Rooftop Romance (Chapter 34) – Shaekiran

rooftopromancehappy.jpeg

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol (EXO)

 

Other Cast

Sehun, Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life? Work Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | Chapter 25 |Chapter 26 |Chapter 27|Chapter 28 | Chapter 29 |Chapter 30 |Chapter 31 |Chapter 32 |Chapter 33|[NOW] Chapter 34

catatan : disarankan membaca ulang chapter -chapter awal dan juga chapter 28 & 29 agar lebih mengerti karena 100% isi part ini adalah flashblack atau kisah balik cerita 11 tahun yang lalu. Terima kasih.

In Author’s Eyes

Long time ago….

Tidak ada yang pernah tau bagaimana isi hati manusia yang sebenarnya. Mungkin orang beranggapan Son Michael adalah sosok orang tua jahat nan egois yang tidak peduli sama sekali dengan putrinya, tapi siapa yang tau? Michael mementingkan perasaan putrinya lebih dari apapun itu.

“Dia tidak makan lagi?” pertanyaan itu bagai sebuah kalimat wajib yang diucapkan Michael kepada asisten rumah tangga yang khusus ia pekerjakan untuk mengurus Wendy. Gelengan kepala si asisten pun membuat helaan nafas kasar kembali keluar dari bibir pria itu.

“Dia masih merenung di kamar?”

Asisten itu mengangguk. “Dia sering menggumamkan nama seseorang sambil duduk di dekat balkon kamarnya, Tuan.” Jelasnya yang membuat rasa khawatir kembali mencubit hati Michael.

Chanyeol, Chanyeol, dan Chanyeol. Nama itu selalu ada di tiap nafas Wendy, bagaikan sebuah mantra ajaib yang mengukir dengan pahatan yang tak bisa dihapus lagi.

Kadang Michael berpikir seperti ini. Wendy itu benar-benar persis seperti ibunya yang hanya terpaku kepada satu lelaki. Atau ini karena Ji Ah sangat menyukai Han Seol, hingga Wendy pun sangat menyukai Chanyeol, putranya Han Seol?

Saat itu Michael teringat bagaimana hidup Ji Ah ketika menikah bersamanya. Tidak ada senyuman, tidak ada canda tawa yang ia harapkan akan memenuhi rumah tangganya dengan gadis yang memikat hatinya sejak pandangan pertama itu.

Ji Ah bagai berubah menjadi sosok lain setelah menikah bersama Michael. Wanita bermarga Kwon itu bagai melupakan cara untuk bahagia. Michael rindu dengan senyum istrinya, Ji Ah, tapi Ji Ah malah menyibukkan diri dengan pekerjaan, menjadi workaholic sejati yang jarang pulang ke rumah dan lebih suka di kantor. Ji Ah bagai menghindar untuk berada di dekat Michael.

Dan sampai Wendy ada pun, Ji Ah masih tetap sama. Ji Ah menyayangi Wendy, tapi Ji Ah selalu pergi ketika Michael hendak menggendong Wendy atau apa pun itu yang menyerempet ke kata ‘keluarga harmonis’. Keluarga yang di-setting bahagia di depan media pers, rekan bisnis, dan keluarga besar lainnya itu benar-benar mengerikan.

“Kau harusnya ada untuk Wendy. Hari ini adalah hari kelulusannya dari Sekolah Dasar. Kau tidak boleh pergi ke Paris untuk rapat.”

Ji Ah mendelikkan matanya ke arah sang suami di atas hitam dan putih itu. Dia menghela nafas dan meletakkan berkas yang sedari tadi menjadi fokus utamanya.

“Bukankah kau juga ingin menghadiri upacara kelulusannya Wendy? Kalau begitu pergilah. Aku tau kau membatalkan semua jadwal rapatmu untuk menghadiri acara ini, jadi aku akan mengalah dan membiarkan kau yang pergi.”

Nada sinis itu terasa di tiap kalimat yang terlontar dari bibir berlapis lipstick merah yang dipakai Ji Ah, terkesan menintimidasi yang membuat rasa tercubit kembali muncul ke permukaan. Sakit, tapi tidak berdarah.

“Wendy punya dua orang tua. Memang aku membatalkan jadwalku untuk Wendy, dan bukankah rapat di Paris itu bisa kau undur ke minggu depan? Ini adalah acara sekali dalam seumur hidup putri kita. Apa kau tidak bisa berbesar hati sedikit dan pergi berdampingan bersamaku untuk menyelamati putri manis yang beranjak dewasa itu? Kau ibunya dan aku ayahnya. Tidak bisakah kau berjalan bersebelahan denganku untuk memberi bunga selamat kepada Wendy seperti orangtua lainnya? Tidak bisakah, Ji Ah?”

Frustasi, Michael frustasi dengan istrinya yang tidak pernah mau menjadi istri sekaligus ibu itu. Kata istri bagai hanya nama di depan hukum, sedang Ji Ah sama sekali tidak pernah menganggap Michael sebagai suami. Bisa dihitung berapa kali Ji Ah datang berdua dengan Michael ke acara-acara tertentu. Tentunya itu pun hanya sebatas setting-an yang dipasang oleh Ji Ah.

“Aku tidak mau—”

“Ya, aku tau. Kau tidak mau pergi denganku kan?”

Michael sangat berharap Ji Ah mengatakan tidak, tapi pertanyaan itu bagai sebuah pertanyaan retoris yang tidak perlu di jawab di setiap pertengkaran mereka berdua.

“Kau tau apa jawabannya, Tuan Son.” Nafas Michael memburu.

“Son Ji Ah!” pekiknya dengan marah.

“Namaku Kwon Ji Ah, margaku Kwon dan bukannya Son!” balas Ji Ah tak kalah emosi. Wanita itu bahkan bangkit berdiri dari posisi duduknya dan segera menatap tajam ke arah Michael.

“Margamu Son sejak kau menikah denganku, Ji Ah. Kau itu istriku. Tidak bisakah kau menjadi istriku sepenuhnya dan bukan hanya setting-an di depan keluarga besar kita? Ji Ah, ku mohon. Tidak bisakah kau membuka hatimu untukku?”

Satu cebikan kasar dilontarkan Ji Ah sebagai balasan. “Keluargaku yang menikah denganmu, bukan aku, Tuan Son.” Katanya sinis.

“Lima belas tahun kita menikah dan kau masih mengatakan itu?” Michael maju, lalu memegang kedua bahu Ji Ah dengan bergetar, hampir menangis. “Ji Ah, kau serius? Apa memang tidak ada ruang untukku, huh? Tidak ada secuil pun untuk lelaki yang menjadi ayah dari anakmu ini?” lanjut Michael lagi dengan satu bulir mata yang jatuh menetes. Cengeng. Michael memang selalu cengeng.

“Tidak ada.”

Tau rasanya luka yang terkena asam?

“Tujuh belas tahun aku mencintaimu secara sepihak sebelum akhirnya kita menikah. Lalu setelah lima belas tahun menikah pun, kau masih tidak membuka hati untukku. Kenapa kau begitu jahat, Ji Ah?”

Michael menghela nafasnya pelan sambil melepas tangannya dari bahu Ji Ah. Mata Ji Ah tidak pernah berbohong kalau memang tidak ada ruang untuk Michael. Jawaban terlalu jujur itu memang jurus paling ampuh untuk menghempas Michael kembali ke sebuah kenyataan pahit.

“Baiklah. Aku mengalah. Pergilah ke acara kelulusan Wendy karena aku tidak akan pergi ke sana. Kau puas?”

Michael berlari secepat mungkin menyusuri lorong rumah sakit. Sebuah telfon yang mengguncang dunianya itulah yang membuatnya seperti orang gila sekarang ini.

“Dimana, Sharon?” tanyanya sesampainya di depan sebuah ruang bertuliskan ‘operation room’ kepada salah seorang bodyguard yang tadi menghubunginya itu.

“Nyonya…dia…,”

Tangis Michael pecah. Dia menerima telfon kalau istrinya baru saja kecelakaan karena menyelamatkan Wendy yang hampir tertabrak mobil karena lalai menyebrang. Alhasil, Sharon—Ji Ah—lah yang tertabrak mobil.

“Wendy?” tanya Michael di sela tangisnya yang menjadi.

“Nona Muda sedang di rawat di ruang VVIP karena pingsan. Nona syok berat ketika melihat Nyonya Sharon tertabrak mobil, Tuan.”

Michael mengangguk mengerti. Istrinya masih berada di ruang operasi, dan dia hanya berharap yang terbaik sekarang ini. Dia tidak ingin kehilangan Ji Ah.

“Nona Wendy tadi marah kepada Nyonya Sharon, Tuan. Katanya Nona Wendy kesal karena yang datang hanya Nyonya dan Tuan tidak ikut menghadiri acara kelulusannya. Dia kesal karena hanya orangtuanya tidak lengkap di acara itu dan dia tidak bisa pamer punya keluarga harmonis kepada teman-temannya.”

Michael mendengarkan bodyguard-nya itu bicara sambil terus fokus memandangi pintu ruang operasi yang masih tertutup.

“Ternyata Nona Wendy selama ini diejek teman-temannya karena orangtuanya jarang datang ke sekolah, dan kalaupun datang hanya ibunya saja yang datang ke acara sekolah, Tuan.”

Michael tau itu. Wendy pernah mendatanginya dan mengatakan itu padanya.

“Kapan appa datang ke acara sekolah, Wendy? Appa sayang Wendy ‘kan? Kenapa tidak pernah datang dengan eomma? Eomma selalu bilang kalau appa tidak bisa datang karena sibuk bekerja. Apa appa tidak mau menunda pekerjaan karena appa tidak sayang Wendy?”

“Siapa bilang? Tentu saja appa sayang Wendy. Tenang saja. Acara kelulusanmu bulan depan, appa akan datang bersama eomma-mu. Appa janji, Wendy sayang.”

“Nona Wendy marah dan pergi begitu saja setelah acara selesai dan Nyonya besar mengejar Nona Wendy. Nona berlari dan tidak melihat mobil yang lewat ketika menyebrang, dan… semuanya terjadi sangat cepat Tuan. Nyonya Sharon tertabrak karena menyelamatkan Nona Wendy.”

Ah, kalau tadi Michael datang ke acara kelulusan itu, semuanya tidak akan menjadi seperti ini kan? Ji Ah tidak mungkin tertabrak dan Wendy tidak mungkin melihat ibunya terkulai berdarah-darah di depan matanya sendiri.

Suara pintu ruang operasi yang terbuka pun mencuri atensi Michael. Seorang dokter keluar dari sana dengan wajah murung. “Maaf, kami sudah melakukan semampu kami, tapi Tuhan sepertinya berkehendak lain. Nyonya Sharon Son, meninggal dunia. Maafkan kami.”

Dan detik itu juga, Michael bagai terhempas ke sebuah jurang paling dalam di dunia. Semuanya mendadak gelap. Rasanya ia ingin mati saja.

.

.

.

“Aku membenci appa!”

Appa sudah berjanji akan datang ke upacara kelulusan Wendy, tapi appa tidak datang. Kalau appa datang bersama eommaeomma tidak akan pergi meninggalkan Wendy untuk selamanya!”

Isakan gadis itu membuat Son Michael tertohok. Ya, dia memang tidak pergi padahal dia sudah berjanji. Mungkin semuanya akan berbeda jika hari itu Michael pergi ke acara kelulusan Wendy. Semuanya adalah salahnya. Andai saja si putri kecil tau apa yang menjadi alasan kenapa sang ayah tidak pernah datang berdampingan dengan ibunya, ataupun kenapa mereka tidak pernah melakukan makan malam keluarga dan piknik seperti keluarga kebanyakan. Andai Wendy tau ayahnya sangat menyayanginya tapi tidak bisa menunjukkannya kepada Wendy.

“Maafkan appa, Wendy…,”

“Aku benci appa!”

“Ya, appa memang patut dibenci, Wendy. Maafkan appa…,”

.

.

.

Michael tidak pernah melihat Wendy tersenyum kepadanya sejak hari pemakaman Ji Ah. Gadis itu menjadi semakin murung setiap hari. Karakter Wendy yang biasanya sering tersenyum pun kini berubah menjadi seorang gadis yang pendiam.

“Dia butuh sosok seorang ibu. Biasanya anak-anak menjadi pendiam karena tidak ada yang mengerti mereka sebaik yang seorang ibu lakukan. Ah, lebih baik kalau dia mempunyai saudara yang bisa mengerti dia. Biasanya seorang anak gadis suka saudara lelaki yang berperilaku hangat, kan? Kau bisa mencoba saranku ini.”

Michael mengangguk kepada psikolog yang ia temui secara diam-diam itu. Di dalam hati, Michael membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh psikolog itu. Mungkin Wendy butuh sosok yang bisa membuatnya nyaman karena dia tidak bisa membuat putrinya bahagia.

“Wendy, ini ibu barumu. Mulai sekarang Direktur Kim akan menjadi ibumu. Dan ini oppa-mu, namanya Kim Jinwoo. Ayo beri salam, Wendy.”

Dan seperti dugaan psikolog itu, perlahan Wendy berubah. Memang Wendy tidak terlalu akrab dengan istri barunya karena Wendy selalu mengatakan kalau Ji Ah adalah satu-satunya ibunya, tapi Wendy nampak cukup menerima kehadiran Jinwoo dengan baik. Jinwoo menjadi sosok baru yang membuat Michael bisa melihat senyum anak gadisnya lagi.

Hingga suatu hari Michael menemukan suatu kenyataan pahit. Wendy menyukai oppa tirinya itu, dan itu adalah sebuah kesalahan besar.

“Kenapa appa menjodohkan Jinwoo oppa?!”

“Untuk membuatmu tidak sakit hati, nak. Kau tidak boleh merasakan bagaimana sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, terlebih lagi cinta yang tak akan pernah bisa bersatu seperti ini.”

“Itu sudah menjadi keputusan appa, Wendy.”

“Aku menyukai Jinwoo oppa!”

“Appa paham, nak. Karena itu maafkan appa. Ini adalah keputusan terbaik yang bisa appa pikirkan agar kau tidak terluka.”

“Lupakan perasaanmu,Wendy. Kau akan appa kirim kembali ke Seoul. Dan juga kau akan bertunangan dengan anak dari teman appa.”

Wendy mengacaukan pesta pertunangan itu. Dia berontak, meski akhirnya dengan berat hati Wendy pun akhirnya terjebak dalam burung besi raksasa yang membawanya kembali ke negara asalnya; Korea Selatan. Tapi pemberontakan Wendy tidak cukup sampai disitu. Gadis itu kabur dari bandara, ia menghilang dari kejaran bodyguard suruhan sang ayah dan hidup bersembunyi Seoul.

“Dia tinggal di rumah atap. Nona Wendy seperti terlihat frustasi Tuan. Sepertinya kau perlu memberinya istirahat sejenak dan membiarkannya bersenang-senang seperti keinginannya. Mengalah mungkin menjadi pilihan terbaik sekarang ini.” Michael mengangguki ucapan Donghae, kepala bodyguard suruhannya di Seoul. Akhirnya dia mengirimkan satu bodyguard muda yang seumuran dengan putrinya itu—Moon Taeil—untuk menjaga Wendy.

“Saya suruhan ayah anda, Nona.”

Argh! Sialan!” dengkus Wendy marah.

“Ada telfon dari Tuan. Dia ingin kau yang mengangkatnya.” Dengan dongkol Wendy pun menerima ponsel yang disodorkan Taeil dan berbicara dengan ayahnya itu.

YeoboseyoAppa? Apa-apaan semua ini? Singkiran bodyguard ini dariku!”

“Lalu kau akan kembali ke apartemen yang sudah appa sediakan dan hidup seperti yang sudah appa perintahkan di Seoul?”

“Aku….tidak mau. Aku ingin bebas.” Suara Wendy pelan, hampir bergetar. Satu helaan nafas pun menjadi jawaban dari Michael untuk putrinya itu. Dia harus mengalah.

“Kalau kau tidak mau kembali ke apartemen yang sudah ku sediakan di Seoul tidak apa-apa. Tidur saja di tempat yang kau mau dengan syarat bodyguard itu selalu mengikutimu kemanapun. Aku sudah mencari pelindung terbaik yang seumuran denganmu sehingga kau bisa menggangapnya sebagai teman. Dan lagi, karena kau tetap bersekolah si SMA yang appa tentukan berarti kau satu sekolah dengan calon tunanganmu. Namanya Oh Sehun. Pacaranlah dengannya.”

APPA! Aku tidak mau. Enak saja sampai pacarku juga ditentukan olehmu. Biarkan aku mencari pasanganku sendiri. Kau kira aku tidak laku apa? Yang benar saja appa!”

Michael memutar matanya jengah. Pengalihan adalah hal terbaik untuk melupakan cinta lama. Perjodohan yang sudah dia atur, misalnya? Dia hanya ingin putrinya bahagia dan mendapatkan lelaki yang mencintainya sepenuh hati. Dan Oh Sehun menjadi kandidat besar karena Michael sendiri sudah mengenal Sehun secara pribadi dan juga ia berteman baik dengan ayah Sehun yang adalah salah satu koleganya.

“Kalau begitu coba cari pacar yang bisa ku akui. Tampan rupawan, pintar, berbudi baik dan patut dibanggakan. Satu lagi, dia harus bisa melindungimu dengan kemampuannya sendiri.”

Bukankah jenis pacar semacan itu tidak ada? Mana ada lelaki seperti yang baru saja Michael sebutkan sebagai syarat. Benar kan?

Arasseo. Kalau aku menemukan lelaki seperti itu, appa harus membatalkan pertunanganku dan mengusir bodyguard ini dariku.”

“Tentu saja. Asal lelaki itu benar-benar punya semua hal yang ku ingingkan.”

Michael tidak tau saja kalau memang ada lelaki yang memenuhi syarat yang ia sebutkan. Park Chanyeol, Putra Park Han Seol, ternyata bisa mencuri hati putrinya dengan mudah. Dan seperti ibunya, Wendy menemukan cinta yang ingin ia perjuangkan lebih daripada perasaan sekilas gadis itu pada oppa tirinya. Wendy sadar dia benar-benar menyukai Chanyeol, dan gadis itu memperjuangkan Chanyeol tanpa tau apa yang sebenarnya disembunyikan ayahnya selama ini.

“Dia tidak memenuhi syarat. Kau harus tetap bertungangan dengan Oh Sehun!”

Appa jahat!”

Dan untuk kesekian kalinya Michael menjadi sosok antogonis untuk sang putri. Michael hanya tidak ingin bergelung dalam kenangan lama yang menyakitkan. Dia tidak membenci Chanyeol atau pun Han Seol, dia hanya tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga yang membuatnya selalu merasa bersalah sekaligus membuatnya emosi karena selalu mengingat Ji Ah kala menatap Chanyeol yang seperti duplikat asli Park Han Seol ketika masih muda.

Terpaksa, Michael menghalalkan segala cara untuk memisahkan putrinya itu dengan Chanyeol. tidak peduli dia sudah membuat hatinya remuk tanpa sadar padahal dia hanya ingin melindungi putrinya dari rasa sakit hati sekaligus menyiksa dirinya sendiri karena membuat sang putri makin membencinya.

Harusnya Michael bicara saja dengan lantang. “Dia putra dari mantan kekasih ibumu yang membuat ibumu tidak mencintai ayahmu sendiri. Dia putra dari seorang yang membuat ibumu merasa kau adalah kesalahan terbesarnya karena lahir ke dunia padahal dia tidak mencintaiku dan dia juga alasan kenapa ibumu tidak pernah membiarkan aku pergi bersamanya untuk mendampingi putriku sendiri di acara sekolah dan membuat putrinya tersenyum bahagia karena punya keluarga lengkap yang harmonis. Dia alasannya sehingga aku tidak bisa menepati janjiku kepadamu, Wendy!”

Tapi Michael tidak bisa. Mana mungkin dia membuat Wendy makin terluka dengan kenyataan bahwa ibunya menganggap kelahirannya adalah sebuah kesalahan? Michael lebih memilih menutup rapat semua itu dan menjadi karakter jahat yang patut dibenci. Yang ada di pikirannya adalah menjauhkan Wendy dari Chanyeol agar putrinya itu tidak terluka semakin dalam.

Finalnya, sebuah kecelakaan yang menimpa Chanyeol di hari pertunangan Wendy dengan Sehun menjadi titik balik seluruh kisah sejak berpuluh tahun yang lalu itu.

“Dia sudah meninggal, Wendy.”

“Maafkan appa, nak. Ini yang terbaik untukmu maupun Chanyeol, juga kepada appa serta Han Seol. Kalian tidak akan pernah bisa bersatu, Wendy. Maafkan appa menjadi egois.”

Tangisan Wendy menjadi saksi bagaimana Michael menjadi jahat di mata putrinya sendiri. Dia berbohong, bohong yang membuat putrinya ingin mengakhiri hidupnya sendiri.

Lalu siapa yang salah? Son Michael yang ingin putrinya bahagia tanpa rasa luka, Wendy yang mencintai Chanyeol sepenuh hati, Chanyeol yang menetapkan Wendy sebagai pujaan hatinya, atau malah takdir yang dengan kejam mempermaikan kisah mereka? Cinta memang sesederhana jatuh ke dalam pesona, namun juga sesulit mempertahankan belati yang menancap di dalam luka.

.

.

.

“Kau mengidap tumor otak.”

Ah, apa ini karma? Kadang Michael berpikir seperti itu. Apa karena dia menjadi begitu jahat sehingga Tuhan memberinya ganjaran sebuah penyakit mematikan seperti ini?

Ditambah fakta bahwa putrinya masih menjadi sosok murung yang malas untuk sekedar menghirup udara pagi dan selalu malafalkan doa untuk mati tiap malamnya. Apa masih ada jalan agar Michael bisa pergi dengan tenang saat putrinya sudah menjadi gadis yang selalu tersenyum seperti dulu?

“Wendy, appa mengidap tumor otak. Jadi appa mohon, kau belajar dan kuliahlah dengan baik. Jangan murung dan jadilah gadis yang ceria agar appa bisa pergi dengan tenang ke dunia sana.”

Dan untuk pertama kalinya Michael melihat putrinya menangis karena dirinya. Hari itu Wendy memeluk appa-nya dan membisikkan sebuah kalimat yang menghangatkan hati Michael. “Jangan pergi appa. Wendy menyayangi appa, jadi jangan pergi dan meninggalkan Wendy sendirian.”

Perasaan memang serumit itu. Bukankah aneh ketika kau membenci seseorang tapi kau menyayanginya di saat yang bersamaan? Wendy membenci appa-nya, tapi gadis itu juga menyayangi sang ayah lebih dari apapun. Terlebih ketika Wendy tau satu dari rahasia kecil Michael bahwa sang ayah tidak menikah lagi demi kepentingan bisnis tapi murni agar dirinya memiliki sosok seorang ibu.

Hari itu Wendy ingin berubah. Selamat tinggal, Chanyeol. Mulai hari ini aku akan menjalani hidupku dengan baik.

.

.

.

“Perkembangannya cukup bagus.”

Michael menghela nafasnya lega. Dia sangat berharap bisa sembuh total dan melihat putrinya menjadi gadis sukses, menikah lalu mempunyai anak-anak yang lucu. Dia tidak ingin pergi menghadap Tuhan Yang Maha Esa dengan cepat.

“Terima kasih, Proffesor David.”

“Ah, tentu saja. Omong-omong, putrimu sekarang bersekolah di mana?” tanya Proffesor itu kemudian basa-basi sambil melihat layar monitornya. Proffesor David adah kepala rumah sakit John Hopkins dan sudah menjadi dokter pribadi Son Michael sejak beberapa tahun yang lalu.

“Dia lulus jurusan bisnis Harvard dan akan mulai kuliah minggu depan. Aku bahagia sekali. Jadi kau harus merawatku hingga sembuh agar aku bisa terus melihat putriku yang cantik itu.” jawab Michael sambil menerawang jauh kepada sosok Wendy yang tersenyum sumringah ketika mendapat e-mail bahwa ia lulus di Harvard beberapa hari yang lalu.

“Harvard? Kebetulan sekali. Ada beberapa mahasiswa kedokteran Harvard yang sedang mengunjungi John Hopkins sebagai tugas esai.” Lanjut Proffesor David sambil tersenyum lebar.

“Ah, benarkah? Sepertinya kau bahagia sekali David, apa ada yang menarik perhatianmu di antara dokter itu?” Proffesor David segera mengangguk menjawab pertanyaan dari Michael yang sudah seperti sahabatnya itu.

“Ada, dia keturunan Asia, ah dia orang Korea, sama sepertimu, Michael.”

“Benarkah?” kali ini Michael juga ikut antusias.

“Tentu. Dia sudah menjadi dokter di Korea dan sekarang sedang melanjutkan studinya di Harvard untuk mengambil gelar master. Namanya—”

Drtttt……

“—Ah, maaf, aku akan mengangkat telfon sebentar.” Ucap David sambil mengangkat gagang telfon di meja kerjanya yang lantas dijawab silahkan oleh Michael dengan senang hati.

“……”

Hm, Michael, kau tidak keberatan beberapa mahasiswa Harvard yang aku bicarakan barusan masuk ke ruangan ini kan? Mereka sepertinya perlu menanyakan beberapa pertanyaan dan melihat-lihat caraku bekerja sebagai Proffesor.”

Michael menatap David sebentar, lalu segera tersenyum lebar. “Tentu saja boleh.” Jawabnya dengan girang.

“Baiklah, biarkan mereka masuk.” Ucap Proffesor David kemudian mematikan panggilan telfon itu.

Tak berapa lama pintu ruangan diketuk dan David segera mempersilahkan masuk hingga sekitar sepuluh orang bertubuh tinggi khas Eropa-Amerika masuk ke dalam ruangan dengan jas dokter. David segera menyenggol bahu Michael sambil menunjuk ke arah seorang mahasiswa bertubuh tinggi yang masuk ruangan terakhir kali dan sekarang sedang menutup pintu coklat ruangannya itu.

Mata Michael segera melebar. Lelaki yang dimaksud David punya penampilan yang jauh berbeda dari kesembilan mahasiswa berparas Eropa-Amerika yang lainnya. Lelaki itu punya mata coklat dan kulit putih, serta wajah Asia yang khas dengan rambut berwarna hitam pekat dibalik tubuh tingginya yang menjulang seperti kebanyakan kaum Eropa. Sialnya, ketika mata Michael beradu pandang dengan mata pemuda berawajah Asia itu pun, si lelaki Asia juga memasang tampang sama kagetnya.

“Namanya Peter Park,” bisik David sambil tersenyum kecil kepada Michael yang kini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Chanyeol? batinnya di dalam hati karena lelaki bernama Peter Park itu adalah sosok yang beberapa tahun lalu terbaring di ranjang rumah sakit karena kecelakaan di hari pertunangan putrinya.

.

.

.

Dua buah cangkir berisi kopi panas yang asapnya masih mengepul menjadi saksi pertemuan kedua orang itu. Di sebuah café bernuansa elegan dan interior serba berwarna putih, Michael nampak duduk bersama dengan Chanyeol di sebuah meja di sudut ruangan . Tidak ada bodyguard atau siapapun di dalam café, hanya mereka berdua.

“Kupikir kau mungkin menyewa café ini karena hanya ada kita berdua di sini.” Chanyeol membuka konversasi setelah sekian lama mereka berdua sama sekali belum membuka mulut dan hanya saling menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.

Michael sedikit berdehem, lalu menganguk sebagai jawaban. “Ya, aku memang menyewanya untuk kita berdua.” Satu gumamaman oh panjang nampak terhela dari bibir Chanyeol. “Sudah kuduga,” kata Chanyeol dengan kikuk.

Hening kembali mengisi ruangan itu. Baik Chanyeol maupun Michael sama-sama saling membungkam mulut untuk kesekian kalinya.

“Bagaimana kabarmu?” Chanyeol sedikit terkejut ketika mendapat pertanyaan semacam itu dari sosok di depannya. Meskipun hanya sekedar berbasa-basi, Chanyeol nampak begitu kaget.

“Aku…baik-baik saja.” jawabnya akhirnya sambil meneguk kopi panasnya dengan cepat. “Lalu, bagaimana dengan anda, Tuan Son? Bagaimana kabar anda?” balas tanya Chanyeol begitu formal yang mendapat sebuah senyum simpul bernuansa tipis yang tidak bisa Chanyeol artikan.

“Aku tidak baik-baik saja.” dan finalnya, kalimat itu meluncur dari bibir Michael dengan getir.

Chanyeol tidak bisa merespon dengan baik. Apa yang selanjutnya harus ia katakan? Mengatakan ‘kenapa?’ semacam itu? Atau malah mengumpat balik ‘kau pantas tidak baik-baik saja setelah semua kebohonganmu selama ini’ begitu?

“Aku tau kau membenciku. Bukankah harusnya kau senang aku tidak baik-baik saja?” Chanyeol terhenyak. Dia terdiam sebentar sebelum akhirnya menggeleng. “Bagaimana bisa kau menilaiku seperti itu padahal kau tidak mengenalku dengan baik, Tuan Son?” balasnya sedikit kesal. Ya, bagaimanapun bencinya dia kepada Son Michael, dia tidak akan pernah benar-benar membenci pria tua itu. Bagaimana dia bisa membenci jika pria tua itu adalah ayah dari gadis yang ia cintai? Membencinya sama saja dengan membuat sebuah kebodohan besar yang nantinya pasti akan Chanyeol sesali.

“Kau persis seperti Han Seol ketika masih muda.”

“Tentu saja. Aku ini putranya, ingat? Dan ku dengar ibuku tidak punya hubungan apa pun dengan Tuan Son ketika kuliah karena dia sendiri tidak mengenalmu. Apa itu benar, Tuan?” balas Chanyeol sengit, sedikit menyindir masa lalu mereka beberapa tahun yang lalu.

“Aku berbohong padamu. Maaf. Pasti appa-mu sudah menjelaskan semuanya kan?” Chanyeol mengangguk pelan. “Untuk itu kau pantas membenciku.” Lanjut Michael lagi dengan getir.

Lama hening kembali menghampiri kedua pria itu. Tak ada yang bersuara kecuali Michael yang meraih cangkirnya dan meminum cairan pekat yang ada di dalam sana karena gugup.

“Chanyeol…ah, apa sekarang aku harus memanggilmu Dokter Peter?” kata Michael kemudian kembali berusaha membuka percakapan.

“Proffesor David pasti mengatakan yang tidak-tidak padamu.” Kekeh Chanyeol sementara Michael menggeleng. “Dia sangat memujimu. Katanya dia ingin menjadikanmu asisten pribadinya saat kau lulus, dan dia dengan senang hati memberikan undangan bekerja di John Hopkins.” Elak Michael dengan cepat.

“Aku tidak kaget. Proffesor David memang sudah mengatakannya sebelumnya.” Lanjut Chanyeol dengan tenang. “Harvard dan John Hopkins sudah seperti naik kelas, tidak ada yang spesial dengan itu.” tambah Chanyeol merendah.

“Omong-omong Harvard—” Michael menggantung kalimatnya. Satu helaan nafas keluar bersama dengan kalimat setelahnya. “Wendy juga sekarang sedang kuliah di Harvard, jurusan bisnis.”

Michael memandang Chanyeol yang memasang raut kaku itu. Dengan kikuk si lelaki memegang tengkuknya sambil tersenyum tipis. “Ah, benarkah? Aku tidak tau kalau kami satu kampus,” ucapnya gugup.

Michael menghela nafasnya panjang tak lama setelah mendengar jawaban Chanyeol. Perlahan tanpa pernah Chanyeol duga, Michael meraih tangan Chanyeol dan menggengam jemari kekar pemuda itu di atas meja dengan jari-jari tuanya.

“Aku tau ini sudah sangat lama sekali. Tapi entahlah, aku rasa kau memang yang paling tepat untuk itu.” Chanyeol memandang Michael dengan raut bingung.

“Ini pertanyaan yang tidak pantas dan tidak tau diri, tapi Chanyeol, maukah kau menjawab jujur pertanyaanku ini?” Jantung Chanyeol mendadak berdegup dengan sangat kencang sembari ia mengangguk tanda setuju.

“Apa kau masih mencintai putriku?”

Dan bagai ditarik kembali ke masa lalu, Chanyeol terasa terhempas ke dalam jurang dalam yang begitu gelap. Rasa sakit itu kembali hinggap dan mulai menggerogoti luka lama yang tak pernah hilang dari memori.

[ to be continue ]

.

.

catatan : ff rooftop romance sudah tamat, tapi ceritanya belum di post di exoffi ini karena bakal eki post bertahap satu chapter per minggu. kalau penasaran sama kelanjutannya dan gak tahan minggu depan buat liat rooftop romance majang di exoffi lagi, boleh di cek akun wattpad shaekiran ( @mischievouseki ). warning, private mode, jadi follow dulu baru baca, hehe. warning (2) bonus chapter cuma bakal di post di wattpad, di exoffi hanya sampai chapter ending dan epilog. terima kasih.

14 tanggapan untuk “Rooftop Romance (Chapter 34) – Shaekiran”

  1. akhirnyaa up juga, bukannya yg ngebiayain sekolah nya chanyeol sampe dia kuliah itu son michael y?? lupa. di wattpad udh tamat y? aku baru download wattpad n blom ngerti cara pake nya , tapi aku bakal belajar. kak eki semangat trussssss!!!!!

  2. Ya ampun ka ekiiiiiii finally update jugaaa aku ampe shock pas cek email ada update rooftop romance, and one more thing baru aku mau nanyain akun wattpad kaka eh udah ada, otw wattpad!!!!

  3. Aaahhh kakak akhirnya kambek jugaa,, aku nungguin ni ff berbulan bulan /lebay😂😂

    Oke deh kak aku otw buka wattpad😂😂, oiya kak ff gotta Be You lanjutin ya kak😂,, aku penasaran banget ya Allah😭😭. Tetep semangat kak ekii 😘❤❤❤❤❤❤

  4. Ekiiiiiii,sumpah ini udah ditunggu berbulan bulan,bakal paniang nih komentnya.
    First,akhirnya rooftop romance balik.
    Kedua,masa lalu oh masa lalu.
    Ketiga,akhirnya kebongkar juga.
    Keempat,pengen tahu apa perjanjian sih ceye sama sih om michael.
    Kelima,sebelum baca udah deg-degan duluan.
    Keenam,kenapa sih tbc pake muncul.
    Ketuju,please bukan maksa nih upload cepat ya ending nya…
    Gighting Eki

  5. Yaaaa sumpaaah thor aku ngguin ff ini update dr jman bru nikah ama sehun ampe skrg kmi ber.2 pnya 4anak. (Kmudian dibalang pke teflon) aaa senangnyaaa akhirnya update jugaaa. Pngen sih follow akun wattpad nya author shaekiran tpii syang aku gapunya wattpad heuu… dtggu ya thor next chapter. :-*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s