One and Only – Slice #21 — IRISH’s Tale

   ONE and ONLY  

  EXO`s Baekhyun & Red Velvet`s Yeri 

   with EXO, NCT & TWICE Members  

  dystopia, fantasy, friendship, slice of life, romance, science-fiction story rated by T served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


Mencintaimu? Ya, aku mencintaimu. Walaupun kita berbeda.


Reading list:

〉〉  Prologue | Chapter 1 — Chapter 5 | Chapter 6 — Chapter 10 | Chapter 11 — Chapter 15 | Chapter 16Chapter 17Chapter 18 — Chapter 19  — Chapter 20 〈〈

  Spin Off: 12 — 3 — 4

  #21  

██║│█║║▌ One and Only: Previous Chapter │█║║▌║██

In Baekhyun’s Eyes…

“Pada akhirnya kau juga akan mati menyedihkan seperti keluargamu bukan, Yerim sayang?”

Ah, benar, dia pasti Humanoid wanita yang pernah Yeri ceritakan menjadi alasannya dibuang oleh keluarganya. Dia adalah mimpi buruk bagi Yeri, dia adalah alasan Yeri selalu ketakutan setiap kali mengingat Humanoid.

Dia… tengah berusaha membunuh Yeri. Itu artinya, Humanoid wanita itu… harus kubunuh.

Siapapun yang telah menyakiti gadisku, harus mati.

██║│█║║▌ One and Only │█║║▌║██
Chapter 21

In Yeri’s Eyes…

“Jangan menjauh dariku!”

Kudengar Ten berteriak begitu lengannya mencekal lenganku juga lengan Tzuyu. Kami sekarang tengah berusaha bersembunyi dari intaian Humanoid yang menyerang bersama dengan Yuta. Aku tidak menemukan keberadaan Suho dan Sana, tapi di depan sana, Baekhyun dan Johnny tengah bertarung.

Erangan kesakitan yang keluar dari bibir Baekhyun sekarang membuatku mengkhawatirkannya, begitu takut dia akan terbangun sebagai seorang Humanoid yang kejam, penjelasan Johnny mengenai apa yang mungkin terjadi pada Baekhyun setelah chip itu dilepaskan amatlah mengerikan dalam benakku.

Tapi aku tidak boleh menuduh Baekhyun seperti itu. Dia sudah melindungiku sampai sejauh ini, membuatku merasakan perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, dan aku tidak boleh begitu saja menyalahkan maupun membencinya jika dia benar-benar berubah menjadi seorang Humanoid mengerikan.

SRASH!

“Yeri! Jangan lengah!”

Teriakan Ten menyadarkanku, dia baru saja melemparkan sebuah serangan untuk menghempaskan kepingan logam yang beberapa saat lalu hendak mengenaiku. Sekarang, Tzuyu malah menatapku khawatir. Apa aku terlalu lama membuang waktu dengan melamun?

“Tzuyu, pegangan padaku kuat-kuat, dan Yeri jangan lepaskan peganganmu pada Tzuyu.” Ten berkata, di hadapannya sekarang berdiri seorang Humanoid muda yang menatap Ten seolah apa yang Ten lakukan sekarang sangatlah konyol, melindungi manusia—terlebih, Outsiders.

“Ini konyol, aku tidak menyangka kalau aku harus melawan seorang Voice 07 demi melenyapkan dua manusia.” kata Humanoid muda itu.

“Wah, kau pasti tahu begitu banyak tentang Sentry dan Negara Tunggal, melihat bagaimana kau mengenaliku dengan baik.” ucap Ten, mengingatkanku pada fakta bahwa keberadaan Voice 07 yang begitu langka membuat tidak semua orang tahu tentang keberadaan mereka.

Dan sekarang Humanoid di depan kami bicara dengan penuh percaya diri, seolah dia telah mengenal Ten lebih baik daripada Ten sendiri.

“Namaku Jaemin, omong-omong. Senang berkenalan denganmu, tapi sayang sekali perkenalan kita tidak akan berkembang menjadi pertemanan.” Humanoid itu lagi-lagi berkata, sebelum dia memberikan serangan elektromagnet pada Ten.

Ugh, sial!” Ten mengumpat, tapi dia lantas melepaskan serangan juga untuk menghindari serangan Jaemin.

Bisa kuketahui, Ten tidak benar-benar serius soal ucapannya mengenai dia yang tidak akan melindungiku juga Tzuyu, meski sekarang tindakannya berkesan seolah dia tengah berusaha melindungi diri sendiri, aku tahu Ten berniat untuk melindungi kami.

“Oh, Yerim!”

Hampir saja jantungku berhenti bekerja saat kudengar suara familiar itu masuk ke dalam pendengaranku dengan begitu lantang dan mengerikan. Lututku segera gemetar begitu kudapati sosok sempurna yang paling kutakuti sekarang berdiri tidak jauh di belakangku, menatap dengan sebuah senyum ramah yang mematikan.

“Apa kabar? Lama tidak bertemu, ya?” ucapnya sembari melangkah mendekatiku, Ten sendiri disibukkan dengan serangan Jaemin sehingga dia tidak sadar pada kedatangan Humanoid lain di belakang kami sekarang.

Aku sendiri terlalu ketakutan, sampai membuka mulutku untuk memperingati Ten saja aku tidak sanggup. Yang ada, aku justru terjatuh ke tanah, terseok berusaha menjauhi sosok yang sekarang malah memilih untuk mendekatiku ketimbang menyerang Ten seperti yang Jaemin lakukan.

“Kau sudah begitu dewasa, aku hampir saja tidak mengenalimu.” ucapnya, sekarang dia berdiri di hadapanku, masih dengan memasnag senyum yang sama dia mengulurkan tangan padaku, seolah ia hendak membantu padahal aku tahu benar dia ingin membunuhku.

“Tidak kusangka, kau ternyata masih hidup. Ayo, berdirilah, aku tidak mau membunuhmu saat kau bahkan tidak siap untuk berlari dariku.” perkataannya segera melemparkanku pada ingatan mengerikan tentang apa yang telah dia lakukan pada keluargaku.

Dia telah merenggut kebahagiaanku, kehidupanku, dia yang telah membuatku menjadi buruan di tiap malam, dia juga yang sudah menjadi mimpi burukku selama bertahun-tahun, menjadi ketakutanku.

“Irene…” bibirku bahkan bergetar ketakutan saat menyebut namanya. Sementara dia sendiri sekarang menatapku dengan alis terangkat.

“Apa kau sedang mencoba menyapaku? Dengan cara tidak ramah begini? Wah, kau ternyata tidak berubah, masih juga jadi gadis kurang ajar. Pantas saja, Ayahmu lebih memilihku ketimbang anak perempuan sepertimu.

“Oh, kau tidak mau bertanya padaku tentang kabar Ayahmu? Pria tua itu sudah mati tahun lalu, bunuh diri karena depresi. Dan aku sudah berbaik hati membiarkannya mati ketimbang menghidupkannya kembali.

“Tidakkah kau senang? Sekarang semua keluargamu sudah berkumpul di tempat yang kalian sebut sebagai neraka. Daripada bertahan hidup sendirian, bukankah lebih baik kalau kau ikut mati bersama mereka juga?”

Ayah sudah mati, benar atau tidak perkataan Irene sekarang, tapi dia sudah membiarkan Ayahku mati. Depresi yang dikatakannya sebagai alasan Ayah bunuh diri, kuyakini jadi alasan janggal yang sama dengan alasan keluargaku mati.

“Apa kau… ingin menyalahkanku lagi atas kematian Ayah? Kau ingin menjadikanku tersangka pembunuhan lagi?” ucapanku sekarang membuat Irene menelan senyumnya, dengan ekspresi dingin dia lantas tertawa meledekku.

“Jadi kau sudah tahu? Kalau aku yang membunuh ibu dan adik-adikmu?”

Hatiku mencelos mendengar ucapannya. Kabut bening bahkan mulai menutupi pandanganku saat kurasakan sesuatu yang menyakitkan menyengat tubuhku.

“Lepaskan!” dengan suara bergetar aku berkata pada Irene, kusadari kekuatannya lah yang telah membuatku merasa tersengat.

Aku bahkan mulai kesulitan bernafas, sengatan itu terasa begitu menyakitkan di leherku, dan tubuhku tak lagi terduduk dengan menyedihkan di tanah, melainkan mengambang di udara.

Entah apa yang sedang Irene coba lakukan, tapi aku tahu tujuannya adalah untuk membunuhku.

“Kau lihat? Dengan cara seperti ini, aku menggantung adik-adikmu.” ucapan Irene makin menyakitiku, bukannya sengatan listrik dari kekuatannya yang membuatku merasa sakit, tapi perkataannya.

Ingatanku tentang bagaimana keadaan adik-adikku juga ibu yang hari itu kutemukan tak lagi bernyawa sementara aku harus menerima vonis bersalah sebagai seorang pembunuh adalah memori yang tidak pernah bisa aku lupakan.

Dan kemunculan Irene di tempat ini malah menciptakan luka baru di atas luka lamaku yang masih menganga. Apa dia sekarang mencoba membunuhku dengan cara yang sama seperti caranya membunuh keluargaku? Apa dia juga membunuh Ayahku?

Aku tidak lagi peduli. Aku sudah pernah mati, lagipula. Dan apa sakitnya mengalami kematian lagi untuk ke sekian kalinya? Rasanya tak akan berbeda dari sebelumnya. Lagipula, untuk apa aku ada di dunia ini jika keluargaku tak lagi ada? Aku sudah tidak punya tujuan, Ayah yang ingin kutemui tak lagi hidup, bertahan untuk hidup bagiku sama saja dengan membiarkan mimpi buruk itu terus memburu.

Lebih baik mati saja… daripada hidup berselimut mimpi buruk.

Toh, tidak ada lagi yang akan peduli pada—tidak. Aku tidak boleh mati.

“Baekhyun!”

Nama itu berhasil lolos dari bibirku begitu aku teringat pada keinginan dan harapanku atas kehidupan yang tidak lagi berpihak padaku. Baekhyun… dia lah tujuanku bertahan hidup sekarang, karena keberadaannya.

“Tolong!”

Kuteriakkan kata itu begitu tatapan Baekhyun bersarang padaku dan Irene. Meski aku mulai kesulitan bernafas, aku tak boleh menyerah dan membiarkan Irene menang, aku tidak boleh membiarkannya bersenang-senang di atas penderitaanku lagi.

“Irene!”

Aku lagi-lagi berteriak, berharap Baekhyun akan ingat pada sosok yang pernah kuceritakan padanya ini. Berharap Baekhyun tidak akan berubah meski chip yang Johnny bicarakan itu telah terlepas dari tubuhnya.

“Baekhyun! Tolong aku!”

Kupejamkan mata begitu jeratan di leherku semakin menyakitkan. Sungguh, untuk menarik dan mengembuskan nafas saja rasanya sudah begitu sulit.

“Tidak! Yeri!”

Tanpa sadar, ada perasaan bahagia yang melingkupi perasaanku begitu kudengar suara Baekhyun, meski hanya samar-samar dalam pendengaranku sekarang.

“Pada akhirnya kau juga akan mati menyedihkan seperti keluargamu bukan, Yerim sayang?”

Tidak, tidak sekarang. Aku tidak ingin mati sekarang… kumohon, Baekhyun selamatkan aku.

SRASH!

Argh!”

BRUGK!

Ugh!”

Teriakan Irene dan erangan kesakitanku jadi hal berikutnya yang kudengar setelah runguku menangkap suara percikan api, dan tubuhku kemudian terjatuh dengan menyedihkan ke tanah.

Jelas, suara kemeretak patah lainnya kudengar di dalam tubuhku, berangsur-angsur diikuti dengan kesakitan lain yang menusuk di pinggul dan dadaku.

“Jangan menyentuhnya.” suara Baekhyun, kukenali suaranya meski sekarang mataku terpejam dan membiarkan rasa sakit mendominasi tubuhku setelah beberapa waktu rasa sakit itu enggan untuk singgah.

Apa aku akan mati lagi?

“Wah, wah. Lihat siapa yang sekarang berusaha melindungimu, Yerim. Dia bahkan bukan Humanoid-mu, bagaimana kau bisa menaklukkannya?” kali ini suara Irene.

“Musuhmu adalah aku, Irene.”

Aku tidak bisa berdiam, aku tidak bisa terpejam pasrah seperti ini. Jadi, kupaksakan mataku untuk membuka dan melihat apa yang sekarang terjadi. Pemandangan yang pertama kali menyambutku adalah Jaemin yang terhempas tidak jauh dariku, berteriak kesakitan sementara Ten sekarang mencengkramnya dengan belitan api berwarna biru.

Aku kemudian mengedarkan pandang, dan kutemukan Johnny tengah berusaha melawan Yuta juga seorang Humanoid laki-laki lainnya. Satu Humanoid lain tergeletak tidak jauh dari Johnny dengan tubuh rusak dan membuka, membuatku bisa melihat struktur logam dan otot tiruan manusia yang ada di dalam tubuhnya.

BRUGK!

Argh!” teriakan Irene lagi-lagi merebut atensiku, sekarang dia terkurung di sebuah pohon, dengan energi listrik yang membelit tubuhnya berasal dari Baekhyun.

“Aku ingat benar tentangmu, Irene. Dan listrik yang sekarang membelit tubuhmu sudah memberiku akses untuk mengacak-acak memorimu. Rupanya, kau adalah seorang Humanoid modifikasi yang punya kuasa untuk membunuh manusia.”

Jadi… Irene memang benar-benar membunuh keluargaku? Ucapan Baekhyun sekarang seolah menjadi titik terang dari pertanyaanku selama bertahun-tahun. Melihat Irene sekarang terkurung dengan raut kesakitan seperti ini, mengapa justru membuatku merasa kasihan padanya?

Apa aku sudah gila? Apa aku bahkan tidak bisa membenci Irene meski aku tahu dia telah membunuh keluargaku, dan tadi berusaha untuk membunuhku?

Apa yang salah denganku?

“Mengapa kau melindunginya? Dia bahkan bukan manusia yang pantas untuk dilindungi!” Irene berteriak marah, kedua tangannya yang masih terbebas sekarang berusaha menyerang Baekhyun dengan bilah pisau yang entah bagaimana, bisa keluar dari celah-celah jemarinya.

Tapi serangan itu tidaklah mengusik Baekhyun, sebab begitu bilah pisau itu mendekati tubuh Baekhyun, mereka semua berbalik menyerang Irene dan menancap di permukaan kulit pucatnya.

Meski Irene tidak mengerang kesakitan karena tusukan bilah pisau tersebut, tapi dia setidaknya menggeram marah.

“Mengapa kau melindunginya!? Mengapa kalian berusaha keras melindungi manusia!?” Irene kini berteriak dengan suara lebih lantang. Teriakannya, bahkan berhasil menghentikan Johnny dari aktifitasnya menyudutkan Yuta dan satu Humanoid lain, juga berhasil membuat Ten mengalihkan perhatiannya dari Jaemin yang masih kesakitan.

“Karena Humanoid diprogram untuk melindungi manusia. Mengapa kau terus menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah begitu jelas?” Baekhyun berkata, sekon kemudian sebuah senyum muncul di wajah Johnny, sebelum dia melanjutkan serangannya pada Yuta dan Humanoid lain itu.

Sementara Ten sendiri tidak berekspresi, ucapan Baekhyun pasti tidak juga terdengar benar dalam pendengarannya, tapi tidak juga ingin dia bantah karena tujuan diciptakannya Humanoid memang benar seperti yang Baekhyun katakan: melindungi manusia.

“Lucu sekali! Tidakkah kau sadar potensi kita? Kita bisa hidup bebas tanpa harus diperbudak oleh manusia! Mengapa kau malah memilih melindungi mereka daripada hidup terbebas dari perbudakan yang telah manusia lakukan pada kita?” masih tidak ingin menerima argumen Baekhyun, Irene lagi-lagi berucap.

Kali ini, tawa dari Johnny terdengar. Dia tidak lagi disibukkan oleh dua Humanoid itu, karena keduanya sekarang sudah tergeletak dengan keadaan hampir sama seperti Humanoid yang tadi kulihat.

Dua lawan Johnny memang masih bergerak, tapi tubuh mereka terkoyak. Dan Johnny pasti tahu benar tujuan dari serangannya, mencegah lawannya untuk bertindak, tanpa harus membunuh mereka.

Karena bagaimanapun, mereka adalah bangsa Johnny juga. Dan Johnny pasti tidak mau membunuh bangsanya.

“Biar aku jelaskan, Nona, karena sepertinya kau tidak lagi ingat pada apa yang dulu membuat kita tercipta. Manusia. Mereka yang sudah menciptakan kita, membuat kita bisa hidup dan berpikir bebas juga memiliki kekuatan seperti ini.

“Meski tujuan mereka menciptakan kita adalah menjadikan kita ‘budak’ seperti yang kau katakan. Apa itu kemudian bisa jadi alasan bagi kita untuk membunuh mereka? Tidak, bukan? Mereka bahkan tak bisa melukai kita, Nona. Manusia adalah makhluk lemah yang bergantung pada kita.

“Untuk apa repot-repot berusaha membunuh mereka kalau pada akhirnya semua manusia juga akan mati? Kalau kau memang membenci Ownermu karena mereka keji, mudah saja, jangan hidupkan mereka lagi ketika mereka mati.

“Tapi, kau tidak punya hak atas kehidupan manusia lain. Kau juga tidak berhak menentukan kematian mereka. Humaoid, bukannya diciptakan sebagai budak manusia, melainkan menjadi pendamping mereka dikala manusia lain tidak lagi bisa jadi pendamping yang sempurna bagi mereka.”

Penuturan Johnny sekarang malah membuat Irene mendengus marah.

“Kalau begitu, mengapa kau membunuh bangsa kita demi melindungi mereka? Apa menurutmu, bangsa kita yang menyakiti manusia itu tidak layak untuk hidup? Lalu apa bedanya kau dengan manusia keji yang kau bicarakan?” tanya Irene, menatap ke arah tubuh-tubuh tidak berdaya kelompok penyerangannya.

“Aku tidak membunuh mereka, aku hanya merusak mereka secara fisik dan aku tahu benar, dalam waktu empat puluh lima menit mereka bisa mereparasi diri mereka sendiri. Sekarang, biar aku yang bertanya padamu. Apa tujuanmu membunuh mereka?

“Mengapa kau menyerang kami membabi-buta seperti ini? Dan apa tujuannya kau membiarkan rekan satu timmu ini—” Johnny berhenti sejenak, jemarinya kemudian bergerak menunjuk Yuta, demi Tuhan, aku yakin benar Johnny hanya menunjuk ke arah Yuta, tapi Yuta justru mengerang kesakitan karena ulahnya. “—melakukan perjalanan bersama kami? Dia bahkan berulang kali berusaha membunuh gadis yang tadi juga berusaha kau bunuh. Apa sebenarnya tujuan kalian?

“Gadis itu, Kim Yeri atau Kim Yerim yang kau kenal… siapa sebenarnya dia sampai kalian berusaha untuk membunuhnya seperti ini?” pertanyaan Johnny mengejutkanku, mengapa aku tak pernah memikirkan pertanyaan Johnny sekarang?

Alasan Ten membenciku dibandingkan dengan manusia lain yang ada dalam perjalanan kami, alasan Wendy begitu membenciku, alasan Yuta menatapku tak senang, dan alasan Irene berusaha membunuhku… semuanya begitu tidak bisa kumengerti.

“Lepaskan dia Baekhyun, aku bisa mengikatnya dengan plasmaku selagi kita menunggunya bicara. Kau bisa mengurus Yeri, setidaknya dua atau tiga rusuknya patah karena terjatuh, dan otot pinggulnya juga cedera.” Johnny berkata, rupanya dia menyadari kalau ikatan listrik yang Baekhyun ciptakan perlahan-lahan merusak kinerja Irene, dan mungkin Johnny khawatir Irene tak akan bisa menjawab pertanyaan mereka.

Dia bahkan menyadari luka di tubuhku tanpa melakukan scanning yang kentara.

“Baiklah, tapi sudah kupasang sebuah perusak chip padanya. Hanya memastikan kalau dia akan mati sementara kalau tidak menjawab pertanyaan kita.” Baekhyun berkata, dia kemudian melepaskan Irene, membiarkan Johnny berkuasa atas tubuh mungil Irene sementara tatapan Baekhyun sekarang beralih padaku.

“Selagi rekanku menyembuhkan sasaran pembunuhanmu, kau bisa mulai bercerita padaku. Rekan-rekanmu juga akan punya kesempatan untuk membenahi diri dan kelakuan mereka selagi kita bercengkrama.” dengan ramah Johnny memulai pembicaraan, sementara dia duduk dengan santai di tanah, dia biarkan Irene terikat plasmanya di sebuah pohon besar.

“Kau pikir aku akan bicara dengan semudah itu padamu?” kata Irene, dia lantas menyunggingkan sebuah senyum sarkatis. “Lebih baik mati sementara daripada membiarkan kalian semua tahu—”

“—Nuclear Cells*.” Ten tiba-tiba saja memotong.

“Apa?” Johnny menatap tidak mengerti.

“Tidak! Jangan katakan apapun!” Irene berteriak memperingatkan Ten. Tapi Ten sekarang memasang ekspresi tidak peduli.

“Aku ada di pihak mereka, daripada membiarkanku membeberkan semua yang ada dalam benakmu juga benak rekan-rekanmu, tidakkah lebih baik kau saja yang menceritakan apa yang perlu mereka ketahui?” kata Ten, bisa kutebak dia sudah bisa mengakses semua yang ada dalam benak Irene maupun Humanoid lain yang menyerang kami.

“Kau baik-baik saja?” sejenak atensiku beralih pada Baekhyun yang sekarang telah berdiri di hadapanku. Diam-diam benakku bertanya, apa dia masih jadi Baekhyun yang kukenal?

“Yeri?” pertanyaan Baekhyun lagi-lagi menyadarkanku.

“Ya…” ucapku membuat Baekhyun terdiam sejenak.

“Jangan berbohong, kau sedang kesakitan.” ucapnya, tidak kulihat ekspresi ramah yang biasa Baekhyun pasang di wajahnya ketika berhadapan denganku, tapi setidaknya dia memedulikan keadaanku.

“Tahan sedikit, aku akan menyembuhkanmu. Aku tidak punya persediaan anestesi yang cukup, jadi mungkin akan terasa sedikit sakit.” ucapnya segera kujawab dengan anggukan pelan.

Selagi membiarkan Baekhyun menusuk pelan permukaan kulitku dengan serat-serat halus yang keluar dari bawah kulitnya, aku lagi-lagi memasang atensiku pada Irene yang sekarang mulai tampak menyerah.

“Gadis itu, sudah pernah mati, saat usianya masih belia. Tidak, lebih tepatnya, Ownerku yang tidak lain adalah Ayahnya, membunuh keluarganya dan membiarkan mereka mati selama beberapa hari.

“Dia kemudian melakukan penelitian, dan rupanya, dia salah satu manusia yang sadar tentang Nuclear Cells yang bisa menonaktifkan kita secara permanen. Kau, dan Humanoid itu, kalian berdua adalah Humanoid generasi pertama yang tidak dilengkapi dengan sensor terhadap keberadaan Nuclear Cells di dalam tubuh manusia.

“Tapi aku dan yang lainnya punya. Dan saat itu, Ownerku, menanamkan Nuclear Cells di dalam tubuh anggota keluarganya. Dalam jangkauan radiasi yang cukup besar, Nuclear Cells itu akan bereaksi dan meledak dari dalam tubuh inang yang dia tempati, dan menonaktifkan secara permanen seluruh Humanoid yang ada dalam radius seratus kilometer.”

Irene terhenti sejenak. Pandangan penuh kebencian dia lemparkan padaku sebelum dia kembali buka suara.

“Bagaimana bisa aku menerima itu? Tubuh inang dari Nuclear Cells itu tak akan mengalami apa-apa setelah mereka membunuh puluhan bangsa kita di sekitar mereka. Dan sudah jelas, semua itu adalah bagian dari rencana manusia untuk menaklukkan kita. Mereka bukannya tidak tahu kalau Nuclear Cells bisa membunuh kita, benar-benar membunuh, tapi mereka menunggu saat yang tepat. Jadi, mereka tanamkan Nuclear Cells itu pada tubuh-tubuh manusia setidaknya dua puluh manusia dalam tiap sektor.

“Dan ketika mereka rasa kita tidak lagi hendak mereka perbudak, gelombang radiasi dalam jumlah besar akan mereka lemparkan dari Satelit Geology II, III dan IV yang ada di atas lapisan atmosfer, kemudian manusia-manusia yang telah memiliki Nuclear Cells dalam tubuh mereka, akan tewas mengenaskan karena ledakan Nuclear Cells tersebut layaknya manusia yang melakukan bom bunuh diri.

“Kemudian diikuti dengan kehancuran Humanoid di sekitarnya. Bukannya aku tak pernah mencoba menghentikan apa yang mereka lakukan, tapi keluarga gadis ini sudah jadi kelinci percobaanku.

“Terpaksa, kubunuh mereka semua karena Nuclear Cells itu tak bisa dikeluarkan dengan prosedur pembedahan apapun yang tidak beresiko. Satu-satunya jalan adalah dengan membunuh mereka, membiarkan otak mereka tidak mendapat asupan oksigen selama dua kali dua puluh empat jam, sebelum akhirnya Nuclear Cells itu akan nonaktif dengan sendirinya.

“Tapi kalian juga tahu sendiri, apa yang akan terjadi pada manusia jika mereka mati selama dua hari penuh. Kecacatan permanen akan terjadi pada tubuh mereka bahkan jika kita menghidupkan mereka lagi. Jadi, kematian adalah jalan terbaik.”

Irene menghentikan penjelasannya, sekarang dia menatapku, tidak dengan kebencian yang sarat dalam pandangannya, melainkan kekecewaan. Sekon itu juga aku sadar, kalau dia tidak membenciku hanya karena aku manusia, tapi karena di dalam tubuhku… terdapat benda yang bisa membunuhnya, membunuh bangsanya.

“Kalian tahu benar, membawa gadis itu ke pusat Negara Tunggal hanya akan membuat kita semua terbunuh. Ada gelombang radiasi cukup besar di sana, jika kalian memaksa untuk membawanya, itu artinya kalian ingin bunuh diri.

“Ayahmu, Yerim, bukannya bunuh diri karena sekedar depresi saja. Tapi karena dia mendapatkan informasi dariku tentang keberadaanmu dan keadaanmu yang masih hidup. Rupanya, pria tua itu sudah sadar bahwa tindakannya menanamkan Nuclear Cells di dalam tubuhmu adalah sebuah kesalahan.

“Kau, adalah buruan dan sasaran pembunuhan bagi setiap Humanoid yang menyadari keberadaan Nuclear Cells dalam tubuhmu. Kau mungkin merasa aman karena bersama dengan Humanoid generasi pertama yang tidak menyadari itu. Dulu, Ayahmu meninggalkanmu juga keluargamu yang lain dengan santai, karena dia pikir tak akan ada Humanoid yang mendekati kalian sebab mereka semua sudah tahu tentang Nuclear Cells tersebut.

“Tapi kau adalah bagian dari ancaman kepunahan kami. Semakin lama kau dan manusia dengan Nuclear Cells lainnya dibiarkan hidup… kami akan semakin hidup dalam ancaman. Dan tak akan ada Humanoid di muka bumi ini yang menginginkan hal itu terjadi. Seperti kalian, manusia, yang menginginkan kehidupan, kami juga menginginkannya.”

Irene, bukannya ingin menyudutkanku, tapi dia menjelaskan padaku alasan di balik semua kebencian dan tindakannya terhadapku dan keluargaku.

“Sekarang, manusia sudah semakin mengancam kita. Setiap bayi yang baru lahir, akan diberikan Nuclear Cells dengan injeksi, tanpa orang tua mereka tahu. Dan setiap anak kecil di dunia ini adalah ancaman. Sedangkan… kita semua tahu command apa yang ada dalam tubuh kita, bukan?

“Wanita dan anak-anak adalah prioritas keselamatan. Bagaimana mungkin aku dan yang lainnya bisa membunuh anak-anak sementara mereka adalah prioritas? Meski kalian menilaiku sebagai pembunuh… tapi aku tidaklah jauh berbeda dengan pasukan militer milik manusia.

“Aku, dan Humanoid lain yang bergerak untuk membunuh manusia dengan Nuclear Cells, adalah pasukan militer para Humanoid. Kami bukannya berniat membunuh, tapi berusaha melindungi bangsa kami.

“Dan bukannya tindakan kami ini keji, tapi… bukankah manusia juga melakukan hal yang sama? Membunuh manusia lainnya demi melindungi kelompok mereka?”

Eksistensi mereka tengah terancam. Para Humanoid ini, mereka bukannya membenci kami melainkan merasa ketakutan. Aku tahu, bagaimana mengerikannya hidup dalam ancaman sebab aku sendiri juga pernah mengalaminya.

Yang tidak aku tahu, mereka juga hidup dalam ancaman yang sama. Melihatku, dan Nuclear Cells yang ada dalam tubuhku, sama saja seperti melihat bom waktu yang berjalan. Jika aku tidak meledak di dekat mereka, mereka akan sangat bersyukur.

Tapi kebaikan yang jadi perintah sempurna saat mereka terbangun, adalah alasan yang kemudian menekan mereka untuk melenyapkan kami demi melindungi bangsanya yang lain. Mereka bukannya berniat membunuh, tapi berniat melindungi.

“Kalau saja ada pilihan yang lebih baik, kami sudah pasti melakukannya. Seperti yang selama ini selalu terjadi, kami membunuh manusia-manusia dengan Nuclear Cells dalam tubuh mereka, dan memasang radar bertimer yang dua hari kemudian akan membuat Humanoid manapun di sekitar tubuh mati mereka datang untuk menghidupkan mereka kembali.

“Tapi selama ini yang terjadi hanyalah kegagalan. Selama dua hari itu, tubuh mati manusia tak pernah bisa bertahan. Kalaupun bertahan, mereka akan membawa cacat permanen yang kemudian membuat mereka membenci kita. Bukannya berterima kasih karena kami sudah menjadikan kehidupan mereka lebih baik tanpa adanya ancaman diburu oleh Humanoid, mereka justru berbalik menyerang.

“Mereka melaporkan tindakan kami pada Sentry. Itu juga… yang membuat Humophage diburu. Karena manusia pikir semua ini adalah ulah Humophage. Mereka, tidak tahu kalau sebenarnya semua Humanoid… adalah Humophage yang masih memiliki perintah.”

Pendapatku selama ini, benar adanya. Pemikiranku tentang Humanoid yang bisa berpikir mandiri ada atau tidak adanya perintah dalam diri mereka, bisa kupastikan benar. Baekhyun bukannya berbeda karena menjadi satu-satunya Humanoid tanpa Owner dengan perangai baik dan perasaan.

Tapi mereka semua pada dasarnya berperasaan, dan berpikir mandiri. Hanya saja kuasa itu dibatasi oleh perintah yang masih terinstal dalam tubuh mereka, dalam chip yang membuat sebutan mereka berubah dari Humophage, menjadi Humanoid.

Tanpa adanya perintah itu, mereka akan benar-benar terbebas dari kungkungan manusia. Namun, manusia juga sudah menantisipasi hal itu. Dengan menanamkan Nuclear Cells pada bangsanya sendiri, menjadikan bangsanya sebagai ancaman yang tidak terancam.

Maksudku, manusia dengan Nuclear Cells sepertiku adalah ancaman bagi Humanoid, maupun Humophage, apapun manusia menyebut mereka sekarang, tapi aku justru merasa tidak terancam. Karena meledak atau tidaknya Nuclear Cells itu tak akan berpengaruh padaku.

Aku, adalah salah satu mesin pembunuh besar-besaran terhadap Humanoid.

Baekhyun bukannya berbeda karena dia mencintaiku, seorang manusia. Tapi dia berbeda, karena jadi satu-satunya Humanoid yang jatuh cinta pada manusia yang bisa membunuhnya. Di saat semua Humanoid berusaha membunuhku karena aku adalah sebuah ancaman, Baekhyun justru melindungiku dan bahkan membalas perasaanku.

Sekarang, saat dia sudah tahu bahwa aku adalah sebuah ancaman untuknya… apakah dia masih akan merasakan hal yang sama padaku? Atau, sekarang dia juga menatapku sebagai sebuah ancaman bagi kehidupannya?

Mengapa… aku merasa lebih baik aku benar-benar mati saja daripada harus menghadapi situasi dimana Baekhyun berusaha menghindariku atau membunuhku?

Mengapa, rasanya lebih menyakitkan saat membayangkan kemungkinan bahwa Humanoid yang akan membunuhku adalah Baekhyun?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

*sekilas cerita tentang Nuclear Cells ini pernah Baekhyun ceritain di Chapter 10.

Well, kembali ke POV Yeri ternyata enggak lagi bikin diri ini ngetik dengan berbaper ria karena ngebayangin robot jatuh cinta sama manusia. Yang ada, genrenya perlahan-lahan berubah jadi melodrama, LOL (ketawa di atas rasa sedih, biar keren).

Setelah berjuang di dua chapter buat ngebangun cerita One and Only yang sempat terlupakan, serta nyempilin fakta-fakta kecil dalam Spin-off, sekarang aku udah bener-bener buka cerita tentang ‘inti’ dari cerita One and Only.

Yah, untuk sekedar informasi sih, sekaligus spoiler, kalau mereka sampai akhir juga enggak akan berhasil nyelesein atau ngehentiin perang ini. Simpelnya, kayak Sehun-Mina yang berjuang berdua di lain bagian cerita, Baekhyun-Yeri dkk di sini juga bagian dari segelintir cerita yang mengisahkan perjuangan manusia dan Humanoid untuk hidup berdampingan.

Dan tentu aja, mereka enggak akan bener-bener bisa bertindak ‘besar’ untuk ngehentiin perang. Yah… ini itu gimana ya nyeritain intinya itu… intinya, ya begitu lah, maksud aku, mereka ini ngehadepin perang yang udah pasti akan terjadi, terlepas dari ada enggaknya mereka.

Bisa dipahamin enggak sih? ;~~; maaf banget ya, kalau sampe chapter dua-satu ini ada yang mikir kalo Baekhyun-Yeri bisa ngehentiin perang. Tapi mereka enggak akan ngehentiin perang kok, cuma mereka berbagi kisah aja tentang proses menuju perang itu sendiri.

Pernah aku denger, kalo proses itu lebih penting daripada hasil akhir. Dan yep, One and Only adalah cerita yang memeluk erat prinsip itu. Bukannya fokus sama akhir dari perang, atau apa yang akan terjadi untuk mengakhiri perang, tapi One and Only berfokus sama proses menuju perang itu sendiri.

DUILEH PENUH SPOILER, WKWK, TERUS CHAPTER DUA-DUA SAMPE ENDING NANTI ENGGAK ADA YANG BACA. Yaudah sih, enggak masalah juga meski enggak ada yang baca. Ceritanya juga enggak akan berubah hanya karena keinginan duniawi pembaca, karena storyline One and Only sampe ending ini udah mantep dan enggak bisa diganggu gugat.

Kayak belanja, tapi ada tulisannya “Barang yang sudah dibeli, tidak dapat dikembalikan lagi” One and Only juga begitu, ending yang sudah dibuat, enggak bisa diubah lagi untuk alasan dan atas alasan apapun, LOLOLOLOL.

Untuk masalah bias diriku sih labil, kalo masalah ending cerita aku jarang labilnya, WKWKWKWK. Jadi, siap-siap aja bertemu sama bejibun kemungkinan ending. Kayak yang Mba Irene jelasin di atas, soon or later, Yeri harus mati. Kalo enggak mau Yeri mati, ya Baekhyun yang mati, permanen, lagi, LOLOLOL. Bukannya jahat karena mau ngebuat salah satu pemeran utama metong, tapi aku lagi buat alternatif pemikiran. Biar semua orang enggak berpikir cerita-cerita itu harus berakhir happily ever after.

Sesungguhnya cerita dengan ending kedua pemeran utama hidup bahagia selamanya dunia-akhirat sampe usia lansia itu adalah ending paling membosankan dan mudah ditebak sekaligus enggak menantang adrenalin.

Daripada ngebuat cerita dengan ending mainstream, aku buat alternatif endingnya. Aku enggak janji dua pemeran utama ini bakal sama-sama hidup sampe akhir, enggak juga janji mereka bakal hidup bahagia, tapi setidaknya selama proses menuju ending itu, keduanya sama-sama bahagia. Udah cukup jadi cerita yang bahagia, kan?

Nah, sekian dulu dariku, kayaknya aku udah berceloteh dengan begitu riang gembira di atas sana /APANYA YANG BAHAGIA, BAWA BERITA BURUK GITU/ ya intinya, tinggal beberapa chapter lagi menuju ending, dan enggak afdol kalo kalian meninggalkan cerita ini hanya karena di chapter ini aku buka cerita, kan?

Sebaiknya, baca sampe bener-bener akhir, karena ending bahagia selamanya itu bukannya enggak mungkin ada di cerita ini meski dalam arti ‘bahagia selamanya’ yang berbeda.

Terima kasih karena sudah menyempatkan diri buat baca cerita ini ;~; salam penuh kasih, Irish. Sampai ketemu di chapter dua puluh dua!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

32 tanggapan untuk “One and Only – Slice #21 — IRISH’s Tale”

  1. mau dibawa kemanaaaaaa hubunngan baek-yeri??jika kau terus membolak balik hati pembaca iniiiiiiiiii 😦
    siapin handuk dulu buat ngelap air terjun dari mataaa 😦

    1. endingnya masih kupikirkan dan kupertimbangkan XD karena kalo udah end kan nggak akan ada sekuel jadi aku harus buat ending sebaik mungkin XD

  2. Te2p sebel sm irene 😑 wlw dah tau dr crita pnjng lbr dy brsn /emang subjektif 😋 klo dah ga sk @ d’1st place bkl trus bgitu, pun klo dah sk, I’m a loyal type of a person! Tau, ga blh sk/benci sesuatu/someone berlebihan cz bs berbalik/apalah, but that’s my nature.
    Dah ga heran sih klo ending’ny bkl anti mainstream kan emang itu ciri khas irish, baik dr ide awal, genre, isi crita smp ending ya pasti anti mainstream, & I like it a lot! 👍

    1. XD salah apa irene kak salah apaaa wkwkwkwkwkwkwk aku juga memang udah ngebuat irene jadi sosok antagonis sesungguhnya kok. dia enggak perlu nampang buat ngebikin orang2 sebel sama dia ini ceritanya kan ya XD wkwkwkwkwkw

  3. YHA BAKAL SAD ENDING DONG T_T
    Gini deh kak rish, ntar kalo yeri mati trs muncul humanoid yg mirip persis bagai pinang dibelah lah dua yg namanya juga yeri muncul disaat baekhyun galau trs baek moveon ke humanoid yeri trs bahagia selamanya ato gak baekhyun mati terus yeri jadi outsider lagi trs servicer yg mirip persis sma baek mengisi kekosongan hati yeri and hapily ever after /maksa
    Gadeng becanda doang aqtu
    Tbh aku paling gasuka sma genre sad/angst ato semacamnya bukan gasuka karna gmn gmn tapi karna setiap baca genre itu pasti nangis gakelar” pas baca sampe kebawa galau seminggu dua minggu ampr susah move on dan berakhir dikatain emak habis putus ama pacar.. Ahelah mak, punya pacar aj kaga gmn ceritanya mau putus cobak 😢
    Tapi ttp lah ya mau gmn ending ni ff ttp lah aku baca bodo amat dikatain lagi ama emak abis ptus cinta 😂

    1. AKU SUKA IDE ITU XD XD XD kemarin sempet terpikir mau dibikin begitu sih sebenernya, tapi mau gimana, kalo mereka dipertemukan sama versi KW alias palsunya, sakit juga kan kalo perasaannya enggak kebales, secara yang Yeri suka itu Baek yang humanoid, dan yang Baek suka itu Yeri yang versi manusia XD nahloh gimana itu XD wkwkwkwkwkwkwk
      aku juga sebenernya enggak suka ending sad, tapi aku tau ending sad itu bakal lebih sulit dilupain XD tapi aku takut kualat juga kalo keseringan bikin ending sad jadi yahh biar aku pikirin dulu gimana enaknya ending buat mereka semua XD

  4. bagian akhir, hampir bikin aku nangis eon, trus ini nanti endingnya kek mana ?… huawaa
    keren banget ini, next next eonii aku tunggu karyamu

    imajinasiku meningkat kalo baca ini cerita, meskipun rada berpikir keras bayangin kekmana itu setting ceritanya, tp keren banget. beda dr cerita yg lain

  5. Nyesek banget waktu trakhirnya. Kalo aku ada di posisi Yeri aku juga mungkin bakalan sepemikiran sama dia. Di banding liat dia yang menjauh dari kita/? lebih baik mati sebelum itu semua terjadi. Aku juga ga minta ending yang bahagia.. Aku malah lebih suka ending cerita yang mereka hidup bahagia, walaupun ga bersama. Itu lebih real aja buat di bacanya ^^ Spoilernya mendukung banget, jadi ga terlalu mikir keras lagi nantinya hehehe ^^ Lanjut lagi ka.. Semangat!!

  6. Nyesek banget waktu trakhirnya. Kalo aku ada di posisi Yeri aku juga mungkin bakalan sepemikiran sama dia. Di banding liat dia yang menjauh dari kita/? lebih baik mati sebelum itu semua terjadi. Aku juga ga minta ending yang bahagia.. Aku malah lebih suka ending cerita yang mereka hidup bahagia, walaupun ga bersama. Itu lebih real aja buat di bacanya ^^ Spoilernya mendukung banget, jadi ga terlalu mikir keras lagi nantinya hehehe ^^ Lanjut lagi ka.. Semang

    1. iyep XD yeri di sini sebenernya enggak egois karena dia lebih mentingin keadaan orang2 yang dia sayang ketimbang keadaannya sendiri. tapi kok kalo yeri dibuat mati aku kasian juga XD

  7. Author irish terkasiiih aku baca chapter 21 plus spoiler blak2an nyah prasaanku jd cem wktu prtma kali dger jesicca former member snsd cover lagu someday nya nina, galau2krenyes tp ujungny bhgia. Dan prsaanku mlai ga enk pas bc klimat “bahagia slmanya” yg brbeda. Aku jd mnerka2 endingnya humanoid it musnah dn mnusia blik ke kodratny hdup brdmpingan sma ssma mnusia bkn humanoid dn artny baek never really belong to yeri. Hiks galauu men galaauuu byginnya. Dtggu next chapter yehet thor. Fightiiiingg!! Sarangeeekkk :-*

    1. XD yaampun aku jadi author terkasih, terharu sekali aku rasanya wkwkwkwkwkwk iya ini aku udah baik kasih spoiler di sini kan XD wwkwkwkwkwk udah nanti endingnya bisa jadi alternatif lain, aku masih pikirin juga ending yang bagus begimana buat mereka semua XD makasih udah bacaaa

  8. Ah kak rish omaigatt,, aku belom sempet baca chapter yang kemaren baru sampe chap berapa tuh aku lupa,, 😂 ehh udh muncul lagi chap 21 waahh haengbokhae 😂😂

    Oh jadi yeri itu bakal jadi bom waktu buat humanoid,, tapi nnti dia mati ga kak klo nutri cells -halah oposih, pokoknya itulah😂- itu meledak?? Trus baek gimana???, Ooh jadi irene itu ga jahat,,, maksud aku tuh dia cuma membela diri sendiri dan mempertahankan ekosistem dan ke eksisian humanoid gitu kak?? /Apasih ran bahasa lu/😂
    tapI kasian yeri nya,, bapak nya piye to,, jadi bapak ga genah gitu ih… mana golok mana golok /plak/ Irene nya juga jadi bimbang gitu ya kak,, dia ga tega ngebunuh org, anak anak, wanita… tapi klo ga dia bunuh, cepat atau lambat dia dan komunitasnya bakal hancur gara gara nutri cells(?) Itu😂😂
    Si pemerintah nya juga gimana sih,, jahat banget.. masa anak bayi baru lahir disuntikkin nutri cells -apalah itu- tanpa sepengetahuan ibu bapak nya,,, ya ampuun kejam banget,,, egois tau ga,, kan humanoid juga punya perasaan kali,, apalagi si baek, kyungsoo, ten, Johnny, yuta gitu.. pada tega emang nya liat cogan cogan humanoid mati meledak duarr gitu?? Nikahin org mah bukan di ledakkin /apa coba/😂😂

    Yaudah ya kak aku mau lanjutin baca chapter sebelumnya,,, rada ganyambung di otak soalnya klo loncat loncat😂😂 Fighting kak😘😘❤❤❤❤❤❤

    1. Eh nuclear cells kak😂😂 nutri cells nutri cells,,, main ganti cerita org aja lu😂😂,, /dibakar

      Kayanya kak irish seneng bangett gitu ya klo ada mati mati nya,, matiin aja semuanya kak biar kak rish seneng😊🔪😢 wkwk yeri aja mati gapapa deh kak jangan baek,, sayang masa makhluk tuhan yang indah itu harus cepet mati, ntar pacarnya baek nangis kak klo si cabe mati (pacar baek= rani)😂😂😂/plak
      Yeri : serah lu serah ran mau ngomong apa,, gakuat gue ngadepin khayalan fangirl ngarep macem elu/
      Cukup aku nyampah nya😂😂❤😘😘😘😘😍

    2. dibilangin aku salfok sama nutricells karena keinget sama nutriboost XD aku demen nutriboost btw /apaan sih/ kalo masalah mati-matian bisa diatur itu tenang aja tinggal tunggu waktu /kemudian disambit/ XD

  9. Ah kak rish omaigatt,, aku belom sempet baca chapter yang kemaren baru sampe chap berapa tuh aku lupa,, 😂 ehh udh muncul lagi chap 21 waahh haengbokhae 😂😂

    Oh jadi yeri itu bakal jadi bom waktu buat humanoid,, tapi nnti dia mati ga kak klo nutri cells -halah oposih, pokoknya itulah😂- itu meledak?? Trus baek gimana???, Ooh jadi irene itu ga jahat,,, maksud aku tuh dia cuma membela diri sendiri dan mempertahankan ekosistem dan ke eksisian humanoid gitu kak?? /Apasih ran bahasa lu/😂
    tapI kasian yeri nya,, bapak nya piye to,, jadi bapak ga genah gitu ih… mana golok mana golok /plak/ Irene nya juga jadi bimbang gitu ya kak,, dia ga tega ngebunuh org, anak anak, wanita… tapi klo ga dia bunuh, cepat atau lambat dia dan komunitasnya bakal hancur gara gara nutri cells(?) Itu😂😂
    Si pemerintah nya juga gimana sih,, jahat banget.. masa anak bayi baru lahir disuntikkin nutri cells -apalah itu- tanpa sepengetahuan ibu bapak nya,,, ya ampuun kejam banget,,, egois tau ga,, kan humanoid juga punya perasaan kali,, apalagi si baek, kyungsoo, ten, Johnny, yuta gitu.. pada tega emang nya liat cogan cogan humanoid mati meledak duarr gitu?? Nikahin org mah bukan di ledakkin /apa coba/😂😂

    Yaudah ya kak aku mau lanjutin baca chapter sebelumnya,,, rada ganyambung di otak soalnya klo loncat loncat😂😂 Fighting kak😘😘❤❤❤❤❤❤

    1. XD kamu udah meninggalkan banyak chapter ini ceritanya yah wkwkwkwkwk padahal akunya udah rajin update ~ ayo baca utang2nya dong wkwkwkwkwk XD
      yah, intinya yeri bisa meledak kalo kelamaan deket baekhyun /aku juga kalo jadi yeri pasti meledak lah/ /eh/
      iyep, pada dasarnya enggak semua orang jahat itu beneran jahat XD pasti ada alasan juga dibalik sikap jahat mereka itu XD sek sek, aku salfok sama istilah nutricells karena mengingatkanku pada nutriboost ~~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s