GIDARYEO – 7th Page — IRISH’s Tale

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  Crime  — Family — Fantasy — Melodrama — Supranatural — Suspense  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 4 | 1st Page5th Page |  6th Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

“Kau, Anna.”

“Apa?” aku menatapnya tidak mengerti.

“Kau adalah alasan menyakitkan itu.”

“Mengapa aku?” tanyaku tak mengerti, “Kau tahu aku tidak akan melaporkanmu ke polisi, atau meliputmu lagi. Aku sudah berubah, Shadow. Aku tidak lagi memburumu untuk kepentingan berita seperti yang—”

“—Aku tahu.” potongnya.

“Kau tahu?” tanyaku memastikan.

“Ya, aku tahu kau tak akan melaporkanku pada polisi, atau meliputku. Tapi memang benar, kau lah alasan menyakitkan itu. Aku terlalu percaya pada fakta bahwa kau tak akan membahayakanku, sampai aku kemudian sadar kalau aku lah yang justru membawamu ke dalam bahaya.

“Itu juga yang jadi alasanku terus ingin ada di dekatmu, Anna. Karena kau begitu… aman. Saat aku bersamamu, rasanya seolah kejahatan apapun yang aku lakukan, sesulit apapun situasi yang menjebakku, aku akan baik-baik saja. Kau seperti jimat keberuntungan, dan aku berterima kasih padamu karena hal itu.

“Tapi aku juga sadar, situasi seperti ini hanya akan membuatmu terjebak dalam bahaya. Dan mau tak mau, aku harus memilih. Melepaskanmu, atau terus membiarkanmu terjebak dalam bahaya. Dan aku sudah memilih, untuk melepaskanmu.”

Sejenak, aku terdiam mendengar penuturannya. Berharap bahwa dia tidak benar-benar serius soal ingin meninggalkanku, tapi di satu sisi, ucapannya terdengar begitu masuk akal.

“Tapi aku tak ingin dilepaskan.” entah sejak kapan mulut ini dengan lancang berkata.

“Apa?” ia menatapku tidak mengerti.

“Aku tidak mau kau lepaskan. Katamu aku adalah jimat keberuntungan, kalau begitu kau harus tetap ada di dekatku agar keberuntungan itu tetap ada.” ucapku berkeras. Sementara dia menjawabku dengan gelengan pelan.

“Aku bilang kau adalah jimat keberuntungan, untukku. Tidak berarti hal yang sama berlaku untukmu. Jaga dirimu Anna, aku harap kita bisa bertemu lagi…” ucap pemuda itu sebelum ia berdiri, hendak meninggalkanku saat aku kemudian tersadar, aku harus menjadi alasan yang membuatnya tidak bisa pergi.

Aku harus mencegahnya, aku tak boleh membiarkannya pergi begitu saja.

“Tunggu, Shadow!” aku berkata saat aku sadar dia tengah melangkah pergi meninggalkanku.

“Ya, Anna?” ia berbalik, menatapku, memberiku keberanian untuk berbuat di luar akal sehat asalkan bisa menjadi alasan yang membuatnya tidak akan pergi meninggalkanku begitu saja sementara aku jadi selayaknya orang bodoh di sini.

“Jangan tinggalkan aku.” kataku sambil melangkah menghampirinya, aku berpegangan pada kedua bahunya, membuat Shadow dengan terkejut mencekal kedua lenganku sementara yang kulakukan adalah menyarangkan sebuah kecupan dengan berani di bibirnya.

Masa bodoh walau dia adalah pembunuh. Masa bodoh jika dia adalah orang yang dicari dan diburu karena menjadi kriminal.

Aku tak bisa melepaskannya begitu saja.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tidak! Bodoh! Anna bodoh! Tindakan bodoh apa yang tadi aku lakukan! Mengapa aku menciumnya!? Bodoh! Ugh, bodoh! Mengapa aku mencium seorang—ah, pembunuh! Anna, dia pembunuh!

Tapi… dia memang begitu seksi. Bibirnya bahkan begitu lembut dan—argh! Tidak, hentikan fantasi bodohmu, Anna! Ingat bagaimana terkejutnya dia tadi karena tindakan lancangmu?

Benar, kupikir aku sudah melakukan kesalahan terbesar di kehidupanku karena setelah aku mencium Shadow dengan begitu lancang, dia sama sekali tidak berkata apa-apa. Bahkan saat aku meninggalkannya karena malu, dia juga tidak berkata apa-apa!

Ugh! Apa tidak sebaiknya kutenggelamkan saja diriku sekarang?

Tapi… apa tindakanku bisa berhasil mencegah kepergiannya? Mengingat saat aku kembali tadi Kyungsoo sudah tidak ada di tempat, artinya Kyungsoo memang benar-benar pergi. Dan membayangkan Shadow juga pergi seperti Kyungsoo, entah mengapa aku merasa benar-benar sedih karena—tunggu dulu.

Kyungsoo pergi. Shadow of The Dark juga pergi. Tidakkah timingnya terlalu kebetulan? Kyungsoo juga baru saja datang di sini, begitu pula dengan Shadow. Ada apa ini? Mana mungkin ada kebetulan seluar biasa ini di sudut kota yang sempit?

Apa mungkin… Kyungsoo itu… Shadow of The Dark!?

TIDAK!

Bodoh!

Jika benar dia adalah Kyungsoo, jadi tadi aku—argh! Bodoh sekali!

Tapi tunggu sebentar, dari opini yang sudah kukumpulkan selama beberapa hari ini. Orang yang menjadi tertuduh Shadow of The Dark adalah dua orang bukan manusia yang tinggal bersama dengan Julie.

Ah. Aku hampir saja lupa masalah penculikan Julie. Apa dia baik-baik saja? Berada di apertemen ini sendirian sekarang jadi sangat membosankan. Sungguh membosankan. Apa aku harus ke rumah itu lagi? Tidak, tidak. Aku ‘kan sudah memilih pergi sendiri.

Uang dari Jaein juga sudah kuambil. Dan harus ku kembali—ah! Aku harus mengembalikan uang mereka! Benar! Dan hal itu harus kulakukan dengan mengantarkan uang ini ke rumah mereka.

Ugh. Membayangkan rumah bernuansa kriminal itu saja aku sudah mual.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Mematung, jadi hal pertama yang aku lakukan saat aku sampai di tempat kriminal itu dak tidak kutemukan apapun yang janggal di sana. Maksudku, rumah itu sudah kembali! Padahal beberapa hari lalu saat aku hendak meninggalkannya, rumah itu sudah lenyap.

Apa Julie masih di sini? Apa dia baik-baik saja?

“Kenapa kau kembali?” aku berbalik saat kudengar sebuah tanya dari belakangku.

Dua orang bukan manusia itu sudah ada di belakangku, mengenakan seragam, membuatku teringat pada—tidak. Jangan pikirkan insiden itu lagi, Anna.

“Mengembalikan uang kalian.” ucapku singkat.

Salah satu dari dua pemuda itu—aku masih berusaha mengingat namanya—mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum samar.

Arraseo. Masuklah,” ucapnya, menjentikkan jarinya, dan aku bisa dengan jelas mendengar pintu di belakang kami terbuka.

Oh. Jadi karena mereka bukan manusia jadi mereka punya kemampuan ekstra di setiap organ tubuh mereka? Baguslah, setidaknya mereka bisa berguna walaupun bukan manusia.

“Kau tidak mau masuk?”

Entah karena aku terlalu lama melamun, atau mereka yang bisa bergerak lebih cepat daripada manusia biasa, tapi sekarang mereka sudah ada di ujung pintu.

Tunggu dulu. Shadow of The Dark juga bisa bergerak sangat cepat. Dan dia bisa menghilang! Ya. Benar. Beberapa kali dia melompat dari gedung dan lenyap begitu saja. Sangat mirip dengan mereka.

“Jangan menawariku untuk masuk, karena aku tidak mau masuk.” tolakku dengan tegas.

“Ah, kukira kau tadi penasaran pada keadaan Julie.” ucap salah satu dari dua pemuda bukan manusia itu.

Julie. Ia bicara soal Julie.

“Kalian masih menculiknya?” ucapku terbelalak.

“Kami tidak menculiknya, sudah kukatakan bahwa dia adalah orang yang kami kenal dan sekarang sedang berpura-pura lupa ‘kan?”

“Tapi hari itu—”

“Kau mantan wartawan yang terlalu banyak berpikir.” potongnya cepat membuatku merengut.

“Kalian itu dua kriminal bukan manusia yang seenaknya menculik orang lain. Tunggu saja sampai aku mengenali tempat ini dan bisa menemukan polisi.” kataku, kemudian aku sadar, bicara terlalu banyak pada mereka tidaklah baik untuk keselamatanku.

Jadi, aku segera melepas tasku, dan mengeluarkan amplop yang sudah berisi uang mereka. Aku melemparkan amplop itu ke arah mereka, dan dengan sigap salah satu pemuda itu menangkapnya.

“Bukannya berniat tidak sopan, tapi aku harus menjaga jarak dari kalian. Uangnya sudah ada di sana semua, lengkap tidak kurang satu lembar pun. Kalau begitu aku pergi dulu, urusan kita sudah selesai, sampai bertemu!”

Aku segera berbalik, melangkah cepat menjauhi rumah itu saat kemudian sebuah dehaman menghentikan langkahku.

Bukan, bukan dehamannya yang membuatku terhenti. Tapi bagaimana sekarang satu dari dua orang bukan manusia itu berdiri di hadapanku lah yang membuatku terhenti.

“Ada apa lagi?” tanyaku memberanikan diri.

“Kau sudah datang ke sini lagi, dan karena kau sudah tahu tentang kami, jadi kau tidak akan di lepaskan begitu saja.” ucapnya, dengan paksa dia mencekal lenganku dan—

—wah, luar biasa!

Mereka bisa membawaku ke dalam rumah itu dalam satu kedipan mata.

“Lepaskan aku!” aku dengan kuat memberontak. Dan benar saja, dia memang melepaskanku, sebab dia sudah mendapatkanku.

“Semua barangmu akan dipindahkan Kai ke dalam kamar kosong yang ada di lantai dua, kau boleh menempatinya, atau pilih saja kamar lain yang kau sukai. Ada banyak kamar kosong di rumah ini.”

Hah! Kalian pikir kalian siapa mau mengaturku!?” aku berkata dengan kesal, berusaha berlari ke pintu dalam jarak begitu jauh seperti ini adalah usaha yang sia-sia. Satu-satunya jalan ya hanya melawan dengan mulut.

“Kami dua orang bukan manusia. Kau sendiri yang memikirkan kami seperti itu. Sudahlah, tinggal saja di sini dengan tenang, gratis juga. Masih untung ada yang mau memberimu tempat tinggal gratis.” dengan nada sarkatis salah seorang dari mereka berkata.

Ugh! Tidak bisa kubendung keinginanku untuk melemparnya dengan menggunakan sepatu, atau koper. Kalau saja satu dari dua kemungkinan itu bisa kurealisasikan dan bisa melukainya.

Dia benar-benar menyebalkan!

“Sudahlah, mereka berdua memang selalu keras kepala seperti itu. Percuma juga berdebat melawan mereka, tak akan ada akhirnya.” atensiku segera beralih pada suara wanita yang terdengar.

“Julie!” pekikku terkejut melihat Julie tengah duduk dengan santai di sofa yang ada di ruang tengah rumah mengerikan ini.

“Panggil saja aku Injung, itu adalah namaku, Lee Injung.” ucap Julie, tersenyum padaku sebelum dia kemudian bangkit dan melangkah menghampiriku.

“Sehun memang senang berdebat dengan manusia, jadi jangan ladeni dia kalau kau tidak mau semakin kesal karena perkataannya. Aku juga terdesak, beberapa hari ini mereka memaksaku untuk mengakui identitasku. Kalian berdua sama sekali tidak berubah.” gerutu Julie—tidak, Injung, dia bilang namanya adalah Injung, bukan?—pada pemuda yang ternyata bernama Sehun itu.

“Kau juga sama saja, tidak berubah sama sekali.” sahut Sehun ringan.

“Kalian sudah tidak butuh penerjemah, dan aku juga tidak bilang pada siapapun jika kalian adalah dua orang bukan manusia. Lalu kenapa aku di sini?” tanyaku.

“Tidak ada. Cukup dengan tinggal disini, menemani Injung. Dia tidak suka jadi satu-satunya perempuan di sini.” ucap Sehun.

Aku menyernyit, menatap Injung dengan penuh pertanyaan sementara Injung sendiri tersenyum ramah.

“Bukan seperti itu. Aku tidak keberatan untuk jadi satu-satunya wanita. Tapi situasi di luar sana mungkin menyulitkanmu kalau ada yang tahu kau mengetahui tentang mereka, Anna. Ada baiknya kau tinggal di sini saja, jadi kami bisa membantumu jika saja sesuatu terjadi.”

Memangnya hal buruk apa yang akan terjadi? Ada lagi yang bisa lebih buruk daripada menghadapi Sehun dan kekonyolannya yang tak mau mengalah pada wanita?

“Jadi, kalian saling mengenal?” tanyaku hati-hati.

Injung memandang Sehun dan Kai sebentar.

“Sangat kenal.” jawab Injung membuat Sehun terkekeh, bukan tawa menyenangkan, tapi di telingaku tawanya terdengar menyimpan rasa sakit.

“Wah, maaf sekali karena memaksamu untuk ingat lagi pada masa lalu. Ada situasi yang tidak bisa ditolak di sini jadi kami terpaksa mengambil cara aman dengan mengumpulkan kita lagi.” ucap Sehun.

“Apa yang kalian bicarakan? Jika kalian saling mengenal lalu kenapa aku dilibatkan? Aku bahkan tidak tahu kalian sama sekali.” aku kemudian tersadar kalau aku tengah berada dalam situasi begitu aneh.

“Karena kau mengenal seseorang yang ada hubungannya dengan kami.”

Aku menoleh saat mendengar suara pemuda yang tadi membawaku berpindah ke dalam rumah.

“Aku mengenal seseorang, siapa?” tanyaku tak mengerti.

“Kyungsoo.” jawabnya.

“Kyungsoo? Dia masih hidup?” kudengar Injung bertanya, “Kai, jawab aku, apa Kyungsoo masih hidup? Apa dia baik-baik saja?” lagi-lagi Injung bertanya.

Aku sendiri menatap Kai dalam diam. Bagaimana bisa dia tahu kalau aku mengenal Kyungsoo? Apa dia mengikutiku atau sejenisnya? Kalau begitu, dia pasti tahu tentang dia, bukan?

Tapi Kai sepertinya hanya bicara tentang Kyungsoo saja.

“Mengapa tidak tanyakan saja pada Anna?” ucap Kai sebelum dia beranjak pergi meninggalkan aku, Injung, dan Sehun.

Mengapa harus ditanyakan padaku? Mereka yang saling mengenal satu sama lain, seharusnya mereka saja yang saling bertanya.

Well, kau ingat apa yang terjadi setelah perang itu? Saat Chanyeol, Baekhyun dan Kyungsoo meninggalkan kita, Injung?”

Injung terdiam saat mendengar pertanyaan itu lolos dari bibir Sehun.

“Aku tidak ingat.” ucapnya pelan.

“Ya. Kau hanya mengingat Luhan.” ucap Sehun, ada nada cemburu yang terdengar begitu kental dalam suaranya. Namun, kata-kata itu sanggup mengubah ekspresi Injung, dia sekarang terlihat begitu terluka.

“Kau masih sama seperti dulu…” ucap Injung pelan.

Kami tidak bisa berubah.” tandas Sehun.

Aku hanya bisa memandang bergiliran dua orang di depanku, jelas kulihat bagaimana Injung sekarang terluka, tapi Sehun juga tampaknya tidak mau mengalah.

Tapi lebih dari itu… aku tahu, mereka menyembunyikan masa lalu yang mengerikan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

Mendengar kata Luhan. Pemuda itu… Dia yang kedua kalinya mati karenaku. Terutama saat Sehun lah yang mengucapkan nama itu, entah kenapa hal itu menimbulkan luka baru lagi dalam batinku. Untuk apa selama ini aku berusaha melupakan mereka semua jika akhirnya aku harus kembali bertemu mereka dan mengingat Luhan?

Saat aku bahkan tidak bisa menemui Luhan lagi. Sosok yang sangat kurindukan selama beberapa tahun ini.

“Kau bisa ke kamarmu Anna,” ucap Sehun sambil beranjak pergi.

Ah. Ia pasti mendengar pikiranku.

Tapi, untuk apa aku membohongi diriku sendiri? Saat aku nyatanya kembali terluka ketika mengingat hal yang terjadi di malam itu…

Aku merindukan mereka semua. Aku rindu saat-saat aku bisa melindungi Kyungsoo dari anak-anak yang mengerjainya. Aku rindu saat-saat kaku yang tercipta di kelas. Aku rindu Ahri. Sejak kejadian itu aku bahkan tidak bisa bertemu Ahri.

Aku rindu Baekhyun, setidaknya dia orang pertama yang membuatku tahu tentang keberadaan mereka. Aku rindu Incheon, makam Appaku. Disana juga ada makam orang tua Baekhyun dan adiknya, yang fisik dan namanya sama denganku, Injung.

Alasan kedekatan Baekhyun dan Kyungsoo. Alasan permusuhan mereka berdua dengan Jongdae dan Xiumin. Semuanya… semuanya yang saling berkaitan.

Bahkan diam-diam aku merasa rindu pada Chanyeol. Dia VPGN pertama yang kukenal. Dia dan Ahri lah yang pertama kali muncul dalam hidupku dan merubah hidupku jadi seperti ini.

Kekakuan mereka dengan Sehun dan Kai… Kekakuan antara Sehun dan Ahri… Pembicaraan mereka yang dulu kucuri dengar… Dan yang sampai sekarang masih kupertanyakan… untuk siapa hatiku bicara?

Aku tidak ingin kehilangan Sehun, untuk saat itu, dan sangat tidak ingin ia terluka. Bukan berarti sekarang aku tidak menginginkan hal itu. Melihat Sehun lagi, setelah kejadian itu, membangkitkan euforia kebahagiaan sekaligus kesedihan aneh dalam hatiku.

Kesedihan karena nyatanya aku kehilangan Luhan.

Sosok yang sudah kukenal sejak aku kecil. Yang selalu aku tunggu. Sosok yang tidak bisa kutolak. Perasaan yang sama muncul ketika aku memikirkan Luhan.

Kebahagiaan? Kenapa aku merasa bahagia? Karena setidaknya ia pergi… sebagai Luhan yang aku kenal. Luhan yang tidak membunuh temanku…

Walaupun pada akhirnya ia terbunuh.

Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa Luhan tidak menyerang Sehun. Kenapa ia sama sekali tidak melukai yang lainnya. Kenapa dia menjadi Luhan yang kukenal di perang itu? Bukankah itu artinya ia berkhianat pada teman-temannya?

Pertanyaan yang tidak akan pernah kudapatkan jawabannya.

Pada siapa aku harus bertanya saat Luhan sudah tidak ada lagi di dunia ini? Hah… sekarang mengingatnya berhasil membuatku merasa sedih. Sangat sedih.

Dan juga, selama beberapa hari ini aku berusaha menuntut penjelasan dari Sehun tentang kenapa ia membawaku kembali ke sini, tapi ia tidak menjawabku, dan membuatku semakin tenggelam dalam rasa penasaran.

Juga kenapa ia membawa Anna ke sini, hanya dengan alasan bahwa Anna mengenal Kyungsoo? Apa gadis itu juga tahu hal lain?

“Pikiranmu selalu berisik.”

Aku terkejut bukan main saat mendengar suara Kai. Anna sendiri masih berdiri di tempat yang sama, menatap kami berdua bergiliran seolah aku dan Kai adalah opera sabun yang pantas ditonton.

“Itu karena kalian sama sekali tidak pernah menjawabku.” ucapku pada Kai.

Kai tertawa pelan, lalu ia memandang arah lain, tampak berpikir.

“Sangat mudah menemukanmu.”

“Apa?”

Mengapa dia mengalihkan pembicaraan kami dengan begitu mudahnya?

“Ya. Sangat mudah bagiku dan Sehun untuk menemukanmu.”

“Bagaimana dengan Ahri?” tanyaku.

“Sama saja. Aku dan Sehun hanya belum membawanya ke tempat ini.” ucap Kai.

“Bagaimana keadaan Ahri? Dia baik-baik saja?”

“Ya. Ahri baik-baik saja. Dan dia tinggal di Incheon, jadi sangat mudah menemukannya. Terutama karena penampilan Ahri masih sama seperti dulu.”

“Memangnya aku tidak?” ucapku memandangnya, ucapannya seolah mengatakan bahwa aku tidak seperti dulu.

“Tidak, tidak. Aku tidak berkata begitu. Kau masih berambut pendek, dan wajahmu terlihat umm, jahat? Seperti dulu. Hanya saja karena kau tidak tinggal di Korea, sedikit sulit meyakinkan jika Julie itu benar-benar kau. Ah, bagaimana kau bisa bertemu Evelin?”

“Aku sudah lupa. Aku hidup berpindah-pindah sejak kejadian itu. Oh, kenapa kalian membawa Anna?” tanyaku, kali ini benar-benar mempertanyakan alasan Anna dibawa ke tempat ini.

Tidakkah Sehun dan Kai mempertimbangkan bagaimana berbahayanya situasi Anna sekarang?

“Sehun bilang karena Anna tidak punya tempat tujuan tetap disini, dan karena Anna pernah tinggal di Venezuela.” ucap Kai.

“Oh. Ya. Aku pernah bertemu dengannya disana. Dan dia menjadi sandera dari pembunuh terkenal di Venezuela.” ucapku, teringat dengan kejadian munculnya sosok aneh bertopeng yang mengatakan bahwa ia mengenalku.

“Sandera?” Kai kini memandangku kaget.

“Ya. Kau adalah news finder, bukan Anna?” tanyaku melibatkan Anna dalam konversasi kami.

“Ah, ya, aku bekerja untuk surat kabar di Venezuela. Dan malam itu, memang aku sedang secara tidak sengaja mengikuti sosok yang mencurigakan, lalu berakhir menjadi sandera pembunuh itu selama beberapa menit.” tutur Anna.

“Wah, kau dan Injung rupanya punya kesamaan. Injung juga seorang yang pintar sepertimu, Anna.” kata Kai sambil menyunggingkan sebuah senyum.

“Ah, terima kasih…” ucap Anna, dia setidaknya bisa sedikit tersenyum sekarang.

“Apa perkataan pintar untukku adalah sebuah sindiran?” tanyaku.

“Kau juga pintar. Jika kau tidak pintar, mungkin dulu tidak akan ada satupun dari kami yang sadar jika Lu—”

“Jangan mengungkit masalah itu lagi.” potongku cepat.

Kai tersenyum samar.

“Aku mengerti.” ucapnya sambil kemudian berbalik menatap Anna, membuatku menyernyit.

“Katakan saja, Anna. Aku tahu kau tahu aku mendengarnya.” ucap Kai membuatku tersadar jika sedari tadi Anna pasti bergelut dengan pikirannya, ingin mengutarakan pendapatnya tapi tidak berani.

“Apa… aku diperbolehkan keluar?” tanya Anna hati-hati.

Aku belum mengenal Anna. Dan melihat caranya bertindak kali ini, aku yakin Anna adalah orang yang pintar. Meski dia bicara seperti ini, sekarang aku tahu dia tengah berusaha menghindari situasi dimana dirinya bisa saja terlibat dan tahu terlalu banyak tentang kami.

“Kau akan pergi kemana?” tanya Kai.

“Aku tidak akan kabur, sungguh. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja.” ucap Anna membuat Kai tersenyum kecil, dan akhirnya mengangguk.

“Tentu saja boleh, Anna. Kau tidak perlu khawatir, ancaman Sehun tadi hanya candaan saja. Berhati-hatilah di luar sana, mengerti?” pesan Kai.

“Baiklah. Terima kasih!” ucap Anna, tersenyum cerah sebelum dia akhirnya melambai kecil pada kami berdua dan melangkah pergi.

“Jangan kembali terlalu larut, Anna.”

“Aku tahu!” sahut Anna sambil keluar dari pintu.

Sejenak, aku dan Kai sama-sama memperhatikan bagaimana kekanakkannya sikap Anna. Meski dikatakan bahwa dia pernah tinggal di Venezuela yang begitu keras, tapi dia tetap saja menyimpan jiwa kekanakkan yang sangat kental.

“Bagaimana kau menebak kalau dia ingin pergi keluar?” tanyaku pada Kai.

“Pikiran Anna lebih blak-blakkan darimu.” ucap Kai saat ia berbalik menatapku.

“Maksudmu?”

“Anna selalu melakukan dan mengatakan apa yang ada di pikirannya. Kurasa kemampuan mendengar pikiran tidak akan berguna pada Anna.”

“Itukah kenapa kau langsung mengizinkannya?” tanyaku.

“Ya. Karena sejak tadi pikirannya begitu berisik ingin keluar dan berjalan-jalan. Dan dia mengutarakannya. Tidak sepertimu yang pintar menyembunyikan pikiran.” ucap Kai meledekku.

Hey!”

“Aku hanya bercanda. Ah, apa kau mau ikut mencari Kyungsoo?” tanya Kai.

“Apa kalian mau mencari Kyungsoo?”

Kai dan aku sama-sama menoleh ke arah Anna yang berdiri tak jauh dari tempat kami berada sekarang. Dia rupanya baru saja melangkah masuk ke dalam rumah saat kami bicara. Bagaimana bisa dia bergerak tanpa bersuara?

“Ya, Anna. Kenapa? Oh, kau melupakan tasmu ya?” kata Kai, bergerak meraih ransel yang tadi Anna hempaskan ke lantai karena kesal, dan mengulurkannya pada gadis belia itu.

Tentu saja, bisa kutebak kalau Kai sudah tahu benar Anna akan kembali untuk mengambil tasnya.

“Hmm, ya, aku terlalu tergesa-gesa sampai lupa membawanya. Oh, bicara soal Kyungsoo, kudengar dia akan pindah ke Bukcheon. Kalau kau berencana mencarinya. Sudah ya, sampai jumpa!” Anna lekas melangkah pergi lagi setelah dia bicara begitu.

Lagi-lagi, kuperhatikan bagaimana Kai memperhatikan Anna sekarang. Dia bahkan sempat tertawa saat melihat tindakan Anna.

“Dia benar-benar terlalu polos untuk ukuran gadis yang pernah tinggal di Venezuela.” ucap Kai.

“Kau bicara apa?” tanyaku.

“Aku kira dia akan jadi sepertimu, atau Ahri. Tapi Anna sama sekali tidak tertarik untuk ikut campur urusan kita, kurasa dia tahu jika dia bukan bagian dari kita.” ucap Kai.

“Apa kau menganggapnya bukan bagian dari kita? Kalian sudah melibatkannya dalam permasalahan seperti ini.” ucapku kesal.

“Aku tidak bicara begitu. Pikiran Anna yang bicara seperti itu. Itulah kenapa dia sama sekali tidak ingin menawarkan diri untuk ikut mencari Kyungsoo, atau mengikuti kita secara diam-diam. Anna merasa dirinya bukan bagian dari kita.” ucap Kai.

Aku menyernyit. Jarang sekali menemukan orang yang tidak dipenuhi rasa penasaran atas urusan orang lain.

“Berapa usianya?” tanyaku.

“20 tahun.” ucap Kai.

“20 tahun?!”

“Ya. Dia masih sangat kecil untuk ikut campur di urusan ini.” ucap Kai.

“Kau tidak menghitung Ahri di saat itu?” sindirku. Mengingatkan Kai pada kehidupan mengerikan yang pernah terjadi pada kami bertahun-tahun yang lalu.

Kai tergelak.

“Tidak perlu menyindir seperti itu, aku tidak berpikir jika—”

Aku memandang Kai saat ia terhenti secara tiba-tiba dari kalimatnya.

“Ada apa?” tanyaku

“Gawat. Anna dalam bahaya.”

Aku tidak pernah tahu jika gadis bernama Anna itu bisa terlibat dalam bahaya secepat ini. Maksudku, kenapa harus di saat seperti ini, saat ia baru datang dan—

“Jangan ikuti aku.” ucap Kai sambil melangkah ke arah pintu.

Dan kapan aku pernah mendengar larangan dari mereka?

Tentu saja aku mengikuti Kai, saat ia keluar dari pintu rumah. Aku tertegun saat Kai menghela nafas lega, dia bahkan hanya mengawasi Anna yang nyatanya masih berdiri di halte.

“Bahaya apa?” tanyaku pada Kai.

“Aku tadi mendengar pikiran seseorang dan ingin mencopet dompetnya. Kurasa orang itu sudah pergi.” ucap Kai membuatku memandangnya.

Bahaya seperti ini yang Kai bicarakan?

“Kau tertarik padanya?” tanyaku pada Kai.

“Apa maksudmu?” Kai memandangku bingung.

“Kau sangat peduli padanya padahal baru bertemu dengannya beberapa kali. Kau suka padanya?” tanyaku membuat Kai tersenyum samar.

Ia memandang ke arah Anna yang sekarang melangkah naik ke dalam bus.

“Anna sangat mirip dengan ibunya… Membuatku mau tidak mau merasa bahwa ia dan ibunya adalah satu orang yang sama.” ucap Kai membuatku menyernyit bingung. Tapi di satu titik, kulihat kesinambungan yang membuat Anna terlibat dengan kami.

“Jadi itu alasan yang membuat Anna ia ada di sini?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Anna’s Eyes…

Aku masih berada dalam tahap ketidak percayaan saat tahu bahwa Julie, oh, tidak, namanya adalah Injung nyatanya sudah hidup dengan santai dan berbaur dengan dua orang bukan manusia itu.

Sekarang aku terpaksa harus terjebak di rumah aneh yang mungkin bisa menghilang ini, bersama tiga orang yang saling mengenal satu sama lain tapi tidak kukenal. Aku merasa aku benar-benar bukan bagian dari mereka.

Dan aku seharusnya tidak ada disini dengan mereka.

Aku seharusnya hidup sendiri, dengan caraku sendiri. Kenapa aku ada disini? Kenapa mereka tidak mengizinkanku pergi?

Apa hanya karena alasan bahwa aku tahu tentang mereka yang sebenarnya? Tidak mungkin. Mereka bukan manusia, dan pasti ada cara-cara di luar akal sehat manusia yang bisa membuat ku lupa tentang mereka. Iya kan?

“Bagaimana dengan Ahri?”

“Sama saja. Aku dan Sehun hanya belum membawanya ke tempat ini.” ucap Kai.

“Bagaimana keadaan Ahri? Dia baik-baik saja?”

“Ya. Ahri baik-baik saja. Dan dia tinggal di Incheon, jadi sangat mudah menemukannya. Terutama karena penampilan Ahri masih sama seperti dulu.”

Aku kembali menyadarkan diriku, bahwa sejak tadi aku masih berdiri di tempat yang sama, menjadi pendengar dari pembicaraan tiga orang yang sama. Dan aku masih juga tidak mengerti.

“Memangnya aku tidak?”

“Tidak, tidak. Aku tidak berkata begitu. Kau masih berambut pendek, dan wajahmu terlihat umm, jahat? Seperti dulu. Hanya saja karena kau tidak tinggal di Korea, sedikit sulit meyakinkan jika Julie itu benar-benar kau. Ah, bagaimana kau bisa bertemu Evelin?”

“Aku sudah lupa. Aku hidup berpindah-pindah sejak kejadian itu. Oh, kenapa kalian membawa Anna?”

Akhirnya, seseorang menyadari kehadiranku di sini.

“Sehun bilang karena Anna tidak punya tempat tujuan tetap disini, dan karena Anna pernah tinggal di Venezuela.”

“Oh. Ya. Aku pernah bertemu dengannya disana. Dan dia menjadi sandera dari pembunuh terkenal di Venezuela.”

“Sandera?”

“Ya. Kau adalah news finder, bukan Anna?”

Aku mengangguk kecil. Setidaknya ada yang bisa kuceritakan tentang diriku. Selain berdiri terlongo di sini sebagai orang yang tidak tahu apa-apa.

“Ah, ya, aku bekerja untuk surat kabar di Venezuela. Dan malam itu, memang aku sedang secara tidak sengaja mengikuti sosok yang mencurigakan, lalu berakhir menjadi sandera pembunuh itu selama beberapa menit.”

“Wah, kau dan Injung rupanya punya kesamaan. Injung juga seorang yang pintar sepertimu, Anna.”

Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya.

“Ah, terima kasih…”

Setidaknya aku harus menjaga sopan santun. Apa seperti ini rasanya berada di tempat yang tidak seharusnya ditempati? Seperti situasiku sekarang? Aku bahkan merasa begitu bersakah karena harus mendengar apa yang mereka ceritakan sementara aku tidak tahu apa-apa.

“Apa perkataan pintar untukku adalah sebuah sindiran?”

“Kau juga pintar. Jika kau tidak pintar, mungkin dulu tidak akan ada satupun dari kami yang sadar jika Lu—”

“Jangan mengungkit masalah itu lagi.”

“Aku mengerti.”

Kai mengerti. Tapi aku tidak mengerti. Dan tidak tertarik untuk mengerti tentang apa yang mereka bicarakan. Aku hanya butuh bicara dengan Kai, dan mengatakan bahwa aku mau keluar dan berjalan-jalan, lalu aku bisa berjalan-jalan di luar dengan bebas. Itu saja.

Tapi mereka tampak nya sedang bicara sangat pribadi dan penting. Astaga. Dan apa yang aku lakukan sekarang? Ugh, aku ingin berjalan-jalan saja di luar daripada harus terjebak seperti ini terus. Apa Kai akan memperbolehkanku? Bagaimana aku harus mengatakannya?

“Katakan saja, Anna. Aku tahu kau tahu aku mendengarnya.” aku tersentak saat tiba-tiba saja Kai bicara.

Ah, dia mendengar pikiranku, bukan?

“Apa… aku diperbolehkan keluar?” tanyaku hati-hati.

“Kau akan pergi kemana?”

“Aku tidak akan kabur, sungguh. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja.” ucapku akhirnya dijawab Kai dengan sebuah senyuman kecil

“Tentu saja boleh, Anna. Kau tidak perlu khawatir, ancaman Sehun tadi hanya candaan saja. Berhati-hatilah di luar sana, mengerti?” kata Kai.

“Baiklah. Terima kasih!” akhirnya!

Aku kemudian melangkah ke arah pintu, setidaknya berjalan-jalan di luar bisa membuatku sedikit menenangkan pikiranku dari ketidak mengertian di sini.

“Jangan kembali terlalu larut, Anna.”

“Aku tahu!” kataku menyahuti ucapan Kai sebelum aku keluar dari rumah.

Aku sudah akan berlari ke halte bus saat aku sadar aku hanya membawa diriku saja saat keluar rumah tadi. Bagaimana dengan barang-barangku, uang dan—ugh, aku harus kembali. Tasku masih ada di ruang tengah tempat aku tadi berdiri.

Hey!” aku menyernyit saat kudengar bentakan Injung.

“Aku hanya bercanda. Ah, apa kau mau ikut mencari Kyungsoo?” tanya Kai.

Oh, mereka bicara tentang Kyungsoo sekarang?

“Apa kalian mau mencari Kyungsoo?” tanyaku. Mungkin saja aku bisa membantu, sedikit, walaupun tidak berarti aku terlibat dengan mereka.

Karena tempat ini bukan tempatku, dan aku bukan bagian dari mereka. Akan terlihat konyol kalau aku memaksakan diri untuk ikut mencari Kyungsoo, bukan?

“Ya, Anna. Kenapa? Oh, kau melupakan tasmu ya?” kata Kai, ia kemudian mengambilkan ranselku sementara aku masih berdiri di ujung pintu.

“Hmm, ya, aku terlalu tergesa-gesa sampai lupa membawanya. Oh, bicara soal Kyungsoo, kudengar dia akan pindah ke Bukcheon. Kalau kau berencana mencarinya. Sudah ya, sampai jumpa!”

Lekas aku meraih ransel yang Kai ulurkan padaku, sebelum aku kembali melangkah ke luar rumah. Khawatir jika saja mereka mempertanyakan tujuanku memberitahukan semua itu pada mereka padahal aku hanya orang asing.

Aku kemudian segera melangkah ke halte bus, menunggu bus yang datangnya sangat lama, ugh. Heran sekali kenapa pemberhentian di sini harus begitu lama, semoga saja hari ini bus nya tidak datang terlalu lama, aku malas menunggu berlama-lama di sini.

Aku begitu mudah merasa paranoid. Terutama di saat-saat seperti ini, ketika ada seorang dengan wajah kriminal yang duduk tidak jauh dariku. Mengingat aku sudah meliput banyak berita kriminalitas, aku bisa dengan mudah menuduhkan status kriminal pada seseorang hanya dengan melihat wajahnya.

Kriminalitas yang jauh lebih kejam ada di Venezuela, bukan?

Aku menghembuskan nafas lega saat pemuda berwajah kriminal itu ditarik pergi oleh dua orang yang mungkin temannya. Setidaknya ia akan berada sedikit jauh dariku.

Tidak lama menunggu, sebuah bus tampak di ujung jalan. Ah. Untunglah. Aku tidak harus menunggu terlalu lama.

Aku segera naik ke dalam bus sesaat setelah bus itu berhenti di depan halte. Aku memandang ke arah jamku. Jam 1. Kurasa di jam ini bus akan datang. Lain kali aku bisa menghitung jam datangnya bus ini.

Aku duduk di bangku belakang bus. Memandang segelintir orang yang naik bersamaku. Ingatanku kembali berputar ke saat pertama aku tahu Shadow of The Dark ada di tempat ini.

Bukankah ia sudah pergi? Apa ia benar-benar pergi? Ah…

Entah kenapa diam-diam aku merasa sedih karena hal itu.

Karena ia tidak ada di sini lagi dan kembali meninggalkanku dengan pertanyaan di dalam pikiran? Mungkin.

Bus berhenti di pemberhentian pertama. Dan tatapanku terhenti saat segerombolan anak kecil masuk ke dalam bus, dengan didampingi seorang wanita paruh baya.

Dari penampilan anak-anak kecil ini, kurasa mereka dari panti asuhan. Mereka duduk berdesak-desakan di bagian belakang bus, dan beberapa anak kecil itu bahkan duduk di dekatku.

Aku melemparkan pandanganku ke arah anak kecil yang duduk di sampingku. Ia tampak memegang sebuah foto, dan hatiku tergores saat aku melihat ekspresi sedihnya.

“Kau baik-baik saja, adik kecil?” tanyaku hati-hati

Anak kecil ini mendongak, membuatku bisa melihat jelas matanya yang masih sembap.

“Aku rindu Eomma dan Appa…” isaknya pelan.

AigooUljima…” ucapku sambil mengusap wajahnya.

Eomma dan Appa ada di rumah sakit, ditutupi kain. Aku ingin mereka pulang…”

Apa yang anak ini bicarakan? Apa… orang tuanya baru saja meninggal? Dan ia… ingin Eomma dan Appanya pulang?

Aku mengalihkan pandanganku, berusaha untuk tidak merasa sesak karena membayangkan kesedihan yang dirasakan anak ini saat aku dikejutkan oleh tindakan seseorang yang tadinya duduk di sebelah kananku—karena anak-anak itu ada di sisi kiriku aku sampai tidak sadar kalau sejak tadi di sisi kananku ada orang lain!—dan sontak aku menoleh kaget saat ia berdiri, memaksaku bergeser ke pojok bus tempat tadi ia duduk dan—

Tunggu.

“S-Shadow?” aku memandang tak percaya saat nyatanya dia memang sosok yang sama dengan yang baru saja kupikirkan dan baru saja kuduga-duga kemana perginya! Bagaimana bisa dunia jadi sesempit ini?

“Berbicara dengan anak kecil saja kau tidak bisa, Anna. Heran, bagaimana bisa kau bicara begitu banyak pada kriminal-kriminal di luar sana.”

Dia ada di sini. Shadow of The Dark ada di sini. Dia tidak pergi. Dan mengapa aku merasa begitu senang?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Akhirnya, chapter ini selesai, dan fanfiksi sebelah buat dipost besok juga selesai. Alhamdulillah. Jari ini udah kram dan ngilu sejak satu jam yang lalu. Terlalu kupaksain buat ngetik nonstop kali, ya… abisnya hari ini aku begitu bersemangat buat ngetik, huhu.

Mana akibat sakit, mau makan enggak enak banget rasanyo. Akhirnya jam segini lapar menyerang… sedih kan ya.

Tapi enggak apa, setelah hutang fanfiksi buat minggu ini selesai, artinya aku punya waktu buat tidur sepuasnya di hari minggu! Ha-ha!

Btw, ini draftnya Gidaryeo udah sampe chapter 13, tapi kenapa belum sampe puncak cerita juga di draft itu ;~~~; ya Lord… tulung hamba-Mu ini…

Ya udahlah, daku mau berlama-lama tidur dulu karena ini hari minggu, hoho!

See you around!

Salam, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

29 tanggapan untuk “GIDARYEO – 7th Page — IRISH’s Tale”

  1. Wah injung nongol disini ❤ kangen sama dia xD dan dia msh blum lupain luhan T.T jg kangen luhan masa ;"v
    ah jgn baper dulu, ini msh ch7 xD next ka rish ❤

  2. yayyyyyyyyy sehun-injung Sorak sorak bergembia,,, gak sabar pingin injung ketemu sama kyungsoo,, kenapa baca chap 7 ini aq jadi berubah pikiran lagi klo sotd bukan avg tapi bisa jadi vpgn ???? siapa ibu anna sampai membekas di ingatan kai ??

  3. Aku prtma kali baca fanfiction itu Kajima bner” kyk aku itu msuk d dlm crta itu, dan skrg Gidaryeo bkin aku ngrekam” crta kajima yg lupa” ingat dri dialog antar castnya bkin aku mikir kyk gmn ya kalo EXO bner” bkin drama dgn crta dri Kajima dan Gidaryeo ini. Psti daebak bgt..
    Kak Irish ngajuin proposan ke SMent biar di jadiin drama😉😉

    1. XD alhamdulillah kalo emang cerita Kajima masih berbekas, dan maaf banget karena cerita Gidaryeo ini harus mangkrak begitu lama dalem folder, insya Allah kalo enggak ada halangan dia bakal lebih teratur updatenya kok ~~ makasih yaaa XD
      jangan jangan ~ drama kayak begini terlalu nistah

  4. Julie bkn amnesia tp cm pura2 lupa ja? In denial gt si injung? Tp kan ada part yg kpn tu, yg injung sm sehun di kmr 😕 tetiba injung blk, msh ngrasa sdkt janggal ja. anna bkn ahri? Sp ibu’ny anna yg di mksd kai brsn? 누구?? Dah nbak sih anna bkl ngkiss shadow dmi ga ditinggalin. Trus yg kmrn 찬열 tetiba nongol di klas d.o tu, bkn’ny 찬 itu bos’ny anna di venezuela kan, sp tu nm’ny? Prnh gt di awal2 gidaryeo yg irish jlsn para cast’ny tu, am I berhalusinasi?? 😰 Tersesat krn terlalu lama di tinggal gidaryeo?! @1st terduga kuat si shadow tu luhan cz ga rela doi gone too soon & ga dpt happiness sm 1x di crita kajima. 2nd terduga kuat si shadow tu 백 cz irish sk ksh pran yg ultimate keren bwt si 백 /alasan hoples tp liat kai brsn sgitu pratian’ny ke anna, apa dy shadow? Dy kan plng glap literally 😅 미안 kai 😋

    1. XD cuma pura2 lupa aja kok kak Nin XD wkwkwkwkwkwkw dia kan engga mau terlibat sama Sehun dkk lagi ini ceritanya XD wkwkwkwkwk
      wah, kemunculan mereka ini masih jadi misteri yang nanti bakal diungkap sama Injung dong kak, kayak biasa XD wkwkwkwkwkwkw
      spekulasi tentang shadow pun semakin banyak dan banyak XD

  5. masih penasaran shadow itu yg jadi siapa… kandidat ulung pertama itu sehun, trus berubah chanyeol, trus berubah lg kai.. tpi kek kurang cocok smua.. pada akhirnya aku gk bisa bayangin yg jadi siapa.. huaaaaaa..
    aku menikmati kepenasaranku aja lah..kkkk

  6. Huaa.. keren.. maaf baru komentar, karena aku baru baca gidaryo.. baca ulang dari awal karena terlalu lama nggak update nya.. Hehehe.. di tunggu next chap nya.. penasaran sama siapa sebenarnya shadow..

  7. Maaf banget kak baru bisa komen di chapter ini. Awalnya aku nggak tertarik baca ff yang main cast nya bukan bias aku. Eh malah keterusan bacanya dan bikin penasaran.
    Sekali lagi maaf ya baru ninggalin jejak.

  8. Waaaa omaigatt omaigat,,,lahaula anna main nyosor aja wkwkk,, shadow Astaghfirullah….. ku deg deg an mulu baca part elu wkwkw

    Curiga kai suka juga sama anna waaa poteq dedeq mazz /plak
    Yay sehun injung balikk😚😚😚

    Ditunggu chap selanjutnya kakak❤❤😚😚😚😚😚

    1. astagfirullah, aku jadi segera ambil wudhu begitu ada yang nyebut lahaulawalakuwataillabillahi ini… XD wkwkwkwkw jangan deg2an ah, bagian deg2annya masih ada yang lain XD

  9. Shadow gak jadi pergi dan dia masih aja didekat anna, itu berarti dia gak bisa jauh dari anna. Kai sama sehun bawa anna kerumahnya pasti ada yang mereka rencankan. Ditunggu next chapternya aja lh

  10. Yey itu injung udh mencungull akhirnyaa.. Skalian flashback sma cerita kajima..
    1 aja pertanyaannya si shadow ini memb exo apa bukan sih? Aku mikirny itu luhan, tapi luhan udh mati,, apa baekhyun? Apa suho? Ah gatauu ditunggu aja kelanjutan nya, fighting kak irishh!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s