[EXOFFI FREELANCE] Secret 1 My Marriage – (Chapter 1)

Secret #1 - Chapter 1.jpg

SECRET

#1 MY MARRIAGE

 [ UNFAIR ]

Title : SECRET #1 My Marriage

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO) as Byun Baekhyun, Kim Jisoo (BLACKPINK) as Park Seolhyun

Genre : Romance, Family

Rating : PG + 16

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri yang terinspirasi dari beberapa novel atau bahkan fanfic yang pernah aku baca. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita SECRET #1 My Marriage.

Credit poster by @hyekimxxi

Cerita Sebelumnya : Prolog

 

 

“Berhentilah menatap cermin seperti itu!” ucap Baekhyun sambil berusaha menyimpulkan mengancingkan kemejanya saat ia melihat istrinya – Park Seolhyun – sedang berdiri di depan cermin besar memperhatikan perut besarnya.

Mendengar hal itu Seolhyun mengerucutkan bibirnya sambil menatap kesal Baekhyun melalui cermin di depannya.

“Kau seperti akan menghancurkan cermin itu dengan tatapan menyeramkanmu itu,” lanjut Baekhyun tidak terpengaruh dengan sikap Seolhyun saat ini. Sikap kesal Seolhyun begitu menggemaskan di mata Baekhyun. Tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya jika ia akan jatuh cinta pada perempuan yang ada di depannya itu. Mungkin pada awalnya memang mereka menikah dengan terpaksa, tapi seiring dengan berjalannya waktu, tanpa terasa benih-benih cinta itu sudah tertanam di hati mereka.

Baekhyun tersenyum kecil saat memikirkan kehidupannya selama ini. Menikah saat ia baru saja masuk SMA dan sekarang tinggal menunggu beberapa hari lagi ia akan menjadi seorang ayah. Keputusannya untuk menikah tidak membuatnya menjadi seseorang yang memiliki kekurangan, bahkan ia merasakan yang sebaliknya. Kehidupannya bertambah sempurna dengan hadirnya Seolhyun dan calon bayi mereka.

“Perutmu tidak akan menjadi rata seketika walaupun kau terus memandanginya seperti itu,” ucap Baekhyun lagi sambil memakai blazer seragam sekolahnya.

“Kau tahu, semakin hari perutku semakin seperti ahjussi-ahjussi genit yang suka mabuk di malam hari. Bahkan lebih buruk dari mereka,” ucap Seolhyun mengeluarkan suaranya akan keresahan hatinya saat ia memandangi bentuk badannya yang sudah tidak menarik lagi. Menurutnya.

“Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Baby akan mendengarnya dan dia akan menjadi sedih.”

Seakan teringat sesuatu, Seolhyun pun langusng berkata, “Ah, maafkan eomma, sayang. Jangan sedih ya. Tak apa badan eomma seperti babi sekalipun, asalkan kau tetap tumbuh sehat eomma bahagia.” Seolhyun mengelus perutnya sambil mengajak bicara janinnya. Ia sedikit meringis saat tangannya merasakan tendangan yang cukup kuat dari janinnya.

Baekhyun tersenyum menatap perempuan yang sudah menjadi istrinya selama beberapa bulan terakhir ini. Ia berjalan mendekati Seolhyun, menyerahkan dasinya agar Seolhyun dapat memakaikannya. Ini merupakan kebiasan kecil mereka setiap pagi setelah mereka menikah.

“Ayo kita sarapan,” ajak Baekhyun begitu Seolhyun menyelesaikan ikatan simpulnya. “Kau masak apa hari ini?” tanya Baekhyun saat mereka sedang berjalan menuju ruang makan apartemen mereka.

“Hanya roti bakar dan telur mata sapi. Aku tidak sempat membuat makanan berat untuk kita sarapan. Lagi pula bahan makanan kita habis.”

“Jadi hari ini aku tidak mendapat bekal makan siang?”

Seolhyun meringis saat melihat tatapan kecewa Baekhyun karena hari ini tidak bisa membawa bekal. “Mianhae. Karena terlalu fokus pada persaiapn ujian akhir semester, aku jadi malas masak dan lupa kalau bahan makanan kita tinggal sedikit.”

“Jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku tidak ingin kau dan bayi kita terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Baekhyun menarik sebuah kursi untuk bisa di duduki Seolhyun. Kebiasaan manis lainnya yang mencoba mereka biasakan.

“Kami baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir.”

“Tapi kau selalu membuatku khawatir.”

Seolhyun kembali tersenyum minta maaf karena Baekhyun selalu mengkhawatirkannya akan segala hal. Tapi hati kecilnya sangat bahagia karena bisa mendapatkan perhatian yang berlebih dari suaminya itu. Baekhyun merupakan pribadi yang hangat jika bersamanya, lain halnya jika ia berada di sekolah. Ia akan menjadi pribadi yang dingin dan tak tersentuh. Tidak peduli akan keadaan sekitarnya. Begitulah kata Chanyeol. Sepupu sekaligus informannya dan juga sahabat Baekhyun.

Baekhyun memakan sarapannya dengan lahap. Padahal itu hanya masakan sederhana yang siapa pun bisa dengan mudah membuatnya tanpa perlu bersusah payah. Tapi entah kenapa, baginya masakan sederhana itu bagaikan masakan hotel berbintang lima. Mungkin karena yang memasakannya adalah seseorang yang begitu dicintainya. Cinta memang telah membutakannya.

Setelah selesai sarapan, Baekhyun dan Seolhyun berjalan menuju pintu keluar. “Nanti sepulang sekolah kita ke swalayan untuk membeli bahan makanan,” pesan Baekhyun saat ia berada di ambang pintu keluar dari apartemen setelah memakai sepatunya.

“Baiklah.”

“Hati-hati di rumah. Aku berangkat, babi seksiku.” Ucapnya sebelum ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Seolhyun.

Seolhyun tersenyum lebar sambil memperhatikan punggung Baekhyun yang perlahan menjauh. Ia mengusap lembut perut buncitnya seraya berkata, “Appamu sungguh manis, aegi-ya. Eomma jadi semakin jatuh cinta padanya.

Begitu sosok Baekhyun menghilang dari pandangannya, Seolhyun pun kembali masuk ke dalam apartemennya. Tanpa sadar ia menghembuskan napasnya dalam mengingat pekerjaan rumah tangganya yang tengah menantinya.

“Saatnya bekerja, aegi-ya,” ucap Seolhyun sambil menggulung sedikit lengan gaun tidurnya. Ia berjalan ke arah dapur dan mulai pekerjaan rumah tangganya dengan membersihkan piring kotor yang tadi sempat ia gunakan. Setelahnya ia melanjutkan untuk mencuci pakaian kotornya, lalu membersihkan debu-debu dengan mesin menyedot debu yang dimilikinya. Walaupun keadaannya sedang hamil besar, hal itu tidak menyurutkan semangat Seolhyun untuk tetap melakukan tugasnya seperti biasa.

Tidak terasa waktu pun sudah berjalan selama satu jam. Semua pekerjaan rumah tangganya sudah selesai dikerjakan oleh Seolhyun. Ia beristirahat sejenak sambil meminum segelas jus jeruk sebelum ia mandi untuk membersihkan dirinya.

Tepat pukul sembilan bel pintu apartemennya berbunyi menandakan jika ada seseorang yang datang untuk berkunjung. Seolhyun yang sudah rapi dan segar pun berjalan untuk membukakan pintu. Bibirnya otomatis melengkung ke atas saat melihat siapa yang datang.

“Silahkan masuk, Choi seonsaengnim.”

Orang yang disapa Seolhyun pun ikut tersenyum seraya melangkahkan kakinya untuk memasuki apartemen Seolhyun. Choi Siwon, orang yang dipanggil seonsaengnim oleh Seolhyun merupakan guru sekolah privat Seolhyun selama hampir sembilan bulan ini. Walaupun keadaan Seolhyun yang sedang mengandung, ia tetap mengedepankan sekolahnya. Meskipun itu bukan sekolah biasa pada umumnya.

Mereka berjalan menuju ruang keluarga dengan Seolhyun berjalan di belakang. “Anda mau minum apa, Choi seonsaengnim?” tanya Seolhyun saat akan meneruskan langkahnya menuju dapur. Tapi belum jauh Seolhyun melangkah, tangannya sudah dicekal oleh tangan besar milik Siwon.

“Biar aku saja yang mengambilnya sendiri. Aku tidak tega melihatmu berjalan kesana – kemari dengan perut besar seperti itu,” ucap Siwon yang langsung dibalas dengan suara kekehan ringan oleh Seolhyun. Jika saja ia belum bertemu dengan Baekhyun, maka bisa dipastikan ia akan jatuh cinta pada pria yang usianya tujuh tahun di atasnya ini.

“Aku sudah terbiasa.”

“Tetap saja aku tidak tega.” Siwon menuntun Seolhyun untuk duduk di sofa. “Duduklah. Jangan buatku menjadi pria berengsek dengan membiarkan seorang wanita hamil besar melayaninya,” lanjutnya lagi yang kali ini dijawab anggukkan kepala oleh Seolhyun. Setelah itu Siwon berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum untuknya dan juga Seolhyun. Beberapa menit kemudian ia sudah kembali gabung dengan Seolhyun di ruang keluarga itu.

“Kapan bayinya lahir?” tanya Siwon menyerahkan segelas jus melon pada Seolhyun yang diterimanya dengan senang hati.

“Terimakasih,” gumam Seolhyun menerima gelas tersebut. “Berdasarkan perkiraan dokter, akhir minggu ini.”

Siwon mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Seolhyun yang kelewat santainya di saat ia hanya sendirian di apartemennya. “Dan suamimu masih pergi ke sekolah?”

“Sebentar lagi ia akan ujian akhir semester. Aku tidak tega jika harus menyuruhnya bolos sekolah,” gumam Seolhyun sambil mengelus perutnya kala ia merasakan sebuah tendangan dari dalam perutnya itu.

“Dengan kemampuan otak yang ia miliki saat ini, seharusnya tidak akan jadi masalah baginya walaupun ia harus bolos selama seminggu sekalipun.”

Seolhyun mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui pendapat dari gurunya itu. “Aku akan mendiskusikannya lagi dengannya. Bisakah kita mulai pelajarannya? karena aku mulai lapar lagi,” tanya Seolhyun dengan menampilkan wajah memelasnya.

Pertanyaan Seolhyun hanya dijawab oleh kekehan ringan dari gurunya itu hingga memunculkan lesung pipit di pipinya yang menjadi nilai plus selain wajah tampannya. Ia mengacak puncak kepala Seolhyun yang sudah dianggap sebagai adiknya itu dengan gemas.

“Kau bisa belajar sambil makan jika itu yang kau inginkan.”

Seketika wajah Seolhyun tersenyum sumringah. “Assa. Kau memang yang terbaik seonsaengnim,” puji Seolhyun sambil mengacungkan kedua jempolnya. Berjalan ke arah dapur untuk membawa beberapa toples cemilan yang biasa menemaninya kala ia belajar. Semenjak hamil, nafsu makannya bertambah tiga kali lipat, dan itu berdampak pada bentuk tubuhnya yang menjadi semakin berisi saja.

Empat jam kemudian Seolhyun dan Siwon selesai proses belajar mengajar. Mereka sedang duduk santai di ruang keluarga apartemen Seolhyun sambil menunggu pesanan makanan mereka. Sudah hampir dua puluh menit berlalu hingga akhirnya bunyi bel pintu apartemen pun terdengar. Seolhyun yang hendak beranjak pun  segera di tahan oleh Siwon.

“Biar aku saja,” ucapnya sebelum beranjak.

Beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan tangan memegang tiga porsi jajangmyeon. Seolhyun langsung menegakkan punggungnya begitu dua porsi mi saus kacang hitam itu di letakkan di depannya. “Selamat makan,” ucap Seolhyun sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Tanpa berkata-kata lagi ia langsung memakannya dengan lahap.

Di sela kunyahannya ia mendengar suara ponselnya bunyi. Seolhyun menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon dari suaminya itu. Belum juga ia bersuara, di seberang sana Baekhyun sudah mengeluarkan suaranya membuatnya tersenyum tanpa sadar.

“Kau sedang makan siang dengan guru sekolah privat mu itu lagi?” tanya Baekhyun dengan suara dinginnya yang semakin memperlebar senyuman Seolhyun. Begitulah Baekhyun. Pria dingin pencemburu padahal sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Kekanakan.

“Hm,” jawab Seolhyun dengan mulut penuh jajangmyeon. Terdengar hembusan napas kasar di seberang sana.

Tak bisakah kau makan sendirian saja?”

Dengan susah payah Seolhyun menelan kunyahannya sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun yang hampir sama setiap harinya. “Kau tahu aku paling tidak suka makan sendirian,” jawabnya sedikit tak acuh.

Kau bisa mengajak ibuku atau Yura noona untuk menemanimu makan asalkan jangan dengan pria sialan itu.”

“Oh ayolah, Baek. Dia hanya guruku, walaupun ada sesuatu yang lebih di antara kami, itu tidak akan lebih dari seorang kakak dengan adik perempuannya. Lagi pula ibumu dan Yura eonni sedang sibuk. Kau mau aku dan anakmu kelaparan demi menunggumu pulang?”

Tidak terdengar jawaban di seberang sana membuat Seolhyun melanjutkan ucapannya, “Kau mau tanggung jawab jika sesuatu terjadi pada kami gara-gara menahan lapar seharian?” rajuk Seolhyun yang membuat Baekhyun kembali menghembuskan napasnya dalam. Baekhyun tidak akan pernah menang jika Seolhyun sudah mulai merajuk padanya.

Kau tahu jika kalian berdua adalah hal yang berharga bagiku.”

“Aku tahu.”

Maka dari itu berhentilah makan jajangmyeon sekarang juga, nyonya muda Byun!”

Seolhyun langsung tersedak mendengar nada kesal Baekhyun di seberang sana. Bagaimana ia bisa tahu?

“Kau penasaran darimana aku bisa tahu?”

Baekhyun menjeda perkataannya memberi kesempatan untuk Seolhyun memikirkan jawabannya sebelum kembali melanjutkan perkataannya.

Kau pikir aku tidak tahu seperti apa kebiasaanmu?”

Seolhyun langsung mengerucutkan bibirnya kesal karena Baekhyun kembali memarahinya hanya karena Seolhyun suka makan jajangmyeon.

Kau tahu bukan bahaya dari kebanyakan makan mi itu seperti apa?”

Seketika itu juga Seolhyun sedikit melemparkan piring jajangmyeongnya sedikit agak keras ke arah meja di depannya. Siwon yang dari tadi memperhatikan perubahan wajah Seolhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Padahal baru beberapa menit yang lalu gadis di depannya itu tersenyum lebar, tapi sekarang wajahnya diliputi kemarahan yang berusaha ditekannya.

Seollie-ya?”

Seolhyun masih diam mendengarkan ceramah panjang lebar Baekhyun mengenai makanan kesukaannya itu tanpa berniat menjawabnya sama sekali. Ia terlalu kesal dengan Baekhyun hingga membuatnya ingin menangis saat ini juga. Jika saja tidak ada Siwon di depannya, sudah dipastikan Seolhyun akan berderai air mata sambil memaki-maki Baekhyun dengan segala sumpah serapah yang sudah siap keluar dari mulutnya. Tapi demi pencitraan di depan gurunya, dan ia juga masih sayang pada bayinya, maka ia memilih untuk diam.

Byun Seol – “

Kau mengacaukan selera makanku, Tuan Byun. Jadi, kalau kau tidak ingin aku memakan makanan terkutuk itu, sebaiknya kau cepat pulang dan bawakan aku banyak makanan yang menurutmu itu sehat untuk kami. Karena kami saat ini sedang kelaparan.”

Seolhyun langsung menutup sambungan teleponnya setelah ia memotong ucapan Baekhyun sebelumnya. Dadanya naik turun karena menahan emosi yang tidak keluar sepenuhnya.

“Kau baik-baik saja?”

Seakan tersadar sesuatu, Seolhyun pun mengalihkan tatapannya ke depan setelah ia menatap tajam ponselnya yang tergeletak begitu saja. Tatapan bingung yang diberikan Siwon membuat Seolhyun tersenyum canggung seketika.

“Kau baik-baik saja?” tanya Siwon lagi karena Seolhyun tidak kunjung menjawab pertanyaannya.

Saem, melihat semuanya?” lirih Seolhyun yang dijawab anggukkan samar oleh Siwon. Detik itu juga Seolhyun mendengus kesal. “Bukankah dia sungguh menyebalkan?”

Siwon kembali mengernyit ketika mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Seolhyun.

“Ia selalu melarangku memakan sesuatu yang aku sukai. Bagaimana jika saat itu aku sedang ngidam dan Baekhyun melarangnya? Bukankah itu tidak baik bagi bayinya juga?” jelas Seolhyun mengutarakan kekesalannya.

“Kenapa ia sampai melarangmu seperti itu? Apakah karena kau terlalu sering memakan mi?”

“Itu tidak sesering yang saem pikirkan. Aku hanya memakannya dua kali dalam seminggu.”

“Dengan dua porsi setiap satu kali makannya?”

Kali ini giliran Seolhyun yang meringis pelan karena mendengar hal itu. “Bukankah wajar jika sedang hamil nafsu makan kita jadi bertambah banyak?” tanya Seolhyun mencoba membela dirinya kali ini.

“Jika aku jadi Baekhyun, maka aku juga akan memarahimu saat ini juga.” Wajah Seolhyun kembali berubah masam. “Aku akan membereskan ini,” ucap Siwon sambil membereskan sisa makanan mereka yang belum habis. Ia kembali mengemas makanan tersebut ke dalam kantong makanan termasuk sisa makanan Seolhyun yang belum habis.

Melihat hal itu membuat mata Seolhyun berkaca-kaca menahan tangisan. Jangan lupakan jika selain nafsu makannya yang berubah, sifatnya juga ikut berubah. Kehamilan membuatnya menjadi lebih sensitif dari biasanya.

Siwon yang melihat pun menjadi tidak tega. Setelah berpikir keras, dengan berat hati ia mengulurkan piring jjajangmyeon milik Seolhyun ke hadapan gadis itu. Kebingungan Seolhyun terjawab sudah saat Siwon mengeluarkan suaranya.

“Hanya satu kali suapan terakhir,” ucapnya yang membuat Seolhyun tersenyum cerah seketika. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi ia mengambil piring itu, lalu menyumpit mi tersebut dan menggulungnya menjadi satu gulungan mi yang besar. Walaupun sedikit kesusahan, Seolhyun tetap memakan semuanya dalam satu kali suapan.

“Pelan-pelan saja,” peringatan Siwon saat melihat Seolhyun begitu bersemangat menelan makanan kesukaannya. Seolhyun menuruti ucapan Siwon yang menyuruhnya untuk pelan-pelan saat mengunyah. Ia tidak mau mati konyol hanya karena tersedak jjajangmyeon yang sedang ia makan.

Tepat Seolhyun berhasil menelan kunyahan terakhirnya, pintu apartemen pun terbuka dengan sangat kerasnya. Seolhyun dan Siwon otomatis mengalihkan tatapannya menuju pintu keluar. Mata mereka membulat sempurna begitu melihat Baekhyun berdiri di sana dengan napas terengah-engah sambil menenteng sebuah plastik besar yang Seolhyun tahu apa isinya.

Siwon yang pertama kali sadar dari keterkejutannya langsung berkata, “Sebaiknya aku pergi. Kita bertemu lagi besok,” pamitnya.

Seolhyun langsung memutuskan tatapannya dengan Baekhyun saat mendengar suara Siwon yang berpamitan pulang. “N-nde. Hati-hati di jalan, saem,” ucap Seolhyun dengan manisnya.

Untuk sementara ia akan mengabaikan Baekhyun yang telah membuatnya kesal. Seolhyun terus memperhatikan punggung Siwon yang bergerak menuju pintu keluar. Ia juga sempat melihat Siwon sedikit menepuk pundak Baekhyun yang terlihat tegang karena sedang menatapnya tajam.

Selepas kepergian Siwon, Seolhyun kembali mengalihkan tatapannya pada Baekhyun. Keheningan begitu mencekam sangat terasa di antara mereka. Seolhyun melipat tangannya di depan dada, sedangkan Baekhyun masih mempertahankan posisi berdirinya.

“Jangan lupakan jika aku juga marah padamu,” ucap Seolhyun berusaha sekesal mungkin dengan menahan keinginannya untuk merebut plastik berisi makanan yang digenggam Baekhyun. Ia lupa jika Baekhyun begitu ahli dalam merayunya dengan sekantong makanan.

“Dan jangan lupakan aku juga sedang marah padamu,” timpal Baekhyun tidak mau kalah yang dibalas dengusan oleh Seolhyun. Mereka kembali saling berperang lewat tatapan mata. Siapa yang mengalihkan tatapannya lebih dulu, maka ia lah yang kalah. Baekhyun yang menyadari gadis di depannya ini sangat keras kepala, mau tidak mau ia kembali mengalah.

Baekhyun memejamkan matanya sejenak. Saat ia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik Seolhyun yang tengah tersenyum lebar ke arahnya. Baekhyun melangkahkan kakinya menuju sofa yang di duduki Seolhyun. Ia menghempaskan tubuhnya di samping Seolhyun setelah sebelumnya menaruh kantong plastik yang dibawanya di atas meja.

Baekhyun menangkup wajah Seolhyun yang masih memperhatikannya. Sebelum Seolhyun bereaksi, ia segera mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya itu. Baekhyun mencium bibir Seolhyun dengan begitu dalamnya mencurahkan segala rasa frustasinya jika sudah bertengkar dengan Seolhyun.

Baekhyun menghisap bibir Seolhyun begitu dalam membuat Seolhyun mengerang nikmat. Bahkan Baekhyun sampai menjilat tepian bibir Seolhyun dengan bibir dan lidahnya. Mencecap rasa jjajangmyeon yang masih tertinggal di sana.

Seolhyun yang sudah mulai kehabisan napas pun memukul lengan Baekhyun agar melepaskannya. Namun Baekhyun seakan tidak peduli tetap melanjutkan ciuman panasnya. Seolhyun yang kesal pun pada akhirnya menggigit bibir Baekhyun sedikit keras agar mau melepaskannya. Dan usahanya tidak sia-sia karena Baekhyun pun menurutinya.

“K-kau ingin kami kehabisan napas?” tanya Seolhyun dengan napas terengah-engahnya.

“Salahkan dirimu yang terlalu menggemaskan jika sedang marah seperti itu,” jawab Baekhyun ringan.

“Dasar perayu ulung,” cibir Seolhyun sambil membuka bungkusan kantong plastik yang dibawa suaminya itu. Matanya langsung berbinar melihat apa isi kantong plastik itu. “Wooaa…”

“Kau suka?”

Seolhyun menganggukkan kepalanya kelewat antusias lalu mengecup pipi Baekhyun sebelum berkata terima kasih. Seolhyun mengambil sepotong kimbab yang dibawa Baekhyun dan mengerang nikmat didetik berikutnya.

“Aku tidak bisa membelikanmu makanan sehat lainnya selain ini,” gumam Baekhyun sambil mengambil satu potong kimbab dan memakannya. Seolhyun menghentikan kunyahannya dan menatap Baekhyun dengan mata menatap horor.

“Phuhahhah hau halusnya ada di sheholah?” (Bukankah kau seharusnya ada di sekolah?) tanya Seolhyun dengan mulut penuh makanan.

“Kunyah dulu makananmu baru bicara.”

“Hapi…” (Tapi…)

“Shh…” Baekhyun mendesis tidak suka karena Seolhyun masih saja berbicara. “Aku tidak mungkin membiarkan istri dan anakku kelaparan di saat aku bisa makan enak semauku. Aku hanya tidak suka kau terus memakan makanan yang tidak sehat padahal bukan hanya kau saja yang makan, tapi anak kita juga perlu makan.”

Seolhyun terdiam mendengar penjelasan Baekhyun. Memang saat ini ia tidak bisa bersikap egois seperti dulu jika menyangkut makanan karena saat ini bukan hanya dia saja yang makan, tapi ada makhluk lainnya yang harus ia beri makan.

“Aku tahu umur kita masih sangat terlalu muda untuk menjadi orang tua, bahkan kita belum genap tujuh belas tahun. Tapi bukankah kita sudah berjanji untuk sama-sama belajar? Untuk itu marilah kita belajar untuk hidup sehat di mulai dari hal kecil seperti ini. Demi anak-anak kita kelak.”

Seolhyun menundukkan kepalanya tanda menyesal. “Maafkan aku.”

Baekhyun merangkum wajah Seolhyun yang tengah menunduk agar bisa menatapnya langsung tepat di manik mata yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap harinya. “Aku juga minta maaf karena belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik untukmu.”

Mata Seolhyun terlihat berkaca-kaca karena terharu dengan ucapan Baekhyun beberapa saat yang lalu. “Kau sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kami.”

Baekhyun tersenyum mendengar pengakuan Seolhyun yang begitu jujur tentangnya. “Kalau begitu, segeralah habiskan makananmu, setelah itu kita pergi belanja.”

“Kau tidak kembali ke sekolah?”

“Aku sudah minta izin.”

“Baiklah.” Seolhyun melanjutkan makannya, lalu kembali terdiam setelah ia menyadari sesuatu. Ia kembali menghadapkan tubuhnya untuk menatap Baekhyun yang sedang menatap bosan ke arah televisi. “Kau ke sini naik apa?”

“Skuter milik sepupumu.”

“Maksudmu motor mungil warna putih itu?”

“Seingatku motor yang ia punya hanya itu.”

“Tapi kau tidak memiliki sim untuk mengendarai kendaraan beroda dua itu.”

“Asalkan aku bisa cepat sampai di rumah, ditilang polisi pun aku tidak peduli.”

“Tapi tetap saja. Lalu kemana mobilmu?”

“Aku tinggalkan di tempat parkir, biar Chanyeol yang membawanya kesini.”

“Lalu tas mu?”

“Aku tinggalkan di kelas.”

Mwo?” Seolhyun berteriak kesal. Ia memijat tengkuknya yang terasa tegang karena semua jawaban Baekhyun kelewat santainya.

“Sudahlah. Lebih baik kau habiskan saja kimbab dan jusnya.”

Mengabaikan perkataan Baekhyun, Seolhyun malah menatap tajam suaminya itu. “Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu saat dalam perjalanan kesini dan tidak ada yang mengenalimu? Aku tidak mau menjadi janda muda dengan satu orang anak.”

“Kau lihatkan aku tidak kekurangan sesuatu sedikit pun? Jadi, kau tidak usah membayangkan sesuatu yang tidak terjadi, karena kau tidak akan menyandang gelar itu dalam waktu dekat ini.”

“BYUN BAEKHYUN!!”

Waeyo?”

Kau benar-benar …. “

Ucapan Seolhyun terpotong karena Baekhyun segera menyumpal mulutnya dengan sepotong kimbab. Dengan perasaan kesal Seolhyun tetap mengunyah kimbab tersebut. dan Baekhyun malah tersenyum melihat Seolhyun menahan perasaan kesalnya sambil mengunyah makanan.

“Jika pun sesuatu terjadi padaku saat dalam perjalanan kesini, aku tidak peduli. Asalkan aku sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kalian, kehilangan nyawa pun tidak akan menjadi masalah.”

“Kenapa kau selalu mengatakan kata-kata yang manis di saat aku sedang marah padamu?”

“Apakah kau tidak menyukainya?”

“Tentu saja aku menyukainya. Hanya saja aku tidak ingin membayangkan kau melontarkan kata-kata manis itu pada gadis lain selain aku.”

“Sayangnya aku tidak punya rencana untuk melakukan hal itu pada orang lain.”

“Sebaiknya memang tidak ada rencana sama sekali.”

“Tapi ada satu rencana yang ingin aku lakukan saat ini.”

“Apa itu?”

“Menjadikanmu sebagai patner hidupku selamanya.”

“Bukankah kau sudah melakukannya?”

“Tapi aku ingin mengatakannya setiap hari untuk sekedar mengingatkanmu jika kau tidak bisa lari dariku selamanya.”

Seolhyun berdecak cukup keras membuat senyuman Baekhyun semakin bertambah lebar saja. “Tanpa kau tahan pun aku tidak akan lari ke mana-mana karena kau adalah rumahku.”

Baekhyun terdiam selama beberapa saat sambil memperhatikan Seolhyun yang tengah fokus pada makanannya. Tubuh indahnya sudah tidak seindah seperti pertama kali mereka bertemu, tapi entah kenapa bagi Baekhyun tubuh Seolhyun yang sekarang jauh terlihat lebih seksi dari model victoria secret sekalipun. Jika benar ada kehidupan kedua, maka Baekhyun berharap di kehidupannya itu nanti ia dipertemukan lagi dengan gadis yang tengah mengandung anaknya ini.

“Aku sungguh tidak menyesal dengan pernikahan ini.”

“Bagus, karena jika kau menyesal aku yang akan mengikatmu agar tidak bisa lari dariku.”

“Sepertinya ide ikat mengikat kedengarannya bagus juga,” goda Baekhyun sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Seolhyun. Mereka terdiam selama beberapa saat sebelum teriakan menggelegar keluar dari bibir Seolhyun.

Byuntae!!”

Tawa keras Baekhyun terdengar memenuhi apartemen mereka. Awalnya ia hanya ingin menggoda istrinya saja, tapi saat wajah Seolhyun berubah menjadi merah padam, ia tahu ke mana arah pikiran istrinya itu.

Begitulah kehidupan pernikahan mereka selama ini. Jika salah satu dari mereka ada yang kesal atau marah, maka yang lainnya akan mengeluarkan jurus terjitunya untuk meluluhkan hati lawan jenisnya. Walaupun mereka baru mengenal satu sama lain, tapi mereka tahu, hati mereka telah terikat sejak janji suci itu diucapkan.

Mereka membangun semuanya dari awal. Termasuk cinta mereka.

 

~ Tbc ~

 

Tidak ada kata yang ingin aku katakan selain, semoga kalian menyukainya.

Sampai jumpa dilain kesempatan ^^

Bye-bye :-*

Regard, Azalea

 

 

 

 

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret 1 My Marriage – (Chapter 1)”

  1. Entah kenapa baca chapter ini berasa baca lanjutan film Jenny & Juno hahaha. Baek belum 17 tahun tp udah dewasa bgt jd pengen jd Seolhyun (?) wkwkwkwk

    Ditunggu kelanjutannya ;)))

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s