[Chaptered] Feel So Fine (2nd Chap) | by L.Kyo

IMG_20170321_225933

Title: Feel So Fine | Author: L.Kyo | Artworker: bangsvt@PosterChannel | | Cast: Shin Gaeun (OC/YOU), Park Chanyeol (EXO), Oh Sehun (EXO), Son Eunseo (WJSN) | Support Cast: Son Wendy (Red Velvet), Do Kyungsoo (EXO) | Genre: Fluff,  Romance  | Rating: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiriaze or copy without my permission.

.

.

[ http://agathairene.wordpress.com/ ]

.

.

Collage 2017-03-25 00_00_03

Prev:: [1st Chap]

HAPPY READING

.

.

Beruntungnya Gaeun tak seruangan dengan Sehun. Beruntung lagi jika tidak ada yang tahu hubungan masa lalu Gaeun dengan Sehun. Ia bisa bekerja dengan tenang jika tidak ada seseorang yang tahu. Gaeun bukannya percaya diri karena ia adalah seorang mantan dari Oh Sehun. Tapi jika ingat jaman masa perkuliahan mereka dulu, sungguh Gaeun rasanya mual.

 

Karenanya banyak sekali mahasiswa lain yang membencinya tanpa alasan. Tiba-tiba mengumpatinya saat menemui di jalan. Atau ketahuan sedang berbisik menatap Gaeun sinis. Karena saat itu ia berstatus sebagai kekasih Sehun. Dan ia tidak mau kejadian itu terulang lagi. Hidupnya sudah kelabu dan ia tidak ingin mengubahnya menjadi hitam yang menjengkelkan.

 

“Kau tidak makan siang?” Wendy menepuk Gaeun yang duduk di kursinya. Gaeun tampak tak berselera. “Aku tidak lapar”. Gaeun meletakkan bolpoinnya. Wendy merengut,  merasa jenuh teman satu-satunya selalu saja menolak untuk makan siang. “Kau tidak mau lagi? Apa kau sama sekali tidak pusing? Ayolah! Ada apa dengan mood mu itu?”

 

Wendy menarik lengan Gaeun sekuat tenaga.  “Ya! Wendy-ya!” Gaeun menghentakkan tangan Wendy, namun sahabatnya itu bukan marah melainkan tersenyum  tipis. “Aku tahu kau ada masalah, aku tidak memaksamu untuk menceritakannya. Tapi aku tahu, dengan membawamu keluar dari meja kerja membosankan ini, pikiranmu akan kembali segar. Percayalah padaku!”

 

Gaeun terdiam, merasa bersalah karena sudah membuat Wendy kerepotan karena mood nya selalu saja tak baik. Gaeun menghela nafas dan memandang mata sahabatnya sayu. “Aku tahu. Maafkan aku! Baiklah, ayo kita makan siang!” Gaeun menggandeng tangan Wendy yang masih merengut menatapnya.

 

“Ya! Aku sudah minta maaf. Maafkan aku”. Protes Gaeun, dan pada akhirnya Wendy tersenyum. “Awas jika kau memasang wajah kaku seperti tadi, aku tidak akan segan untuk memukulmu eun”. Gaeun mengikuti arah kaki Wendy, karena ia selama seminggu bekerja sama sekali belum ke kantin.

 

Pasalnya ia selalu membawa bekal dari rumah, atau memaksa Wendy untuk makan siang di luar. Karena alasan yang sama, karena ia berharap tak bertemu dengan Sehun. Menjijikkan memang karena ia tetap saja tidak bisa move on.Lelaki itu jutaan dan kenapa ia masih terpaku pada Sehun. Lagipula seorang Oh Sehun mana level sih sama kantin kantor? Makanan yang isinya begitu saja.

 

Jadi tidak alasan lagi untuk tidak makan siang sekarang. Sesampai mereka di sana, sudah banyak karyawan yang mengambil makanan  mereka. Mulanya Gaeun ragu, bola matanya masih sibuk menelusuri ruangan kantin yang terbilang cukup luas. Wendy yang menggandeng tangan Gaeun mulai terhenti karena Gaeun menghentikan langkahnya.

 

“Ada apa? Kau tidak phobia keramaian bukan?’ Tanya Wendy sedikit kesal. Gaeun kelabakan, menatap Wendy sedikit gugup. “Aku hanya sedikit terkejut dengan suasana disini, aku rasa ini tidak kalah bagus”. Gaeun tersenyum tipis, namun Wendy mengernyitkan dahinya. “Setelah makan siang, aku ingin bertanya banyak hal padamu. Jangan mencoba membohongiku lagi, oke?”

 

Gaeun menelan saliva nya. Wendy itu memang punya sifat peka dan ia tidak akan mudah untuk dibohongi. “Memang apa yang harus aku ceritakan?” Namun pertanyaan Gaeun justru disambut dengan pelototan maut sahabatnya. “Cukup aku bilang. Kita akan bicara serius setelah makan siang. Ayo! Angkat kakimu dan cepat ikuti aku!”

 

Gaeun menghela nafas dan mengikuti langkah Wendy di belakangnya. Tapi, “Oh? Hei kau!” Suara pria yang entah datang darimana membuat Gaeun menghentikan langkah, karena ia merasa suara itu tertuju padanya. Gaeun menelusuri ruangan dan Wendy menepuk pundaknya, menunjuk seseorang yang benar memanggilnya.

 

Dan terkejutlah Gaeun saat itu. Ia segera melepas genggaman tangan Wendy. Menatap lelaki itu dengan pelototan super lebarnya. “Ya! Itu kau! Kau bekerja disini eun?” Pria itu berjalan mendekatinya sembari membawa nampan makanan yang sudah habis.

 

Ini tidak bagus, sangat tidak bagus. Gaeun mendekati Wendy dan berbisik. “Wendy-ya, aku ingin ke kamar mandi sebentar”. Raut wajah Gaeun jelas tak suka, sungguh tak suka. Wendy mengangguk dan meninggalkan Gaeun yang mau saja melarikan diri. Namun tangan pria itu sudah menggapai lengannya.

 

Ya! Kenapa kau pergi? Kau tidak menyapa sunbae mu ini?” Do Kyungsoo. Pria berperawakan kecil itu tersenyum padanya. Gaeun beku. Karena sungguh ia tidak ingin berurusan dengan pria ini untuk kesekian kalinya. Pasalnya, dibalik wajah misterius dan tenangnya, pria ini begitu licik. Ia pintar bermain lidah yang begitu meyakinkan, sampai Gaeun menyesal mengungkap rahasia terpendamnya.

 

“Kau ke sini karena Oh Sehun? Kau masih bersamanya atau tidak?” Deg! Gaeun menatap ke sekitar, menatap Wendy yang mulai membuka mulutnya lebar. Dan sebuah rahasia telah terungkap. Bukan Wendy saja, orang lain yang tak jauh dari pembicaraan mereka seakan mengalami pemberhentian waktu. Gaeun menatap Kyungsoo, yang tak lain adalah sunbae nya saat di Universitasnya.

 

“Sehun? Gadis itu pernah bersama Sehun?”

“Kyungsoo serius apa tidak sih?”

“Tidak mungkin kan dia bersama Sehun? Lelucon apa ini?”

 

Gaeun mendengarkan itu, tapi ia lebih memilih diam. Kyungsoo yang mendengar itu menatap mereka yang masih bertanya-tanya. “Kenapa? Bukankah dia kekasih Sehun? Aku pernah melihat mereka berkencan saat di Universitas dulu!” Kyungsoo mengatakannya tanpa penyesalan, tanpa bertanya dan mendengarkan Gaeun yang sudah menatap Kyungsoo tak nyaman.

 

“Sunbae, kita perlu bicara!” Nada Gaeun lugas namun ringkih. Melihat banyak orang yang memandangnya bak seorang penjahat. Dan lebih tak sukanya Gaeun, wajah Kyungsoo sama sekali flat dan sama sekali tak ada rasa bermasalah. “Ada apa? Kita bisa bicara sembari makan siang, kita lama tidak pernah mengobrol Gaeun-ie”.

 

Kyungsoo mengacak rambut pendek Gaeun namun Gaeun memundurkan kepalanya, bermaksud jika ia tak suka. Merasa Kyungsoo tak paham, Gaeun memandang Wendy. Dengan saling menatap saja Wendy tahu jika ada hal penting yang Gaeun lakukan. Wendy mengangguk dan meninggalkan Gaeun ragu.

 

Sunbae, ikut aku!” Tanpa babibu, Gaeun menarik lengan Kyungsoo. Pria itu meletakkan nampan makannya dan mengikuti Gaeun tanpa protes sekalipun.

 

***

 

Koridor kantor terlihat lengang, terik matahari menyinari mereka berdua sehingga nampak bayangan mereka terpantul di atas lantai berkeramik putih. Kyungsoo menatap bola mata Gaeun seolah siap untuk memangsanya. “Apa maksud tatapanmu itu eun, lebih baik kau bersikap sewajarnya pada sunbae mu!”

 

Kyungsoo akhirnya jengah karena ia kesal melihat Gaeun memilih menatap murka daripada membuka mulutnya. “Apa yang kau katakan? Kau sudah menyita waktu makan siangku! Sekarang katakan intinya dan biarkan aku pergi!” Gaeun menghela nafas seakan mempersiapkan apa yang akan ia katakan.

 

“Apa kau kesal karena aku menyebut nama Sehun? Ayolah, berhentilah untuk menutupi semua hal. Kau tahu, aku sangat jengah dengan hubungan kalian yang serba tertutup. Hiduplah dengan leluansa. Apa kau kira Sehun menyukai sifat tertutupmu itu? Apa kau pikir jika kalian mengumumkan hubungan kalian di depan umum akan menjadi dunia kiamat? Jangan kau ulangi saat kuliah dulu dan berubah lah sekarang!” Ucap Kyungsoo panjang lebar.

 

Gaeun hanya mendengus, merapatkan tangannya di depan dadanya. Jadi, sebelum ia mengatakannya, Kyungsoo sudah menceramahinya kali ini. “Sunbae, terimakasih kau sudah begitu peduli dengan hubungan kami. Tapi, maaf. Itu adalah urusan pribadiku, dan aku memang tidak suka urusan pribadiku menjadi perbincangan semua orang”. Gaeun menjelaskan sedikit geram dan penekanan.

 

Kyungsoo menyerah, pria itu mengangkat kedua tangannya seolah iya iya saja dengan pernyataan Gaeun baru saja. “Baiklah, apa yang kau katakan?” Akhirnya Kyungsoo kembali memasang muka seriusnya. Kyungsoo, yang notabene adalah sahabat Oh Sehun pasti sudah Gaeun maklumi, karena Kyungsoo salah satu yang mengetahui masa lalu mereka berdua.

 

Dan dugaan Gaeun ternyata tepat, ada satu fakta dimana Sehun tak menceritakan apapun pada Kyungsoo. “Sunbae, kau benar-benar tidak tahu hubungan kami saat ini?” Gaeun bertanya sepelan mungkin, bermaksud agar orang-orang tidak mendengarkan percakapan mereka. “Memang apa? Sehun sama sekali tidak mengatakan apapun. Bukankah Sehun diam berarti hubungan kalian masih sama seperti dulu? Sehun kan memang tipe pendiam”.

 

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suara dingin itu terdengar. Jantung Gaeun berdegup kencang. Matanya mencoba menatap pria itu dan benar saja Sehun berdiri di hadapan mereka. Dengan style jas hitam simpel dan kaos putih di dalamnya. Rasanya Gaeun masih suka membayangkan masa lalu bagaimana Sehun begitu manis kala itu.

 

Sadar apa yang ia lakukan, Gaeun menundukkan wajahnya seolah tak berhak menatap mata pria itu lama-lama. “Ahh, Sehun-ah! Kebetulan. Aku dan Gaeun sedang berbicara tentang hubungan kalian!” Kyungsoo mendatangi Sehun dan menepuk bahunya, dan Sehun pun mengangkat alisnya, menatap Gaeun dimana Gaeun tak tahu maksud  di balik wajah dinginnya itu.

 

Gaeun menggigit bibirnya, bahkan pernyataan Kyungsoo pada Sehun baru saja seolah ia masih mengharapkan hubungan ini. Lihat saja, wajah Sehun masih tetap sama. Bahkan pria itu seperti menatap aneh. “Kami tidak punya hubungan apa-apa. Jadi sunbae berhentilah seolah-olah kau mengetahui semuanya!” Gaeun memberanikan diri menatap Sehun, ekspresi pria itu masih sama.

 

Sebal? Sungguh sebal. Gaeun rasanya ingin menangis. Tidak adakah rasa kecewa saat Sehun memutuskan hubungannya? Sudah begitu jelas jika Sehun membencinya. Sangat jelas. Kyungsoo yang mendengar pun menatap Sehun dan Gaeun bergantian tak percaya. “Putus? Sejak kapan?” Kyungsoo terkejut bukan main. Pasalnya ia tahu bagaimana Sehun sangat menggilai Gaeun dulu.

 

“Setahun lalu!” Ucap Sehun datar lalu berlalu meninggalkan berdua.

 

Kyungsoo dan Gaeun diam dan hening. Menunggu Sehun sudah benar-benar jauh dari hadapan mereka. “Sudah kukatakan sunbae, kau seharusnya tidak mencampuri urusan kami!” mata Gaeun memerah, menahan kesal luar biasa.

 

“Ma … maaf”. Belum Kyungsoo selesai bicara, Gaeun sudah melengos pergi tanpa menatapnya. “Kau tidak jadi makan siang?” Merasa bersalah, Kyungsoo mencoba berbasa-basi, namun gadis itu tidak menjawabnya sama sekali. “Ah, gadis keras kepala itu!” gusar Kyungsoo lalu kembali masuk.

 

Disisi lain, Gaeun merasakan jantungnya ditikam untuk kedua kalinya. Langkahnya terus melaju tak tahu kemana ia pergi. Yang jelas, ia merasakan sakit hati yang sudah ia abaikan selama ini. Ya, sepertinya Sehun benar-benar membencinya. Airmata Gaeun seakan menumpuk di kelopak matanya.

 

Bahkan pandangannya terlihat buram, tertutup butiran air di matanya. Gaeun segera menyeka airmatanya sebelum airmata itu jatuh dari pipinya. “Baiklah Sehun-ssi! Sepertinya kau benar-benar meniupkan terompet perang. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirmu. Jika kau tidak suka padaku, bukankah lebih baik kau pura-pura tidak mengenalku dan tak bicara apapun?”

 

***

 

“Apa yang kau lakukan dengan rumahku?” Pria dengan kulit sedikit gelap mengambil secara paksa sekaleng susu, yang hampir saja diteguk oleh pria satunya dengan tampilan acak-acaknya. “Ada apa kau ini? Lakukan seperti biasanya, kenapa kau selalu menganggu hari santaiku?” Pria yang mendapatkan teriakan murka itu pun kembali mengambil susu dari tangannya.

 

Lalu meluruskan kedua kakinya sembari menikmati acara TV di hari minggu. “Sampai kapan kau menginap terus di rumahku? Kau benar-benar sudah mengirim lamaran di perusahaan itu?” Jongin, pria yang yang berceloteh sedari tadi akhirnya duduk.

 

“Sudah. Apa maksud pertanyaanmu itu? Kau ingin mendoakanku cepat-cepat mendapatkan pekerjaan atau kau tidak suka aku tinggal sementara disini? Hei bung, tenanglah. Bersyukurlah karena kau tidak kesepian.” Pria bernama Chanyeol itu mengeluh. Jongin yang duduk di sisinya hanya mengernyit ngeri.

 

“Lihatlah, kesepian katamu? Bisa saja tetangga menganggap kita kelainan. Apa kau tahu serumah hanya tinggal dua pria? Membayangkan saja membuatku geli. Jika kau lebih niat lagi, kau bisa membuat surat lamaran banyak dan kau tinggal memberikannya pada setiap perusahaan. Kau lihat komputer itu?” Jongin menunjuk komputer tak jauh dari mereka.

 

Chanyeol mengikuti arah tangah telunjuk Jongin. “Aku sudah memberikanmu keringanan untuk mencari informasi pekerjaan dan beberapa kertas untuk memprint. Jadi gunakan alat itu sebaik mungkin dan pergilah dari rumahku. Persediaan makananku habis karenamu! Haish!” Jongin beranjak dan kembali ke dapur.

 

“Aku tahu aku tahu. Hah, kenapa kau pelit sekali Jongin-ah? Jika aku berhasil diterima salah satu perusahaan, aku akan mentraktirmu minum. Jangan khawatir, aku akan mengisi kulkasmu dengan berbagai makanan.” Protes Chanyeol, namum Jongin pun masih terdiam, seolah janji Chanyeol baru saja hanyalah angin belaka.

 

“Bukankah lebih baik kau menggunakan gaji pertamamu untuk menyewa apartemen?” Jawab Jongin ketus. “Apa kau bilang? Ya! Sejak kapan kau berkata kasar seperti itu? Aku dua tahun di atasmu, kau tidak ingat?” Chanyeol menunjuk saking kesalnya. Jongin hanya melengos, seolah tak ingin lanjut mendengarkan celoteh panjang Chanyeol.

 

Chanyeol menghela napasnya dalam. Orang tuanya sebenarnya adalah seorang koki terkenal dan mempunyai sebuah restoran berbintang dan ternama. Ia tidak miskin, seperti yang diucapkan Jongin baru saja jika ia menginap di rumah Jongin dan menginap sana sini menunggu panggilan.

 

Bukan karena ia diusir dan mendapatkan hukuman kartu kreditnya di bumi hanguskan. Masalahnya, ia terlalu bosan untuk memikirkan hal-hal tentang bisnis. Di umur yang masih terbilang muda, bagi Chanyeol belum waktunya untuk memikirkan itu. Itu bisa diatasi jika ia dewasa kelak. Lagipula masih ada noona nya yang mengurusi semua itu.

 

Toh orang tuanya tidak pernah memaksa keinginan Chanyeol, asal Chanyeol tak gelandangan karena mencari pengalaman baru. Ia sudah belajar menabung dan menghemat sejak kecil. Walaupun kartu kreditnya terbuka lebar, sebebas ia menggeseknya, hampir Chanyeol tidak pernah melakukannya. Bagi Chanyeol, mendapatkan uang tanpa usaha itu tidak seru namanya.

 

Ya! Jongin-ah? Kau ingin ke club? Sekedar menyegarkan pikiran? Aku akan mentraktirmu!” Teriak Chanyeol pada Jongin sembari melakukan tarian ala disko. “Benarkah? Kau yakin? Masalahnya aku ingin minum wine ter enak disana! Tidak apa?” Jongin menghentikan aktivitasnya memotong buah. “Tenang saja. Kita akan bersenang-senang nanti malam!”

 

***

 

Suara keras, sound system yang memekakkan telinga, membuat organ di dalamnya ikut berdegup keras sesuai musik yang dimainkan DJ profesional. Ditambah lampu-lampu berkelap kelip mengikuti alunan lagu. Chanyeol dan Jongin memasuki club dengan setelah kemeja hitam. Begitu pas dengan style anak usia 20 an awal. Mereka berdua tanpa sadar menggoyangkan kepala dan tubuh mereka selaras dengan lagu yang dimainkan.

 

“Bagaimana? Kita sudah lama tidak bersenang-senang!” Ucap Chanyeol sedikit teriak. “Kau tidak lupa mentraktirku, kan?” Jawab Jongin. Jongin was-was, karena Chanyeol terkadang lupa dengan janji sebelumnya. “Aku tidak akan lupa. Ayo kesana kita! Pesan minum lalu kita menari sepuasnya!” Chanyeol menarik lengan Jongin menuju bar.

 

“Kau mau wine?” Tawar Chanyeol, setelah itu memanggil pelayan disana. Jongin tersenyum penuh makna. “Wah, kau benar-benar mentraktirku wine? Kau berubah pikiran menghabiskan uang orang tuamu? Akk!” pada akhirnya Jongin diam karena ia baru saja mendapatkan hantaman di kepalanya.

 

“Enak saja. Ini hasil kerja kerasku. Apa kau tidak lupa jika sebelumnya aku bekerja part time di samping rumahmu?” Chanyeol meneguk sedikit wine yang sudah di hadapannya. “Tck, lagipula apa enaknya kau mengelandang seperti ini? Kau kaya! Kau bisa melakukan apapun kau suka, kau kenapa pula mempersulit hidupmu sendiri?” Jongin meneguk wine itu sedikit.

 

“Ahh, sudahlah. Aku kesini bukan untuk mendengarkan nasihatmu. Kita bersenang-senang. Oh ya, aku ke toilet dulu. Ya! Berikan dia wine lagi!” Chanyeol menegur pelayan itu untuk menuangkan wine ke gelas Jongin lalu bergegas pergi.

 

Suara musik di club sungguh memekakkan telinga. Bahkan mereka merasakan dada mereka ikut berdetak tatkala musik penuh bass itu mengguncang tubuh mereka. Setelah Chanyeol selesai dengan urusannya, ia segera menuju wastafel merapikan rambutnya yang tak serapi tadi.

 

“Haish, padahal aku sudah merapikan rambutnya rapi. Kenapa jadi berantakan seperti ini?” Chanyeol meraih air dari keran dan menepuk sedikit rambutnya agar sedikit rapi. “Ini lebih baik”. Saat Chanyeol akan mengambil beberapa tisu, pria itu terdiam sejenak.

 

Telinga lebarnya yang peka itu mendengarkan sesuatu. Ia membalikkan tubuhnya memperhatikan tiap pintu yang terbuka dan tertutup. Ia yakin ia sendiri di toilet ini. Chanyeol melebarkan matanya mencoba berpikir dalam, tidak mungkin kan’ jika ada cerita horor dadakan didalam hidupnya?

 

“Si … siapa itu?” Teriak Chanyeol. Namun suara itu tiba-tiba berhenti, lebih tepatnya suara wanita yang sedang menangis lirih. Chanyeol yakin bahwa ia tak salah dengar malam ini. Apa gunanya ia mempunyai telinga lebar jika ia tidak yakin dengan pendengarannya?

 

Pintu paling pojok itu pun terbuka lirih, menampakkan sembulan kepala dan rambut pendek tergurai menutupi sebagian wajahnya. Mata Chanyeol melebar, saking terkejutnya bukan main. “Ya! Kenapa wanita masuk disini?” Telunjuk Chanyeol menyerang tepat di wajah gadis itu.

 

“Maaf!” Hanya kalimat itu yang terdengar di telinga Chanyeol. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Berusaha menutupi wajah malunya. Chanyeol melirik penampilan gadis itu dari atas hingga bawah. “Kau wanita penghibur? Apa kau sedang bekerja? Kau bersama pria didalam kamar mandi untuk bercumbu? Pelangganmu sungguh tidak modal! Seharusnya kalian tidak berada disini!”

 

Chanyeol berteriak murka. Sungguh ia tidak suka jika seseorang melakukan yang tidak seharusnya. “Ya! Angkat kepalamu!” Desisan gadis itu terdengar, seolah ia melempar olokan tanpa suara. “Jaga mulutmu Ahjus…” Gadis itu terdiam sesaat setelah ia mendongakkan kepalanya.

 

Begitu pula Chanyeol yang segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Ka … kau?” Gadis itu menunjukkan wajah Chanyeol segan. Ia segera merapikan gaun super pendeknya kebawah dan mengelap bekas airmata yang masih membekas di pipi. “A … apa yang kau lakukan disini?” Chanyeol terkejut bukan main. Ia kembali melihat penampilan gadis itu dari atas hingga bawah.

 

Tahu maksud di dalam pikiran Chanyeol, si Gaeun, gadis yang sedari tadi menjadi topik kemurkaan Chanyeol itu pun mengatakan tidak benar dengan kedua tangannya. “Ja … jangan salah paham. A … aku hanya salah ma …” Belum selesai pembelaan Gaeun, suara para lelaki di luar yang hendak masuk membuat mereka bungkam seketika.

 

Chanyeol  sigap menutup mulut Gaeun dan menariknya memasuki salah satu toilet bersamanya.”Hmph, ya!” Gaeun menghentikan suaranya saat Chanyeol menutup mulut Gaeun lebih erat. “Diamlah, atau kau akan malu saat keluar dari sini?” Bisik Chanyeol. Pada akhirnya Gaeun menurut dan membiarkan Chanyeol menutup mulutnya rapat.

 

Nafas mereka menderu, menahan rasa gundah dan takut jika saja ketahuan berada di dalam toilet bersama. Gaeun menatap mata Chanyeol yang mana kala pria itu sibuk menatap pintu sembari mendengar percakapan orang-orang di luar sana.

 

Gaeun memejamkan matanya bahwa ia sangat malu. Sungguh sangat malu. Ia meremat gaun pendeknya dan menariknya ke bawah. Bagaimana bisa ia bertemu pria ini lagi dengan dandanan seperti ini? Jika ia tidak mabuk dan masih sadar penuh, ia tidak akan masuk ke sini. Lalu betapa menyedihkannya kenapa ia menangis tanpa jelas?

 

Kalau dipikir-pikir, aroma pria ini begitu wangi dan maskulin. Gaeun kembali menatap pria itu dengan seksama. Matanya yang besar karena terkejut, badannya yang begitu tinggi dan tegap, tangannya yang terasa hangat saat menariknya ke dalam, rambut hitam sedikit ikalnya membuatnya seperti anjing kecil yang lucu. Dan Gaeun menyadari bahwa pria yang pertama kali mereka bertemu di toko kelontong itu begitu tampan.

 

“Apa yang kau lihat?” Pada akhirnya Gaeun mengedipkan matanya setelah selesai menganggumi wajah rupawan di hadapannya. Chanyeol menatapnya dingin, begitu berbeda saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. “Apa kau sedang frustasi karena dicampakkan? Kenapa kau bodoh sekali?” Chanyeol membuka pintu lalu menatap cermin wastafel dengan frustasi.

 

‘Sebegitukah ia terkejut melihatku?’ Pikir Gaeun. Gaeun mencoba berhati-hati keluar, memastikan bahwa orang-orang itu sudah keluar. “Pulanglah! Aku sudah mengecek diluar, semuanya aman. Bawa ini!” Chanyeol melemparkan jasnya pada tubuh Gaeun lalu pergi begitu saja.

 

“Tu … tunggu!” Pada nyatanya pria itu tak berhenti. “Aish, kenapa dia marah sekali? Bahkan aku belum menjelaskan apapun. Aku bukan wanita murahan. Tapi …” Gaeun meremat jas pria itu yang bahkan ia masih belum tahu nama nya. “Kau memberiku saran dan memberikan jas ini untukku. Padahal kita belum mengenal satu sama lain. Pasti dia sudah menganggapku yang tidak-tidak”.

 

Omel Gaeun sembari memakai jas yang super besar dan panjang, bahkan jas itu mencapai lutut Gaeun. “Yah, aku bisa tahu bahwa setinggi apa dia”. Gadis itu berjalan keluar dengan berjinjit, memastikan bahwa apa yang dikatakan pria itu benar. Namun Gaeun terkejut. Sepertinya ia meletakkan papan ‘toilet sedang diperbaiki’ baru saja.

 

Gaeun meremat rambut pendeknya frustasi. “Jika begini aku menyesal kenapa aku mabuk dan masuk di toilet ini. Ahh, harga diriku!” Pada akhirnya Gaeun berteriak menyesali apa yang ia lakukan baru saja.

 

TO BE CONTINUE

 

L.Kyo back. Dan terakhir L.Kyo posting disini sekitar bulan april. Karena L.Kyo emang sengaja hiatus ya karena alasan emang ga ada laptop karena keyboardnya rusak dan emang laptopnya kudu beli adik baru, tapi apalah daya L.Kyo masih belum mampu dan emang ga bisa nabung. hehehe~

 

Selain itu L.Kyo hiatus juga karena alasan lagi bosen dan jenuh sama tulis menuulis, ya wajar sebagai author emang pasti kena writer block, tapi udah 5 bulan lalu akhirnya L.Kyo kembali. Ya gatau juga tiba-tiba ada mood aja ngelanjutin ni FF. hehhe.. Tapi semoga kedepannnya L.Kyo ga mager dan bisa buat karya lebih wow dari sebelumnya. so, aku minta komen dan saran kalian buat nambah semangatin aku buat lanjutin FF  ini. Ya mau jadi reader goib juga monggo, tapi alangkah baiknya jika kaloian komen, apapun itu walo hanya secuil sebagai pengharaan biar L.Kyo lebih semngat lagi untuk berkarya.

 

and then, makasih banget buat kalian yang mungkin masih inget sama L.Kyo, aku ucapin banyak makasih kalo kalian ga lupa sama penname ini. Huehehehehe~ Bye, see you next chapter~

10 tanggapan untuk “[Chaptered] Feel So Fine (2nd Chap) | by L.Kyo”

  1. Hahh..akhirnya aku bisa baca lanjutan fiction ini, suka banget..😊😊😊
    Ya ampun chanyeol so sweet~💞 aduh..baper aku bacanya😂😂 gaeun..kamu bener kok kalo chanyeol itu ganteng😁
    Ditunggu next-nya..~
    Fighthing😇

  2. aku nunggu ff ini lanjut loh 😦 jangan lama² chapter selanjutnya kak hehe,kutunggu selalu 🙂
    dan ini cast nya si buncit kesayanganku loh,jadi aku suka. kupastikan ngikutin terus. semangat nulisnya 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s