GAME OVER – Lv. 19 [White House] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11Level 15 — Level 16Level 17 — Level 18 — [PLAYING] Level 19

You won’t be able to use your wings that you broke yourself

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 19 — White House

In Jiho’s Eyes…

“Kau ingin mati, rupanya…”

Suara ini…

Aku segera membuka mata, dan jantungku hampir saja lupa caranya untuk berdetak saat aku mendapati wajah yang kukenal sekarang tengah menindih tubuhku, menghimpit pernafasanku dengan melintangkan sebuah sword di leherku.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Dia masih sama sempurnanya seperti terakhir kali kami bertemu. Tapi aku yakin benar namanya tak ada dalam daftar player yang ikut terlibat dalam demo version ini.

Apa dia melakukan kecurangan? Apa dia memanipulasi list itu dengan kemampuan cybernya seperti ucapan Taehyung kemarin? Apa dia memasukkan dirinya dengan ilegal? Bagaimana mungkin dia bisa ada di sini?

“B-Baekhyun… Bagaimana kau bisa ada di sini?”

Rupanya, vokalku tak cukup lantang untuk membuatnya mengenaliku. Diam-diam aku sadari, aku tidak melihat ID Baekhyun—biasanya, di bagian atas tubuh seorang player akan terlihat layar transparan kecil berisikan ID, DPS, dan level seorang player, tapi tidak kutemukan itu pada Baekhyun sekarang.

Yang ada, dia justru makin menatapku dengan kebencian yang sarat dalam sorot pandangannya. Ada apa dengan Baekhyun? Apa seseorang telah menyerangnya sebelum aku datang?

Belum lepas diriku dari rasa terkejut yang ada, Baekhyun sudah menarik tubuhku untuk berdiri dengan paksa, lantas ia todongkan pedang itu di depan leherku, lagi.

“Kau sungguh ingin mati?” pertanyaan itu Baekhyun ucapkan, membuatku menatapnya tidak mengerti.

Apa dia tidak mengenaliku—oh, penutup wajah sialan ini pasti jadi sumber masalahnya.

Hey, jangan emosi dulu. Apa kau tidak—”

SRAT!

Aku terkejut bukan kepalang saat Baekhyun dengan mudahnya menggerakkan pedangnya melewati wajahku begitu aku bersuara. Sadar bahwa aku tak bisa menghadapi Baekhyun dengan ucapan, aku akhirnya bergerak menarik penutup wajah yang—ugh.

Baekhyun rupanya memang tidak sedang bisa diajak kompromi.

Lagi-lagi dia memberikan serangan padaku, hal yang membuatku serta merta berusaha menghindari serangannya dan berusaha membalikkan serangan tersebut padanya. Tahu bahwa aku tak akan bisa memberikan banyak perlawanan berarti, aku juga tidak berusaha melawannya dengan keras.

Tapi bagi Baekhyun aku rupanya memang orang asing. Apa penampilanku sebegitu banyak berubahnya karena scanning visualisasi tadi? Aku pikir aku masih akan terlihat sama seperti visualisasiku terakhir kali.

Hurtling fire!” kudengar Baekhyun berseru, sebuah hurtling fire lantas muncul di tangannya, senjataku, dia baru saja mengambil senjata itu dari equipmentku. Ah, pasti Baekhyun tidak tahu kalau aku adalah HongJoo.

Dia mungkin saja mengalami situasi yang sama denganku, tidak bisa melihat ID, DPS, dan level player yang ada di hadapannya. Meski pertanyaanku tentang bagaimana Baekhyun bisa ada di sini masih menjadi sebuah pertanyaan besar dalam benakku, aku akhirnya berusaha melupakan situasi aneh ini dan menghadapi Baekhyun saja.

Hitung-hitung, sebuah pemanasan, walaupun nanti aku harus pikirkan cara untuk melarikan diri darinya begitu health barku berubah kritis.

“Kalau kau memang ingin membunuhku, silahkan saja.” akhirnya aku berkata, kueratkan penutup wajahku sebelum aku akhirnya mengeluarkan ministry sword andalanku.

Pertarungan sengit antara aku dan Baekhyun akhirnya terjadi. Selagi kami bertarung, aku bisa mengenali satu persatu perbedaan antara survival mode ini dan yang lama. Serangan Baekhyun, semakin lama semakin membabi buta.

Dia begitu bersemangat ingin membunuhku. Bahkan, dia tidak lagi melemparkan kalimat-kalimat sarkatis yang kukenali sebagai kebiasaannya saat berusaha menyulut api kemarahan musuh. Baekhyun bertarung dalam diam, tapi kemampuannya justru semakin luar biasa.

Apa dia melakukan upgrade juga sebelum masuk ke dalam mode ini?

Aku tentu tak sempat berpikir lebih jauh lagi saat kutemukan diriku tersudut. Baru saja, Baekhyun berhasil menjatuhkanku di tanah, dengan tambahan, dia kini menindih tubuhku dan menyarangkan pedangnya di leherku.

Situasi yang sama seperti tadi lagi-lagi terjadi, Baekhyun lah yang mengancam nyawaku. Kusadari, tubuhku merasa kelelahan. Baekhyun bahkan tidak tampak sejelas tadi, sekarang bayangannya terlihat buram dalam pandanganku.

Apa aku akan memasuki fase tidak sadarkan diri? Tidak. Tidak sekarang. Aku mungkin saja akan berakhir game over begitu aku terbangun, dan aku tidak mau terbangun sekarang!

TRING!

Tanpa sengaja cosmic rings-ku menyentuh sword milik Baekhyun ketika aku berusaha menggerakkan jemariku untuk membuka penutup wajah yang kukenakan.

“Baekhyun, ini aku…” suaraku bahkan tak lagi bisa kukeluarkan dengan lantang.

Tapi setidaknya, Baekhyun pada akhirnya mengenaliku.

“J-Jiho…” segera dia jauhkan swordnya dariku, sementara dia paksa dirinya untuk bangun dan menjauh dari tubuhku.

“Maafkan aku…” ucapnya, untuk ke sekian ribu kalinya vokal lembut Baekhyun membuat kinerja jantung—ugh, mengapa rasanya semenyakitkan ini sekarang?

“Tidak apa… Baekhyun. Senang bisa bertemu denganmu di sini.” aku berucap pelan, sementara kantuk kini tanpa sadar menyerangku. Manikku ingin membuka tapi kelopaknya justru memberontak ingin menutup.

Aku tak pernah merasa semengantuk ini, dalam situasi apapun. Dan merasakan kantuk itu saat health barku berada di masa kritis rupanya jadi hal yang benar-benar hidup dalam survival mode yang baru ini.

Selain rasa nyeri yang Baekhyun tinggalkan di tubuhku karena serangannya di pertarungan kami barusan, tentu saja, rasa nyeri karena luka di tubuhku juga sama menyiksanya.

“Aku sudah melukaimu, Jiho.” kudengar Baekhyun berucap, sementara dia masih bergeming di tempat, tidak terlihat berusaha menolongku atau—ugh… rasa kantuk ini. Haruskah aku berpasrah diri saja pada kantuk yang menyerangku sekarang?

“Maaf…”

Samar-samar, kulihat bagaimana Baekhyun menatapku sarat dengan rasa bersalah dalam pandangannya, sementara dia masih juga bergeming, dan aku juga tidak berusaha untuk meminta bantuannya untuk menyelamatkanku.

Sekon kemudian, aku tak lagi bisa mengingat apapun.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

‘Selamat datang di sistem kesadaran penuh WorldWare versi 4.2.4. Anda telah tidak sadarkan diri selama tujuh jam empat puluh dua menit. Kondisi Anda sekarang sudah cukup baik, health bar dan human wealth Anda telah kami perbaiki selagi Anda terlelap.

‘HongJoo, Anda sudah siap untuk kembali bertahan hidup.’

Suara itu segera menyambutku begitu kudapatkan kesadaranku kembali. Manikku bahkan belum membuka saat kudengar suara itu masuk melalui sebuah earphone kecil yang terpasang di telinga kiriku.

“Dimana aku sekarang?” tanyaku masih dengan menutup mata, kantuk yang tadi secara tiba-tiba merenggut kesadaranku sekarang sudah lenyap, memang. Tapi rasa nyeri di sekujur tubuhku masih terasa begitu nyata.

Anda tengah berada di Eden’s Nirvana.’

Jantungku hampir saja melompat dari persinggahannya saat kusadari aku sejak tadi terbaring di tengah arena mengerikan Eden’s Nirvana. Sungguh, jangan bayangkan Eden’s Nirvana adalah tempat seindah nirvana yang sesungguhnya.

Tempat ini adalah sumber lautan darah bagi player WorldWare. Karena bonus stage Eden’s Nirvana adalah bonus stage yang selalu muncul di maps, banyak player yang selalu mencoba peruntungan di dalamnya.

Tapi yang ada, player itu justru akan keluar dalam keadaan game over dan level yang terenggut sekitar dua atau tiga level. Eden’s Nirvana adalah bonus stage paling mengerikan. Tidak lagi ada player yang cukup berani mempertaruhkan level demi memenangkan bonus stage ini.

Aku sendiri bahkan tak pernah berani menginjakkan kaki di dalamnya.

Mengingat bahwa kami sekarang berada di survival mode yang berbeda, apakah tempat ini masih mengerikan seperti yang dikatakan orang-orang?

Aku akhirnya memberanikan diri untuk membuka mata, pemandangan yang kemudian menyambut adalah keindahan khas nirvana yang ada dalam animasi-animasi. Stage ini didominasi warna putih dan efek lighting yang menyilaukan.

Sebuah air terjun terlihat dari tempatku sekarang terbaring, suara menenangkannya bahkan membuatku sempat terpana, melupakan fakta bahwa aku tengah berada di arena mengerikan ini, pemandangan yang disuguhkannya justru membiusku, melebihi Tacenda.

Tapi, aku tak boleh ada di sini. Kalau mode survival ini sama dengan mode survival yang selama ini kujalani, maka ada Villain mematikan—yang katanya juga memiliki wujud mengerikan bak monster-monster Villain yang ada di permainan RPG lainnya—yang siap menghabisiku.

Jadi, dengan segera aku bangkit, dan kubawa diriku berlari mendatangi sebuah celah sempit—celah yang di tiap stage selalu disiapkan sebagai sebuah pintu keluar—yang kemudian membawaku ke luar arena mematikan tersebut.

Hal pertama yang segera bisa kuakses setelah keluar dari Eden’s Nirvana adalah mailbox. Belasan jumlahnya, dan semuanya berasal dari Taehyung.

‘Jiho, di mana kau? Aku ada di Enterprise Build bersama Ashley.’

‘Hey, Jiho, apa kau masih bertahan?’

‘Jiho, jawab aku, kami menunggumu di Enterprise Build.’

‘Hey, bodoh. Dimana kau sebenarnya? Sudah dua puluh empat jam berlalu sejak kau tidak bisa kami hubungi sama sekali.’

‘Jangan datang ke Enterprise Build, Jiho. Tempat ini sudah berubah jadi arena peperangan mengerikan.’

‘Jiho, kami akan menunggumu di Main Hall tiap jam enam sore.’

‘Berhati-hatilah, semua orang sudah berubah jadi mesin pembunuh bagi yang lainnya.’

Masih ada empat pesan dari Taehyung yang tidak sempat kubuka karena aku terlalu tergesa-gesa. Segera kubawa langkahku berlari membelah jalanan kosong sementara dengan mode callmode baru yang disediakan survival mode versi terbaru ini—aku berusaha menghubungi Taehyung.

“Halo, Jiho! Kemana saja kau! Aku dan Ashley sudah mencarimu selama berjam-jam.”

Hey, Taehyung. Maaf, aku baru saja sadarkan diri. Seseorang menyerangku membabi-buta hingga aku hampir sekarat. Dimana kau sekarang?” tanyaku, tentu aku tak akan menyebut nama Baekhyun sebagai penyebab sekaratnya aku.

Sebab, Taehyung akan sangat bertanya-tanya tentang keberadaan Baekhyun di dalam game ini. Entah itu karena cara curang, atau karena cara lainnya yang masuk akal untuk jadi alasan mengapa Baekhyun bisa ada di sini.

“Siapa yang menyerangmu?” tanya Taehyung kemudian.

Sejenak, aku terdiam. Satu sisi hatiku ingin tetap menyembunyikan fakta bahwa Baekhyun ada di sini juga. Tapi jika Taehyung tahu, dia mungkin bisa memberiku informasi yang masuk akal, bukan?

“Invisible Black. Aku mengenakan penutup wajah saat berhadapan dengannya, dan di versi ini ternyata kita juga tak bisa saling mengakses ID. Setelah menyerangku dan melihat seperti apa wajahku, dia kemudian tersadar dan meminta maaf.

“Tapi aku sudah tidak sadarkan diri karena serangannya. Ugh, tubuhku sekarang bahkan terasa sangat sakit. Apa menurutmu dia meretas survival tube atau semacamnya? Masuk akal ya dia bisa masuk ke dalam list player yang ada di dalam versi ini?”

Taehyung terdiam sejenak sebelum dia akhirnya menghela nafas panjang.

“Aku sudah menduga ada yang aneh saat namanya tak ada di list player yang akan masuk dalam versi ini. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, seorang rank nomor satu tentu tak akan melewatkan kesempatan emas untuk masuk ke dalam versi limited ini, bukan?

“Aku tidak tahu, entah dia meretas, atau perusahaan sendiri yang menghubunginya untuk jadi player dengan akses VIP untuk masuk ke dalam permainan ini—kau tahu sendiri bagaimana permainan politik perusahaan yang sering kukeluhkan bukan?—tapi yang jelas, kau bisa bernafas lega karena ada dia di dalam permainan ini.

“Kau tahu sendiri semua orang mengincarmu. Dan adanya Invisible Black dalam mode ini tentu tak akan memudahkan orang-orang itu untuk menyakitimu begitu saja. Aku ada di dekat Main Hall sekarang, sebuah turbulence terjadi di Main Hall jadi jangan bertemu di sana.

“Akan kukirimkan koordinatku padamu—kau bisa mengaksesnya melalui menu kecil yang ada di sudut kiri bawah maps. Kita bertemu di sana, aku dan Ashley sudah membuat persembunyian kecil untuk kita.”

Kali ini, aku yang terdiam. Memang, sejak awal terasa janggal karena absennya Baekhyun dari list player yang akan mengikuti survival mode ini. Tapi yang terasa lebih janggal adalah keadaan mengerikan yang mungkin sudah kutinggalkan sejak aku tidak sadarkan diri.

Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Baekhyun? Player lain tentu sekarang sudah menyadari keberadaan Baekhyun di dalam game ini bukan? Apa mereka mengejar Baekhyun lagi? Atau Baekhyun yang malah memburu mereka?

Kami sama-sama berada dalam pouch terendah saat ini. Dan untuk memperbaharui equipment tentu saja pouchpouch berharga itu dibutuhkan. Mengingat satu-satunya cara untuk mendapatkan pouch adalah dengan menyerang player lain dan membuat mereka game over, sangat masuk akal jika aku mengatakan bahwa Baekhyun mungkin saja sudah melenyapkan beberapa player dari mode ini bukan?

“Taehyung, apa kau bertemu Taeil dan yang lainnya?” tanyaku akhirnya.

“Ah, rekan kerjamu itu? Hanya ada beberapa dari mereka yang masuk dalam game ini. Dan aku belum melihat nama mereka sebagai nama-nama yang game over dalam server.”

“Dimana kau mengakses nama-nama yang sudah game over itu?” tanyaku kemudian.

“Ada di server utama, Jiho. Kau selalu saja melewatkan semua announcement yang ada dalam server utama saat kita ada di survival mode lama. Tapi di sini server utama hanya memberikan announcement mengenai identitas player yang sudah game over, jadi kalau kau mengkhawatirkan satu-dua orang, buka saja server utama.”

“Baiklah, kau sudah kirimkan koordinatmu? Aku akan segera ke sana.” ucapku.

“Ya, aku sudah mengirimkannya. Segeralah ke sini dan—BLAR!”

“Apa yang terjadi, Taehyung?!” dengan terkejut aku berkata, baru saja aku mendengar jelas sebuah ledakan di seberang sana.

“Suara turbulence. Kami temukan seorang player kuat lagi di sini, aku tak pernah memperhatikan keberadaannya jadi aku tidak tahu kalau dia ternyata punya power yang sama kuatnya seperti Invisible Black.

“Kau tidak tertarik melihat turbulencenya?”

PIP!

Tanpa menyahuti perkataan Taehyung aku akhirnya segera memutuskan koneksi telepon kami. Dan dengan segera aku membuka mapsku, mengakses koordinat yang telah Taehyung kirimkan.

Koordinat itu kemudian berubah menjadi arahan seperti GPS, yang menunjukkan posisi Taehyung sekarang. Ah, aku mengerti, koordinat ini pasti berfungsi sebagai GPS pribadi seseorang. Yang hanya bisa dikirimkan seseorang pada orang lain yang diinginkannya untuk tahu.

Apa aku juga bisa melacak keberadaan Baekhyun kalau dia mengirimiku koordinatnya? Atau, haruskah aku mengirimkan koordinatku pada Baekhyun untuk membuatnya tahu tentang keberadaanku sekarang?

Tapi untuk apa? Baekhyun bahkan tidak meninggalkan pesan apapun untukku setelah dia menyerangku secara membabi buta kemarin. Ugh, aku sudah membuang waktu satu hari untuk mengembalikan health barku.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku sampai di koordinat Taehyung dan kutemukan Taehyung tengah menyamarkan dirinya di atas sebuah pohon selagi maniknya mengawasi turbulence yang pasti terjadi di radius cukup dekat dari kami sekarang.

Hey, Taehyung.” panggilku membuat Taehyung menoleh.

“Kemarilah, Jiho. Kau mungkin sudah menghabiskan waktu untuk tertidur seharian, tapi kita sekarang bisa dengan santainya naik ke atas pohon seperti yang aku lakukan sekarang. Kemarilah dan lihat apa yang sekarang terjadi.”

Ragu-ragu, aku mencoba juga apa yang Taehyung terangkan. Dalam visualisasiku sekarang, aku bisa mengakses pepohonan selayaknya tengah berada di dalam mode x-ray. Dengan menentukan pilihan dahan di pohon tersebut dan memutuskan untuk berada di atasnya melalui pikiranku, aku akhirnya berhasil menaiki dahan yang berada di sebelah Taehyung.

“Wah, keren sekali. Aku tak tahu kita bisa melakukan hal ini di sini.” ucapku membuat Taehyung tergelak.

“Andai saja seindah itu. Tapi modemode ekstra yang ada di sini justru jadi senjata mematikan bagi semua orang. Lihat di sana, tidakkah dia mengingatkanmu pada seseorang?” tanya Taehyung sambil mengedikkan dagunya ke arah turbulence yang sekarang bisa kulihat dengan jelas dari tempatku berdiri.

“Plasma itu…”

“Ya, seperti plasma lelakimu itu, bukan? Dan lihat, penampilan player yang sekarang tengah menghabisi playerplayer bodoh di sana itu? Tidakkah dia juga mengingatkanmu pada seseorang yang kau kenal baik?” tanya Taehyung.

Dalam diam, aku memerhatikan penampilan player yang sekarang tengah bertarung melawan empat orang player di tengah lapisan plasma gelap sementara playerplayer lain menjadi penonton di luar lapisan plasma tersebut.

Jubah hitam press-body yang dia kenakan sekarang, equipment logam keemasannya, juga surai gelap teracak miliknya, kulit pucatnya yang tampak begitu kontras dengan suits yang ia kenakan, juga paras terpahat sempurna yang bahkan dari jarak ratusan meter begini masih juga terlihat sempurna…

“Dia seperti Invisible Black.” ucapku tanpa sadar.

“Bagus sekali. Dan kau tahu kebetulan apa lagi yang kutemukan? Coba tebak, apa ID player itu yang berhasil diakses oleh playerplayer lain?” tanya Taehyung membuatku menatapnya.

“Siapa?” tanyaku.

“Black Radiant.”

Tanpa sadar, jantungku terpompa begitu kencang saat mendengar nama itu. Mengapa mereka berdua begitu serupa? Ability dan penampilan mereka juga serupa. Keduanya bahkan sama-sama berparas kelewat sempurna.

“Ada apa ini, Taehyung? Siapa mereka berdua sebenarnya?” tanyaku segera membuat Taehyung menghela nafas panjang.

“Kalau itu, seharusnya kau yang bisa lebih tahu. Karena kau mengenal salah satu dari mereka berdua. Aku memang pernah melihat nama Black Radiant dalam versi yang lama yang selalu kita akses, tapi tak pernah benar-benar berhadapan dengannya.

“Seingatku, dia adalah seorang rank nomor empat. Dan sekarang, empat player yang sedang berhadapan dengannya adalah player yang pernah dia hancurkan dalam versi lama. Aku tidak tahu, apa dia dan Invisible Black punya hubungan, tapi yang jelas, keduanya sama-sama memberiku kesan yang sama saat pertama kali aku melihatnya.” ucap Taehyung menjelaskan opininya.

Aku sendiri masih terhanyut dalam kebingungan. Kemiripan mereka terasa hampir tak masuk akal untuk sekedar disebut sebagai sebuah kebetulan. Dan kemampuan mereka, juga rank mengerikan itu…

“Mereka seperti monster.” ucapku segera dijawab dengan sebuah tawa pelan oleh Taehyung.

“Itu juga yang aku pikirkan. Mereka mematikan, mengerikan, seperti monster. Dan kau tahu apa yang membuatku merasa keduanya saling berhubungan? Karena mereka berdua… sama-sama tak ada dalam list player yang seharusnya ada di dalam survival mode ini.”

Tanpa sadar aku membeku. Ada apa ini? Permainan politik macam apa yang sekarang tengah terjadi? Apa dugaanku selama ini benar? Baekhyun mungkin adalah seorang programmer dari WorldWare itu sendiri? Dan sekarang dia juga rekannya bisa ada di dalam mode ini karena permainan politik dari perusahaan WorldWare sendiri?

Tapi apa tujuannya? Mengapa mereka justru menjadi lawan dari playerplayer lain? Mengapa player lain selalu mengibarkan bendera perang pada mereka berdua?

“Dugaanku, mereka berdua pasti bukan orang biasa, Jiho. Mereka bukan player biasa seperti kita. Tapi aku tidak bisa membuktikan apapun, karena aku bahkan tidak mengenal satupun dari mereka. Yang bisa membuktikan itu dengan menanyakannya, adalah kau.”

Aku menatap Taehyung, bisa kupahami Taehyung sekarang pasti sama bingungnya denganku. Kami sama-sama berada dalam situasi dimana dua orang itu kemungkinan besar mengancam nyawa kami. Bukan karena mereka berdua berusaha membunuh player, tentu saja.

Tapi karena mereka sama-sama punya kemampuan yang tidak bisa dilampaui oleh player manapun secara pribadi.

“Taehyung, apa kau tahu soal rank nomor dua dan tiga dalam permainan ini?” tanyaku akhirnya membuat Taehyung terdiam.

“Aku tidak pernah menemui player manapun yang berada dalam rank itu. Tapi menurutmu mereka juga ada di dalam permainan ini?” tanya Taehyung.

“Ya, tidakkah kau pikir, mereka mungkin juga ada hubungannya dengan dua orang ini?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pesan yang kukirimkan pada Baekhyun setelah aku menemui Taehyung kemarin tidak jua mendapatkan balasan. Jangankan membalas, aku bahkan tak yakin apa dia membaca pesan yang aku kirimkan.

Sejak kemarin, aku dan Ashley sibuk mengumpulkan beberapa tanaman-tanaman kecil yang bisa Hana—ingat Hana? Player yang kutemui bersama dengan saudaranya, Kim Doyeon, saat kami hendak masuk ke dalam mode ini?—menjadi obat-obatan.

Hana dulu mendaftarkan diri dengan kode Mage sehingga dia bisa punya kemampuan untuk mengolah tanaman menjadi obat. Tidak kusangka, kemampuan itu justru berguna di saat seperti ini.

Aku sendiri dulu memilih profil Defender, sama seperti Taehyung dan Ashley. Jadi kami sama sekali tak punya kemampuan untuk mengolah hal-hal seperti itu. Tapi kami punya ability yang cukup baik dalam bertarung jika dibandingkan dengan para Mage.

Di tempat persembunyian kami, ada tujuh orang yang singgah. Aku, Taehyung, Hana, Doyeon, Tarin, Jeno dan Herin—secara tidak sengaja Ashley bertemu dengan Jeno dan Herin saat keduanya hendak diserang oleh playerplayer lainnya.

“Kita tidak bisa bertahan hanya dengan tanaman-tanaman ini.” Jeno berkata begitu human wealthnya berada di bawah batas standart.

“Jeno benar, Ash. Kita juga harus mencari bahan makanan.” kataku membenarkan.

“Tidak bisa, House of Zeus dan WhiteTown sudah memburu habis semua persediaan makanan yang ada. Sementara persediaan makanan itu hanya akan muncul dua kali dua puluh empat jam setelah pasokan yang ada dihabiskan.

“Zeus sudah tahu kami bertiga membelot darinya, dan tidak ada harapan bagi kami jika ingin kembali. Satu-satunya jalan adalah dengan menyerang mereka, merebut paksa pasokan makanan itu.

“Jika tidak, kita semua akan mati karena human wealth yang kacau.” Hana menjelaskan.

“Kau tidak bisa meminta bantuan pairmu, Jiho?” tanya Herin memecah keheningan yang sempat tercipta karena penjelasan Hana barusan.

Pairku?” tanpa sadar aku mengulang dengan tolol.

“Ya, dia adalah player yang kuat. Dan pasti bisa membantu kita untuk setidaknya menyerang White House—nama yang mereka berikan pada Build terbesar di server ini yang sudah mereka ambil alih sebagai kepemilikan—dan mendapatkan makanan itu.

Player lain juga pasti mengalami kesulitan yang sama dengan kita. Sementara mereka tak bisa memberikan apapun sebagai barter pada WhiteTown atau House of Zeus sebab mereka tidak lagi punya pouch.

“Satu-satunya jalan untuk mendapatkan makanan adalah dengan menyerahkan player sebagai barter, karena player tersebut akan dibunuh oleh mereka dan pouchnya digunakan untuk kepentingan mereka sendiri.”

Penuturan Herin sekarang justru jadi alasan yang sungguh masuk akal untuk menyerang persembunyian WhiteTown dan House of Zeus. Mereka sudah melakukan monopoli terhadap permainan ini, lagi. Dan keadaannya sekarang justru lebih mengerikan lagi.

“Dengan health bar yang tidak bisa diperbaiki, kita akan mati dalam waktu dua puluh empat jam. Ini sungguh cara yang luas biasa bagus untuk membunuh sebagian besar player di dalam mode ini.

“Mereka sungguh cerdas. Memikirkan strategi seperti ini untuk memenangkan peperangan tanpa harus mengeluarkan senjata, melainkan merebut semua persenjataan yang ada dari tangan musuh.

Playerplayer dengan rank tinggi juga sudah memilih untuk bekerja sama dengan mereka. Jadi… situasinya mungkin akan menyulitkan kita. Selain bantuan dari player nomor satu dalam server, kita mungkin tak punya pilihan lain.” Doyeon kini angkat bicara, dia juga tampak sama tidak nyamannya dengan Jeno karena beberapa jam yang lalu sebuah serangan sudah berhasil merenggut health barnya lebih dari separuh.

Hey! Tolong aku!” kami semua tersentak saat tiba-tiba saja sebuah teriakan terdengar dengan begitu lantang.

Di luar gua kecil yang jadi tempat persembunyian kami, kulihat bagaimana Taehyung tertatih-tatih dengan luka sekujur tubuh tengah berusaha membopong dua orang di sisi kiri dan kanannya.

“Taeil!” Ashley menjerit begitu dia mengenali sosok yang tengah dibopong oleh Taehyung.

“Mereka diserang, kutemukan keduanya di tengah hutan.” Taehyung menjelaskan, sementara aku dan Ashley sekarang bergerak membantunya membopong dua orang itu.

Mereka berdua sama-sama tidak sadarkan diri, dengan keadaan yang sangat mengerikan. Human wealth dan health bar mereka kritis.

“Hana, cepat obati mereka untuk mengembalikan health barnya.” ucap Ashley.

“Baiklah.” Hana berkata, dibawanya empat buah botol obat yang sudah dia buat dengan tergopoh-gopoh.

“Siapa yang satunya?” tanya Hana begitu dia menuangkan isi botol tersebut ke dalam mulut dua player yang sekarang sama-sama tak sadarkan diri itu.

“Aku tidak tahu. Tapi—hey, bukankah dia Lead Townmu dulu?” tanya Taehyung begitu dia mengenali sosok jangkung yang ada di dekatku.

“Sia—ah, Royal Thrope?” aku kemudian memerhatikan wajah pria yang sekarang bersimbah darah di pembaringan kami.

Benar, dia adalah Royal Thrope. Meski sekarang keadaannya begitu kacau dan—

“Wajahnya terlihat tidak asing.” Herin berucap saat dia melangkah ke sebelahku.

“Tidak asing? Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Dia adalah pria berjas merah itu, bukan? Pimpinan bergaya arogan yang ada di NG Game Factory?” Jeno bersuara.

Ah! Benar! Pantas saja wajahya begitu tampak tidak asing. Maksudku, wajah pria berjas merah itu. Meski warna dan tatanan rambut mereka berbeda, tapi jika diperhatikan lagi wajah mereka memang mirip.

“Astaga, kebetulan macam apa lagi ini?” ucap Taehyung berkomentar, sementara Ashley sekarang tengah mengobati luka di tubuhnya.

Heran sekali mengapa Ashley memilih untuk mengobati Taehyung ketimbang memperhatikan keadaan pairnya sendiri.

“Aku tak bisa berbuat apa-apa soal human wealth mereka. Dalam keadaan seperti ini, setidaknya mereka hanya akan bertahan maksimal enam jam sebelum game over.” ucap Hana setelah dia selesai memperbaiki health bar Taeil dan Thrope.

“Jadi maksudmu, aku menyelamatkan mereka hanya untuk membuat kita semua menyaksikan bagaimana mereka mati?” tanya Taehyung.

“Bukan begitu, Taehyung. Tapi kita memang sudah tidak bisa berbuat apapun. Semua pasokan makanan direbut oleh White House dan anak buah mereka. Kita tak punya harapan selain—”

“—Aku akan bicara dengannya.”

“Apa? Kau akan bicara dengan siapa?” Taehyung menatapku tidak mengerti. Ah, dia tentu tidak tahu percakapan penting apa yang sudah dilewatkannya selagi dia tidak ada di sini.

“Kami sudah bicara tadi, Taehyung. Pasokan makanan yang direbut oleh White House hanya bisa kita peroleh dengan menyerang mereka. Dan kita semua tahu kita tak akan cukup kuat untuk mengalahkan mereka semua. Jadi, Invisible Black mungkin bisa jadi solusi.

“Kita semua tahu, bagaimana dia bisa mengalahkan ratusan player di satu waktu. Meski dia pernah dikalahkan, kekalahannya saat itu tidak lepas dari hacking yang Taehyung lakukan. Jadi, tanpa adanya gangguan internal dari sistem, dia pasti bisa mengalahkan mereka semua dan merebut pasokan makanan, bukan?”

Taehyung terdiam saat mendengar penuturanku. Dia lantas menghela nafas panjang, menatapku tak nyaman sementara aku sendiri sudah tidak bisa memikirkan apapun.

“Aku akan bicara dengannya, setidaknya akan kucoba. Lagipula, ini bukan hanya demi kepentingan kita tapi juga kepentingan player lain.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sudah belasan kali aku mencoba menghubungi Baekhyun melalui call yang ada di survival mode baru ini. Tapi dia mengabaikanku, hal yang entah mengapa membuatku begitu merasa kecewa padanya.

Apa Baekhyun tengah menghindariku? Atau dia—

“Ya? Ada apa, Jiho?”

Jantungku hampir saja melompat dari persinggahannya begitu kudengar vokal Baekhyun di seberang sana.

“Baekhyun… apa kau sengaja menghindariku?” bukannya menanyakan keberadaannya, atau bagaimana keadaannya, pertanyaan itu justru jadi hal pertama yang aku tanyakan begitu aku mendengar suaranya.

“Tidak, Jiho… Mengapa aku harus menghindarimu?” mengapa dia justru terdengar seolah ia enggan bicara denganku? Apa dia tidak tahu bagaimana rindunya aku padanya sekarang? Bagaimana aku ingin melihatnya, mendengar suaranya, melihat paras sempurnanya dan melihat senyumannya?

Apa hanya aku seorang yang merasakan hal itu sedangkan Baekhyun tidak?

“Aku merindukanmu, Jiho.” tanpa sadar dadaku terasa sesak begitu kudengar Baekhyun berkata begitu. Mendahuluiku yang sibuk dengan kemungkinan bahwa dia mungkin tidak mengingatku atau memikirkanku, dia justru mengatakan padaku tentang kerinduannya.

“Aku juga merindukanmu. Lebih dari apapun yang ada di sini, aku ingin bertemu denganmu. Bisa kita bertemu? Aku… membutuhkan bantuanmu, Baekhyun.”

Hening sejenak sebelum akhirnya Baekhyun menjawab.

“Apa ada masalah di sana?” tanyanya.

“Hmm, ya. Aku bisa menjelaskannya, tapi tidak melalui call seperti ini. Kumohon, bisakah kita bertemu? Aku sungguh ingin melihatmu. Tidakkah kau ingin bertemu denganku juga?”

Lagi-lagi Baekhyun terdiam begitu mendengar ucapanku.

“Kirimkan koordinatmu padaku.”

“Dimana kita akan bertemu?” tanyaku pada Baekhyun.

“Tidak perlu kemana pun, Jiho. Aku lah yang akan datang padamu.”

Ah, Baekhyun. Kalimatnya sekarang bahkan berhasil membuat jantungku berdegup begitu kencang. Mengapa dia sungguh pandai menguntai kalimat yang bisa membuatku merasa tidak karuan?

Segera, kukirimkan koordinatku pada Baekhyun. Selagi call kami masih terhubung.

“Lekaslah datang, Baekhyun, aku menunggumu.”

“Ya, Jiho.” Baekhyun berkata sebelum dia akhirnya jadi orang pertama yang mengakhiri call kami.

Aku kemudian duduk diam dan menunggunya di tempat yang sama selama kurang lebih tiga puluh menit. Perasaanku makin tidak karuan karena keadaan Taeil dan Thrope sekarang sudah pasti semakin memburuk sementara aku masih tak bisa berbuat apa-apa.

Hey, Jiho.” kudengar sapaan itu setelah sekian lama menunggu. Di belakangku, sudah berdiri Baekhyun dengan suits gelapnya, menatapku dengan tatapan sarat akan rasa bersalah yang kuingat pernah kulihat beberapa hari yang lalu.

Hey,” aku menyapanya, berdiri untuk menghampirinya sementara senyum tanpa sadar muncul di wajahku begitu kulihat wajah Baekhyun.

“Mengapa ekspresimu murung begitu? Tidak suka karena melihatku ada di survival mode ini?” tanyaku dijawab Baekhyun dengan sebuah anggukan.

“Ya, sudah kukatakan survival mode ini berbahaya untukmu. Tapi kau masih juga berkeras ingin terlibat di dalamnya.” ucap Baekhyun membuatku menatapnya tak mengerti.

“Kalau berbahaya untukku, lantas mengapa kau juga ada di sini? Namamu bahkan tidak ada di list player yang akan masuk dalam game ini, dan tiba-tiba saja kau ada di sini, jadi player pertama yang kutemui dan akhirnya menyerangku dan membuatku tak sadarkan diri selama berjam-jam.” aku berkelakar.

“Yah, kau tahu aku punya satu-dua cara kecil untuk ada di sini. Tapi bagaimana denganmu? Bagaimana jika orang-orang di sini justru membahayakanmu?” tanya Baekhyun.

Jadi, bahaya itu yang jadi kekhawatirannya? Karena dia juga tahu playerplayer di sini sudah berubah menjadi pasukan perang yang berusaha untuk membunuh player lainnya?

“Kita sudah sama-sama terlanjur ada di dalam versi ini. Mau bagaimana lagi?” kataku akhirnya.

“Bertahanlah sampai akhir jika kau tidak ingin mati, Jiho.” Baekhyun berkata.

“Apa maksud ucapanmu, Baekhyun? Apa kita sekarang benar-benar berada dalam situasi dimana hanya salah satu dari kita yang bisa bertahan?” tanyaku membuat Baekhyun terdiam.

“Ya, kita sekarang ada dalam keadaan seperti itu. Dan aku tak ingin menjadi player yang membunuhmu. Aku juga tak akan mengizinkan siapapun membuatmu terluka. Jadi, kau harus bertahan sampai akhir untuk mengalahkanku.”

Ucapan Baekhyun sekarang membuatku terdiam.

“Tapi Baekhyun, aku tak ingin mengalahkanmu. Bagaimana aku bisa melakukannya? Kemampuanku bahkan tak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu.”

Kini, Baekhyun menatapku dengan sebuah senyum di wajahnya.

“Kalau begitu, biarkan aku mengalah untuk membiarkamu membunuhku, Jiho.”

Aku menatap Baekhyun dalam diam. Mempertanyakan keseriusan ucapannya yang bahkan tidak kudengar sebagai candaan, dia benar-benar ingin aku membunuhnya jika situasi sulit menjebak kami?

“Sebelum situasi itu datang, kita berdua harus sama-sama bertahan, bukan?” tanyaku dijawab Baekhyun dengan sebuah anggukan pelan.

“Ya, kita harus sama-sama bertahan.” ucapnya.

“Tapi aku khawatir aku mungkin tak akan bisa bertahan.”

“Apa maksudmu?” tanya Baekhyun tidak mengerti.

“House of Zeus dan WhiteTown, mereka bekerjasama untuk merebut semua pasokan makanan yang ada di dalam server, menumpuknya di Build yang mereka sebut sebagai White House.

“Kau pasti tahu, player akan game over jika human wealth mereka mencapai limit. Dan rupanya, itu strategi White House untuk mengurangi jumlah player yang ada di mode ini tanpa harus bertarung. Dan—”

“—Kau butuh bantuanku untuk merebut makanan-makanan itu dari mereka?” tanya Baekhyun memotong ucapanku.

Aku menatap Baekhyun sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

“Ya… seperti itulah. Kau tahu, beberapa orang di tempatku sekarat. Dan mereka butuh makanan. Sedangkan tidak ada player di server ini yang bisa dibandingkan denganmu. Kau itu player nomor satu, dan sudah pasti bisa mengalahkan mereka.” tuturku membuat sebuah senyum muncul di wajah Baekhyun.

“Itu juga yang membuatmu jatuh hati padaku bukan?” pertanyaannya segera kujawab dengan sebuah anggukan mantap.

“Selain karena alasan itu, kau juga memang terlalu sempurna untuk tidak bisa menarik hati seseorang. Memangnya siapa lagi di server ini yang kukenal dekat selain kau?”

Baekhyun kali ini terdiam, tapi senyum masih ada di wajahnya. Akhirnya, Baekhyun menatapku lagi, kali ini tidak dengan tatapan sarat akan kekecewaan yang tadi sempat kulihat melainkan tatapan dari seorang Baekhyun yang selalu kukenal.

“Kau pernah dengar, Jiho? Tentang istilah dimana seseorang tak akan bisa menggunakan sayap yang sudah dipatahkannya sendiri?” pertanyaan Baekhyun sekarang membuatku menatap tidak mengerti.

“Tidak, aku tak pernah mendengarnya. Memangnya… apa hubungannya istilah itu dengan keadaan kita sekarang?” tanyaku.

“Aku sudah mematahkan sayapku, dengan membiarkan mereka mengalahkanku dan mengetahui identitasmu. Jadi, aku mungkin tidak lagi jadi ancaman bagi mereka. Dan yang ada, mereka justru akan menggunakanmu sebagai ancaman terhadapku.

“Tapi, karena kau masih berdiri di sisiku seperti ini, tanpa sayap membanggakan itu pun aku tidak lagi akan merasa ragu-ragu, Jiho. Jadi, siapa yang kali ini harus kuhabisi?”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

HAMPIR AJA, sungguh hamipir, diriku ngetik overload kalau aja enggak diingetin sama ini jari yang udah mulai tremor akibat kebanyakan ngetik. Well, kuseneng karena di sini bisa lebih rinci dikit nyeritain keadaan di WorldWare 4.2.4 meskipun harus ngejadiin Taeil sama si anu jadi korban. ITU SIAPA YANG KEMARIN MIKIR BAEKHYUN ADALAH PRIA BERJAS MERAH? Maaf yha, bukan Baekhyun loh itu.

Ah… ada banyak yang pengen kusebar-sebar di sini, spoiler tentunya, tapi apa daya aku udah enggak mau bagi-bagi spoiler karena udah deket level 20 dan level depan bakal greget, LOLOLOLOLOL.

Yap, karena otomatis kita semua bakal ngeliat battle antara Invisible Black versus banyak player lagi, haseeekk, daku mau ngetik fokus di level 20, semoga aja level depan enggak overload kayak kemarin-kemarin, WKWK.

Oh, setelah level 20 ada bonus stage lagi yaa… belum tahu sih aku bonus stagenya bakal bentuk gimana tapi ya pokoknya bonus stage aja, lihat aja nanti, eh minggu depan deng.

Ya syudahlah, sekian dulu dariku. Jangan lupa tinggalkan jejak atau aku bunuh Jiho di level berikutnya /ngancemlevelsavage/. Sampai jumpa!

Salam kecup, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

28 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 19 [White House] — IRISH”

  1. “Tapi, karena kau masih berdiri di sisiku seperti ini, tanpa sayap membanggakan itu pun aku tidak lagi akan merasa ragu-ragu, Jiho. Jadi, siapa yang kali ini harus kuhabisi?

    Sumpah kau keren baek.. Kok pintar bgt sih ngomong.. Gimana jiho ga cinta ama loe baek.. Kak bisanya mr. Invisiblenya amaku aja. Wkkwk

  2. Dear Irishnim,
    Maafkan dakuh yang jadinya nagih, tapi aku sakaw nih. Dan betewe, udah mau Jumat lagi.

    Dan lagi, happy belateeeeeed birthday Bang Bebek,
    Maafkan dakuh yang sibuk di kantornya seabrekk sampe bahkan g sempat Ngirim wish ke kamu Bang… T_T
    Aku nangis di office, pas tanggal tua, gaada kuota, sibuk seabrek, trus Bang Bebek ultah aku ga post apa-apa.
    /lha, kok ini jadi curhat abal aabal?/

    Amutdeon, aku nunggu yah, level 20nya. Udah greget bikoz di kasih spoiler bahwasanya level 20 bakal hottt…
    Eheheheh…

    Himnebuseyo. Dakuh setia menunggu Bang Cabe sama Bang Bebek fight. Yah…

    Sincerely,
    Shannon

  3. kenapa sih kata2 manis baekhyun bikin aku senyum2 terus…. itu siapa sih pria ber jas merah???? jiho sampe 1harian gitu buat memulihkan keadaan dia? kalau di dunia nyata ada game semacam ni n gw ikut pasti emak gw nyariin dah

  4. Huaaaa aku ga bisa berkata apa” lagi buat ff ini.. Sungguh daebak!! Aku suka banget, dan kalo boleh saran scane baekhyun sama jiho di banyakin ka rish.. Mereka tuh manis banget kayak gulali wkwkwk aku suka aku suka ^^ black radiant tuh siapa lagi?? Nanti dia bakalan jadi musuh BaekJiho atau malah jadi temen seperjuangan?? Btw Royal Throp juga nanti bakalan jadi musuh atau malah jadi temen?? Makin penasaran sama lanjutannya. Ga sabar sama endingnya bakal jadi gimana. Terus nanti mereka ketemu ga di kehidupan nyata unchhh.. Mereka tuh kopel paporit aku hehehehe.. Semangat lanjut ka rish ^^

  5. Huaaaa aku ga bisa berkata apa” lagi buat ff ini.. Sungguh daebak!! Aku suka banget, dan kalo boleh saran scane baekhyun sama jiho di banyakin ka rish.. Mereka tuh manis banget kayak gulali wkwkwk aku suka aku suka ^^ black radiant tuh siapa lagi?? Nanti dia bakalan jadi musuh BaekJiho atau malah jadi temen seperjuangan?? Btw Royal Throp juga nanti bakalan jadi musuh atau malah jadi temen?? Secara level awal kan dia jahatin baekhyun.. Makin penasaran sama lanjutannya. Ga sabar sama endingnya bakal jadi gimana. Terus nanti mereka ketemu ga di kehidupan nyata unchhh.. Mereka tuh kopel paporit aku hehehehe.. Semangat lanjut ka rish ^^

    1. XD siaaappp, nanti aku banyakin scene mereka berdua ya biar makin bikin diabetes mellitus XD wkwkwkwkwkwkwk nanti royal thrope aka johnny jadi temen kok, temen sekaligus musuh dalem selimut XD wkwkwkwkwkwk

  6. ini yg battle bener2 battle
    karna cuma akan ada satu pemenang di sini
    yakin memang baekhyun gak mungkin ngebunuh jiho
    dan kupikir ya si jiho mah harus bunuh baekhyun nantinya walau pastinya bakal SAKIT PAKE BANGET!!!!!!!! uhuhuhu

    eeeh betewe mau nanya niih
    si baekhyun belajar kata2 manis dari mana sih? ampe anak orang dibikin diabetes tingkat akut gini wkwkwkwk

    awesome part!!!! I hope di part bonus nanti bakal gregetin jugaaaak!!!!

  7. /angkat tangan/ Saya author-nim yang ngira jas merah itu si Baekhyun, dan ternyata bukan. Ya sudahlah, dia bakal jadi orang yang kita sayang kan.. mari kita sayangi bersama2.. (mungkinkah dia ada hubungannya dengan segala keruwetan dan politik antara Worldware dan Rule the World? *mikir keras* mungkinkah Worldware ini…. ah, sudahlah.. pasrah aja sama Author-nim, ntar salah lagi..)

    Dan akhirnya.. Cie cie yang mau ultah, akhirnya nongol juga.. walopun cuma bentar, dikatain mirip lagi sama baekhyun.. /ya iyalah, yang punya “surai hitam teracak” dengan indahnya kan g cuma si cabe../

    Aku juga mau nanyain si Sehun thor.. tuh anak ke mana? apa lagi ngambek gara2 dilupain trus ditinggal nikah sama Jiho? kan kasian, udah LDR, jarang komunikasi, eh, ditinggal nikah

    btw jadi ikutan baper waktu Jiho kangen2an ama baekhyun..

    Huuufftt.. Aku hampir merana karena udah tanggal 17 tapi belum update dT_Tb habis baca level ini langsung berimajinasi apa yang bakal terjadi di level 20, mungkinkah Jiho akan tetap dibiarkan hidup seperti janji Author? atau mungkin ada plot twist bangsadh yang bikin g tenang?
    yang pasti di level ini Hunger Game pindah ke Worldware Universe /cie.. udah keren belum?/

    Gomawo Author-nim, tangannya jangan sampe tremor beneran.. kan serem

    1. XD BUAKAKAKAKAKAKKAKAKAK kalo itu si jas merahnya Baekhyun udah pasti jihonya kenal laahh, gak greget ngebuat mereka kenal satu sama lain di dalem dunia nyata, lebih baik di dunia virtual aja kan ya XD wkwkwkwkwk
      sehun nanti muncul, ada jatahnya sendiri dia XD wkwkwk belum di sini tpai XD

  8. haduh jgn di bunuh donk ji ho nya.
    itu siapa lg yg di rank 4 mirip invisible black???
    level ini kurang banyak atau panjang. ini fase pemulihan, ya jd ingin baca dimana invisible black dan black radiant bertemu. wow seperti apa ya. tp irish bisa gk klo baekhyun bertemu dgn jiho di dunia nyata. jgn fokus di dunia virtual aja donk…

  9. aah, kak iriiiish
    ini ff kenapa bikin aku ikut deg2an siiih >,,<

    btw ka irish makan apaan si? ko bisa bikin ff keren ke gini XD

    #화이팅 아이리스 씨

  10. Jadi siapa kh baekhyun itu?
    Eh iya aku juga baru inget, kan di chapter mana gitu si jiho bilang dia punya pacar namanya sehun kan? Mreka ketemu ga di sono kak rish?
    Au ah nunggu aja kelanjutannya, fighting kak irish 😘

  11. Dear Irishnim,

    Arggggghhhhh….
    Akhirnya Bang Chenku officially debut juga di ff series kesayangan ini.
    /fangirl abal abal mode : on/

    Tapiiiii…. Masa’ sih, Chen si bebek mirip sama Baek si cabe.?
    Beagglenya sih iyaaa.. /maafkan dakuh Mas Bebek dan Mas Cabe/
    Tapi biarlah OOC. ehehehehehe
    Toh keren…

    Aku kan baca spoiler di level berapa gitu, katanya Black Radiant bakal muncul, jadi kek villain gitu.
    Pas Chennya nongol, langsung dah, ampir aku tereak di office /gajadi, taku dipelototin sekantor/

    Dan dan daaaaaaannnnn,
    “Tapi, karena kau masih berdiri di sisiku seperti ini, tanpa sayap membanggakan itu pun aku tidak lagi akan merasa ragu-ragu, Jiho. Jadi, siapa yang kali ini harus kuhabisi?”

    Hahhhhh….
    Deep breaaaaaaathhhh /mode sesak nafas : on/

    lupa lagi cara bernafas.

    Eheheheeh…

    Truusss, aku udah baca semuaaaa slices Code Name LIV.
    Tinggal ninggalin jejak kan? kan, kan kan?

    Yaudalah, ta’tunggu level 20nya next week.

    Himnebuseyo~

    Sincerely,
    Shannon

    1. akhirnya chen muncul, ka shannon ga perlu galau lagi jadinya kan ya nunggu chenchen melulu XD wkwkwkwkwkwkwk BEAGGLE SAMA BANTETNYA IYA MIRIP BANGET XD KEDUANYA SAMA-SAMA MELELEHKAN HATI JUGA LOH KAK, PERCAYA DEH SAMA AKU XD XD XD
      jangan jerit di kantor kak, cukup aku aja yang jadi orang gila suka senyum2 kalo baca komen2 pas di kantor XD wkwkwkwkwkwk

    2. Dear Irishnim,

      Kadang aku dianggap kesambet, gegara banyak kali *i repeat irishnim, banyak kali dibuat nangis gegara baekhomu ini…
      Trus maafkan daku, switch sama liv belum ku komen komen juga… nanti yah, ku bomb komen sama likenya.. nunggu offku sepi di hotel yah…

      Sincerely,
      Shannon

  12. Kak iriseu,😫 tau gak..?? Dari tadi pagi udah sekitar 20 kali aku buka exoffi tapi game over belom update juga.. daku bahagia barusan tau kak IRISEU update.. ane pikir jadwalnya mundur.. Alhamdulillah kalo gak mundur.. huhuhuhu. .
    Ini nih edisi comment dulu sebelum baca 😁 ane percaya kok kalo kak Irish ga pernah bikin ff yg mengecewakan..
    First comment kah???

    1. XD buakakakakak astaga tolong aku mau ngakak tapi dosa ya kalo aku ngakak itu XD wkwkwk engga inshaa allah gak mundur2 lagi jadwalnya, karena udah mepet banget ini sama desember XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s