[EXOFFI 5th Birthday] SHADOW OF THE DEVIL story by IRISH

—  SHADOW OF THE DEVIL —

Starring by:

Mirin x Tao — Allesa x Kyungsoo — Taemi x Yifan

— Dark x Mystery x Suspense — PG-17 (suitable for 15+ readers) — Ficlet Mix —

“The monsters were never under my bed. Because the monsters were inside my head.” — Nikita Gill, Monsters

Disclaimer:

Storyline and art created by IRISH. OC(s) included on these stories belongs to: Keyonim; Truwita; ARRYLEA. Do not copy paste my story without my permission, if you do then you comitted a crime. This story dedicated for EXO Fanfiction Indonesia’s 5th Anniversary.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

[1] Mirin x Tao [1]

“Segeralah pergi, Tao. Kau tahu ruang di sini tak cukup untuk kita berdua.”

Mirin berkata cukup tegas pada pria jangkung yang sekarang berhadapan dengannya. Pikir Mirin, ketegasan akan berhasil membuat si pria mengalah, tapi sebenarnya Mirin tahu juga kalau pria ini tidak akan menyerah.

“Aku bisa mengumpat di tempat lain yang tidak bisa kau lihat, jangan khawatir.” tolak si pria lantas membuat Mirin mendengus kesal.

“Bukannya khawatir, aku justru takut. Bagaimana kalau orang-orang tahu tentangmu? Kehidupanku bisa jadi kacau.” kata Mirin menahan kekesalannya.

“Jalani saja hidupmu. Mengapa memedulikanku? Toh, kehidupanmu dan kehidupanku adalah dua hal yang berbeda.” kata si pria menjelaskan.

Ah, biar Mirin perkenalkan dulu pria itu. Namanya adalah Tao, dan dia adalah penghuni ruang sempit dalam kehidupan Mirin. Sudah delapan bulan berlalu sejak pertama kali Mirin bertemu dengan pria itu, dan tampaknya si pria begitu enggan untuk meninggalkan Mirin.

Padahal mereka juga tidak sedang hubungan saling cinta atau sejenisnya.

“Kita tidak bisa hidup berdua, Tao. Harus ada yang pergi.” kata Mirin menegaskan, sekaligus dia usir Tao karena bagi Mirin, dia lah prioritas yang harus tetap ada.

“Jangan bercanda. Kau lah yang lebih baik pergi.” sahut Tao ringan. Dipandanginya cermin yang sekarang menampakkan bayangnya dan Mirin.

Memang, keduanya bukanlah perpaduan yang pas untuk bisa hidup bersama. Tapi keduanya juga tampak sama-sama enggan untuk pergi.

“Kau tahu kan kalau semakin sering kau muncul, itu artinya aku akan semakin menghilang?” tanya Mirin dijawab Tao dengan sebuah senyum meledek.

“Bukan masalahku. Lagipula, siapa suruh kau terus-terusan memintaku untuk pergi? Bukankah kau yang lebih baik pergi? Atau… perlukah salah satu dari kita mengumpat di kolong tempat tidur saja?

“Lalu muncul sewaktu-waktu, seperti dalam film horor itu. Bagaimana?” Tao menawarkan pilihan, tentu saja, Mirin tidak akan setuju.

Karena pilihan itu tidak menguntungkannya dan tidak juga bisa dilakukan.

“Daripada bersembunyi di kolong tempat tidur, tindakanmu yang sekarang bersembunyi dalam benakku justru lebih mengerikan, tahu. Seperti monster yang siap menyerang sewaktu-waktu saat kau tidak stabil saja.” gerutu Mirin membuat Tao terdiam.

Keduanya memang sudah berbagi benak sejak beberapa bulan ini. Membuat keduanya mendapat klaim ‘gila’ dari orang-orang di sekitarnya, padahal mereka sama sekali tidak gila. Mereka hanyalah dua orang yang bisa berbagi benak dengan baik, begitu saja.

Sampai akhirnya mereka sadar kalau ruang yang tersedia dalam benak mereka itu tidak cukup untuk dibagi dua. Jadilah, keduanya saling mengusir seperti saat ini.

“Baiklah, sekarang sebutkan alasan yang bisa membuatmu merasa pantas untuk tetap tinggal. Dan aku akan mempertimbangkannya kalau memang alasanmu masuk akal.” kata Mirin memutuskan.

Mau berdebat sampai kapanpun, kalau tidak ada yang mengambil jalan tengah, mereka pasti akan terus terjebak dalam situasi yang sama. Dan Mirin tidak suka itu.

“Kau duluan,” kata Tao, “Aku akan mengikutimu kemudian.” sambungnya.

Mirin, akhirnya menghela nafas panjang.

“Ya, karena aku ingin hidup, alasannya. Karena aku tidak mau berpisah dengan keluargaku, dan teman-temanku. Aku tidak mau berpisah dari hobi yang sudah kujalani, dan aku juga tidak mau berpisah dengan pria yang aku cintai.

“Intinya, aku tak mau berpisah dari semua hal yang kucintai.” Mirin menegaskan, bisa Tao lihat bagaimana sekarang garis tegas dalam ekspresi si gadis tampak seolah meledeknya, mengira bahwa Tao tidak akan punya alasan juga untuk melawan si gadis.

“Sekarang giliranmu.” kata Mirin.

Tao menatap dengan mata menyipit. “Kalau alasanku masuk akal, kamu pasti akan pertimbangkan untuk mengalah dan membiarkanku sendirian, kan?” tanya Tao memastikan.

“Iya, tapi kalau alasanmu tidak masuk akal. Bersiap-siaplah kau untuk pergi dari dalam benakku.” kata Mirin mengancam.

“Baiklah, kalau begitu aku akan beritahukan alasanku.” ucap Tao.

“Apa alasanmu?” tanya Mijin.

“Kau yang harus pergi, Jang Mijin. Karena tubuh yang kau tempati, benak yang kau inginkan, semuanya adalah milikku. Kau lah identitas yang tiba-tiba saja menjelma ke dalam benakku sebagai aku yang lain. Karena aku sekarang tidak lagi membutuhkanmu, kau lah yang harus pergi. Karena tubuh ini tubuhku, dan terserah padaku mau melakukan apa terhadap tubuh ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

[2] Alessa x Kyungsoo [2]

Alessa diajarkan untuk jadi seorang yang tidak kenal takut. Dan ya, bisa dibilang dia memang tumbuh sebagai seorang yang tidak kenal takut. Alessa tidak takut pada teman-teman sekelasnya, guru-guru, pun tidak takut dia pada hewan-hewan buas.

Duh, jangan sebut serangga-serangga untuk menakuti Alessa, baginya semua serangga itu mainan yang sangat menggemaskan.

Tapi, kalau sudah bicara soal hantu, tolong pastikan kalau Alessa punya ruang untuk berlari. Sebab, bagi gadis satu ini, ketakutanya pada roh tak bernyawa itu adalah hal yang paling tidak bisa dia lawan.

Teori Alessa, sih. Hantu itu tidak bisa disentuh, dan tidak bisa diusir begitu saja. Mereka bisanya mengganggu, dan mereka seringkali terlihat mengerikan. Kalau sudah begini, mana berani Alessa menghadapi hantu meskipun hantu itu tidak mengganggu?

“Kamu itu yang suka mengganggu, dasar tidak tahu diri.”

Well, Alessa baru saja menjadikan seorang pemuda sebagai teman curhat ketika pemuda itu tiba-tiba saja mengatakan kalau Alessa adalah sosok pengganggu yang sebenarnya.

Nama pemuda itu adalah Do Kyungsoo, teman sekelas Alessa yang katanya bisa melihat hantu. Dulu, Kyungsoo dihindari oleh semua orang—termasuk Alessa, tentu saja. Tapi sudah selama beberapa bulan ini, Alessa jadi mendadak dekat dengan pemuda itu.

Alasannya simpel, karena Alessa merasa bahwa dia diganggu oleh hantu.

“Tapi aku mengganggumu supaya kamu mau membantuku, Kyung. Coba bayangkan, aku yang takut hantu ini tiba-tiba saja bisa melihat begitu banyak hantu dengan tampang mengerikan. Kalau kamu sih, sudah terbiasa. Tapi aku tidak!” Alessa mencicit, sengaja dia duduk di sebelah Kyungsoo, tujuannya supaya pemuda itu tidak lagi berkonsentrasi pada apa yang dikerjakannya sekarang.

“Memangnya tampangmu secantik apa?” dengan nada sarkatis Kyungsoo berkata. Heran juga dia kenapa tiba-tiba saja Alessa ini sok kenal sok dekat padanya. Dulu saja, Alessa jadi orang yang ikut membully Kyungsoo karena kemampuan pemuda itu.

Sekarang, Alessa rasanya seperti menjilat ludah sendiri.

“Aku tidak mau membantumu. Kamu juga selalu jahat padaku, tidak ingat?” ucap Kyungsoo kemudian, memberikan penolakan dengan begitu tegas.

Salah sendiri, Alessa terlalu sering bersikap semena-mena pada temannya. Sekarang, temannya itu—bisa tidak sih disebut sebagai teman meski mereka hanya sekelas?—bahkan enggan untuk membantunya.

“Ayolah, Kyung. Kamu tahu aku tidak akan ingat apa saja yang sudah aku lakukan padamu karena aku sudah begitu sering melakukannya. Tapi apa kamu tega melihat aku seperti ini?” tanya Alessa dijawab dengan sebuah kedikan bahu tak peduli oleh Kyungsoo.

“Masa bodoh. Aku juga tidak mau repot-repot memaafkanmu—kalau kamu pikir meminta maaf padaku bisa memperbaiki semuanya—dan aku sama sekali tidak ada keinginan untuk membantumu juga.” sahutan Kyungsoo sekarang berhasil membuat Alessa mengembuskan nafas pasrah.

“Ya sudahlah, memang ini takdirku, mungkin ya.” kata Alessa akhirnya disahuti Kyungsoo dengan sebuah helaan nafas panjang.

“Apa kamu tidak pernah takut akan apapun, Kyung?” tanya Alessa kemudian.

“Tentu saja aku pernah merasa takut.” sahut Kyungsoo.

“Apa? Apa yang membuatmu takut?” tanya Alessa lagi.

Sejenak, Kyungsoo terdiam. Pemuda itu sekarang larut dalam pemikirannya sendiri, mengabaikan Alessa yang menunggunya dengan raut penasaran.

“Diriku sendiri.” akhirnya vokal Kyungsoo terdengar.

“Apa? Apa maksudnya?” tanya Alessa tidak mengerti.

Lagi-lagi, Kyungsoo terdiam. Sejenak sebelum dia kembali buka mulut dan bicara.

“Aku, hampir sepertimu, Al. Aku tidak takut pada anak-anak dan cemoohannya terhadapku. Aku juga tidak takut pada guru atau orang-orang lainnya, karena mereka sama-sama manusia sepertiku dan suatu hari akan mati juga.

“Aku juga tidak takut pada monster yang katanya ada di bawah kolong tempat tidur kita. Tidak juga aku takut pada hantu seperti ketakutanmu sekarang. Aku justru merasa lebih takut pada diriku sendiri.

“Sebab, monster yang sesungguhnya ada di dalam benakku, Al, benak kita semua. Monster itu lah yang mengatur apapun yang harus kita lakukan. Monster itu juga yang membentuk kepribadian kita.

“Daripada merasa takut pada semua hal di luar diri kita itu, bukankah apa yang ada dalam diri kita jauh lebih mengerikan?” penuturan Kyungsoo sekarang berhasil membuat Alessa terdiam.

Kalau mau dilogika, ucapan Kyungsoo tidak ada salahnya. Tapi mengapa Alessa sekarang merasa konyol?

“Kamu benar juga, ya… Kalau dipikir-pikir, kenapa aku takut pada mereka yang sekarang kodratnya sama denganku?” ucap Alessa membuat Kyungsoo sekarang mengalihkan pandangan.

Ditatapnya Alessa yang sekarang tengah memandang dengan raut begitu muram.

“Iya, benar Al. Kamu seharusnya lebih takut pada dirimu sendiri. Apa kamu tidak tahu bagaimana mengerikannya keadaanmu sekarang?” pertanyaan Kyungsoo mengudara.

Alessa sendiri bergerak tak nyaman di tempat duduknya. Tentu gadis itu tidak lupa kalau dia sekarang adalah seorang hantu. Sebab, alasan yang membuatnya tiba-tiba bisa melihat hantu juga karena dia adalah makhluk yang sama dengan hal yang dia takuti itu.

“Kamu terlihat begitu mengerikan, Al. Seluruh tubuhmu penuh luka berdarah. Wajahmu bahkan hancur separuhnya. Setiap tempat yang kau singgahi akan penuh dengan darah yang berbau busuk.

“Daripada berusaha memintaku untuk mengusir hantu-hantu yang sudah jelas tidak akan bisa aku usir, mengapa kamu tidak minta bantuanku untuk menemukan alasan di balik kematianmu saja?

“Lagipula, dibandingkan dengan ketakutanmu pada hantu-hantu itu, kamu lebih mengerikan daripada mereka. Bahkan, bisa kubilang kalau kamu itu hantu yang paling mengerikan yang pernah aku lihat.

“Untung saja kamu teman sekelasku, kalau tidak aku mungkin sudah mempertimbangkan cara-cara untuk mengusirmu dari dunia ini. Sebab kamu sangat mengerikan, sama sekali tidak seperti Alessa Cho yang selama ini aku kenal.”

Alessa membeku di tempat. Ucapan Kyungsoo sekarang jelas menggambarkan bagaimana mengerikannya keadaan Alessa. Dan kalau Alessa mau mengingat lagi, hantu-hantu yang selama ini bertemu dengannya sudah pasti berusaha menghindar dari gadis itu.

Karena dibandingkan dengan keadaan mereka, keadaan Alessa jauh lebih mengerikan. Bagaimana bisa Alessa mengabaikan hal itu sampai sekarang? Dia bahkan tidak merasa penasaran pada hal yang membunuhnya beberapa bulan silam. Malah sibuk berusaha meminta Kyungsoo untuk mengusir hantu-hantu yang dulu tidak bisa dilihatnya.

“Apa aku terlihat sebegitu mengerikannya?” tanya Alessa akhirnya.

“Iya, sangat mengerikan sampai aku tak pernah tahan untuk melihatmu.” kata Kyungsoo menyahuti.

Pemuda itu tidak sedang berusaha mengusir Alessa, tapi dia mengingatkan Alessa tentang keadaannya sekarang. Alessa tentu tak akan bisa pergi dengan tenang sebelum misteri kematiannya diungkap. Dan keadaannya pun akan terus terlihat mengerikan.

“Kalau begitu… Kyung, apa kamu mau membantuku?”

“Untuk apa?” tanya Kyungsoo.

“Membantuku supaya aku bisa pergi dengan tenang dari dunia ini.” tutur Alessa. Meskipun dia tidak ingin meninggalkan dunia yang sudah membesarkannya ini, bagaimanapun Alessa sadar dia tidak seharusnya ada di sini.

Meski dia rindu pada ibu dan keluarganya, tapi orang-orang itu tidak akan bisa melihat Alessa lagi. Terlebih, Alessa tak ingin mereka melihatnya dalam keadaan yang mengerikan seperti ini.

“Dengan senang hati, Al. Aku akan membantumu. Mengapa tidak dari dulu kau minta bantuan semacam ini dariku?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

[3] Taemi x Kris [3]

Sebenarnya, Taemi adalah seorang yang penakut. Dia selalu percaya tentang dongeng-dongeng yang ibunya ceritakan sebelum dia tidur. Belum lagi, baru dua minggu Taemi menetap di England, dia sudah dihantui oleh teror Devil’s Footprint yang membuat penduduk di Devon, salah satu desa kecil di sudut England, heboh.

Pasalnya, jika di malam hari ada badai salju, esok paginya orang-orang pasti akan menemukan ratusan—ralat, ribuan jejak kaki mengelilingi Devon. Tentu saja hal itu membuat Taemi makin mengurung diri dari semua hal berbau ‘horor’ yang mungkin bisa menghantuinya.

Sayang sekali, hari ini Taemi jadi sedikit kurang beruntung.

Mengingat bahwa dia harus menghadiri sebuah festival untuk merayakan valentine di tahun 1855 ini, Taemi jadi harus terjebak sampai jam tujuh malam di sekolahnya. Bukannya Taemi kesulitan bergaul dengan orang-orang, tapi di Devon, tidak banyak anak yang bisa beruntung untuk bersekolah, dan Taemi adalah salah satu imigran yang cukup beruntung.

“Oh, andai saja ibu dan ayah tidak pergi ke Paris…” Taemi menggerutu, baginya, sekarang dia tidak lagi beruntung karena jadi seorang yang bisa bersekolah. Sebab, sampai jam menunjukkan angka delapan, Taemi masih juga ada di sekolah, terjebak ketakutannya sendiri.

“Taemi, kau belum pulang?” Taemi terlonjak saat mendengar seseorang menyapanya.

Umm, siapa ya?” ucap Taemi bingung saat mendapati seorang pemuda tinggi menjulang dengan wajah rupawan berdiri di ujung pintu depan sekolahnya.

“Ah, kau tidak tahu aku ya? Namaku Yifan, aku juga seorang murid transferan sepertimu.” ucap pemuda itu, melangkah ke arah Taemi yang memasang ekspresi waspada.

“Kita juga ada di pentas drama yang sama, tidak ingat?” kata Yifan, mengingatkan Taemi pada pentas yang diikutinya untuk merayakan valentine tersebut.

“Ah… iya, iya, aku ingat.” pura-pura Taemi berkata, sebenarnya gadis itu bahkan tidak ingat satupun teman-teman yang berada dalam kelompok sama dengannya.

“Baguslah kalau kau ingat, ah, kenapa kau belum pulang?” tanya Yifan kemudian.

Well, aku takut.” jawab Taemi polos, jawaban yang kemudian membuat Yifan tanpa sadar terbahak.

“Takut? Takut pada apa?” tanya Yifan.

“Kau tidak dengar? Orang-orang sibuk membicarakan Devil’s Footprint itu. Dan sekarang sudah malam, aku tidak berani pulang sendirian.” kata Taemi, memang benar adanya, dia memang takut.

“Oh… Tapi bukannya Devil’s Footprint itu hanya akan muncul saat badai salju saja?” tanya Yifan kemudian.

Taemi hanya mengedikkan bahunya acuh.

“Entahlah, aku takut, Yifan, dan mau badai maupun tidak, aku rasanya tidak berani beranjak dari tempat ini.” kata Taemi.

“Kau tidak akan menemukan seseorang yang tidak ingin ditemukan, Taemi. Siapapun yang dipanggil orang-orang sebagai pemilik Devil’s Footprint itu. Mungkin saja dia hanya ingin ditemukan saat badai salju datang. Mengapa sekarang kau merasa khawatir?”

Benar juga, pikir Taemi. Sekarang tidak ada tanda-tanda akan turun badai salju, mengapa dia merasa takut?

“Bagaimana kalau aku mengantarmu sampai ke rumah? Kebetulan, rumahku tidak jauh dari rumahmu.” tawar Yifan saat menyadari tindakan Taemi yang terus berdiam diri.

Ah, tawaran yang sangat menggiurkan. Taemi sudah akan mengiyakannya dengan penuh semangat kalau saja sisi kemanusiaannya tidak tiba-tiba berteriak.

“Bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa padamu setelah mengantarku?” tanya Taemi khawatir.

Yifan justru memasang senyum kecil.

“Aku tidak takut hantu, monster, atau apapun yang mereka sebut sebagai Devil’s Footprint itu, Taemi. Justru, monster dan hantu itu bukannya muncul di tempat seperti ini, atau di bawah kolong tempat tidur kita. Monster yang paling mengerikan justru ada di dalam pikiran kita.

“Lagipula, guru-guru yang lain sudah pulang, memangnya kau mau bermalam di sekolah? Bukannya… di sekolah juga ada hantu?” ucapan Yifan kali ini berhasil membuat Taemi membulatkan mata terkejut, sadar bahwa dia baru saja menempatkan dirinya dalam situasi paling mengerikan dalam film-film yang pernah dia tonton.

Sekolah adalah tempat berhantu nomor tiga setelah rumah sakit dan rumah kosong!

“Baiklah, ayo kita pulang bersama.” kata Taemi membuat Yifan tertawa kecil.

Okay, ayo, kita harus bergegas sebelum badai salju datang.”

Keduanya kemudian berjalan menyusuri jalan setapak yang biasa Taemi lewati saat dia diantar oleh ayahnya menuju ke sekolah. Well, tidak salah lagi, usaha Taemi untuk pulang sekarang tentu saja dua kali lipat lebih melelahkan.

Biasanya, dia hanya akan menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke sekolah karena dia menaiki mobil. Tapi sekarang rasanya dia sudah berjalan lebih dari tiga puluh menit, dan Taemi masih belum juga melihat rumahnya.

“Yifan, kau yakin kita tidak salah jalan?” tanya Taemi membuka konversasi, tadinya dia memilih untuk berdiam-diaman saja dengan Yifan.

“Hmm? Iya, aku yakin benar. Kita memang tidak lewat jalan raya, Taemi. Aspal yang terkena salju pasti akan sangat licin dan berbahaya untuk dilewati, jadi kita lewat taman saja. Sedikit lebih jauh, tapi setidaknya jalannya aman.” Yifan menuturkan.

Taemi kemudian mengangguk-angguk paham. Iya, memang dia tahu dimana taman itu berada, dan ingat juga tentang keadaan jalan setapak yang selalu dilewatinya.

“Kau tidak kedinginan, Yifan? Pakaianmu sepertinya tidak cukup tebal. Mau meminjam mantelku?” tawar Taemi saat disadarinya Yifan hanya mengenakan sweater berwarna hitam di luar kemeja sekolahnya.

Sekilas, Yifan berbalik, menatap Taemi yang sekarang memandangnya dengan kekhawatiran di sepasang maniknya sebelum dia kemudian menggeleng pelan dan tersenyum.

“Terima kasih tawarannya, tapi kalau aku memakai mantelmu, aku yakin besok pagi kau akan terkena flu.” ucap Yifan menolak.

Merasa tidak enak hati, Taemi akhirnya memilih untuk mempertaruhkan kesehatannya.

“Tidak apa-apa. Daripada kau yang kena flu?” kata Taemi, dilepaskannya mantel yang dia kenakan, sebelum dia mengulurkannya pada Yifan.

“Yifan, pakai saja dulu punyaku. Kau bisa mengembalikannya besok.”

“Tapi Taemi—”

“Tidak apa-apa. Kau sudah mengantarku pulang, aku juga setidaknya harus memastikan kalau kau akan baik-baik saja.” tutur Taemi, tentu dia tidak ingin membayangkan bagaimana Yifan akan diomeli kedua orang tuanya kalau saja ketahuan pulang dalam keadaan menggigil dan esoknya terkena flu.

“Baiklah, terima kasih…” ucap Yifan, dia gunakan mantel itu menutupi tubuhnya, sebab jelas saja mantel itu tak akan muat di tubuhnya.

“Kita sudah hampir sampai, itu rumahmu, ‘kan?” Yifan kemudian menunjuk ke arah rumah bernuansa cokelat tua milik Taemi.

“Ah, benar! Kau tidak mau mampir sebentar? Aku bisa buatkan cokelat hangat untukmu.” kata Taemi menawarkan.

Tapi lagi-lagi, Yifan menggeleng.

“Tidak perlu, cukup kau ingat saja aku besok pagi, Taemi. Aku pulang dulu, ya. Mantelmu akan kukembalikan besok pagi. Sampai jumpa!” lekas Yifan mengambil langkah pergi, meninggalkan Taemi yang sekarang berdiri tidak mengerti.

Apa sebegitu sopannya Yifan sampai menolak ajakan Taemi untuk mampir ke rumahnya karena melihat bagaimana rapatnya rumah Taemi tertutup dan artinya jelas tidak ada siapapun di dalam rumah itu?

Tapi ya… sudahlah, setidaknya mereka bisa bertemu lagi besok dan bicara banyak hal. Setidaknya malam ini Taemi bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus mengurung diri di sekolah karena ketakutan lagi, bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Astaga, orang-orang kembali berisik soal Devil’s Footprint.”

Taemi terbangun ketika didengarnya konversasi kecil antara ibu dan ayahnya di luar kamar. Menyadari bahwa hari telah menginjak pagi, Taemi lantas bangkit dari tempat tidurnya, melangkah ke luar kamar karena rasa ingin tahu.

“Apa semalam badai salju lagi, Mom?” tanya Taemi, tentu dia tidak tahu badai salju atau tidak, karena sesampainya di rumah Taemi langsung menghangatkan diri dan tidur.

“Iya, semalam saat ayah dan ibu datang dari bandara, ada badai salju. Dan pagi ini orang-orang bicara tentang Devil’s Footprint itu lagi.” kata ibu Taemi.

“Memangnya ada apa?” tanya Taemi, bergerak meraih gelas kosong di pantry dan mengambil susu dari dalam kulkas.

“Itu, mereka katakan kalau jejak kaki itu muncul lagi. Kali ini sampai mengelilingi taman tempat anak-anak kecil suka bermain.” terang ibu Taemi membuat si gadis mengangguk-angguk paham.

Well, dia ingat semalam dia dan Yifan juga melewati taman. Tapi tentu dia yakin jejak kakinya dan Yifan sudah terhapus badai salju yang—tunggu dulu.

Mom, katanya jejak kaki itu sampai melewati taman? Apa jejak kakinya juga sampai di sekolahku?” tiba-tiba Taemi mengurungkan niatannya untuk meneguk susu vanila yang sudah dituangnya ke dalam gelas.

“Iya, bagaimana kau tahu, Taemi? Jejak kaki itu bahkan melewati depan rumah kita juga.”

Mendengar ucapan ibunya, Taemi lekas meletakkan susu berisi gelas yang ada di tangannya. Gadis itu langsung berlari menuju kamar, dibolak-baliknya semua pakaian yang sudah dia biarkan tergeletak di kamar, dan tatapannya sekarang terpaku pada sebuah mantel yang dengan manis bertengger di tepi tempat tidurnya.

Mantel itu adalah mantel yang semalam dia pinjamkan pada Yifan.

“Tidak mungkin…” Taemi menggumam, dia kemudian melangkah keluar kamar lagi, kali ini mengabaikan dinginnya pagi, Taemi membuka pintu depan rumahnya, melihat ke arah keramaian yang tengah sibuk memperhatikan jejak kaki yang tercetak dengan jelas di atas salju, dan bahkan melintasi rumah Taemi juga.

Diam-diam, Taemi melangkah menuruni tangga di depan rumahnya. Dia ikuti jejak langkah tersebut dalam ketidak percayaan. Alangkah terkejutnya Taemi ketika mendapati bahwa salah satu jejak kaki itu mengarah menuju jendela kamarnya.

Tidak ada jejak kaki yang tidak hilang tersapu badai salju, bahkan jejak kaki Taemi sekarang saja sudah tenggelam karena angin yang berembus. Tapi jejak kaki misterius itu masih juga ada di tempat yang sama.

“Yifan… apa dia yang—”

“Tidak perlu, cukup kau ingat saja aku besok pagi, Taemi. Aku pulang dulu, ya. Mantelmu akan kukembalikan besok pagi. Sampai jumpa!”

“—ah… jadi ini yang dimaksud oleh Yifan semalam, ya? Tentu saja aku akan mengingatnya, bagaimana aku bisa lupa?”

FIN

IRISH’s Fingernotes:

Mencoba-coba sama genre lainnya yang agak jadi astral saat dieksekusi, Shadow of The Devil ini jadi fanfiksi pertama yang aku ketik bareng sama kekasih—eh, temen deket, deng—baru.

Selain mendebutkan OC dari tiga orang author di EXOFFI dan menjadikan mereka sebagai makhluk nista dan amburadul (Cuma Taemi doang yang normal, Lord…) member EXO juga agak-agak aku buat ‘miring’ gitu di sini.

YA PLIS, SI TAO UDAH TAU DIA DID MASIH AJA SOSOAN BAIK SAMA MIRIN. TERUS SI KYUNG JUGA UDAH TAU ALESSA HANTU, BUKANNYA DIEDUKASI GITU ALESSA BIAR ENGGAK TAKUT SAMA BANGSANYA SENDIRI, MALAH SIBUK PHP DAN SOK CUEK.

Ehem, yah, emang cuma Taemi yang normal sihalhamdulillah deh dia bisa jadi normal.

Sedikit oot, ceritanya Leo pensiun setelah dia nemenin aku selama delapan bulan. Alasannya yah… bukan karena dia rusak, kok. Tapi karena adek lebih membutuhkan Leo daripada aku.

Dan berhubung emak kasian gitu sama aku yang kembali umek-umek sama Violet yang sekarat… jadi emak memberikan izin penuh buatku mengakses ATM, HAHAHA. Jadinya, sepagian ini aku sibuk berkeliling buat survei fasilitatif tentang laptop.

Dan ta-da! Aku sudah ketemu teman baru. Selama dua jam tadi aku bingung mikirin dia mau aku kasih nama apa… sebab dia sama Violet sama-sama cewek gitu. Mau aku kasih nama warna lagi kok takut Violet jealous karena ada saingan, jadi aku kasih nama yang agak-agak manis dan imut, sesuai sama warna keyboard cover yang adek beliin, warna pinkeu.

Jadi aku kasih dia nama Zinnia, karena dia imut, dan nama Zinnia itu imut… Zinnia sendiri dasarnya aku dapetin dari nama latin kembang kertas yang jadi kebun bungaku saat aku masih kecil.

Aw, aw, semoga aja Zinnia betah jadi rekanku berfangirling ria! Sejauh ini dia lancar aja sih aku ajakin ngetik ini fanfiksi, LOLOL XD mungkin karena dia sama Violet sama-sama cewek jadi sama-sama demen fangirling ya (kemudian dirujuk ke RSJ karena jadi orang yang dengan pedenya komunikasi sama laptop…)

Nah, sekian dulu dariku. Sampai ketemu nanti malam!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

12 tanggapan untuk “[EXOFFI 5th Birthday] SHADOW OF THE DEVIL story by IRISH”

  1. YAAMPUN GUE BARU BACA, GILA SUKA BANGET BANGET :”) BANGET BANGETT

    KAK! PLIS BIKIN CHAP KHUSUS YIFAN SAMA TAEMI ❤ SUKA BANGET AMA MEREKA, 😦 AKU JEJERITAN BACA ENDINGNYA!

    TAO! YAAMPUN 😦 SEMPT2AN GUE IRA LAGI DI DALAM KARDUS ATAU DIMANA GITU YAH <

  2. SYITTT INI APAH AKU BARU BACAAAAA!
    URI KIYUT AL JADI KUNTIL? YAAMPUN. PEHLIS LANJUTANNYAAAA LIS. JADIKAN INI CHAPTER KASUS PEMBUNUHAN GADIS JOMBLO MENAHUN /GAK/
    PLOT TWIST BAGIAN AL EMANG MANTEP JIWA. GAK KETEBAK :V
    BEGO BANGET DIA TAKUT SAMA JENISNYA SENDIRI 😦 KYUNG LEBIH BEGO 😦 GAMAU TAU POKOKNYA KYUNG YANG LEBIH BEGOK. /DITABOX
    KALO TAO SAMA YIPAN UDAH FEEL KESANA SIH MBEPS. MUEHEHE

    TAPI TETEUP KEREN TIGATIGANYAK. AKU GAG BISA GAG KEPSLOK.
    THANKSEU UDAH MASUKIN URI KIYUT AL :*
    TAK REBLOG EAAAAK ❤

  3. KAK RISH AKU BARU SANGGUP RUSUH SEKARANG. KEPSLOK LAGI GAK APA YA WAKAKAKAKAK

    IH YA. SI TAO-MIRIN INI BUAT ANE MUTER-MUTER. AWALNYA NGIRA SI TAO SAMA MIRIN INI LIVING TOGETHER TAPI AH MASA, MEREKA KAN BILANG SEMPIT-SEMPITAN. KUKIRA JUGA MEREKA MAKHLUK ASTRAL YANG NGENDEP DI 1 PIKIRAN MANUSIA. LALU BARU NGEH KEBAWAH-BAWAH. JANGAN-JANGAN MIRIN INI DIPNYA TAO, EH BENERAN -____- TERNYATA TAO DIP JADI CEWEK, JIWA HELLO KITTYNYA KELUAR /GA/

    TERUS ALESSA-D.O, ANE GAK NEBAK SI ALESSA INI HANTU, SERIUS. MEREKA NGOMONG MUTER-MUTER. DAN TERNYATA OH TERNYATA SI ALESSA INI HANTU GENTAYANGAN. LAGIAN SI D.O KENAPA MASIH MAU AJA DI JEBA-JEBE SAMA HANTU KALO MUKANYA SEREM BFTTT

    NAH INI TAEMI-KRIS. ANJAY MENTANG-MENTANG TAEMI-HYERIM ADEK-KAKAK MEREKA DAPET ALUR WAKTU DAN TEMPAT YG SAMA. AGAK BEDA SIH TAPI SEKITAR 1880-AN SAMA 1930-AN DAN SAMA-SAMA JADI CEWEK IMUT LONDON WKWKWKWKWK. SI TAEMI YANG KATANYA SWAG /DIGAMPAR/ MALAH JADI CEWEK IMUT LONDON WKWKWK. AKU MAH UDAH CURIGA SIH INI SI YIFAN PASTI MAKHLUK ASTRAL LOLOLOL KAN BENER DIA MAKHLUK YANG NGIKUT TERROR ITU. SI TAEMI NYATANYA GAK MAU KETEMU MALAH DIANTER PULANG SAMA SI DEVIL WKWKWK

    UDAH AH RUSUHNYA, BABAY 💕

    1. ELS MIYANE AKU ABIS INI BARU RUSUH KE FF KAMU YANG SUDHA MEMBUATKU TERJENGKANG…
      JADI AKU BALES KERUSUHANMU DI SINI DULU SAYANGKU ~~ CALON SAUDARA IPARKU ~~~ KALO BAGIAN MIRIN-TAO AGAK-AGAK KETEBAK YA XD NDAK JADI TWIST FAVORIT KAMUH XD WKWKWKWKWKWKWK
      KAN CERITANYA ITU KYUNG DIEM-DIEM ARUNG JERAM, MESKIPUN HANTU, MESKIPUN SEREM, ASAL SAMA-SAMA JOMBLO BISA DIEMBAT JUGA XD KYUNGSOO GOLDEN WAYS… WKWKWKWKWKWK
      EEEEEEEEEEEEHHHHHHHHH SENENG YA DIRIMU YHA MEREKA YANG BERSAUDARA INI SAMA-SAMA JADI CEWEK IMUT LONDON XD WKWKWKWKWKWKWKWKK

    2. WAKAKAK GAK PAPA KAK RISH XD TERJENGKANG WAKAKAKKAKA, ENTE YANG BACA TERJENGKANG, ANE YANG NULIS BERSYIT RIA APALAGI BAGIAN BEKYUN, NGAKAK ABIS PADAHAL NGEBUAT MELODRAMA YALORD

      MIRIN-TAO KETEBAK TAPI MUTER-MUTER SAMPE PUYENG WKWKWKKW. IYA TAK JADI FAVORIT ANE YANG TWIST XD
      INI SEMACEM SI KYUNG JONES BANGET MASA, ASAL SESAMA JOMBS DIEMBAT MESKI HANTU SESEREM SI ALESSA -_-

      IYA YAKKK, KIM BERSAUDARA JADI CEWEK IMUT LONDON, TERUS KRISLUNYA JADI MAKHLUK ORA NORMAL YANG SEREM. 1 JADI GRIM REAPER, 1 JADI DEVIL’S FOOTPRINT WKWKWKWK

  4. Astral bangeeeeeett
    Ya Allah ini gak fanfiksnya gak authornya sama2 astral. Tapi entah kenapa selalu nagih bacanya.
    Ada lagi yg kek gini?
    Bacanya sebel2 gimana gitu cyiiint
    Tapi entah kenapa ak suka yg Tao ama Dyo wkwkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s