[EXOFFI FREELANCE] IF (Chapter 2)

IF.png

│   IF   │

[  Park Chanyeol & Park Chaeyoung  ]

[  Melodrama ♯ Life ♯ School Life  ]

[  Teenager  ]

[  Ficlet ♯ Short story  ]

[  This is my work. The cast is my mine. Sorry for typo’s. Don’t copy without my permission. Don’t judge me. Any art or story is my mine. I don’t plagiarize property of others people.  ]

a story by Oriona

Di depan halaman sekolah keduanya masih berdiri. Rupanya hujan turun deras malam ini. Chaeyoung mengeluh pelan, sementara Chanyeol merentangkan jas sekolahnya memayungi tubuh keduanya supaya tak basah. Mau tak mau Chaeyoung harus sedikit berdekatan dengan Chanyeol. Mereka lantas lari menembus rintiknya hujan menuju rumah Chaeyoung. Keduanya hanya saling diam. Jujur, hati Chaeyoung menghangat. Berbagi payung dengan Chanyeol dan berlari seperti ini dalam lindungan jas sekolah, saling menunduk dan saling menjaga. Sungguh, hubungan yang rumit.

“Cepat masuk, nanti masuk angin.” ujar Chanyeol begitu keduanya berhenti di depan teras rumah Chaeyoung.

“Sebentar, masuklah! Kau belum makan malam, aku akan menyiapkan bekal untukmu dan yang lain.” justru Chaeyoung menggentikan langkah Chanyeol, tanpa persetujuan dari pemuda itu ia menarik tangan Chanyeol mengajaknya masuk ke dalam. “Ibu! Aku pulang!” ia berteriak halus saat mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

Keduanya menjejaki ruang tamu dan berakhir di ruang keluarga – tempat semua orang berkumpul. Adik Chaeyoung yang masih berumur empat tahun tengah nikmat menyantap buah jeruk di genggamannya.

“Chanyeol, kau berkunjung. Ke sini! Makan beberapa buah jeruk ini.” sang wanita paruh baya – ibu Chaeyoung – mengajak Chanyeol untuk duduk. Mana mungkin Chanyeol bisa menolak, di rumah ini sudah seperti rumahnya. Ia duduk di dekat sang adik Chaeyoung dan mulai melahap satu persatu buah.

Chaeyoung sudah kembali dapur, di tangannya sudah ada dua bungkus bekal untuk Chanyeol. Ia menghampiri pemuda itu, duduk di sebelahnya. “Ini, bawa ini untukmu dan yang lain.” ucapnya sembari menyodorkan dua bungkus di tangannya.

“Terima kasih, omong-omong apa isinya?”

Chaeyoung berdecak, “Bukan sesuatu yang tidak kau suka dan bukan sesuatu yang bisa membunuhmu.” lantas beralih pada adiknya yang sangat menikmati jeruk di tangannya. “Aigoo, jiwon-ah kau menikmatinya? Apa noona bisa menyicipinya?” ia mulai menggoda sang adik.

“Kalau begitu, aku harus segera kembali. Terima kasih atas makanannya,” Chanyeol berucap dan menjinjing bungkusan di tangannya.

“Baiklah, Chanyeol. Seringlah berkunjung ke sini.” sang ibu Chayeong menimpali.

“Hati-hati, pakai payung di depan. Di luar hujan semakin deras.” pesan Chaeyoung begitu Chanyeol sudah melangkah pergi.

Chaeyoung bersadar pada kursi belajarnya, ia memasang headset di telinganya menyetel satu alunan lagu yang sama – petikan gitar dari Chanyeol – saat tangannya dengan lihai menggores kertas dengan tulisan puisinya.

Pemuda dengan Segala Pesonanya

Secercah pesonamu menyeruak

Memancar cahaya

Yang menyakitkan namun indah bagiku

Pemuda yang selalu bersinar di manapun

Menghangatkan hati melebihi hangatnya mentari

Menyinari diri ini melebihi sinar rembulan

Yang sinarnya bisa jadi penerang malam

Melebihi sinar manapun di dunia ini

Pemuda yang selalu tersenyum

Dengan hangat dan ceria

Pemuda itu

Dengan segala pesonanya

Yang mampu menghangatkan hati yang dingin sedingin es ini

Ada sebuah mercusuar kosong di sini. Orang-orang menamakannnya mercusuar harapan. Omong-omong, Chaeyoung berada di sebuah pantai menemani band sekolahnya tampil untuk menghibur anak panti. Chaeyoung memang tidak suka kebisingan, jadi ia memilih ke sana – mercusuar harapan – karena harapan yang dibuat di sana akan terkabul.

Ia menyusuri ratusan anak tangga. Mercusuarnya berada di atas tebing. Dengan alunan gitar yang sudah menjadi candunya ia menaiki anak tangga satu persatu. Di sekelilingnya terdapat hamparan ilalang liar yang tumbuh meninggi.

Gadis itu berhenti sejenak, menatap ke depannya. Lalu menapaki lima anak tangga berurutan. Ia menyapu langkangnya ke sebelah kiri, tepat menghadap lautan lepas. Di sana ia berdiri, menyaksikan lautan biru muda yang mengagumkan. Ini pertama kalinya.

“Aku tak pernah buat harapan, nyatanya harapanku tak ada yang terwujud.” ia berucap sendiri. “Tapi, hanya sekali saja.”

Chaeyoung duduk dengan headset masih terpatri di telinganya. Ditemani pensil dan kertas, ia mulai menulis lagi. Entah, mungkin sebuah puisi lagi untuk Chanyeol. “Aku ingin bertemu denganmu, Park Chanyeol.” Ekor matanya menelisik, sosok pemuda berdiri di depannya. Chaeyoung mendongak, ia meremas kertasnya lantas berdiri.

“Mercusuar ini sangat menarik. Dalam perjalanan ke sini, kuberharap kau ada di sini.” pemuda itu berujar sembari mengulas senyum.

“Harapanku pun jadi nyata. Baru saja.” Chaeyoung menimpali. “Harapanku…kupikirkan saat aku di sini. Park Chanyeol, aku ingin bertemu denganmu.” lanjutnya sembari mengedipkan matanya. Angin laut menyisir rambutnya dan menerbangkan helainya perlahan.

Chaeyong mendekat pada tubuh menjulang Chanyeol. Ia berjinjit, memajukan wajahnya sembari memejamkan matanya. Sebuah kecupan manis bersarang di bibir merah Park Chanyeol, begitu tulus. Gadis itu lantas menjauh sembari membuka matanya. Ia menunduk menggigit bibirnya, malu.

Chanyeol tersenyum, “Ya, kau kebiasaan. Tapi, ini manis sekali meski hanya kecupan.” ia berujar sambil menyetuh bibirnya yang baru saja dikecup oleh Chaeyoung.

“Itu bukan kebiasaan kali ini, karena aku mencintaimu Park Chanyeol. Aku bersungguh-sungguh.” batin Chaeyoung.

“Ayo!” Chanyeol menengadahkan telapak tangannya, “Di sini banyak angin.” dan tanpa ragu Chaeyoung meraih uluran tangan darinya. Mereka menapaki jalan secara beriringan dan masih saling bergandengan. Ini seperti mimpi, bagi Chaeyoung. Karena untuk pertama kalinya, mereka bergandengan tangan. Dan jantungnya kembali berdentum begitu kencang hingga rasanya ingin jatuh dari tempatnya.

If

Seandainya aku datang

Mendekat padamu

Apa yang ada di pikiranmu?

Aku tidak berani

Sungguh aku seperti orang bodoh

Seandainya kau datang

Mendekat padaku

Entah apa yang harus kulakukan

Sesungguhnya, aku seperti orang bodoh

Dari puisi ini, Chaeyoung hanya mampu mengungkapkan isi hatinya. Ia masih takut untuk mengatakan kebenaran di hatinya yang selama ini ia pendam dan di rasakan sendiri. Mungkin suatu saat puisinya ini dapat tersampaikan untuk orang yang jadi cinta pertamanya.

`~~ TBC ~~

Oriona’s notes:

Ini sumpah…ane bikinnya sambil senyum-senyum gak jelas (antara baper sama gaje banget). Ini masih temenan, tapi udah kayak orang pacaran ya mereka. TTM katanya anak ABG. Jadi yang suka digituin sama temen cowoknya jangan gampang baper XD…enggak kok, aku nggak nakut-nakutin…karena sesungguhnya di terbangkan itu emang menyenangkan tapi jatuhnya sakit banget. Susu milo gak mempan men~~~jadi flashback masa lalu gegara Chanyeol ini. T T. Cuap-cuap ane pendek hari ini, jadi udahan dulu. Jadi tunggu aku ya,

Hold me on instagram & wattpad @oriona97

See you in next chapter gaes~~

Bye bye~~

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] IF (Chapter 2)”

  1. Minnnn ko aku cari di wattppad gx nemu yah min… pdahal pengen terus nungguin kelanjutannya… next yah min jangan lama lama nunggu bngtt.. aku chanrose shiper soale hhii

    1. Hai hai anyeong! Aku ada di wattpad lho! Tapj gpp sih…ane janji akan update rutin sekarang kalau udah gk ada rintangan…gk nyangka aja ada chanrose shipper…aigoo…aku gak nyangka aja…
      Gowamo udah mau senam jari untuk nulis komentar ya!☺☺

    1. Ane yang membayangkan sambil ngetik ini pun senyum-senyum sendiri..tersipu-sipu sendiri…malu-malu sendiri..okay…tetep tunggu ya! maaf karena kemarin gak update…karena aku agak sibuk…sekali lagi maaf karena baru bisa balas komen kalian semua…

      Aku mencintai kalian wahai readers ku…saranghae ❤❤❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s