[EXOFFI 5th Birthday] Erase – Story By Christy Wu

lay-exo-lose-control-02

Erase

Cast : Lay Zhang/ Zhang Yixing (Lay EXO) & Seira Song (OC)

Aditional Cast: Kenzi Park (OC) & Romeo Oh (Taeyong NCT)

Genre : Romance, Sad | Rating : G | Leght : Oneshoot

[ Original Story By Christy Wu]

Disclaimer :

FF ini murni karya yang tercipta dari otak Christy yang setengah konslet. Jika ada kesamaan latar tempat atau alur bukanlah kesengajaan. Cast dipinjam dari orang tua dan agensi masing – masing.

o0o

Seira mempercepat langkahnya tak memperdulikan panggilan nyaring pemuda yang tengah mengejarnya. Ia sudah terlanjur kesal dan merasa cukup, tak mau lagi membuang waktu hanya untuk berbicara sepatah kata. Langkahnya terhenti saat pemuda itu berhasil menggapai tangannya dengan nafas terengah, mata mereka bertatapan hingga Seira dapat melihat ada memar disudut bibir kekasihnya.

“Apa yang kau mau? Apakah tidak cukup membuatku malu di depan semua orang?” Sarkas Seira dengan mata yang buram oleh air mata. Menepis tangan kekasihnya kasar yang membuat si pemuda berlesung pipi merasakan kegetiran di hatinya.

“Aku hanya tidak mau kau dibilang perempuan murahan.” Jelas Lay menyuarakan pembelaan atas apa yang terjadi beberapa saat lalu.

“Dengan memukul Woyoung apakah itu sudah tindakan yang benar, Lay?” bentak Seira. “Aku kira kau sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap.”

“Jangan membawa usia Seira kita hanya berselisih 5 tahun. Seharusnya kau tahu apa yang aku lakukan saat ini demi kebaikanmu. Mana ada seorang gadis yang sudah mempunyai kekasih, bermesraan dengan pria lain dimuka umum seperti yang kau lakukan. Jika kau tidak memikirkan reputasiku setidaknya fikirkan pandangan orang mengenai keluargamu.” Masih dengan nada lembut Lay memberikan penjelasan pada Seira, berharap dapat membuat kekasihnya mengerti. Awalnya Lay hanya ingin memberikan kejutan pada kekasihnya dengan menjemputnya dikampus, mengingat mereka jarang bertemu karena Lay sudah bekerja dan Seira masih kuliah. Namun, hanya perkelahian yang terjadi saat Lay melihat Seira bermesraan dengan pemuda lain.

“Jangan kolot Lay, kita tidak hidup di masa kerajaan yang menjunjung adat kuno. Woyoung adalah temanku saat di Paris, kami baru bertemu setelah 3 tahun berpisah, jadi apa salahnya jika kami berpelukan dan ia mencium pipiku. Itu sudah sangat umum dilakukan!” debatnya masih tak mau kalah, amarah sudah terlanjur menguasainya hingga apapun yang Lay katakan semakin membuat Seira jengkel.

“Seira kau itu perempuan, walaupun kau sudah lama tinggal di Luar negeri aku harap kau tidak melupakan tempat asalmu yang masih memegang adat ketimuran ini.” Lay memegang kedua bahu mungil Seira, masih dengan sabar ia memberikan pengertian.

“Sudahlah! Aku lelah dengan semua aturan konyol yang kau berikan.” Seira menghempaskan tangan Lay yang masih di bahunya lalu kembali menjauh dengan air mata yang tak henti mengalir.

“Baiklah kalau begitu aku minta maaf.” Namun Lay tak membiarkannya pergi dengan mudah, ia kembali menarik tangan Seira dengan bibir yang tak hentinya mengucapkan kata maaf. Sorot matanya yang tulus dan teduh nyatanya tak dapat meluluhkan Seira yang keras kepala hingga kata maafnya hanyalah sebuah angin lalu.

o0o

1 minggu telah berlalu semenjak kejadian itu, Seira masih saja marah pada kekasihnya. Bahkan ia tidak menjawab semua panggilan Lay. Beberapa kali pemuda berlesung pipi itu mampir ke apartemennya namun, ia harus berpuas dengan pintu yang tertutup rapat. Seira tahu kalau kekasihnya selalu datang, bahkan ia memang sengaja membiarkan kekasihnya menunggu di luar pintu dengan semua permintaan maafnya. Dia bukan anak kecil, Seira tidak suka diatur, ia merasa sudah bisa memutuskan mana yang baik dan buruk untuk dirinya. Termasuk kegiatannya yang suka keluar masuk club malam, Seira merasa kalau itu bukanlah hal yang tabu, tetapi bagi Lay tidak seharusnya perempuan baik – baik masuk ketempat berbahaya seperti itu.

Seperti malam ini Seira sudah bersiap pergi ke club malam dengan minidres hitam dan rambutnya yang sengaja ia gerai. Lay baru saja datang dengan Lamborgini saat ia akan masuk ke mobil temannya yang sejak tadi menunggu.

“Ra kita butuh bicara.” Panggil Lay dengan sayang. Seira masih kesal, ia hanya memutar kedua bola matanya. Lay menarik Seira ke sisi mobilnya, sedikit memberikan jarak untuk permbicaraan sensitif mereka supaya teman – teman Seira tak mendengar. Melihat pakaian kekasihnya Lay hanya menghela nafas dan melepas jas biru dongker yang ia pakai dan menyampirkannya pada bahu Seira yang terbuka.

“Cepat! Kau mau bicara apa? Aku sedang ada urusan.” Ketus Seira tak ambil pusing dengan perlakuan manis kekasihnya.

“Aku minta maaf untuk yang tempo hari. Ku mohon maafkan aku.” Lay mengusap pipi Seira lembut dengan tatapan teduh yang dibaikan sekali lagi oleh Seira.

“Apakah hanya itu?” tanya Seira sambil mengerutkan keningnya seakan berfikir.ia kembali menghela nafas seakan sudah bosan dengan situasi saat ini yang sering terjadi.

“Lay aku sudah lelah, aku merasa kita tidak mempunyai kecocokan.” Ujar Seira.

“Apa maksudmu?” tanya Lay.

“Apa kau mencintaiku?” tanya Seira balik tanpa memperdulikan kebingan Lay.

“Tentu.” Sahut Lay cepat.

“Kalau kau mencintaiku seharunya kau bisa menerima semua kelebihan, kekurangan dan mau mengerti tentang aku yang seperti ini, aku tidak suka diatur seperti yang sudah – sudah Lay.” – Seira.

“Jika itu karena masalah minggu lalu, aku minta maaf Ra.” Lay menggenggam tangan mungil kekasihnya dengan erat berharap kesungguhannya dapat dirasakan oleh Seira.

“Aku sudah lelah dengan semua permintaan maafmu Lay, lebih baik kita tidak usah bertemu untuk beberapa saat. Jika kau sudah bisa menerimaku yang seperti ini, kau pasti tahu dimana tempatmu harus kembali.” Dalam pembicaraan panjang mereka, baru kali ini Seira mau menatap kedua netra Lay, kemudian ia mengembalikan jas yang Lay sampirkan ke bahunya sebelum pergi bersama teman – temannya. Meninggalakan Lay yang terpaku di tepat. Bagi Seira ini adalah hal yang biasa karena esok hari dapat dipastikan Lay akan setia menemuinya dengan sejuta untaian kata maaf yang kembali tak ia anggap.

Seira merasa kalau mereka perlu waktu untuk sekedar berfikir, jalan fikiran Lay sangat dewasa, sedangkan ia hanyalah anak 22 tahun yang masih butuh kebebasan bukan kekangan dalam hubungan. Mereka sering bertengkar dengan Seira yang meninggalkan Lay untuk menciptakan jarak beberapa saat. Karena bagi Seira waktu dapat menyelesaikan dan menghapuskan semua masalah yang terjadi dalam setiap hubungan.

Namun keputusannya memberikan waktu untuk Lay menjauh darinya ternyata salah kali ini. Jika biasanya dalam waktu 2 minggu Lay sudah kembali kepelukannya dengan sebuah karangan bunga mawar merah, makan malam romantis dan sekotak cokelat. Maka kali ini ia sudah bersabar selama 3 bulan, Lay tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Bahkan tak ada lagi panggilan telfon atau pesan singkat yang ia terima dari kekasihnya. Ia kembali merindu, pada sosok pengertian yang selalu menanyakan kabar, mengingatkannya untuk sarapan tiap pagi dan menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya.

Memasuki bulan ke – 5 ia sudah mulai bosan untuk menunggu, karena perasaan kehilangan dan rindunya sudah sampai ke ubun – ubun. Ia mencoba menghubungi ponsel Lay namun hanya panggilan yang dialihkan ke kotak suara yang ia terima. Ia terlalu malu pergi kekantor Lay untuk menanyakan keadaannya. Akhirnya ia memilih mendatangi saudara jauh Lay yang masih menjadi teman satu Universitas dengannya.

“Romeo.” Panggil Seira saat pemuda kedokteran itu baru saja keluar dari kelas sambil membuaka buku anatomi ditangan. Ia memandang Seira dengan satu alis yang terangkat.

“Ada apa?” tanyanya dengan ekspresi datar saat Seira berdiri dihadapannya.

“Itu…hhmmm sebenarnya aku ingin menanyakan Lay.” Ujar Seira sambil menggigit bibir bagian dalamnya. Tak enak hati, sejujurnya mereka tak terlalu dekat. Ia hanya sekedar tahu kalau calon dokter dihadapannya adalah sepupu jauh Lay.

“Sebaiknya kau tidak usah mencari kakak sepupuku lagi. Dia sudah hidup lebih baik tanpamu.” Ketus Romeo lalu melangkah pergi meninggalkan Seira yang masih tak mengerti dengan apa yang ia bicarakan.

“Apa maksudmu?” bingung Seira, ia masih tak mau memikirkan hal terburuk kalau Lay menyerah untuk bersamanya.

“Maksudku sesuai dengan apapun yang ada dikepalamu. Jangan ganggu kak Yixing lagi dan hiduplah bahagia dengan jalan yang kau yakini kebenarannya. Bukankah itu yang kau mau?” ucapan Romeo benar – benar menohoknya. Tubuhnya mendadak lemas, merasa selama ini ia terlalu egois dan keras kepala. apakah ia benar – benar sudah kehilangan Lay kekasihnya? Tapi hal seperti ini sudah sering terjadi dan Lay pasti akan kembali lagi padanya apapun yang terjadi. Karena Lay pernah berjanji untuk tidak akan melepaskannya, karena Lay mencintainya, karena Seira tahu Lay adalah lelaki yang menepati janji.

Tak mau menyerah keesokan harinya ia berniat menemui Romeo lagi, namun anak kedokteran sedang tidak ada kelas. Sehingga sepulang kuliah ia mendatangi rumah Romeo setelah mencari alamatnya di bagian tata usaha kampus. Saat ia sampai hari sudah mulai sore, cahaya jingga memenuhi tiap penjuru menyamarkan bayangnya yang letih. Dengan gugup ia mengetuk pintu bercat putih dihadapannya. Benar saja beberapa saat kemudian Romeo membuakakan pintu dengan kaget mengetahui Seira ada didepan pintu rumahnya. Ia tampak menengok kekanan dan kekiri sebelum atensinya kembali pada Seira yang menatapnya bingung.

“Apa yang sedang kau lakukan, Pergilah!” Usir Romeo sambil berusaha menutup pintu rumahnya.

“Kumohon Romeo, aku hanya ingin bertemu dengan Lay.” – Seira.

“Sudahlah Seira pulanglah dan lupakan kak Yixing, hiduplah bahagia seperti sebelum kau mengenalnya.” Usir Romeo untuk kesekian kalinya sambil berusaha menutup pintu rumahnya yang Seira halangin.

“Hei Romeo apa yang sedang kau lakukan?” suara yang Seira rindukan berseru dibelakangnya, memaksa air matanya tumpah hingga memburamkan pengelihatannya. Mereka semua terdiam dengan pemikiran masing – masing.

“Lay.” Panggil Seira sarat akan kerinduan.

“Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?” tanya Lay dengan ekspresi wajah bingung yang sudah Seira hafal. Menghentikan langkahnya untuk berhambur kepelukan lelaki berlesung pipi yang lama tak ia temui. “Semua orang memanggilku Mr. Zhang karena aku CEO, sebagian memanggilku Lay karena teman dekat dan keluargaku biasa memanggil Yixing. Jika kau memanggilku Lay berarti kita adalah teman dekat sebelumnya? Apakah benar kita pernah saling kenal?” tanya Lay lagi dengan sorot mata serius penuh kelembutan khas miliknya namun ada yang hilang dari tatapan yang ia diberikan untuknya. Walaupun sama teduhnya. Ia kehilangan cinta dalam tatapan Lay.

“Jangan bercanda Lay, aku…”

“Kak Yi, ini temanku Seira. Dulu kalian memang pernah kenal sebelum kecelakaan kakak.” Potong Romeo yang membuat Lay hanya menganggukkan kepala maklum.

“Benarkah? Kalau begitu aku minta maaf karena melupakanmu. Aku kecelakaan beberapa bulan yang lalu dan sebagian memoriku hilang permanen. Aku hanya mengingat hal – hal tertentu saja dan itu bersifat acak jadi aku minta maaf kalau melupakanmu.” Ujar Lay penuh rasa bersalah. Tangannya bergerak menghapus air mata di pipi Seira tak lupa dengan ucapan maafnya yang terdengar asing.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu menangis tapi tersenyumlah dan jalani hidupmu dengan baik.” Ujar Lay.

“Yi buku sketsaku sudah ketemu.” seseorang menggandeng lengan Lay dengan mesra. Tuturnya sangat halus, kulit pucatnya begitu serasi saat bertautan dengan Lay yang punya warna serupa. Matanya lebar dengan bulu mata lentik, bibirnya tipis dan penuh mirip seperti boneka barbie jika ia hanya duduk diam tanpa bergerak.

“Ketemu dimana?” tanya Lay dengan nada suara lembut seperti yang sering digunakan saat bersama Seira dahulu sambil membenahi rambut gadis disebelahnya. Hati Seira teriris melihatnya.

“Ditaman belakang, sepertinya aku tadi lupa memasukkannya kedalam tas saat kita makan siang disana.” Paparnya, kemudian ia beralih pada Seira yang masih memandang Lay.

Mengetahui hal itu Lay berinisiatif untuk memperkenalkan gadis berambut sebahu yang menggandengnya kepada Seira, “Kenalkan namanya Kenzi.”

“Seira.”

Kenzi mengulurkan tangannya dan Seira meraih uluran tangannya dengan ragu. “Dia tunanganku. Sambung Lay yang membuat Seira makin terpaku. Mendadak udara disekitarnya menipis dan membuatnya sesak. Ia melepaskan jabatan tangannya dengan lemas.

“Kalau begitu kami pulang dulu, Seira aku minta maaf karena sudah melupakanmu. Sekali lagi maaf.” Pamit Lay sebelum berlalu dari hadapannya bersama Kenzi. Kata maaf itu meluncur dari bibir yang sama, orang yang sama namun dalam arti yang berbeda.

Seira menatap dua sejoli yang makin menjauh dari pandangannya dengan nanar. Menatap dengan penuh rasa penyesalan saat tangan Lay menggenggam lembut tangan Kenzi dan mengecup jemari lentik sang gadis menimbulkan rona merah merekah. Sesuatu dalam dirinya seperti ditikam mengingat ia menyinyiakan pemuda seperti Lay.

“Kak Yixing kecelakaan setelah pulang dari apatemenmu, aku ada disana saat kalian bertengkar bahkan saat kejadian kak Yixing memukul Woyoung aku mengetahuinya. Kakak koma selama 1 minggu dan sadar dengan ingatan yang sudah hilang. Kata dokter beberapa ingatan sudah hilang secara permanen jika kita memaksanya mengingat itu hanya akan membuatnya menjadi gila. Jadi kumohon lupakanlah kak Yixing bukankah saat itu kau sendiri yang menginginkan sebuah jarak untuk hubungan kalian.” – Romeo.

“Tapi bukan ini yang ku inginkan.” Isak Seira sudah tak bisa ditahan lagi, tangisnya pecah bersamaan dengan malam yang mulai meyelimuti. Jika awalnya bagi Seira waktu dapat menyelesaikan dan menghapuskan semua masalah yang terjadi dalam setiap hubungan. Kini ia juga kembali berfikir kalau jarak dan waktu bisa membuatmu kehilangan. Karena itu hanyalah kedok dari sebuah pelarian.

FIN

Cast:

jgf
Zhang Yixing
16464101_717884808384777_7718608185749143552_n
Seira Song
523.png
Kenzi Park
ydgchj
Romeo Oh

Salam Sayang Christy Wu

XOXO

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s