[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (Track 2)

KOKOBOP OFFICIAL POSTER NEW.JPG

K O K O B O P (Track 2)

Author: El Byun

Chaptered

Rate: PG-17

Genre:

Alternate Universe, Action, Mistery/Triller, Romance, Angst, and little bit Comedy

Cast:

Lee Hanbi (OC)

Zhang Yizing aka Lay | Huang Zitao aka Tao | Wu Yifan aka Kris |Xi Luhan aka Luhan

Summary:

Ketika tarian musim panas mengajakmu untuk memiliki seorang pasangan. Kemudian seseorang yang tidak kau ketahui melemparmu ke dalam kencan buta dengan 8 pria beda profesi.

Desclimer:

This story is my real imagination from ‘Kokobop’ song. Don’t be plagiarsm, please! Be a good readers!

Fanfic ini juga dipost di akun Wattpad saya @elisabethbyun bersama dengan karya saya yang lain.

Previous list: Cast + Introduction | Intro | Verse| Chorus | Track 1

~~~

[Track 2: GUEST]

~~~

 

BRAK!

Pria bernama Zitao itu membuka paksa ruang perawatan yang dihuni oleh atasannya. Ia melihatnya tengah berbaring dalam selimut hangat sebatas dadanya. Lengannya berbalut perban berbercak merah di sana. Ia mendekatinya perlahan. Matanya terpejam dengan tenangnya, padahal suara bantingan pintu tadi seharusnya mengusik. Namun tidak baginya, bahkan tidurnya semakin lelap.

“Bangun! Aku tahu kau tidak tidur. “

Pria China itu membentak padanya. Seakan ia tidak perduli dia adalah atasannya. Emosinya terlanjur tersulut setelah kejadian 2 jam yang lalu.

“Hey!”

Ia menyibak selimut itu dengan paksa dan hal itu berhasil membuat tidur nyenyaknya terusik. Ia bangun dari rebahannya. Perlahan, karena lengannya masih terasa nyeri.

“Kau membuatku muak! Tidak bisakah kau mengontrol emosimu? Agen Huang.”

Nafasnya tertohok. Atasannya ini benar-benar menyebalkan.

“Hanbi… “

Tiba-tiba celotehannya berhenti dengan tatapan meremehkan dari atasannya yang bermarga Zhang itu.

“Terima Kasih inspektur, kau berhasil menyelamatkan gadisku.”

‘Gadisku? Bahkan seorang agen pun jatuh cinta pada targetnya? Terlalu klise.. Ck’ Pikirnya.

Dengan girangnya Zitao memeluk atasannya yang dibilang masih segender itu dengan erat. Pria Zhang itu meringiskan lukanya yang hampir di tekan oleh lengan agennya, namun lebih khawatir lagi jika saja tiba-tiba ada orang masuk dan melihat kelakuan mereka.

“Lepaskan aku atau kau ingin dipecat dari pekerjaanmu?” ucap pria Zhang itu sakartis.

Perlahan pria berkantung mata itu meluruhkan pelukannya. Ia tertunduk saat bertemu dengan mata malas atasannya yang bisa ia tahu sedang kesal. Bagaimana tidak, ia tadi memeluknya seakan-akan mereka adalah sepasang kekasih sesama jenis.

Tok.. Tok..

Suara dentuman pintu memecah kecanggungan mereka. Zitao membalik badannya untuk membuka pintu namun seseorang yang mengetuk itu terlanjur membukanya sendiri dan mulai masuk perlahan dengan langkah tegapnya. Zitao yang melihat siapa pemilik wajah manis yang dikagumi gadisnya tiba-tiba merasa kesal. Hanbi bahkan telah mengeksploitasi tubuh pria itu dengan pelukkannya. Ia benci melihat wajah bak malaikatnya yang seperti sama sekali tidak menyadari kesalahannya.

“Bisakah kami berbicara berdua saja?”

Zitao memutar bola matanya malas. Ia tahu atasannya mengenal pria ini. Tapi apakah pria ini mengenal atasannya? Namun tatapan tajam atasannya yang baru saja ia lirik menatap kesal pada pria China yang baru datang ini. Ia tahu ada sesuatu di antara mereka. Kemudian dengan malas Pria Huang itu melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu tanpa melepas pandangannya pada pria itu.

~~~

Keheningan melanda kedua pria keturunan China di dalam ruang perawatan. Pria Zhang yang memang mengenal pria ini sebagai anak perdana menteri yang notabene jabatannya lebih tinggi darinya tidak perduli jika ia telah mengabaikan kehadirannya.

“Apa kau sengaja untuk membuka kedokmu di depan Hanbi?”

Tiba-tiba pertanyaan menuduh pria berwajah manis itu membuatnya tercengang. Pasalnya, apakah pria ini tahu tujuannya berada si Korea sekarang karena sebuah misi?

“Kau jauh mengerti diriku rupanya?” pria Zhang itu mencibir.

“Dengar!”

Tiba-tiba pria bersetelan jas hitam itu menarik kerahnya paksa. Pria Zhang itu tidak tinggal diam, ia balik menatap tajam ke arahnya.

“Aku harap kau menjalankan tugasmu dengan baik disini.”

Pria Zhang itu malah terkekeh. Karena diremehkan, pria berjam tangan Rolex itu melepas cengkramannya dan mendorong sedikit dadanya.

“Jadi kau yang meminta pengawalan khusus itu pada gadis sepupu tercintamu itu. Oh, apa kau juga merencanakan penembakan itu agar aku saja yang terkena sasaran?”

Rasanya ia ingin sekali memukul wajah inspektur bertingkah tinggi itu. Ia sudah banyak membuang waktunya untuk berbicara omong kosong seperti itu.

“Benar kan? Kalau pejabat tinggi yang dirahasiakan itu adalah kau. Brengsek!”

“HEY!”

Putra perdana menteri itu menuding keras wajah inspektur china itu dengan picingan kedua matanya yang hampir saja terlihat bulat dengan mata sipitnya.

Sekali lagi ia harus menarik kerahnya. Kini ia menariknya dengan kedua tangannya hingga pria yang terduduk nyaman di ranjang itu harus mengangkat sedikit tubuhnya. Mereka saling menatap seolah-olah mereka adalah pasangan rival.

“Walaupun itu bukan aku, tapi anggaplah begitu. Kau hanya perlu menjalankan tugasmu di sini. Tidak usah bertingkah!”

Sekali lagi pria China berperawakan ramping itu menghardiknya dengan keras. Bahkan terkesan seperti mengancam. Namun lagi-lagi pria Zhang itu hanya meremehkan sambil menunjukkan smirk membunuh miliknya.

“Apa kau pikir aku bodoh? Kau membuangku ke sini untuk menyingkirkanku dari Lian, benar bukan?”

Lagi-lagi tuduhannya meruntuhkan nyali pria yang mencengkeram kerahnya hingga dua kali itu. Dan kedua kalinya juga pria itu melepaskannya hanya karena tuduhan itu benar.

“Jangan kau menghubungkan Lian dengan masalah ini!” tangkis pria itu.

“Aku tahu kenapa Lian lebih memilihku daripada dirimu yang kurang nyali seperti perampok yang ketahuan mencuri permen dari anak kecil…”

“Diam!”

BRAK!

“OPPA!”

Kedua pasang mata manik itu teralihkan untuk melihat siapa yang membuat kegaduhan di depan pintu.

Gadis, oh bukan ia seorang wanita berperawakan muda datang dengan tergopoh-gopoh mencari sepupu tercintanya, Luhan. Ia ditinggalkan sendiri saat tengah dirawat di ruang UGD. Keningnya hanya berbalut plaster karena terbentur.

“Oppa, kau yakin tidak terluka? Apa aku harus mengantarmu periksa juga?”

Tawaran bertubi-tubi di layangkan oleh Hanbi. Ia mencengkeram erat lengan Luhan dan menelusuri anggota tubuhnya dari atas hingga bawah.

“Tidak, sebaiknya kau pulang dan istirahat. Aku yang akan menyelesaikan kasus ini. Kau tenang saja.”

Hanbi hanya mengangguk setuju, namun tatapan kekhawatiranya belum juga hilang.

Kini pria yang tengah terduduk di ranjang yang adalah korban sebenarnya itu hanya terkekeh malas melihat kelakuan yang luar biasa abnormal itu. Jelas-jelas disini yang terluka adalah dirinya, namun perhatian yang ditujukan oleh wanita yang diselamatkannya untuk orang lain. Bukannya pria itu ingin diberi perhatian juga, hanya saja ia merasa umumnya yang dilakukan orang-orang itu justru sebaliknya.

Pria itu menyibak selimutnya kasar lalu turun dari ranjangnya. Ia melenggang pergi melewati sepasang kekasih bersaudara itu.

“Berhenti! Aku belum selesai.” panggil pria yang berada di rengkuhan Hanbi.

“Urusi saja urusanmu sendiri. Aku angkat tangan!” Pria Zhang itu benar mengangkat kedua tangannya lalu pergi begitu saja.

“Tunggu di sini!” titah Luhan. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Hanbi di dalam ruang perawatan.

Luhan bergerak setengah berlari menyusul pria itu. Tidak jauh karena jalannya masih terpincang-pincang. Ia tahu pria itu sedikit terkilir saat menyelamatkan Hanbi.

“Tunggu!”

Sreet..

Pria Zhang itu langsung menangkis tangan Luhan di balik kepalanya. Tanpa melihat pun suara langkah pria berperawakan ramping itu dapat ia baca bahkan sampai gerakan kecil yang dilakukannya. Pria berstatus inspektur itu menatap Luhan serius.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

“Tolong lindungi Hanbi!” jawab luhan cepat.

Pria itu melihat ke arah Luhan dari puncak kepala hingga ujung sepatunya. Lalu menyeringai kemudian mengusap kedua pundaknya yang berbalut setelan jas semi formal karya desainer kondang asal China, Laurence Xu.

“Kau ada di sini jadi dia lebih membutuhkanmu, og.. “

“Tidak, lusa aku kembali ke Taipei untuk urusan pekerjaan.”

“Hahah.. Kau benar-benar ingin membodohiku.” pria Zhang itu tertawa sambil mengadahkan wajahnya ke langit-langit.

“Aku serius, Hanbi dalam bahaya. Kau tahu itu!”

“Apa peristiwa penembakan tadi tidak menyadarkanmu?”

Luhan menyahut bahkan sebelum pria Zhang itu menjawab.

“Aku pikir itu memang ulahmu! Kau..”

“OPPA! TOLONG..!”

Tiba-tiba suara menjerit Hanbi terdengar hingga koridor tempat mereka berdua berdiri. Mereka saling beradu pandang, detik kemudian tubuh mereka terhuyung untuk segera pergi.

“HANBI!” Teriak mereka bersamaan.

Kedua pria China itu berlari kembali ke ruang perawatan dimana Hanbi ditinggalkan. Sekuat tenaga pria Zhang itu menyamai langkah cepat Luhan. Ia berada di antara percaya dan tidak percaya targetnya tengah dalam bahaya

BRAK!

Bahkan pintu itu tidak terkunci. Pria Zhang yang datang terlambat itu mendengar sayup-sayup perdebatan di dalam sana. Bahkan bukan suara perkelahian yang seharusnya terjadi. Ia menghentikan langkahnya dan mulai mengintip dari balik pintu. Ia melihat Hanbi tengah berada diantara dua pria. Kecuali Luhan, ia tidak tahu. Pria itu berperawakan tinggi besar tengah berusaha meraih tangan Hanbi namun Hanbi menolak. Ia tahu dari gerakan menghindar wanita itu. Ia mendesah kecewa. Ia memalingkan wajahnya ke arah koridor dan beranjak pergi kembali.

~~~

Lee Hanbi baru saja ditinggal oleh Luhan untuk mengejar penyelamat wanita itu. Penglihatan wanita itu menyapu seisi ruangan kosong di depannya. Ia memantapkan pandangan pada ranjang kosong berantakan. Bukannya ia tidak perduli pada pria penyelamatnya, hanya saja ia merasa aneh dengan kehadiran tiba-tiba di arena penembakan ilegal beberapa jam yang lalu. Ia merasa kejadian tadi terjadi secara sengaja dan direncanakan. Ia bahkan merasa kaget saat pria itu muncul tiba-tiba di belakangnya dan kemudian berhasil menyelamatkannya. Yah walaupun Hanbi pembenci pria, ia juga memiliki hati nurani untuk perduli terhadap sesama.

Flashback on

“Lee Hanbi!”

GREB

DOR

Tubuh Hanbi seketika terhuyung dan berat secara bersamaan. Manik matanya hanya menangkap sosok asing yang ia temui beberapa menit yang lalu. Tubuhnya terhimpit antara lantai dengan pria itu. Merasa risih dengan rengkuhannya, apalagi pria itu telah menindihinya dengan badannya yang berat membuat Hanbi engap.

Pria itu meringis, ia tahu dari ekspresi wajahnya yang dekat.

Brukk..

Pria China kesayangannya kini mendekat dan menggulingkan badan pria asing itu dari tubuh Hanbi.

“Hey, kau tidak apa-apa?”

“Hanbi!” wanita itu mendengar panggilan penguntitnya seperti mendekat. Ia kemudian menolehkan pandangan ke arah datangnya.

Bukannya menghampiri Hanbi, pria itu justru menghampiri pria asing itu dengan sigapnya membangunkan dan menatih pria asing itu seakan-akan kondisinya sedang kritis.

“Maaf, aku harus membawanya ke rumah sakit. Dia tertembak.”

Nafas Hanbi tercekat. Detik kemudian manik matanya menemukan sebuah pistol tak jauh dari tempat pria asing itu menjatuhkannya.

“Maaf..” Penguntitnya sampai harus kembali untuk mengambil pistolnya.

‘Sebenarnya mereka itu siapa?’ batin Hanbi.

“Hanbi?”

Lamunannya hancur saat pria kesayangannya menyentuh pundaknya dan kemudian mengangkat lengannya untuk bangkit.

Hanbi tidak berkomentar apapun. Dia masih bingung dengan keadaan ini. Tak lama beberapa gerombolan polisi lokal mendekati mereka dan berbincang dengan pria di sebelahnya. Salah seorang polisi melihat ke arah Hanbi dan mendekat. Ia menunjuk ke arah keningnya.

“Nona, dahi Anda berdarah.”

Baru setelah itu mereka menggiring Hanbi untuk pergi ke rumah sakit.

~~~

Haahhh…

Hanbi mendesah malas mengingat kejadian itu lagi. Putaran memorinya terjadi begitu cepat rasanya.

“Hanbi, kau baik-baik saja?”

Tiba-tiba sebuah lengan kekar seakan mencekik lehernya. Pria yang ia ketahui hanya dengan suara dan postur tubuhnya yang nampak dari lengannya ini tengah memeluk lehernya dari belakang.

Karena tidak ada respon, pria itu membalik tubuh Hanbi menghadap ke arahnya.

“Astaga, kepalamu cedera. Apa kau merasakan pusing?”

Kekhawatirannya membuatnya geli. Ia sudah lelah dengan tingkah berlebihan pria ini.

“Jangan konyol Yifan. Ini di dahi bukan kepala. Apa perlu aku memukulmu dengan kepalaku.” omel Hanbi kesal sambil menyodorkan kepalanya ke arah dada bidang pria itu.

Tubuhnya hanya sebatas dadanya saja. Ia heran kenapa pria ini jauh tumbuh lebih tinggi walaupun jarak umur antara mereka hanya 2 tahun.

“Haha.. Kau ini lucu sekali.” pujinya sambil mengacak rambut Hanbi gemas.

Hanbi yang risih dengan perlakuan Yifan segera menangkis tangan itu menyingkir dari helaian rambut indahnya.

“Hentikan, aku tidak suka itu!”

Dan apapun yang keluar dari mulut Hanbi hanya dianggapnya sebagai lelucon. Ia selalu tertawa mengadapi gadis ini.

Cintanya begitu buta. Ia tidak perduli sejahat apapun Hanbi padanya, gadis ini selalu menggemaskan di matanya.

“Kalau begitu kau harus istirahat!”

Tiba-tiba Yifan menggendong Hanbi dari depan seperti mengangkat sebuah karung beras. Hanbi meronta sekuat tenaga. Walaupun ia tengah mendalami bela diri, namun tenaga pria tinggi besar itu terlalu kuat baginya. Ia hanya memukuli punggung pria itu dan meminta untuk menurunkannya.

“OPPA! TOLONG!”

Kedua kakinya ikut menghentak-hentak berharap pria itu jengah hingga menurunkannya. Namun hasilnya nihil. Pria itu justru membawa Hanbi ke atas ranjang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

BRAK!!

Hentakan pintu ruangan itu berhasil menghentikan Yifan. Melihat siapa yang datang, ia pun perlahan menurunkan Hanbi.

PLAKK!!

Tamparan Hanbi berhasil menyapu pipinya. Ia hanya meringis. Sudah terlalu biasa Hanbi selalu memperlakukannya begini.

“BRENGSEK!” umpat Hanbi kesal.

Luhan yang memandamg kejadian itu hanya berdecak. Mereka selalu begitu jika bertemu. Ia tidak heran lagi.

“Sudahlah Bi!” bujuk Luhan.

“Maafkan aku sayang?” Yifan melemah, ia memandang sendu ke arah wanita tercintanya.

Hanbi menepis, ia tidak sudi disentuh pria ini. Sebenarnya Hanbi tidak terlalu yakin alasan apa hingga membencinya. Di otaknya yang tertanam hanya ia benci pria macam Yifan yang terlalu berlebihan memberikan perhatian atau istilah kerennya adalah over protective. Apalagi flower boy yang selalu mengumbar ketampanan mereka, itu sungguh hal yang memuakkan baginya. Ia menyukai karakter seperti Luhan, ia pendiam namun juga tidak acuh. Ia perhatian secukupnya, ia bertingkah biasa pada semua orang termasuk wanita. Puji alam semesta, di matanya Luhan sangat sempurna. Bahkan ia memimpikan bisa menikah dengannya dan memiliki anak-anak yang meramaikan rumah mereka. Namun impian itu tidak pernah di gubris oleh pria keturunan China itu. Mereka sepupu, darah yang mengalir di tubuh mereka masih berkaitan walaupun beda ayah dan ibu. Ibunya adalah keturunan China, jadi Hanbi memiliki dua darah dua negara China-Korea. Tubuhnya mewarisi milik ibunya, sedangkan sifatnya keras seperti ayahnya. Namun ia benci pada pria tua bermarga Lee yang telah melenyapkan ibunya entah kemana ia pergi. Hanbi keras, namun bukan berwatak kriminal layak ayahnya.

“Kalau begitu aku antar kau pulang!”

Yifan menarik lengan Hanbi lembut, namun wanita itu justru melambaikannya kembali hingga cekalannya terlepas.

“Ayolah sayang!” bujuknya lagi.

“Tidak, aku ingin pulang dengan Luhan Oppa.”

Hanbi mengacuhkan pandangannya. Ia hanya menatap Luhan. Ia justru mengaitkan tangannya di lengan sepupunya itu. Yifan terus saja membujuk Hanbi. Dan akhirnya yang terjadi mereka berdualah yang mengantar Hanbi pulang dengan mobil Yifan. Namun Hanbi meminta Luhan yang menyetir sedangkan Yifan duduk di jok belakang sendirian sedangkan dirinya mendampingi Luhan di samping kursi kemudi.

~~~

#Next day#

“Apa? Kau mau kembali ke Beijing? Kenapa? Kita bahkan belum menyelesaikan misi.. ” racau Zitao panik. Ia terus menghujani pria bermarga Zhang itu dengan pertanyaan yang sama.

“Tugas kita hanya Bullshit. Kita dibodohi Luhan brengsek itu. Kau tau?”

Akhirnya pria Zhang itu angkat bicara.

“Maksudmu sepupu Hanbi dari China yang datang bersama pesawatmu itu?” Zitao menebak. Atasannya hanya mengangguk. Yah walaupun ia sudah diberitahu identitas pria itu tetap saja ia kurang puas jika tidak menanyakkannya lagi.

“Tapi kenapa? Aku sudah terlanjur nyaman dengan posisiku. Apalagi jika dekat dengan Hanbi. Ah, dia begitu menggemaskan saat marah. ” Zitao mulai menghayal.

“Itu masalahmu.” pria Zhang itu mencibir. Ia mengambil gelas Red Wine dari meja ruang tengah apartemen bawahannya.

Ia mengaduk-aduk sebentar cairan berwarna merah itu kemudian menegaknya dengan sekali gerakan.

Ahh..

“Luhan ingin menyingkirkanku dari Lian. Itu alasannya.”

Pria berkantong mata itu justru kaget mendengar pernyataan tidak terduga itu.

“Tidak mungkin. Lian tunanganmu?”

“Apa Luhan ingin mencelakai Lian?” Tambahnya sesaat setelah berpikir.

Pria itu menggeleng, ia duduk di sofa berseberangan dengannya. Second kemudian menegak kembali sisa wine miliknya.

“Lalu?” Zitao mengernyit.

“Dia mantan kekasihnya Lian. Dia ingin mengambil miliknya kembali dengan membuangku ke Seoul.”

“Kau tahu Luhan sendiri bilang akan kembali ke Taipei besok. Bukankah ini alibi yang sangat mudah? Lian hari ini sudah berangkat ke sana. Sialan!” pria Zhang itu mendengus.

“Jika memang begitu, kenapa sampai Hanbi di teror dengan surat kaleng?” kini giliran pria Zhang itu yang mengernyit.

“Apa?”

“Seminggu yang lalu Hanbi-ku.. “

Pria Zhang itu berdeham hingga menunda penjelasan Zitao mengenai kronologi sebenarnya.

“Oh, dia menemukan surat kaleng di dalam kaleng bir yang baru saja ia beli…”

“Memang apa isinya?” pria Zhang itu menyela lagi hingga Zitao pun kembali mendesah.

“Kencan dengan pria!” ucapnya berbisik.

Hah! Mendengar itu pria Zhang itu hanya melongoh.

“Kencan! Pria!… “

“Lalu apa masalahnya?” tiba-tiba pria Zhang itu memekik.

“8 pria Boss. DE-LA-PAN.” Saking geramnya Zitao harus mengeja sambil menunjukkan jari-jari panjangnya yang berjumlah delapan.

Sshh.. Pria Zhang itu justru mendesis.

“Dan kau cemburu. Haha.. Konyol!”

Pria Zhang itu langsung menghempaskan punggungnya bersandar pada bantal empuk di sofa yang mereka duduki.

“Tidak hanya itu. Jika Hanbi tidak mengumpulkan surat yang dibawa 8 pria kencannya, maka ibunya akan dibunuh. Itu yang juga kulaporkan pada markas.”

pria Zhang itu terdiam dalam pikirannya. Kasus nyonya Lee yang disekap suaminya itu sudah ia ketahui sebelumnya. Namun status tewas atau tidaknya, tidak teridentifikasi. Bahkan kepolisian sudah menutup kasus itu karena takluk dengan sumpalan milyaran won di mulut mereka.

“Bagaimana? Tertarik?”

TBC

NOTE;

Gooooddd! Aku lembur 2 hari buat nylesain part ini.

Pake ketik HP lagi. Pegel, tapi praktis sih.

Btw makasih buat yang nginetin genre-nya. Sumpah aku gk nyadar kalau sebenernya aku nulis genre mystery/triller. Aku sebenernya juga jarang baca genre kayak gituan, hehe..

Hallo, track 2 ini sudah ada yang nemu main castnya belom? Paling nggak yang jadi couplenya lah. Comment donk!

Ditanya bang Tao tuh: Gimana? Tertarik? (mohon digaris bawahi, sebenarnya itu note buat readers yang diam2 menghanyutkan.) haha..

Khamsahamnida, annyeong!!

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (Track 2)”

  1. ak mau jadi hanbi aja deh
    dikawal Lay ama Tao di Gilai Kris punya spp Luhan diharusakan date sama Sehun, Kai,D.O,Chen,Chanyeol,Baekhyun,Suho,Xiumin!!!!
    ahhh sempurna hidup/digebuginauthor/
    next

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s