[EXOFFI FREELANCE] IF (Chapter 3)

IF.png

│   IF   │

[  Park Chanyeol & Park Chaeyoung  ]

[  Melodrama ♯ Life ♯ School Life  ]

[  Teenager  ]

[  Ficlet ♯ Short story  ]

[  This is my work. The cast is my mine. Sorry for typo’s. Don’t copy without my permission. Don’t judge me. Any art or story is my mine. I don’t plagiarize property of others people.  ]

a story by Oriona

Chaeyoung tengkurap dengan perasaan tak karuan terus menerus. Ia gelisah namun senang. Entahlah, ia juga bingung dalam keadaan mana yang tepat. Ia beralih, terlentang menatap dinding tenda di atasnya. Pikirannya menerawang pada masa-masa di mana ia begitu dekat dengan seorang Park Chanyeol.

Di atas atap sekolah, saat yang lain tengah menikmati makan siangnya justru sebaliknya dengan Chanyeol dan Chaeyoung. Mereka duduk bersandarkan dinding batu bata merah bermodalkan biskuit, susu banana, dan gitar. Chanyeol berada di belakang Chaeyoung, memegagang gitarnya dan Chaeyoung sendiri menumpu gitar di pangkuannya. Niatnya memang mengajari Chaeyoung, tapi Chanyeol malah bermain sendiri. Chaeyoung justru menyuapi buskuit pada Chanyeol akhirnya. Saat gadis itu menggigit biskuitnya ia berpaling menatap Chanyeol lalu mematung. Di manik matanya, pemuda itu terlihat sempurna. Chanyeol menatap tepat di manik gadis itu sedetik kemudian, ia memajukan wajahnya. Menggingit sisi lain biskuit di gigitan Chaeyoung,lalu tersenyum. Sungguh, ini membuat jantungnya serasa copot saking cepatnya berdetak.

“Ya! Kau ceroboh sekali!” Chanyeol menjitak pelan kepala Chaeyoung. Ia mendorong pelan tubuh gadis itu untuk duduk di salah satu bangku taman. Kemudian berjongkok di depan Chaeyoung. Menarik kaki gadis itu dan mengikat tali sepatunya yang lepas. Chanyeol mendongak usai menalinya, ia tersenyum. “Gadis ceroboh.” Ucapan itu mampu membuat hati Chaeyoung menghangat.

Apa yang membuat Chaeyoung merasa risih saat ini? Tentunya, jadi pusat perhatian utamanya bagi para gadis seantero kantin. Mereka menatap dengan tatapan tak suka khas para gadis remaja. Bagaimana tidak, ia dan Chanyeol duduk di barisan paling nyaman untuk dijadikan tontonan. Dengan Chanyeol yang terus menyuapinya dengan nasi dan lauknya. Wah! Sempurna. Tapi Chanyeol tak sadar jika ia jadi pusat perhatian. “Chanyeol-ah, aku malu. Kenapa kau juga harus menyuapiku?” Chaeyoung berucap lirih – sebisa mungkin hanya dirinya dan pemuda di sampingnya yang dengar. “Apa? Tanganmu sedang sakit, mana bisa kau makan sendiri.” Perasaan apa ini? Kenapa sekali lagi jantungnya secara ingin jatuh.

Entah siapa yang berbuat iseng pada Chaeyoung? Karena lokernya dikerjai orang, ia harus menerima hukuman berlari lima putaran di lapangan sepak bola. Sungguh menggilakan. Rasanya ia ingin jatuh saja, padahal tinggal dua putaran lagi. Tiba-tiba saja, Chanyeol datang berlari ke arahnya dan ikut berlari. “Apa yang kau lakukan?” tanya Chaeyoung tanpa menoleh pada pemuda itu. “Membantumu.” Gadis itu mendengus, “Cepat kembali sana! Nanti kau melewatkan makan siangmu.” Jantung gadis itu mendadak berdegup kembali saat Chanyeol dengan lembut menepuk kepalanya.

Kenapa? Kenapa rasanya darah Chaeyoung serasa berdesir? Kenapa detak jantungnya semakin memburu? Kenapa? Kenapa rasanya seperti ada ratusan kupu-kupu terbang di perutnya? Saat tiba-tiba Chanyeol datang padanya dan langsung memeluknya. “Apa ini?” tanya Chaeyoung mencoba senormal mungkin meski hatinya sedang tak normal. “Sebentar saja, satu menit lagi. Biarkan aku seperti ini.”

Sungguh, perasaan ini lebih menyakitkan dari pada luka di jemarinya. Chaeyoung sampai harus berfikir sepanjang malam, untuk memutuskan pilihan yang harus ia ambil. Dan sepanjang pelajaran ini, ia sama sekali tidak fokus. Tatapannya masih terpaku pada satu objek – yang begitu menarik antensinya – yang duduk dengan di depannya.

Ia sampai harus menunggu sampai istirahat. Gadis itu menelan ludahnya susah payah, ia merajut langkah mendekati pemuda itu. Sungguh, jemarinya bergetar saat terulur hendak menepuk pelan pundak Chanyeol. Ya Tuhan, ia benar-benar gugup. Sedetik ia hentikan uluran telapak tangannya di udara. Menghirup udara sebanyaknya untuk memenuhi paru-parunya dan menghembuskannya dengan lembut.

Ia menepuk pundak Chanyeol pelan, sang pemuda menoleh. “Kenapa? Ada yang ingin kau katakan?” tanya pemuda itu mengerutkan keningnya.

Chaeyoung mengangguk, “Ada…ada yang ingin ku katakan. Ayo ke atap sekolah.”

Chanyeol hanya mengoker di belakang Chaeyoung. Begitu mereka sudah keluar dari kelas, baru Chanyeol berjalan di samping gadis itu. “Apa ini? Kenapa kau begitu tegang? Siapa yang menyakitimu? Katakan padaku? Aku akan memberinya peringatan.” Sungguh Chanyeol tak mengerti, ia masih saja keheranan. Yang ditanyapun tak mau menjawab.

Merekapun sampai di atas gedung sekolah. Begitu sepi, lagipula siapa yang ingin ke sini? Sapuan halus angin begitu terasa di sini. Sangat menyejukkan. “Jadi ini tempat persembuyianmu?” Chanyeol bertanya setelah berkeliling.

“Ehm…aku…merasa lebih gugup sekarang.” Chaeyoung memulai konversasinya, tanpa mampu menatap manik hitam Chanyeol.

“Kenapa? Kau terlihat serius, aku jadi gugup juga.”

“Jangan kaget, aku mohon. Dengarkan ucapan sampai selesai, jangan menyela dan bertanya sebelum aku selesai mengatakannya.” ujar gadis itu setelah mendongak, ia mengatakan semua itu tepat sambil menatap manik hitam kelam Chanyeol.

Sungguh Chaeyoung merasa lebih gugup dari sebelumnya, ia bahkan harus menggigit bibir bawahnya dan berkali-kali membuang nafas. “Aku tak tahu…perasaan apa ini.” ia menelan ludahnya, “Sinarmu begitu indah dan menyakitkan di mataku…aku suka dengan segala pesonamu…aku ingin sadar jika kau sahabatku…tapi, rasa ini semakin besar…jadi aku ingin mengakhirinya di sini di depanmu…entah nantinya apa tanggapanmu, aku akan lega setelah mengatakan…” jantung Chaeyoung rasanya mau copot. Ada jeda cukup lama setelahnya, “bahwa aku…aku mencintaimu Park Chanyeol. Maafkan aku.” lanjutnya tanpa beban dan penuh kelegaan.

Respon Chanyeol hanya mematung, tak berkata sama sekali. Ia merasa jiwanya baru saja hilang. Tidak, ia harus segera sadar. “Aku…tak tahu harus berkata apa.” ucapnya terbata-bata, sungguh ia bingung saat ini.

Ia mencekal lengan gadis di depannya kuat – membuat Chaeyoung kesakitan karenanya – tatapannya benar-benar terlihat marah. “Aku tak bisa membalas cintamu…bagiku teman hanyalah teman…kau telah melanggar batasanmu sebagai teman…aku tidak bisa seperti ini.” Sungguh, Chanyeol sudah marah saat ini, air mukanya sudah berubah.

Chaeyoung merintih kesakitan, ia masih menatap sedih pada manik Chanyeol. Air matanya sudah berkumpul di bawah mata, “Aku takut…aku ingin mengakhiri segalanya…aku berusaha menahan rasa ini semampuku, namun semakin ku tahan rasa ini seperti ingin membunuhku.”

“Tapi tetap saja…kau salah di mataku…aku tiba bisa terima jika temanku mencintaiku…maka, setelah kau mengatakan semua ini…mulai sekarang kau sudah kehilangan hakmu sebagai sahabat.” nada bicara Chanyeol meninggi satu oktaf, sungguh ia benar-benar marah.

“Karenanya aku mencoba untuk lepas dari daerah amanku. Aku menerima konsekuensinya setelah memikirkannya. Aku…tidak ingin membebani hatiku. Jika aku harus melepasmu, maka aku juga akan melakukannya. Maka jika aku telah kehilangan hakku sebagai sahabat, tak apa.” ia berucap kesusahan, sembari menelan ludahnya pahit. Kemudian melepas cengkraman pemuda itu dari lengannya.

“Jangan memandangku, jangan menyapaku, jangan sok kenal denganku. Mulai detik ini, kau orang asing bagiku.” dengan mengucapkan kalimat sarkastik pemuda itu melenggang pergi meninggalkan Chaeyoung dengan segala lukanya.

“Kau mungkin bisa mematahkan hati ini, tapi kau tidak bisa membunuh cinta yang ada di dalamnya. Setidaknya biarkan aku mencintaimu dalam diam.” kalimat itu yang hanya dapat diucap oleh bibir mungil Chaeyoung – membuat Chanyeol berhenti sejenak lalu sedetik berikutnya ia kembali melebarkan langkahnya. Sungguh, hati Chaeyoung begitu sakit. Ia lemas dan ambruk di sana. Membiarkan tetes demi tetes air matanya jatuh tak terbendung. Ia menangis dalam kesenduan paling memilukan.

~~ TBC ~~

oriona’s notes:

pertama, aku sedih karena dua atau tiga chapter lagi bakal tamat. Entah endingnya gimana, aku juga belum tahu. Intinya fanfict ini bener-bener pendek. Sengaja emang…biar kita bisa ketemu di fanfict lainnya…eeeiiiiittttsss ini bukan sejenis spoiler ya…ane gak janji soalnya

kedua, di akhir cerita nanti kalian pengennya gimana? Ada ektra chapter atau enggak? Mungkin…akan ada meski kalian gak minta WKWKWKWK. Yang bener-bener serius nunggu bakal aku bikin dua versi, satu versinya Chanyeol sama satunya versinya Chaeyoung

last, semisal ane bikin fanfict lagi…kalian mau castnya siapa dan si ceweknya kira-kira siapa…itupun kalau kalian pengen ketemu aku di fanfict lainnya…YANG TERAKHIR INI WAJIB KOMEN KALO KALIAN PENGEN KETEMU AKU LAGI…ini maksa banget(emang maksa)

hold me on instagram & wattpad @oriona97

See you in next chapter gaes~~

Bye bye~~

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] IF (Chapter 3)”

  1. Hiks hiks,sumpah gue udah ngerasain ini,dikasih harapan setinggi langit terus dijatuhin kedalam lautan(adeuh berlebihan,ma’af efek baper).
    Ma’af baru koment karna baru baca juga,….
    Lanjut dak kak…
    Sakit hati jadinya…
    Keingat masa lalu…

    1. Jangan memintaku untuk menambah cerita ini, karena filenya udah siap dan selesai beserta ekstra chapternya…jadi tunggu aja ya…aku usahakan update tiap minggu
      Makasih semangatnya ^_^

  2. Cepet amat tamatnya kirain masih ada chapter selanjutnya yang bikin Chanyeol juga jatuh cinta sama Chayoung. Aku tunggu chapter extranya semoga di situ mereka berdua bisa beratu.

    1. Hai hai….aku juga gak pengen berakhir begitu cepat…tapi balik lagi ke awal…karena emang udah konsepnya…jadi aku gak bisa menyimpang terlalu jauh dari konsep awal.
      Kedua aku seneng karena kamu mau komen…satu komen udah berharga banget…
      Intinya aku makasih banget untuk ^SekyunghuN^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s