[EXOFFI 5th Brithday] The Hardest Word – by Shin Tama

The Hardest Word

Shin Tama

production

Oh Sehun >< Han Yoshie (OC)

Romance/ Oneshoot/ PG-13

“Kau berhasil mendapatkannya, lalu membawanya pergi dan hanya menyisakan

kehampaan dalam hidupku”

             Suhu dingin menjalar ke tubuh Sehun melalui saraf kakinya yang menyentuh lantai keramik. Agak kaku bagi Sehun menggerakkan sepasang kaki panjangnya. “Apakah kau ingin menggunakan kursi roda?” tawar Chen yang melihat sepupunya kesulitan bertumpu di kedua kaki pria jangkung itu. “Tidak usah, kedua kaki ku tidak patah tulang. Aku ingin terbiasa berjalan lagi.” Kata Sehun seusai memakai sneakers-nya. Chen mengembus napas berat. Ia masih cemas dengan kondisi Sehun yang baru saja diijinkan pulang oleh dokter setelah tiga bulan menjalani rawat inap.

Sehun melangkah ke dalam condo, matanya menelaah setiap sudut ruangan dan seluruh benda mati di dalamnya. Semuanya tampak asing. Kata Sehun dalam hatinya. Ia kecewa. Harapannya untuk mendapatkan ingatannya kembali belum menemukan titik terang. Berpikir keras hanya menimbulkan kepalanya sakit. “Istirahatlah! Perlahan ingatanmu pasti kembali. Jika kau perlu bantuan atau sesuatu, telfon saja aku. Ok?!” kata Chen seraya menepuk bahu Sehun, lalu keluar dari kamar Sehun. Chen adalah orang sibuk, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor atau tempat-tempat lainnya. Condo? Chen menggunakannya hanya untuk tempat ganti pakaian. Namun, mulai sekarang…ia akan berusaha meluangkan waktunya untuk menyapa Sehun. Sepupunya yang sedang mengalami musibah.

“Aku hanya ingat namaku dan semua tentang diriku. Aku bahkan tidak ingat bagaimana kecelakaan yang menimpaku. Aisssh… betapa egoisnya aku sekarang.” Sehun menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di depan televisi. Ponsel Sehun bergetar dalam saku boomber-nya diikuti dengan suara nyaring tanda panggilan masuk. Muncul tulisan ‘Eomma’ di layar ponselnya. Sehun agak enggan mengangkat telfon dari wanita yang ia sebut eomma itu. Bukannya Sehun ingin menjadi anak pembangkang, hanya saja… ia canggung dan kewalahan menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan wanita itu. Sejak ia siuman sampai sekarang, wanita itu rajin menemuinya atau menelfonnya untuk membujuknya ikut ke Taiwan. Walaupun begitu, Sehun tetap kukuh pada pendiriannya untuk tidak meninggalkan Korea sampai ingatannya pulih.

Sehun memegang perutnya. Suara ponsel berhenti…digantikan suara perutnya yang lapar. Sudah waktu nya makan malam dan ia harus bergegas mengisi perutnya. Bell kamar Sehun berbunyi ketika ia hendak beranjak ke dapur.

“Selamat sore Sehun-ah” Sapa seorang perempuan dengan nada ceria disertai senyum lebar ketika Sehun membuka pintu.

“So-sore” balas Sehun agak terkejut.

“Ku dengar dari eomma-mu, kau pulang ke condo hari ini. Jadi aku membuat makanan organik untukmu…agar kau cepat bugar kembali. Silakan, makanlah.” Kata perempuan itu seraya menerobos masuk ke ruang makan dan meletakkan nampan makanan di meja. Si perempuan tak sadar bahwa si pemilik condo sedang menatapnya dengan bingung. “Oia…hehehe, kau belum mengingat semuanya. Jadi aku akan memperkenalkan diriku lagi: nama ku adalah Han Yoshie, kau dapat memanggilku Yoshie. Aku adalah tetanggamu.” Ralat perempuan itu berhasil menghapus kebingngungan Sehun.

Yoshie dengan eomma saling berkomunikasi dan Yoshie adalah tetangganya. Itu berarti mereka memiliki hubungan yang cukup dekat. Pikir Sehun.

***

 

1 bulan kemudian…

Uap mengepul dari dapur milik Yoshie. Memasak adalah kegiatan rutin perempuan itu setiap hari. Sepadat apapun kegiatannya di luar rumah, Yoshie berusaha menyempatkan diri untuk memasak. Bukan apa-apa, hanya saja ia kurang setuju dengan sesuatu yang instan, apalagi makanan instan. Karena ia termasuk orang yang pemilih, terutama soal makanan. Dan menu hari ini adalah Bimbim Dangmyeon dan sup iga sapi.

Bell pintu berbunyi ketika Yoshie memotong-motong sayuran. Ia pun menuju pintu dengan langkah setengah berlari karena takut masakannya akan gosong. “Hai… kau sudah datang.” kata Yoshie setelah tahu siapa yang menekan bell pintunya. Yoshie bergegas balik kanan kembali ke dapur dan Sehun membuntutinya.

“Jika aku tidak mampir, kau pasti akan menerobos condo-ku dan mencekokiku dengan masakanmu.” Respon Sehun ketika mereka masuk ke ruang makan, lalu laki-laki itu duduk di kursi bar.

“Hahaha…tapi masakanku tidak buruk kan?” Yoshie kembali tenggelam dalam kesibukannya. Kali ini ia memasukkan sayuran yang telah dipotong-potong tadi ke dalam panci yang berisi air mendidih.

“Justru masakanmu enak sekali.” Sehun mengacungkan dua jempol. “Hanya saja…” kalimat Sehun terputus.

“Hanya saja kenapa?”

Hanya saja kau terlalu baik sampai aku bingung bagaimana cara membalasnya. Lirih Sehun dihatinya.

“Emm, apa kau tidak bosan memasak setiap hari?” tanya sehun sekenanya.

“Hahaha…aku ini perempuan, tentu saja memasak adalah tugasku.”

“Hari ini kita makan di luar ya?! Akan ku ajak kau ke restoran terenak dan mewah.” Usul Sehun.

“Tidak usah. Masakanku ini setengah jadi. Tunggulah sebentar lagi.”

“Matikan saja kompornya, lalu kita pergi ya…?!” rajuk Sehun.

“Tidak.”

“Baiklah.”

Sehun bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju meja dapur. Sedetik kemudian, tubuh ramping Yoshie sudah ada di bahu lebar laki-laki itu. “Hei Sehun-ah, turunkan aku! Aku bukan karung beras.” Dengus Yoshie yang terkejut karena Sehun membopongnya tiba-tiba.

“Apa kau ingin aku membawamu dengan bridal style? Agar seperti pengantin?” Goda Sehun.

“Tidak seperti itu juga. Pokoknya turunkan aku sekarang.” Yoshie memohon dengan nada memerintah seraya memukul-mukul punggung Sehun.

Sehun menahan tawa melihat reaksi perempuan itu yang mulai panik. Ada kalanya Yoshie tampak seperti gadis kecil yang manja dan mudi. Ya contohnya seperti sekarang, ketika ia menggodanya atau menjahilinya. Menurutnya, itu manis dan menggemaskan. Tidak sampai disitu. Sehun mengindahkan rajukan Yoshie untuk menurunkannya. Laki-laki itu justru membawa Yoshie ke mobil, lalu melesat ke restoran yang di usulkan Sehun. Jangankan gaun indah atau stelan rapi, celemek saja masih menempel di tubuh perempuan itu. Karena tindakan laki-laki itu, Yoshie hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa konyol.

Hari ini genap satu bulan Sehun dan Yoshie saling berinteraksi. Tapi ia merasa sudah lama sekali berteman baik dengan perempuan itu, bukan hanya sebulan. Sehun penasaran, bagaimana ingatan tentang perempuan itu di masa lalu? Sayangnya, sampai detik ini…ia belum mendapatkan jawabannya karena ingatannya belum kembali…

***

 

Akhir november. Cuaca menjelang bulan desember mulai ekstrim, walaupun belum turun salju yang lebat, namun suhu udara di luar bangunan cukup ampuh membuat telapak tangan membeku. Dengan air wajah yang gelisah, Sehun melemparkan pandangannya ke luar jendela loby condo. Ia melakukan tindakan yang serupa beberapa kali selama salama satu jam terakhir ini. Menit berikutnya, Sehun memilih majalah fasion dibandingkan majalah bisnis yang saling berdampingan- untuk dibaca.

“Hatchsiim…” tenggorokan Sehun gatal dan hidungnya terasa digelitik. Wajah Sehun tampak pucat pasi dan hidungnya memerah. “Sekarang musim dingin, seharusnya kau memakai mantel atau syal.” Kata Yoshie seraya melilitkan syal rajutan ke leher Sehun. Tanpa Sehun sadari, kini orang yang membuatnya gelisah muncul di hadapannya. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” sambung Yoshie. “Aku bosan di kamar.” Balas Sehun dengan nada cuek, tapi sebenarnya ia merasa seperti kucing peliharaan yang sedang menunggu majikannya datang. Singkatnya, Sehun sedang menunggu perempuan itu. Namun, ia adalah seorang Sehun yang terlalu gengsi untuk menucapkan kalimat itu. “Ayo mampir ke tempatku, akan ku buatkan coklat panas.” tawar Yoshie.

***

 

“Kau membuat syal ini sendiri?” tanya Sehun seraya menunjuk syal yang ia kenakan sekarang dan sebelumnya ia menemukan syal yang serupa namun setengah jadi di sofa ruang tv.

“Iya, aku sengaja membuat syal itu untukmu.” Jawab Yoshie, lalu menyodorkan secangkir coklat panas yang ia janjikan sebelumnya kepada laki-laki itu.

“Terimakasih ya”

“Sama-sama”

“Em…dan yang kau buat sekarang…untuk siapa?” tanya Sehun masih membahas soal syal rajut yang tengah dikerjakan Yoshie.

“Ini untuk pacarku. Besok adalah hari jadi kami yang ke 3 tahun. Aku ingin memberikan ini padanya. Kau mau ikut?”

“Hahaha…kau bercanda. Pasangan mana yang mengajak temannya saat kencan?”

“Pacarku sudah meninggal, aku ingin berkunjung ke makamnya.”

“…”

Detik itu juga, air waja Sehun berubah. Tawanya redup, bahkan menghilang ditelan udara.

***

 

“Rasanya baru kemarin kita duduk berdampingan sambil bertukar cerita dan diselingi canda tawa.” Yoshie tersenyum ketika mengingat kenangan manis itu. “Sampai tadi malam, aku masih berharap ini adalah mimpi.” Ia mengelus batu nisan berukirkan nama ‘Jung Hyun Ki’.”Aku menyesal ketika kau bertanya ‘apakah aku mau menikah denganmu’ dan aku belum memberikan jawaban.” Kini air mata Yoshie jatuh, meluncur dipipinya, lalu menetes diatas makam Hyun Ki. “Jika saja saat itu aku bilang ‘ya’, apakah kau akan tetap disisiku sampai saat ini?” Tangis Yoshie semakin terdengar menyayat hati, dada Yoshie terasa sesak sehingga ia harus memukul-pukul pelan dadanya sendiri.

Sehun bukanlah tipe orang yang cengeng. Tapi kali ini pengecualian. Laki-laki itu menitikan air mata. Tangis perempuan itu terlalu sendu untuk didengar. Kisah perempuan itu terlalu tragis untuk diceritakan. Bukan iri ataupun cemburu yang Sehun rasakan. Satu kata untuk Yoshie yaitu ‘salut’. Sehun salut akan rasa cinta yang Yoshie miliki, sekaligus salut akan ketegaran yang Yoshie miliki.

“Aku lihat makamnya masih baru.” Sehun membuka pembicaraan ketika mereka di mobil.

“Kau benar, Hyun Ki meninggal beberapa bulan yang lalu.” Jawab Yoshie tanpa mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Pikiran perempuan itu tertinggal di tempat yang baru saja mereka kunjungi. Masih sulit baginya untuk merelakan Hyun Ki.

“Terimakasih ya sudah mengantarku.”

“Iya, sama-sama. Katakan padaku jika kau ingin pergi ke suatu tempat lagi, aku akan mengantarmu.”

Yoshie mengangguk dan tersenyum tipis. Lalu mereka fokus kembali ke kegiatan mereka masing-masing. Yoshie memandang keluar jendela mobil dengan tatapan kosong, sedangkan Sehun fokus menyetir.

***

 

“Apa kau tau cara melepaskan benda ini dari rambutku?” Sehun menunjuk kepalanya. Disana melekat segumpal permen karet.

“Bagaimana bisa permen karet itu menempel dirambutmu?” tanya terkekeh. “Masuklah, akan ku cari cara bagaimana melepaskannya.” Lanjut Yoshie. Laki-laki itu pun membuntutti Yoshie ke makar mandi.

Sehun duduk bersila di bathtub dan Yoshie duduk dibibir bathtub. Perempuan itu mengoleskan minya goreng kebagian kepala Sehun yang terkena benda lengket itu.

“Ini gara-gara Kai. Tadi malam namja itu datang ke condo ku untuk menemaniku bermain playtation, selama bermain…dia terus saja mengunyah banyak peremen karet dan aku yakin dia membuang bekasnya di sembarang tempat. Menyebalkan.” Celoteh Sehun.

“Yoshie…”

“ehm?”

“Ingatanku sudah kembali.”

“…” Yoshie menghenhtikan kegiatannya.

“Tapi, belum semuanya kembali.” Lanjut Sehun agak kecewa.

“Apa saja yang sudah kau ingat?”

“Aku ingat tentang eomma, Chen, dan Kai. Maaf…aku belum ingat tentangmu.”

“Tidak apa-apa, perlahan semua ingatanmu akan kembali.”

“Aku berharap juga begitu.”

“Nah, sudah bersih.” Kata Yoshie setelah selesai melepaskan permen karet itu dari kepala Sehun serta membasuhnya dengan sampo dan air. “Ayo, biar ku keringkan di ruang tv.” Sambungnya.

“Ada apa?” tanya Sehun yang hendak beranjak dari bathtub, tetapi tindakkannya terhenti ketika melihat Yoshie masih terduduk sambil meringis.

“Kakiku kesemuatan, bisa bantu aku berdiri?”

“Baiklah.”

Kaki Yoshie tak merasakan lantai. Laki-laki itu membopong tubuh Yoshie, membawa perempuan itu dalam dekapannya. Bukan kali pertama Sehun menggedongnya. Tapi kali ini Yoshie merasa salah tingkah. Sehun tak melepaskan pandangannya dari wajah Yoshie yang sejajar dengan wajahnya. Sampai mereka sampai ke ruang tv, hanya tatapan mereka yang saling berbicara.

“Kau bisa menurunkan aku sekarang.” Ucap Yoshie.

“….”

“Sehun.” Panggil Yoshie seraya menepuk bahu lebar laki-laki itu.

“eoh?” tanpa aba-aba Sehun menjatuhkan tubuh Yoshie ke sofa. Tindakan Sehun yang sangat mendadak itu membuat Yoshie terkejut dan meringis.

“Apa kau sedang melamun hah? Apa yang ada dipikiranmu sekarang?” dengus Yoshie seraya membenahi posisinya.

“Maaf…maaf…”

Aku terlalu fokus kepadamu. Aku memikirkanmu, sekalipun kau ada dihadapanku. Aku ingin melihatmu, sekalipun kita bertemu setiap hari. Aku ingin memelukmu lebih sering dan bukan karena keharusan. Rangkaian kalimat itu hanya sampai di ujung kerongkongan Sehun. Laki-laki itu masih belum bisa menyuarakannya lewat ucapan.

***

 

“Seorang pria menyandera seorang wanita di pusat perbelanjaan di kota Seoul pada siang tadi. Diketahui korban bernama Han Yoshie 23 tahun dan pelaku berinisial KV. Saksi mengatakan KV berniat merampok gerai perhiasan dan menyandera salah satu pengujung mall untuk mencam. Beruntungnya polisi dapat menggagalkan aksi KV tersebut. Mari kita lihat berita selengkapnya.”

Tanpa menunggu cuplikan berita selengkapnya di televisi, Sehun bergegas menuju ke tempat kejadian. Sepanjang perjalanan, Sehun berdoa semoga Yoshie yang dimaksud bukanlah Yoshie yang ia kenal. Ku mohon jangan dia…

***

 

            Yoshie duduk membisu di kursi sudut kantor polisi. Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetar. Peristiwa mengerikan itu masih melekat dipikirannya. Pisau yang menodong lehernya, masih terbayang dimatanya.

“Yoshie…” panggil Sehun.

Yoshie menoleh dan mendapati laki-laki itu menghambur ke arahnya. Sehun menangkupkan tangannyadi pipi perempuan itu. “Apakah kau terluka? Katakan padaku, apakah dia menyakitimu?” tanya Sehun dengan satu tarikan napas. Yoshie menggeleng. Pipi perempuan itu terasa dingin di tangan Sehun. Saat Sehun menatap bola mata hitam pekat itu, Sehun tidak menemukan arti apapun disana. Pandanga Yoshie masih kosong. Tanpa memberi Sehun jawaban sepatah kata pun, Yoshie meneteskan air mata. Pada saat itu juga, Sehun tidak dapat menahan diri. Laki-laki itu memeluknya. “Aku jamin kejadian ini tidak akan terulang lagi padamu. Aku akan menjagamu.” Sehun mempererat pelukannya. Yoshie semakin terisak. Sampai akhirnya, tangisnya pecah dalam pelukan Sehun.

Pada malam harinya, Yoshie dipersilakan meninggalkan kantor polisi seusai perempuan itu memberi kesaksian dan menceritakan kronologi peristiwa penyanderaan itu. “Istirahatlah, aku akan pulang setelah kau tidur.” Ucap Sehun seraya membenahi selimut milik Yoshie.

***

 

Jam 8 pagi. Sehun tampak masih terlelap dengan nyenyak di sofa kamar Yoshie. Bohong jika laki-laki itu mengatakan bahwa ia akan pulang setelah Yoshie tertidur. Pada kenyataannya, Yoshie menemukan laki-laki itu tidur di sofa. Walaupun begitu, Yoshie tidak akan marah dengan kebohongan Sehun yang satu ini, karena sejujurnya ia tidak ingin sendirian malam tadi.

“Sehun, bangunlah. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu.” Yoshie menepuk-nepuk pelan lengan atas laki-laki itu.

Sehun mengerjap-ngerjapkan mata, lalu tersadar seutuhnya. Melihat wajah perempuan itu pagi ini, membuat Sehun lega. Yoshie tampak lebih baik. Sudah tidak terlihat shock. Sehun menarik tangan Yoshie dan menggenggamnya erat.

“Ada yang ingin ku tanyakan…” ucap Sehun.

“Ya, apa itu?”

“Bisakah aku melihatmu lebih lama? Bisakah kita bertemu lebih sering? Dan bisakah aku selalu menjagamu? Apakah kau mengerti perasaanku?”

“Aku paham dengan apa yang kau katakan. Aku akan memberikan jawabannya jika ingatanmu sudah kembali seutuhnya. Mungkin saja, kau akan berubah pikiran ketika ingatanmu telah kembali. Tidak ada yang tahu hati seseorang bisa berubah, bukan?”

“Kau meragukanku?”

***

 

Buku-buku catatan, album-album foto dan barang-barang lain di kamar Sehun tampak berserakan. Laki-laki itu membongkar isi kamarnya. Mencari sepotong ingatan yang sangat Sehun butuhkan. Dimana aku bisa menemukan tentang dirimu, Yoshie. Sehun duduk bersila di lantai, lalu memandang sekeliling. Ia merasa kecil hati. Pikirannya sama sekali tidak membantunya. Payah.

“Apa yang sedang kau cari?” tanya Chen yang kini berdiri di ambang pintu kamar Sehun.

“Aku hanya ingin menata ulang barang-barangku. Eoh? Apa yang kau bawa?”

“Oh ini.” Chen mengangkat kantong plastik yang sedang ia jingjing, lalu melanjutkan kalimatnya “Ini porkbelly, ayo kita membuat Samgyeopsal.”

Sehun bangkit dari posisi duduknya, lalu meraih sebuah bingkai foto dan menyusul Chen ke ruang makan.

“Chen, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Apa? Katakanlah.” Respon Chen tanpa menoleh ke arah Sehun karena ia tengah sibuk mengorek kulkas.

“Aku menemukan foto ini.” Sehun meyodorkan sebuah bingkai foto yang didalamnya terdapat sebuah potret Sehun dengan seorang laki-laki. Mereka tampak tersenyum lebar dan penuh kebahagian dalam foto tersebut. “Aku tidak ingat siapa namja yang ada disebelahku ini, mungkin kau tahu?”

“Dia adalah sahabatmu, Jung Hyun Ki.” Terdapat perubahan nada suara pada Chen.

“. . . .”

Nama itu terdengar familiar. Pikir Sehun.

“Mulailah memanggang porkbelly-nya, aku keluar sebentar untuk membeli beberapa kaleng bir. Kulihat tak ada satupun bir di kulkasmu.”

“Baiklah.” Respon Sehun.

***

 

“Yoshie…”

Yoshie tertegun mendapati Chen berdiri dibelakangnya ketika ia baru saja keluar condo. Laki-laki itu menghampiri Yoshie dengan tatapan dingin. Kaki Yoshie terpaku ditempatnya. Sudah tidak ada kesempatan untuk Yoshie untuk menghindarinya. Sekalipun ia sangat ingin menghilang dari hadapan Chen detik itu juga.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Chen sangat ketus.

“Ini tempat tinggalku, aku melakukan apa yang aku inginkan.”

Dahi Chen mengerut. Bukan tanpa alasan perempuan itu tiba-tiba pindah ke condo yang sama dengan Sehun. Chen merasa ada sesuatu di balik kalimat Yoshie yang menimbulkan kecurigaan dalam benak Chen.

“Aku tahu kau belum menyerah. Jika sampai kau berani melukai atau bahkan membahayakan hidupnya…liat saja, aku tidak akan segan-segan bertindak kasar kepada wanita sepertimu.” Ucap Chen lugas dan tegas.

“Aku tidak ingin mengotori tanganku untuk bertindak kasar padanya. Aku akan menyakitinya, sesakit-sakitnya dengan caraku sampai  ia merasa kehilangan arti hidup di dunia ini.” Balas Yoshie, lalu meninggalkan laki-laki itu yang kini berdiri membeku.

Chen mundur selangkah. Kalimat perempuan itu bak pedang yang mendorongnya mundur. Chen khawatir jika perempuan terlalu jauh dan nekad sperti saat terakhir ia bertemu Yoshie beberapa bulan lalu, perempuan itu melempar batu bata ke kaca kamar Sehun. Ia masih melihat tatapan Yoshie yang penuh dendam. Chen dapat merasakan bahwa perasaan lembut, belas kasih, dan cinta perempuan itu…mati bersama Hyun Ki.

***

 

Sehun  tersentak ketika mendengar pintuk condo-nya dibanting. Ia melihat Chen datang dengan raut wajah kesal dan tanpa membawa bir. “Ku kira dia akan membelinya.” Gumam Sehun. Chen menarik kursi di depan meja makan, tepat di depan Sehun, lalu membanting dirinya disana.

“Ada yang ingin ku tanyakan padamu.”

“Apa?” respon Sehun seraya membalikkan porkbelly yang sudah berubah warna kecoklatan.

“Sejak kapan wanita bernama Yoshie itu tinggal di sebelah condo-mu?”

“Aku belum ingat. Saat aku pulang dari rumah sakit, dia sudah disana.” Jawab Sehun. Ia mengernyit. Pikirnya Chen dan Yoshie sudah saling mengenal dengan baik, kenapa laki-laki itu malah mengajukan pertanyaan janggal seolah-olah Yoshie orang asing.

“Ku peringatkan padamu, jangan pernah berurusan dengan wanita itu.”

“Kenapa? Apa yang salah dengannya? Yoshie orang yang baik.” Sehun berusaha membela Yoshie. Sikap sepupunya itu semakin membingungkan. Sehun tidak dapat terima statment laki-laki itu begitu saja.

“Oke, aku akan menceritakan tentang sesuatu hal  penting yang sampai saat ini belum kau ingat.”

“. . .” Sehun masih menunggu.

“3 bulan lalu kau mengalami kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobilmu dan mobil Hyun Ki. Kau selamat dengan luka parah dikepala, sedangkan Hyun Ki tewas. Masalahmu berlanjut ketika Yoshie yang berstatus kekasih Hyun Ki tidak rela kekasihnya meninggal dengan cara seperti itu. Kau sedang mabuk ketika mengemudi mobil itu. Karena kecerobohanmu itu, Yoshie berniat balas dendam. Lalu…” kalimat Chen terputu.

“Berhenti…” ucap Sehun Lirih. “Sudah cukup, jangan kau teruskan lagi.” Lanjut Sehun dengan kepala merunduk dan tangan menyentuh kepala. Tiba-tiba kepalanya diserang rasa nyeri.

Jung Hyun Ki sahabatnya. Yoshie kekasih Hyun Ki dan seseorang yang sehun sayangi. Sehun berusaha keras meningat semua tentang mereka dan kejadian yang telah mereka alami untuk menemukan pembenaran tentang apa yang sepupunya bicarakan. “aaarrrggg…” Sehun mengerang. Kepalanya bertambah sakit. Sedetik kemudia, Sehun kehilangan kesadarannya. Gelap.

***

 

Ketika Sehun membuka mata, ia merasa ada yang berubah dalam dirinya. Sehun sudah ingat semuanya. Ingatannya sudah kembali tanpa terkecuali. Rasa yang teramat sakit tiba-tiba menyerangnya. “Jung Hyun Ki, maafkan aku.” Tutur Sehun dengan penuh penyesalan. Kenapa harus kau? Aku yang salah. Sehun tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Ia masih belum percaya bahwa ia telah kehilangan sahabat terbaiknya.

Di sisi lain, ingatan Sehun telah kembali, dan ingatan tentang Yoshie tetap ada. Ingatan tentang perempuan itu seperti badai besar yang menerjang Sehun. Rasa sayang yang Sehun miliki untuk perempuan itu dibayangi oleh rasa bersalah dan penyesalan. Menjadikan perasaan sayang itu sangat menyakitkan. “Apakah ini tujuanmu, Yoshie?” lirihnya.

***

 

 

Sehun memandangi riak air suangai Han. Tiupan angin yang menerpa tubuhnya, sama sekali tak membuatnya goyah. Seberapa dinginnya udara malam hari disana, Sehun tak bergeser sesenti pun. Ia akan tetap berdiri disana sampai perempuan itu datang.

“Kenapa kau memintaku datang ke tempat sedingin ini? Bukankah kita bisa bicara di condo?” Yoshie datang seraya menjejalkan kedua tangannya ke saku mantelnya. Walaupun ia sudah memakai sarung tangan, tetap saja ia merasa udara di luar sini sangat dingin.

“Mengenai pertanyaan yang ajukan waktu itu…” Sehun menarik napas panjang yang menurutnya sangat berat. “Aku sudah tahu jawabannya…” lanjut Sehun akhirnya.

Yoshie tersentak. Apakah semua ingatan Sehun telah kembali? Sangkanya. Sehun menghadap ke arahnya. Laki-laki itu mempersempit jaraknya dengan Yoshie. Sehun merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Yoshie semakin terkejut ketika laki-laki itu mengeluarkan sebilah pisau. Yoshie mundur satu langkah. Apa yang akan Sehun lakukan? Pikirannya bertanya-tanya.

“Aku tidak pantas meminta maafmu…karena aku lebih pantas mati.” Suara Sehun bergetar, ia menyerahkan pisau itu kepada Yoshie dan memaksa perempuan itu untuk memegan benda tajam itu.

“Bukan seperti ini caranya.” Yoshie melempar pisau itu ke arah sungai Han dengan sekuat tenaga yang ia miliki. “Itu terlalu mudah.” Yoshie tersenyum getir. “Aku ingin melihatmu menderita karena penyesalan dan sakit hati yang mendalam, sampai kau berfikir apa gunanya hidup dengan perasaan seperti itu.”

Yoshie meluapkan amarahnya. Ia sudah muak berpura-pura bersikap baik dan manis kepada laki-laki itu. Andai Sehun tahu, bagaimana rasanya tersenyum kepada orang yang sangat dibencinya. Gambaran yang sangat menyakitkan namun harus Yoshie lakukan.

Malam itu menjadi yang pertama kali  bagi Sehun melihat perempuan yang terlanjur ia sayangi menatapnya dengan penuh kebencian. Ia yakin, pisau yang ia bawa tidak akan terasa menyakitkan dibandingkan dengan tatapan tajam milik Yoshie. Dan sejak malam itu juga, Sehun tidak melihat perempuan itu lagi.

***

 

1 Tahun Kemudian

Yoshie duduk di balkon kamarnya sambil memandangin halamannya yang luas dipenuhi dengan bunga-bunga warna-warni yang ia tanam sendiri. Suadah menjadi kegiatan rutinnya dalam setahun terakhir ini, setiap sore bersantai di tempat itu. “Kenapa juga aku menangis?” gumam Yoshie seraya menyeka air matanya. Kehidupannya tak lagi sama seperti sebelum ia bertemu dengan Sehun. Laki-laki itu telah merubah segalanya. Bukan hanya karena Hyun Ki saja, Yoshie meneteskan air mata. Tapi air mata itu juga berlaku ketika ia teringat Sehun. Rasanya menyakitkan.

“Ayolah Yoshie, ini akhir pekan. Kau tidak tertarik menemaniku jalan-jalan?” Suara Haruka menariknya dari pikirannya yang melayang. Perempuan asli Jepang itu mengambil tempat di sebelah Yoshie.

“Aku sedang malas kemanapun, kau ajak Yamato saja.”

“Ah tidak mau. Pergi bersama laki-laki itu hanya membuatku pusing. Sepanjang waktu hanya membahas tentang balapan mobil. Dan sepertinya dia sedang pacaran dengan mobilnya sekarang.” Aku sahabatnya. “Bagaimana kalau kita makan di Shibuya malam ini?” tawar Haruka.

“Akan kupikirkan.” Jawab Yoshie dengan santai. Yoshie tak menyadari bahwa sahabatnya itu sedang tersenyum miris.

“Kau banyak berubah sejak pindah dari Korea. Apakah sekarang Jepang tidak lebih nyaman dibandingkan negeri gingseng itu?” Komentar Haruka.

“….” Yoshie hanya menggeleng.

“Aku juga jarang melihatmu memasak atau pun merajut lagi. Padahal itu adalah kegiatan favoritmu. Apakah kau sudah merasa bosan.” Haruka masih ingin berkomentar.

“Bukan itu alasannya.” Lirih Yoshie.

Ada sesuatu yang terjadi. Saat  ia memasak atapun merajut, bukan bayangan Hyun Ki yang tersirat dipikirannya, melainkan laki-laki itu…

***

 

             Sampai kau berfikir apa gunanya hidup dengan perasaan seperti itu. Kalimat Yoshie terus bergaung di telinga Sehun. Aku merasakannya, Yoshie. Aku sudah mati. Batin Sehun. Mungkin kakinya dapat berpijak di atas tanah, dapat menghirup udara, dan jantungnya masih berdetak. Namun bukan seperti itu definisi hidup menurutnya. Sehun mengedarkan pandangannya ke sekitar sungai Han, lalu merunduk. Tempat ini menjadi pengganti penjara baginya. Dimana ia mengakui dan menyesali dosanya. Entah sampai kapan.

“Kau tampak lebih kurus.”

Sehun mendongak. “Yoshie…” gumamnya. Kelopak mata Sehun melebar. Ini bukan fatarmogana kan? Pikirnya. Sehun terlampau merindukan perempuan itu. Ralat.  Apakah masih pantas ia merindukannya?

“Benar, dari awal aku sudah merencanakannya. Aku pindah ke condo yang sama dengan mu, aku memasak setiap hari untukmu, aku sengaja merajut syal untukmu, dan aku juga melakukan hal-hal yang menurutku baik dimatamu. Semua itu bertujuan untuk mendapatkan hatimu dan hanya pura-pura.” Kata Yoshie yang kini duduk di samping Sehun.

Kau berhasil mendapatkannya, lalu membawanya pergi dan hanya menyisakan kehampaan dalam hidupku. Batin Sehun.

“Tapi, saat jantungku berdebar lebih cepat dari yang biasanya, saat aku salah tingkah seperti orang bodoh, dan saat aku merasa aman. Saat-saat itu kurasakan ketika bersamamu dan itu diluar rencanaku.” Yoshie menatap lekat ke dalam mata Sehun yang sendu.

“Aku merindukanmu…” Ucap Sehun hampir berbisik.

“Aku juga, karena itu pula aku sadar bahwa aku juga menyayangimu.”

Aku bahkan menangis setiap hari karena sangat merindukanmu. Lanjut Yoshie dalam hatinya.

Sehun tersenyum walaupun sedikit kaku. Sudah lama sekali ia tidak menunjukkan ekspresi bahagia itu. Ia terlalu banyak dihujam penderitaan sampai hari-harinya ia lewati dengan penuh penyesalan.

“Bisakah kau berpura-pura menyayangiku selamanya?” Sehun menangkup wajah Yoshie.

Yoshie menggeleng. “Mulai sekarang aku akan menyayangimu dengan tulus.” Balasnya, lalu membawa tubuhnya masuk ke dalam pelukan Sehun.

 

-THE END-

Satu komentar pada “[EXOFFI 5th Brithday] The Hardest Word – by Shin Tama”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s