[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 22

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle            : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 22

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast        :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating        : T

Length        : Chapter

~Happy Reading~

 

*Author POV*

“KEMARI KALIAN CECUNGUK SIALAN!”

Teriak Hyojin. Bahkan ia belum memukul siapapun namun nafasnya sudah terengah-engah seperti telah berlari dari Seoul menuju Busan. Wajahnya memerah dan tangannya terkepal kuat menahan emosi melihat adik serta temannya diikat diatas kursi, belum lagi wajah Jinhyo yang banyak memiliki luka membuat Hyojin semakin murka.

“Heh, kalau mau berkelahi tidak perlu teriak seperti orang kerasukan juga!” kicau Yongguk setelah menghajar seorang berandal yang hendak menyerang Hyojin dengan tongkat kayu.

“Aaah, sorry-sorry.” Katanya dengan nada polos sembari menggosok lehernya.

“Kau ini pernah berkelahi tidak sih?!” seru Jun Hong dari ujung ruangan sambil memlintir tangan kanan preman yang memakai anting.

“Pernah kok.” Jawab Hyojin lagi, masih berdiri dibelakang Yongguk, berlindung tanpa dia sadari. “Hanya saja karena sudah lama, jadi tidak begitu ingat.” Sambungnya kemudian, “Eo-oh! Sebelah kirimu!” teriaknya histeris ketika pria bermasker akan menyerang Yongguk dari arah yang disebutkan oleh Hyojin.

“Yak!, pergi dan cari bantuan kataku!” sahut Yongguk yang merasa kewalahan harus mengatasi para berandalan itu dan menjaga Hyojin dari mereka.

Himchan yang memukul seorang preman dihadapannya dengan batu bata, menyahut, “Kau hanya akan jadi beban kalau tetap disini!”

“Wah! Keterlaluan sekali!” sungut Hyojin berkacak pinggang. Menoleh kepada teman Yongguk yang memiliki bibir kehitaman itu, tanpa sadar bahwa Yongguk sudah tak lagi menjadi perisainya karena diseret oleh salah seorang berandal kearah lain.

Saat itu pula, Hyojin dapat merasakan sakit pada kedua pundaknya ketika preman berambut merah membalikkan tubuhnya, mendorongnya sampai ke tembok, memojokkannya seraya tersenyum licik.

“Memangnya kau bisa apa?, wanita brengsek!”

Hyojin meringis kesakitan sambil berusaha melepas pegangan pria tersebut. Ketiga pria lainnya tak dapat membantu gadis itu, karena mereka sendiri pun tengah sibuk terhadap lawan masing-masing. Sementara Rae Mi cuma bisa menggeram dibalik mulutnya yang tertutup lakban dan Jinhyo menonton dalam diam.

“Kau sendiri bisa apa?, bocah sialan!” balas Hyojin tak mau kalah.

Pria itu terpancing, tangannya beralih mencekik gadis itu kuat-kuat seraya berceloteh, “Kau memang pantas mati!. Gara-gara kau dan teman lelaki brengsekmu itu, banyak anggota kami yang terluka dan harus berhenti dari kelompok termasuk adikku!”

Dengan nafas tercekat Hyojin berkata, “Bukan urusanku!” sambil menendang selangkangan pria berambut merah tersebut. Sang ketua kumpulan preman itu tumbang, ia mengerang kesakitan juga mengumpat pada Hyojin yang bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.

Tapi itu tak berlangsung lama, pria itu mulai bangkit dan Hyojin bergegas memikirkan ide selanjutnya untuk mengalahkan si rambut merah. Ia memasang kuda-kuda dan membuat pria itu tertawa mengejek, si rambut merah mengayunkan tinjunya dan Hyojin beruntung dapat mengelak dari gerakan cepatnya. Namun sang petarung jalanan tentunya tak semudah itu diperdaya, si rambut merah segera menarik rambut Hyojin kuat-kuat hingga gadis itu jatuh. Kesempatan tersebut segera digunakan oleh preman lainnya untuk mengeroyok gadis itu tanpa ampun.

Hyojin dengan refleks meringkuk, melindungi bagian perut dan wajahnya sementara orang-orang itu terus menendang, menginjak, bahkan tanpa sungkan meludahinya. Ia tak bisa melakukan apapun selain menunggu kesempatan yang bagus untuk melawan mereka. Atau mungkin… menyerah saja?.

“Yak! brengsek kalian!” teriak Yongguk, tapi dia tak bisa membantu Hyojin karena kepungan preman lain yang tidak membiarkannya pergi. Begitu pun dengan Jun Hong serta Himchan.

Rae Mi sendiri sudah menangis, air matanya mengalir deras memikirkan betapa banyaknya rasa sakit yang diterima oleh temannya. Jinhyo memalingkan muka, entah atas alasan apa dia tak dapat melihat kakaknya diperlakukan seperti itu. Meski setiap saat dia tak pernah menganggap wanita itu sebagai saudara, bahkan membencinya begitu banyak.

“Aku tak heran kenapa si tuan Presdir menginginkanmu hancur.”

Celetukkan si rambut merah membuat Hyojin tersentak, pun bagi Rae Mi, Jinhyo, Yongguk, dan kedua temannya. Orang-orang berhenti berkelahi maupun memukuli Hyojin. Salah satu preman itu bahkan menyikut sang ketua, mengingatkan pada si rambut merah bahwa dia sudah melakukan kesalahan dengan menyebut ‘tuan Presdir’ pada target mereka.

“Memangnya kenapa?” kesal pria itu, “Toh dia juga akan segera mati ditangan kita!”

“Kita disini tidak untuk membunuh orang!” balas rekannya, “Kau akan membuat kita dalam masalah kalau-” dia tak melanjutkan kata-katanya begitu sadar bahwa Hyojin yang sudah babak belur kini berdiri tegap dihadapan mereka, memandang si rambut merah penuh amarah.

“Katakan, siapa tuan Presdir yang kau maksud?!” tanyanya mengintimidasi, gerombolan preman yang telah mengeroyoknya pun mundur ketakutan melihat gadis yang penuh luka itu dapat berjalan dengan baik mendekati ketua mereka.

“SIAPA HUH?!” ulang Hyojin sembari menarik kerah baju si rambut merah.

Namun pria itu dapat menepisnya dengan mudah, “Kenapa kau harus tau?” dan sebelum dia melanjutkan kalimatnya, Hyojin telah membuatnya jatuh tersungkur dengan ujung bibir berdarah setelah memukul wajahnya. Tak berhenti disitu, gadis itu pun menginjak si rambut merah berkali-kali. Tidak tahu kekuatan dari mana yang ia dapat sampai bisa menepis serangan preman lainnya yang hendak menghalanginya.

Kemudian Hyojin duduk diatas si rambut merah, mencekiknya, terus menuntut jawaban dari pria yang tidak mungkin bisa menjawabnya dengan baik tersebut apabila Hyojin masih menyerangnya tanpa ampun. Salah seorang preman memungut tongkat kayu lantas memukulkannya kearah kepala Hyojin hingga patah menjadi dua bagian. Darah mulai mengucur dari pelipis gadis itu namun ia bergeming saja, masih setia menghajar si rambut merah tanpa ampun.

Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi, para preman itu kalang kabut, beberapa tetap bertahan karena tak begitu percaya kalau polisi bisa menemukan markas mereka yang telah luput dari pengawasan sekian tahun lamanya.


“A-a-a… disini polisi kawasan xxx. Jika dalam hitungan tiga kalian tidak keluar kami akan melakukan tembakan secara langsung…”

“H-hey, ini serius?” tanya para preman mulai gentar.

“Mana mungkin…” tapi yang lain berusaha menenangkan diri dan tetap bertahan.

“Satu…”

Beberapa orang pun melarikan diri, tapi masih tersisa banyak yang belum percaya atas suara asing tersebut.

“…dua…aku tidak sedang bercanda Hong Jin Hyung dan kawan-kawannya…”

“Di-dia bahkan tahu nama ketua kita…”

“Oke, kalian memang manusia bebal. Tiga!”

‘DHUAR!’

Benar-benar terjadi ledakan diluar gedung, diselingi suara tembakan bersahut-sahutan, membuat semua preman yang tersisa panik dan akhirnya meninggalkan sang ketua mereka tak berdaya ditangan gadis gila macam Lee Hyojin. Setelah benar-benar tak ada berandalan-berandalan itu lagi -kecuali si rambut merah yang tak bisa kemanapun- barulah suara tadi kembali terdengar.

“Ah, sial!. Aku harus merelakan tanganku terluka demi-” dan semakin jelas kalau pelakunya adalah seorang perempuan ketika Lee Young menampakkan dirinya didepan Hyojin dan lainnya sambil membawa rangkaian elektronik yang tidak mereka ketahui apa itu sebenarnya namun berspekulasi kalau benda tersebut adalah pengeras suara yang membuat kawanan berandalan itu kabur.

“Aisshh!” umpatnya ketika bertemu pandang dengan Jun Hong, tidak menyangka kalau orang yang dia selamatkan salah satunya adalah pria yang sudah membuatnya menangis dan kesal waktu itu.

Jun Hong sendiri terkejut karena orang yang menolongnya adalah gadis menjengkelkan yang ia benci tanpa sebab. Menjadikannya makin kesal karena kini ia berhutang budi pun terima kasih pada Lee Young.

“Kau… temannya Kimberly dan si rambut pendek kan?” tanya Himchan mencoba mengingat nama gadis itu dan temannya, tapi diotak Himchan hanya terpatri nama Kimberly si gadis rupawan yang menarik hatinya.

“Iya…” jawab Lee Young seraya berlari kearah Yongguk yang sudah melepas ikatan pada tubuh Rae Mi, gadis itu pun membantu Jinhyo yang berada tak jauh dari gadis berwajah polos yang tak dia ketahui itu, membuat Jun Hong dan Himchan sadar kalau seharusnya mereka segera menolong dua orang yang disekap itu, bukannya mewawancarai Lee Young yang datang tiba-tiba.

Yongguk menyampirkan blazer yang ia pakai pada Rae Mi yang menggigil ketakutan. Tatapannya yang kosong membuat Yongguk tak tega, tubuhnya bergerak memeluk gadis itu tanpa diperintah. Pria bertubuh tegap itu menepuk lembut punggung calon tunangannya, menenangkan Rae Mi yang malah menangis lirih setelah berhasil melewati pengalaman paling menakutkan di kehidupannya itu.

“H-Hyo-Hyojin…” ujar Rae Mi tergagap, mencoba mengingatkan kepada Yongguk dan yang lainnya bahwa gadis itu masih dalam keadaan buruk, bahkan bisa membunuh anak laki-laki yang tak tamat sekolahnya itu jika tidak segera dihentikan.

Maka dari itu, Jun Hong serta Himchan segera menjauhkan Hyojin dari preman rambut merah yang sudah sekarat itu. Himchan buru-buru memanggil orang suruhannya untuk membawa si berandalan ke rumah sakit, sebab dirasa lebih aman apabila menggunakan kekuasaan keluarganya dalam mengatasi masalah seperti ini daripada menarik perhatian warga sekitar lantas mendatangkan pihak berwajib. Yang mana akan makin menyusahkan mereka, terutama Hyojin.

“Kepalanya… berdarah…” ucap Lee Young, terkejut ketika melihat Hyojin penuh luka melebihi Jinhyo, pria yang sedang ia papah karena kesulitan dalam melangkah. “Eonni, kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

“Heh!, menurutmu kalau seseorang kepalanya terluka sampai mengucurkan darah, dia pasti baik-baik saja?!” kesal Jun Hong tiba-tiba, “Lihat aku! Lihat aku! Kepalaku bocor dan aku masih bisa membersihkan otakmu!” lanjutnya dengan nada mengejek yang dibuat-buat.

Lee Young mendengus, “Ya, ya, sama-sama.” Sindirnya kepada Jun Hong. “Bukannya bilang terima kasih malah melawak dia. Waktu dikandungan, kepalanya terbentur rahim ya?, makanya jadi…” Lee Young melanjutkan ucapannya dengan gerakan tubuh, memutar jari telunjuknya disamping pelipis seolah mengatakan bahwa Jun Hong itu tidak waras.

“Sialan!” umpat pria yang sedang melakukan pertolongan pertama pada Hyojin, hendak memukul Lee Young namun gadis itu sudah terlanjur jauh dari jangkauan tangan maupun kakinya yang jenjang, walau nyatanya ia dan Jinhyo masih berada didalam ruangan yang sama dengannya.

“Ah!” pria itu terkejut ketika Hyojin yang tadinya duduk diam dengan pandangan kosong menjadi bangun dan membuatnya jatuh.

Dengan langkah terseok ia menghampiri Rae Mi yang dipapah Yongguk menuju pintu keluar. Gadis itu menatap Rae Mi tajam, seperti memendam amarahnya kemudian disalurkan lewat tatapan. Siapapun yang melihatnya sekarang dan mengenal Hyojin dengan baik tentunya tahu alasan dibaliknya.

Lee Dae Ryeong. Yang juga kakek Hyojin dan ayah Rae Mi yang menjadi dalang penyekapan Jinhyo dan Rae Mi sendiri. Apalagi kondisi Rae Mi yang jauh lebih baik dari adiknya semakin membuat Hyojin tak bisa menahan segalanya dan membiarkannya berlalu seperti kejadian yang lalu.

Tapi Rae Mi menafsirkannya berbeda. Dia tahu betul bagaimana perasaan Hyojin. Meski ia tahu kalau Hyojin sangat marah pada kelakuan kakeknya, gadis itu tak mungkin mencampur adukkan masalah dan membenci Rae Mi tanpa alasan, karena dirinya pun tak tahu menahu bahkan menjadi korban atas hal buruk yang dilakukan oleh ayahnya.

“Mari kita akhiri sampai disini.”

Walau begitu, Rae Mi tetap terkejut akan apa yang barusan didengarnya.

“M-m-maksudmu?”

Hyojin memaksakan sebuah senyuman.

“Tolong, jangan pernah muncul dihadapanku lagi dan jangan dekati keluarga serta temanku.” Ia menarik nafas sambil menahan tangisnya setelah mengambil keputusan yang tentu saja begitu berat. “Aku tidak ingin mereka terluka, kumohon.” Lantas berbalik menyusul Lee Young dan adiknya.

“Hyojin-ah!”

“Memangnya hanya kau yang terluka huh?!”

Semua yang berada disana menoleh kepada Yongguk yang barusan berteriak.

“Apa menurutmu ini waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungan pertemanan?, disaat sahabatmu sendiri dalam keadaan kurang baik?”

“Yo-Yongguk-ah…” Jun Hong berdiri, hendak menenangkan kawannya itu. Namun Himchan dengan cepat menghentikannya dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. “Lebih baik kita bawa si keparat ini ke mobil yang sudah kusiapkan.” Ujar Himchan kemudian. Jun Hong mau tak mau mengikutinya, membawa si rambut merah yang terkapar keluar dari gedung itu.

Hyojin mendengus, “Apalagi sekarang?” sambil tersenyum sinis.

“Bisakah kau berhenti berfikir seolah hanya kau korbannya?. Bukankah dulu kau selalu bilang padaku, ‘pasti ada alasan mengapa ibumu memilih jalan ini’, kau selalu bersikap bijaksana!. Karena itulah…”

Yongguk menunduk, mengatur nafasnya yang tiba-tiba tercekat mengatakan kalimat selanjutnya. Setelah beberapa detik mengumpulkan keberanian, barulah ia berani menatap Hyojin secara langsung.

“Karena itulah… aku menyukaimu!”

Hyojin gagal mempertahankan ekspresi marahnya, sekarang ia justru kaget sekaligus bingung harus bagaimana merespon pengakuan Yongguk yang tiba-tiba. Lee Young yang masih menonton mereka dari bibir pintu akhirnya diseret keluar secara paksa oleh Jun Hong yang kembali lagi bersama Himchan setelah selesai mengurusi si preman rambut merah, Himchan pun menggantikan posisi Lee Young untuk memapah Jinhyo saat gadis itu bertengkar dengan Jun Hong sepanjang perjalanan.

***

“Yak! lepaskan aku!” seru Lee Young yang masih berusaha melepas pegangan Jun Hong pada bagian belakang bajunya, menariknya seperti membawa seekor kucing liar yang hendak dibuang. Apalagi jarak tinggi keduanya membuat Lee Young makin kesulitan membebaskan diri.

“Kau ini kenapa sih?! Lepaskan aku bodoh!” kesal Lee Young seraya menghentak-hentakkan kaki sekaligus tubuhnya. Tapi Jun Hong hanya berdecak setelah sekilas menatapnya, kemudian memalingkan wajah.

“Aissshh! Pria ini benar-benar!”

Himchan yang berjalan didepan dua muda-mudi itu sambil memapah Jinhyo bertanya, “Tapi, bagaimana bisa kau ada disini dan bahkan memikirkan hal semacam itu?” ia menyinggung alat elektronik yang Lee Young bawa dalam kantung kresek itu.

“Aku tinggal di daerah sini.” Jawab Lee Young setengah emosi, “Aku mendengar keributan dalam perjalanan pulang, jadi aku kesana, dan yah, MENYELAMATKAN KALIAN.” Sarkasnya kemudian.

Jun Hong memukul kepala Lee Young, tapi tak begitu keras, bahkan ia tak menatap wajah gadis itu. Namun sudah cukup untuk membuat Lee Young geram dan hendak membalasnya pula. Meski tidak jadi karena perbedaan dua puluh sentimeter tinggi badan.

“Jangan bilang benda itu kau dapat dari mencuri?” celetuk Jun Hong, yang mendapat decakan kesal dari Himchan.

“Enak saja!, aku membuatnya dari memungut komponen-komponen sisa dari pabrik bekas yang kalian gunakan untuk tawuran tadi. Kebetulan aku bawa solder dan timah, lalu… tara!~ jadilah benda ini!” ujar Lee Young menenteng benda dalam kresek itu dengan bangga.

“Hebat juga kau!” puji Himchan tulus, menggantikan kata terima kasih yang sudah terlalu biasa dikatakan untuk membalas usaha Lee Young dalam menyelamatkan mereka. Walau sebenarnya, Himchan pun sudah melakukan persiapan supaya bawahannya siap sedia ketika keadaan mendesak. Tapi bagaimana pun, Lee Young cukup mempermudah masalah mereka.

“Hebat apanya?!. Adanya juga heran, hyung! Perempuan tulen mana yang berhubungan dengan benda elektronik?. Itu kan pekerjaan laki-laki!” sahut Jun Hong.

Lee Young mendengus, “Kalau begitu kau yang lakukan dari tadi brengsek!” umpatnya, “Kerjamu cuma mengomel saja!”

“Lihat-lihat! Gadis tulen macam mana yang mengumpat?!”

“Kau siapa berani menilaiku?!. This is my life, bro!. Kulakukan apa yang mau aku lakukan!”

“Kau tidak peduli pada masa depanmu apa?, kau mau menyia-nyiakan waktumu begitu saja?”

Lee Young menarik nafas panjang, “Dengar ya tuan sok benar, aku tidak peduli apa yang kau katakan tentang kehidupanku karena kau yang menjalaninya. Jika itu baik untukku akan kuterima nasehatmu tanpa aku harus berkoar-koar ‘terima kasih’ pada seluruh dunia, dan jika itu buruk pun sudah jelas akan kutolak mentah-mentah.” Belanya.

“Aku seperti ini memangnya akan berpengaruh pada orang-orang?, toh mereka termasuk dirimu cuma ingin berkomentar saja. Kalau aku jadi pecundang pun apa itu akan berimbas padamu? mengurangi kekayaanmu?, toh aku tak pernah bergantung apapun pada orang sepertimu. Kalian hanya butuh sesuatu untuk dikomentari bukan?”

“Entah kenapa rasanya aku setuju denganmu.” Kata Himchan mengacungkan jempol tangannya yang bebas pada Lee Young dan dibalas senyum sekilas oleh gadis itu.

“Cih, dasar… kau hanya mencari pembelaan atas kehidupanmu saja. Melarikan diri dari kenyataan bahwa kau ini sudah gagal!” timpal Jun Hong masih tak terima.

“Yak!”

“Apa? Apa?”

“Sudah, sudah, jangan bertengkar. Kalian membuat Jinhyo jadi tak nyaman-”

Suara rendah khas seorang pria menghentikan keributan yang dua orang itu timbulkan, Himchan bahkan cukup terkejut atas kehadiran laki-laki yang tak disangka kehadirannya itu.

“K-kau…”

“Apa Hyojin ada disini?”

Lee Young menatap pria yang lebih tinggi dari Jun Hong itu dengan bingung. Merasa pernah bertemu tapi tak ingat dimana apalagi mengetahui identitasnya.

“Siapa dia?” ia pun bertanya pada Jun Hong yang telah melepas pegangannya pada bagian belakang baju Lee Young.

Jun Hong menjawab tanpa mengalihkan tatapannya pada pria yang baru datang tersebut, “Park Chanyeol, mantan kekasih Hyojin.”

“Kekasih? Setahuku dia bilang tak pernah berpacaran.” Heran Lee Young.

“Aku tak yakin hubungan seminggu termasuk pacaran.” Lanjut Jun Hong, “Toh mereka melakukannya karena punya tujuan masing-masing.”

Lee Young kembali mendongak untuk memandang wajah pria berkaki panjang tersebut. Chanyeol sedang bicara serius dengan Himchan dan tampak mengkhawatirkan keadaan Jinhyo setelah mengenali laki-laki yang dipapah oleh Himchan itu. Ia kemudian berlari menuju gedung yang baru saja mereka tinggalkan. Namun baru beberapa detik, suara langkahnya tak lagi terdengar.

“Hyojin-ah…”

***

“Aku bukan Hyojin yang dulu.” Potong Hyojin cepat setelah terdiam memikirkan jawaban yang tepat atas pengakuan Yongguk. “Kau tahu sendiri, manusia bisa berubah. Aku juga manusia, aku tidak bisa tetap menjadi Hyojin yang naïf seperti dulu. Kuharap kau mengerti.

“Yak! Lee Hyojin!”

Hyojin tersenyum lagi lantas berbalik dan benar-benar pergi meninggalkan Yongguk serta Rae Mi yang masih terdiam setelah terkejut atas perkataan Yongguk sebelumnya.

“Jangan berharap lagi, bodoh.” Ujar Hyojin tanpa menoleh, “Fokus saja pada calon tunanganmu itu.”

Setelah berjalan cukup jauh, gadis itu berhenti sesaat untuk menengadah, menatap langit yang nampak indah bagi siapapun yang tengah berbahagia hidupnya, namun tetap terasa menyilaukan dan sulit dipandang selama mungkin bagi gadis yang seolah memikul ratusan beban berat dipundaknya tersebut. Ia pun menunduk, menghembuskan nafas panjang lantas melanjutkan langkahnya.

Sampai sosok Chanyeol menghentikannya.

“Hyojin-ah…” panggil pria itu lirih.

Hyojin mendelik saking terkejutnya, tanpa sadar melakukan hal yang dulu sangat tidak disukai Chanyeol padanya, namun sekarang tak berefek apapun pada pria tinggi itu.

“Kenapa kau bisa ada disini?”

Chanyeol tak langsung menjawab, melainkan mendekati Hyojin dan mengusap darah yang tersisa pada pelipisnya. “Kau berdarah.” Katanya cemas, lalu menarik tangan Hyojin. “Kita harus pergi ke rumah sakit!”

Tapi Hyojin bergeming, ia tak mengindahkan apapun yang telah Chanyeol lakukan padanya. Malah menepis tangan pria itu, sebuah bentuk perhatian yang ingin Chanyeol tunjukkan pada Hyojin bahwa dia serius menyukainya.

“Hyojin-ah…” ujar Chanyeol, “…kau masih tak percaya padaku?”

“Kalau aku percaya lalu apa?”

“Hyojin-ah.”

Hyojin menyeringai, “Berhenti memanggil namaku.” Ucapnya dingin, “Kau dan perasaan konyolmu. Tidak sadar ya?, kau ini salah satu alasan kehancuran hidupku!. Jika saja Lee Dae Ryeong sialan itu tak menjodohkanku denganmu, hidupku tak akan sesulit ini!. Kita tak perlu bertemu dan saling menyakiti!”

“Yak! Lee Hyojin!”

“Aku benci kalian semua!. Si tua bangka itu!, Rae Mi, Yongguk… dan KAU!”

~To Be Continue~

Chapter bonusnya lain kali yeth~ kekeke ternyata saya tak sanggup ngetik lagi T.T tapi udah diganti sama perpanjangan chapter kali ini urryeeaaah!!. 2997 word lebih loh! Hampir sama jumlahnya kayak chapter-chapter sebelumnya kekeke~ semoga terpuaskan(?) dan doakan saya bisa mengerjakan chapter selanjutnya sepanjang ini hehehe.

Okedeh, RCL juseyooooooooooo~~~~~~~~~~~~~~~

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 22”

  1. Eh sumpah chapter ini bikin baperrr😭 kasian sama hyojin yang kena masalah mulu. Terus pengakuan yongguk bikin nyesek juga. Actually, gue lebih suka hyojin & yongguk please😭

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s