[FICLET] ONE LAST TIME — IRISH’s Tale

|   one last time   |

|   Byun Baekhyun    |

|  Angst x Life x Melodrama x Psychology  |

|   Ficlet   |   Teenagers   |

Teruntuk, kalian yang akhirnya mengetahui tentang aku dan cerita menyedihkan hidupku… — Byun Baekhyun, 17th September 2017

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

Dunia itu jadi melelahkan ketika kita dewasa, sungguh. Karena, kita dipaksa untuk memahami semua perkara yang dulu saat kecil cukup kita hadapi dengan tangisan saja. Kiranya, penyebab tangisan saat kecil dulu juga telah mencapai ambang batasnya.

Keluargaku bahagia, kata orang. Kataku, keluargaku adalah bentuk paling menyedihkan dari tatanan rumah tangga yang ada di dunia. Sejak usiaku enam tahun, ibu dan ayah rutin bertengkar setidaknya tiga kali sehari. Seperti aturan minum obat, ya?

Saat kecil, pertengkaran itu cukup kuhadapi dengan tangisan saja. Serta, kuhakimi ayah sebagai penyebab pertengkaran. Karena ayah tidak bekerja dan akhirnya tak ada uang yang cukup untuk menghidupi keluarga kecil sengsara kami.

Menginjak remaja, aku sadar bahwa ayah tidak salah, tapi ibu lah yang salah. Semua uang yang diberikan ayah bisa dihabiskannya dalam waktu beberapa hari. Memberi makan anak-anak, alasannya, padahal kami tidak makan makanan yang lebih baik daripada makanan anjing tetangga sebelah rumah.

Belakangan, ketika aku masuk dalam kategori usia yang dikatakan orang sebagai usia dewasa, aku sadar, ayah dan ibu sama-sama salah. Ayah salah, karena dia harus meminta seorang wanita seperti ibu untuk jadi pendamping hidup. Dan ibu salah, karena dia menerima ajakan ayah yang memintanya menjadi pendamping hidup.

Kalau mereka tidak dipertemukan dan disatukan dalam ikatan pernikahan, memangnya hal semacam ini akan terjadi? Terlebih lagi, keduanya seringkali menjadikanku kambing hitam atas pertengkaran mereka.

Katanya, aku yang salah karena terlahir ke dunia. Katanya lagi, aku terlalu banyak menghabiskan uang di pendidikanku. Pernah lagi dikatakan, kalau aku ini lahir ke dunia hanya untuk jadi orang yang tidak berguna.

Lantas, kubuktikan pada keduanya kalau aku bisa jadi orang berguna. Saat sudah benar-benar dewasa, aku bisa memberi ibu uang yang dia inginkan, dan ayah tak harus memikirkan cara untuk mencari uang.

Tapi pertengkaran itu terus saja terjadi.

Lagi-lagi, karena aku.

Kali ini, katanya aku bekerja terlalu keras dan mudah sakit-sakitan, karena salah ayah. Kata ayah, salah ibu karena harus menurunkan penyakitnya padaku. Nah, pada akhirnya mereka salahkan aku karena harus terlahir dengan membawa penyakit, dan bekerja terlalu keras sampai penyakit itu sering datang dan pergi.

Rumah itu bagai neraka, jadi aku putuskan untuk keluar dari rumah sesegera mungkin. Mengakhiri penderitaan, inginku. Tapi aku sadar aku telah menutup diri dari semua wanita. Menyamakan mereka dengan stigma burukku tentang ibu, sementara aku sendiri takut jika aku kelak akan berubah jadi seorang tak berguna seperti ayah.

Aku tak pernah mencinta wanita manapun. Aku sudah hidup jauh dari dua orang tuaku yang renta tapi tetap saja menjalankan rutinitas monoton bertengkar tiga kali sehari yang agaknya sudah jadi favorit mereka.

Tapi aku kemudian kesepian. Jadi kuputuskan untuk mencari teman bicara. Seorang wanita yang kutemui di tempat pelayanan kesehatan yang sebulan sekali kutemui di tempat pelayanan kesehatan itu akhirnya jadi teman bicaraku.

Dia dengarkan semua penderitaan yang kuungkap lewat kata itu sambil menahan tangis pilu. Menurutnya, aku sudah jadi begitu kuat. Tapi dia katakan, kesepianku adalah bagian dari depresi. Dia sarankan aku untuk kembali ke kediaman kedua orang tuaku, setidaknya mengetahui kabar mereka, menengok mereka barang sejenak.

Karena aku takut, kuminta ia untuk menemaniku, dan dia setuju. Kami kemudian mendatangi rumah lamaku, sayang oh sayang, ayah ternyata telah tiada. Dibunuh oleh ibu, kata tetangga sebelah rumah yang makanan anjingnya lebih baik daripada makananku sehari-hari saat ada di rumah.

Ibu sendiri dirawat di rumah sakit jiwa, tapi aku enggan menemuinya. Karena menemuinya sama saja dengan membangkitkan luka lama yang sudah susah payah aku pasangi perban dan kuobati rutin setiap harinya.

Wanita yang datang bersamaku, lantas berkata bahwa keputusannya ada di tanganku. Hadapi ketakutan itu, atau berlari darinya sampai suatu waktu aku tersandung sendiri dan terjatuh, mengalami luka baru lagi dan harus menyembuhkannya lagi.

Beberapa hari kemudian kuputuskan untuk menemui ibu, melihat keadaan menyedihkannya di rumah sakit jiwa entah mengapa sama sekali tidak membuatku merasa sedih. Atau berkeinginan untuk merengkuh tubuhnya.

Kedua tangan ibu yang sekarang penuh luka, dulu begitu sering digunakannya melukaiku. Dan aku tak mau menyentuh tangan yang sudah meninggalkan luka di tubuhku itu. Bibir keringnya yang memucat, dulu sering digunakannya mencaci-maki diriku, dan aku tak mau mendengar kata apapun keluar dari mulut itu.

Rambutnya yang sekarang memutih, dulu kuingat pernah menjadi rambut hitam panjang terawat yang tak pernah lupa dibawanya ke perawatan rambut tiap sabtu petang. Dan sekarang melihat rambutnya acak-acakkan begitu, aku ingin sekali menertawainya.

Aku membenci ibu, begitukah?

Lantas, apa bedanya aku dengan anak pendosa?

Karena malu menghadapi kemungkinan bahwa aku membenci ibu, aku akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya saja di sana. Biarlah, orang-orang medis saja yang merawatnya ketimbang aku. Toh, mereka tidak tahu bagaimana ibu dulu ketika dia masih waras. Jadi, terima saja ibu dalam keadaan menyedihkan begitu.

Kemudian, kuhadapi ketakutan keduaku. Aku datang ke makam ayah, menatap nisannya sembari membayangkan ayah yang telah berubah menjadi tulang-belulang di dalam peti yang ada di bawah tanah sana.

Menghadapi ayah tidak semenakutkan menghadapi ibu yang masih hidup. Membayangkan tubuh ayah telah menjadi tulang pun sama sekali tidak menakutkan. Ayah juga tak pernah menyayangi tubuhnya semasa hidup. Tiap malam rutinitasnya hanya merusak diri dengan alkohol, lalu sepanjang hari dihabiskannya rokok berbungkus-bungkus, sampai aku pernah terkena infeksi paru-paru karena ulah ayah.

Biar saja tubuhnya hancur dan jadi tulang, ayah pantas mendapatkannya.

Tidak, aku tidak membenci ayah, hanya benci pada kebiasaannya saja.

Tapi, akumulasi dari rasa sakit dan derita batin yang sudah ayah dan ibu tinggalkan selama belasan tahun dalam diriku rupanya telah berhasil mengantarkanku pada sebuah konklusi: semua ini, adalah salahku.

Kalau saja ibu dan ayah tidak berhubungan badan sebelum resmi menikah, ibu tidak akan mengandungku, lalu terpaksa menikahi ayah daripada menerima malu karena hamil di usia delapan belas tahun.

Ibu juga tidak akan kekurangan uang kalau tidak harus membesarkanku dengan membelikanku susu, atau memberiku makan—makanan yang selalu kuingat sangat mengerikan seperti makanan anjing.

Ayah juga tidak harus memaksakan diri mencari uang dengan cara apapun untuk menyekolahkanku. Keduanya tidak harus bertengkar tiga kali sehari kalau saja aku tidak terlahir ke dunia ini.

Tapi, kenapa mereka tidak menyalahkanku saja? Atau meluapkan kemarahan mereka padaku, setidaknya. Kalau ibu benci padaku, dia bisa saja tidak memberiku makan hingga aku mati kelaparan. Mengapa harus menyalahkan ayah?

Kalau ayah membenciku, dia bisa saja tidak membiayai sekolahku dan membuatku jadi seorang gelandangan saja, mengapa harus menyalahkan ibu?

Kalau ibu ingin seseorang untuk dibunuh, kenapa tidak mencariku saja untuk dibunuh? Daripada membunuh ayah yang sudah jadi rekan bertengkar tiga kali seharinya, aku lebih menyenangkan untuk dia bunuh, kan?

Aku yakin, ibu sekarang merasa kesepian karena tidak ada rekan untuk bertengkar tiga kali sehari. Selagi ibu masih hidup di dunia, dia setidaknya harus merasa senang karena aku tidak akan lagi mengusiknya, dan dia juga harus merasa tenang karena ada orang-orang yang bisa merawatnya sampai dia meregang nyawa kelak.

Petang tadi, kuputuskan untuk berhenti berlari dari ketakutan yang selama belasan tahun ini kualami. Persetan dengan sebutan depresi yang orang medis berikan padaku. Masa bodoh dengan nasehat yang sudah wanita kesehatan itu berikan padaku, aku sudah muak dengan rasa takut ini.

Lantas, kukirim sebuah pesan pada orang-orang yang kukenal, termasuk wanita itu.

‘Aku sudah memutuskan, kalau aku tidak akan menemui ibu ataupun menyusahkanmu dengan cerita-cerita miris kehidupanku lagi. Terima kasih untuk semua waktu yang sudah kau luangkan. Semoga sukses di pekerjaanmu. Do’a dariku menyertai meski Tuhan tidak mendengar do’a seorang pendosa sepertiku. Omong-omong, ini tanggal cantik kata orang-orang. Ha-ha!’

Jadi… keputusanku untuk menggantung diri hari ini, tidak salah, bukan?

— Byun Baekhyun, 17 September 2017.

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Gengs, itu di atas adalah curhatan seseorang sebelum bunuh diri, loh.

Kembali dari acara nonton KIFF dan memuaskan diri berdelusi tentang Song Joong-ki, begitu sampai di rumah aku kayak dapet samberan petir ketika sadar aku sudah mengabaikan sebuah sms yang dikirim dua jam lalu—dua jam lebih sebelum aku buka pesan itu—dan mengabaikan tiga telepon dari emak. Tepatnya, aku sudah mengabaikan pesan yang dikirim di jam 17.47 itu dan berakhir sama sebuah penyesalan juga tangisan.

Sebutlah, aku ngebuat pov seorang yang baru aja meninggal bunuh diri hari ini di kostnya. Seorang yang hanya aku kenal dari beberapa kali ketemu saat kontrol rutin lambung—miane ya, lambung akutuh lemah sampe-sampe dispepsianya harus kontrol rutin bulanan huhu—dan tuker cerita soal keluarga, hari ini udah ngambil keputusan berat buat hidupnya.

Sebutlah aku ini baperan, sehingga pas diceritain cerita dia aku justru ikutan nahan mewek, saat harusnya aku enggak boleh berempati sama seorang yang depresi, aku malah enggak bisa nahan sedih. Iya sih, salah aku tuh karena baperan.

Tapi kak, kenapa harus bunuh diri?

Itu jadi pertanyaanku, yang enggak akan dia jawab meski aku udah berusaha mengurai povnya dia lewat cerita di atas. Kostnya sepi, cuma ada tetangga yang ngurus jenazahnya, karena dia enggak punya keluarga selain ibunya, dan aku jadi orang baperan yang nangis hanya karena orang yang aku temui beberapa kali, tiba-tiba aja udah meninggal bunuh diri.

Lagi-lagi, kenapa harus bunuh diri? Kenapa milih cara itu sedangkan masalah yang… ah, kepengen nangis lagi kalo diinget. Jam sepuluh tadi karena udah malem aku disuruh pulang sama ibu kostnya, katanya jenazahnya dimakamin besok karena dia non-muslim dan harus pakai peti, dll, aku kurang begitu paham tapi aku tuh masih ikutan nangis sampe dikira ibu kost ceweknya si almarhum padahal cuma temen sepenanggungan sepenyakitan. Iya, penyakitnya loh sama.

Intinya, tolong, siapapun, yang merasa punya keluarga amburadul enggak karuan, jangan lah sekali-kali pun mikir buat bunuh diri. Tolong, banget. Karena bunuh diri itu cuma pelarian dari akumulasi rasa sakit. Yang ada kalau ada yang bunuh diri itu orang lain yang ngerasa sakit…

Meski aku nekenin bagian-bagian yang sering almarhum ceritain seperti: tengkar tiga kali sehari, makanan selevel sama makanan anjing, tapi poin ceritanya bukan di sana kok.

Tolong, banget, jauhkan diri kalian dari keinginan buat bunuh diri meski kalian depresi. Sesungguhnya orang-orang depresi itu seringkali punya kecenderungan untuk bunuh diri. Tapi jangan, ya Tuhan, malaikat udah susah-susah niupin nyawa saat kalian masih orok, masa mau gitu aja nyawanya diserahin ke malaikat pencabut nyawa? Mana diputusin secara sepihak lagi, keputusan penyerahan nyawanya.

Aku tuh meski tiap hari diomelin emak tapi demen-demen aja, idup nyaman aja, soalnya omelan emak itu ngangenin. Kayak bukan anaknya emak kalau enggak diomelin. Tolong jangan salah paham sama omelan emak kalian. Tolong jangan salahkan diri sendiri kalau orang tua kalian bertengkar.

Tolong, ya Tuhan berapa kali aku ngetik kata tolong di sini sementara hati aku masih remuk banget rasanya… sampai enggak kepikiran apapun selain cara ini buat mengenang sekaligus ngelupain rasa sedih itu.

Tanggalnya cantik, iya Mas katamu tanggal cantik, aku inshaAllah enggak akan lupa sama tanggal ini. InshaAllah juga aku kunjungin kamu tiap tanggal ini dateng. Meski kita cuma bertuker cerita sepihak dimana kamu yang banyakan cerita dan aku jadi pendengar, tapi kita bertemen. Dan tolong Mas, jangan datengin aku dalem wujud apapun malem ini, atau malem besok dan malem lusa, aku tuh kalo lagi drop suka bisa liat hal-hal aneh dan aku agak-agak percaya hantu itu ada. Kalo Mas mau pamit udah aku ikhlasin, jangan dateng Mas aku tuh takut kalo dikeliatanin makhluk halus, meski itu dalam bentuk orang yang dikenal sekalipun, tolong banget deh serius huhu aku takut.

Yang jelas, rest in peace ya saudaraku, semoga tenang di alam sana dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu, juga dosa keluargamu. Do’aku menyertai. Kamu enggak akan aku lupain, kok. Terima kasih untuk do’amu juga… maaf, karena enggak bisa membalas pesanmu buat sekedar ngasih kamu kalimat yang mungkin bisa nyegah keputusanmu. Kalau aja aku lebih cepet—ah, udahlah. Udah takdirnya begitu, ‘kan ya? Mas juga ndak akan menyalahkan aku atas keputusan yang dia ambil. Timingnya aja yang kurang tepat. Jadi lewat cerita ini, aku ungkapin rasa bersalahku karena terlambat tau tentang apa yang udah terjadi. Sekali lagi, maaf… karena enggak bisa berbuat apapun buat ngehentiin keinginan yang sudah terealisasi dan berakhir menyedihkan itu.

p.s: tolong yang baca jangan baper, dan jangan kepikiran, jangan takut didatengin juga, wkwk /kok aku ketawa saat sedih sih, huhuhu/.

p.p.s: BYUN BAEKHYUN MAAF KAMU JADI ANALOGI BUAT DIA… HUEEE AKU NDAK KEPIKIRAN MEMBER EXO LAIN PAS NGETIK INI. MAAF YHA MAAF. ITU RESIKO KALAU JADI BIASKU, SIAP DINISTAKAN DALAM BENTUK APAPUN. MAAF YAA…

p.p.p.s: maaf yaa, aku buat fanfiksi ini dengan tujuan buat nginget tanggal ini terus… maklum aku pelupanya kadang-kadang akut, apalagi soal tanggal, meski tanggal cantik. Kalo aku catet di memo hape suatu hari hape bakal ganti /songong, syid/ tapi serius, niatnya cuma buat mengenang… dan maaf kalau postnya tengah malem huhu.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

13 tanggapan untuk “[FICLET] ONE LAST TIME — IRISH’s Tale”

  1. Ini ngena banget ama gua, konflik keluarga bisa bener bener buat kita down walaupun ada orang disekitar kita yg (mungkin) menyayangi kita, pernah ngalami fase depresi juga dan susah untuk sembuh

    1. iyepp ~ aku sebenernya kasian banget sama mereka semua yang terpaksa nanggung beban mental cuma karena masalah orang tua, padahal anak kan enggak seharusnya dibebanin masalah macem itu..

  2. ANEH YAA KALO YG SOAL DINISTAIN AJA PASTI BISA SENDIRI!!!
    Sabar ya baek. Pasti ada hikmahnya.

    Yuuppss Tuhan itu gak bakal ngasih cobaan yang diluar batas kemampuan makhluk-Nya. berusaha dan tawakal. Itu yang utama. Hidup emang gak mungkin mulus terus jalannya. Pasti ada aja halangannya. Tinggal gimana kita nyikapin/sokbijak/

    Turut berduka aja dan semoga Tuhan maafin keputusannya yang gak tepat itu. Amin.

    1. BUAKAKAKAKAKKAKAKAKAKA TANGGAL NISTANYA ENGGAK USAH DIBUAT CAPSLOCK JUGA.. berhubung aku balesnya ini pas udah kelar jauh ini momen menyesakkan jadi aku udah ga begitu baper lagi XD

  3. Ternyata ini dari kisah nyata toh.. Aku turut berduka juga ka rish.. Semoga almarhum dapet hidul damai di alam sana.. Ceritanya nyelekit banget sumpah kalo aku ada di posisi dia mungkin aku juga bakalan punya pemikiran sama. Dan jujur aja aku juga pernah punya pikiran semacam itu kalo lagi down banget. hehehe ^^ aku selalu suka sama cara tulisannya ka rish. Aku selalu pengen bikin cerita tapi akhirnya pasti mogok di tengah jalan wkwkwk..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s