[EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 1)

Unforgettable Family (Chapter 1)

Author: el byun

family, married life, drama, romance, with a little bit comedy

in chaptered

rate: pg-17

main role:

Byun Baekhyun (EXO), Song Hyohwa (OC)

additional role:

Oh Sehun (EXO), Song Shimin

other cast:

EXO’s member, Lee Sooman, Taeyeon (SNSD) and etc

summary:

“Menikahlah denganku! Aku ingin kau hidup bersamaku, tertawa bersamaku dan menangis bersamaku. Kita bangun keluarga kita sendiri. Hanya aku, kau dan anak kita.”

Desclaimer:

This story is my real imagination from my fiction “when i must be married”. Say no to plagiarism!

Fanfic ini juga di post di akun wattpad saya @elisabethbyun bersama karya saya yang lain.

~~~

Pasti banyak yang berpikir pernikahan kedua kami berjalan lancar dan baik-baik saja. Bolehkah aku mengingatkan?

Setelah aku melamar istriku untuk pertama kalinya. Kami dikisahkan menikah setelahnya. Tapi apakah kalian merasa ada yang mengganjal?

Bagaimana dengan kesepakatan antara presdir Lee Sooman dengan ayahnya istriku? Oh, sepertinya ada yang masih belum paham dengan isi kesepakatan itu. Aku bahkan baru mengetahuinya setelah ayah mertuaku meminta ijin kepada presdir untuk sehun menikah. Presdir  dengan gamblangnya menyinggung dengan kata ‘memperjualbelikan artis’. Itu sangat menyakitkan untukku. Tapi jangan marah dulu, biar aku jelaskan isi kesepakatannya.

Tn Song sebut saja ayah istriku, sebelum pernikahan pertama kami, ia mengajukan kesepakatan bersama perusahaan SM Entertainment yang diusung oleh Lee Sooman sebagai CEO-nya. Perjanjiannya adalah dengan memberikan saham 5% dari perusahaan Tn Song, hey 5 % itu tidaklah sedikit bagi perusahaan besar. Ia meminta salah seorang member dari EXO yang merupakan bias dari anaknya untuk menikah. Dan aku sempat protes saat keputusan itu mengarah untukku. Aku dipilih seperti sedang dilelang di tempat penjualan barang bekas. Namun mereka mengancam dengan kontrak kerjaku dan ditambah kedua orang tuaku juga menyetujuinya. Aku bisa apa? Dan karena sehun menghamili putri bungsu Tn Song, aku harus rela menukarkan diriku dengan sehun. Yah ditukar, karena kesepakatannya bilang hanya satu. Waktu itu istriku belum hamil. Aku harus mengalah. Mau bagaimana lagi?

Bagaimana dengan ayahku yang sebelumnya membenci keluarga istriku setelah kami bercerai? Dia sangat marah, sampai-sampai aku dipaksa untuk bertunangan dengan mantan kekasihku, Taeyeon. Aku sebenarnya kasihan padanya. dia menjadi sakit hati padaku karena aku mencintai wanita lain. Bahkan saat aku meminta pertunanganku dibatalkan, aku langsung meninggalkan mereka tanpa menyisakan cerita apapun?

Bukankah ini masalah yang serius? Apa kalian tidak penasaran bagaimana kami menyelesaikan masalah ini?

Maafkan aku yang terus memberikan pertanyaan sebanyak ini. Tapi kali ini aku akan menceritakan, bagaimana suka dukanya kami mendapat restu dan ijin untuk menikah terlebih dahulu sebelum kami memulai kehidupan pernikahan kami yang baru.

Chapter 1: We Want to Married

Author side

Sehari setelah ia melamar, Baekhyun bingung harus meminta ijin kepada orang tuanya terlebih dahulu atau meminta ijin kepada presdir untuk melanggar kesepakatan itu? Pilihannya sulit. Di samping ia seorang idol, namun Baekhyun juga memiliki tanggung jawab sebagai seorang ayah dan juga calon suami.

Setelah berpikir cukup lama. Baekhyun bahkan hampir tidak tidur semalaman karena memikirkannya. Akhirnya ia memilih untuk menyambangi SM building menemui sang presdir terlebih dahulu. Masalah ayahnya, ia bisa meminta bantuan ibunya. Tidak mungkin seorang orang tua tega membiarkan anaknya menjadi seorang pengecut yang menghamili seorang wanita tapi tidak menikahinya.

Hatinya bergejolak ketika wajahnya mengadah pada gedung yang menjulang tinggi dari balik kaca mobilnya. Ia begitu gugup dan takut, padahal dia sendiri yang memutuskan untuk pergi kesana. Waktu itu masih pagi sekitar pukul 10.00 kst. Walaupun cuaca dingin dan hujan salju tipis menyelimuti seluruh kota Seoul, khususnya di kompleks gedung SM. Banyak pegawai yang dengan santainya berlalu lalang di sekitar kantor itu.

Baekhyun meninggalkan lapangan parkir dengan pakaian yang menutupi wajahnya, ia bahkan mengenakan masker dan topi. Ia tahu setiap hari gedung ini selalu dimata-matai oleh orang-orang dari pers atau ketika sedang beredar banyak gosip pintu gerbang selalu dipenuhi oleh para penggemar yang mencari informasi. Beruntung hari ini Baekhyun lolos dari pengintaian.

Baekhyun menarik nafas panjang sebelum ia naik ke dalam lift. Ia berharap keberuntungan berpihak padanya kali ini. Pintu lift terbuka dan tertegunlah orang-orang yang akan keluar itu. Mereka selalu bisa mengenali para artis yang bernaung pada SM. Mereka melihat Baekhyun dengan tatapan mengolok tapi beberapa justru sedikit tertawa hendak mengejek. Baekhyun tahu ini akan terjadi padanya. Ia seperti seorang yang sedang mengkhianati perusahaan yang telah membesarkan namanya.

Baekhyun, ia harus kuat. Ia tak memperdulikan mereka dan melengos saja masuk berhimpun dengan pegawai lainnya. Toh mereka tidak ada hubungannya dengan masalah pribadinya.

Tiba di lantai utama, lantai yang menjadi tujuan Baekhyun untuk bertemu dengan pemilik perusahaan ini. Ia melepaskan masker dan topinya agar terlihat lebih sopan saat bertemu dengannya. Tentu orang-orang dari pegawai divisi yang ia lewati menatap ke arahnya. Akhir-akhir ini Baekhyun menjadi topik hangat mereka.

“Aku menunggumu datang. Selamat atas kelahiran anakmu Baekhyun-ah.” Seseorang meraih tangannya untuk berjabat tangan. Ia tertolong karena manajernya ada di sana. Setidaknya ia punya teman bicara untuk berunding dengan presdir.

“Khamsahamnida. Maaf aku tidak segera menemuimu.”

Baekhyun sangat canggung bicara dengan manajernya. Ia merasa telah mengecewakan banyak orang.

“Aku tahu kau sangat sibuk. Jangan canggung begini. Tenanglah kita akan bicarakan baik-baik dengan presdir.”

Baekhyun mengekor pada manajernya masuk ke dalam ruangan. Ia begitu gugup padahal sebelumnya ia yakin dapat menyelesaikan masalahnya setelah pertemuannya dengan manajernya. Dengan sopan presdir mempersilahkan mereka untuk duduk.

Volume udara di dalam ruangan itu seakan mencekik leher Baekhyun. Ia sekarang berada di hadapan presdirnya yang melihatnya dengan tatapan seduktif. Ia telah menyiapkan hatinya jika hal yang ia dapat adalah yang terburuk. Dan setelah itu ia akan membuat rencana lain. Tapi gambaran buruk itu seketika melenceng dari bayangannya. Presdir justru memarahi manajernya. Ia menuduhnya tidak disiplin dalam membimbing artis maksudnya Baekhyun yang dalam pengawasannya. Presdir menuduhnya telah lalai. Baekhyun ingin sekali menyela pembicaraan itu. Ia kasihan dengan manajernya yang menjadi pelampasan kemarahan presdir.

“Permisi. Maaf jika aku menyela. Tapi dalam masalah ini manajer tidaklah bersalah.”

“Aku tidak bilang kau juga tidak bersalah Baekhyun-ssi.”

Wajahnya seakan di tampar. Kini presdir menatapnya dengan kemarahan. Beberapa kali Baekhyun menegak salivanya sendiri karena tenggorokkannya terasa kering.

“Tindakanmu hampir saja membuatmu masuk dalam penjara. Menyembunyikan sama saja dengan menculik. Kau pasti sudah paham. Setidaknya kau harus menjadi warga korea yang taat hukum bukan?”

Kini ia diingatkan kembali kejadian beberapa hari yang lalu yang hampir membuatnya masuk ke dalam penjara. Ia beruntung Tn song mencabut laporannya.

“Jeosonghamnida!” hanya itu yang diucapkan Baekhyun. Ia menunduk menyesal mendapatkan tekanan itu.

Suasana ruangan itu hening. Sejenak mereka menghentikan aktivitas apapun. Hingga akhirnya Baekhyun mendapatkan nyali untuk berbicara lagi.

“Maaf sekali lagi. presdir, tujuanku kemari adalah ingin meminta ijin padamu untuk..”

“Menikahlah, aku tidak mungkin melarang hak asasi orang lain bukan?”

Senyum tergaris di sudut bibir Baekhyun. Ia mendongak memandang kagum pada presdirnya. Ia tidak mengira presdir akan begitu mudah untuk mengijinkannya menikah, bahkan sebelum ia mengatakannya. Bukankah hari ini dia beruntung?

“Jangan senang dulu. Aku sudah mencoret namamu dalam beberapa jadwal EXO.”

Bagai dicambuk. Kini Baekhyun harus menerima konsekuensi yang ia dapat dari perbuatannya. Mencoret nama dari beberapa jadwal manggung itu lebih baik daripada ia dicoret dari member EXO. Setidaknya SM tidak mendapatkan etika buruk melarang seseorang untuk menikah. Dan lagi, SM tidak perlu merogoh kocek lebih dalam untuk menggaji Baekhyun untuk beberapa pekerjaan.

Sang manajer menepuk pundak Baekhyun bangga. Ia salut dengan keberanian anak didiknya. Dan kini pekerjaannya semakin sulit karena EXO akan berubah formasi untuk beberapa project.

Kini Baekhyun melangkah dengan santai menuju pintu keluar gedung itu. Ia tidak perduli bagaimana orang-orang melihatnya, begitu ia memasuki lobby seseorang memanggilnya dari belakang.

“Oppa!”

Baekhyun menoleh dan dilihatnya heran wanita yang sudah disakitinya. Taeyeon yang berjinjit tinggi itu dengan riangnya menghampiri Baekhyun. Seutas senyuman tergambar di bibirnya. Baekhyun heran, kenapa wanita ini tidak marah padanya setelah kejadian itu?

“Kenapa kau memandangku seperti itu?”

Seketika lamunan Baekhyun buyar. Ia kembali pada posisinya berhadapan dengan taeyeon. Ia terlihat santai.

“Mau minum kopi denganku?”

Taeyeon menawarkan diri untuk mengajak Baekhyun mengobrol. Mereka pergi ke kedai kopi dekat kantor, tak banyak orang tahu karena mereka menggunakan jalur khusus untuk pergi ke sana. Baekhyun masih mengenakan topinya tapi ia menanggalkan maskernya di kantong.

Taeyeon menyesap cappucinno miliknya sebelum ia memulai pembicaraan serius dengan mantan tunangannya. Baekhyun menyilangkan tangannya di dada menunggu Taeyeon selesai menikmati minumannya.

“Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu.”

Baekhyun sudah tidak sabar. Ia ingin pergi ke rumah sakit untuk mengatakan kabar gembira yang baru saja didapatnya. Taeyeon meletakkan cangkir kopinya di tatakan lalu berdecak kesal menatap Baekhyun. Ia juga ikut menyilangkan kedua tangan di dadanya.

“Wae? Apa meluangkan 10 menit waktu untuk minum kopi membuatmu rindu pada wanita itu?”

Baekhyun sedikit kesal karena taeyeon menggunakan kata ‘wanita itu’ untuk menyebut ibu dari anaknya. Dan lagi, taeyeon terlihat sedang mencuri waktu untuk bersama Baekhyun lebih lama. Bahkan mereka duduk sudah lebih dari 15 menit.

“Namanya Song Hyohwa.”

Baekhyun menekan semua kata-katanya. Bokongnya sudah menggeliat ingin beranjak dari kursi yang didudukinya. Taeyeon tersenyum dan mengadahkan wajahnya pada langit-langit bangunan itu.

“Katakanlah! Atau aku akan pergi sekarang.”

“Hey, sabarlah. Jangan terburu-buru begitu.”

Taeyeon langsung menyahut saja. Ia tahu Baekhyun sudah masuk perangkapnya. Ia terkekeh sebentar. Mengingat Baekhyun memandanginya seduktif, taeyeon mulai memasang wajah serius lagi. ia merogoh tasnya untuk mengeluarkan sesuatu. Baekhyun melirik pergerakan tangan Taeyeon hingga akhirnya sebuah kotak tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar ia letakan di meja dan disodorkannya pada sisi dekat Baekhyun. Ia mengernyit menatap heran dengan apa yang dilakukan mantan tunangannya itu.

“Apa ini?” Tanya Baekhyun ketus.

Ia masih kesal dengan sikap Taeyeon padanya terakhir kali. Namun berapa lamapun Baekhyun mengacuhkannya, Taeyeon terus saja berusaha untuk menghubunginya.

“Hadiah.”

“Untuk apa?” sahut Baekhyun cepat.

Taeyeon merasakan kekesalan Baekhyun padanya. ia mengambil kembali kotak berwarna oranye itu dan membukanya sendiri. Menunjukkan isinya yang membuat Baekhyun berpikiran buruk terhadapnya.

“Sebuah kotak musik. Aku tidak sejahat itu menaruh bom atau boneka voodo di dalamnya. Ceh.”

Taeyeon meletakkan kembali kotak itu di sisi meja yang lebih dekat dengan Baekhyun. Kembali lagi Baekhyun tertegun. Aneh, itu yang dirasakannya. Kenapa taeyeon tidak marah padanya? oh, bukankah terbalik. Seharusnya Baekhyunlah yang marah pada wanita itu.

“Sebenarnya aku bingung harus membeli apa. Tapi akhirnya aku memilih untuk mengambil kotak musik ini. Aku hanya ingin anakmu seperti dirimu yang mencintai musik, baek.”

Baekhyun melongoh sejenak mencerna kata-kata Taeyeon padanya. Apa dia salah dengar atau sesuatu sedang menyumpal telinganya? Baru saja Taeyeon menyebut ‘anaknya’ dan menurutnya itu mustahil.

“Gomawo” hanya itu yang Baekhyun katakan.

Taeyeon berdecak melihat sikap canggung yang dilakukan Baekhyun padanya. ia kembali menyesap capucinno-nya yang hampir dingin itu. Taeyeon kembali mengambil sesuatu dari tasnya. Kali ini bukanlah sebuah kotak lagi, Taeyeon memberikannya dengan tangan kosong diletakkannya di atas kotak hadiah pemberiannya.

“Aku kembalikan cincin pertunangan kita.” Baekhyun tetap diam, ia tidak tahu harus merespon apa lagi padanya.

“Aku sudah lama ingin mengembalikannya sejak kejadian kesalahan teknis itu, tapi kau selalu tidak mengangkat ponselmu. Aku tidak tahu haruskah aku kembalikan pada orang tuamu atau bagaimana? Jadi aku mencarimu.”

Kali ini nada Taeyeonlah yang terdengar mengomel. Baekhyun merasa bersalah karena mengacuhkannya. Seharusnya ia tahu bahwa Taeyeon itu sebenarnya adalah wanita baik, tidak seperti dalam sebuah drama yang selalu menggambarkan pihak yang tersakiti akan membalas dendam.

“Jadi waktu itu kesalahan teknis?” Taeyeon membenarkan dengan mengangguk.

“Aku tidak tahu kalau mantan istrimu ternyata sedang hamil anakmu. Aku akui memang aku yang membuat berita itu dipublikasi secepatnya. Tapi setengah jam sebelumnya seseorang yang tidak aku kenal memberitahuku melalui telefon. Sepertinya ia seorang wanita…”

Baekhyun pikir kemungkinan itu adalah Jinji. Tapi tidak mungkin, Jinji bahkan baru tahu setelah berita itu beredar.

“Aku kesal pada mereka. Mereka tidak mau mencabut berita itu dan mengacuhkan panggilan dariku. Seolah-olah mereka telah mendapatkan berita jackpot untuk mendongkrak rating televisi mereka. Dan akhirnya mereka mendapatkan sanksi melalui dewan pers setelah aku melaporkannya.”

Cerita-cerita Taeyeon terdengar jujur di telinganya. Baekhyun harus berterima kasih padanya. Ia tidak tahu ternyata masih banyak orang yang mendukungnya. Ia pikir setelah skandal yang telah ia lakukan membuat orang-orang di sekitarnya menjauhinya bahkan membencinya.

“Sekali lagi terima kasih banyak Tae. Maaf selama ini aku berpikiran buruk padamu.”

Baekhyun reflek menyentuh punggung tangan Taeyeon yang berada di atas meja. Taeyeon sadar dengan sentuhan yang diberikan Baekhyun padanya. Sebenarnya hatinya masih belum rela melepaskan Baekhyun untuk wanita lain, tapi takdir merubah keinginannya untuk memilikinya. Sekarang Baekhyun memiliki tanggung jawab tambahan untuk melindungi anaknya. Sekuat hati ia mendorong pelan tangan Baekhyun untuk menjauh. Hatinya bergetar saat sentuhan itu hilang dari kontaknya.

“Baiklah aku akan pergi. Yuri menungguku untuk melakukan spa dengannya.” Ia berhenti bergerak karena Baekhyun terus terpaku melihatnya. Ia mengendus jengah dengan semua ini.

“Kembalilah baek, aku harap anakmu tidak berisik sepertimu karena menunggu ayahnya untuk menjenguknya.”

Ini kali pertamanya Baekhyun tersenyum padanya. Ia merasa lega karena masalah-masalahnya berangsur hilang. Kekhawatirannya pada Taeyeon juga sudah tidak ia hiraukan. Sekarang adalah waktunya untuk bertemu dengan kekasih hatinya. Dengan bahagia Baekhyun mengemudikan mobilnya. Ia merasa hari ini jalanan begitu berpihak padanya, beberapa kali dia terhindar dari lampu merah lalu lintas. Hingga akhirnya kurang dari 30 menit sampailah ia di rumah sakit.

Baekhyun dengan riang menyusuri lorong-lorong yang berbau alkohol dan citrus di ujung hidungnya yang tertutup masker. Walaupun orang-orang tahu rumah sakit ini sering dikunjunginya. Seorang idol teraplah seorang idol. Ia tidak mau kehidupan pribadinya kentara di wilayah publik. Hanya dokter dan perawat jaga lah yang diijinkan untuk mengetahuinya.

Ceklek..

Baekhyun mendengar suara bisik-bisik dan ramai di ruang VVIP kesayangannya. Sekelebat ia melihat beberapa orang berpakaian putih mengerumuni Hyohwa di sekitar ranjangnya. Baekhyun mendadak cemas jika saja terjadi sesuatu yang serius menimpa kekasihnya. Dengan cekatan dan sedikit berlari ia menerobos masuk.

“Ada apa ini!!”

3 orang perawat itu menatap Baekhyun intens. Matanya serasa dicolok sesuatu. Ia melihat Hyohwa tengah setengah telanjang di sana. Andai saja perawat-perawat itu tidak mengerumuninya, Baekhyun pasti mendapatkan pemandangan yang indah.

“Oppa?”

Setelah mendengar panggilan Hyohwa, tiba-tiba seseorang mengahalangi pandangannya dengan tatapan kesal. Seorang perawat dengan kasar mendorong Baekhyun berbalik dan menuntunnya ke pintu keluar.

“Maaf, apa Anda tidak melihat tandanya?” perawat itu menunjukkan sebuah papan di pintu dan Baekhyun segera saja terbelalak. “NO ENTRY” Pikirannya terlalu bahagia hari ini hingga tanda sebesar itu tidak ia ketahui.

“Jeosonghamnida. Aku akan kembali lagi nanti.” Ungkapnya malu-malu.

Wajahnya sudah seperti tomat sekarang. Ia harus berbalik pergi untuk beberapa saat. Ia menarik tangannya untuk memeriksa jam. Sekarang hampir pukul 3 sore. Biasanya para perawat datang untuk membantu membersikan tubuh pasiennya. Dan betapa bodohnya Baekhyun tidak memeriksa jam terlebih dahulu dan langsung masuk saja. Ia juga kesal kenapa perawat-perawat itu tidak mengunci pintunya saja sekalian. Bagaimana kalau pria lain juga tidak sengaja masuk seperti dirinya? Mungkin Baekhyun akan langsung memukul dan memenjarakan pria itu dengan laporan pelecehan seksual. Tapi bukankah Baekhyun sudah melakukan itu sebelumnya? Bahkan lebih dari itu. Dan sekali lagi ia harus kesal mengingat dirinya hampir saja dipenjara karena tuduhan menculik. Dia sangat kriminal sekarang.

Langkahnya terhenti mengingat paper bag yang ia bawa. Baekhyun berbalik dan mengambil jalur lain untuk pergi ke suatu tempat. Bangsal bayi. Ia ingat hadiah Taeyeon yang ditujukan untuk anaknya. Ia bahagia sekali, senyum mengembang di sudut bibirnya setiap kali mengingatnya.

Baekhyun masuk setelah mendapat ijin dari perawat jaga untuk membawa kotak musiknya ke dalam. Sebenarnya bukanlah meminta ijin tapi lebih ke memaksa. Dengan status idolnya, Baekhyun memperoleh kemudahan itu. Ia melepas jaket dan mengganti alasnya dengan sandal. Mengenakan pakaian tipis berwarna hijau di sana untuk menjaga sterilitas bangsal terlebih anaknya sedang dirawat di NICU. Baekhyun harus lebih berhati-hati.

Matanya berbinar melihat seonggok bayi merah mungil darah dagingnya. Memang kulitnya masih merah dan terkesan tipis, seharusnya hari ini bayi itu belum lahir. Tapi takdir membawanya pada keberuntungan yang berlimpah. Baekhyun dapat kembali di sisi hyohwa tanpa harus sembunyi-sembunyi. Bahkan ia sudah melamarnya. Itu sungguh pencapaian luar biasa dari seorang Byun Baekhyun.

“Annyeong Byun junior!”

Sepelan mungkin baekhyun memanggilnya. Byun junior, mungkin hanya itu yang cocok untuk memanggil anaknya yang belum diberi nama itu. Matanya tak pernah lepas memandang pergerakan kecil yang ditimbulkan karena ulahnya.

“Kau tahu, Appa membawakan hadiah untukmu.”

Smile eyes berbentuk bulan sabit itu terpancar jelas di mata baekhyun. Ia sungguh geli menyebut dirinya sendiri sebagai ‘Appa’. Dalam gugup kupu-kupu dalam perutnya tidak kunjung pergi, menggelitik yang membuat baekhyun ingin berteriak. ‘Ya ampun kenapa aku seperti ini’ begitu teriaknya dalam hati. Belum sampai Baekhyun mengeluarkan kotaknya terdengar seseorang masuk.

“Tuan Byun, siapa yang mengijinkanmu masuk?”

Ekspresi Baekhyun berubah takut jika melihat kepala perawat yang mengurus bangsal itu. Ia terkenal killer di sini. Baekhyun sering mendapat omelan jika ingin bertemu dengan anaknya. Seperti sekarang ini, kepala perawat itu bahkan sudah mengambil kuda-kuda untuk mengusir Baekhyun dengan menangkringkan kedua tangannya di pinggang.

“Oh tadi…”

Baekhyun celingukkan melihat perawat tadi yang sempat membuatnya harus merengek. Tidak ada, sepertinya dia tahu orang killer ini akan datang, kemudian dia kabur.

“Jeoseonghamnida.”

Baekhyun menggaruk tengkuknya tidak gatal. Sudah berapa kali dia meminta maaf hari ini karena kecerobohannya? Baekhyun menunduk, melangkah lemas meninggalkan kotak NICU anaknya. Baru beberapa menit yang lalu ia merasa bahagia, sekarang dihadapkan lagi dengan masalah yang lain.

“Jam jenguknya sudah habis, sekarang waktunya para bayi untuk dimandikan.”

Baekhyun terhenti setelah meraih kenop pintu keluar bangsal. Ia mendengar dengan jelas perkataan itu yang sepertinya sengaja ditujukan untuknya. Baekhyun tersenyum lega, ia melanjutkan membuka pintu dan keluar. Ia pikir kepala perawat yang killer itu sepenuhnya punya hati. Ini memang salah baekhyun yang datang di waktu yang tidak tepat.

“Bersabarlah, kita akan bertemu lagi Byun junior.” Gumam Baekhyun sembari melirik ke arah belakang. Menatap penuh harap pada masa depannya.

TBC

Author’s note:

Gimana chapter pertamanya? Seru, biasa aja, membosankan, atau kurang apapun silahkan komen. Secuil komenan kalian mungkin akan merubah gaya penulisan author yah. Next time mungkin akan berubah. hehe

Rating masih pg-17 ya, karena ketika author pengen serius kadang2 otak somplaknya tiba2 muncul kayak di atas tadi ye kan? Romancenya masih berlanjut tapi mungkin untuk comedy-nya tidak terlalu over. Do you know what, kan? Kadang2 tertawa terus menerus itu juga membosankan.

Salam kecup dari dedek Byun*

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s