[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 1)

K O K O B O P (Track 1)

Author: El Byun

Chaptered

Rate: PG-17

Genre:

Alternate Universe, Action, Romance, Comedy, Angst, adult

Cast:

Lee Hanbi (OC)

Zhang Yixing aka Lay | Huang Zitao aka Tao | Wu Yifan aka Kris |Xi Luhan aka Luhan

Lee Donghae

Summary:

Ketika tarian musim panas mengajakmu untuk memiliki seorang pasangan. Kemudian seseorang yang tidak kau ketahui melemparmu ke dalam kencan buta dengan 8 pria beda profesi.

Desclimer:

This story is my real imagination from ‘Kokobop’ song. Don’t be plagiarsm, please! Be a good reader!

Fanfic ini juga dipost di akun Wattpad saya @elisabethbyun bersama dengan karya saya yang lain.

Previous list: Cast + Introduction | Intro |  Verse| Chorus

~~~

[TRACK 1: LATE]

~~~

Ini bukan waktu yang normal yang untuk seorang manusia melakukan aktifitas rutin seperti memasak. Sir Clock berdegung menunjukkan pukul 12. Orang awam menyebutnya sebagai tengah hari.  Dan jika kalian masih sekolah atau bekerja pada pukul ini seharusnya kalian makan, bergurau dengan teman,  atau menikmati waktu berharga kalian untuk melupakan penat sejenak. Namun tidak bagi orang ini. Aku katakan tengah hari yang dimaksud di sini adalah pukul 12 malam.

Seorang gadis dewasa berselimut apron hitam milknya tengah sibuk di konter dapur pribadinya. Rambut hitam keabu-abuannya ditarik ke atas membentuk sebuah cemolan asal yang kurang rapi. Keringat di lehernya bercucuran sedangkan AC ruangannya berada pada suhu 16° celcius. Tangan kanannya bergerak sibuk dengan spatula kayu bercampur minyak, saus, dan juga bawang.

Kini tangan kirinya mengambil pring tak jauh dari jangkauannya, mematikan kompor, kemudian memasukan sedikit demi sedikit menu nasi goreng kimchi favoritnya. Sekon berikutnya ia mematung memandang kagum hasil karyanya sendiri. Sederhana memang,  namun menu itu sungguh memiliki arti yang dalam. Dalam kasusnya, dulu kimchi buatan ibunya sangatlah enak. Beliau bahkan membuatnya dengan tangannya sendiri.  Memilah bahan sendiri dan membumbuinya sendiri. Mengingatnya gadis itu memandang piringnya sendu. Rindu yang mungkin tidak pernah terbalaskan. Ingin rasanya kembali pada masa itu. Kini ia hanya bisa berharap ibunya baik-baik saja di luar sana.

Kambali mengingat piring, gadis itu tersenyum lega. Pikirannya teralihkan pada sosok yang tengah menungguinya memasak sedari tadi. Mungkin saja ia sudah lapar, pikirnya.

Ia membalik tubuhnya menatap meja pantry mini yang sengaja ia desain untuk kesayangannya. Tubuh kecil itu tengah duduk di kursi tinggi, rambut hitamnya bahkan terurai begitu saja  dengan poni rata yang menambah kesan imut padanya. Mereka saling beradu pandang sejenak dalam cahaya remang-remang yang memang disukai wanita dewasa ini.

“Maaf kau harus menunggu lama. Makanlah! Kau pasti lapar hmm..”

Sosok bertubuh kecil itu hanya diam. Lalu wanita itu mengambil sendok dan mengambil sepucuk nasi yang mungkin muat untuk mulut kecilnya.

“Aaa..” wanita itu melebarkan mulutnya mengintruksi. Namun arah sendok itu berbalik lagi menuju dirinya.

“Amm..” mengunyahnya sebentar kemudian tersenyum kecut sambil memandangi sosok perempuan kecil itu.

“Aish, sedikit asin. Maaf hari ini kau tidak boleh makan.”

PRANG!!

Seketika ia membuang sendok itu di atas piring hingga beberapa butir nasi melompat mengotori mejanya.

Drrtt.. Drrtt..

Ponsel wanita itu berdering. Setiap malam orang ini pasti menelfonnya. Orang itu selalu hafal apa yang ia perbuat tengah malam begini.

Yeobseyeo” jawabnya malas.

“Pergi ke kantor ayah besok pagi. Temui dia dan menikahlah.” Ia memutar bola matanya jengah mendengar suara menyebalkan ayahnya.

Shireo!” sahutnya cepat.

“Berhentilah bermain dengan manekinmu! Dia pria pilihan ayah. Kau bisa memiliki anak sebanyak yang kau mau jika kau ingin.” Ayahnya selalu tahu apa yang dipikirkannya.

Dewasa dan menikah. Ia tahu akan kodrat itu. Namun sesuatu yang mengganjal dalam hatinya tidak ingin melakukannya.

“Dan aku akan selalu bilang ‘aku tidak akan menikah’. Aku membenci pria, termasuk a-bo-jhi..” ia menekan kata yang menyebut ayahnya. Lalu tiba-tiba memutuskan telefon.

~~~

Pagi hari di apartemen mewah seorang gadis pewaris mansion yang seharusnya dapat memilih tinggal di rumah manapun yang ingin dia tempati. Tapi tidak bagi Lee Hanbi. Ia memilih tinggal di apartemen. Meninggalkan kejenuhan ketatnya pengawasan Lee Donghae ayahnya yang ambisius. Ia sudah tinggal di apartemen sendiri sejak memasuki bangku tingkat pertama di Kyunghae Senior Highschool. Kyunghae memiliki semua jenjang pendidikan termasuk Kyunghae University. Ia ingin sekali kabur ke luar negeri dengan alasan kuliah. Namun ayahnya sudah mem-blacklist namanya di daftar pembuatan passport. Ia tak bisa kemanapun selain Korea.

“Hoamh..”

Wanita berambut acak-acakkan nyaris gimbal itu baru bangun dari mimpinya. Ia selalu bangun saat matahari menjelang tinggi. Tapi suatu memori membuatnya terperanjat kegirangan. Ia menoleh ke arah jam wekernya yang menunjuk pukul 10.00 pagi. Luar biasa sekali Lee Hanbi.

“Tidak mungkin? Aku sudah terlambat..” pekiknya.

Ia berlarian ke sana kemari. Bingung akan memulai kegiatan dari mana. Membuka lemari pakaian dan mengeluarkan seluruh isinya atau mandi terlebih dahulu. Tiba-tiba ia berhenti bergerak ketika mengingat mobilnya yang belum sempat di panaskan.

Ia bergegas mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa digit nomor yang ia hafal beberapa minggu yang lalu. Ia frustasi karena nomor yang ia hubungi tidak segera menjawab.

“Sial!”

Ia memutuskan sambungan dan memandang ponselnya kesal. Mencibirnya seolah-olah orang yang ia hubungi ada di sana. Dengan cepat ia melempar ponselnya ke ranjangnya lalu berkacak pinggang. Mencoba berpikir jernih bagaimana urutan kegiatan yang harus ia mulai karena keterlambatan bangunnya.

Drtt.. Drrtt..

Ponselnya berdering, wanita itu meliriknya malas. Sudah ia duga orang itu akan menghubunginya balik.

“YA!” Sahut wanita itu setelah lama mengabaikan panggilannya!

Good morning, honey!!” mendengar itu membuatnya merasa mual. Huek!

‘Berani sekali dia memanggilku seperti itu?’ pikirnya.

“Hey, berhentilah bicara manis padaku Huang atau Zitao! Sshh.. Sial, namamu jelek sekali.”

Lawan bicaranya hanya terdengar cekikikan. Entah kesialan apa yang ia dapat hingga mendapatkan seorang pekerja yang menyebalkan seperti dirinya.

Pekerja?

Yah, Huang Zitao adalah pelatih bela dirinya dua minggu yang lalu. Ia berhasil lolos seleksi setelah mengalahkan 25 bodyguard milik ayahnya yang sengaja ia pinjam. Tentu tanpa orang tua itu ketahui. Siapa yang tidak takluk pada si tuan putri berdarah dingin ini? Hanya dengan menunjukkan identitasnya sebagai anak Lee Donghae saja semua orang sungkan. Namun sayangnya hubungan antara anak dan ayah ini tidak begitu baik. Tepatnya setelah ia tahu ayahnya lah yang membuatnya harus kehilangan ibunya.

Si tua itu selalu berkata ibunya sudah hilang bahkan suatu ketika ia menyuruhnya untuk menganggap ibunya sudah meninggal. Apa orang tua itu sudah gila? Pikirnya kembali. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri dengan jelas bahwa Lee Donghae itu yang telah menyeret dan memukuli ibunya. Bahkan ia juga melihat bagaimana pria itu menyuruh anak buahnya untuk memasukkan ibunya dalam sebuah Van jelek yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Semenjak saat itu Hanbi tidak pernah menemui ibunya kembali. Ia marah pada ayahnya. Ayahnya adalah sosok paling kejam dalam hidupnya. Ayahnya dan bodyguard-bodyguard itu adalah seorang pria dan Hanbi membenci pria sejauh yang ia temui.

“Jemput aku 10 menit lagi. Aku harus ke bandara sekarang, jadi cepatlah!”

Tut.. Tut..

Tanpa kata penutup wanita itu dengan tidak sopannya memutus sambungannya.

10 menit?

Plak!

Ia menepuk jidatnya sendiri. Ia baru melihat tubuhnya sendiri yang masih berbalut pakaian tidur yang ia pakai semalaman. Ia sudah tidak punya banyak waktu. Ia bahkan sudah terlambat sekarang. Dengan terburu ia berlari menuju kamar mandinya dan suara bantingan pintu menggema di setiap rongga kamarnya.

Dress hitam abu-abu yang senada dengan rambutnya memiliki potongan di atas lutut yang membuat tubuh mungilnya terlihat semakin imut. Ditambah make up tipis dengan lipbalm berwarna soft pink favoritnya membuat pria mana saja menganggapnya sebagai seorang gadis remaja yang terlanjur dewasa. Namun siapa sangka dibalik angel packaging seperti Lee Hanbi ternyata memiliki sifat berandal seperti ayahnya. Setiap kata-kata yang keluar dari bibir manisnya hanyalah berupa umpatan dan hinaan.

Ting tong..!

Mendengar suara itu Hanbi menarik tasnya dan bergegas membuka kenop pintu apartemennya. Ia bahkan berjalan melewati tamunya tanpa menyapanya terlebih dahulu. Namun tamunya kini hanya diam terpaku setelah menghirup aroma parfum yang baru saja melewatinya dengan kagum.

“Cepatlah!”

Hanbi kembali hanya untuk menarik kerah belakang orang itu dengan kasar. ia sudah sangat terlambat sekarang.

“Hey, kau terlihat cantik sekali. Wow!!”

Hanbi sudah bosan dengan obrolan omong kosong dari pelatih bela diri beraliran Ju Jitsu ini. Sebenarnya ia juga mengakui bahwa omongannya tadi tidak salah. Ia memang sengaja tampil cantik hari ini.

“Kuncimu!”

Tanpa risih dan malu Hanbi menggerayangi tubuh pria itu. Tidak sopan memang, tapi begitulah Hanbi. Pria itu terlihat pasrah saja saat jemari Hanbi menyentuh dadanya mencari sesuatu di saku kemejanya, detik berikutnya ia merasakan sesuatu menyentuh paha luarnya. Pria itu menyeringai. Hanbi merogoh saku celananya kasar dan mendapati kunci mobil milik pria itu.

“Apa kau sedang berusaha untuk merangsangku?” tebak pria itu dengan percaya dirinya.

“Bodoh!” hanya umpatan itu yang dikeluarkan Hanbi.

Wanita itu bergegas membuka pintu mobil dan duduk dengan kasarnya di belakang kemudi. Ia tidak perduli mobil siapa yang ia pakai sekarang, namun seseorang yang harus ia temui di bandara mungkin sudah menunggunya lama.

“Hey!” pria itu mengumpat dengan apa yang dilakukan wanita itu dengan mobilnya.

“Aku yang mengemudi. Duduk dan diamlah!”

~~~

Seorang pria tengah berjalan keluar dari pintu depature dari Beijing. China dan Korea seakan memiliki hubungan yang dekat. Berapa puluh ribu orang saja yang datang ke Korea? Bahkan pesawat yang ia tumpangi tadi kursinya terisi dengan penuh.

Pria itu datang dengan misi dadakan yang dititahkan atasannya kemarin lusa. Bahkan ia belum sempat memberi makan anjingnya tadi. Ia sedikit was-was mengingat hal itu. Walaupun ia tengah dalam misi, pria itu dengan santainya hanya membawa sebuah ransel besar dipunggungnya. Ia berhasil lolos dalam pintu pemeriksaan setelah petugas mendapati sejumlah senjata api di seluruh bagian tasnya. Ia bahkan tidak lupa membawa revolver kesayangannya. Walaupun terlihat jadul, revolver itu adalah miliknya pertama kali sewaktu ia masuk ke akademi. Ia hanya perlu menunjukkan lencana kepolisian dan semua berjalan dengan lancar.

Pria itu mengenakan busana santai layak seorang turis yang akan liburan. Ia sedang dalam misi, jadi seragam kebesarannya juga tidak ia bawa bahkan ia tidak membawa pakaian lain untuk berganti. Ia tidak ingin repot dengan membawa koper besar. Seoul adalah kota fashion. Ia bisa membeli baju apa saja disini. Jadi ia tidak perlu khawatir.

<Aku sudah di bandara. Jemput aku sekarang!>

Pria itu tampak sedang mengetik sebuah pesan singkat di ponselnya. Walaupun ini bukan pertama kalinya ia datang ke Seoul, sebagai seorang yang memiliki wewenang berlebih ia tidak mau repot.

~~~

“Honey, jalanlah dengan anggun! Kau seperti tengah dikejar seseorang saja.”

Pria di belakangnya tengah mengomelinya yang selalu berjalan cepat mendahuluinya. Bisakah mereka jalan beriringan saja seperti sepasang kekasih? Mungkin itu akan telihat lebih manis. Pria itu tampak seperti seorang pengawal wanita cantik karena terus berada di belakangnya.

“Aku harus menjemput seseorang, aku sudah terlambat kau tahu?”

“Apa?” Pria itu tampak bingung.

Di tengah perjalanan mereka seseorang menghubungi ponsel Hanbi. Wanita itu sedang buru-buru, kenapa selalu ada orang yang mengganggunya. Dengan malas ia mengangkat panggilan dari seorang yang menyebalkan semenjak ia kecil.

“Hay, sayang! Kenapa kau tidak datang ke kantor ayahmu?”

Ingin sekali ia menusuk telinganya hingga tuli. Ia benci pada pria. Namun setiap hari bahkan setiap menit, kehidupannya selalu dipenuhi dengan pria. Bahkan mereka selalu memanggilnya dengan kata-kata murahan seperti itu.

“Apa kau sudah tidak waras? Aku tidak ingin menikah denganmu Yifan. Kau tahu itu dari dulu!”

Hanbi masih berjalan cepat sambil celingukkan mencari seseorang yang dicarinya. Ia bahkan sudah tidak perduli dengan seseorang yang selalu mengekorinya. Wanita itu bahkan tidak memintanya untuk ikut, jadi resiko ditanggung penumpang.

“Aku tahu. Tapi hatiku sangat mencintaimu Hanbi. Sadarlah!” suaranya terdengar putus asa.

Di sisi lain, Hanbi tidak mendengar jelas apa yang dikatakan pria di seberang ponselnya. Ia mencari orang yang mungkin sudah pergi karena menunggunya terlalu lama.

~~~

Pria itu tengah berusaha menghubungi orang yang akan menjemputnya. Ia merasa orang itu begitu lelet dalam bertindak hingga membiarkannya terkatung-katung dalam bandara selama 45 menit. Tiba-tiba ponselnya berdering, namun panggilan itu bukanlah yang ia harapkan.

<Komisaris> *dalam huruf China

“Sial!” umpatnya.

“Ya, aku sudah di bandara sekarang.” Sahutnya setelah menggeser lingkaran hijau di layar ponselnya.

“Baguslah. Selesaikan misimu dengan baik. Ini misi yang berat, berhati-hatilah!”

Dalam benaknya menyadari komisaris sekaligus ayahnya ini tidak sepenuhnya kejam. Ia bahkan mendengar sendiri bahwa beliau khawatir hingga menyuruhnya untuk berhati-hati. Pria itu masih belum menyahut, ia terlalu sibuk dengan pikirannya.

Pria itu tertegun dalam netranya. Ia seperti melihat sosok dengan gerak-gerik mencurigakan yang baru saja melewatinya. Beberapa orang pria dengan setelan formal berwarna hitam senada tengah berjalan beriringan. Instingnya mengatakan suatu kejadian yang tidak ia harapkan akan terjadi di sini. Di bandara ini.

“Maaf, aku ada urusan sebentar!” pria itu mematikan sambungan telefonnya.

Ia berjalan mengikuti arah pria-pria mencurigakan itu pergi. Perasaannya tidak enak melihat keramaian di bandara ini. Bisa saja ia membawa senjata atau mungkin bom yang akan membahayakan penguni bandara ini. Ketika orang-orang itu telah menghentikan langkahnya, pria itu bersembunyi dibalik pilar besar tak jauh dari tempat mereka berdiri. Diam-diam ia mengaktifkan pistol yang ia sembunyikan dibalik celana jeansnya untuk bersiap menembak jika terjadi pergerakan yang berbahaya.

Ketika pria-pria mencurigakan itu beranjak lagi, ia juga bergegas untuk pergi. Namun begitu ia menapakkan kaki keluar dari persembunyiannya seseorang yang entah sosok apa yang ia temui berada tepat dihadapannya.

BRAK!!

Bukannya terjatuh, pria itu justru dengan kokohnya masih berdiri dan menyaksikan adegan slow motion orang yang ditabraknya akan terjatuh di lantai. Refleks pria itu menyahut pergelangan tangannya dan menariknya kembali berdiri dan karena begitu kuatnya hingga tubuh sosok itu kembali dan menghantam dadanya yang bidang.

Indra penciumannya langsung berkoneksi dengan aroma parfum menyengat khas seorang wanita. Mata mereka saling beradu untuk sepersekian detik untuk saling mengenali satu sama lain. Sebelah tangannya yang memegang pistol dengan apik penempeli punggung wanita itu.

“Lee Hanbi?” suara parau jernih pria itu keluar begitu saja.

Wanita yang ia sebut Lee Hanbi itu langsung sadar ketika menyadari seberapa dekat jarak mereka bersentuhan. Ia memelototi pria itu hingga memukulnya sedikit keras untuk menghentikan lamunannya.

“Lepas!”

Pria di belakangnya tak kalah heboh menampakkan ekspresi terkejutnya. Ia dengan menganga menonton adegan drama opera sabun yang terjadi pada atasannya.

“Maaf..”

Pria China itu melepas ikatan mereka. Dengan cekatan ia mengalihkan tangan berbekal pistol itu di belakang punggungnya dan menyelipkannya di sela-sela celana jeans ketatnya. Tiba-tiba sosok di belakang wanita itu muncul di tengah-tengah mereka dan menunjuk dengan jari-jari panjangnya bingung ke arah mereka.

“Kalian saling ke…nal?”

“Kau ini siapa?” tiba-tiba wanita itu menyalak di depan pria pembawa pistol tadi.

Prang!!

Seakan sebuah kaca pecah diantara mereka. Bagaimana mungkin seorang pria yang belum pernah Hanbi temui bisa mengetahui namanya? Apa lagi pria itu terlihat bukan seperti warga Korea. Itu lebih tidak masuk akal lagi. wanita itu bahkan seumur hidupnya tidak pernah berpergian ke luar negeri.

Pria yang sempat keceplosan tadi kini salah tingkah. Ia tidak bisa berpikir jernih setelah kesalahan yang ia lakukan. Matanya terus melihat sekeliling mencari titik fokus namun tidak ketemu. Yang ia tangkap sekarang hanyalah sosok penguntit wanita ini yang mungkin dikenalnya.

“Eh…”

Pria itu kehabisan kata-kata. Ia belum menyiapkan penyamaran setelah kedatangannya ke Korea. Ia juga tidak pernah mengira akan bertemu dengan targetnya secepat ini. Kini pandangan kedua pria itu saling beradu. Seolah-olah mengerti apa yang menjadi permasalahan disini.

“YA!!!.. Kau…”

“Hanbi-ya?”

Belum sempat Hanbi mengomel, seseorang memanggilnya tak jauh dari sana. Wanita itu langsung menoleh seketika saat mengenali suara lembut pria pujaannya.

“Oppa!”

Ia berlari pada sosok pria lain yang ia cari selama ini. Memeluknya erat-erat diantara tangan-tangan semampai miliknya.

Kedua pria yang mungkin saling kenal yang Hanbi tinggalkan itu juga tengah menyaksikan adegan romantis di depan mereka. Entah sengatan listrik apa yang mengalir di otak mereka saat menerima suguhan mematikan itu dengan prediksi pikiran mereka masing masing. Di sisi pria penguntit wanita itu merasakan kecewa karena wanita cantiknya yang ia puji seharian ini harus berada dalam pelukan pria lain. Namun di sisi pemikiran pria berpistol itu merasa janggal dengan kehadiran sosok pria yang datang secara tiba-tiba di belakangnya.

BUG!

“Ck.. Jangan melihatnya begitu!” Pria itu meninju pelan dada bidang penguntit wanita tadi.

“Pukul aku jika pria itu adalah kekasihnya! Aku rasa aku patah hati.”

Sekarang terlihat siapa yang saling kenal diantara mereka. Pria itu terkekeh mendengar umpatan lebai yang dilontarkan rekannya ini.

Pletak!!

Rekannya kini meringis kesakitan. Pria itu dengan kasarnya memukul kepalanya bahkan dengan ekspresi tersenyum.

“Bodoh! Dia Xi Luhan, putra perdana menteri China yang memiliki perusahaan baja di Korea. Agen sialan! Lee Donghae adalah pamannya. Jadi mereka sepupu.”

Akhirnya pria patah hati itu mengangguk mengerti setelah penjelasan jenius atasannya. Mengingat atasannya, pria itu menelan ludahnya sendiri ketakutan. Lihatlah! Sekarang siapa orang yang berada di depannya saat ini? Sreet.. Pria itu diam-diam ingin kabur saat pandangan atasannya mengarah pada obyek yang saling bermesraan tadi.

“Agen Huang, kau mau kemana?”

Nadanya terdengar seperti sebuah ancaman kematian. Ia baru sadar telah mengabaikan perintah atasannya untuk menjemputnya setengah jam yang lalu demi membuntuti wanita cantik.

“Inspektur Zhang!”

“Sssstt…”

Pria yang ia juluki inspektur itu langsung membekap mulut receh agennya yang lebih ceroboh daripada dirinya.

“Kau gila? Kita sedang menyamar di sini. Jadi jangan memanggilku seperti itu!”

Walaupun dengan berbisik, ia bisa mengenali nada amarah di setiap kata-katanya.

~~~

“Berhentilah memelukku Bi. Aku tidak suka itu!”

Suara lembut itu terdengar menyebalkan ketika mengganggu aktifitas favoritnya.

Wanita itu melepas pelukkannya dengan kesal. Bibir soft pink-nya mengkerut seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya. Hanbi, ia begitu mencintai sepupunya. Hal itu sudah ia lakukan semenjak kecil. Luhan adalah sosok pria yang lembut. Kebenciannya pada pria tidak berlaku untuk orang ini. Namun darah yang mengalir ditubuh mereka masih berkaitan. Ia juga tidak menampik bahwa ia tidak bisa memiliki pria itu seutuhnya.

Di sisi lain terdapat gerombolan pria-pria bersetelan hitam tengah berada tak jauh dari mereka. Pria Zhang yang memang sedang membuntuti mereka kini memandang intens pada pria-pria itu. Netranya menatap tajam dan keningnya berkerut memahami kejanggalan yang mereka lakukan. Tangan kanannya kembali merogoh pistol yang ia sembunyikan di balik celananya. Rekannya kini menyadari sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Ia mengikuti pergerakan atasannya, mengamati obyek yang sama yang ia curigai. Mereka kembali bersembunyi di balik pilar besar yang menjadi persembunyiannya beberapa menit yang lalu sebelum kecelakaan dengan wanita itu terjadi.

Benda hitam berbentuk pistol berlaras panjang itu tiba-tiba saja terkoneksi dengan netra pria Zhang itu. Jantungnya berdebar, padahal pengalamannya dalam menangani kasus sederhana seperti ini sudah ia lakoni selama bertahun-tahun.

Tanpa ia sadari tubuhnya tergerak untuk keluar dari persembunyiannya. Ia berlari kencang dengan pistol mengarah ke bawah di samping pinggang kirinyanya. Entah kenapa ia justru berlari padahal ia bisa dengan mudahnya menembak pria mencurigakan itu dari jauh sekalipun.

“Tidak, LEE HANBI!!!”

Ia berteriak memanggil target wanitanya ketakutan. Sekali lagi ia harus keceplosan untuk memanggil wanita itu dengan namanya.

Greb…

DOR!!

-To Be Continued-

Author’s  note:

Wah, maappeu! Sengaja tidak dispesifikasikan main dan adittional cast-nya, biar readers sendiri yang tebak. Uhuk!!

Sebelum ada yang protes. Mianhamnida!! Bagi yang merasa main cast nya beneran OT8, tolong simak kembali beberapa part introducing sebelumnya.

Cerita sedikit boleh kan?

Jadi awalnya aku hanya fokus dengan OT8. Namun ada yang mengingatkan kembali member lain yang merasa harus dimasukkan. Jadi author putar otak lagi ye kan? Walaupun iching rumornya bakal gabung di comeback kedua. Tapi saya malah kepikiran mantan. #Hadeuh..

Yang nggak suka mohon jangan tinggalkan kejelekan kalian disini. Saya doakan bias jatuh cintrong sama kalian #amin..

Yang terlanjur jatuh cinta, saya doakan nikah sama bias. #amin

Yang mau kangen2an sama mantan boleh merapat di sini, tidak dipungut biaya tiket konser kok #buahaha..

Hidup OT12!!

Wkwk ini note apaan sih? Cukup tinggalkan jejak berupa komenan kalian biar up-nya cepet. Eakk..

PLAK! /digaplok readers. Laporin admin, authornya gila!

N/B: Akun wattpad saya elisabethbyun. Auhtor gk bisa ganti nama jadi Elbyun ternyata eh ternyata sudah ada yang punya. Ini yang namanya kebetulan dan saya angkat tangan jika dituduh tiru-tiru karena baru minggu lalu author bisa mengaktifkan kembali akunnya. Terima kasih^^

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 1)”

  1. Triller jadinya,but i’m so like that…
    Iching jadi polisi biasanya jadi dokter ente ching….
    Next kakkakkkkk…
    Ciiiiaaaahhhh,seru..
    Mikirnya,kayaknya sih iching main cast nya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s