[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 45)

MY LADY - CHAPTER 45.jpg

 

MY LADY

 [ Chapter 45]

 

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACKPINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : PG + 17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32 -> CHAPTER 33 -> CHAPTER 34 -> CHAPTER 35 -> CHAPTER 36 -> CHAPTER 37 -> CHAPTER 38 -> CHAPTER 39CHAPTER 40CHAPTER 41 -> CHAPTER 42 -> CHAPTER 43 -> CHAPTER 44

 

 

Sena mengernyitkan keningnya saat melihat Shannon masuk ke dalam rumah. Ia tidak bisa mengatakan jika keadaan Shannon baik-baik saja. Terlihat wajahnya lelah, tapi juga semacam lelah pada umumnya. Sena seperti mengerti arti lelah dialami oleh Shannon. Sebut saja Sena lebih pengalaman dari pada Shannon. Sekali melihatnya saja Sena langsung tahu apa yang telah terjadi dengan Shannon.

“Kau baru pulang?” tanya Sena berhasil menghentikan langkah kaki Shannon. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seakan tidak percaya jika Sena sedang bertanya padanya.

“Kau bertanya padaku?”

Sena memutarkan matanya jengah. “Kau tidak lihat jika di ruangan ini hanya ada kita berdua?”

“Dan seingatku, hubungan kita tidaklah sedekat itu, sampai saling bertukar sapa saat kita bertemu.”

Detik selanjutnya Sena benar-benar menyesal karena telah mengkhawatirkan Shannon. Walaupun itu hanya sedikit saja. “Lupakan!” ucap Sena meneruskan langkahnya, tapi langsung berhenti di langkahnya yang ketiga. “Sebaiknya kau tidak usah memaksakan dirimu untuk berjalan jika pada kenyataannya kau tidak bisa berjalan dengan benar sama sekali.”

“Berengsek!” maki Shannon yang masih bisa didengar Sena. Tidak mempedulikan makian Shannon padanya, Sena pun tetap melangkah menuju pintu keluar. Sena sudah terlalu terbiasa mendengar hal itu. Di depan pintu, Taeyong sudah menunggunya di samping mobil yang akan membawanya ke perusahaan Baekhyun.

Dua puluh menit kemudian, Sena sudah sampai di depan perusahaan Baekhyun. Ia melangkah memasuki lobby. Beberapa orang yang berpapasannya dengannya, menyapa Sena dengan hormat. Memperlakukan Sena layaknya nyonya besar di perusahaan Baekhyun. Karyawan Baekhyun bukannya tidak tahu siapa sebenarnya Sena.

Mereka tahu jika Sena dulunya adalah calon istri dari bos mereka tapi karena suatu hal, pernikahan itu tidak terjadi, dan sekarang Sena kembali lagi sebagai kekasih dari Baekhyun, atau lebih tepatnya wanita simpanan bos besar mereka. Beberapa orang ada yang menghujat Sena di belakangnya, tapi tidak sedikit dari mereka bersikap tak acuh akan kehidupan pribadi dari bos mereka.

Sesampainya Sena di lantai ruangan Baekhyun, ia tidak mendapati Taeil berapa di mejanya. Tapi melihat ada satu orang lainnya yang tidak dikenalnya tengah duduk seberang meja Taeil. Mungkin ia pegawai baru, pikir Sena sambil melangkah mendekati meja kerjanya untuk menanyakan keberadaan Baekhyun.

“Permisi.” Sapaan Sena berhasil mengalihkan pandangan pria muda itu dari layar komputernya. Ia menatap Sena dengan tatapan datarnya dan membuat Sena menjadi canggung untuk mengutarakan tujuannya. “A-apakah CEO Byun ada di ruangannya?”

“Beliau sedang rapat dengan salah satu kolega bisnisnya di lantai dua puluh,” jawab pria yang bernama lengkap Ji Hansol itu pada Sena.

“Kalau begitu aku akan menunggunya di dalam ruang kerjanya.”

Belum sempat Sena melangkah, Hansol sudah menghadang jalannya. Jika saja Hansol bukan orang baru, mungkin Sena sudah memakinya karena telah lancang dengan mencegatnya seperti ini.

“Maaf, nona. Anda tidak masuk. Lagi pula anda belum membuat janji dengan beliau.”

“Biarkan dia masuk!” ucap seseorang yang membuat Sena membalikan badannya dan Hansol menundukan kepalanya setelah tahu siapa sedang berbicara padanya.

“Kai-ya…” sapa Sena begitu Kai berdiri tidak jauh darinya.

“Kau harus memakluminya. Dia orang baru.” Jelas Kai yang ditanggapi anggukan kepala oleh Sena. “Ingatlah wajah wanita yang ada di depanmu ini. Kau harus menghormatinya, dan kapan pun ia ingin bertemu dengan CEO Byun, kau tidak bisa menghalang-halanginya. Itu pun jika kau masih sayang dengan nyawamu. Kau mengerti, Hansol-ssi?”

Iye, algeuseumnida,” jawab Hansol sedikit bergetar karena bagaimana pun ia takut jika sudah berhadapan dengan salah satu atasannya.

Kai kembali menatap Sena yang masih berdiri memperhatikan dirinya dan Hansol. “Masuklah. Mungkin setengah jam lagi Baekhyun akan selesai dengan urusannya.”

Sena pun tersenyum ke arah Kai. Ia sungguh berterima kasih pada Kai, karena berkat pria itu ia tidak akan bisa masuk ke dalam ruangan Baekhyun secara leluasa. Setelah mengatakan terima kasihnya, Sena pun masuk ke dalam ruang kerja Baekhyun. Mengamati sekeliling ruangannya yang terlihat dingin saat tidak ada orang di dalamnya.

Sena menaruh kotak bekal makan siangnya di atas meja yang berhadapan langsung dengan sofa yang ada di ruangan Baekhyun. Sena melangkah menuju jendela besar yang ada di ruangan Baekhyun. Dari sini ia bisa melihat pemandangan kota Seoul yang sangat padat dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Sudah lama ia tidak menginjakan kaki di ruangan ini. Terhitung sudah tahun berlalu dan tidak ada yang berubah dari ruangan ini sama sekali.

Setelah puas dengan pemandangan yang disuguhkan dari atas ketinggian, Sena pun melangkah menuju rak buku yang ada di salah satu sudut ruang kerja Baekhyun. Mengamati buku apa saja yang ada di rak buku tersebut. Matanya menelisik satu per satu judul buku yang ia baca dari sampulnya. Di sana terdapat banyak sekali buku, mulai dari buku bisnis, sampai novel langka pun ada. Ini hanya sebagian kecil koleksi buku Baekhyun, karena selebihnya ada di perpustakaan pribadi milik Baekhyun di rumahnya.

Tidak terasa ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk membaca judul-judul buku tersebut, dan membaca sinopsis dari beberapa buku yang dianggapnya menarik. Ia terlalu tenggelam dalam dunianya hingga tidak menyadari jika Baekhyun sedang memperhatikannya dari ambang pintu.

“Apakah buku itu lebih menarik hingga kau tidak menyadari keberadaanku di sini?” ucap Baekhyun sinis karena ia merasa diabaikan terlalu lama oleh Sena. Seketika itu juga Sena langsung menutup buku yang dipegangnya dan menaruhnya kembali ke tempatnya semula.

“Itu karena kau terlalu lama dengan dunia bisnismu itu,” jawab Sena santai seakan tidak peduli dengan kekesalan Baekhyun saat ini. Ia melangkahkan kakinya menuju sofa, membuka kotak bekal makan siang yang ia bawa sebelumnya. “Duduklah. Aku membawakan kau makan siang.”

“Kau paling tahu bagaimana caranya menyuapku.” Dengan enggan Baekhyun mendudukan dirinya di samping Sena yang tengah terkekeh mendengar gerutuan Baekhyun. “Tapi aku lebih tertarik memakan orang yang membawanya dari pada apa yang dibawanya!”

Byuntae!!” Sena memukul lengan atas Baekhyun seraya menyipitkan matanya.

“Tapi kau suka kan?” goda Baekhyun membuat semburat merah perlahan tapi pasti memenuhi wajah Sena.

“Berhentilah berbicara dan cepat habiskan makananmu!” ucap Sena sambil menyuapkan sesendok nasi ke arah mulut Baekhyun. Mau tidak mau Baekhyun pun menerima suapan itu. Lima belas menit berlalu. Mereka makan bersama yang kadang diselingi oleh obrolan ringan di antara mereka. Saat Sena sedang membereskan peralatan bekal makan siangnya, Baekhyun merengkuh pinggangnya membuat ia tersentak kaget.

Baekhyun mendudukan Sena di atas pangkuannya. Sebelum Sena menyadari apa yang dilakukan olehnya, Baekhyun segera menyerang bibir Sena. Ia memagut bibir tipis Sena dengan rakus. Mengecup, menjilat, dan menggigitnya gemas membuat Sena tanpa sadar mengerang. Ciuman yang memabukkan itu membuat Baekhyun maupun Sena terbuai hingga mereka tidak sadar jika ada orang lain yang tengah memperhatikan kegiatan panas mereka saat ini.

“Aku bertaruh jika mereka sebentar lagi akan bercinta di sofa itu,” ucap Chanyeol.

“Sofa terlalu mainstream. Kurasa mereka akan melakukannya di dekat jendela itu,” timpal Kai.

Objek yang menjadi bahan taruhan Kai dan Chanyeol pun segera memisahkan diri. Mereka menatap bingung ke arah Chanyeol dan Kai yang dibalas dengan senyuman menggoda keduanya. Keempatnya diselimuti keheningan. Sena yang tersadar pun segera menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Baekhyun, sedangkan Baekhyun menggeram marah ke arah dua sahabatnya itu.

“Ayo lanjutkan. Kapan lagi aku menyaksikan adegan panas secara live ditambah dengan sebuah hadiah nantinya.”

Perkataan Chanyeol yang kelewat santainya membuat Baekhyun semakin menatapnya tajam. Andai tatapan mata Baekhyun bisa menembakan sinar laser yang dapat membelas sesuatu menjadi dua bagian, mungkin saat ini baik Chanyeol maupun Kai adalah sasaran empuknya. Karena mereka telah berani-beraninya mengganggu kesenangannya.

Damn it!

 

***

 

Sehun meletakan sebuah map di atas meja kerja Kyungsoo membuat kegiatan yang dilakukan Kyungsoo berhenti saat itu juga. Ia menatap penasaran ke arah map yang di depan meja kerjanya, lalu ia menengadahkan wajahnya untuk menatap Sehun yang masih berdiri di samping meja kerjanya.

“Apa ini?”

“Sebuah informasi yang akan menghancurkan sebuah transaksi besar.”

“Transaksi besar?”

“Ya. Kelompok mafia yang menjadi target kita akan melakukan sebuah transaksi narkoba skala besar dalam waktu dekat ini.”

“Dari mana kau tahu semua ini?” tanya Kyungsoo sambil membuka map yang ada di depannya.

“Dari seorang informan terpercaya.”

“Kau yakin informasi ini akurat?”

“Kau meragukanku?”

“Tentu saja tidak. Jika memang informasi ini akurat, kita harus mempersiapkan segalanya dengan matang.” Kyungsoo mengambil tabnya, lalu membuka aplikasi yang menampilkan peta benua Asia. Google maps tidak diizinkan oleh pemerintah Korea Selatan, sedangkan naver maps hanya mencakup wilayah negara ginseng saja. Kyungsoo membutuhkan peta yang lebih luas lagi.

“Menurut informasi yang kita punya, mereka akan mengambil barang dari salah satu negara yang ada di Asia Tenggara.” Sehun menjeda ucapannya dan memperbesar gambar peta yang muncul ditab Kyungsoo. “Negara penghasil narkoba di Asia Tenggara terlalu banyak. Ada Filipina, Indonesia, Myanmar, Laos, dan Kamboja.

Filipina dan Indonesia terkenal sebagai negara penghasil pil ekstasi terbesar, sedangkan Myanmar, Laos dan Kamboja, mereka merupakan negara penghasil heroin dan opium. Tapi kita juga tidak bisa mengabaikan Indonesia begitu saja. Mereka mempunyai ladang ganja dengan kualitas terbaik yang pernah ada.”

“Seingatku Meksiko lebih suka mengkonsumsi narkoba herbal dari pada jenis sintesis atau yang lainnya. Jika memang benar, maka kita harus mengawasi jalur perdagangan di Indonesia, Myanmar, Laos, dan Kamboja.”

“Kau benar, hyung. Karena mereka memiliki beberapa kapal kargo yang menuju beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, kemungkinan salah satunya akan digunakan untuk mengangkut barang terlarang itu. Untuk itu aku ingin kau menghubungi kepolisian di negara-negara yang kita curigai tadi  untuk bekerja sama.”

“Kau ingin aku menyuruh kepolisian di sana untuk menangkap mereka langsung?”

“Jangan. Aku ingin kita menangkap mereka dengan tangan kita sendiri. Mereka terlalu licin jika kita tidak menangkap mereka secara langsung.”

“Aku setuju denganmu.”

“Entah kenapa, aku punya firasat jika para petinggi mafia ini akan turun langsung untuk menyukseskan transaksi ini. Mereka tidak mungkin menyerahkan traksaksi penting ini kepada anggota tingkat rendah. Terlalu berisiko, dan jika gagal akan sangat merugikan klan tersebut.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan sebelum hari H transaksi ini?”

“Menunggu.”

“Menunggu? Jangan bercanda.” Kyungsoo menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya.

“Kita masih belum mendapatkan informasi mengenai waktu dan tempat dilakukannya transaksi tersebut. Kita harus menunggu kabar selanjutnya dari agen bayangan yang tengah bertugas.”

“Baiklah. Untuk sementara kita lakukan apa yang bisa lakukan terlebih dahulu. “

“Aku akan memberitahu Joonmyeon hyung mengenai masalah ini agar ia dapat membantu kita mempermudah mengurus prosedur-prosedur penyelidikan ke depannya.”

“Apakah NIS juga terlibat?”

“Mereka ada di belakang kita. Menjadi bayangan disetiap langkah kita.”

Setelah mengatakan hal itu, Sehun pun beranjak ke ruangan Joonmyeon, dan Kyungsoo melakukan tugasnya. Tanpa terasa satu minggu pun berlalu dengan sangat cepatnya. Joonmyeon bersedia membantu untuk menggagalkan transaksi ini, tapi sayang, Sehun belum juga mendapat kabar kapan dan dimana transaksi ini akan dilakukan.

Sehun mengalihkan perhatiannya dari berkas yang sedang dipelajarinya saat ia merasakan sebuah getaran dari ponsel jam tangannya. Pesannya sangat singkat hanya menunjukan sebuah tanggal, dan nama sebuah tempat. Tanpa berpikir panjang pun ia tahu apa arti dari pesan tersebut. Sehun segera beranjak dari kursinya menuju meja kerja Kyungsoo yang berada di seberangnya. Ia langsung menyodorkan ponsel jam tangannya ke hadapannya Kyungsoo.

8 April

Busan

Kyungsoo mengernyitkan keningnya setelah membaca pesan tersebut. “Bukankah ini terlalu berisiko?”

“Aku tahu. Tapi jika kita pikirkan lagi, Busan adalah satu-satunya tempat yang terlalu mencolok untuk melakukan sebuah transaksi besar. Karena itulah, Busan adalah tempat teraman untuk mereka sebab kita tidak akan meliriknya sama sekali.”

“Kau benar. Pelabuhan Busan merupakan salah satu pelabuhan besar dan tersibuk di dunia. Terlalu banyak kapal yang bongkar muatan menyebabkan kita harus mengerahkan banyak personil. Tidakkah kau mengetahui di dermaga mana mereka akan berlabuh?”

“Aku tidak tahu. Kita harus menghubungi pihak otoritas pelabuhan untuk melakukan kerja sama.”

“Aku akan menghubunginya nanti. Semoga saja misi kita kali ini berhasil.”

“Ya, semoga saja.”

 

***

 

“Bagaimana persiapan semuanya?” tanya Baekhyun pada Kai yang saat ini tengah berkumpul dengannya di ruang kerjanya guna membahas transaksi mereka.

“Semuanya berjalan lancar. Kita hanya tinggal menunggu kapal kita berlabuh.”

“Bagus. Pastikan semuanya berjalan lancar.”

Setelah mengatakan hal itu, Baekhyun memberikan kode ke arah Kai dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Kai. Tinggal menghitung hari menuju tanggal yang sudah ditentukan. Saat ini Chanyeol sudah berada di Jepang. Berangkat lebih awal dari rencana awal mereka. Baekhyun benar-benar tidak sabar akan datangnya hari transaksi itu. Ia hanya ingin membuktikan jika dugaan ayahnya salah.

Hari yang ditentukan pun tiba. Baekhyun mengurung diri di ruang kerjanya selama seharian penuh ini. Tinggal menunggu beberapa jam lagi kapal yang dari Indonesia berlabuh di salah satu dermaga Pelabuhan Busan. Baekhyun yakin, kepolisian sudah siap siaga di semua dermaga. Terutama dermaga kedatangan dari negara-negara di Asia Tenggara.

Ia menggoyangkan gelas berisi wine di tangannya sambil matanya memandang ke arah langit kota Seoul yang berwarna jingga. Kemarin Chanyeol mneghubunginya jika ia dalam perjalanan menuju Hawaii. Lokasi sebenarnya traksaksi yang akan mereka lakukan. Semuanya berjalan lancar. Ia hanya tinggal menunggu kabar dari Kai yang menuju ke pelabuhan Busan.

Hatinya sungguh tidak tenang. Terlalu takut akan kenyataan yang akan dihadapinya beberapa jam yang akan datang. Maka dari itu, ia terus meminum wine di tangannya. Berharap alkohol bisa membantu meringankan suasana hatinya saat ini. Tanpa sadar selama tiga puluh menit sekali, Baekhyun akan mengecek jam tangannya. Diam-diam menghitung waktu yang terus berjalan.

Hampir mendekati tengah malam, ponsel Baekhyun bergetar. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Baekhyun memasukan password untuk membuka ponselnya. Detik selanjutnya ia mencengkeram benda pipih tersebut.

Umpan ditangkap.

Dua kata itu telah menjelaskan segalanya. Kemarahan menguasai Baekhyun saat itu juga. Ia membanting ponsel tidak berdosa itu ke arah dinding terdekat hingga membuat ponsel keluaran terbaru itu hancur berkeping-keping karena saking kerasnya tenaga yang diberikan Baekhyun.

Dengan langkah tegapnya, Baekhyun berjalan menuju rak bukunya. Mencari sesuatu yang menjadi sumber kemarahannya. Buku-buku berserakan di lantai karena Baekhyun mengobrak-ngabriknya dengan tergesa-gesa. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia menemukannya. Ternyata dugaannya benar. Sebuah penyadap suara yang sangat kecil terselit di antara celah rak buku dan tersamarkan dengan banyaknya buku yang menutupinya.

Tanpa pikir panjang, Baekhyun langsung meremukkan benda kecil di tangannya itu. Lalu ia membiarkan serpihan-serpihan kecilnya berjatuhan di lantai ruang kerjanya. Otaknya sudah tidak dapat berpikir lagi. Yang ada di pikirannya saat ini adalah menangkap pengkhianat itu.

Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya. Dengan tidak sabaran terus menekan tombol lift berharap kotak besi itu segera terbuka. Satu menit serasa satu hari bagi Baekhyun saat ini. Kondisi perusahaannya yang sudah sepi dengan pencahayaan yang remang tidak membuat Baekhyun takut sama sekali. Karena aura mencekam yang keluarkannya lebih seram dari pada kondisi lingkungannya saat ini.

Baekhyun menghidupkan mesin mobilnya, lalu melajukannya dengan kecepatan di atas normal. Ia mengemudikan mobilnya sendiri tanpa diiringi oleh pengawal-pengawalnya membuat ia leluasa mengemudikan mobilnya sekalipun itu menantang maut.

Sepuluh menit berlalu dan ia sudah sampai di tempat yang ditujunya. Baekhyun memarkirkan mobilnya sembarangnya. Ia keluar dengan wajah tanpa ekspresi. Terlalu seram untuk mendeskripsikan apa yang ditunjukkan oleh wajahnya saat ini sehingga siapa pun yang melihatnya tidak akan berani untuk menyapanya. Bahkan melihatnya pun enggan.

Baekhyun melangkahkan kakinya seraya mengecek peluru yang ada di pistol yang selalu terselip dipinggangnya. Langkahnya yang tegas tapi tidak banyak menimbulkan suara yang berarti membuat siapa saja tidak akan menyadari keberadaannya. Termasuk dengan targetnya kali ini. Ia masih belum menyadari keberadaan Baekhyun di dekatnya.

Begitu Baekhyun berdiri tepat di sampingnya, tangannya langsung terarah tepat ke kepala targetnya membuat si target langsung terjaga dari tidurnya. Tubuhnya langsung membeku kala ia merasakan sebuah benda asing memnempel tepat di pelipisnya. Ia yakin, sedikit saja Baekhyun menyentuh pelatuk pistolnya, detik itu juga nyawa akan melayang.

“Siapa kau sebenarnya?”

Pertanyaan Baekhyun dengan suara dinginnya yang mengalahkan dinginnya suhu di kutub utara membuat targetnya sadar. Kehidupannya tidak akan sama lagi mulai sekarang.

 

~ tbc ~

 

Tuh, yang kemarin protes karena ngga ada moment baek-sena aku kasih moment mereka dikit. Jangan protes lagi ya.

Adakah yang sudah menebak siapa pengkhianatnya? Kalau belum, chapter depan aku jelasin. Yang mau adegan tembak-tembak, maafkan aku belum bisa menulisnya. Kepanjangan kalo ditulis di sini. Lagian aku ngga rela aku Baekhyun sampe ke tangkap sama Sehun.

Adakah yang nyadar jika rencana Baekhyun di chapter 44 itu penuh dengan kekurangan? Tadinya mau aku ubah, tapi aku terlalu pusing untuk merombaknya. Takutnya kalian tambah bingung. Aku aja yang nulisnya bingung harus mengungkapkannya dengan kata-kata yang kayak gimana. Jadi maafkan aku atas kekurangan tersebut.

Semoga kalian menyukai chapter ini dan tidak pernah bosan untuk terus menunggu kelanjutan cerita abal-abal ini.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

19 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 45)”

  1. ajeeeebbb, bacanya smbil degdegan gue.. tolong pengkhianatnya jgn kai ato chanyeol. gue kebayang persahabatan mreka dari masa skolah huhu.
    anyway, lanjut thor.. semangat!

  2. Awalnya aku sempet ngira Chanyeol penghianat nya Baekhyun, soalnya dia jarang dapet Part di FF ini,, tapi entahlahh
    BTW, semangat thor buat lanjutin ni FF…

  3. Gamau nebak gw takut diluar ekspektasi gw yg jelas gw penasaran sama kelanjutannya.
    Pliss baekhyun jgn ketangkep sama sehun, klo ketangkep sena gimana? 😂

  4. Ahhh akhirnya update juga nih 😂 gue masih yakin sih kalo pengkhianatnya si Kai 😂 tp kan mereka udah temenan dari sekolah kan yaaa 😥 eh ato mungkin Taeyong(?) wkwkwk intinya gue gak sabar nunggu jawaban siapa si pengkhianat itu. Baca bagian akhirnya aja gue udh deg degan. Gue bisa bayangin muka imutnya baek jd nyeremin. Hmmmm 😂

  5. Haduuh dag dig dug kalo udah Baek kaya gitu, jangan ada Baek di tangkap sehun ya Thor hehee #maafin 🙂 di tunggu buat chap selanjutnya 🙂

  6. Halo authornim… ga sadar di chapter 44 banyak kurangnya.. soalnya dari bacaannya aja udh rumit hehehe
    *halahngelesaslinyamahmales
    anyway ditunggu chapter berikutnya.. fightiiingg!!

Tinggalkan Balasan ke nida Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s