GIDARYEO – 8th Page — IRISH’s Tale

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  Crime  — Family — Fantasy — Melodrama — Supranatural — Suspense  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 4 | 1st Page5th Page | 6th Page7th Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

“S-Shadow?” aku memandang tak percaya saat nyatanya dia memang sosok yang sama dengan yang baru saja kupikirkan dan baru saja kuduga-duga kemana perginya! Bagaimana bisa dunia jadi sesempit ini?

“Berbicara dengan anak kecil saja kau tidak bisa, Anna. Heran, bagaimana bisa kau bicara begitu banyak pada kriminal-kriminal di luar sana.”

Dia ada di sini. Shadow Of The Dark ada di sini. Dia tidak pergi. Dan mengapa aku merasa begitu senang?

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya sejenak memandangku, melihat kebisuan yang kupamerkan, dia kemudian kembali berfokus pada anak kecil yang tadi diajaknya bicara.

Tanpa sempat mendengar apa yang dia katakan kepada anak kecil itu, atau menyerap tentang tujuan kemunculan tiba-tibanya, tidak juga aku sempat menanyakan apa yang dia katakan pada anak kecil itu, Shadow sudah menarik lenganku begitu bus berhenti.

“Ayo turun.” katanya tanpa terdengar ingin dibantah.

Tentu saja dia tidak perlu persetujuanku untuk melakukan segalanya. Aku saja sudah menyerahkan diri padanya. Terbukti dengan bagaimana sekarang aku hanya bergeming saat dia menarikku turun dari bus, dan membawa langkahku menjauh dari jalan raya.

“Mengapa kau ada di sini?” tanyaku begitu kudapatkan kembali kesadaranku.

Tatapannya lantas bersarang padaku, seolah pertanyaan yang kuutarakan padanya sekarang adalah pertanyaan paling konyol yang pernah didengarnya, ia kemudian buka suara.

“Kau sendiri? Kenapa kau naik bus yang sama denganku?” ia balik bertanya.

“Apa? Mengapa jadi salahku?” aku menatap tidak mengerti.

Aku bahkan tidak tahu kalau dia ada di dalam bus itu dan dia sudah mengutarakan pertanyaan yang membuatku terlihat seperti seorang stalker.

“Takdir itu memang lucu,” kemudian dia berkata setelah tertawa kecil, “Ayo, kita bicara di tempat lain saja.” sambungnya segera membuatku menghentikan langkah dengan paksa.

“Ada apa?” tanyanya.

“Mengapa harus di tempat lain? Kita bisa saja bicara di sini.” ucapku.

“Tidak bisa, orang-orang akan merasa curiga padaku kalau mereka melihatku memakai topeng seperti ini.”

Dan memangnya dia pikir dia tidak terlihat mencurigakan? Dia selalu terlihat mencurigakan.

“Lalu apa masalahnya? Itu ‘kan salahmu, kenapa juga harus memakai topeng begitu?” balasku tidak mau kalah.

“Tentu saja supaya kau tidak mengenaliku. Kau bisa saja dengan mudah mengenaliku jika aku tidak menggunakan topeng.” sahutan Shadow Of The Dark sekarang mengejutkanku.

“Apa kau orang yang kukenal?” sontak aku bertanya. Memangnya, apa yang salah jika aku mengenalinya? Apa dia benar-benar seseorang yang kukenal seperti spekulasi awalku? Apa kecurigaanku pada orang-orang yang ada di sekitarku itu tidak salah?

“Bukankah kita memang saling mengenal?”

“Hah?”

Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku adalah orang bodoh dan bahkan tidak bisa mengerti apa yang tengah ia bicarakan. Melihat reaksi bodoh yang kupamerkan, dia akhirnya meneruskan tindakannya: membawaku melangkah mengikutinya.

Kami kemudian sampai di tepi sebuah danau kecil, dan saat ia melepaskan cekalannya dariku, segera belasan tanya masuk ke dalam benakku. Seolah, saat ia mencekal tanganku tadi pertanyaan-pertanyaan itu duduk diam dan menunggu.

“Bukannya kau katakan kau akan pergi?” itu adalah pertanyaan pertama yang berhasil lolos dari bibirku. Shadow sendiri tampak tidak ambil pusing, dia malah memilih duduk di atas rerumputan sembari melempar pandang ke arah danau.

“Ada yang membuatku terpaksa kembali.” ucapnya membuat pertanyaan lain akhirnya lolos lagi dari bibirku.

“Apa itu? Hebat sekali, ada yang bisa membuatmu kembali juga, ternyata.” kataku membuatnya tersenyum tipis.

“Ciuman.” ucapnya segera membungkamku, sontak kualihkan pandanganku darinya, berharap dia tak akan repot-repot mengawasi ekspresiku sekarang. Karena bisa kupastikan pasti wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus.

“Kau mengerti?” tanyanya saat aku tak kunjung menyahut.

“Ya,” kataku singkat.

“Jadi, kau merasa ciumanmu hebat ya?” tanyanya segera membuatku berdecak kesal.

“Sudahlah, aku tahu kau hanya ingin menggodaku. Lagipula, mana bisa alasan sesimpel itu membuatmu kembali?” kataku gusar, tidak nyaman juga karena dia menjadikan tindakan lancangku sebagai bahan pembicaraan kami sekarang.

“Kata siapa tindakanmu itu simpel? Justru, itu adalah alasan yang paling kuat. Karena dilakukan tanpa izin pemiliknya, kejadian itu… berbekas sekali.” ucapannya lagi-lagi membuatku membuang pandang.

Mengapa dia harus terus membahas perkara ciuman itu?

“Tapi, apa itu artinya kau tidak akan pergi?” tanyaku kemudian, berusaha mengalihkan bahan pembicaraan kami.

Lagipula, bagaimana bisa dia benar-benar to the point? Bisa-bisanya dia berkata seperti itu tanpa peduli jika aku terbakar habis karena rasa malu. Dan bisa-bisanya ia tidak merasa canggung sedikit pun karena membahas soal ciuman! Bodoh!

“Bisa kupertimbangkan untuk tidak pergi.” jawabnya.

“Benarkah?” aku kini memberanikan diri menatapnya lagi, sementara dia kini menatapku dalam diam.

“Ya… tergantung.”

“Tergantung?” tanyaku.

“Hm. Tergantung. Apa kau siap kalau harus terus bertemu denganku saat aku ada di sini?” mengapa dia menanyakan hal itu? Sudah jelas, jawabannya adalah ya.

Apa dia tidak bisa melihat jawaban itu dari ekspresiku sekarang?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Aku tidak bisa untuk berdiam dan tidak mencari tahu tentang apapun saat nyatanya aku kembali dilibatkan dalam masalah mereka. VPGN. Walaupun aku tidak mengerti kenapa mereka melibatkanku lagi, apa ada masalah baru, atau apa mereka membutuhkanku, atau apa mereka sedang menghindari sesuatu.

Dan melihat tindakan Kai juga rasa khawatirnya pada Anna, membuatku sadar Kai tidak lagi seperti Kai yang dulu.

Dulu, yang aku tahu—walaupun kami tidak begitu dekat—tapi aku tahu Kai bukanlah seorang yang terlalu mengambil pusing atas suatu permasalahan. Dan walaupun di saat perang itu ia mendapat lawan yang sangat tangguh karena lawannya mampu mengendalikan waktu, dan aku tentu saja merasa aneh saat Kai bisa begitu peduli pada seseorang.

Bukannya dia tidak pantas untuk peduli, hanya saja dengan kepribadian Kai yang selama ini selalu dingin dan misterius… rasanya sedikit aneh.

“Jadi apa Eomma Anna adalah alasan yang membuatnya harus ada di sini?”

Kai tersentak saat mendengar pertanyaanku. Ia lantas tersenyum kaku. Sudah hampir tiga jam kami habiskan dengan pertanyaan yang sama. Dan Kai, masih juga memilih bergeming dan tak menjawab pertanyaanku sejak tiga jam yang lalu.

“Sebenarnya bukan itu.” ucapnya kembali memberiku pertanyaan.

“Lalu apa? Kenapa kau bilang dia mirip Eommanya? Memangnya kau kenal Eommanya?”

Kai tersenyum samar.

“Rasanya tidak baik jika membicarakan hal ini. Anna juga tidak tahu tentang masalah ini. Sehun juga tidak tahu. Akan lebih baik jika tidak ada yang tahu ‘kan?” ucapan Kai sekarang membuatku menyernyit bingung.

“Apa Eomma Anna ada hubungannya denganmu?”

Kai hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku.

“Kau pasti bisa menemukan jawabannya Injung. Kau selalu berhasil menemukan jawaban atas masalah apapun.” ucap Kai sebelum dia akhirnya menepuk bahuku dan melangkah meninggalkanku.

“Bukankah kita akan mencari Kyungsoo?” tanyaku kemudian.

“Ya, memang. Tapi aku bisa menemukan Kyungsoo dalam hitungan detik. Dan sebelum itu, aku harus memastikan satu hal. Aku akan temui kau sebelum makan malam Injung, baik-baiklah dengan Sehun.” ucap Kai dan dalam hitungan detik ia menghilang.

Aku segera tersadar. Sehun? SEHUN!?

Tunggu. Sekarang. Di rumah ini hanya ada aku dan Sehun!? Kurasa aku harus ikut keluar seperti Anna dan Kai.

“Memangnya kau mau kemana?”

Aku berbalik. Terkesiap saat sadar Sehun sudah ada di belakangku.

“Ti-Tidak. Aku tidak berencana pergi kemanapun.”

Sehun memandangku dari atas sampai bawah.

“Kau masih saja sering berbohong seperti dulu. Sayang sekali sudah tidak ada Jiwa yang kutitipkan.” ucapnya.

Ah. Ya. Setelah perang itu, semua Jiwa dikembalikan ke pemiliknya. Walaupun milik Kyungsoo… Baekhyun… Chanyeol… Mereka tidak tertolong.

Tapi Kyungsoo hidup! Itu satu poin keajaiban yang ada!

Sungguh. Aku senang karena nyatanya Kyungsoo masih hidup. Apa Chanyeol dan Baekhyun juga begitu? Semoga saja.

“Aku tidak yakin jika Baekhyun dan Chanyeol masih hidup. Kau tahu apa yang terjadi di sana pada waktu itu ‘kan?” ucap Sehun.

Aku menghela nafas pasrah.

“Ya. Kesalahan yang dilakukan Chanyeol, dan serangan kejam dari Xiumin pada Baekhyun…” gumamku pelan.

“Setidaknya tidak semua A-VG itu hidup—aku tidak bicara soal Luhan—aku bicara soal Kris, Chen, dan Yixing. Mereka juga mati di kejadian itu kan?” ucap Sehun.

Aku mengangguk lemas.

“Tapi dua orang masih hidup. Dan salah satunya adalah Xiumin.” ucapku kemudian.

“Sebenarnya tidak ada yang spesial dari kekuatannya.”

Perkataan Sehun sekarang membuatku tanpa sadar teringat pada serangan yang Xiumin berikan pada Sehun dulu.

“Kau waktu itu bahkan terluka parah karena serangannya, membuatku terpaksa mengembalikan Jiwamu dan—ah. Lupakan.” ucapku menghentikan pembicaraan, sangat tidak ingin membahas masalah ini lagi.

Aku sudah cukup terluka.

“Aku tidak memintamu untuk terus mengingat atau bicara tentang masalah ini. Kau sendiri yang memikirkan dan mengucapkannya. Kau sendiri yang tidak bisa melupakannya.”

“Kenangan seperti ini bukan kenangan mudah yang bisa dilupakan begitu saja.”

Sehun tersenyum tipis.

“Setidaknya masih ada aku ‘kan?” dengan penuh percaya diri Sehun berkata.

“Ada kau?” tanyaku sarkatis sambil melempar pandang sinis pada Sehun. Sempat sekali dia pamer kepercayaan diri di saat seperti ini.

“Aku hanya bercanda Injung-ah. Kau jadi lebih sensitif seiring menuanya usiamu.” ucapnya meledekku.

Ya! Bukan karena kau tidak bertambah tua kau bisa seenaknya meledek orang lain!” kataku menyadari bahwa Sehun sekarang tengah berusaha meledekku.

“Aku tidak meledekmu, memang nyatanya kau bertambah tua ‘kan?” ucap Sehun membuatku menyerah, percuma saja meladeninya, dia akan selalu menang bukan?

“Kau masih ingat hal itu. Sudah jelas aku selalu menang.” ucap Sehun.

“Dan kau masih suka menguntit pikiranku.”

“Bukan keinginanku. Semuanya terjadi begitu saja.” ucap Sehun.

Aku berdecak kesal. Lalu aku memandang ke arah Sehun.

“Tapi Kai tidak pernah membahas masalah penguntitan pikiran seperti yang kau lakukan. Dia berpikir lebih rasional.” kataku, sengaja membandingkannya dengan Kai.

“Ya, tapi Kai bisa jadi sangat emosional saat dia tidak bisa menemukan pikiran seseorang.” ucap Sehun membuatku menatapnya bingung.

“Apa maksudmu? Kai pernah tidak bisa mendengar pikiran orang lain?” tanyaku dijawab dengan anggukan singkat dari Sehun.

“Beberapa kali.” sahutnya, “Kenapa kau terlihat sangat penasaran? Mulai tertarik pada Kai, huh?” tanyanya membuatku segera mendengus kesal.

Tsk. Aku tidak bicara begitu. Sudahlah. Percuma berdebat denganmu. Omong-omong, kenapa kau membawaku kembali kesini?”

Sehun menyernyit.

“Tanpa alasan. Aku hanya merasa keberadaan VPGN sudah aman. Jadi, tidak perlu repot-repot hidup berpindah dan menjadi parasit tidak tetap di tempat orang kan? Apa kau tidak rindu Mokpo?” tanya Sehun kemudian.

Aku mengalihkan pandanganku.

“Sudah jelas kau tahu jawabannya.” ucapku.

Sehun tersenyum tipis.

“Nanti, setelah menemukan Kyungsoo, kita akan kembali ke Mokpo. Rumahku di sana masih utuh, dan tidak ada yang menempati. Aku tidak suka rumah ini. Perlindungannya sangat tidak elit.” ucap Sehun

“Perlindungan? Rumah menyeramkan seperti ini kau bilang punya perlindungan?” kataku tak percaya.

Sehun tertawa pelan.

“Rumah ini bisa menghilang dan muncul dimana pun yang aku mau—oh tidak, yang Kai mau. Rumah ini milik Kai, hebatnya rumah ini punya kekuatan yang sama dengan Kai. Aku tidak tahu kenapa tapi beberapa tahun terakhir ini Kai sering muncul dan menghilang di malam hari. Ia jadi sangat aneh.”

Aku menyernyit.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Dia sering menghilang selama beberapa hari, dan muncul dalam keadaan yang aneh. Seperti orang yang kelelahan. Kurasa ia melakukan perjalanan yang jauh, tapi aku tidak tahu kemana.” ucap Sehun

“Apa dia punya masalah?” tanyaku.

“Setahuku tidak. Tapi, dulu Kai juga sering menghilang dan muncul semaunya, kau ingat kan? Beberapa kali ia menghilang selama beberapa hari dan muncul babak belur, kau pasti ingat.” ucap Sehun membuatku teringat di beberapa saat aku mencari Kai yang tiba-tiba menghilang secara misterius dan muncul dengan keadaan seperti habis dipukuli.

“Apa dia selalu seperti itu sejak dulu?” tanyaku lagi.

Sehun menyernyit memandangku.

“Apa kau sedang tertular Anna? Menjadi seorang wartawan? Dulu kau sering mencari tahu segalanya sendiri.” ledek Sehun.

Aku berdecak kesal.

“Memangnya kau pikir alasan Kai akan ada di mesin pencari?” ucapku.

Sehun tergelak. Tapi kemudian ia kembali memasang ekspresi serius.

“Tidak. Kurasa… hmm, kurang lebih 25 tahun ia seperti ini. Sejak pertama kali kami pindah ke Korea ia jadi seperti ini. Aneh sekali. Dulu aku sempat berpikir ia mungkin jatuh cinta pada manusia, tapi rasanya tidak mungkin Kai bisa menyukai manusia sampai… hmm, 25 tahun ini.” ucap Sehun.

“Mungkin saja—”

“Apanya yang mungkin? Kalau kuperkirakan, mungkin mereka bertemu di usia yang sama. Hmm. 19 tahun. Lalu di tambahkan 25 tahun, sekarang wanita itu pasti berusia 44 tahun bukan? Dan pasti sudah punya keluarga sendiri. Sudah punya anak, sudah punya suami. Iya ‘kan?”

Sehun sekarang bicara dengan nada seolah ia merasa bahwa dirinya pasti sangat benar dan argumennya adalah argumen paling tepat dan tidak bisa dibantah.

“Tapi argumen ku memang 90 persen benar. Dan tidak mungkin Kai akan terus menyukai manusia setua itu, bahkan melihatmu di usia ini saja aku sudah akan berpikir dua kali apa akan terus menyukaimu atau tidak.” kalimat terakhir Sehun diucapkan dengan nada cukup pelan namun berhasil kutangkap dalam pendengaranku dengan baik.

“Kau bilang apa!?” ucapku marah.

“Memang nyatanya begitu. Kau sekarang sudah tua, lihat? Saat kau marah-marah sekarang sudah ada keriput yang muncul!” Sehun menjulurkan lidahnya meledekku.

“Apa!? Oh Sehun!”

Sehun tertawa keras. Ia kemudian berlari ke lantai atas, membuatku dengan kekuatan ekstra harus menahan emosiku.

“Jangan terpancing olehnya Injung… Dia masih anak-anak.”

“Anak-anak? Usiaku sudah ratusan tahun Injung-ah. Tapi aku selamanya terjebak di tubuh berusia 19 tahun.” entah sejak kapan Sehun sudah muncul di belakangku.

Aku berbalik, dengan cepat memukul Sehun.

“Lalu apa maksudnya ledekan itu!? Kau jelas-jelas lebih tua dariku!”

“Tubuhku tidak bertambah tua!” bantah Sehun.

“Dasar alien!” teriakku marah.

Sehun tertawa geli. Lalu ia terhenti. Memandang ke arah pintu dengan ekspresi kaku yang membuatku terkejut.

“Ada apa?” tanyaku curiga.

“Anna tidak berani masuk karena mendengar teriakanmu, dia tadi juga mendengarmu berteriak pada Kai.” ucap Sehun sambil kemudian melangkah santai ke ruangan lain.

“Apa? Aish… Oh Sehun… Kau akan habis nanti…” gerutuku saat sadar Sehun sengaja bersikap seperti itu supaya Anna bisa melihatku yang baru selesai berteriak-teriak seperti gadis tidak bermoral.

CKLEK!

Benar saja ucapan Sehun. Anna masuk tidak lama kemudian. Dan tatapannya langsung terarah padaku. Ia tersenyum padaku, bukan senyum meledek atau senyum sinis, senyum kekanak-kanakkan, mirip dengan senyuman Luhan dan—

—ah. Lupakan Injung.

“Bagaimana jalan-jalanmu?” tanyaku pada Anna, berusaha mengajaknya bicara, tidak mungkin aku membiarkannya tinggal dengan atmosfer aneh rumah ini terus menerus, bukan?

Nde? Menyenangkan. Aku membawakanmu roti. Apa mereka… makan seperti kita?” tanya Anna, memandangku dengan hati-hati.

Aku menggeleng.

“Tidak. Mereka tidak makan seperti kita.” ucapku sambil melangkah mendekati Anna.

“Kau pasti banyak bertanya-tanya soal keadaan di sini?” tanyaku padanya.

Anna tersenyum, lalu mengangguk kaku.

“Sejujurnya, ya. Aku merasa asing dengan tempat ini… dengan kalian. Juga karena aku harus tinggal di sini tanpa alasan yang aku tahu. Tapi, aku tetap harus menghargainya.” ucap Anna, tersenyum—dan membuat senyum itu mengingatkanku pada Luhan!—lagi padaku.

“Aku akan jelaskan padamu tentang kami, nanti, jika semua orang sudah berkumpul.” ucapku

“Semua orang? Ah… Apa kalian berteman sejak dulu?” tanya Anna.

“Ya. Sejak SMA. Bagaimana denganmu? Keluargamu di Korea?” tanyaku.

Anna tersenyum kecut. Sangat mirip dengan senyum kekecewaan Luhan…

“Aku merantahu ke Venezuela empat tahun lalu.” ucapnya membuatku tersadar.

“Tidak menyelesaikan sekolahmu?”

Aku tidak pernah tahu jika ada orang yang bisa lebih parah dariku. Kurasa kepindahan bolak-balikku dari satu sekolah ke sekolah lain di Incheon sudah jadi hal yang sangat menyedihkan.

“Tidak—” Ia menggeleng pelan, lantas melanjutkan. “—Aku ikut dengan orang tua angkatku, dan mereka… sering bertindak tidak baik padaku, jadi aku pergi saat masih duduk di sekolah menengah pertama.” ucap Anna.

Raut wajahnya jelas menampakkan betapa ia sedih karena hal itu. Itu artinya mungkin sekarang ia seharusnya masih duduk di sekolah menengah atas.

“Kau rindu bersekolah?” tanyaku.

Ia memandangku.

“Sekolah adalah hal paling menyenangkan. Aku bisa berteman, berjalan-jalan dengan temanku, menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas dan—ah, sudahlah, lupakan saja. Lagipula, aku mungkin sudah terlalu terlambat untuk mengharapkan sekolah lagi. Boleh aku ke atas? Tubuhku terasa sedikit lelah setelah berjalan-jalan.” dengan halus Anna berkata, jelas aku menangkap ketidak nyamanan yang dia rasakan karena konversasi yang baru saja kami lakukan.

Sekali lagi, hal itu membuat Anna mirip dengan Luhan saat berusaha menghindari pertanyaan dariku saat ia ada masalah, atau sesuatu yang ingin ia sembunyikan. Memahami situasi Anna sekarang, aku akhirnya mengangguk, membiarkan Anna melangkah ke lantai atas.

Tapi baru beberapa anak tangga dilewatinya, Anna sudah berhenti, berbalik memandangku.

“Ya Anna?” tanyaku, tahu bahwa ia menyimpan pertanyaan lain di pikirannya.

Umm, maaf karena bertindak tidak sopan karena tidak memanggilmu Unnie.” ucap Anna membuatku tertawa pelan.

“Tidak perlu memanggilku begitu jika kau merasa tidak nyaman. Kami semua terbiasa saling memanggil nama tanpa mempedulikan umur.” ucapku.

Ia tersenyum kikuk.

“Itu ‘kan pada kalian, kurasa tidak untukku.” ucapnya membuatku sadar bahwa ucapan Kai tentang gadis ini benar.

Ia merasa bukan bagian dari kami.

“Kau adalah bagian dari kami juga sekarang, Anna.” ucapku.

Anna menyernyit.

“Benarkah?”

“Ya. Kau hanya belum tahu alasannya, aku juga tidak tahu alasan apa. Tapi, nanti kita akan cari tahu alasannya. Jangan bersikap kaku pada kami, arraseo?”

Anna tampak berpikir sebentar. Kemudian Ia mengangguk paham.

Arraseo. Terima kasih… Injung-ah…”

“…Injung-ah…”

Aku terpaku saat melihat Anna sudah melangkah ke kamarnya. Cara Anna tersenyum, caranya terlihat kecewa… raut wajahnya saat ia penasaran…

Dan…

Caranya menyebut namaku… aksen itu…

Sangat mirip…

Sangat mirip dengan Luhan…

Kenapa?

Kenapa sangat mirip? Apa ini hanya kebetulan? Atau…

Anna… Apa kau ada hubungannya dengan Luhan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Anna’s Eyes…

“Ya… tergantung.”

“Tergantung?” tanyaku.

“Hm. Tergantung. Apa kau siap kalau harus terus bertemu denganku saat aku ada di sini?” mengapa dia menanyakan hal itu? Sudah jelas, jawabannya adalah ya.

Apa dia tidak bisa melihat jawaban itu dari ekspresiku sekarang?

“Ya,” aku akhirnya berucap. Shadow lantas mendongak, menatapku sebelum dia akhirnya bangkit dari tempatnya sedari tadi duduk.

“Apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” tanyaku dijawabnya dengan sebuah gelengan.

“Tidak, aku hanya akan membalas apa yang sudah kau lakukan padaku.” ucapnya sekarang membuatku tanpa sadar melangkah mundur dengan waspada.

“Apa yang sedang kau rencanakan?” tanyaku segera membuat Shadow menarik lenganku, mengurungku dalam kekangan kedua lengan kuatnya.

“Tidak perlu takut, Anna, aku bukannya hendak menyakitimu.” ucapnya sebelum kemudian ia menunduk menyejajari tinggi tubuhku dan—

“Apa yang kau lakukan?”

—menciumku. Lebih tepatnya, dia mengecup puncak kepalaku. Dan jantungku tak lagi menemukan fungsi normalnya karena tindakan Shadow barusan.

“Membalas apa yang kau lakukan. Bagaimana? Kau sekarang tahu bagaimana rasanya ciuman itu jika dilakukan tanpa izin, bukan?” tanyanya membuatku mendongak menatapnya tidak mengerti.

“Tapi… kenapa?” kenapa dia harus membalasnya? Apa ia sengaja membuatnya jadi impas jadi dia tidak harus merasa bersalah atau berhutang sebuah ciuman padaku jika saja sewaktu-waktu?

“Tidak ada maksud apapun, sudah kukatakan, aku hanya ingin membalasnya saja.” jawabnya sambil tersenyum, jemarinya sekarang bergerak mengusap puncak kepalaku, membuat jantungku semakin melonjak tidak karuan karena tindakannya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” aku akhirnya menemukan sebuah kalimat untuk kuutarakan padanya.

“Pertanyaan?” tanyanya. “Pertanyaan yang mana?” sambung Shadow lagi.

“Apa yang sedang kau rencanakan?” tanyaku, kemudian aku melanjutkan. “Kau kembali, dengan alasan begitu simpel dalam pendapatku. Lalu kau membalas ciuman yang sudah kuberikan seolah kau membayar sebuah hutang. Apa yang sedang kau rencanakan? Kau ingin membalasku untuk kemudian bisa pergi semaumu? Begitu?”

Ia memandangku, lalu seperti yang beberapa waktu terakhir pernah dia lakukan, ia mengetuk pelan puncak kepalaku dengan jemarinya, bergiliran. Dan membuatku teringat pada apa yang sempat ia lakukan pada anak kecil yang ada di bus.

“Dan apa yang tadi kau lakukan pada anak itu? Kenapa kau mengambil foto yang ada padanya? Lalu kenapa menarikku turun dengan tiba-tiba?”

Ia memandangku, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman, sangat manis. Jika saja aku tidak ingat bahwa ia adalah buronan di Venezuela, aku mungkin sudah pasti akan jatuh hati pada—tidak, Anna. Sikapmu sekarang, pemikiranmu tentangnya, tidakkah aku sudah jatuh hati padanya?

Tapi dia adalah seorang pembunuh. Dan sekarang berhadapan dengannya di sini, meski kami terkesan seolah tengah berbicara dengan santai, tetap saja berhadapan dengannya membuatku merasa seolah aku tengah mewawancarainya.

“Apa kau sedang mewawancaraiku untuk Venezuela News?” tanyanya membuatku tersentak.

“A-Apa?”

“Mengapa ekspresimu terkejut begitu?” tanyanya membuatku tergeragap.

“T-Tidak, hanya saja, kau mengagetkanku dengan bertanya seperti itu.” tuturku.

“Memangnya kenapa?” tanyanya lagi.

“Aku baru saja berpikir kalau aku terlihat seperti sedang mewawancaraimu dan kau tiba-tiba saja menanyakan hal yang sama dengan yang aku pikirkan. Apa kau bisa membaca pikiran atau sejenisnya?” tanyaku dijawabnya dengan sebuah senyum kecil.

“Kalau memang iya, kenapa? Kau hanya terlalu blak-blakan mengutarakan apa yang kau pikirkan, Anna. Jadi, kupikir tidak ada misteri dalam pemikiranmu. Semuanya begitu mudah diduga. Dan juga, mengapa kau menanyaiku soal tindakan yang kulakukan pada anak kecil tadi?” ia malah balik mencecarku dengan pertanyaan.

“Itu karena… tindakanmu mencurigakan.” sahutku.

“Mencurigakan?” ia mengulang.

“Ya, mengingat latar belakangmu, aku terus merasa curiga pada apa yang kau lakukan dan—”

“—Kalau aku memang mencurigakan, mengapa kau jatuh hati padaku?” lagi-lagi, pertanyaannya mengejutkanku.

Apa dia benar-benar bisa mengetahui pikiranku? Seperti Sehun dan Kai? Apa Shadow… benar-benar seperti dugaanku? Dia… adalah salah satu makhluk bukan manusia yang kutemui?

Lalu, mengapa aku masih bersikap seolah aku tidak tahu? Bukankah akan lebih mudah bagiku jika bertanya saja padanya dan—

“Mengapa kau berpikir aku jatuh hati padamu?” tanyaku, berusaha membuktikan opiniku, lagi. Jika dia memang bisa membaca pikiran, bukankah dia bisa mengetahui kecurigaanku padanya dengan mudah?

“Aku menduganya. Karena, tidak ada seorang pun yang betah berdekatan dengan seorang pembunuh sepertiku. Kalaupun ada, alasannya pasti bisa dengan mudah kuketahui, dia tengah berusaha menjebakku, atau berusaha mencari informasi pribadi tentangku yang bisa menguntungkannya.

“Karena kau tidak dari keduanya, maka aku bisa menyebutkan alasan ketiga. Seseorang itu mungkin telah jatuh hati padaku, seorang pembunuh yang selama ini menarik perhatiannya. Tanpa sadar, dia telah memercayai pembunuh itu, tidak tahu jika pembunuh itu bisa saja membahayakannya suatu hari nanti.”

Aku terdiam mendengar penuturannya. Memang benar, aku tidak berusaha menjebaknya, karena aku tak punya kuasa atas apapun untuk lantas bisa merencanakan penjebakan-penjebakan tertentu pada Shadow. Tapi aku juga tidak tengah berusaha mencari informasi tentangnya untuk menguntungkanku.

Aku memang ingin tahu tentangnya, tapi itu semata-mata kulakukan karena aku ingin melangkah sedikit lebih dekat kepadanya dan mengenalnya. Apa… rasa penasaranku, juga sikapku padanya, dia kategorikan sebagai kemungkinan bahwa aku sudah jatuh hati kepadanya?

“Lalu apa maksud ucapanmu? Membahayakanku? Apa kau berencana untuk membunuhku kalau aku memang jatuh hati padamu? Atau, kau akan menjadikanku kaki-tangan pembunuhanmu? Atau… kau akan menjadikanku kambing hitam atas—”

“—Tentu saja aku tidak akan begitu, Anna. Kau benar-benar mengira aku akan melakukan hal semacam itu?” tanyanya memotong ucapanku.

“Tidak,” sahutku, “Aku tahu kau tidak akan begitu.” sambungku lagi-lagi membuatnya tersenyum simpul.

“Aku tidak akan membunuhmu, tidak dalam situasi seperti saat ini. Tapi, suatu hari bukannya tidak mungkin hal itu tidak akan terjadi. Itulah mengapa, sejak awal kau sudah kuperingatkan untuk menjauh dariku.

“Bagaimana pun, aku adalah seorang pembunuh. Dan seorang pembunuh, tak akan berubah jadi malaikat penyelamat hanya karena jatuh cinta, Anna. Meski aku katakan aku juga jatuh hati padamu, aku tetaplah seorang pembunuh yang harus kau waspadai.”

Lantas, apa ia berusaha menyampaikan padaku bahwa suatu hari dia mungkin akan membunuhku juga? Saat dia punya alasan yang kuat untuk melakukannya? Tapi mengapa? Aku toh tidak akan membahayakannya, aku memang—tidak, Anna, bukankah sejak awal kau memang sudah bisa menduga hal seperti ini?

Sejak awal, aku sudah bisa menduga bahwa aku akan jadi salah satu korban dari Shadow Of The Dark juga, tapi aku berkeras pada keinginanku untuk mengenal lebih jauh tentang dirinya.

Dan apa yang sekarang menjebakku? Situasi dimana aku ingin terus memperjuangkan hatiku sementara nyawaku jadi ancaman?

“Ingatan anak kecil adalah hal yang sangat lemah. Aku sengaja mengambil foto keluarga yang anak tadi miliki, sehingga dia tidak harus tumbuh dengan mengingat kematian keluarganya, dan lantas membuatnya menjadi seorang yang menyimpan dendam.

“Aku bisa… mendengar semua orang, termasuk anak kecil itu.. Dan dia jelas menyimpan dendam pada orang yang membuat kedua orang tuanya terbunuh. Hal itu akan membuatnya tumbuh menjadi seorang yang menyimpan dendam dalam hidupnya. Dia mungkin saja akan membunuh orang itu nanti saat dia tumbuh besar.”

Aku menyernyit.

“Lalu bagaimana denganmu? Kau juga membunuh banyak orang. Apa itu… karena dendam?” tanyaku.

“Kau memang benar-benar seorang wartawan yang berbakat.” sahut Shadow, tidak malah menjawab pertanyaanku.

“Apa itu artinya jawabannya adalah ‘ya’?”

Kini, ia menatapku. “Ya, Anna. Menurutmu, aku membunuh semua korbanku untuk alasan apa? Dulu, aku selalu merasa bersalah karena mendengar niat buruk orang lain tapi tidak bisa mencegahnya, sekarang, aku tidak mau merasa bersalah karena hal seperti itu lagi, jadi aku menghapus ingatan mereka tentang niatan buruk itu.”

Aku tertegun saat mendengar penjelasannya. Jadi, semua orang yang dibunuhnya adalah orang-orang yang ada hubungannya dengan dendam yang dia simpan? Ugh, mengapa aku tak pernah memikirkan kemungkinan itu?

Seperti halnya pembunuhan politik, atau pembunuhan sosial, Shadow Of The Dark tentu saja punya kemungkinan seperti itu. Aku seharusnya mencari tahu lebih banyak tentang korban-korbannya, sehingga aku bisa menarik kesimpulan dan menunjuk suspek-suspek yang mungkin saja menjadi identitas aslinya.

“Lalu, kenapa kau tidak menghapus ingatanmu sendiri tentang niatan burukmu untuk membunuh orang lain?” mengabaikan keinginanku untuk menanyakan perihal masa lalu orang-orang yang telah dibunuhnya, aku memilih untuk membuka konversasi lain.

“Menghapus ingatan… Berarti menghapus semua ingatan orang tersebut. Apa kau mau aku menghapus ingatanku sendiri… dan membuatku lupa padamu?” pertanyaannya sekarang berhasil memberi efek aneh pada diriku. Ada perasaan sesak yang sekarang menusuk. Bodoh.

Apa aku baru saja merasa takut karena dia mungkin akan melupakanku?

“Aku hanya bercanda, Anna. Aku tidak bisa menghapus ingatanku sendiri. Dan juga, dendamku… masih belum terbalaskan. Jadi… aku akan terus hidup seperti ini.”

“Tapi… kenapa? Kenapa terus menyiksa dirimu dengan dendam?”

“Bukankah masih ada satu pertanyaanmu yang belum aku jawab?”

Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Inilah yang aku rencanakan. Membalas dendam. Dengan memanfaatkan siapapun yang ada di dekatku dan bisa kumanfaatkan. Kau juga bisa jadi salah satu pilihanku untuk melancarkan dendam itu, jadi… selagi kau punya kesempatan, kau bisa pergi, Anna.

“Karena semua orang yang kumanfaatkan untuk pembalasan dendamku, akan kubunuh. Dan kau tentu tahu kemana arah pembicaraanku sekarang, bukan? Jangan jatuh hati pada seorang sepertiku.

“Kau terlalu baik untuk jadi pasangan dari seorang pembunuh. Dan kau terlalu bodoh karena telah jatuh hati pada seorang pembunuh. Daripada jatuh hati padaku, lebih baik kau jatuh hati pada seseorang yang tidak akan membawamu pada lembah kematian.”

Mengapa? Mengapa ia harus memberikan larangan seperti itu saat dia sudah tahu jelas kalau situasi ini sudah begitu terlambat? Bagaimana aku harus berhenti tertarik dan menyukainya saat apa yang dia katakan sekarang justru membuatku semakin ingin mengenalnya?

“Aku… tidak bisa.” ucapku akhirnya.

“Kenapa?” dia bertanya.

“Aku tidak bisa, membiarkanmu sendirian. Kau pasti sangat lelah karena terus hidup untuk membunuh, dan membalas dendammu. Kau pasti butuh seseorang untuk jadi pelampiasan lelahmu.

“Aku tahu aku mungkin bodoh karena sudah melemparkan diri pada seorang pembunuh. Tapi, bukankah setiap manusia juga akan mati? Dari yang kuketahui… kau bukanlah seorang manusia, Shadow. Apa aku benar?”

Runtuh sudah benteng yang dengan keras sudah berusaha kupertahankan dalam pikiranku. Aku tak lagi ingin bermain teka-teki dengannya. Aku tidak lagi ingin berpura-pura.

Tapi, apa dia juga menginginkan hal yang sama?

“Ya, kau benar. Aku bukan manusia, dan perasaanmu padaku juga tak akan berujung pada kebahagiaan meski aku membalasnya.”

“Suatu hari aku akan mati, Shadow. Sampai saat itu, tidak bisakah kau biarkan aku terus berada di dekatmu? Aku tidak perlu tahu apa yang akan kau lakukan setelah aku mati, aku hanya ingin terus mengenalmu dan berada di dekatmu seperti saat ini. Apa permintaanku… terdengar konyol?”

Keheningan menyelimuti sementara pandang kami bertemu. Jika dia benar-benar bisa mengetahui pikiranku, tidakkah dia tahu bagaimana perasaanku telah benar-benar terikat padanya?

Setelah semua yang kami lalui, apa dia masih tidak bisa memercayaiku dan berpikir kalau aku tak akan jadi sebuah ancaman untuknya? Aku tidak masalah, sungguh, meski dia menjadikanku sebuah perantara untuk pembalasan dendamnya.

Toh, tidak satu-dua saja manusia jahat di dunia ini. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada seorang pembunuh. Mengapa tidak sekalian menjadi buruk saja? Daripada berusaha menjadi tameng yang ingin mengubah sifat dan kelakar serta menghapus keinginannya untuk membalas dendam… apa aku tidak bisa untuk sekedar jadi pendamping yang menemaninya selagi dia membalas dendam itu?

Dunia itu kejam, dan aku sudah terlalu lama membiarkan dunia menginjak-injakku selagi aku hidup menderita. Dia, bukanlah sebuah benteng pelindung bagiku yang rapuh, tapi dia bisa jadi tempatku berpegangan, saat aku jatuh. Dan aku sama sekali tidak keberatan meski harus kehilangan nyawa karena sudah berurusan dengannya.

Aku tidak takut mati, dan aku juga tidak berharap banyak pada dunia jika umurku panjang nanti. Bukankah, akan selalu ada manusia yang menderita? Aku tak mau jadi bagian yang menderita.

“Apa kau tidak keberatan? Kau tak bisa menyesali keputusanmu setelah aku menyetujuinya, Anna. Kau tahu kau harus jadi seseorang yang punya komitmen.” sebuah pertanyaan lolos dari bibirnya setelah keheningan begitu panjang tercipta di antara kami.

Komitmen? Dia bahkan bicara soal hal itu saat situasi kami sekarang bahkan sudah jadi hal paling tidak masuk akal?

“Jika aku memanfaatkanmu, kau tidak keberatan?” ia mengajukan pertanyaan lain.

“Aku sudah terbiasa hidup seperti itu,” jawabku.

“Suatu saat kau mungkin akan terbunuh karenaku, kau juga tidak keberatan?” lagi-lagi dia bertanya.

“Kalau tidak karenamu, aku mungkin akan mati karena hal lain, atau orang lain. Lalu apa bedanya? Aku juga pada akhirnya akan mati. Tinggal menunggu waktu saja, cepat, atau lambat.”

“Aku tidak hanya hidup untuk membunuh, tapi aku juga bertahan hidup karena aku harus menepati janjiku pada seseorang. Kau tidak keberatan jika nantinya janji itu akan melukaimu?” kembali, dia menanyaiku.

“Tidak,” aku menjawab.

“Meski janji itu adalah janji dimana aku akhirnya akan bertemu dengan seseorang yang mencintaiku lebih dari yang kau rasakan padaku… dan ketertarikanku padamu lantas akan hilang karena aku jatuh cinta padanya lagi?”

Aku menatapnya tak percaya. “Apa itu artinya cintaku sekarang bertepuk sebelah tangan?” tanyaku membuatnya tertawa pelan.

“Hanya pengandaian saja, Anna. Memangnya apa yang sudah kukatakan? Aku sudah jelas mengatakan kalau kau adalah orang yang menarik perhatianku, bukan? Selain kau… aku belum pernah merasa setertarik ini pada orang lain.”

Bagaimana aku bisa tahu? Bagaimana aku bisa memercayai ucapannya? Aku bahkan tidak tahu jika dia berbohong padaku. Tapi dari yang kutahu dia selalu bicara apa adanya. Apa itu artinya, dendam itu ada hubungannya dengan seseorang yang dulu dicintainya dan mencintainya?

Tapi kadang dia juga bermain-main dengan spekulasiku. Seperti pertanyaan ‘apa kau orang yang kukenal’ tadi, contohnya. Dia menjebakku dalam kalimat-kalimat ambigu yang pada akhirnya kulupakan.

Aku tidak bisa menduganya, bisa saja dia menjebakku dalam situasi yang dimiliki orang lain. Bisa jadi juga situasi itu benar-benar miliknya. Dia katakan dia tidak bisa mendengarku, tapi kemudian dia katakan aku selalu mengatakan apa yang kupikirkan, pikiranku mudah diduganya.

Apa maksudnya semua ini?

“Apa kau bisa tetap menyukaiku dalam keadaan seperti ini?” nah, sekarang lagi-lagi dia mengutarakan pertanyaan yang membingungkanku.

Apa dia menyukaiku?

Atau hanya aku seorang yang menyukainya?

Apa ia tengah berusaha mengatakan salah satu kemungkinan itu padaku?

“Tidak perlu kau jawab, Anna. Aku tahu jawabanmu adalah ‘ya’ karena kau sudah mengiyakan semua resiko yang aku tanyakan padamu. Terima kasih, Anna, karena sudah menyukaiku.

“Dan maaf, jika suatu hari aku mungkin akan melukaimu, atau membuatmu terbunuh. Tapi… aku tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu.”

Dia terlalu membingungkan. Setiap kalimat yang dia ucapkan selalu berujung pada kebingungan untukku. Tadi dia berkata seolah dia akan membunuhku setelah hubungan kami berakhir, lalu ada apa dengan ucapannya sekarang?

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

Dia tersenyum kecil, lantas diusapnya pipiku dengan lembut sebelum dia kembali membuka mulut.

“Aku menyukaimu, Anna. Aku sangat tertarik padamu, dan ingin menghabiskan waktuku denganmu sampai kupikir aku mungkin bisa saja melupakan dendamku demi dirimu. Tapi aku tidak bisa, aku tidak mau melupakan dendam ini hanya karena aku jatuh cinta padamu.

“Tapi setidaknya, kau tidak perlu khawatir. Semua pertanyaanku, hanya tes kecil yang kulakukan padamu untuk membuktikan seberapa besar kau menyukaiku, dan aku sudah dapat jawaban akhir dari semua kemungkinan yang sudah kutanyakan padamu.

“Jadi, jangan khawatir, Anna. Karena kau tak akan terbunuh karenaku, dan aku juga tidak akan membiarkan siapapun membunuhmu, atau bahkan melukaimu. Aku juga tidak akan berpaling darimu karena aku tahu kau hanya akan menyukaiku.

“Aku juga tidak akan memanfaatkanmu untuk dendamku, karena aku tahu hal itu hanya akan melukaimu secara perlahan. Dan karena kau sudah menyetujui semua resiko yang tak mungkin akan terjadi padamu saat kau bersamaku… aku juga bisa memutuskan satu hal yang pasti.

“Kau, sekarang adalah milikku. Aku tidak akan melepaskanmu, meski kau ingin melepaskan diri dariku. Jadi, selamat datang dalam penjaraku, Anna.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Irish: ARGH! GASWAT, AKU SEDANG DALAM DILEMA BUAT MENENTUKAN SIAPA YANG BAKAL JADI SHADOW OF THE DARK INI SEBENERNYA.

Readers: Loh, Rish, jadi selama ini identitas Shadow Of The Dark di pikiran ente juga masih blur?

Irish: Iya, aku tuh masih enggak tau Shadow itu siapa…

(kemudian besok ada headline di koran Memorandum: SEORANG PENULIS FANFIKSI TEWAS DIBANTAI PEMBACANYA DENGAN SADIS SECARA VIRTUAL)

///

Kok bayangan di atas semacam sadis. Atau jiwa saiko aku yang lagi mode on? BUAKAKAKAKA, tapi tolong, jangan bantai aku secara virtual, huhu. Sebenernya, identitas Shadow dalam storyline awal Gidaryeo itu si xxx (clue ke-satu, ada huruf vokal dalam nama sosok shadow ini) tapi makin kesini aku semakin galau, mau jadiin si x lah, mau jadiin si y lah, atau si z.

Tapi terus aku udah menampar diriku berulang kali dengan jari kelingking, aku harus balik ke jalan yang benar. Dan berita gaswat di bayangan aku di atas itu bayangan beberapa bulan lalu /KEMUDIAN KEMBALI MEMBAYANGKAN HEADLINE MEMORANDUM/ saat aku masih galau.

Mengingat aku demen main teka-teki di zaman Kajima-Gidaryeo ini, jadi enggak enak kalo enggak main teka-teki juga tentang identitas Shadow ini… tapi mau enggak aku kasih clue juga rasanya enggak enak… (clue ke-dua, shadow adalah member EXO dalam formasi OT12 yang pernah andil dalam dunia akting) tapi mau terang-terangan bagi clue juga rasanya kok congkak.

Dan bukan iriseu namanya kalo bagi-bagi spoiler tanpa ada berita buruk… LOLOLOL. Yah, berita buruknya apa ya, berita buruk Injung bakal ketikung? Atau berita buruk salah satu pemeran utama wanita—satu dari empat pemeran utama dalam list—bakal mati?

Atau berita buruk kalau salah satu dari member EXO-OT 12 ini adalah pembunuh yang pada akhirnya bakal ngebunuh orang yang dia kasihi? (clue ke-tiga, shadow ini pernah jadi pemeran utama dalam fanfiksiku) tapi lululutralala ~ hanya sepersekian persen aja kemungkinan berita buruk yang aku sebut itu bakal beneran ada, LOLOLOL.

///

Readers: Rish, Rish, itu clue unfaedah semua, enggak menjawab satupun kemungkinan tentang si Shadow

Irish: ya udah, ikutin aliran sungai air matanya Anna aja kalo dia nanti metong gegara Shadow, atau tunggu aja Chen pakai sarung sama kopyah plus baju koko sambil bawa anak-anak kami ke Musholla buat tadarusan abis teraweh.

(KEMUDIAN BESOK BENERAN ADA HEADLINE: SEORANG PENULIS FANFIKSI TEWAS DISANTET PEMBACANYA KARENA BERDELUSI TERLALU DALAM)

///

Irish: ya sudah, clue ke-empat dan yang paling jelas, tunggu aja apa yang nanti ada di malam natal :’3

Readers: bakal end ya di malem natal?

Irish: enggak, tapi baru nanti malem natal Annanya ketemu sama Shadow Of The Dark dalam identitas asli…

(KEMUDIAN HEADLINE MEMORANDUMNYA DIREVISI JADI: BERENCANA MENGERJAI READERS SAMPAI MALAM NATAL, SEORANG PENULIS FANFIKSI DIPAKSA MENIKAH DENGAN BIASNYA)

Irish versi reviris—eh revisi: alhamdulillah ya Allah Kim Jongdae dan imam materialsnya bisa jadi real kalau aku sering ngerjain readers. Dan alhamdulillah, ngerjainnya aku ke kalian ‘tuh karena kalian suka malu-malu kucing buat ninggal komentar padahal statistik pembacaku stabil dan aku ‘kan enggak gigit plus aku ‘kan udah rajin posting…

(HEADLINE YANG FIKS: SEORANG PENULIS FANFIKSI DIRUJUK KE RUMAH SAKIT JIWA KARENA MEMBUAT TIGA LEMBAR AUTHOR’S NOTE DALAM SATU CHAPTER FANFIKSI)

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

29 tanggapan untuk “GIDARYEO – 8th Page — IRISH’s Tale”

  1. Parah ini parah >< kata" shadow berhasil buat hati ini menjadi seperti sebuah pesawat terbang ❤ mau telbang aku ka rish ❤
    kata" shadow pas mau tbc itu bnr" wow ❤ ❤

  2. Kaakkk irissseuu 😭😭😭Maapkan daku karna baru muncul setelah sekianlamanya😥😥 dikarenakan kemarinkemarin Hp rusak🤗 Dan baru sekarang baru bisa affdol baca ff ala kak irisshh😘
    Euk, aromaaromanya nih kyknya si Anna Ada kaitannya ama lulugue😂 and juga Sma mas jong kyk juga berhubungan layaknya rumus rumus fisika😂
    Aku Ngerasa si kamjong yg jadi SOTD🤔
    Pengen luhaninjung shipper kembali😥😭#kangenatuhh
    Penasaran ngeudd sama yg Lainnya. Baekie, jongdae, ahri yg apa Kabar saat Ini… Dan….. Apa kabar juga dengan luhaninjung tentunya😭😭😭 injung tersiksa setelah lulu pergi… 🎤where are you lu🎶#singalanwalkersong

  3. Complicated bgt sihh crtanya. Di awal chapter gye kira shadow itu baekhyun, trus kmren kyungsoo, dan td baca awal cerita d chapter ini ngiranya kai, tp terakhir malah brubh jd chanyeol…
    Ya Lorrddd eta terangkanlah… 😂😂😂
    Di tunggu next chapternya rish… Hwaiting..

  4. Merujuk ke clue #1 😕 ada hrf vcl.. 오세훈!? 카이? 타오?
    Clue #2.. Ngarep bgt ini 크리스 😍
    Injung ke tikung.. Anna? Mengarah ke 세훈 lg 😕
    Tp dr obrolan 세훈 ke injung td, mengarah ke kai. Clue #3 sring’ny si 백 😅
    Ky kompas’y uncle jack sparrow nih 😓 confusing
    Headline x-mas eve : shadow of d’dark unveiled! /rasa penasaran terhadap siapa shadow sbnr’ny 👽 smp2 ngalahin popularitas santa!
    Knp gesture anna mrp sm luhan? Apa anna anak luhan/shadow tu luhan? Jd krn anna sring sm shadow (klo shadow tu luhan) jd mrp2 gt gesture’ny? Akh.. 몰라~

    1. XD aduh tolong tolong kak nindy ini semuanya ditebakin masa XD wkwkwkwkwkwkwkwkkwkwk biar aku definisikan lagi nanti shadownya di chapter-chapter berikutnya biar gak bikin bingung lagi

  5. Sumpah aku ngakak di sini😂😂😂 yaampun itu injung sehun ga berubah ya Aauwww

    Shadow itu siapa sih kak?? Main film? Baek, luhan?? Suho juga, tao juga, kriseu juga,, akhh molla… tapi tadi kak rish bilang klo berita buruk bahwa si injung di tikung😂😂 luhan ya kak?? Tapi kan avg ga bisa baca pikiran,, kalo gitu baek?? Tapi siapa yg mau ditikung klo si shadow itu baek.. aishh frustasi aku kak😂😂 apa kai?? Tapi ga mungkin,,apa suho? Apa lagi woii😂🔪
    Yaudah deh aku nyerah huhuhu😭😭 kutunggu kau di malam natal dow /wuakakakak, panggilannya ga enak banget dow/😂apa dah

    Otw nyantet onlen kak rish😂😂/plak
    Dada kak,, Fighting😍😘😘😘😘❤❤❤

    1. mereka masih jadi couple love-hate di sini maupun di cerita yang lama XD ah astaga pokoknya yang pernah nampang di layar kaca dia XD wkwkwkwkwkkwkwk keknya hampir semua member exo pernah nampang di film ya XD

  6. Hah…aku nyerah nebak2 identitas shadow itu siapa?*angkat tangan. Apa teka-tekinya emang sulit atau pikiranku yg nggk kesampean buat berspekulasi??

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s