[EXOFFI FREELANCE] Three Baby, Three Story (Chapter 2)

IMG_20170827_201707A.jpg

Three Baby, Three Story

Tittle            : Three Baby, Three Story (chapter 2)

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • Wu Yi Fan / Kris (EXO)
  • Choi Min Ah (OC)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Sejin (OC)
  • Oh Sehoon / Sehun (EXO)
  • Kim Yeora (OC)

Other Cast        :

  • Kane Dennis as Kevin Wu (OC)
  • Daniel Hyunoo as Park Chanseol (OC)
  • Moon Mason as Oh Sebyun (OC)

Genre        : Romance, School Life, family, little bit Comedy

Rating        : PG

Length        : chapter

Summary        :

            ‘Tiga pria tampan itu punya BAYI, tapi siapa ibunya?. Apalagi tiga pria itu merasa tidak pernah melakukan hal-hal mesum pada seorang gadis pun. Lantas siapa yang akan merawat BAYI itu?.’

~Happy Reading~

—Where Is The Baby?—

 

“Kevin kau mau bubur coklat atau vanilla?”

Ketika Min Ah sibuk memilihkan bubur dan keperluan lain untuk bayi kecil bernama asli Jungwoon itu, Kris hanya terdiam dan mengawasi dengan perasaan dongkol juga malas. Min Ah menggendong Jungwoon, sedangkan Kris membawa troli belanjaan. Setiap tatapan iri dan menggoda dari pengunjung wanita membuat Kris makin tak betah berlama-lama di supermarket. Memang, wanita mana yang tak iri pada Min Ah yang bisa belanja bersama dengan Kris yang begitu tampan sambil menggendong anaknya. Anak Kris?, entahlah.

Akhirnya selesai juga keluarga kecil itu berbelanja. Rasa kesal Kris makin bertambah ketika Min Ah meminta Kris untuk membayar segala hal yang dibeli. Beruntung ayahnya setuju untuk menambah uang bulanan, jika tidak, mungkin minggu depan Kris akan menghabiskan jam makannya dengan menelan semangkuk bubur bayi rasa coklat dan vanilla.

“Kris, setelah ini kita ke taman ya? Kevin ingin pergi kesana.”

Kris menaikan sebelah alisnya kemudian menatap jengkel Min Ah.

“Bagaimana bisa kau tahu dia yang menginginkannya?”

“Tentu saja, aku punya feeling yang kuat.”

Kris menggeram pelan, sangat pelan karena dia tidak ingin membuat Min Ah menatapnya lagi dengan mata bulat itu. Pria itu menurut saja dan melajukan mobilnya menuju taman yang tak jauh dari supermarket yang mereka kunjungi tadi.

“Kita sampai Kevin!”

Min Ah kegirangan, begitu mobil berhenti di depan taman bermain dia langsung turun dan membawa Kevin bersamanya. Kris menghela nafas sebelum akhirnya ikut turun dari mobil. Dia kenakan kacamata hitam dan masker agar tak seorangpun yang mengenalinya atau melihat wajahnya. Kris melihat Min Ah yang sudah menaiki salah satu ayunan, bersama Kevin.

“Kris appa!”

Min Ah melambai sambil berseru pada Kris yang duduk tak jauh dari ayunan. Pria itu sekali lagi menghela nafas, mencoba membiasakan diri dengan sifat gadis itu. Beberapa orang termasuk orang tua yang membawa anak mereka mulai menatap Kris tak senang. Kenapa?, mungkin mereka bertanya-tanya kenapa Kris yang mereka anggap ayah dari anak yang Min Ah bawa hanya diam tanpa ikut menghibur sang anak dan istri. Dan di tatap seperti itu, Kris menjadi tak tenang.

“Eoh, Kris appa mau ikut bermain?”

Kris menghampiri Min Ah dan Kevin yang sudah berada di kotak pasir. Pria itu pura-pura berbaur dengan keluarga kecilnya, berharap tatapan mengintimidasi orang-orang segera hilang. Min Ah tersenyum manis lalu menarik Kris agar lebih dekat dengannya dan Kevin.

“Kevin, ayo kita menyanyi bersama Kris appa!” Min Ah menurunkan Kevin dari gendongannya, mendudukkan bayi itu diatas pasir. “Kajja!, hanadulset!. Gom se mari ga  han chi be it ssuh, appa gom, eomma gom, aegi gom. Appa gom-eun ttung ttung hae, eomma gom-eun nul sshin hae, aegi gom-eun neomu gwiyeowo. Hesseuk hesseuk charanda!

Setelah menyanyikan lagu tersebut, Min Ah tertawa senang. Apalagi Kevin terlihat begitu bahagia. Perlahan, Kris menaikan ujung bibirnya. Tersenyum kecil melihat betapa lucunya sang bayi ketika tertawa kecil. Kemudian pria itu beralih menatap gadis imut disebelahnya, gadis yang dia kira manja dan kekanakan itu ternyata bisa merawat seorang bayi melebihi dirinya.

Tunggu dulu!, apa jangan-jangan gadis itu pernah mempunyai anak?. Oh Kris Wu, sebaiknya jangan memikirkan hal yang tidak mungkin. Choi Min Ah bukanlah gadis yang seperti itu, punya anak diluar nikah adalah hal yang tidak mungkin apalagi Min Ah berasal dari keluarga terpandang. Min Ah sendiri belum pernah berpacaran, baru kali ini dia begitu dekat dengan seorang pria, yaitu Kris sendiri.

“Wah, kalian keluarga yang bahagia ya?”

Kris mendongak, sepasang pria-wanita dengan anak mereka berdiri tepat di depan Kris juga Min Ah. Dari tatapan mereka Kris bisa merasakan kesombongan yang teramat sangat. Mau apa mereka?, apa mau battle?, itu sungguh konyol Kris!.

Sang pria berjongkok, kemudian sang wanita mengikuti. “Bayi yang lucu.” Kata sang pria, “Tapi bayi kami lebih imut.” Tambah sang wanita.

Kris menghembuskan nafas lelah. Dia sudah bisa menebak apa yang dua orang ini inginkan. Kris hendak berdiri tapi Min Ah menahannya.

“Benarkah?, tapi bayi kami lebih pintar. Dia juga tampan sama seperti ayahnya!” Min Ah membalas, dan itu justru membuat pasangan tadi tersenyum licik. Kris ingin protes lalu membawa Min Ah dan sang bayi pergi, namun sepertinya tak akan semudah itu.

“Kalian masih muda. Apa anak kalian terlahir diluar nikah?”

“MWO?!. JANGAN BICARA SEMBARANGAN TUAN!” Min Ah mengeluarkan emosinya, dia tidak terima dianggap melahirkan diluar nikah. Nyatanya, bayi itu bayi yang Kris temukan dan Min Ah akan segera menikah dengan Kris.

“Choi Min Ah, sudahlah. Ayo kita pulang.”

“Wah, bahkan suamimu tidak memanggilmu dengan panggilan sayang. Honey, mereka pasti menikah karena ketidaksengajaan.”

Kris mencengram kerah dari kemeja yang pria sombong itu kenakan, dia lepas kacamata dan maskernya lalu memberikan tatapan paling kejam pada pria itu.

“Bung, kalau kau hanya bicara yang tidak-tidak. Sebaiknya pergi saja!, aku dan ISTRIKU TERSAYANG hendak menghabiskan malam bersama ANAKKU. Kau pengganggu!, sana pergi!”

Kemudian Kris mendorong kasar pria itu lantas menarik Min Ah agar segera pergi, menjauh dari pasangan gila tadi. Namun Min Ah menepis tangan Kris, membuat pria itu berbalik dan menatapnya kesal.

“APA?”

“Dimana Kevin?”

“Huh?”

“DIMANA KEVIN?!”

***

Yeora sedang memasak bubur, namun Sehun seolah tidak memudahkannya. Sedari tadi pria itu sibuk menghancurkan dapurnya dengan melakukan hal yang tidak perlu. Dapur kecil itu sudah seperti kapal pecah, potongan sayur tercecer dimana-mana, segala piring dan peralatan dapur lain penuh dengan noda. Yeora menghela nafas, menahan agar emosinya tidak menyembur Sehun begitu saja.

“Sehun, diam dan tunggu bubur ini masak.” Kata Yeora dingin.

Sehun akhirnya menurut, dia beralih bermain dengan Sebyun yang sedari tadi sibuk memainkan gelas plastik. Sehun mencubit pipi bayi laki-laki itu dengan gemas, hal itu justru membuat Sebyun menangis keras karena Sehun terlalu keras mencubitnya. Yeora mendengus kesal.

“OH SEHUN, APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Dia membentak Sehun keras, hingga Sebyun berhenti menangis dan menatap Yeora ketakutan.

“A-aku tidak sengaja.”

“TETAP SAJA!. DIA MASIH BAYI DAN KAU MENCUBITNYA DENGAN KERAS?!”

Sebyun sudah tidak menangis lagi, bayi itu kembali memainkan gelasnya. Sekarang, malah Sehun yang mulai mengeluarkan buliran air mata. Pria itu menangis tanpa suara, baru kali ini dia dibentak dengan kasar oleh seseorang. Bahkan orang tuanya tidak pernah melakukan itu. Terang saja, Sehun adalah anak tunggal yang begitu dimanjakan.

Yeora mendengus pelan, bagaimana bisa pria itu kalah dengan seorang bayi?. Hanya dengan sebuah bentakan, pria populer seperti Sehun bisa menangis?. Yeora merasa ini adalah cobaan terberat dalam hidupnya, selain menjadi pengasuh bayi, dia juga harus mengasuh pria remaja yang sangat manja. Tahu begini, dia tidak akan mau membantu Sehun. Tidak sama sekali, tapi semua sudah terlanjur.

“Sehun, diamlah!” Yeora mencoba menenangkan, walau tidak tahu harus bagaimana.

“TIDAK MAU!, KAU JAHAT!”

Sehun berteriak pada Yeora lantas keluar dari rumah. Yeora mengacak rambutnya kasar. Sebenarnya, siapa bayi disini?. Gadis itu mematikan kompor lalu keluar menemui Sehun.

“Yak Oh Sehun!”

Sehun mempercepat langkah begitu mendengar Yeora memanggilnya. Pria itu sebenarnya ingin berhenti, tapi rasa kesalnya lebih kuat dan dia ingin agar Yeora menyesal.

Sebuah tangan memegang bahu Sehun hingga pria itu berhenti berjalan. Terdengar suara helaan nafas di belakangnya, lalu dua buah tangan memutar tubuh Sehun agar menghadap pada sang empu tangan, Kim Yeora.

“Aku minta maaf, sekarang ayo kembali.”

Sehun menahan senyumannya, dia senang karena Yeora si gadis dingin itu menyesal dan meminta maaf padanya.

“Kenapa harus?, aku tidak mau.” Kata Sehun pura-pura marah sambil bersedekap.

Yeora kembali menghela nafas, mencoba bersabar. “Kau ayah dari bayi itu, karena kau yang menemukannya.”

Perkataan Yeora membuat Sehun menyadari sesuatu, begitupula dengan yeora. Mereka baru sadar kalau ada seorang bayi yang tertinggal sendirian didalam rumah. Dua orang itu saling tatap kemudian berlari tergopoh menuju rumah.

“Sebyun!, Oh Sebyun!. Kau dimana?”

Sehun terus meneriakan nama sang bayi seraya mencarinya keseluruh penjuru rumah. Yeora tidak melakukan hal yang sama, dia hanya mencari Sebyun di tempat dimana dia meninggalkan bayi itu.

“Bagaimana?”

“Tidak ada!. Hiks, aku ayah yang jahat!”

Sehun kembali menangis. Yeora memegang bahu pria itu menenangkan. Tapi Sehun tidak bisa semudah itu berhenti menangis, dia menyesal karena terlalu emosi sehingga meninggalkan Sebyun sendirian dan sekarang menghilang. Yeora menepuk punggung Sehun, dia juga sama menyesalnya. Meski Sebyun bukan saudara atau bahkan anaknya, tapi tetap saja meninggalkan seorang bayi sendirian bukan sikap yang baik.

“Kita akan menemukannya. Pasti.”

***

Chanyeol kembali meneguk vodka pada gelas terakhirnya. Semua teman Chanyeol bersorak senang begitu dia bisa menghabiskan sepuluh gelas kecil vodka. Seorang gadis berambut panjang yang memakai mini dress ketat tanpa lengan menghampiri Chanyeol lantas duduk di pangkuan pria itu. Chanyeol tersenyum, sudah biasa jika dia digilai para gadis.

“Hai, ada waktu untuk bermain denganku?”

Chanyeol tersenyum lalu menggeleng. Tidak, walau banyak gadis cantik nan seksi yang menggodanya, pria itu tetap pada pendirian dengan tidak melakukan hal mesum pada seorang gadis pun. Yah, kecuali dengan istrinya kelak.

Gadis dalam pangkuan Chanyeol mendesah kecewa, ini sudah kelima kalinya pria itu menolak untuk melakukan hubungan intim dengannya. Tentu saja!, Chanyeol bukan pria gampangan dan dia takut untuk melakukan seks bebas. Dia tidak ingin terkena penyakit mematikan, seperti AIDS atau semacamnya.

Setelah gadis tadi pergi, Baekhyun dan Chen menghampiri Chanyeol.

“Apa kau sudah gila?, menolak gadis secantik Young Mi?.”

Chen memukul bahu Baekhyun keras hingga pria bereyeliner itu kesakitan, “Kau seperti tidak mengenal Chanyeol saja!. Lagipula, kita harus berhati-hati dengan gadis-gadis disini.” Chen mengedarkan pandangannya kesekeliling diskotik.

“Mereka bisa saja pengguna obat terlarang atau sudah terkena virus mematikan.”

Baekhyun memutar bola matanya. Chanyeol hanya terkekeh melihat tingkah kedua temannya, kemudian menegak segelas lagi vodka namun dengan takaran yang lebih banyak. Baekhyun dan Chen melongo, Chanyeol sudah terlalu banyak minum malam ini.

“Hei!, sudah berhenti minum. Kau tidak ingin pulang dalam keadaan mabuk kan?”

“Tenang saja, raja minum Park Chanyeol mana mungkin mabuk dengan mudah.” Sanggah Chanyeol yakin. Padahal kepalanya sudah mulai pusing.

“Oh iya, sudah lama kita tidak main kerumahmu. Aku ada game baru.”

Chanyeol tersedak, perkataan Chen barusan membuat hatinya tak tenang. Dua orang itu tidak boleh berada dalam lingkungan rumahnya. Tidak sampai Chanyeol menemukan siapa orang tua kandung dari Chanseol. Dia mengambil jasnya lalu berpamitan pada Baekhyun dan Chen.

Chanyeol menaiki mobil, kepalanya sudah mulai pusing tapi kesadaran pria itu masih ada untuk sekedar mengendarai mobil. Seharusnya sejak tadi dia pulang, mengingat bahwa gadis itu, Lee Sejin memintanya agar pulang tidak larut malam. Tapi mendapat tantangan dari Baekhyun dan Chen untuk menghabiskan sepuluh gelas kecil vodka membuatnya terlambat. Lagipula, apa peduli Chanyeol pada gadis itu?. Terserah, baik Chanseol atau Sejin, dia tidak peduli.

Ketika sampai di halaman rumah, kepala Chanyeol lebih berat dari sebelumnya. Dia keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk dengan sempoyongan. Chanyeol mengetuk pintu dan mendapat seruan memintanya menunggu, itu pasti Sejin.

“Chanyeol?, syukurlah kau pulang!”

“Minggir!”

Chanyeol mendorong tubuh gadis itu menjauh dari pintu masuk. Dia kemudian menuju kamar, langkahnya tidak berturan dan Sejin mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh pria itu. Sejin berinisiatif untuk memapah Chanyeol, tapi pria itu menepisnya dengan kasar. Chanyeol sedang mabuk, Sejin tahu akan hal itu.

“Sudah pergi sana!” Usir Chanyeol dengan kasar.

Tapi Sejin tidak menyerah, dia terus memapah Chanyeol. Karena pria itu tidak sanggup melangkah lagi, maka Sejin mendudukannya diatas sofa di ruang tamu. Sejin pergi kedapur untuk mengambil segelas air putih dan obat. Dia kembali pada Chanyeol dan meminumkan obat itu, Chanyeol menurut saja. Toh dia pikir tak rugi jika dia meminum obat tersebut.

Pusing di kepalanya mulai berkurang dan kesadarannya sedikit demi sedikit kembali. Chanyeol mengajukan sebuah pertanyaan yang langsung membuat Sejin terhenyak.

“Dimana Chanseol?”

Sejin lantas menunduk, matanya memanas tapi lebih dari itu dia takut Chanyeol akan marah.

“Dimana Chanseol sekarang, Sejin?”

Chanyeol mengulangi pertanyaannya, namun kali ini dengan nada menuntut. Dia ingin Sejin segera menjawab pertanyaannya.

“Se-seorang pria membawa Chanseol pergi.”

“APA?!”

Air mata Sejin turun, tubuhnya bergetar ketakutan. Dia tahu Chanyeol akan marah, tapi dia punya alasan yang kuat.

“Seorang pria datang kesini dan bilang kalau Chanseol adalah anaknya. Dia menginginkan Chanseol kembali padanya.”

“DARIMANA KAU TAHU ITU AYAHNYA?, BAGAIMANA JIKA ITU PENIPU?!”

“A-aku tahu, tapi… pria itu membawa banyak bukti bahkan akta kelahiran Chanseol.”

Chanyeol bingung harus bagaimana, antara sedih, senang, lega, khawatir dan hampa. Dia merasa senang dan lega karena akhirnya Chanseol kembali pada orang tuanya, tapi bagaimana kalau orang itu hanya akan menyakiti Chanseol dan mengambilnya lagi untuk dijadikan budak. Ayolah, jika pria itu sangat menyayangi anaknya kenapa dia harus membuang Chanseol di depan rumah Chanyeol?.

Membayangkan hal buruk yang bisa saja terjadi pada Chanseol kecil membuat dada Chanyeol sesak karenanya. Tapi ada pikiran kejam juga yang muncul pada Chanyeol. Jika Chanseol, anak berumur dua tahun kurang yang selalu membuatnya kesulitan itu pergi, maka hidupnya akan damai. Dia tidak perlu bersembunyi dan pura-pura berkencan dengan Sejin. Tapi, sejahat itukah dia?.

“Hiks… Chanyeol-ah, kita harus bagaimana?. Aku merindukan Chanseol.”

Chanyeol pun merasakan hal yang sama, tapi… banyak yang harus pria itu pertimbangkan.

“Aku…” Sejin mendongak menatap Chanyeol, “Kita pergi menemui Chanseol.”

~To Be Continue~

Bagi pembaca disini yg mungkin membaca FF saya yg lain yaitu The One Person Is You Re Turn On, disini saya mau minta maaf karena tak bisa update chapter 24 karena masalah kesehatan author. Sedangkan untuk ff ini sendiri sudah tamat di laptop saya makanya bisa diupdate 2 chapter sekaligus. Yasudah tanpa berlama-lama lagi…

RCL Juseyooo~~~

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Three Baby, Three Story (Chapter 2)”

  1. Sehun koplak ihh 😀
    bayangin-nya aja bikin ketawa ngakak 😀
    Ini anak-nya kok pada menghilang sih ??kemana kah perginya mereka ??
    Ditunggu next part-nya author 😉
    Ff ini selalu bikin penasaran 🙂
    Tetap semangat !! 😉
    Semoga author selalu dlm keadaan sehat ya ;-)biar ff ini ceper lanjut XD

  2. Yahh kok ilang semua sih anak nya hikss,,, akuh terhura liat ceye berubah😭😭
    Sehun sumpah gue ngakak😂😂 kriseu aakhh sangat charismatik 😘❤❤❤❤🔪😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s