[EXOFFI 5th Birthday] to Survive by ShanShoo

images

to Survive

ShanShoo’s present

Reyna . Baekhyun

creepy, mistery, family // vignette // PG-17!

***

“Kau tahu benar, bahwa saat ini sama sekali tidak ada waktu sedikit pun untuk bercanda, Byun Baekhyun.”

 

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

-o-

 

            Sunyi, gelap dan… sesak.

Omong-omong, sudah berapa lama Reyna berada di sini? Entahlah. Reyna bahkan tidak membawa apa-apa. Ponselnya pun tidak ada di genggamannya.

Reyna menyadari bahwa ruang geraknya sungguh terbatas. Kesunyian dan kegelapan yang menyerang dirinya, tak pelak membuatnya semakin membungkam bibir. Tidak ingin untuk sepatah kata saja terucap, atau sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.

Reyna tidak berani mengharapkan sedikitnya cahaya yang bisa dilihat oleh kedua matanya yang bulat. Sungguh. Meskipun kenyataan membenarkan bahwa Reyna benar-benar benci kegelapan. Ia benci ketika kegelapan ini menyelubungi pandangannya. Ia benci ketika ia berada dalam kegelapan seperti ini, otaknya secara cepat memikirkan segala macam hal menakutkan yang… demi apa pun, tak bisakah Reyna berhenti memikirkan hal menakutkan itu satu detik saja?

Tidak. Ia tidak bisa melakukannya.

Meskipun begitu, Reyna terus berusaha untuk mengenyahkan segala macam pemikiran menakutkan sialan itu sampai-sampai keringat sebesar biji jagung berlomba muncul dan mengalir di permukaan wajahnya yang tegang dan begitu cemas.

Saking fokusnya ia mengenyahkan pemikiran itu, Reyna sampai dibuat terkesiap ketika seseorang datang kepadanya, dan ketika ia akan berteriak secara refleks, seseorang itu langsung membungkam bibirnya dengan telapak tangannya dengan erat.

“Ssst…” desis seseorang itu. “Siapa ini?” tanyanya dengan nada penuh rasa penasaran.

Tadinya ia takut, sosok yang datang menghampirinya dan membuat Reyna nyaris memekik kaget itu adalah dia. Tetapi… bukan. Dan Reyna tanpa sadar mengembuskan napas lega.

Begitu seseorang di hadapannya―yang ikut duduk bersila dengannya―melepaskan tangan dari bibir Reyna, gadis itu berujar, “Ini aku, Reyna.”

Lalu, Reyna mendengar sosok itu tertawa kecil, dan berbisik, “Ya, seharusnya aku tahu ini kau,” katanya, ikut merasa lega.

Reyna lantas mendengus sebal. “Seharusnya kau tidak mengagetkanku seperti ini, Byun Baekhyun!” desisnya, menjaga nada bicaranya agar tidak terlalu keras hingga mengundang sosok itu datang dan menerkam mereka berdua.

“Kupikir, kau tidak ada di sini,” sahut Baekhyun sambil mengangkat sebelah bahunya singkat. Walau ia tahu, Reyna tidak akan bisa melihatnya dan melihat senyuman kecilnya.

Ruangan ini terlalu gelap bagi Reyna supaya ia bisa melihat wajah Baekhyun. Mengetahui hal ini membuatnya mendengus kesal.

“Kupikir, ruangan ini terlalu gelap dan… sesak,” keluh Baekhyun kemudian. Matanya mengitari kegelapan yang mengelilingi tubuhnya, lalu menatap lurus, seolah-olah ia sedang menatap wajah jengkel adik perempuannya itu.

“Kalau begitu, pergilah dari sini. Dan berharap saja semoga dia tidak menemukanmu, menerkammu dan membunuhmu secepat kilat,” kata Reyna, nyaris frustasi. Ia ingin untuk sekali saja meninju wajah Baekhyun saat ini, tetapi ia tidak berani mengambil risiko sosok itu tiba-tiba datang dan menyerang mereka berdua tanpa ampun.

“Apa kau bercanda?” tanya Baekhyun, nada bicaranya naik satu oktaf.

“Apa kau pikir aku sedang dalam keadaan ingin bercanda?” Reyna balas bertanya. “Kau tahu benar, bahwa saat ini sama sekali tidak ada waktu sedikit pun untuk bercanda, Byun Baekhyun,” tandas gadis dengan peluh yang kian mengucur deras di permukaan wajahnya.

Baekhyun sempat terhenyak selama beberapa detik. Bibirnya mengatup rapat, sementara tangannya saling mengepal di sisi tubuh.

Benar apa yang dikatakan Reyna. Tidak ada waktu bagi mereka untuk saling bercanda seperti yang sering mereka lakukan sebelumnya. Dan tidak ada waktu pula bagi mereka untuk saling melemparkan emosi hanya karena percakapan mereka yang terlampau serius untuk dilakukan.

Oh, siapa pun tidak menginginkan situasi seperti ini.

Keterdiaman kakak laki-lakinya itu, membuat Reyna kembali berujar, “Kau tidak akan pergi?”

Baekhyun menatap lurus-lurus, mengerutkan keningnya dalam-dalam lalu mengembuskan napas panjang. “Bagaimana jika aku bilang, aku ingin bertahan di sini?”

“Kenapa?”

Baekhyun menundukkan kepalanya, lalu, “Karena kurasa, tempat ini aman,” katanya, berbisik. Dan selamanya, mereka akan terus berbicara dengan bisikan penuh ketegangan dan kekhawatiran.

Selama mereka masih bersama. Tak terpisahkan, tentu.

Tahu kalau Reyna tidak akan menyahut, Baekhyun melanjutkan, “Kau tahu, Rey? Tadi, ketika aku bersembunyi di suatu tempat yang menurutku aman, aku hampir saja ketahuan olehnya. Dan kurasa, dia sudah tahu kalau aku bersembunyi di sana. Maka, sebelum ia benar-benar datang menghampiriku, aku langsung berlari secepat mungkin dan mencari tempat persembunyian baru. Sampai akhirnya… aku berhasil menemukan lemari cukup besar ini.”

Baekhyun mendengar Reyna mendengus tak acuh.

“Melihat kau sepertinya masih aman-aman saja, aku jadi memutuskan untuk diam di sini sampai… sampai akhirnya kita berdua benar-benar selamat, tentu,” katanya sungguh-sungguh, dan Reyna menanggapinya dengan mata yang disipitkan.

Percakapan tadi merupakan kalimat terakhir yang menggema di dalam tempat persembunyian mereka. Tak lama setelahnya, mereka mendengar seseorang membuka pintu, mendengar suara aneh bersumber dari luar sana, disusul dengan suara barang-barang yang berjatuhan ke atas lantai.

“Oh, Ya Tuhan,” bisik Reyna cemas. Ia lalu menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan, sementara matanya melebar sempurna.

“Ssstt…” Baekhyun berdesis. “Tenangkan dirimu, jangan sampai dia tahu kalau kita ada di sini, atau kita akan…”

“Ya, aku tahu. Aku tahu. Aku tahu.” Reyna balas berbisik. Jantungnya mulai berdetak di atas normal, dan rasanya sungguh tidak nyaman. Dadanya sakit. Ia merasa sesak karena pengapnya tempat persembunyian yang ia pilih.

Di depannya, Baekhyun mencoba untuk melirik ke sumber suara. Dari segaris tipis cahaya yang mampir ke penglihatannya, Baekhyun tidak menemukan apa pun.

Suasana di luar sana kembali sepi. Tidak ada lagi suara-suara aneh yang mampu meningkatkan ketakutan mereka dengan cepat.

“Dia sudah pergi?” tanya Reyna, gusar. Keringat hampir membasahi sekujur tubuh mungilnya.

Baekhyun diam bergeming, lantas menyahut, “Mm, kurasa begitu.”

Tanpa disengaja, Reyna menyentuh tangan Baekhyun yang bergemetar. Reyna membelalakkan matanya dan berujar, “Baekhyun, kau baik-baik saja?”

Baekhyun mendesah berat. “Aku tidak mungkin berkata “ya” di saat menegangkan seperti ini,” katanya jujur.

“Tanganmu gemetaran…”

“Ini hasil dari ketakutanku yang sangat besar, Reyna,” bisik Baekhyun. “Kalau kau mau tahu, aku sudah merasa mati rasa karena kakiku terus menekuk seperti ini, apalagi bersinggungan dengan kedua kakimu.” Tiba-tiba, Baekhyun teringat sesuatu. “Oh, ya, Reyna, bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?”

“Kondisiku tidak jauh berbeda darimu,” jawab Reyna. “Kakiku sudah kesemutan, dan sepertinya akan sulit bagiku untuk berlari jika dia datang lagi dan menemukanku. Itu pun… kalau aku memang berhasil kabur darinya,” tuturnya, semakin cemas.

Baekhyun mengusap peluh yang membanjiri wajahnya. Matanya yang sipit menatap ke bawah, seakan menatap sepasang kaki Reyna yang menekuk tak nyaman karena kehadirannya. “Kurasa, kau memang membutuhkan ruang yang besar. Tak seharusnya aku ada di sini dan semakin mempersempit ruang gerakmu.”

“Apa?” Reyna mulai diserang kepanikan yang luar biasa. Tidak. Baekhyun tidak boleh berkata begitu. Reyna sudah bisa membiasakan dirinya dengan kehadiran Baekhyun. Ia akui, kakinya memang sudah mengalami mati rasa. Tetapi, ia tak mau Baekhyun meninggalkannya. Tidak. sungguh. “Jangan tinggalkan aku, Byun Baekhyun. Kau tahu kan, kalau tadi aku mengusirmu hanyalah sebuah candaan? Kau tidak akan menganggapnya serius, kan?” Reyna memohon di tengah rasa paniknya yang melanda.

Sementara itu, Baekhyun malah menanggapinya dengan kekeh kecil. “Mau kau bercanda atau tidak, aku memang berencana untuk pindah tempat persembunyian. Tapi kau tenang saja. Aku tidak akan bersembunyi jauh darimu. Aku masih tetap berada di sekitar sini, di dekatmu,” katanya, menenangkan Reyna yang ia tahu, hasilnya sama sekali tidak kelihatan. Reyna masih di bawah pengaruh kecemasan, dan kadar kepanikannya semakin meningkat.

“Baek, please…” Reyna merengek, layaknya seorang bocah kecil yang tak ingin ibunya pergi meninggalkannya.

Reyna merasa dirinya benar-benar bodoh sekarang. Seharusnya ia tidak mengatakan sesuatu yang membuat Baekhyun berpikir untuk membiarkannya sendirian lagi di sini, di dalam suasana gelap yang menyesakkan. Ia sudah kehilangan kata-katanya untuk membuat Baekhyun tetap berada di sini, bersamanya.

Tetapi, pada akhirnya… “Kau janji akan tetap bertahan, Baek?” tanya Reyna pasrah. Ia menyerah pada keinginannya untuk tetap mempertahankan Baekhyun di sisinya.

Baekhyun membungkam bibirnya sejenak. “Ya, tentu. Aku tetap akan bertahan untukmu. Untuk menjagamu.”

Reyna tidak mengerti. Tetapi sesuatu yang melegakan merambat menjalari dadanya, dan dalam sekejap, Reyna merasa seolah napasnya kembali seperti sedia kala setelah mendengar janji Baekhyun.

“Baiklah…” Reyna mengembuskan napas panjang. Kemudian ia beranjak dengan sangat hati-hati hanya untuk memeluk Baekhyun erat-erat, seraya berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Baekhyun akan baik-baik saja. Bahwa Reyna pun akan baik-baik saja.

Mereka saling melepaskan pelukan. Reyna pun tampak mulai tenang. Dan itu semua karena Byun Baekhyun berhasil meyakinkan dirinya.

“Sampai bertemu nanti, Reyna,” bisik Baekhyun, terdengar tak yakin, namun anehnya, Reyna sama sekali tidak menyadari kejanggalan dalam suara Baekhyun.

“Hati-hati,” bisik Reyna, lirih.

Baekhyun mulai membuka lemarinya dengan sangat perlahan. Ia berhasil meredam keriut engsel lemari tua itu dalam sekali gerakan. Dan ketika pintu lemari terbuka, mereka berdua seakan menemukan sebuah keajaiban yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Terang benderangnya lampu gudang, suara jangkrik di luar sana yang terdengar jelas, serta udara dingin malam hari yang menusuk pun seolah menjadi hal yang luar biasa bagi mereka.

Baekhyun dan Reyna sungguh mendambakan untuk bisa segera keluar dari sini tanpa ada satu pun yang tertinggal.

Dan satu hal lagi yang membuat kelegaan merambat menjalari sekujur tubuh mereka adalah… mereka tidak menemukan sosok itu seperti yang mereka takutkan selama ini.

Tidak ada kata-kata yang terucap. Baekhyun lekas kembali menutup pintu lemari dengan gerakan yang sama sehingga tidak terdengar suara keriut engsel yang memuakkan itu, dan kembali menyembunyikan presensi adiknya ke dalam kegelapan dan menjauhi dunia yang terang ini.

Namun sialnya, sosok yang selama ini mereka takutkan akan menemukan mereka di sini akhirnya… kembali. Sosok menyeramkan itu kembali kemari setelah Baekhyun merapatkan pintu lemari.

Sial. Sial. Sial. jerit Baekhyun dalam hatinya. Matanya yang kecil dipaksakan untuk melebar. Baekhyun merasa jantungnya berdetak berkali-kali lipat lebih cepat hingga membuat dadanya nyeri bukan main.

“Halo!” sapa sosok bertopeng Scream yang berdiri menjulang di hadapannya. Baekhyun tentu tidak bisa melihat seperti apa wajah sosok itu karena topengnya. Tetapi, bukan itu yang Baekhyun pikirkan. Yang ia pikirkan adalah, ia bisa keluar dari sini bersama dengan adiknya dalam keadaan selamat.

“Akhirnya kita bertemu lagi!” sapaan hangat yang terkesan dibuat-buat itu sungguh tak ingin Baekhyun dengar. Kedua kakinya bergetar dan kian melemah sekadar untuk melangkah, dan ia sendiri tidak menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghantam kepala sosok Scream di depannya ini.

“APA YANG KAU INGINKAN?!” Baekhyun berteriak panik. Dan tentunya, teriakannya serta sapaan dari sosok ini dapat tertangkap dengan jelas di indra pendengaran Reyna. “KAU SUDAH MEMBUNUH AYAH DAN IBU KAMI! APA MAKSUD DARI SEMUA INI?!”

Ya, tentu saja. Saat ini, Reyna bahkan tidak mampu berkata apa-apa dan semakin merapatkan punggungnya pada sudut lemari yang gelap.

Tidak… Baekhyun… Baekhyun… jerit Reyna di dalam hatinya. Tangisannya sudah pecah, namun Reyna tidak ingin siapa pun mengetahui bahwa dirinya sedang menangis.

Sosok misterius itu tidak menyahuti ucapan Baekhyun. Ia malah mengeluarkan sepucuk senjata api dari saku kostum scream yang ia gunakan. Lalu, ia mengarahkan moncong pistol itu ke kepala Baekhyun. Dia memiringkan sedikit kepalanya, menggumam panjang, lalu…

DOR!

Sebutir peluru berhasil melesak ke kepala Baekhyun dan bersarang di otaknya.

Satu hal yang Baekhyun ketahui sebelum pandangannya berubah gelap untuk selama-lamanya.

Ia mendengar tangisan seseorang di belakangnya.

“Ah, benar. Tersisa satu lagi,” kata sosok itu santai. Seakan tidak peduli pada kenyataan dirinya sudah membunuh Baekhyun dan kedua orang tuanya.

Tubuh Reyna terasa menegang di tempat. Jantungnya seperti sudah lepas dari tempatnya, dan ia tidak berani mengharapkan apa pun sekarang. Tidak ada satu harapan yang bersemayam dalam benaknya. Tubuh dan pikirannya sudah dikuasai ketakutan.

Air mata semakin deras mengalir menyusuri lekuk pipinya, sehingga bercampur satu bersama dengan keringat yang tak henti bercucuran di wajah.

Tidak… tidak… tidak… kumohon….

Reyna terus merapatkan punggungnya ke belakang lemari, seakan dengan cara ini, wujudnya tidak akan ditemukan oleh sosok menyeramkan itu.

Dalam ketakutan yang kian mengungkung, Reyna terperanjat di saat pintu lemari dibuka secara paksa hingga menimbulkan suara derit engsel tuanya yang memilukan, disusul dengan moncong pistol yang terarah dengan tepat ke keningnya mengerut panik.

“Halo!” sapa sosok yang tengah mengarahkan moncong pistol itu kepadanya.

Reyna seperti membeku di tempat. Matanya yang diselubungi ketakutan tidak dapat melihat seperti apa wajah sosok itu yang tersembunyi di balik topengnya. Tetapi… ia melihat sedikit, sedikit saja, hanya sedikit… ada sebuah seringaian menyeramkan terbentuk di celah bibir topeng itu.

Fin.

Nah loh, fanfiksinya unfaedah sekali kan, Kawan-kawan?

Mianhae

Karena untuk yang kesekian kalinya, aku buat ff ini secara mendadak x(

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI 5th Birthday] to Survive by ShanShoo

  1. Anjay, ngeriii. Itu siapa sih? Kok jahat sama keluarga byun? Atau itu kakak sendiri yang bunuh? Ngaku! Ayo ngaku/hehehehe :-D/gak deng/ good, aty kebawa suasana 😀 ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s