One and Only – Spin Off #4 — IRISH’s Tale

|   ONE AND ONLY   |

|   Spin Off Story   |

|  Sehun x Mina  |  Adventure x Fantasy x Life x Science Fiction  |

|  Chapterred  |  Teen  |

|  by IRISH  |

—  not about the war, it’s about surviving  —

Reading list:

〉〉  Prologue — Chapter 1Chapter 5 | Chapter 6 — Chapter 10 | Chapter 11 —  Chapter 15 | Chapter 16 —  Chapter 20  〈〈

  SPIN OFF 1 — SPIN OFF 2 — SPIN OFF 3 — [NOW] SPIN OFF 4

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

“Bukankah, selama ini kita memang selalu berperang? Saling berusaha mengalahkan satu sama lain dengan cara apapun, membiarkan Outsiders hidup sebagai korban perang juga merupakan wujud peperangan yang belum selesai.

“Anggap saja, kalau benar-benar terjadi… maka perang itu pastilah bertujuan mengakhiri semua keegoisan dan kesombongan yang sudah manusia bangun selama bertahun-tahun dengan cara yang keliru.”

Tak ada yang salah dari kalimat Mina sekarang, tapi tetap saja batin Sehun tidak merasa tenang. Tidak ada yang bisa Sehun harapankan sebagai akhir dari peperangan ini. Toh, dia sudah terlampau terbiasa hidup dengan cara modern yang dunia ini suguhkan.

Jadi, bagi Sehun peperangan tak akan jadi jalan keluar, untuk mengakhiri penderitaan maupun keegoisan manusia. Perang yang Sehun bayangkan justru hanya sekedar upaya dari Humanoid untuk mendapatkan kebebasan.

Kebebasan yang tidak akan diberikan oleh manusia dan pada akhirnya akan benar-benar merealisasikan perang tersebut. Bagaimana kalau nanti pada akhirnya manusia tetap saja kalah?

Bayangan Sehun tentang kehidupan manusia yang didominasi oleh robot-robot penuh kebebasan pun tak kalah mengerikannya. Bagaimana jika suatu hari Humanoid itu justru berbalik memperbudak manusia?

Ya, meskipun kemungkinannya begitu kecil karena toh, Humanoid itu bisa segalanya. Tapi tetap saja mau tak mau, kekhawatiran itu menyelip di antara benak Sehun yang berusaha menenangkan si pemilik tubuh.

Sehun sendiri memilih untuk tidak mengutarakan apapun pada Mina, karena tahu membicarakannya pada Mina pun tak akan berujung pada sebuah jawaban, yang ada dia justru akan lebih banyak berspekulasi tentang yang tidak-tidak.

“Kalau kau nanti bebas, artinya kita tidak akan bertemu lagi, ya.” diam-diam kekhawatiran itu menyelinap menjadi sebuah tanya.

“Mengapa begitu? Aku masih bisa menemuimu, apapun yang terjadi. Kita sudah bersama selama belasan tahun, Sehun. Mengapa kau pikir aku akan meninggalkanmu?” pertanyaan Mina berhasil membungkam Sehun, menarik pria itu ke dalam kesadaran bahwa saat ini Humanoid yang diajaknya bicara belum berada dalam kesadaran yang sepenuhnya.

Apa yang akan gadis itu katakan nanti setelah mereka benar-benar bebas?

“Aku pikir, aku sudah tak punya hak untuk bergantung padamu lagi kalau hal itu terjadi. Kau tahu, aku tetap merasa bahwa semua ini salah. Kita tidak seharusnya ada di sini, dan kau tidak seharusnya memikirkan apa yang tidak menjadi masalahmu.

“Semua ini terasa begitu salah, Mina. Dan secara tidak masuk akal, kita justru terjebak dalam situasi paling mengerikan. Kemungkinan perang akan terjadi, lalu kau dan aku ada di sini. Kapan pun perang itu terjadi tidak berarti aku bisa menggantung keselamatanku padamu.

“Kalau dilogika, kita ini seharusnya saling bermusuhan. Kau adalah pihak lawan buatku, dan kerjasama kita sekarang ini pasti terlihat konyol. Mengapa kita sekarang ada di sini? Betapa kuatnya aku berpikir, aku tetap tidak sampai pada kesimpulan yang mengharuskan kita bertanggung jawab atas peperangan ini.

“Kalau memang harus ada perang, mengapa tidak kita biarkan saja? Toh, ada tidak adanya kita tidak akan berpengaruh pada sejarah dan tidak juga kita bisa mengubahnya. Takdirnya memang sudah seperti ini, kenapa kita repot-repot berusaha mengubah takdir?”

Kelakar Sehun sekarang membuat Mina terdiam. Tak pernah Mina dengar kalimat sarat akan rasa pesimis itu meluncur dari bibir Sehun, dan tidak juga Mina mengenal Sehun sebagai seorang yang dengan mudahnya menyerah.

Tapi jika Mina pikir lagi, perkataan Sehun tidak ada salahnya. Pria itu hanya sedang mempertanyakan tujuan mereka sekarang melakukan perjalanan tidak tentu arah dan tidak tahu tujuan.

Bukankah Mina sebelumnya punya pilihan untuk duduk diam di Edinburgh dan menunggu?

“Aku tahu ini salah, Sehun. Tapi bagian dari diriku justru merasa bahwa ini adalah tindakan yang benar. Kita tidak bisa berpangku tangan saat kita nyatanya mampu melakukan sesuatu.

“Memangnya, kau lebih suka menjadi penonton ketimbang menjadi pemeran? Kalau aku, aku tidak suka begitu. Aku tidak suka berdiri diam dan menunggu sementara aku tahu aku bisa bertindak dan aku mampu.

“Aku tidak menyalahkanmu karena kau sampai pada kesimpulan seperti ini. Aku mengerti, benakmu sebagai manusia pasti berpikir begitu. Tapi aku yang tidak punya batas logika ini justru memikirkan hal yang berkebalikan darimu.

“Kalau kita bisa melibatkan diri untuk mengubah sebuah takdir, mengapa memilih diam saja?”

Agaknya, Sehun yang sekarang tersudut. Dua orang itu sama-sama keras kepala, mereka bahkan sudah begitu sering berdebat sebelum ini, perkara apapun itu. Tapi keduanya tidak pernah sampai berselisih paham yang begitu dahsyat.

Sekarang, keduanya malah saling berkeras. Yang satu ingin berhenti, yang satu ingin terus berlari. Percabangan jalan yang keduanya pandang pun sudah berbeda. Sehun ingin mereka melalui jalan setapak lurus yang akan membawa keduanya menuju persinggahan damai. Sedangkan Mina ingin menerjang jalan penuh kerikil dan debu, mendatangi kehancuran.

Sebab keduanya sama-sama punya benak dan pikiran yang bebas, keduanya jadi sama-sama bisa berkeinginan. Kehendak Mina tak lagi jadi cerminan dari kehendak Sehun, melainkan jadi lawan.

Dengan cara begini, mereka tidak akan pernah mencapai tujuan yang sama.

Dan baik Mina pun Sehun, sudah sama-sama sadar akan hal itu.

“Apa aku sebaiknya kembali saja ke Edinburgh?” pertanyaan itu dengan lantang tercetus dari bibir Sehun. Tidak seperti Mina yang betah berdiam, Sehun bukan tipe yang akan diam saja saat punya ingin.

“Apa yang ingin kau lakukan di sana?” vokal Mina menguar, selang beberapa saat dalam keheningan sebelum Sehun kemudian menjawab.

“Menjalani kehidupan normalku, tentu saja.”

Sudah jelas, mereka tak akan menggapai jalan yang sama. Sehun sudah memilih berhenti, sementara Mina berkeras pada ego diri.

“Aku akan mengantarmu sampai ke bandara, kau keberatan? Aku bisa menyertakan duplikasi dari diriku untuk—”

“—Tidak perlu. Turunkan saja aku di halte pertama yang kau temukan.” Sehun memotong, tidak ada emosi dalam suaranya, tapi Mina tahu… Sehun sedang marah.

“Jangan begini, Sehun. Kau tahu aku tidak punya pilihan.” kata Mina.

“Kau punya pilihan itu, hanya saja pilihanmu dan pilihanku tidak lagi sama. Kita sudah memandang tujuan yang berbeda, buat apa berlama-lama bersama?” kata Sehun, enggan menatap Mina sebab tahu benar hatinya akan goyah kalau menangkap ekspresi kecewa gadis itu dengan maniknya.

Dan Sehun sedang tidak ingin mengalah. Dia sudah terbiasa menjadi tidak sabar, dan sekarang bahkan keinginan Mina tidak bisa berada dalam barisan prioritas yang bisa dia pertimbangkan.

“Aku harus pastikan kau sampai ke Edinburgh tanpa masalah.” Mina berkeras.

“Turunkan aku di sana.” Sehun menunjuk ke arah sebuah halte dengan jemarinya, jalan yang berdebu sebenarnya membuat halte tersebut tidak tampak jelas, tapi karena tekadnya, halte tersebut justru terlihat jelas dalam pandangan Sehun.

“Bus hanya datang tiga jam sekali di sana, Sehun.” Mina menganalisis halte tersebut dengan kemampuannya. Tapi Sehun masih keras hati.

“Turunkan saja aku di sana.” katanya.

Mina sempat terdiam sejenak, berusaha menekan egonya untuk mengalah pada Sehun tapi Mina tidak bisa. Ini sudah jadi komandonya, bagian dari dirinya. Berusaha menghindar dari keterlibatan dengan masalah negara ini hanya akan membuat Mina merasa bahwa dia adalah sebuah produk gagal.

“Sehun, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik.” Mina berusaha menetralisir kemarahan samar yang Sehun pamerkan. Tapi Sehun berkeras dengan angkuh.

“Tidak perlu, dan tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku bisa melepaskan kepemilikanku terhadapmu, dan kau tidak lagi harus mengkhawatirkanku. Kau bisa hidup bebas seperti yang kau inginkan.” Sehun mengambil sebuah keputusan, bahwa dia tidak lagi bisa berpegang pada ikatannya dengan Mina yang sudah terlampau rapuh.

Belasan tahun menjalin kepercayaan justru membuat Sehun bisa dengan mudahnya memilih untuk memutus ikatan tersebut. Sebab dia percaya, baik dirinya maupun Mina, akan sama-sama bisa menjaga diri.

“Jangan, Sehun, kau bisa menjadi seorang Outsid—”

Belum selesai kalimat Mina, dia sudah dikejutkan pada suara ‘PIP’ kecil yang lolos dari tablet PC di tangan Sehun.

“Aku sudah melepaskanmu.” Sehun berkata, sekon itu pula Mina merasakan kehancuran.

Belum pernah, dia merasa tubuhnya begitu sakit. Seluruh organ buatannya terasa seolah akan meledak. Maniknya bahkan terasa panas. Ada rasa sakit yang menekan pertahanan Mina begitu dia tahu dia telah jadi Humanoid tanpa owner.

Dan ketenangan yang Sehun pamerkan justru menambah sakit rasa yang Mina derita sekarang.

“Sehun, sakit…” lirih si gadis membuat Sehun menatapnya.

“Apa maksudmu? Kau tidak—” ucapan Sehun terhenti tatkala dilihatnya likuid bening meluncur dari manik Mina. Begitu banyak, sampai Sehun pikir dia sekarang sedang berhalusinasi.

Tapi tidak, nafas terengah-engah Mina sekarang jadi sebuah tanda yang jelas bagi Sehun, bahwa Humanoid di hadapannya tengah menangis.

Menangis.

Demi Tuhan, Sehun berani bersumpah dia tak pernah melihat Humanoid manapun bisa melakukan hal manusia semacam ini. Tapi tangisan tak bersuara yang Mina pamerkan adalah sebuah fakta yang tak bisa Sehun ingkari.

“Tubuhku begitu sakit, Sehun. Apa yang telah kau lakukan?” pertanyaan Mina berikutnya jadi sebuah pukulan telak bagi Sehun.

Gadis ini terluka, dan Sehun adalah orang yang melukainya.

“Kau membuangku, Sehun…” lagi-lagi vokal putus asa Mina berkata, gadis itu tentu tak perlu membagi fokusnya pada jalanan, ada pengaturan yang sudah dipasangnya di mobil curian mereka sehingga Mina bahkan tak harus berpura-pura memegang setir supaya dikira sedang mengemudi.

“Hentikan mobilnya, Mina. Kau menangis.” sungguh, tidak adakah kalimat lain yang lebih konyol yang bisa Sehun ucapkan?

Benaknya terlalu tidak bisa menerima logika yang sekarang terpampang. Dan Mina juga tidak sedang dalam fase bisa menerima pendapat maupun perintah orang lain. Jadi, dengan paksaan, Sehun membanting kemudi dan ia belesakkan kakinya menginjak pedal rem sedalam mungkin.

Deritan cukup keras terdengar sebelum Sehun dapati dirinya harus menghadapi situasi tidak masuk akal di sampingnya sekarang.

“Aku tidak berusaha membuatmu terluka, atau membawamu ke tempat yang berbahaya. Tapi kenapa kau malah membuangku?” tanya itu segera menyambut Sehun begitu dia dapatkan kesadarannya kembali.

Berperang melawan logika, Sehun dapati dirinya sekarang benar-benar menyerah terhadap keadaan. Tangisan tanpa suara Mina belum berhenti, dan tetes demi tetes air mata si gadis bahkan bisa Sehun dengar dengan jelas.

Normalnya, tak ada suara air mata yang bisa didengar jelas oleh telinga telanjang manusia. Lagi-lagi Sehun menarik sebuah kesimpulan, bahwa air mata gadis itu pun tidak terbentuk dengan cara fisiologis layaknya manusia.

“Maafkan aku… aku hanya ingin kau benar-benar bebas, Mina.” sesal Sehun kemudian, tidak, dia tidak sepenuhnya menyesal. Karena melepaskan Mina cepat atau lambat akan jadi sebuah keharusan bagi Sehun.

Daripada membiarkan dirinya ditinggalkan oleh Mina, bukankah meninggalkan gadis itu akan jadi pilihan lebih baik bagi Sehun meski nyatanya tanpa Sehun duga, gadis itu pun merasa terluka.

“Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak pernah menuntut kebebasan darimu, tapi kau melepaskanku tanpa pertimbangan. Bagaimana kau bisa sampai hati melakukannya?”

Sehun, memberanikan diri menatap Mina. Wajah gadis itu masih basah karena air mata, dan Sehun bisa lihat juga bagaimana likuid itu masih mengalir keluar dari manik si gadis. Ingin sekali, Sehun tampar dirinya agar dia bisa kembali pada kenyataan tentang gadis di hadapannya yang merupakan sebuah robot ciptaan manusia.

Tapi dibantah bagaimanapun kerasnya, tak akan ada yang mengira jika Mina dan tangisannya sekarang, merupakan hasil modifikasi dari kemampuan seorang Humanoid.

Dia terlampau manusia.

Dan Sehun akhirnya menyerah pada fakta itu.

“Oh, Mina, maafkan aku, sungguh. Apa yang sudah kuperbuat padamu?” Sehun temukan dirinya kini telah menarik Mina ke dalam rengkuhan, sementara gadis itu bahkan tak membalas pelukannya.

Satu yang Sehun bisa tangkap dengan jelas, gadis ini benar-benar terluka karenanya.

“Aku tak pernah ingin melepaskanmu, Mina. Sekalipun tidak pernah. Tapi cepat atau lambat, kau akan terbebas juga. Dan aku tidak ingin jadi orang yang kau tinggalkan. Maafkan aku, oke?

“Aku tidak tahu—tidak, aku tidak menyangka jika kau akan menangis seperti ini. Bagaimana kau bisa melakukannya? Ah, lupakan saja. Kau memang Humanoid yang spesial, Mina-ku.”

Lembut, Sehun mengusap surai Mina, belasan kali mengumpat sebab surai kelam itu terasa layaknya rambut sungguhan dalam sentuhan Sehun. Menepuk-nepuk punggung si gadis jadi hal kedua yang ingin Sehun sesali. Karena kemudian dia sadar, tubuh Mina terlalu manusia untuk dia anggap Humanoid.

Kemana saja kesadaran Sehun selama ini sampai tidak sadar kalau Mina sudah jadi semanusia ini?

“Tapi kau melepaskanku…” lirih vokal Mina terdengar menyapa rungu Sehun dengan terlampau sempurna.

“Tidak apa-apa, asalkan aku tetap berada di dekatmu, tidak akan ada yang tahu kalau aku sudah melepaskan kepemilikanku. Sudah, kau harus berhenti menangis, Mina, bukankah kita masih punya perjalanan panjang yang menanti?”

Mendengar ucapan Sehun, Mina akhirnya berangsur-angsur tenang. Ketika Sehun melepaskan pelukannya, bisa dia lihat bagaimana Mina tersenyum, meski likuid itu masih juga mengalir keluar dari maniknya.

“Kau tersenyum tapi kau masih menangis, Mina…” kata Sehun, tanpa sadar jemari pria itu bergerak menyentuh likuid tersebut.

Perlahan, Sehun bisa rasakan bagaimana berbedanya air mata yang dihasilkan dari sistem yang ada dalam tubuh Humanoid, dengan air mata seorang manusia. Layaknya cairan alkohol, air mata yang membasahi wajah Mina segera menguap begitu bersentuhan dengan permukaan kulit Sehun.

Aroma aseton yang begitu tajam juga masuk ke dalam penciuman Sehun begitu dia menghirup aroma yang disisakan air mata tersebut di jemarinya.

Air mata palsu, Sehun menarik kesimpulan. Tapi dia juga tak pernah menemukan command apapun dalam tubuh Humanoid yang merujuk pada penciptaan air mata palsu ini. Apa tangisan Mina hanya sebuah reaksi dari rasa terkejutnya setelah Sehun dengan santai melepaskan kepemilikannya atas si gadis?

“Aku tidak bisa menghentikannya, tubuhku masih terasa sangat sakit.” Mina berucap, memang benar, rasa sakit di tubuhnya tidak juga menghilang meskipun perkataan Sehun sudah membuatnya terhibur.

“Sakit?” Sehun menyernyit, dia tak pernah tahu ada Humanoid yang bisa merasa sakit. Mereka bahkan tidak merasa sakit setelah tertimpa runtuhan gedung. Dan rasa sakit apa yang sekarang tengah Mina bicarakan?

Sekeras mungkin Sehun berpikir, dalam benaknya sekarang berputar puluhan teori mengenai Humanoid dan anatomi fisiologis mereka. Namun tak satupun membawa Sehun mendekati situasi yang sekarang ada di hadapannya.

“Apa terasa sakit saat aku mencubit lenganmu begini?” tanya Sehun, perlahan jemarinya bergerak mencubit lengan Mina.

“Ya… sakit.” jawab Mina membuat Sehun makin kepalang bingung.

Bagaimana bisa Mina merasa sakit? Dia bahkan tidak mengalami perubahan apapun secara fisik. Tidak mungkin ‘kan, sikap Sehun saja yang membuatnya menjadi seperti ini?

Tidak mungkin juga—ah, apa ini karena Sehun sudah memberi gadis itu kebebasan? Sehingga dia jadi bisa merasakan apa yang sewajarnya manusia rasakan?

“Tidak, Mina, apa ini karena aku melepaskanmu? Sehingga kau bisa menangis—tidak, tidak hanya menangis, tapi juga merasa sakit di tubuhmu? Bagaimana jika kau berada dalam bahaya dan tidak bisa—

BRAK!

“Rasanya tidak sakit sekarang.” ucapan Sehun terhenti ketika Mina dengan santainya menghantam dasbor mobil—hingga benda itu pecah—menggunakan lengannya.

“Bagaimana jika aku menyentuhmu seperti ini?” tanya Sehun, iseng-iseng ia tempelkan jemarinya di permukaan kulit wajah Mina.

“Ah!” Mina meengerjap terkejut.

“Kenapa?” tanya Sehun.

“Rasanya… seolah di tanganmu ada electric shock, Sehun.” Mina tersenyum samar, perlahan, likuid yang sedari tadi mengalir keluar dari maniknya juga berhenti.

Electric shock? Sejak kapan tangan Sehun punya efek seperti itu?

“Apa yang membuatmu menangis tadi?” tanya Sehun kemudian.

Dia tidak pernah menghadapi situasi luar biasa seperti ini. Humanoid yang menangis, dan bisa merasa sakit, tapi sekon kemudian tak ada rasa sakit yang dirasakan si Humanoid, sedangkan efek lainnya terasa begitu dia bersentuhan dengan manusia.

Bagaimana jika situasi Mina terus bertambah parah karena ulah Sehun?

“Karena kau melepaskanku. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana aku harus hidup jika tidak ada kau, Sehun. Aku sudah sangat terbiasa hidup bersama denganmu, dan membayangkan kau akan kembali ke Edinburgh setelah melepaskanku… rasanya menakutkan.”

Menakutkan? Tidak, Sehun yakin benar Mina tak pernah merasa takut seperti ini.

“Mengapa kau merasa takut?” tanya Sehun hati-hati.

Mina, terdiam sejenak sebelum dia akhirnya buka suara.

“Aku takut aku akan kehilanganmu, Sehun.”

Hampir jantung Sehun berhenti berdetak karenanya. Bukan, bukan karena perkataan Mina sekarang terdengar tidak masuk akal. Melainkan karena ucapan Mina sekarang justru terlampau masuk akal untuk jadi alasan di balik anomali yang terjadi padanya.

Sehun yakin, gadis itu tidak hanya merasa takut karena kemungkinan bahwa Sehun akan meninggalkannya, tidak juga karena ketakutannya akan kehilangan Sehun.

Mina telah menaruh hati pada Sehun, pria bermarga Oh itu yakin benar pada konklusinya sekarang. Sebab, tak ada alasan lain yang lebih masuk akal daripada itu. Mereka terlampau lama menghabiskan waktu dengan hidup bersama dan saling mengenal satu sama lain.

Bukan sekali dua kali keduanya menghadapi situasi dimana mereka dipaksa harus berpisah, tapi Mina tak pernah seperti ini. Kalau memang sejak dulu dia jadi seorang Humanoid, seharusnya Mina bisa menangis sejak dulu, bukan?

Tapi mengapa sekarang? Apa karena Mina pikir Sehun benar-benar akan melepaskannya?

Well, Sehun memang begitu awalnya. Tapi sekarang tidak lagi begitu. Dia sudah tahu jelas apa yang terjadi, sekuat apapun command Mina berkeras menekan ego gadis itu untuk melakukan apa yang tidak Sehun inginkan, gadis itu akan kembali lagi pada Sehun.

“Mina… kau tidak tahu betapa banyaknya perubahanmu…” Sehun akhirnya menggumam, senyum kecil tanpa sadar mengembang di wajahnya begitu dia menyelesaikan kalimat tersebut, sementara Mina sendiri menatap tidak mengerti.

“Perubahan apa, maksudmu?” tanyanya.

Sebagai jawaban, Sehun hanya menggeleng pelan.

“Sudahlah, lupakan saja. Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita. Mungkin saja, kita sudah melewatkan beberapa hal penting. Kau tidak mau hal yang buruk terjadi, bukan?” kata Sehun membuat Mina menatapnya ragu. Sempat gadis itu melemparkan pandang ke arah halte yang sekarang berada beberapa meter di depannya, sebelum dia menatap Sehun lagi.

“Kau tidak akan meninggalkanku?” tanya Mina ragu.

“Tidak, Mina. Bagaimana mungkin aku melepaskanmu sementara kau sudah jadi seperti ini? Mari kita lanjutkan saja perjalanan ini, mungkin aku telah salah mengira. Mungkin juga, kita tidak akan menghadapi situasi mengerikan yang aku takutkan.”

Mendengar ucapan Sehun, Mina akhirnya tersenyum.

“Terima kasih, Sehun, karena memutuskan untuk tetap tinggal.” katanya.

Tentu saja, bagaimana bisa Sehun melepaskan gadis itu saat teori tentang kenormalan Humanoid saja sudah dilanggar dengan begitu kentara oleh Mina? Saat ini Sehun bahkan sudah sampai pada sebuah konklusi.

Semakin lama seorang Humanoid menghabiskan waktu dengan manusia yang membuatnya memiliki perasaan nyaman, dan bahkan memiliki perasaan pada manusia tersebut seperti yang manusia rasakan, akan semakin manusia pula lah Humanoid tersebut.

Sampai akhirnya, dia akan kehilangan jati dirinya sebagai seorang Humanoid dan menginginkan kehidupan selayaknya manusia biasa.

Namun, ada satu hal yang belum Sehun ketahui, bahwa seorang Humanoid yang kehilangan jati diri, bisa dihancurkan dengan sangat mudah.

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Ada enggak sih, yang berpikir kalau spin-off ini enggak ada hubungannya sama cerita Baek-Yeri? Kalau ada, aku netralisir sekarang aja semua prasangka-prasangka buruk itu, WKWK.

Pertama, cerita ini adalah spin-off, yang artinya, enggak begitu melibatkan tokoh utama tapi ada hubungan yang cukup erat dengan cerita tokoh utama. Di sini, aku ngebantu kalian untuk memperjelas fakta-fakta tentang ‘Humophage’ yang jadi identitas Baekhyun sekarang.

Dan dari cerita spin-off ini, pelan-pelan kalian akan ngerti dan berkomentar semacam “Oh, jangan-jangan ini Baekhyun ngalamin kayak di spin offxxx—” atau “Ini yang diomongin di spin-off itu yang di cerita utama kayakxxx—” sejenis itu lah.

Karena selama ini apa yang terjadi sama Baekhyun, dkk itu masih blur dan enggak jelas. Meskipun Daddy Johnny udah ngejelasin sampe satu episode, tapi tetep aja pasti masih ada yang blur dalam pandangan kalian.

Jadi, cerita spin-off ini adalah cerita Pertolongan Pertama Pada Kebingungan, WKWK. Dengan baca cerita spin-off, tujuan akhir yang aku harapin ya kalian akan paham dengan apa yang terjadi sama Humanoid ini secara fisik, sampe mereka bisa jadi Humophage.

Ini bukan sepenuhnya cerita di balik layar One and Only, tapi cerita ini bertujuan untuk menerangkan apa yang selama ini gelap di cerita One and Only.

Nah, sekian dulu dariku *~* sampai ketemu di chapter dua puluh satu!

p.s: apa cuma aku yang kembali punya jiwa fangirl labil abadi karena album repackage EXO? Huhu, kenapa sih mereka itu bikin hati aku gonjang-ganjing mulu… T…T padahal aku tuh bolak balik berusaha nikung boyband lain (re: NCT, Wanna One, Golden Child, est) tapi begitu disuguhin EXO itu jiwa fangirl yang udah dibagi-bagi jadi balik ke EXO lagi… gini ini nih yang bikin jam terbang cast perfanfiksian enggak berjalan… bikinnya fanfiksi EXO melulu, huhu. Tapi suaranya BaekSooChen itu enggak bisa diselingkuhin T^T

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

8 tanggapan untuk “One and Only – Spin Off #4 — IRISH’s Tale”

  1. Sehun-Mina disini ky lg di scene #katakanputus 😅 ky org pcrn yg arguing mutusin bwt break up krn dah ga 1 visi lg, luckily thx to d’pwr of tears’ny mina, sehun ga jd prg ☺
    ngerti & grateful kok sm crita spin off ini & sngt mnantikan sehun-mina eventually join sm klmpk’ny baek, slng share informasi & ngback up 1 sm lain 😊
    Itu tanda’ny yg mendominasi di ht hny exo rish 😀 wlw dah cb mlipir ke yg laen tp ujung2ny blk lg ke exo lg!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s