung gereja tempat pertunangan Wendy dengan Sehun yang baru saja hancur berantakan. Dia bisa mendengar suara Wendy meraung memanggilnya, tapi Chanyeol berusaha menulikan diri. Hingga kecelakaan itu terjadi secepat kelajuan cahaya.

Hitam yang memenuhi pandang Chanyeol sebelum satu detik terakhir ia melihat Wendy menangis menatapnya.

Chanyeol benar-benar takut hari itu. Ia benar-benar takut itu akan menjadi hari terakhirnya di dunia. Tidak, jangan sampai. Ia masih terlalu muda untuk kembali ke sisi Sang Pencipta. Lalu sangat Chanyeol terbangun di sebuah ruangan bernuansa putih yang ia ketahui adalah rumah sakit, Chanyeol mendapat kenyataan pahit. Wendy sudah pergi dari Seoul, menghilang ke seberang samudera dan benua dengan satu fakta bohong yang gadis itu tau, dirinya sudah tinggal nama—kebohongan lain yang diciptakan oleh Michael. Dengan kondisi terpuruk ia berusaha bertahan, meski Michael dengan kejam mengatakan, “Lupakan putriku.”

Pertanyaan Michael masih bergelut di dalam logika Chanyeol. Tentang masihkah ia menyukai putri sang konglomerat—Son Wendy—yang dulu pernah mengisi kisah kasihnya selama beberapa bulan sebelum akhirnya ia lulus dari sekolah menengah atas.

Bohong jika Chanyeol mengatakan tidak. Wendy masih ada di sana, di dalam lubuk hati terdalamnya meski Chanyeol sudah berusaha menepis sejak bertahun-tahun yang lalu. Nyatanya nama Wendy masih terukir dengan sempurna, bagai tak ada yang salah jika Chanyeol mengukir nama si gadis di dalam organ paling perasa yang ia punya.

Senyum tipis Chanyeol lontarkan kepada Michael, sungkan, namun mungkin ini waktunya ia mengatakan kejujuran yang selama ini ia pendam. Perlahan Chanyeol mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah percakapan sejak bertahun-tahun lalu yang masih ia simpan di benda eletronik itu.

“Ini ponsel kesayanganku. Aku akan sangat menyesal jika sampai ponsel ini rusak.” Ucap Chanyeol sambil menyerahkan benda persegi panjang itu kepada Michael. Dengan raut bingung Michael menerima sodoran pemuda di depannya, dengan sedikit penasaran ia meneliti apa isi di dalam layar itu yang seketika membuatnya terhenyak.

Sebuah kontak berjudul ‘perantara’ menjadi saksi bisu kisah Chanyeol selama ini. Lelaki bermarga Park itu tersenyum sungkan, sebelum akhirnya mengucapkan maaf dengan sungguh-sungguh. “Aku tidak bisa melupakan putri Tuan, jadi kau mungkin sudah tau apa jawabanku setelah melihat isi ponsel ini.” katanya dengan yakin dan tanpa keraguan.

Tangan Michael bergetar. Ada banyak foto Wendy yang diambil diam-diam di dalam ponsel Chanyeol, semuanya berasal dari orang yang sama, orang yang kontaknya dinamai sebagai perantara oleh Chanyeol. Moon Taeil, ucap Chanyeol mengakui siapa orang yang sudah ia gunakan untuk mematai-matai Wendy selama ini. Jauh dari yang Michael tau, Chanyeol tidak menyuap Taeil atau apapun itu namanya, mereka hanya mencoba berteman dan Taeil sendiri merasa Wendy kian terpuruk dan merasa kasihan. Hingga akhirnya Taeil sudi menjadi perantara bagi Chanyeol untuk mengetahui kabar pujaan hatinya, tapi dengan syarat kalau Wendy tidak tau menahu mengenai Chanyeol yang mengawasinya dari jauh.

four years ago…

Dia murung seperti biasa

Dia murung seperti biasa. Dia masih memandangi gorden sejak pagi”

three years ago…

Kami pergi jalan-jalan ke luar, tapi dia nampak tidak bahagia

Kami pergi jalan-jalan ke luar, tapi dia nampak tidak bahagia.”

two years ago…

Dia mempunyai hobby baru, mengecat rambut

Dia mempunyai hobby baru, mengecat rambut. Apa kau suka warna rambutnya sekarang?”

one year ago…

Dia suka bermain ponsel di tengah jalan

Dia suka bermain ponsel di tengah jalan. Kadang aku takut dia tersandung karena terlalu serius dengan ponselnya.”

yesterday

she has a big smile after a long time

she has a big smile after a long time.”

“Aku tau Wendy terpuruk. Dan aku juga tau kalau akhir-akhir ini dia kembali seperti biasanya. Dia mulai belajar dan lulus untuk kuliah di universitas yang sama denganku bahkan sebelum Tuan Son mengatakannya kepadaku beberapa menit yang lalu.”

Michael bagai kehilangan kata-kata. Ia menatap Chanyeol dengan pandangan tidak percaya. “Sudah ku bilang, Tuan hanya menanyakan pertanyaan retoris jika bertanya apa isi hatiku untuk Wendy. Dulu, sekarang, maupun nanti rasa itu masih tetap sama, Tuan Son. Aku harap kau mengerti itu.” tegas Chanyeol untuk kesekian kalinya.

Genggaman tangan Chanyeol di jemari Michael kian menguat. Matanya menerawang jauh ke sorot lelah milik Michael yang telah dimakan usia. “Aku meminta kesempatan kepadamu, Tuan Son. Aku ingin memiliki Wendy, seutuhnya, tanpa perlu menjadi pecundang yang hanya bisa menatapnya dari jauh.”

Diam menjadi jawaban terbaik yang Michael berikan kepada Chanyeol. Tak ada yang bersuara hingga lima belas menit berlalu. Chanyeol frustasi. Ia menarik genggaman tangannya hingga mengendur dengan wajah murung, hingga detik selanjutnya ia merasakan tangannya digenggam erat oleh Michael.

“Maafkan aku.” ucap pria itu itu dengan mata berkaca-kaca. Satu bulir bening jatuh dari mata tuanya. “Aku yang akan memohon kepadamu untuk memberi aku kesempatan menjadi ayah dari gadis yang kau cintai sepenuh hati.” Chanyeol terdiam. Mendadak bibirnya kelu dan kaku. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Michael kepadanya.

“Aku punya syarat.” lanjut Michael setelahnya. Tanpa menunggu lama Chanyeol segera mengangguk, mempersilahkan pria itu melanjutkan kalimatnya.

“Aku mengidap tumor otak, dan aku merasa umurku tidak akan lama lagi.” Michael menarik nafas panjang, sebelum akhirnya kembali berucap. “Aku ingin sembuh. Aku ingin kau membiarkanku melihat bagaimana putriku berdiri dengan anggun di gereja untuk hari pemberkatannya dengan lelaki yang ia cintai. Jika memang lelaki itu adalah kau, maka aku akan merestui. Jadilah proffesor ahli, lalu jamah aku dan buat aku bisa mendampingi putriku berjalan di karpet bunga kebahagiannya sebagai ayahnya sebelum ia menjadi milik suaminya seutuhnya.”

Dan tanpa menunggu lama, Chanyeol mengangguk. “Tunggu aku meraih tangan putri Tuan di pelaminan nanti.” katanya dengan yakin. Dan detik berikutnya, hujan turun mengguyur Newyork, hingga Michael harus menumpang payung hitam Chanyeol untuk masuk ke dalam mobil mewahnya agar tidak terkena rembesan air yang berjatuhan dari langit.

“Saya akan menunggu.” Tegas Michael terakhir kali sebelum mobilnya berjalan menjauh meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam terpaku bersama payung hitam kesayangan miliknya.

➖☔☔☔➖

Hari-hari Chanyeol kian berwarna. Jika tiap harinya ia akan menghabiskan waktu dengan bukunya di dalam kelas, maka mulai sekarang Chanyeol mempunyai tempat favorit baru. Perpustaakan.

Di dalam gedung itu, Chanyeol bisa menemukan sosok Wendy yang nampak serius menekuni buku yang tengah gadis itu baca. Tidak ada yang berubah dari si gadis, Wendy masih mempesona seperti dulu.

“Wendy, jika aku hanya bisa memandangmu dari jauh seperti saat ini, tak apa. Karena tahun-tahun berikutnya ketika aku memenuhi syarat ayahmu, aku akan datang dan meminangmu seperti semestinya.”

Dan hujan masih mengguyur. Hujan memberikan banyak cerita bagi Chanyeol. Hujan mengajarkannya cerita sakit ketika harus berpisah, memberikannya keyakinan tentang perlabuhan hatinya ketika menatap Wendy dari balik kaca bis yang berembun, juga memberitahu hasil dari sebuah usaha ketika ia berada di bawah payung yang sama dengan lelaki yang beberapa tahun ke depan akan ia labeli dengan kata ‘ayah mertua’.

Tsk, hujan.” Gumam seorang gadis yang baru saja keluar dari pintu perpustakaan itu. Wendy nampak memeluk tubuhnya sendiri ketika merasakan mantel yang ia pakai tidak cukup untuk menghadang angin malam yang menerpa tubuhnya, terlebih hujan tengah turun merembes dengan begitu ganas.

Chanyeol ada di sana, masih asyik dengan buku ketika menyadari sosok mungil Wendy terjebak dalam hujan. Dengan langkah pasti Chanyeol merapikan bukunya ke dalam tas ransel dan memasang kupluk dari jaket hoodie yang ia pakai, lalu berjalan mendekat ke arah Wendy. Dia meletakkan payung hitamnya di sebelah gadis itu sebelum akhirnya badan tegapnya pergi berlari menembus hujan.

Wendy nampak terkejut, namun tak dipungkiri hatinya menghangat meski ia tidak tau siapa yang merelakan payung hitam untuknya dan membiarkan tubuh tinggi penyelamat itu basah kuyup.

“Terima kasih,” gumam Wendy tanpa tau bahwa Chanyeol, pengisi hatinya, yang baru saja diam-diam melintas untuk melindungi tubuh mungilnya dari rembesan air hujan.

Dan Chanyeol kali ini menambah satu kenangan berharga di kala hujan. Perpustakaan, payung hitam dan Wendy, benar-benar serasi di matanya.

Wendy, jika memang rasa itu masih sama, tunggulah. Hati ini yang akan meminangmu.

[ to be continue ]

———————————————————

catatan : ff rooftop romance sudah tamat, tapi ceritanya belum di post di exoffi ini karena bakal eki post bertahap satu chapter per minggu. kalau penasaran sama kelanjutannya dan gak tahan minggu depan buat liat rooftop romance majang di exoffi lagi, boleh di cek akun wattpad shaekiran ( @mischievouseki ). warning, private mode, jadi follow dulu baru baca, hehe. warning (2) bonus chapter cuma bakal di post di wattpad, di exoffi hanya sampai chapter ending dan epilog. terima kasih.

5 tanggapan untuk “Rooftop Romance (Special Chapter – When it Rains) – Shaekiran”

  1. Author aku nunggu update ff ini udah lama bangetttttttt. Thor andai dirimu tau semua fanfiction favorit ku di website ini semuanya blum update lagi. Tiga favorit ff ku itu :
    1. Rooftop Romance
    2. My Lady
    3. Bad Husband

    Ku mohon admin yang membaca ini bisa menghubungi author yang belum menamatkan ff nya. Aku tau author punya kesibukkan di dunia nyata. Dan aku percaya sesibuk apapun seorang author pasti didalam hati kecilnya mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan tulisannya.

    Semangat Author💪💪💪

  2. Ya ampun ga bosen²nya aku baca ini ff dari awal sampe akhir, meski udah tau akhirnya setelah baca di whatpad.. makasih Thor telah menyuguhkan ff yang bagus ini, sedih sekaligus senang baca ff ini ;( tetep semangaaat ya thor 🙂 :-*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s