[EXOFFI FREELANCE] Three Baby, Three Story (Chapter 1)

IMG_20170827_201707A.jpg

Three Baby, Three Story

Tittle            : Three Baby, Three Story (chapter 1)

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • Wu Yi Fan / Kris (EXO)
  • Choi Min Ah (OC)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Sejin (OC)
  • Oh Sehoon / Sehun (EXO)
  • Kim Yeora (OC)

Other Cast        : find in the story

Genre        : Romance, School Life, family, little bit Comedy

Rating        : PG

Length        : chapter

Summary        :

            ‘Tiga pria tampan itu punya BAYI, tapi siapa ibunya?. Apalagi tiga pria itu merasa tidak pernah melakukan hal-hal mesum pada seorang gadis pun. Lantas sanggupkah mereka merawat BAYI itu?.’

~Happy Reading~

—What The Name For Our Baby?—

“Aku ingin kau bekerja dengan baik disana, apalagi besok calon istrimu akan pulang ke Korea.”

Kris berjalan menuruni tangga sambil menerima telpon dari ayahnya. Wajahnya kusut dan terdapat lingkaran hitam yang terlihat samar di matanya. Rambut pria itu masih berantakan, sepertinya dia baru bangun tidur.

“Ayah, kumohon jangan persulit aku. Jangan biarkan gadis itu kembali mengusik diriku lagi.”

Kris merajuk, keinginan terbesarnya setelah kembali dari Kanada adalah dengan tidak bertemu istri -atau sebenarnya masih menjadi calon istrinya. Kris adalah orang yang paling tidak suka hidup bersama seorang wanita. Bukannya dia pria abnormal, hanya saja Kris merasa kalau wanita hanya akan menyulitkan perkerjaan dan seluruh kegiatannya sehari-hari. Bukan berarti dia membenci sang ibu, Kris justru sangat dan lebih menyayangi ibunya dari pada sang ayah. Hanya saja, selama dia hidup di dunia ini, kebanyakan wanita yang berada disekitarnya cuma bisa menjadi pengganggu.

“Oh, Kris… jangan kekanakan. Ayah tahu kalian hanya dijodohkan, tapi lama kelamaan kalian akan jatuh cinta.”

Kris mengambil sepotong roti lalu mengolesinya dengan selai coklat. Mendengar perkataan ayahnya barusan membuat Kris kembali teringat bagaimana dia dijodohkan dengan gadis yang sama sekali tak dia kenal. Gadis yang memang cantik dan imut, tapi serius, Kris tidak suka tipe gadis seperti itu. Karena yang dia tahu gadis imut biasanya sangat manja. Berbicara dengan gaya yang kekanakan dan itu mengganggu Kris. Dia lebih memilih gadis pendiam yang anggun.

“Ayah… sudahlah. Kapan barang-barangku akan sampai?, kuharap secepatnya. Juga… aku ingin uang bulanan ditambah, ada banyak yang harus aku beli.”

Kris menggigit roti yang sudah terolesi selai itu, mengunyah lantas menelannya. Tangannya masih memegang ponsel yang menempel pada telinga, mendengar setiap ocehan sang ayah tentang Kris yang selalu minta uang tambahan untuk membeli barang-barang tak berguna -menurut ayahnya.

“Hai Kris!”

“Hai Min Ah!”

Kris kembali memakan roti selai coklatnya, mendengar setiap perkataan sang ayah mengenai dia yang minta uang tambah- tunggu dulu!. Siapa yang menyapanya tadi?. Pria itu sontak berbalik dan mendapati seorang gadis yang duduk disofa ruang tamu serta merta menyuapi bayi kecil dengan bubur coklat. Ia tersenyum lebar pada Kris.

“Hai!, apa kabar?”

Mata Kris membelalak, dia tidak menyangka bahwa gadis itu sudah tiba di Korea, bahkan kini bersantai bersama seoraang bayi di ruang tamunya. Padahal baru beberapa menit yang lalu Kris membicarakan gadis itu dengan sang ayah melalui telepon.

“Ayah, nanti aku telpon lagi.”

Kris memutuskan sambungan telepon, matanya masih belum beralih pada gadis bernama Min Ah itu, yang begitu cekatan menyuapi bayi laki-laki yang masih memakai pakaian sama seperti ketika Kris menemukannya tadi malam.

“A-apa yang kau lakukan disini?”

Gadis itu menoleh, “Berkunjung.” Katanya singkat. Dia kembali menyuapi sang bayi.

“B-bayi itu… kau jangan khawatir. Dia bukan anakku, eung… a-aku menemukannya di depan apartement dan kau harus percaya!”

Min Ah menatap Kris dengan mata bulatnya, lalu tersenyum simpul.

“Tak apa, aku percaya. Aku sudah membaca suratnya.”

“Surat?”

Kris buru-buru mengambil selembar kertas di keranjang rotan yang Min Ah maksud. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau ada surat semacam itu yang ditinggalkan bersama sang bayi?.

Untuk yang menemukan bayiku,

Maafkan perbuatan saya yang sudah dengan sengaja meninggalkan bayi laki-laki ini, maaf.

Saya punya alasan yang kuat, saya tidak sanggup mengasuh bayi ini sendirian.

Meski begitu, mohon anda mau merawat bayi ini dengan baik. Terima kasih.

Tertanda, orang tua bayi.

Nb : nama bayi itu Kim Jongwoon, tapi kau bisa menamainya sesuka hatimu. Tanggal lahirnya 7 November dan usianya kini sudah menginjak satu tahun dua bulan.

Kris berdecak sebal. Orang tua gila mana yang tega membuang bayi sekecil itu?!. Dan kenapa dia yang harus merawat?, kenapa bukan pria lain yang sudah mempunyai anak dan berpengalaman soal rumah tangga?.

“Omo, Kevin-ah!. Jangan memuntahkan makananmu, pakaianmu jadi kotor semua.”

“Kevin?.”

Min Ah menoleh sekilas pada Kris, “Eoh, memang kenapa?.” Lalu kembali fokus membersihkan bayi laki-laki itu.

“Itu nama kecilku.” Protes Kris, tidak suka namanya digunakan untuk bayi yang tidak jelas siapa orang tuanya itu.

“Tidak apa-apa kan?, lagipula di surat itu bilang kita bisa menamai bayi itu sesuka kita.”

“Kita?, akulah yang menemukan bayi itu.”

“Memang, karena itu aku memberi nama kecilmu untuknya.” Min Ah menggendong bayi itu, “Kajja Kevin Wu, kau, eomma dan appa akan pergi belanja untuk keperluanmu!.”

“APA?.”

Min Ahn yang sudah sampai di pintu keluar menatap Kris dengan tatapan polosnya, “Kenapa?, Kevin tidak punya baju ganti kan?. Tidak mungkin kita memakaikan dia bajumu.”

Kris menghela nafas lelah. Dia ingin beristirahat, dan rencana itu hancur sudah ketika bayi itu datang dan membuatnya tidak bisa tidur semalaman karena tangisan sang bayi yang tiada henti. Ditambah lagi kedatangan Min Ah yang tiba-tiba di apartementnya, apa ini musibah?, bencana?, atau anugerah?.

“Kris?, ayo berangkat!.”

“Aish!. Ya, tunggu sebentar!.”

***

“Yeora-ssi, aku mohon terima permintaanku ini.”

“Tidak, Sehun-ssi.”

“Oh, ayolah. Jangan bersikap seperti ini, aku janji tidak akan meminta bantuan apapun lagi setelah kau mau menolongku. Kali ini saja!.”

Sehun terus memohon pada Yeora, gadis dingin di sekolah yang tidak mempunyai satu teman pun. Dia meminta gadis itu untuk merawat bayi yang dia temukan tadi pagi, karena menurut Sehun Yeora orang yang paling bisa dimintai pertolongan untuk hal ini. Yeora menatap Sehun sebal, sampai kapan pria berkulit putih itu akan terus menyusahkannya?.

Sebenarnya Sehun bisa menyuruh Sujin atau Hyemi, tapi mereka sama dengan Sehun, mereka tinggal bersama orang tua dan tidak mungkin memasukkan seorang bayi kedalam rumah. Jalan pintas yang bisa Sehun manfaatkan adalah rumah Yeora. Dari berita yang dia dapat, Yeora tinggal sendiri karena kedua orang tuanya berada di luar kota.

“Kumohon Yeora-ssi, aku akan mengunjungi bayi ini setiap hari, membawa makanan dan keperluannya.” Kata Sehun sambil menenangkan bayi laki-laki yang terus menangis di gendongannya.

Yeora risih dengan tangisan bayi itu, apalagi beberapa tetangga sedang melihat mereka dengan pandangan bingung dan penasaran. Bisa-bisa mereka menggosipkan hal yang tidak-tidak. karena itu Yeora menyuruh Sehun masuk kedalam rumahnya.

“Terima kasih Yeora-ssi, aku akan membalas budi baikmu nanti.”

Yeora memandang malas Sehun. Pria popular disekolahnya yang digilai banyak wanita. Seorang ulzzang tapi amat polos dalam hal percintaan. Yeora banyak tahu tentang Sehun, tapi dia tidak peduli. Sekarang pria itu memaksa agar Yeora berkenan meminjamkan rumah untuk merawat seorang bayi. Yeora benci anak-anak dan bayi masuk dalam daftar.

“Ssst… kumohon diamlah Sebyun-ah.”

“Kau menamainya apa?.”

Sehun menatap Yeora dengan tatapan polosnya, “Sebyun. Oh Sebyun.”

“Cih, kekanakan.” Yeora bergumam.

“Apa?.”

Yeora tak membalas, dia mengambil bayi yang menangis terus itu dari gendongan Sehun. Sehun menatapnya tidak mengerti, pria itu kemudian mengikuti Yeora yang berjalan kearah kamar. Sehun terus memperhatikan cara Yeora menidurkan bayi berumur satu tahun itu. Begitu lembut dan Sehun bisa merasakan debaran yang aneh pada jantungnya. Ketika Yeora selesai membuat bayi itu tertidur, dia kembali pada Sehun yang berdiri di ambang pintu kamar.

“Aku tidak bisa membantu banyak. Warga sekitar akan membicarakan hal yang tidak-tidak, maka dari itu kau harus tinggal disini dan menyamar sebagai saudaraku.”

“Apa?!, lalu bagaiamana aku menjelaskan hal ini pada orang tuaku?.”

“Kau laki-laki, minta izin menginap dirumah teman saja.”

“Tidak, aku tidak bisa.”

“Dasar anak manja.”

“AKU TIDAK MANJA!.”

Yeora membekap mulut Sehun, menghentikan teriakan pria itu, mencegah suara Sehun yang keras agar tidak membangunkan bayi kecil yang baru tertidur barusan.

“Kalau kau tidak manja, belajarlah hidup mandiri. Dan… menjaga bayi.”

Sehun membelalakan matanya. Takdir kejam macam apa ini?, tidak, Sehun tidak pernah membayangkan punya seorang bayi dalam usia muda dan harus tinggal terpisah dari orang tua. Ini bencana!.

***

“Chanseol berhentilah!.”

Chanyeol mengejar anak berusia dua tahun yang berlarian mengitari rumahnya. Anak itu sungguh hyperaktif dan menyulitkan Chanyeol. Sangat menyulitkannya. Sudah dua hari yang lalu anak laki-laki itu berada di rumahnya, beruntung Chanyeol hidup sendirian. Tapi tetap saja dia yang belum menikah sudah punya momongan?. Apa kata orang-orang nantinya?!.

Pintu masuk rumah Chanyeol terbuka dan seorang gadis mulai masuk dengan langkah ragu. Dia terkejut begitu seorang anak laki-laki kecil beringsut kearahnya, lantas memeluk gadis itu erat.

“Eomma, kenapa baru datang?.”

“Huh?.”

Chanyeol memandang gadis itu tak percaya.

“Jadi kau ibunya?.”

Gadis itu kelabakan. Dia menggeleng dengan cepat hingga kacamatanya hampir terjatuh. Buru-buru dia melepas pelukan anak tadi, namun yang ada anak itu justru menangis keras.

“Eomma kenapa?, kenapa?… hiks.”

Chanyeol datang menghampiri lantas segera menggendong anak itu, segala penolakan dan rontaan anak laki-laki itu Chanyeol hiraukan.

“K-kau membuat anak itu menangis.”

“Lalu?, kurasa kau nona yang membuatnya menangis.”

Chanyeol menatap gadis itu tajam, walau sebenarnya dia takut kalau gadis ini akan menyebarkan keseluruh kampus mengenai Chanyeol yang merawat seorang anak kecil, bahkan bisa disebut bayi karena usia anak tersebut yang berada di bawah lima tahun. Tapi dia agak kesal saat Chanseol menangis karena gadis itu.

“E-e-eh, itu… biar aku menenangkannya.”

“Tidak perlu!. Mau apa kau kemari dan siapa kau?.”

“A-aku Lee Sejin, mahasiswi semester satu jurusan sastra.”

Chanyeol mengangguk tapi tatapannya masih belum berubah. Dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan atau jelaskan jika gadis ini bertanya sesuatu mengenai sang bayi. Tidak, Chanyeol belum menyiapkan alasan yang tepat untuk ini.

“Euh, aku disini dimintai tolong oleh dosen K-kang. Dia memintaku u-untuk membujukmu agar ikut menjadi anggota klub drama.”

Gadis itu terbata-bata dalam menjelaskan. Chanyeol mulai menyadari sesuatu, gadis bernama Sejin ini mungkin saja salah satu fansnya. Datang kemari dan berbicara langsung dengan Chanyeol mungkin adalah hal teristimewa yang gadis itu rasakan hingga dia harus bicara terbata. Tiba-tiba pria itu tersenyum licik, dia punya suatu rencana hebat yang bisa memudahkannya dalam mengasuh Chanseol.

“Maukah kau jadi kekasihku?.”

“Eh?.”

Chanyeol bisa melihat perubahan wajah Sejin. Pipinya merona, tangannya bergetar dan matanya membulat sempurna. Ini rencana yang bagus, Chanyeol bisa membayangkan bagaimana bebasnya dia setelah ini.

“Kekasihku. Maukah kau jadi kekasihku?.”

“K-kenapa menda-mendadak sekali?. Kau tidak mengenalku s-sebelumnya.”

Chanyeol menurunkan Chanseol dari gendongannya. Dia berjalan mendekati Sejin yang tubuhnya semakin kaku. Keringat dingin menghiasi beberapa bagian wajahya. Chanyeol tersenyum manis padahal dia menyimpan rencana licik dibaliknya.

“Ini rahasia. Sebenarnya aku adalah penguntitmu.”

“M-mana mungkin!.”

“Benar, kau Lee Sejin mahasiswi dari jurusan sastra. Yang selalu memakai kacamata dan rambut yang dikuncir dua. Aku menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?.”

Mulut Sejin menganga, dia tidak menyangka kalau pria yang dia sukai selama ini bisa menjadi penguntitnya. Menyukainya, bahkan sekarang dia meminta Sejin menjadi kekasih Chanyeol. Ya ampun!, jika ini mimpi, ini adalah mimpi terindah sepanjang masa yang pernah dia alami. Dan jika ini kenyataan, maka Tuhan telah memberi takdir terindah untuk Sejin.

“A-aku mau.”

Air mata mulai memaksa keluar dari pelupuk mata Sejin. Dia bahagia, terlalu bahagia hingga air matanya menetes begitu saja. Melihat itu, Chanyeol mengusap air mata itu sambil tersenyum, senyuman yang terlihat sangat manis sekali. Chanseol menarik ujung kemeja yang Sejin kenakan. Sejin melirik bayi itu, dia kembali bingung.

“Jadi kau memang eomma-ku?.”

Sejin membulatkan matanya. Menjadi ibu?, yang benar saja!. Pacaran saja baru kali ini, dan itu Chanyeol yang menjadi kekasihnya. Bagaimana bisa dia menjadi ibu?. Gadis itu menatap Chanyeol, berharap mendapat jawaban dari segala rasa penasarannya. Tapi pria itu hanya diam, bersedekap lalu tersenyum, senyuman yang sulit diartikan.

‘You into my trap.’

~To Be Continue~

Gyaaaaa, finally chap 1 is done…

Enjoy it and give your comment readersdeul~

RCL juseyooooo~~~

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Three Baby, Three Story (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s