GAME OVER – Lv. 16 [Epic-T] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11Level 15 — [PLAYING] Level 16

I can’t take it anymore

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 16 — Epic T

In Jiho’s Eyes…

“Jiho, awas!”

Baekhyun?

Apa ini? Bagaimana bisa ministry swordku ada di sini? Aku baru saja berbalik dan menatap sekelilingku untuk menemukan keberadaan Baekhyun saat kudapati Wendy sudah berdiri di hadapanku dengan sebuah sword di tangannya yang ia acungkan padaku.

“Cara yang bagus untuk berusaha menyudutkanku, tapi kau tahu kau juga akan berakhir seperti mereka semua, bukan?” kudengar Wendy berkata.

Sekon selanjutnya, pertarungan yang sengit terjadi padaku dan Wendy. Aku tak punya kesempatan untuk mencari ministry swordku lagi, sebab setelah Wendy bicara padaku tadi benda itu menghilang begitu saja.

Tapi tidak, aku tidak boleh kehilangan fokusku hanya karena keberadaan ministry sword yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Ada musuh yang harus aku lawan, bukan, maksudku, aku setidaknya harus mengalahkan Wendy untuk bisa melawan musuh-musuhku saat aku kembali, bukan?

SRASH!

Aku terkejut bukan main saat kulihat kilatan cahaya dilemparkan Wendy padaku, dengan cepat aku berkelit, berbalik menyudutkan Wendy hingga dia terperangkap dalam rodeo milikku.

Aku kemudian menarik kedua twin swordku, melemparkan salah satunya ke udara sementara yang satu lagi ada di tanganku. Lantas aku berlari ke arah Wendy yang sudah tersudut dan terikat di salah satu pohon yang ada di Tacenda Corner, melihat ekspresi ketakutannya sekarang entah mengapa membuatku merasa bersalah.

Tapi aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai di tempat ini. Hanya itu satu-satunya jalan. Membayangkan aku akan membunuh temanku sendiri walau dia adalah seorang NPC memang jadi hal yang menyakitkan. Apalagi jika dia tahu—tunggu dulu.

Bagaimana kalau Wendy tahu bahwa ini aku? Dia tidak akan menyulitkanku lagi, bukan? Tidak, tidak boleh. Akan semakin rumit kalau Wendy tahu aku berusaha membunuhnya dengan wujud lain. Dia mungkin tidak akan percaya padaku lagi kalau aku melakukannya.

Tanpa merasa ragu, aku mengarahkan twin sword di tangan kananku ke arah perut Wendy, tapi dia masih juga melawan. Dengan keadaan tersudut seperti sekarang, dia masih bisa menggunakan kedua tangannya untuk menahan swordku.

Argh!” kudengar erangan kesakitan Wendy saat tangannya terluka akibat ulahku. Health barnya juga sedikit demi sedikit berkurang, tapi cara ini terlalu menyakitkan. Memaksakan swordku untuk terus menembus pertahanan kedua tangan Wendy hanya akan menyakitinya lebih lama lagi.

“Wendy, ini aku.” aku akhirnya berkata, hal yang membuat Wendy kemudian mendongak, menatapku dengan tatapan yang tidak begitu bisa kuartikan tapi kupahami bahwa dia mengenaliku.

“Jiho?” lirihnya di tengah rintih kesakitan.

“Kumohon… aku tak mau menyakitimu terlalu lama.” pintaku membuat Wendy akhirnya tersenyum tipis. Tanpa bicara apapun dia melepaskan kedua tangannya dengan cara tidak kentara, dan tentu saja, swordku akhirnya menembus perut Wendy dengan terlalu kuat—karena aku tak sempat mengurangi kekuatan tanganku saat dia melepaskan tangannya.

Jeritan Wendy jadi hal terakhir yang kudengar, sebelum alert kemenangan kemudian menyambut. Diiringi munculnya pilihan bagiku untuk logout dari survival mode. Dengan segera, aku menginjak logout dan terbangun di ruangan tempat aku sejak tadi tertidur.

Belum sempat aku berorientasi dengan rasa pening yang disisakan survival tube ini di tubuhku, aku sudah disambut pemandangan canggung. Jaehyun berdiri di depan penutup survival tube ini dengan tangan terentang, sementara teriakan-teriakan kemarahan kudengar samar-samar menembus dinding survival tube milikku.

PSHH!!

Aku tersentak saat kudengar penutup survival tube-ku membuka.

“Jiho!” Jaehyun menatap sekilas sebelum lengannya dengan protektif membantuku duduk dan berdiri, masih melindungiku di balik punggungnya.

“Cepat bangun kau, newbie kurang ajar!” teriakan melengking seorang wanita terdengar, aku kemudian mengintip dari balik punggung Jaehyun dan kusadari beberapa orang anggota tim lain tengah berdiri dengan berang di hadapan Jaehyun, seolah menunggu aku kembali dari survival mode.

“Apa masalahnya?” tanyaku membuat Jaehyun terkekeh pelan. Wah, bisa kuduga kalau mereka pasti sudah melewati puluhan debat sebelum aku terbangun tadi.

“Apa masalahnya?! Kau tanya apa masalahnya!? Kau itu masalahnya!” teriakan lain terdengar, suara Selyn kali ini, aku sudah cukup familiar dengan suaranya.

Aku akhirnya berpegangan pada Jaehyun dan berdiri—karena kepalaku masih terasa begitu pening—lalu aku menatap mereka semua yang berdiri di depan Jaehyun, juga mereka yang dengan ekspresi tak senang mengawasi dari tempat duduknya.

“Sudah kukatakan, berhenti meremehkan kelompok ini. Kalian lah yang terlalu sombong dan tidak bermain sportif. Dan tadi, apa yang kalian katakan? Mari meledeknya setelah ini berakhir? Lalu apa lagi? Ah, ya, ada yang bilang juga bahwa aku harus minta maaf kalau aku tak mau dibantai dalam survival mode.

“Kemudian apa lagi? Aku terlalu percaya diri? Aku yang dianggap sebagai matahari baru terbit? Aku sudah katakan, kita tidak bermain berdasarkan rank maupun Town, melainkan kemampuan. Mengapa berada di Town yang besar lantas membuat kalian begitu sombong?

“Memangnya Town dan rank itu bisa membuat perbedaan? Asal tahu saja, aku ini seorang yang pendendam, dan kalian sudah bermain dengan cara yang salah denganku. Permainan barusan, anggap saja ucapan perkenalan dariku, seorang newbie yang berhasil membantai kalian semua dengna Dawn Attack.”

Bisa kurasakan bagaimana makanan yang pagi tadi kusantap sekarang bergolak hendak keluar dari mulutku. Rasa mual yang kali ini tercipta karena survival tube modifikasi Taeil dan kawan-kawannya sungguh luar biasa.

Kesalahanku juga karena semalam tidak mencoba ulang survival tubenya.

Tapi hey! Sejak kapan pria bersetelan merah marun itu membiarkan dirinya jadi penonton perdebatan sengit ini dengan duduk santai di bagian depan ruangan dengan tangan terlipat di depan dada?

“Aku sudah menang dengan cara yang benar, Dawn Attack bukanlah sebuah kecurangan. Dan untuk sekedar informasi, aku bukan seorang newbie.” tuturku, kupandangi mereka satu persatu sementara dari sudut mata bisa kutangkap bagaimana Taeil sekarang mengulum sebuah senyum.

Ah, Taeil hanya terlalu baik karena tak pernah bisa melawan mereka semua dengan kata-kata sarkatis. Atau, dia memang seperti itu? Dan aku saja yang kelewat emosional?

“Benar, dia sudah menang secara sportif. Aku sudah jelaskan itu tadi pada mereka, nona. Tapi mereka tak mau mendengar. Oh, keputusan soal ruangannya juga sudah kujelaskan selagi kau bergelut dengan Red Hair Witch.” akhirnya pria bersetelan merah itu berkata.

Dia kemudian menatap ke arah wanita yang berdiri di ujung pintu—sekertarisnya, kupikir—sebelum wanita itu kemudian mengulurkan sebuah tablet PC padanya.

“Namamu Song Jiho, bukan? Baiklah, kau diterima sebagai bagian dari Tim Delta. Leader masing-masing tim, temui aku setelah ini. Tim lainnya silahkan memasuki ruangan masing-masing yang sudah kutentukan.

“Kita rapat lagi setelah makan malam, pukul tujuh tepat, dan siapkan demo untuk konsep villain. Rapat pagi ini selesai.” dengan cepat pria itu berkata, dia kemudian mengembalikan tablet PC itu pada si wanita sekertaris, sebelum pria itu berdiri, mengancingkan jas yang dia kenakan dan lantas dia melangkah keluar ruangan.

Begitu saja?

Mengapa dia tidak mengakui kekalahannya? Sialan, sekarang pria itu sungguh membuatku merasa kesal.

Hey, apa yang kau lamunkan? Kau sudah jadi Ace di tim kita.” ucapan Jaehyun segera menyadarkanku.

“Apa katamu?” ulangku. Tapi tidak malah menjawabku, Jaehyun justru memamerkan sebuah senyum sebagai jawaban.

“Terima kasih, Jiho. Aku sungguh tidak menyangka kau akan membuat tim ini bangga dengan begitu luar biasa.” vokal Taeil terdengar, sekarang dia bisa bicara dengan sedikit lantang—mengingat bahwa suara Taeil memang tidak begitu keras—sementara dengusan juga gerutuan kemarahan muncul dari segelintir orang yang tadi ada di depan Jaehyun.

Berangsur-angsur, mereka melangkah pergi meninggalkan kami, begitu pula dengan tim lain yang sibuk membereskan barang-barang bawaan mereka.

“Apa kita mendapatkan ruangan yang kau inginkan?” tanyaku, tak yakin dengan ekspresi yang Taeil pamerkan sekarang karena dia begitu pandai menyembunyikan emosi.

“Kau bercanda?” tanya Taeil dengan senyum terpasang, dia kemudian mengarahkan jemarinya ke arah anggota tim kami yang lain, mereka sekarang memasang ekspresi senang yang begitu kentara.

“Mereka semua bangga padamu, Jiho. Kau tidak hanya bicara dengan mulut tapi juga tindakan. Dan well, kupikir tadi Jeno katakan dia akan memelukmu kalau kau berhasil mendapatkan ruangan tipe A.

Hey, Jeno, bukannya kau berhutang satu pelukan pada Jiho?” ucapan Taeil sekarang menyadarkanku, bahwa mereka tadi menunggu aku terbangun karena telah merasa dicurangi.

Aku pasti benar-benar berhasil mendapatkan ruangan terbaik untuk kelompokku.

“Siapa yang mendapatkan ruangan terburuk?” tanyaku pada Jaehyun dijawab dengan sebuah senyuman kecil.

“Kau tidak tahu, dia membuatnya jadi sebuah ledekan bagi mereka semua.” jawabnya.

“Dia?” ucapku tak mengerti.

“Hmm, pria dengan setelan merah marun itu. Dia katakan ‘yang game over tanpa perlawanan lah yang tak pantas mendapatkan fasilitas apapun’ lalu Park Jimin beserta kelompoknya diberikan ruangan mengerikan itu.”

“Benarkah?” aku menatap terkejut. Sungguh luar biasa kalau memang White Horse dan kesombongannya benar-benar mendapatkan imbalan serupa dengan perlakuannya pada kami.

“Aku akan berikan rangkulan saja ketimbang pelukan. Karena rupanya tidak percuma aku tidak tidur berhari-hari. Noona yang satu ini sudah melakukan hal luar biasa.” tiba-tiba saja Jeno melingkarkan lengannya di bahuku.

“Jangan bercanda, yang Jiho lakukan itu karena usaha Taeil, Seungwoo dan Daniel. Kau baru bisa unjuk diri saat demo villain nanti.” Jaehyun dengan gemas menyarangkan sebuah jitakan kecil di kepala Jeno, membuat pemuda itu lantas tergelak.

Hey, aku hanya berusaha bersenang-senang, karena pada akhirnya kita bisa memperbaiki imej kita di perusahaan ini. Kau tidak ingat apa mereka menyebut kita terakhir kali? Kegagalan, sampah, dan karena ada Jiho di sini, keadaannya jadi berbanding terbalik.” kata Jeno.

“Jangan terlalu berlebihan memujiku, bisa jadi di survival mode berikutnya aku kalah, bukan?” ucapanku sekarang berhasil membuat senyum di wajah Jeno dan Jaehyun lenyap seketika.

Sebagai gantinya, Herin—yang sudah selesai membereskan bagiannya di meja—justru terkekeh kecil. Sejak tadi dia memilih diam saja karena pasti merasa canggung kalau harus mendekat padaku sementara kami belum pernah bicara begitu banyak.

“Sebaiknya kau bantu Herin membereskan meja, lihat bagaimana berserakannya barang-barangmu Jeno.” kataku membuat Herin melempar pandang padaku dan tersenyum kecil.

“Benar sekali, kalau bukan karena Jeno meja ini tak akan jadi begitu berantakan. Daniel dan Seungwoo sunbae keluar untuk membeli camilan sebelum jam makan siang, kau mau sesuatu, Jiho? Aku yang traktir.” kata Herin membuatku tergelak.

Seorang yang masih begitu muda seperti Herin, membayariku makanan? Jangan bercan—oh, benar. Lagipula aku tak punya cukup uang untuk membelikan mereka makanan.

“Tidak perlu, Herin-ah. Cukup bantu aku menata ruangan baru untuk kelompok kita saja. Bagaimana?” tawarku segera dijawab dengan anggukan mantap oleh Herin.

“Siap!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”

Pertanyaan itu segera menyambutku begitu sampai di mess dengan keadaan yang cukup kacau. Yah, aku diharuskan membawa survival tube modifikasi Taeil untuk melakukan uji coba sendiri terhadap modifikasi yang baru saja Taeil dan dua rekannya selesaikan tadi.

Mengingat bahwa hari ini aku sudah menghabiskan seharian keluar-masuk survival tube hanya untuk menguji coba benda itu, aku masih terasa mual sekarang.

“Menyenangkan.” sahutku ringan, tak ingin tiba-tiba muntah kalau bicara terlalu banyak pada Ashley dan Taehyung yang duduk menunggu.

“Bagus! Karena aku ada kabar baik untuk kita berdua.” Ashley mencicit santai, sementara aku memilih mengabaikannya sejenak untuk meletakkan survival tube modifikasiku di dekat pintu kamar.

“Oh, ya? Kabar apa? Kau akan segera bertunangan dengan Taeil? Atau kabar baru antara kau dan Taehyung?” tanyaku.

BUGH!

Segera, sebuah bantal bersarang di punggungku.

“Kejam sekali perkataanmu, kau tahu kan Taeil itu seorang yang sangat baik jadi tak mungkin aku mau memaksanya untuk menikahiku. Aku juga tidak mau bermain gila dengan penggila komputer ini.” cicit Ashley setengah kesal.

Musnah sudah mood menyenangkan yang sudah susah payah disimpannya sejak tadi karena menungguku pulang hingga larut malam.

“Lalu, ada berita apa?” tanyaku sembari menghempaskan tubuh di atas sofa, menghirup sedikit pasokan oksigen untuk memenuhi paru-paruku yang terasa begitu sesak.

“Taehyung katakan dia akan mengusahakan masuknya kita bertiga ke dalam demo version itu!” kata Ashley, dengan santai dia membanting tubuh di sebelahku, sementara di sudut sofa lainnya, Taehyung tampak begitu sibuk dengan tablet PC serupa dengan milik pimpinan beta project WorldWare—si pria berpakaian merah marun itu.

Ugh, melihat PC milik Taehyung mengingatkanku pada si brengsek yang sudah membuatku menunggu sampai larut malam tanpa hasil itu saja.” gerutuku, sebenarnya ingin sekali aku berteriak kegirangan karena berita yang baru saja Ashley sampaikan, tapi tenagaku sudah tidak begitu banyak saat ini.

Ha-ha.” Taehyung menyahuti dengan tawa sarkatis, “Memangnya apa yang sudah dia lakukan? Mengurungmu dalam survival tube? Bukannya kau memang lebih senang ada di dalam benda itu?” sambungnya dengan nada yang sama.

“Bukan begitu. Kalau dia mengurungku dalam survival tube aku tentu dengan senang hati akan betah di sana. Tapi dia mengurungku di dalam ruangan, berkata bahwa akan ada rapat setelah makan malam tapi kami menunggu sampai jam sembilan dan dengan santainya dia datang hanya untuk mengatakan bahwa dia lupa tentang rapat tersebut.

“Menyebalkan sekali, bukan?”

Ashley menatapku dengan alis berkerut.

“Tidak ada yang salah. Dia lupa, Jiho.” kata Ashley membuatku menatap dengan mata menyipit.

“Kau pikir tidak mengesalkan jadi aku yang menunggu?” tanyaku dijawab Ashley dengan helaan nafas panjang.

“Menyebalkan, memang. Tapi dia pasti lupa juga bukan semata-mata karena dia menghabiskan waktu untuk duduk-duduk santai. Dia juga punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, wajar saja kalau dia lupa pada satu-dua hal.” tutur Ashley.

Bukan itu permasalahannya, aku justru merasa bahwa dia memang sengaja membuat kami semua menunggunya. Apalagi setelah terjadi insiden antara aku dan player yang lain, ugh, sungguh mengesalkan karena harus mengingat peristiwa pagi tadi lagi.

“Jadi, apa kabar yang aku bawa sama sekali tidak membuatmu senang?” tanya Ashley melihat sikap diamku. Rupanya sejak tadi dia sudah menyimpan rasa kesalnya karena sudah kuabaikan.

“Aku senang, sungguh. Tapi saat ini aku terlalu lelah untuk bisa bereaksi begitu senang. Lagipula, bukankah memang itu kemampuan Epic-T yang sudah dia bangga-banggakan?” tanyaku membuat Taehyung mendongak dan menatap dengan mata menyipit.

“Kau sedang berusaha menyindirku, bukan?” tanyanya kujawab dengan sebuah tawa.

“Tidak, aku hanya mengingatkanmu bahwa kau sejak dulu selalu membanggakan diri sebagai Epic-T yang hebat. Kalau memang benar begitu, artinya aku tidak perlu meragukan kepastian masuknya kita bertiga dalam demo version itu. Bukankah begitu?” pertanyaanku sekarang berhasil membuat Ashley terkekeh.

“Benar kata Jiho. Kalau kau benar-benar berhasil membawa kita bertiga, aku pastikan aku akan mengakuimu, Epic-T.” ledek Ashley.

“Kalian berdua rupanya sudah benar-benar meremehkanku.” gerutu Taehyung, dia tentu tidak mau repot-repot meladeni ledekan kekanakkan yang kami lontarkan.

Aku dan Ashley juga sama-sama tahu, bagaimana hebatnya Taehyung. Dia hanya tidak begitu pandai dalam mengekspresikan dirinya, itu saja. Kalau bicara soal kecerdasan, jelas Taehyung adalah orang jenius yang sanggup melakukan apapun demi mendapatkan tujuannya.

Tapi, aku belum bicara pada Taeil dan timnya mengenai kemungkinan aku yang akan mengikuti demo version itu. Dan aku juga belum bicara apapun pada Baekhyun soal—Baekhyun.

“Aku sungguh mati sekarang…”

“Hah? Apa katamu?” Ashley menatap tidak mengerti.

Aku memilih mengabaikan Ashley, tentu saja. Bodohnya aku, bagaimana bisa aku lupa tentang weddingku dengan Baekhyun? Ini sudah hampir jam sebelas malam dan sore tadi aku juga tidak datang ke Hall utama.

Aku sungguh mati.

“Aku ke kamar dulu, Ash. Ada hal penting yang aku lupakan.” ucapku sambil kemudian bangkit dari sofa.

“Hal penting apa? Memangnya kau dan kekasihmu itu akan mengadakan wedding atau sejenisnya sampai wajahmu terlihat begitu panik?”

“Iya, kami memang akan wedding, dan aku melupakan janji wedding itu.”

“Apa?!” bisa kudengar Ashley menjerit terkejut, sementara aku sibuk memasukkan barang-barangku ke dalam kamar.

“Dia benar-benar mati, memang. Kalau aku yang jadi pria itu, sudah kublokir kau, kumasukkan ke dalam black label.” Taehyung menyahuti, dia tentu tidak pernah ambil pusing dengan semua hal berbau hubungan virtual ini.

“Kau gila, Jiho. Bisa-bisanya kau melupakan hal sepenting itu!” omel Ashley, dengan panik dia bangkit dari sofa dan membantuku memasukkan barang-barang sebelum akhirnya dia mendorongku ke survival tube milikku.

“Cepat sana kau masuk survival mode saja. Aku akan urus kamarmu.” ucap Ashley mengusirku.

“Baiklah, terima kasih Ash.” kataku sambil melepaskan jaket yang kukenakan dan masuk ke dalam survival tube dengan jantung yang melompat tidak karuan.

Sungguh, kebodohan macam apa yang sudah aku lakukan? Aku tak bisa bayangkan bagaimana marahnya Baekhyun jika nanti kami bertemu.

Login berhasil.

Karena sudah lama terlogout dari survival tube ini, rupanya login kembali membutuhkan waktu yang lebih lama. Aku segera memeriksa riwayat obrolanku, Baekhyun offline.

Dan tak ada pesan apapun darinya.

Apa dia juga lupa? Tidak mungkin, Baekhyun tidak terlihat seperti seseorang yang dengan mudahnya bisa melupakan hal seperti ini. Tapi hey, biasanya aku juga bukan seorang yang pelupa.

Aku akhirnya membawa diriku masuk ke dalam Hall utama. Tak banyak orang yang online di jam selarut ini, dan offlinenya Baekhyun jadi sebuah pertanyaan besar dalam benakku.

Diam-diam aku merasa bersalah karena telah melupakannya selama seharian ini. Bukankah aku seharusnya bisa mengingat Baekhyun? Bagaimana bisa kesibukan seperti tadi saja sudah bisa membuatku melupakan Baekhyun?

Masuk ke dalam Tacenda Corner selagi menunggu tak lagi jadi sebuah kesenangan buatku. Wendy pasti masih mengingat apa yang sudah aku lakukan padanya, dan berhadapan dengan Wendy tidak akan jadi hal yang menyenangkan untuk saat ini.

“Baekhyun,” aku tersentak bukan main saat kudapatkan notifikasi online dari Baekhyun setelah aku berdiri selama beberapa menit di tengah Hall utama.

Dia memang online, tapi aku tak menemukan keberadaannya di manapun. Haruskah aku mengirimkan pesan padanya? Tapi apa yang harus aku katakan? Meminta maaf karena aku sudah melupakan wedding itu? Atau aku berpura-pura bodoh dan terus bersikap ‘lupa’ pada kesalahan fatal ini?

‘Jiho, kau di mana?’ aku lagi-lagi terkejut ketika mendengar Baekhyun mengirimkan pesan padaku.

‘Aku ada di Hall utama. Bagaimana denganmu?’

Lama menunggu, Baekhyun tidak kunjung memberi jawaban, padahal dia masih tetap online. Apa dia sedang disibukkan dengan battle atau semacamnya? Tapi di global chat tidak ada notifikasi apapun yang berhubungan dengannya.

‘Aku ada di Tacenda’

Sial. Mengapa dia harus ada di sana? Aku tak mungkin meminta bertemu dengannya di luar Tacenda, bukan? Alasan apa yang harus aku katakan padanya?

Alih-alih sibuk memikirkan kebohongan, aku akhirnya membuka maps milikku, melirik ke arah Tacenda Corner yang berbinar di sudut sana sementara ketakutan semakin melandaku.

Ugh, untuk apa terus mengurung diri di sini? Aku seharusnya masuk ke Tacenda dan bicara saja dengan mereka berdua, bukan? Baiklah, aku harus mencobanya.

Aku akhirnya masuk ke Tacenda, mendapati Baekhyun tengah duduk di bawah sebuah pohon dengan Wendy duduk di sebelahnya namun menenggelamkan wajah di pangkuan Baekhyun, dia menangis tersedu-sedu. Ada apa dengan mereka berdua?

“Hey, Baekhyun,” panggilku sambil melangkah menghampiri mereka berdua.

“Jangan mendekat!” teriakan Wendy menghentikan langkahku.

Baekhyun menatap ke arah Wendy sejenak sebelum dia akhirnya memandangku lagi dan tersenyum sembari memberiku isyarat untuk mendekat.

“Tidak apa, kemarilah Jiho.” katanya. Mengapa aku tak mendengar emosi apapun darinya? Apa dia sudah begitu marah sampai sekarang vokalnya tidak terdengar berbeda sedikit pun?

Mengabaikan tangisan Wendy, aku akhirnya melangkah mendekati keduanya.

“Duduklah di sini,” kata Baekhyun sambil menepuk ruang kosong yang ada di sebelahnya. Lagi-lagi tanpa bicara apapun aku hanya mengikuti apa yang dia katakan.

Duduk di sebelah Baekhyun, sekarang justru tak jadi tindakan yang benar. Karena kusadari jantungku justru semakin melompat tidak karuan karenanya. Ugh, ini karena ketakutanku atau karena aku yang selama berjam-jam tidak berada sedekat ini dengan Baekhyun?

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Kudengar dari Wendy, pagi tadi kau menyerangnya dengan ID yang berbeda. Sekarang dia menangis karena marah padamu.” tutur Baekhyun, lembut. Sungguh, aku sama sekali tak mendengar kemarahan apapun dalam suaranya.

“Dia jahat, kau tahu. Aku pikir dia akan melakukannya dengan hati-hati, tapi dia membunuhku dengan begitu kejam!” Wendy berkata dengan marah, sementara Baekhyun hanya mengulum senyum kecil.

“Jiho sedang menata kembali kehidupannya di luar sana, lagipula katamu tadi dia sudah memberitahumu kalau dia adalah Jiho.” ucap Baekhyun menyahuti Wendy. Sekarang, aku merasa selayaknya orang tolol yang tidak tahu apa-apa.

“Baekhyun,” aku akhirnya berkata setelah selama beberapa saat satu-satunya suara yang terdengar hanyalah tangisan Wendy saja.

“Hm?” sahutnya.

“Kau tidak marah?” tanyaku hati-hati.

Baekhyun menghela nafas panjang, lengannya kemudian bergerak menggenggam jemariku—yang kalau saja kami sekarang sedang bicara empat mata di dunia nyata, bukannya dalam permainan, sudah bisa kupastikan jemariku akan berkeringat dingin—dengan lembut.

“Tidak apa-apa, aku tahu kau begitu sibuk dengan pekerjaanmu. Lagipula, monthly quest itu tidaklah penting. Yang terpenting, kau dan aku tetap akan mengadakan wedding, toh secara tidak langsung kita sudah terikat, karena Wild Rose-ku sudah ada padamu.” penuturan Baekhyun sekarang justru membuatku semakin merasa bersalah.

Aku lebih merasa tenang kalau saja aku mendengarnya marah-marah dan menyudutkanku dengan kata-kata sarkatis seperti biasanya. Lalu kemudian aku akan luluh padanya karena aku tahu, aku memang telah terjatuh padanya sampai lupa pada batas-batas rasional dimana seharusnya aku merasa marah saat orang lain marah padaku.

“Aku justru merasa kau lebih marah saat ini, karena kau sama sekali tidak terlihat kesal.” ucapku membuat Baekhyun tergelak.

“Jangan bercanda, Jiho. Aku bukan tipe yang akan menyembunyikan kemarahanku. Lagipula, dibandingkan denganku, bukankah bicara dengan Wendy sekarang jauh lebih penting untukmu?” tanya Baekhyun, tangannya yang tadi menggenggam jemariku sekarang ia lepaskan. Perlahan, bisa kurasakan bagaimana jemarinya melingkar di pinggangku.

“Jangan memasang wajah bersalah begitu, aku pikir… daripada mengikuti monthly quest itu, ada baiknya jika wedding kita dirahasiakan saja dari semua orang.” sambung Baekhyun.

Dia tidak marah, kesimpulan pertamaku.

Dia terlalu marah sampai semua kemarahan itu ditelannya bulat-bulat, sebab dia tidak tahu harus mengutarakan kemarahan yang mana dulu, itu kesimpulan keduaku.

Dia punya rencana balas dendam lain untuk membalas kesalahanku hari ini, karena Baekhyun adalah tipe pendendam, itu adalah kesimpulan ketigaku.

Dan aku tidak tahu, apa yang sekarang ada di dalam benak Baekhyun sampai-sampai dia bisa bersikap begitu tenang.

“Wendy kelihatannya tidak mau bicara padaku.” pelan-pelan kubiarkan kalimat itu lolos dari bibirku, sementara Wendy masih bertahan dengan tangisannya.

“Kata siapa? Kau saja yang sejak tadi sibuk dengan pairmu.” Wendy menyahuti.

Hey, kau yang sejak tadi memonopolinya, tahu.”

“Monopoli?” Baekhyun tergelak saat mendengar ucapanku.

Wendy akhirnya menghentikan tangisnya, dia kemudian menegakkan tubuh, menatapku dengan pandangan kesal.

“Kau sungguh jahat.” katanya dengan nada marah.

“Kau dulu juga begitu, sudah lupa? Saat aku masuk ke sini dan menanyakan soal Cosmic Rings. Kau membantingku ke sana kemari dulu sampai aku hampir game over.” sahutku membuat ekspresi marah di raut sempurna Wendy perlahan menghilang.

“Tapi itu karena menyerangmu sudah jadi command untukku.”

“Dan tadi, membunuhmu juga sudah jadi commandku. Aku juga tidak tahu kalau aku harus masuk ke dalam Tacenda. Lagipula, bukannya mati di tanganku itu lebih baik daripada mati di tangan player lainnya tadi?” kataku pada Wendy.

Masih berkeras dengan kemarahannya, Wendy lagi-lagi menyahuti.

“Tidak ada pilihan yang menyenangkan. Kalian semua selalu saja mempermainkanku. Perlakuan itu juga didapatkan semua NPC dalam bonus stage lainnya.”

Aku menatap Wendy tidak mengerti.

“Aku tidak tahu, aku hanya seorang pekerja, Wendy. Memangnya kau pikir aku membunuhmu dengan perasaan senang? Aku memikirkan cara untuk membunuhmu dengan cara yang tidak menyakitkan, tapi equipment yang kumiliki terbatas.

“Apalagi—” ucapanku terhenti saat kemudian aku teringat pada hal yang sempat aku lupakan.

Ministry swordku.”

“Apa?” Baekhyun dan Wendy sama-sama berucap.

“Baekhyun, apa mungkin… kau meretasku saat aku sedang bekerja? Aku ingat benar aku mendengar suaramu, lalu salah satu player yang kuhadapi terbunuh dengan menggunakan ministry swordku yang pernah kau pinjam saat kau masih ada di dalam after effect.”

Berbeda dengan ekspresi menunggu yang sekarang kupasang, Baekhyun justru menatapku dengan pandangan tidak mengerti.

“Apa yang kau bicarakan?” tanyanya membuatku memejamkan mata sejenak.

“Apa kau… muncul saat aku sedang ada di dalam survival mode pagi tadi?” tanyaku akhirnya.

Aku sungguh tidak bisa menerimanya lagi, ketidak tahuan ini, dan kejeniusan orang-orang seperti Baekhyun yang bisa dengan enaknya muncul-menghilang dalam permainan ini hanya karena mereka punya kuasa secara cyber.

“Tidak, aku tidak online selain sore ini.” jawaban Baekhyun sekarang malah mengejutkanku.

“Kau tidak online? Sungguh?” ucapku membuat Baekhyun menghela nafas panjang.

“Perlu kutunjukkan riwayat loginku? Bukankah kau juga bisa mengaksesnya karena kita terikat Cosmic Rings? Ada riwayat login yang bisa kau akses secara penuh di sana. Dan kau bicara apa?

Ministry swordmu saat aku masih ada dalam after effect? Maksudmu, ministry swordmu memiliki efek asap hitam, begitu?” tanya Baekhyun panjang lebar.

Aku bahkan tidak tahu kalau aku punya akses untuk melihat riwayat login Baekhyun.

“Ya… ministry swordku terlihat seperti itu.” kataku pelan.

“Apa kau yakin itu bukan bagian bugs dari survival tube yang kau gunakan? Karena kau sudah terdaftar secara legal memiliki sebuah survival tube dan punya equipment-equipment di level yang tinggi.

“Ketika kau masuk ke dalam survival tube lain, terutama yang ilegal dan hasil modifikasi, pasti akan ada bugs dari survival tube ini yang ikut ke dalam survival tube lainnya. Bisa jadi, kau yang mendengar suaraku, atau melihat ministry sword itu, adalah bagian dari bugs.

“Bagaimanapun, kau ada di survival tube modifikasi yang tidak sesuai dengan kemampuan tubuhmu saat ini. Hal-hal seperti itu sudah wajar saja terjadi.” Baekhyun menjelaskan.

Penjelasannya sekarang entah mengapa terdengar luar biasa masuk akal, tapi di waktu bersamaan terdengar tak masuk akal juga. Jadi maksudnya, suara Baekhyun dan ministry sword yang kulihat adalah bagian dari bugs di survival tube modifikasi tersebut?

“Aku tidak mengerti…” kataku akhirnya.

Sebuah tawa pelan lolos dari Baekhyun.

“Aku tahu kau pasti tidak mengerti. Jelaskan saja pada rekan programmermu, dan katakan kalau kau masih bisa mendengar dan melihat hal-hal dari survival tube lamamu. Nanti biar mereka yang membereskannya.” Baekhyun berkata.

Belasan pertanyaan masih bersarang di benakku saat kusadari tangan Baekhyun sudah bersarang di puncak kepalaku. Dia mengelusnya lembut, seolah kebingunganku sekarang adalah hal yang begitu simpel buatnya.

“Melihatmu bisa berpikir seserius ini, aku hampir tidak percaya kalau kau adalah Song Jiho yang kutemui dulu. Yang dengan polosnya menawarkan bantuan pada seorang musuh universal WorldWare. Bagaimana mungkin aku bisa marah padamu karena kau lupa tentang wedding kita, sementara aku tahu di luar sana kau bekerja keras, Jiho?”

Aku menatap Baekhyun, mengawasi ekspresinya sementara dia masih melakukan hal yang sama. Apa terlalu lama mengurung diri di dalam survival tube modifikasi bisa membuat sudut pandangku berubah?

Mengapa Baekhyun semakin terlihat tampan saja? Apa dia baru melakukan upgrade pada penampilannya? Tidak, dia masih terlihat sama sempurnanya. Dan jantungku masih juga melompat tidak karuan karenanya.

Ada apa denganku? Bagaimana bisa aku menomor duakan Baekhyun dan melupakannya padahal bagi jantungku, dia adalah yang nomor satu?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

IRISH’s Fingernotes:

Jangan di close dulu, di bawah masih ada bonus ;p full bagiannya Taehyung ~

OKE, jadi ini bagian pertama dari double-post di minggu ini. Ehem, spoiler sedikit sih. Berhubung di level 19 nanti mereka udah masuk demo version yang terbaru, mohon siapkan jiwa, raga, mental, dan pikiran, karena di sana itu saat-saat ‘hot’ eh bukan deng, ya… intinya level 19 – 29 nanti ini jadi ‘otak’ dari Game Over yang sebenernya ^^’9 dan yah… mengetik sepuluh level itu rasanya minta ampun…

Berhubung akan banyak ketimpangan di demo version yang baru sama yang survival mode ini, aku ingetin aja buat para pembaca biar pada menyiapkan mental gitu, biar enggak jadi gangguan jiwa kayak yang nulis ini cerita, LOLOLOL.

Dan berikut adalah lampiran klarifikasi dariku selaku penulis dari Game Over ini:

  1. SI MAS BAJU MERAH BUKAN BAEKHYUN DONG… Siapa kemarin yang nebak begitu ya? Pokoknya, dia bukan Baekhyun tapi orang lain yang akan kalian sayang /eh.
  2. Baekhyun bukan pencipta WorldWare, tolong jangan tuduh Baekhyun jadi pencipta game ini ~ kasian yang nyiptain beneran loh.
  3. Taeil dkk itu enggak jahat, kasian mereka kalo disuudzonin jadi jahat, muka polosnya Taeil masa jahat, WKWK.
  4. Nanti bareng sama level 20 ada bonus lagi ya \o/ semoga pada sabar menunggu.
  5. Denger-denger, konsep repackagenya The War itu member EXO jadi sejenis superhero ya :v aku bisa nujum dong, bikos di sini cabe jadi superhero kan ya ;p /maksa/

Karena ini fingernotes di tengah-tengah cerita… jadi aku enggak berlama-lama ;’> see you on Sunday!

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Jangan sebut Taehyung sebagai seorang Epic-T kalau dia harus merasa kesulitan untuk melakukan peretasan pada semua hal yang berbau ‘teknologi’ dan yah, karena permintaan dari dua orang wanita super agresif—re: Ashley dan Jiho—yang tinggal bersama dengannya, Taehyung selama beberapa hari ini harus menelan pil pahit bahwa dirinya yang notabene bekerja sebagai karyawan intern di perusahaan keluarganya, kini justru menjadi selundupan di perusahaan musuh.

Di mana lagi kalau bukan NG Game Factory?

Karena permintaan dari Ashley dan Jiho yang sama-sama berkeinginan untuk terlibat dalam demo verse dari beta version terbaru WorldWare, Taehyung malah jadi kesusahan sendiri. Dia tidak mungkin ‘kan mengatakan pada dua orang itu kalau dia tidak sanggup meretas sistem internal NG Game Factory?

Memalukan sekali.

Itulah mengapa, Taehyung hari ini berpura-pura menjadi salah satu karyawan di NG Game Factory, menyelinap lagi ke dalam tim pengembang beta version tersebut dengan satu tujuan: memasukkan namanya, juga nama Jiho dan Ashley, ke dalam daftar undangan pemain yang diperbolehkan datang untuk hari itu.

Hey, kacamata! Cepat selesaikan bugs yang ada di stage 5 sebelum jam makan siang.” Taehyung terkejut bukan kepalang saat seseorang melemparkan USB ke mejanya—padahal dia baru saja berhasil menyelinap masuk ke dalam ruangan tim pengembang.

Lekas, Taehyung memerhatikan raut dari pria yang baru saja memerintahnya. Dari gaya arogannya, juga melihat bagaimana dia memakai ID karyawan dengan tali yang dikalungkan berwarna biru, dia pasti sudah lama bekerja di tempat ini.

“B-Baik, sunbae.” tanpa sadar suara Taehyung bergetar kikuk. Bukan gaya Taehyung, sebenarnya, dia sudah pasti bisa berakting lebih baik daripada sekarang.

Kalau saja Ashley tahu nanti tentang bagaimana suara Taehyung yang gemetar ketakutan hanya karena secara dadakan diperintah oleh salah seorang yang ada dalam ruangan tempat dia menyelinap secara diam-diam, sudah bisa Taehyung pastikan bagaimana kerasnya Ashley akan tertawa.

Tapi, mari lupakan Ashley sejenak. Sekarang, di tangan Taehyung sudah ada sebuah USB flash yang Taehyung pastikan isinya adalah bagian dari beta version yang diinginkannya.

“Bagus, aku rupanya memang menggunakan penyamaran yang tepat.”

Nah, sekarang ingatkan Taehyung pada rencananya yang sudah ia susun sejak pekan lalu. Memang, beberapa kali Taehyung diam-diam datang ke gedung NG Game Factory hanya untuk mengawasi pekerjaan dari orang-orang yang ada di ruangan ini.

Kalau ditantang untuk mengabsen semua orang yang ada dalam ruangan ini pun, Taehyung bertaruh dia pasti sudah hafal. Untuk penyamarannya sendiri, Taehyung sengaja mengubah penampilannya agar telihat sedikit mirip dengan salah satu karyawan di ruangan ini yang selama Taehyung perhatikan, selalu menjadi ‘pesuruh’ bagi karyawan lainnya.

Secara fisik sebenarnya mereka tidak begitu mirip. Hanya postur tubuh saja yang serupa. Jadi, Taehyung sengaja mengubah gaya rambut juga gaya pakaiannya, belum lagi dia harus bersusah payah berlagak pengecut layaknya orang yang dia tirukan.

Oh, bicara soal karyawan yang Taehyung tirukan. Hari ini karyawan itu sudah Taehyung buat terlalu sibuk keluar-masuk kamar mandi cafetaria akibat keisengan Taehyung.

“Tinggal selipkan bugs kecil ciptaanku, dan bam!” Taehyung menggumam pelan, dia kemudian memasukkan USB tersebut ke dalam PC yang sekarang ada di hadapannya, sementara USB miliknya sendiri sudah menancap duluan di PC saat dia masuk ke ruangan tadi.

Tak hanya menyibukkan diri dengan mengutak-atik coding yang ada di dalam stage 5, rupanya Taehyung juga sempat mengintip ke dalam file-file lain yang ada di dalam USB tersebut.

PING!

Taehyung menatap ke arah proses penyelipan bugs kecilnya saat PC yang digunakannya tiba-tiba saja berbunyi.

“Apa-apaan ini, mengapa begitu sulit memasukkan ID Jiho ke dalamnya? Padahal milikku dan Ashley sudah berhasil kumasukkan dengan mudah.” gerutu Taehyung, sekali lagi dia mencoba memasukkan ID milik Jiho ke dalam bugs yang dia selipkan, berharap dengan cara ini dia tidak lagi gagal memasukkan ID sahabatnya itu ke dalam demo version yang nampaknya di awal-awal pemberitaannya, begitu Jiho inginkan.

PING!

Lagi-lagi alert kegagalan. Dan sekarang, Taehyung rasanya sungguh kesal.

“Wah, ada yang mau bermain-main dengan Epic-T, rupanya…”

Warning!

Click.

Senyap berselang…

Warning!

Click.

Kembali, sunyi mengiringi.

Warning!

Click.

Tsk… dia sungguh tidak lelah berusaha, ya? Siapa namamu tadi adik kecil… Epic-T, ya… kupastikan aku tak akan membunuhmu dengan mudah saat kita bertemu di demo version nanti. Kau sudah mengacau di dalam permainanku. Dan tindakanmu ini membuatku kesal.

“Rasa sakit seperti apa yang sebaiknya kau rasakan saat menghadapi kematian nyatamu di dalam demo version? Apa aku harus menciptakan rasa sakit baru?”

— 계속 —

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

30 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 16 [Epic-T] — IRISH”

  1. Mungkin kl di dunia nyata lucu kali ya ada orang yg lupa kalo dia hari itu mau nikah :v
    ko baekhyun sama wendy kayanya udh deket ya… Awas jiho nya cemburu baekhyun deket deket sama wendy

  2. Kenapa ada karakter games sperti mas cabe? Kok bisa gantle gitu sih baek di dalam games.. Weddingnya dilupain ga marah..aduh makin cinta aneh bang.. Heheh

    Siapakah si jas merah ini? Member exo pasti?

  3. Dududududu…. byunbaek sweeetttttttt….
    Pengertiannya itu lhooo, bikin sbel sama jiho jd nya…
    yg terakhir itu apa ya kak irish!? Agak ambiguuu nahhh..
    keep writing kkkk….

  4. Yang terakhir kok rada ambigu ya…

    Itu kayaknya tanggepan dari usaha taehyung yang gagal terus masukin ID jiho..

    Jangan jangan yang mau lenyapin si tehyung itu baekhyun?!!!!! :v

  5. Salpok sama cerita di bagian akhir :v ga bisa banyangin gimana kocaknya si Taehyung waktu penyamaran :v btw yang diakhir itu siapa?? Siapa yang mau lenyapin Epic-T penasaran.. Aku baru baca ini padahal udah lumayan lama updatenya kkkk.. Semangat lanjut ka irish.. ^^

  6. Agak bingung ama yang terakhir. . ./garukidung/
    Rish kok cabenya jadi makin romantis siih kesini. Ak kan jadi ikut deg degan kek jihoooo.
    Jadi penasaran sama abang jas merah. Sapa siih??? Jadi pen tahu.
    Ak kok jadi mikir si taehyung nyamar jadi baek. Itu si cabe kan yg di buat mondar mandir ke kamar mandi. Ye kan???
    Semangat ya rish buat ngelanjutin level selanjutnya. Semoga ceritanya makan abstrak. Karna semakin abstrak maka semakin enak bacanya.
    SERUUUUUUUUU!! Dan bikin penasaran.

    1. XD biasaa, dia mau bikin baper anak orang jadinya ya gitu pamer keromantisan dulu dong XD biar yang baca pada ikut baper juga XD wkwkwkwkwkwkwk BUAKAKAKAKAKKA BUKAN AH XD BAEKHYUN ENGGAK ADA HUBUNGANNYA SAMA PERUSAHAAN INI XD

  7. ku pikir udh habis krn ad fingernotes ny ternyata ada bagian taehyung ny. seneng bgt tim delta bisa dapet ruangan a , siapa sih yg baju merah marun itu?? itu yg terakhir yg ngegagalin taehyung itu baekhyun kah?? duhhh penasaran

  8. AKHIRNYA YG DITUNGGU TUNGGU MUNCUL JUGA 😍
    Btw itu tebakan ku salah semua hiks/g
    Ih itu tetet jgn dibikin mati bneran dong ntar aku sma siapa klo tetet mati/plak
    Btw pas liat teaser exo otak aku pertama kali mikir”wah ka irish berhasil nujum lagi nih” wkwkwk
    Ditunggu terus kak kelanjutan nya,fighting kak rish!!

    1. BUAKAKAKKAKAKAKA XD makanya jangan menduga-duga kalo aku belum spoiler XD kan tau sendiri daku ini bisa nujum XD kebukti deh, Game Over merepet-merepet cantik ke Power ya XD wkwkwkwkwkkwk

  9. wuahh… like it . kupikir, baek bakalan marah gegara jiho lupa weddingnya… ternyata eh, kalem banget. but honestly, kalo aku jafi jiho, aku juga bakal bingung, aoalnya, mending yang marahnya sekaligus, daripada keliatannya calm tapi lagi mendem emosi. hhehehe… di tungu y lanjutannya. maaf bru sempat comment di level ini. thank you, fighting, jalhaesseoyo… /iniapasih-_-shann/

    1. XD iya dooongg ~ di sini Baekhyunnya kalem kak, dia enggak beremosi ria XD wkwkwkwkwkwkwkkw ketimbang dia marah-marah enggak jelas kayak dulu, macem PMS aja gitu si Baekhyunnya XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s