GIDARYEO – 9th Page — IRISH’s Tale

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  Crime  — Family — Fantasy — Melodrama — Supranatural — Suspense  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 4 | 1st Page5th Page | 6th Page7th Page8th Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

Aku melangkah pelan memasuki halaman rumah yang secara resmi kutempati hari ini. Bersama tiga orang yang tidak aku kenal tapi saling mengenal satu sama lain. Aku tidak seharusnya ada di sini, dan rasanya aneh jika harus memaksakan diri berada dengan orang-orang yang tidak aku kenal.

Apa sebenarnya yang ada dalam pemikiran mereka?

Langkahku terhenti di depan pintu saat mendengar teriakan Injung dari dalam rumah. Aku tidak begitu tertarik untuk tahu kenapa ia berteriak seperti itu, kurasa mereka sudah terbiasa melakukan hal semacam itu bukan?

Banyak hal yang tidak kuketahui.

Dan tidak perlu aku cari tahu karena bukan urusanku.

CKLEK.

Aku melangkah masuk setelah beberapa detik tidak mendengar teriakan apapun lagi dari dalam rumah. Aku tersenyum pada Injung yang memandang ke arahku. Aku tidak yakin dengan siapa Ia tadi berteriak mengingat bahwa aku hanya melihat Injung sendirian.

“Bagaimana jalan-jalanmu?” kudengar Injung bertanya begitu tatapanya bersibobrok denganku.

Nde? Menyenangkan. Aku membawakanmu roti. Apa mereka… makan seperti kita?” tanyaku hati-hati, mengingat bahwa dua orang yang dikenal Injung ini bukan manusia, khawatir juga aku kalau mereka tersinggung karena ucapanku.

Injung menggeleng.

“Tidak. Mereka tidak makan seperti kita.” jawab Injung sambil melangkah mendekatiku, ditatapnya aku seolah aku sudah menyimpan begitu banyak tanya tentang—

“Kau pasti banyak bertanya-tanya soal keadaan di sini?”

—benar, bukan?

“Sejujurnya, ya. Aku merasa asing dengan tempat ini… dengan kalian. Juga karena aku harus tinggal di sini tanpa alasan yang aku tahu. Tapi, aku tetap harus menghargainya.” aku tersenyum simpul, bagaimanapun aku tidak berada dalam posisi bisa memaksakan diri untuk pergi ataupun tinggal di sini.

“Aku akan jelaskan padamu tentang kami, nanti, jika semua orang sudah berkumpul.” Injung berkata.

“Semua orang? Ah… Apa kalian berteman sejak dulu?” tak ayal ucapan Injung membuat rasa penasaranku bangkit juga.

“Ya. Sejak SMA. Bagaimana denganmu? Keluargamu di Korea?” tanpa sadar senyum miris kusunggingkan begitu Injung menanyakan tentang keluargaku.

“Aku merantahu ke Venezuela empat tahun lalu.” tuturku.

“Tidak menyelesaikan sekolahmu?”

“Tidak—” aku menggeleng. “—Aku ikut dengan orang tua angkatku, dan mereka… sering bertindak tidak baik padaku, jadi aku pergi saat masih duduk di sekolah menengah pertama.”

“Kau rindu bersekolah?” lagi-lagi Injung bertanya.

Mengapa ia harus menanyakan pertanyaan yang sudah begitu jelas jawabannya?

“Sekolah adalah hal paling menyenangkan. Aku bisa berteman, berjalan-jalan dengan temanku, menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas dan—ah, sudahlah, lupakan saja. Lagipula, aku mungkin sudah terlalu terlambat untuk mengharapkan sekolah lagi. Boleh aku ke atas? Tubuhku terasa sedikit lelah setelah berjalan-jalan.”

Tak ingin berlama-lama melanjutkan konversasi yang cukup menguras hati ini, aku akhirnya berusaha untuk undur diri, dengan cara yang halus tentu saja. Lagipula, aku sudah banyak menghabiskan tenagaku untuk bicara hari ini.

Injung, akhirnya menjawab ucapanku dengan sorot matanya. Hal yang kemudian membuatku melangkah meninggalkan Injung menuju kamarku yang terletak di lantai dua. Tapi kemudian aku tersadar, aku sudah berusaha menjaga perasaan dua orang manusia itu untuk tidak tersinggung karena ucapanku, tapi aku sendiri tidak menjaga perasaan Injung.

Aku akhirnya menghentikan langkahku dan berbalik, menatap Injung yang sekarang memandangku, menunggu.

“Ya Anna?” Injung berkata.

Umm, maaf karena bertindak tidak sopan karena tidak memanggilmu Unnie.”

“Tidak perlu memanggilku begitu jika kau merasa tidak nyaman. Kami semua terbiasa saling memanggil nama tanpa mempedulikan umur.” Injung tersenyum menyahuti ucapanku.

“Itu ‘kan pada kalian, kurasa tidak untukku.” kataku canggung.

“Kau adalah bagian dari kami juga sekarang, Anna.” ucapan Injung sekarang membuatku terhenyak. Apa mereka bisa menganggapku begitu meski aku adalah seorang asing bagi mereka?

Apa… mereka semua terbiasa menganggap semua orang asing sebagai bagian dari mereka?

“Benarkah?”

“Ya. Kau hanya belum tahu alasannya, aku juga tidak tahu alasan apa. Tapi, nanti kita akan cari tahu alasannya. Jangan bersikap kaku pada kami, arraseo?” sejenak aku terdiam, berusaha memahami maksud tersembunyi dari ucapan Injung sekarang tapi pada akhirnya aku menyerah, dan mengangguk pelan untuk mengakhiri konversasi kami.

Arraseo. Terima kasih… Injung-ah…”

Kubawa langkahku menaiki anak tangga menuju kamar, tanpa ragu lagi aku masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Tentu saja semua hal di rumah ini membuatku merasa aneh.

Bahkan duduk di atas kasurnya saja membuatku merasa begitu canggung. Aku sungguh merasa penasaran tentang apa yang terjadi di antara Injung, Sehun dan Kai. Tapi aku lebih penasaran tentang apa yang akan terjadi antara aku dan Shadow setelah ini.

Semua yang terjadi padaku terlalu berlebihan. Mengenal orang-orang aneh di satu waktu tidaklah bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan.

Kalau Shadow of The Dark bukan salah satu dari dua orang bukan manusia itu—aku tentu harus memasukkan Kyungsoo dalam listku bukan?—lantas, apa dia adalah seseorang yang juga ada hubungannya dengan mereka?

Keadaan memusingkan ini seakan berotasi di sekitar Injung. Dulu di Venezuela, Injung juga lah yang menjadi incaran Shadow of The Dark. Apa Injung mengenalnya juga? Kalau dugaanku benar, maka tidakkah kemungkinan bahwa Shadow of The Dark dan Injung ada hubungannya seperti Kai, Sehun, dan Kyungsoo, juga mungkin terjadi?

Aku menghela nafas panjang. Shadow of The Dark tidak pernah memberiku jawaban yang tepat. Dan sekarang aku berada bersama orang-orang yang juga tidak akan mau menjawabku dengan jujur.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Pikiranku tidak bisa tenang sejak tahu kemiripan antara Anna dan Luhan. Bukan maksudku menghakimi Anna atas kemiripan yang ia miliki. Tapi, alasan tak terjawab yang mengganggu pikiranku sekarang, dan kenyataan bahwa ia sekarang ada di sini, dan juga tinggal bersama kami… dengan kemiripan yang secara otomatis akan membuatku teringat pada Luhan.

Satu hal yang nyatanya akan menyakiti diriku sendiri. Hal yang mungkin seharusnya tidak kujadikan memori pedih untuk selamanya kuingat. Tapi nyatanya… Anna membuatku mendapat terlalu banyak pertanyaan baru dalam benakku.

Dan membuatku penasaran padanya.

Aku tidak pernah mengenal Anna, dan aku yakin sebelum ini Sehun juga tidak mengenalnya. Kurasa… kecurigaanku hanya akan bersarang pada Kai. Dia mungkin mengenal Anna sebelum ini—mengingat bahwa ia mengatakan Anna mirip dengan Eommanya—tapi aku juga tidak mendapat penjelasan dari Kai. Ataupun melihat Anna tampak kenal dengan Kai. Kenal dalam artian dekat. Dan aku rasa… Anna tidak mengenal Kai sebelum ini.

Atau mungkin Anna mengenalnya, hanya ia tidak tahu jika Kai lah yang ia kenal.

Tapi bagaimana?

Tidak mungkin mereka bisa saling mengenal satu sama lain kan? Dengan cara apa? Dan sejak kapan?

Jika memang Kai ada hubungannya dengan Eomma Anna, itu artinya seharusnya Kai dan Anna sudah saling mengenal sejak Anna kecil. Tapi, Anna katakan bahwa dia tinggal bersama orang tua angkatnya. Apa Kai mengenal orang tua angkat Anna? Atau orang tua kandungnya? Itu yang harus kucari tahu sekarang.

Tunggu sebentar.

Kenapa aku sangat ingin tahu? Tidak. Memang aku sudah seperti ini. Mencari tahu hal-hal yang mengganjal di dalam pikiranku. Dan memang hal ini harus kucari tahu.

Dan karena Anna punya kemiripan dengan Luhan, aku harus lebih mencari tahunya. Apa kemiripan mereka hanya kebetulan? Atau karena sesuatu yang lain.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Kai memandang kosong jalanan di depannya. Kemudian tersenyum samar saat melihat Anna masuk ke dalam rumah.

“Setidaknya dia akan aman untuk beberapa lama… Dan setidaknya dia belum curiga.” ucap Kai sambil kemudian memandang ke langit malam.

“Sekarang saatnya mencari Kyungsoo.” ucap Kai sebelum ia berpindah dalam hitungan detik, dan sampai di sebuah rumah yang tampak sederhana dibandingkan rumah lain yang mewah di kawasan perumahan Bukcheon.

Kai melangkah mendekati rumah itu, tapi langkahnya terhenti saat melihat patung Grim reaper di bagian kiri dan kanan gerbang tinggi berwarna putih disana. Kai memandang ke dalam rumah besar itu, pemuda itu tertegun, tampak tidak asing dengan pertahanan rumah semacam itu.

Pemuda itu tersenyum tipis, lalu ia menjentikkan jarinya. Menunggu beberapa saat tapi tidak ada yang terjadi.

“Aku tidak tahu jika hanya Sehun yang bisa bermain dengan jari-jarinya,” gumam pemuda itu sesaat sebelum ia memutuskan untuk berteleportasi ke dalam rumah itu.

Akh!”

Kai berusaha menahan sakit di sekujur tubuhnya saat tanaman rambat mulai menjeratnya. Dengan serta merta pemuda itu berteriak memanggil pemilik rumah.

“Kyungsoo! Do Kyungsoo! Ini aku Kai!” teriak Kai.

Beberapa saat setelah teriakan itu, Kai mulai bisa bernafas dengan normal ketika tanaman rambat itu kembali ke sebuah pohon besar di dekat gerbang.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Kai mendongak, lalu tersenyum tipis.

“Memelihara grim reaper untuk menjaga rumahmu?” ucap Kai membuat Kyungsoo mengalihkan pandangannya.

“Kenapa kau di sini?” ucap Kyungsoo lagi, mengabaikan pertanyaan Kai.

Senyum yang tadinya ada di wajah Kai kini menghilang, digantikan dengan wajah tenang yang selalu ia tampilkan.

“Membawamu kembali.” ucap Kai enteng, namun ketegasan jelas tergambar dalam suaranya.

Kyungsoo memandang Kai, lalu tersenyum samar.

“Aku tidak akan kembali. Bukankah kita sudah menjalani hidup kita masing-masing sejak empat tahun lalu? Apa kau masih hidup bersama Sehun dan Suho? Bukankah kita seharusnya tidak bisa hidup di tempat yang berdekatan?” begitu banyak pertanyaan dari Kyungsoo membuat Kai paham, pemuda itu masih sangat mengingat jelas kejadian yang menimpa mereka empat tahun lalu..

“Kita sama-sama tidak bisa melupakan kejadian itu bukan?” ucap Kai membuat Kyungsoo terdiam.

“Kyungsoo-ya. Ada sia—ah… Kai?”

Kai menoleh, dan pemuda itu langsung terpaku.

“B-Baekhyun!? Apa yang terjadi dengan wajahmu? Bagaimana bisa wajahmu jadi sehancur ini? Xiumin melakukannya padamu saat itu?”

Baekhyun segera mengalihkan pandangannya, membuat Kai sadar jika pemuda itu menghindari tatapan darinya. Karena Baekhyun tahu benar apa yang pertama kali Kai lihat darinya setelah berpisah selama empat tahun.

“Kurasa… aku tidak perlu menjelaskan tujuanku dengan rinci. Kau sudah bisa tahu dengan mudah, benarkan? Baekhyun?” ucap Kai kemudian, enggan untuk menunggu jawaban Baekhyun atas pertanyaannya sebab dia tahu pemuda itu tak akan menjawab.

Kali ini Kyungsoo melemparkan pandangannya ke arah Baekhyun, menunggu pemuda itu bicara.

“Tidak Kai. Kita tidak bisa melibatkan Injung dan Ahri, juga satu manusia lain yang ada dalam pikiranmu itu. Mereka tidak boleh terlibat dalam permasalahan bangsa kita lagi.” ucap Baekhyun tegas.

“Tapi para A-VG itu mungkin sudah—”

“Semua kemungkinan masih ada. Berapa dari mereka yang masih hidup? Tidakkah kau tahu bahwa itu bisa jadi satu kesempatan bagi mereka untuk menyerang kita lagi? Menyakiti manusia-manusia itu lagi?” ucap Baekhyun, dan membuat Kyungsoo dapat dengan mudah mengerti jalan pembicaraan bisu yang ada di hadapannya.

“Tidak juga dengan melibatkan manusia baru. Apa kau berniat untuk memunculkan Injung dan Ahri baru? Apa yang sebenarnya kalian pikirkan!?” nada bicara Baekhyun langsung meninggi, membuat Kyungsoo dengan cepat menghampiri pemuda itu.

“Tenanglah… Pelankan bicaramu…” ucap Kyungsoo.

“Pergilah Kai. Aku dan Kyungsoo tidak akan ikut dengan kalian.” ucap Baekhyun menegaskan.

“Baekhyun, kau tidak mengerti, ini—”

“Kau lah yang tidak mengerti. Melibatkan manusia dalam kejadian empat tahun lalu tidak cukup menjadi pelajaran untukmu? Kau pikir kejadian empat tahun lalu akan bisa mereka lupakan dengan mudah? Apa yang ada di pikiranmu huh? Mereka manusia. Gunakan perasaanmu saat kau berurusan dengan manusia. Jangan gunakan egomu. Kita bisa membuat mereka terluka lagi…” ucap Baekhyun.

Kai tertegun. Ia juga tidak ingin melibatkan dua orang manusia itu untuk kembali berurusan dengan mereka, tapi satu sisi hatinya tidak mau membiarkan mereka tetap berpisah seperti ini.

“Jika kau pikir A-VG itu masih hidup, tidakkah kau pikir apa yang akan terjadi jika kita terpisah seperti ini?” ucap Kai.

Baekhyun diam. Tampak masih berpegang pada keyakinannya.

“Sudahlah Kai…” ucap Kyungsoo, lalu ia tersenyum tipis. “Kita memang tidak seharusnya hidup berdekatan.” ucap Kyungsoo lagi

PIP. PIP.

Tiga orang itu tersadar, terutama Kai, Ia langsung dengan sigap mengambil ponselnya saat benda mungil itu berdering. Sangat jarang ponsel itu berguna.

“Ya Sehun?”

“Kau dimana? Cepatlah kembali.”

“Ada apa? Aku sedang berada di tempat Kyungsoo, dan Baekhyun.” ucap Kai.

“Anna. Terjadi sesuatu padanya.”

Kyungsoo tersentak. Ia memandang Kai tak percaya.

“Anna? Apa dia manusia? Kau sungguh berniat melibatkan manusia lagi dalam permasalahan ini!?” ucap Baekhyun tak percaya.

“Dia bukan orang yang kulibatkan untuk menjadi Injung atau Ahri yang lain. Akan kutemui kalian lain kali.” ucap Kai sebelum dengan cepat ia menghilang.

“Anna… Apa ia bicara tentang Park Anna…” gumam Kyungsoo, tampak sangat familiar dengan nama itu.

“Ada apa dengannya?” tanya Baekhyun.

“Dia… aku mengenalnya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Sehun! Injung! Anna!”

Kai berteriak begitu keras begitu dia berteleportasi ke kediamannya. Dan hal pertama yang menyambut pandangan Kai adalah wajah terkejut Anna yang sekarang berdiri di ujung pintu dapur dengan segelas air putih yang beberapa sekon lalu hendak diteguknya.

“Ada apa, Kai?” tanya Anna segera membuat Kai melangkah menghampirinya.

“Kau… apa yang terjadi padamu?” tanya Kai membuat Anna menyernyit.

“Aku?” Anna membulatkan matanya tak mengerti, “Memangnya apa yang terjadi? Aku baik-baik saja.” ucap Anna.

Kai menyernyit, tapi pemuda itu kemudian mendengus pelan.

“Dimana Sehun dan Injung?” tanya Kai.

“Oh, mereka keluar beberapa menit lalu, kenapa?” tanya Anna.

Kai mengeluarkan ponselnya, dan dengan segera menelpon Sehun.

“Oh? Kenapa?” sahut Sehun dengan enteng di seberang.

“Kau mengerjaiku huh?” ucap Kai marah

Oh ha~ha. aku hanya mengetes mu saja, Injung bilang kau punya ketertarikan tinggi pada Anna, bukankah aku baik? Aku meninggalkan kalian berdua di rumah.”

Ucapan Sehun segera membuat Kai terpejam menahan marahnya. Ia tak mungkin berteriak dengan keras saat ada Anna di hadapannya bukan? Gadis itu mungkin saja akan pingsan karena terkejut.

“Sial.” umpat Kai sebelum ia memutuskan teleponnya.

“Apa ada masalah?” tanya Anna saat Kai akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Dua orang itu merencanakan hal buruk.”

“Merencanakan hal buruk padamu?” tanya Anna dengan khawatir.

“Aku? Bukan. Tapi padamu.”

“Aku?” Anna menunjuk dirinya sendiri.

“Lupakan saja, aku mau menemui Kyungsoo dan mengajaknya kemari, kau mau ikut?” tawar Kai.

“Kyungsoo? Do Kyungsoo?” ucap Anna sambil meletakkan gelas yang dibawanya di atas meja.

“Oh, dia. Kau ikut?”

“Aku boleh ikut?” Anna balik bertanya.

Kai memperhatikan gadis itu sejenak, sebelum ia akhirnya mengangguk.

“Tentu saja, ambil mantelmu, aku tunggu di sini.” ucap Kai

“Baiklah,”

Dengan cepat Anna melangkah menaiki tangga dan masuk ke kamarnya, tak lama, ia muncul dengan mengenakan mantel berwarna biru tua tebal, dan dengan senyuman di wajahnya, ia menghampiri Kai.

Sejenak, ekspresi gadis itu membuat Kai terdiam. Pemuda itu rupanya terdiam cukup lama sampai Anna mempertanyakan kediamannya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Anna.

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Kau mau cara cepat atau lambat?” tanya Kai.

“Maksudmu?”

“Kau mau kita naik bus ke Bukcheon atau berpindah dalam hitungan detik?” ulang Kai memperjelas ucapannya.

“Bagaimana kita bisa berpindah dalam hitungan detik?” ucap Anna bingung.

Kai mencekal pergelangan tangan gadis itu, dan dalam hitungan detik, mereka sudah ada di Bukcheon. Berbeda dengan ekspresi Kai yang sudah sangat terbiasa pada kekuatannya sendiri, Anna terbatuk-batuk di saat pertama teleportnya bersama Kai.

“Oh Tuhan… Apa yang baru saja terjadi?” ucap gadis itu berusaha mengatur nafasnya.

Teleport. Itu kekuatanku.” terang Kai.

“Dan kita… sudah ada di Bukcheon?” Anna menatap sekelilingnya, dan terkesima saat mendapati ia dan Kai nyatanya sudah ada di Bukcheon.

“Ya. Ayo, kau mungkin bisa membantuku bicara pada Kyungsoo.”

“Bicara?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Anna’s Eyes…

Bicara? Memangnya aku bisa membantunya dengan bicara apa pada Kyungsoo?

“Kau berteman dengan Kyungsoo bukan? Dia pasti mengkhawatirkan keadaanmu.” perkataan Kai sekarang membuatku menyernyit bingung.

Aku menatap Kai saat ia kembali bicara. “Kenapa dia harus mengkhawatirkanku?”

“Cerita lama, kau bisa bertanya pada Injung atau Ahri nanti.” Kai berkata sementara dia melangkah mendekati gerbang sebuah rumah. Aku sendiri akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah Kai.

“Ahri?”

Siapa lagi itu?

“Ya. Adik Injung. Kami hanya belum menjemputnya.”

Aku menghentikan langkahku. Membuat Kai berbalik dan menatapku bingung.

“Ada apa?” tanyanya.

“Itu… Aku sebenarnya tidak mengerti kenapa aku terlibat dalam masalah, maksudku, kenapa aku harus terlibat di kehidupan kalian? Tidakkah kalian merasa tidak nyaman karena ada orang asing di rumah kalian sementara kalian semua sudah mengenal baik satu sama lain?”

Kai menatapku, tersenyum.

“Apa kau merasa tidak nyaman karena tinggal dengan orang-orang asing?” tanyanya.

Tidak. Sejujurnya aku tidak merasa seperti itu. Karena mereka bersikap sangat baik padaku jadi aku tidak pernah merasa canggung.

“Kalau kau nyaman, begitu juga kami. Tidak usah terlalu merasa bahwa kau tidak seharusnya bersama kami, kami semua dulu juga saling tidak mengenal.” ucap Kai.

“Sejujurnya, aku penasaran.”

“Tentang masa lalu kami semua?” tanya Kai.

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena aku mendengarmu.”

“Eh?” aku menatapnya bingung.

“Aku mendengar pikiranmu. Jadi aku tahu.”

“Ah… Begitu rupanya…”

“Kau bisa tanya pada Injung, atau Ahri, atau pada Kyungsoo. Atau padaku. Yang jelas jangan tanyakan pada Sehun karena aku tahu kau sangat kesal padanya bukan?”

Aku tertawa pelan.

Ya, memang Sehun masih membuatku kesal setengah mati karena kejadian di hari pertama pertemuan kami. Dia sungguh menyebalkan.

“Sehun memang menyebalkan seperti itu.” terang Kai.

Kami berhenti di depan sebuah rumah. Dari luar gerbang tingginya, aku bisa melihat ada begitu banyak kunang-kunang di sekitar tanaman yang ada di sana. Dan hal itu membuatku terkesima.

Whoah… Cantik sekali…”

Kai menatap ke arah yang tengah kulihat, dan ia menggeleng.

“Benda-benda itu suka menggigit. Mereka mengerikan.”

“Kunang-kunang menggigit?” tanyaku bingung.

Aku menyernyit saat nyatanya Kai malah terkekeh mendengar ucapanku.

“Kunang-kunang? Mereka adalah bagian dari grim reaper.”

Grim reaper?” ucapku bingung

“Ya. Kyungsoo memeliharanya.”

“Ah…” aku akhirnya menggumam pelan. Tapi kemudian aku menyadari apa yang dikatakan oleh Kai. “Tunggu… Apa maksudmu… Kyungsoo juga… Seperti kau dan Sehun?”

“Makhluk bukan manusia? Ya. Kyungsoo juga makhluk bukan manusia.”

Aku terdiam. Sungguh? Kyungsoo? Dengan pemikiran dan tuduhanku juga analisaku padanya bahwa ia adalah—tunggu, Kai akan mendengar pikiranku bukan? Tidak. Tidak. Aku tidak boleh memikirkannya.

“Memangnya apa? Apa yang sudah kau lakukan dengan Kyungsoo?” Kai menatapku penasaran.

“Tidak. Tidak ada.” sahutku cepat.

“Jangan terkejut. Tapi dua temanku yang ada dirumah ini, mereka semua bisa mendengar pikiranmu juga.” ucap Kai.

Apa semua makhluk bukan manusia ini bisa mendengar pikiran manusia?

“Ya. Kami semua bisa mendengarnya.”

Whoah… Akan sangat bagus jika semua polisi dan journalist punya kemampuan seperti itu.” ucapku kemudian.

Aku membayangkan bagaimana berpuluh-puluh penjahat akan dengan mudah tertangkap karena polisi bisa mendengar pikiran mereka. Dan juga bagaimana para journalist akan dengan mudah menngungkap fakta dengan mendengar pikiran orang lain.

Tapi… jika semua orang bisa saling mengetahui pikiran orang lain, dimana letak privasi manusianya?

“Benar. Kemampuan semacam ini sebenarnya tidak menyenangkan. Aku tidak suka disebut sebagai penguntit pikiran.” ucap Kai, ia kemudian menatap ke arah pintu besar yang ada beberapa meter di depan gerbang.

“Mau membantuku Anna?”

“Ya, tentu saja. Bantuan apa?” tanyaku kemudian.

“Panggil Kyungsoo.” ucapan Kai sekarang membuatku menyernyit bingung. “Memanggil Kyungsoo?” ulangku sembari menatapnya.

“Ya, kau panggil saja dia. Tidak perlu bersuara lantang, dia bisa mendengarmu.” kata Kai menjelaskan padaku.

“Ah…” aku mengangguk-angguk paham, lantas aku menatap ke arah pintu besar berwarna gelap yang tertutup rapat itu.

“Kyungsoo-ya!” panggilku membuat Kai menatapku dengan tatapan membulat.

“Ada apa?” tanyaku tidak mengerti.

“Lantang sekali suaramu, sudah kukatakan kalau Kyungsoo bisa mendengarmu bahkan tanpa kau harus bicara keras-keras, Anna.” ucap Kai membuatku tanpa sadar memberengut.

“Aku hanya menguji coba suaraku saja.” kilahku, lantas kembali kupandangi pintu rumah Kyungsoo.

“Kyungsoo-ya…” panggilku tidak dengan suara selantang tadi.

“Lagi, panggil dia lagi,” ucap Kai pelan.

“Kyungsoo-ah! Ya! Do Kyungsoo! Aku menemukan rumahmu walaupun kau pindah ke Bukcheon!”

Mendengar teriakanku, Kai terkekeh.

“Kenapa? Aku memang kesal karena dia pindah dengan tiba-tiba.” ucapku.

“Kai!”

Aku tersentak saat mendengar seseorang berteriak keras dari dalam gerbang. Saat aku menoleh, aku melihat dua orang berdiri di ujung pintu, salah satunya adalah Kyungsoo.

“Kyungsoo?” ucapku.

Kyungsoo menyarangkan tatapannya padaku, dan menghembuskan nafas kesal.

“Ancaman apa yang Kai berikan padamu?” tanyanya.

“Ancaman? Dia hanya mengajakku untuk menjemputmu.” aku menjelaskan.

Memang benar. Kai memang tidak memaksaku. Tapi… apa barusan saja Kyungsoo berteriak sekeras itu?

“Aku tidak akan pergi. Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi?!” Kyungsoo bicara dengan nada tinggi—hampir berteriak, sebenarnya—dan segera, jantungku terpompa sangat kencang mendengar ucapannya.

“Ayolah, aku tahu kau akan ikut dengan kami, bukankah begitu Baekhyun?”

“Tidak.” aku menatap pemuda disebelah Kyungsoo.

Tatapanku melebar saat menyadari wajah pemuda itu… dia… wajahnya—

—Kai menyenggol pelan lenganku. Benar. Mereka semua bisa mendengar pikiranku, jadi aku tidak boleh berkomentar aneh walaupun dalam pikiranku sendiri.

Sekarang bukan hanya mulutku yang harus kujaga, tapi juga pikiranku.

“Kalian berdua sungguh manja, Anna bahkan sudah susah-susah kuajak kemari.”

“Kau tidak dengar ucapanku!?”

Aku tersentak saat pemuda disebelah Kyungsoo menaikkan nada bicaranya. Oh Tuhan, bisakah seseorang mengatakan pada mereka untuk berhenti berteriak seperti itu? Mengerikan sekali.

“Kyungsoo, Baekhyun, Anna tidak bisa mendengar suara teriakan seperti itu. Kau tidak mau dia pingsan saat kita berdebat bukan? Jadi bagaimana kalau kita berdebat saja di rumah?” ucap Kai.

Aku bersyukur ia berbaik hati mengatakan hal itu pada Kyungsoo. Beberapa saat, tercipta keheningan, bisa kulihat bagaimana pemuda yang baru saja bicara dengan nada tinggi itu—apa namanya Baekhyun? Kudengar Kai menyebut namanya tadi—menatapku tak senang sebelum dia akhirnya menhela nafas panjang.

“Jika sesuatu seperti dulu terjadi, aku akan segera pergi dari rumah kalian. Kyungsoo, ayo berkemas.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Kyungsoo, Baekhyun, Anna tidak bisa mendengar suara teriakan seperti itu. Kau tidak mau dia pingsan saat kita berdebat bukan? Jadi bagaimana kalau kita berdebat saja di rumah?”

Baekhyun menatap Kyungsoo sesaat dan ia menatap gadis yang ada disebelah Kai, pemuda itu akhirnya menghela nafas panjang, membuat Kyungsoo menatapnya.

“Jika sesuatu seperti dulu terjadi, aku akan segera pergi dari rumah kalian. Kyungsoo, ayo berkemas.”

“Apa?” Kyungsoo berucap terkejut saat mendengar ucapan Baekhyun. Tapi tentu pemuda itu tak sempat bertanya lebih jauh lagi sebab Baekhyun sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam rumah.

Kyungsoo pun akhirnya tak punya pilihan selain mengikuti langkah Baekhyun.

“Kau bisa berbohong pada siapapun Kyungsoo, tapi aku tahu kau mengkhawatirkan gadis itu, bukankah begitu?” ucap Baekhyun segera membuat Kyungsoo terdiam.

“Tapi kau tahu sendiri apa yang mungkin terjadi jika kita bersama lagi. Aku tidak mau kejadian seperti itu terjadi lagi. Aku takut, sejujurnya.” ucap Kyungsoo.

Baekhyun tertawa pelan.

“Kau pikir aku tidak takut?” tanya Baekhyun membuat Kyungsoo menatapnya.

“Apa yang harus kita lakukan kita A-VG itu memburu kita lagi?”

“Kita bisa memikirkannya nanti. Kau tahu, aku sangat rindu pada Injung. Melihat Injung membuatku merasa melihat adikku sendiri.”

Kyungsoo terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya pemuda itu mengangguk. Baru saja Kyungsoo akan membuka mulutnya dan bicara, ia terdiam saat mendengar pembicaraan kecil didepan rumahnya.

“Siapa nama pemuda itu?” suara Anna.

“Yang ma—oh, Baekhyun?”

“Ah…”

“Kenapa?”

“Wajahnya… Apa sesuatu terjadi padanya dulu?”

“Ya… Bisa kukatakan begitu. Kenapa? Apa wajahnya sangat mengerikan?”

Aktivitas Baekhyun terhenti saat mendengar ucapan Kai. Seolah paham, Kyungsoo segera menepuk pelan bahu pemuda itu.

“Sudah, abaikan saja, Kai sudah biasa bicara seperti itu bukan?”

“Aku tidak bilang begitu.” suara Anna sudah terdengar lagi begitu Baekhyun hendak buka suara.

“Tapi kau mau bilang wajahnya mengerikan bukan?” Kai menyahuti.

“Tidak. Sungguh.”

Lalu? Apa yang mau kau kata—oh astaga, sejujurnya kau benar-benar punya pemikiran aneh Anna.”

“Apa? Memangnya aku kenapa?” suara Anna terdengar dengan nada menuntut.

“Kau baru saja bicara kalau orang yang membuat wajahnya seperti itu patut dihukum seberat-beratnya.”

“Eh? Kapan aku bicara begitu?” kali ini nada tanya yang kental ada dalam suara Anna.

“Baiklah, kau tidak bicara begitu, tapi kau memikirkannya.”

“Penguntit.”

Tanpa sadar Baekhyun tertawa pelan mendengar ledekan Anna pada Kai. Bukan hanya karena sekarang Kai mendapatkan umpatan penguntit dari seseorang, tapi karena Baekhyun mendengar juga apa yang Kai dan Kyungsoo dengar. Anna memang tidak tengah berusaha menghina keadaannya sekarang.

“Ini pertama kalinya Kai menguntit pikiran seseorang,” ucap Kyungsoo.

“Apa mungkin Kai tertarik pada gadis itu?” ucap Baekhyun kemudian.

Kyungsoo menyernyit, dan kemudian mengangguk.

“Kurasa, ya, gadis itu mungil, dengan wajah innocent, Kai pasti dengan mudah menyukainya.”

“Aku tidak menguntit. Pikiranmu terlalu blak-blakan. Aku bahkan tidak perlu membaca pikiranmu. Kau selalu mengucapkan apa yang kau pikirkan.” vokal Kai terdengar di sela-sela konversasi Baekhyun dan Kyungsoo.

“Tidak! Ugh, berhenti mengikuti pikiranku. Ngomong-ngomong, sampai kapan kita harus berdiri di tempat ini? Kau tahu, ada banyak nyamuk di sini.”

Ha! Ha! Sudah kuduga kau akan mengatakan isi pikiranmu lagi.”

Baekhyun lagi-lagi tertawa pelan.

“Ya, kurasa ketertarikan antara mereka berdua sangat besar.” ucap Baekhyun kemudian.

Sementara Kyungsoo hanya membereskan barangnya dalam diam. Ekspresinya sekarang jelas tampak enggan memberi komentar atas apa yang barusan Baekhyun ucapkan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Oh, kalian berdua sungguh lama.”

Kai jadi orang yang pertama kali berkomentar saat Baekhyun dan Kyungsoo muncul di depan pintu.

“Kai, bawa barang kami duluan.”

“Baiklah, jadi, kapan kau mau membuka gerbangmu?”

“Bukankah kau bisa berpindah ke dalam sini tanpa harus kubuka gerbangnya?” ucap Baekhyun membuat Anna melirik Kai dengan tatapan kesal.

“Benar. Aku baru ingat sekarang. Kau sengaja membuatku berdiri di sini bukan? Kau tidak tahu berapa banyak nyamuk yang sudah menggigitku? Huh?” tuntut Anna kesal.

“Oh nona news finder, kau berisik sekali. Kenapa kau tidak mengingatkanku kalau aku bisa berpindah tempat?” balas Kai tak mau kalah.

Anna merengut, dan diam, gadis itu mengalihkan pandangannya dengan kesal.

Baru saja ia akan membuka mulut, gadis itu sudah dikejutkan karena Kai nyatanya sudah ada di dalam gerbang.

Hey! Kai!” teriak Anna kesal karena tinggal ia sendirian di luar gerbang.

“Tunggu saja aku di sana sampai aku selesai dengan tugasku di sini.” ucap Kai santai, sementara sekarang Anna menatap Kyungsoo.

“Kyungsoo-ya…” ucapnya memelas.

Kyungsoo tertawa pelan, dan menggeleng.

“Aku tidak pernah menawarkanmu untuk masuk.” ucap Kyungsoo.

Hey! Kalian berdua!” gadis itu memberengut kesal saat nyatanya dua orang itu secara tidak langsung sama-sama sepakat untuk mengerjainya.

“Lihatlah betapa kekanak-kanakannya kalian berdua.” gerutu Baekhyun, pemuda itu melangkah ke dalam rumah, dan kembali dengan cepat sembari melangkah mendatangi Anna yang masih memasang ekspresi sangat kesal.

Baekhyun kemudian membukakan gerbang untuk Anna, membuat Anna tersenyum manis padanya.

“Terima kasih, Baekhyun-ssi,”

Baekhyun mengangguk sekilas. “Sama-sama. Dan juga, tidak perlu terlalu formal Anna-ya.” ucapnya sambil membuka gerbang untuk memberi ruang agar Anna bisa masuk.

“Kau sudah tahu apa yang kurencanakan bukan?” tanya Kyungsoo pada Baekhyun, sambil tertawa.

Anna kemudian menatap Baekhyun.

“Ah, jadi, kalian juga bisa saling membaca pikiran?” tanya Anna, menangkap makna di balik kalimat tanya yang baru saja Kyungsoo utarakan.

“Tidak Anna, itu kemampuan khusus milik Baekhyun, dia bisa mendengar pikiran manusia, dan pikiran kami.” ucap Kyungsoo.

“Benarkah?” ucap Anna, tatapan gadis itu lekat terarah pada Baekhyun.

Sementara Baekhyun melirik gadis itu sekilas, dan mengangguk.

“Ya. Jadi jangan berpikir macam-macam, terutama berkomentar tentang wajahku, aku akan langsung tahu.” ucap Baekhyun.

“Tidak akan. Sungguh. Aku janji.” ucap Anna cepat, gadis itu membulatkan matanya, membuat Baekhyun menatapnya beberapa saat lebih lama.

Tiba-tiba saja Kyungsoo tertawa keras.

“Oh astaga! Anna, kau baru saja berpikir bahwa Baekhyun sangat menyeramkan dan akan melakukan hal buruk padamu kalau kau berpikiran buruk tentangnya. Astaga Baekhyun-ah.” Kyungsoo terpejam menahan geli.

Sementara Anna menatap pemuda di depannya dengan hati-hati.

“Sudah kukatakan jangan berpiki—”

Arraseo arraseo. Tidak akan kuulangi lagi. Sungguh.” ucap Anna bersungguh-sungguh. “Oh, Kyungsoo. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau juga… bukan manusia?” Anna kemudian melanjutkan.

“Kenapa aku harus memberitahumu? Aku yakin kau akan takut.” ucap Kyungsoo, sementara Baekhyun sendiri memilih untuk meninggalkan dua orang itu.

“Ah, geurae, sebenarnya aku takut juga, tapi… Injung, dia… benar-benar manusia ‘kan?” tanya Anna.

“Ya. Dia dan Ahri.”

Tatapan Anna kini membulat bingung.

“Adik Injung?” ucapnya.

“Ya, kau sudah mendengarnya dari Kai bukan?”

Anna mengangguk-angguk cepat. Tak lama, Kai kembali ke tempat mereka.

Whoah, kau sekarang bisa berteleportasi juga?” tanya Kai membuat Anna segera menatapnya dan merengut.

“Kau melucu, ya?” ucap Anna dengan nada menyindir.

Kai tertawa pelan, dan kemudian menatap Kyungsoo.

“Kajja Kyungsoo, aku akan membawamu berpindah dulu, baru kubawa Baekhyun.”

“Bagaimana denganku?” ucap Anna.

“Kau bisa naik bus.” jawab Kyungsoo dan Kai hampir bersamaan.

Ucapan dua orang itu segera membuat Anna menatap kesal.

Ugh, kalian benar-benar makhluk bukan manusia yang menyebalkan.”

Sementara Kai dan Kyungsoo masih tergelak, mereka pergi dengan cepat, meninggalkan Anna sendirian. Tak lama, Anna menoleh saat melihat Baekhyun keluar setelah mematikan lampu di ruang depan rumahnya, dan pemuda itu menutup pintu rumahnya.

Melihat keadaan yang berubah gelap, Anna segera terkesiap.

“Kau takut gelap?” tanya Baekhyun membuat Anna menatapnya, walaupun hanya bisa melihat pemuda itu samar-samar di bawah cahaya minimal.

“Ah, tidak juga. Aku hanya sedikit terkejut. Tapi dulu ditempat asalku, aku sering berada di tempat gelap saat mencari berita.”

Baekhyun kemudian duduk di kursi kosong yang ada di sana.

“Baguslah. Kalau begitu aku tidak perlu memunculkan cahaya apapun di sini.”

Anna terdiam beberapa saat. “Memangnya kau merasa tidak aneh kalau kita bicara dalam keadaan gelap seperti ini?”

Baekhyun tertawa pelan, dan pemuda itu segera menengadahkan telapak tangannya, membuat Anna terkesima saat melihat cahaya terang keluar dari telapak tangan pemuda itu.

Whoah… Sangat cantik…” gumam gadis itu.

Baekhyun tersenyum, memperhatikan ekspresi gadis di depannya.

“Jadi, mana yang lebih kau sukai? Kyungsoo? Atau Kai?” pertanyaan pemuda itu membuat Anna menatap Baekhyun.

“Aku suka keduanya. Mereka sangat baik padaku. Ya, meskipun kadang-kadang menyebalkan.” sahut Anna membuat Baekhyun menatapnya dengan alis terangkat.

“Kau tahu kau tidak bisa memilih keduanya, bukan?” pertanyaan Baekhyun sekarang membuat Anna menyernyit bingung.

“Apa maksudmu?” tanya Anna.

“Kau tahu, dua orang itu punya ketertarikan yang besar padamu. Dan kurasa, tidak mungkin kau tidak tertarik pada salah seorang pun. Jadi, siapa yang paling menarik perhatianmu?” tanya Baekhyun

Anna berpikir sejenak, gadis itu bahkan menatap Baekhyun saat ia berpikir, membuat Baekhyun mengalihkan pandangannya karena sikap gadis itu sekarang.

“Sejujurnya… Bukan mereka berdua yang membuatku merasa tertarik.”

“Lalu siapa?” tanya Baekhyun.

Anna menatap pemuda itu, dan tersenyum simpul.

“Kau, Baekhyun.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

AAAAHHH MIANE MIANE HAJIMA. SESUNGGUHNYA AKU SUDAH BALIK DARI KIFF TADI JAM SEPULUH-AN DAN BERKAT CHAT DI DIRECT IG JADI ENGGA FOKUS BUAT NGEDIT DRAFT INI…

Dan miane hajima part dua karena chapter ini kayak enggak faedah gitu /slapped/ wkwkwkwk. Masih untung aku enggak masukin teori konspirasi Bima yang dibuang dari Pandawa digantiin sama Prabu Siliwangi di sini. Gara-gara di direct ngebahas sejarah indonesia-india sama bahas teori dangdut jawa pikiran aku jadi kemana-mana dan enggak konsentrasi, huhu.

Maaf kalau seumpama di atas sana masih ada taifoh ya, sesungguhnya typo itu amat sangat manusiawi. Omong-omong, hampir semua member eksohnya udah mencungul. Syip, abis ini tinggal bunuh-bunuhin aja /slapped (2)/ wkwk.

Udah dulu ya dariku, sampai bertemu di chapter selanjutnya! Salam perketjupan, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

29 tanggapan untuk “GIDARYEO – 9th Page — IRISH’s Tale”

  1. Bener.bener gbsa boong pas baek.anna ngbrol, apalagi pas anna bilang dia tertarik sma baek xD smga moment baek.anna bnyk xD tp gmna si shadow ;”v ah aku labil T.T
    tp bnran, baek.anna moment, bkin aku senyum” sndri ❤ ❤
    astagah ch9 yg plg ku cintahh ❤ ❤

  2. hadeuhhhhh kenapa klo dri fisik ke baekhyun tapi klo dari keadaan ngarah ke kai si sotd-nya ??? pusing pala aing,, gak sabar byun ketemu injung,, baekhyun injung moment kangen banget

  3. Itu Anna cuma tertarik aja kan sama Baekhyun? Bukan udah ada rasa suka kan sama Baekhyun? Jangan suka sama Baekhyun sekarang Anna, ntar aja kalo identitas si shadow udah terungkap, hehe… /maksa/plakk
    Btw, endingnya masih lama kan?
    Semangat kak! \^0^/

  4. Aduhhh… itu baekhyun atau kyungso yang jadi shadownya kak rishhh…. tbc nya bener-bener menyadarkan daku pada realita, padahal udah kebawa suasana ceritanya….

  5. Lagi dan lagi, tbc ny bikin pengen ngelempar hape huft..
    Apa jgn jgn si shadow itu baek? Muka ny ancur jdi pake topeng kmn”?
    Au ah seterah kak rish ae jadiin shadow nya siapa 😂

  6. No no no… Jangan bilang shadow itu Baekhyun.. kalo iya… ANE BAHAGIA KAK IRISEU.. karna sebenernya dari awal baca ini ff visualisasi shadow di otak ane itu emang Baekhyun. Efek bias emang si cabe. Tapi ane bingung juga soalnya banyak kode-kode​ kalo shadow itu si Bang-Kai. Tapi kan kak Irish suka bikin cerita njelimet yg alurnya ga mudah ditebak orang,, terus terus ngasih kode​-kode palsu gito/iya kan kan?/
    Pokoknya ane vote for Baekhyun jadi si shadow. …

  7. Iyyaaahhh kalimat terakhir bkin aku cengo cem wktu prtma kali liat abs sehun. Aduuh ini jd cinta segi 5 gtu kak? Hiks anna ga stia ama shadow iihh tp mw gmn lg yaa baekhyun emg supeer skali dlam hal mnarik hati gdis plos wkwk dtggu next post kaaak. Fightiiing ^^

  8. Walaupun shadow gak muncul, tapi member exo akan terkumpul lagi. Kenapa anna tertarik dengan baek ya ? Ditunggu chapter selanjutnya aja deh

  9. Mau bikin cinta segi berapa kak??🔫😂

    Baek luka?? Omoo my beibehh 😭 eh- apa jangan jangan baek itu shadow, kan shadow pake topeng kan?? Eh tapi tadi si byunbaek gakenal sma anna, eh tapi kan bisa aja dia pura pura gakenal… ahh teuing ah,, like like authornim nya aja😂😂/plak
    Apa anna juga merasa kan yang kurasa terhadap baekhyun?? Kita nantikan cerita selanjutnya😂/apacoba

    Cie cimol suka sama anna wuakakak… klo kai mah kata aku dia ga cinta cinta org dewasa gitu sama anna,, mungkin dia tertarik sama anna gara gara emak nya 😂😂

    Dan aku rasa chap selanjutnya ga bakal mulus mulus amat,p pasti berliku liku kaya jalan mau ke puncak😂, dan jangan jangan shadow itu luhan,, tapi ga mungkin deng… kan shadow bisa baca pikiran anna, berarti dia vpgn ya kan kak??
    Bunuh aja kak semua bunuh… aku udah kenyang sama bunuh bunuhan😂😂
    Fighting kak😍😘😘😘❤❤❤❤❤❤❤

    1. XD segitiga aja udah lebih dari cukup kok wkwkwkwkk aku gamau banyak2 nanti pada baper semua terus aku yang dilemparin pake piso
      si cimol… cimol… WKWKWKWK TOLONG AKU NGAKAK GARA2 DIA DISEBUT SEBAGAI SPESIES CIMOL YANG BULET GEMBUL LUCU ITU XD XD XD

  10. 괜찬하, 네 taifoh itu manusiawi. Ga bikin ga2l phm ko 😉 mudeng mksd dr words yg ada typo’ny. Aduh, 백 wjh’ny luka 😰 /lngsng ngira dy shadow yg pk mask sblh 😋
    Dr yg sok jaga jrk trus jd partner kompak in teasing anna gt kai-d.o /gt dong klo akrab kan sneng liat’ny
    Ih, 세훈 jail bgt ngerjain kai, untung bs teleport jd ga bnyk buang masa di jln!
    Konspirasi bima? 😅 ada jg konspirasi kurawa yg mo bkr pandawa di warnabratha! 😆
    Bkn kai/d.o tp mlh ke 백? 😐 wah.. ‘tertarik’ dlm artian yg bkn ‘like/love’ I suppose, tp lbh ke personality’ny 백 or smcm kisah hdp gt, krn 백 lbh charismatic bis mysterious gt kan compare duo jail yg brsn ber teleport stlh sblm’ny dg riang jailin anna

    1. XD cieh baekhyun yang jadi kambing hitam shadow sekarang wkwkwkwkwk XD iya loh kak nindy, aku terpana sama konspirasi bima XD ya kali bima yang di film anak2 zaman now disamain sama Bima zaman dahulu kala XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s