[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür (Chapter 13)

die geheime tur- cover

Tittle : Die geheime Tür

Author : devrizt

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Campus Life, Friendship, Night life

Rating : PG-17

Cast :  Jonathan Virgio S (OSH) (main cast)

Additional Cast

Guntur Putra Mandala (KAI)

Keynal Mahesa (PCY)

Antares Praditya (BBH)

Alandio Fazzikri Mulhaq (DO)

Akan ada pemeran wanita pastinya yang nantinya akan muncul seiring berjalannya cerita~

 

Summary :Aku tidak pernah memikirkan jika aku mulai membuka pintu itu akan ada ledakan dahsyat yang terjadi di kehidupan ku.

Disclaimer : Cerita ini merupakan murni hasil pemikiran dari author mulai dari yang bener sampai yang agak rusak sedikit(?) tapi masih batas wajar, jika ada kesamaan tokoh atapun latar, itu semua terjadi atas ketidak sengajaan.

Warning : author hanya manusia biasa yang kadang salah so, im so sorry if theres (many) typos.

See more chapter or story at https://www.wattpad.com/user/devrizt

A/N   :  Untuk yang punya wp dan berminat melihat lihat silahkan check watpadnya ya hehe thankyou soo much ~~

Tigabelas – Tetang Perasaan

Nathan menghentikan mobilnya persis di depan pagar rumah Kirana. Sesampainya disana dia tidak mengetuk ataupun memanggil nama Kirana. Saat itu sudah cukup malam, tidak sopan kalau melakukan itu di depan rumah orang. Terlebih lagi rumah perempuan.

Nathan mengeluarkan ponselnya dan terus menghubungi Kirana. Tetap tidak ada jawaban, Line pun tidak dibalas. Pikiran Nathan semakin kalut. Nathan hanya mengetahui sampai saatdia meninggalkan Kirana bersama teman-temannya.

Nathan tidak tahu kalau begini akhirnya. Dia hanya berpikir mungkin Kirana kecewa karena sikap Nathan yang seperti itu. Padahal bukan itu, Kirana melihat dengan mata kepalanya sendiri dengan jelas apa yang terjadi di Mall tadi.

Sampai saat ini Nathan hanya merasa bersalah karena tiidak bertanggung jawab. Jika dia mengetahui penyebab sebenarnya mungkin dia akan semakin merasa bersalah. Ada secercah perhatian dan perasaan yang mendalam di diri Nathan yang semakin bertumbuh layaknya bunga yang perlahan bermekaran.

Seperti itulah yang dirasakan Nathan saat ini. Perasaan itu bertumbuh tanpa Nathan harus mengakuinya. Bagaimanapun ceritanya, memang benar Kinan adalah satu-satunya yang berada di sisi Nathan menemani hari-harinya saat itu. Tapi itu dulu. Keadaan kemudian berubah, Kirana datang dan memberikan kenyamanan yang sama seperti Kinan berikan di waktu itu.

Setelah dua puluh menit menunggu tidak ada jawaban Nathan memutuskan untuk pergi. Tidak mungkin dia terus menunggu disana. Baru sebentar saja sudah banyak orang-orang yang melihat ke arahnya saat melintas rumah Kirana.

Baru saja Nathan akan membuka pintu mobilnya, terdengar suara pintu yang baru saja dibuka kuncinya dan seseorang keluar dari rumah itu. Orang itu tersenyum ramah menyambut kedatangan Nathan,

“Nak Nathan? Masuk nak.” Bunda keluar dari pintu rumah dan segera membuka pagarnya.

“Nggak usah tante, nggak apa-apa kok. Nathan Cuma sebentar aja.” Nathan tersenyum dan menanggukan kepala sopan.

“Sudah, masuk saja, tante baru bikin cake coba dulu ya?” Bunda menarik tangan Nathan untuk masuk kerumah, membuat Nathan tidak bisa menolak dan hanya menuruti Bunda.

Sesampainya di dalam rumah Nathan ikut masuk kedapur untuk membantu Bunda yang sedang sibuk menyiapkan suguhan untuk Nathan.

“Nggak usah repot-repot tante. Nathan jadi nggak enak.” Nathan masuk ke dapur dan berdiri disebelah Bunda mencoba membantu.

“Nggak apa-apa, kamu sudah tante anggap anak sendiri jadinya. Habisnya kakaknya Kirana itu jarang kerumah setelah menikah, tante jadi kangen punya anak laki-laki.” Bunda terkikik dan Nathan hanya tersenyum mendengarnya.

Sungguh, betapa baiknya Bunda, sampai Nathan benar-benar merasa seperti pulang, bahkan dia sudah lupa rumah sebenarnya seperti apa. Mendengar nama Kirana disebut Bunda, membuat Nathan tersadar dari lamunannya dan ingat tujuan sebenarnya ke rumah Kirana.

“Ng, tante, Kirana udah pulang?” Nathan bertanya dengan hati-hati.

“Udah kok, ada di atas. Mau tante panggilin?” Bunda baru saja ingin pergi ke atas namun Nathan menahannya.

“Nggak, nggak usah tante, Nathan mau nanya aja kok.” Nathan tersenyum.

“Eh, nggak enak ah masa kamu datang nggak ketemu Kirana. Tante naik ya sebentar.” Bunda mengabaikan Nathan kali ini dan meninggalkan Nathan sendirian di meja makan dengan sepotong kue buatan Bunda.

Nathan hanya bisa mendengar suara sayup Bunda dari bawah, dia tidak tahu apa Kirana akan turun atau tidak. Bunda kembali turun menemui Nathan tidak lama kemudian, sayangnya tidak dengan Kirana.

“Kirananya tidur, Nak ternyata. Aduh jadinya malah ngobrol sama tante kan.”

“Nggak usah dibangunin tante kasihan kalau dibangunin.” Nathan lega Kirana ada dirumah, tapi masih ada perasaan yang mengganjal karena belum bertemu. “Kirana udah lama sampainya tante?”

“Ya, lumayan lah tiga puluh menit lalu. Tante kira dia sama kamu.”

“Enggak tante, Nathan tadi ada urusan sebentar jadi Kirananya oulang duluan. Maaf tante, Kirananya jadi pulang sendirian.” Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Nathan kesini soalnya Kirana nggak bisa dihubungin, takutnya dia belum sampai.”

“Aduh, Kirana itu. Maaf ya Nak, kamu jadi sampai ke rumah.” Bunda menepuk pelan pundah Nathan. “Tadi kirana mukanya lesu banget pas masuk rumah, mungkin dia capek jadinya nggak melihat hpnya.”

Nathan menangguk memahami. “Tante, Nathan pulang dulu ya kalau gitu. Makasih banyak tante.” Nathan mencium tangan Bunda dan tersenyum berpamitan.

“Mau titip salam buat Kirana? Nanti tante sampaikan kalau dia sudah bangun.” Bunda berdiri didepan pagar rumah mengantar Nathan kembali ke mobilnya.

“Bilang aja, tadi Nathan kerumah, Nathan minta maaf sampai ketemu hari Sabtu.” Nathan tersenyum, saat ingin masuk kedalam mobilnya Nathan teringat sesuatu, “Oh iya tante, satu lagi.” Nathan berputar ke bangku penumpang dan membuka dashboard mobilnya mengambil gelang merah muda dan memberikan ke Bunda, “Ini punya Kirana, waktu itu lepas ketinggalan di mobil. Nathan pamit ya tante.” Nathan tersenyum dan masuk kedalam mobilnya membuka kaca memberikan salam pada Bunda.

“Kapan-kapan main lagi ya, Nak.”

“Pasti tante. Assalamualaikum.” Nathan tersenyum sebelum menginjakkan pedal gasnya dan melaju pergi meninggalkan rumah Kirana.

oOo

Kirana menatap dengan pandangan kosong ke arah mobil Nathan yang melaju meninggalkan rumahnya. Terasa bercampur aduk perasaannya di saat itu. Tidak bisa dijelaskan, dia pun tidak bisa menceritakan kepada Hanna, dia sendiri belum yakin tentang perasannya ini.

Bunda mengetuk pintu kamar Kirana sebelum akhirnya masuk ke dalamnya, pintunya sengaja tidak dikunci. Saat Bunda masuk, kirana masih menatap ke arah luar seolah bayangan Nathan masih berdiri disana meninggalkan bekas.

“Ana, Nathan sudah pulang.” Bunda menatap punggung anak gadisnya yang dulunya kecil itu sekarang sudah tubuh menjadi perempuan yang dewasa. Tidak ada jawaban dari Kirana, dia masih melamun menatap keluar seolah alam mendengarkan keluh kesahnya tanpa ia harus berbicara.

Tidak mendapat jawaban apapun Bunda semakin bingung apa yang terjadi diantara mereka. Berawal dari Kirana yang meminta bundanya mengatakan bahwa Kirana sedang tidur tadi, Bunda tidak menanyakan apapun. Kirana sangat dekat dengan bundanya. Jika memang Kirana harus menceritakan, akan ada waktunya nanti, oleh karena itu Bunda tidak menanyakannya.

“Nathan minta maaf katanya, dia juga bilang sampai ketemu hari Sabtu nanti.” Bunda melanjutkan tanpa Kirana menjawabnya.

Kirana tidak berani menoleh, semakin Bunda menyebut nama Nathan, seperti ada goresan luka  yang terkena air garam, walaupun hanya goresan kecil, akan terasa perih.  Kirana tetap tidak mau menoleh. Dirinya sedang berjuang menahan genangan air di matanya yang mendesak keluar dari bagian bawah matanya.

Bunda mendekati Kirana dan memasangkan gelang dipergelangan tangannya,

“Sama ini pesan terakhir sebelum dia berangkat tadi, gelang kamu ketinggalan disana.”

Gelang itu membuat Kirana mengingat semua kenangan selama beberapa bulan belakangan ini. Kini gelang itu memiliki aroma khas Nathan, membuat pertahanan yang Kirana buat sejak tadi berhasil hancur. Kirana melihat pergelangan tangannya yang sudah menggelangi gelang merah muda bertuliskan “Future Architecht” dan langsung berbalik badan memeluk bundanya.

Bunda membalas pelukan Kirana, dia menangis di pelukan ibunya tanpa mengeluarkan kata-kata apapun. Ini adalah tangisan kedua Kirana di pelukan ibunya setelah tangisnya karena kakaknya yang menikah. Bunda mengelus pelan puncak kepala Kirana dan mencoba meyakinkan Kirana,

“Nathan baik kok. Kalau kamu ada maslah dengan dia, Bunda percaya kalau itu karena salah paham.”

“Nathan bilang tadi susah menghubungi kamu, makanya dia datang. Bunda bilang kamu capek, dia  merasa bersalah nggak mengantar kamu pulang, terus minta maaf juga. Tadi bunda ngobrol sedikit sama dia.”

“Bunda percaya, Nathan itu baik. Jadi kamu nggak usah khawatir lagi ya? Coba kamu lihat pesan dari Nathan, mungkin dia bilang sesuatu.”

“Sekarang kamu mandi, sebentar lagi makan malam, Bunda turun dulu.” Bunda melepas peluknya dan menegakkan tubuh Kirana lalu meninggalkannya.

Mendengar kata-kata Bunda, Kirana terasa lebih tenang. Begitu yakin Bunda kepada Nathan. Seorang ibu sangat bisa melihat sifat seorang anak dengan hanya sekali lihat. Mungkin Bunda benar, semua ini hanya salah paham.

Saat itu adalah pertama kalinya Kirana menangisi orang lain selain keluarganya. Tetes-tetes air mata itu adalah suara hati Kirana yang tidak dia sadari. Kirana melihat ke arah meja belajarnya lebih tepatnya ke benda yang tergeletak di meja Kirana berbulan-bulan lamanya.

Kirana menghela napas sejenak, pikirannya sedikit berantakan sebelumnya. Dia mulai menata pikirannya kembali dan meyakinkan perasaannya. Dari tangisannya tadi, semakin jelas sudah. Kirana terjerat dalam perasaanya yang mulai bertumbuh. Kirana jatuh cinta dengan Nathan.

oOo

Nathan mengambil ponselnya yang bergetar sejak tadi di bangku penumpang yang tergeletak begitu saja. Sepulang dari rumah Kirana, Nathan memang pergi dengan tanpa tujuan. Otaknya tidak mampu untuk memikirkan hal lain, masih ada perasaan bersalah di dalam dirinya. Yang dia yakini saat ini adalah Kirana marah kepadanya, tapi dia tidak tau penyebabnya, itu adalah asumsinya semata.

Ponsel Nathan terus bergetar pertanda telepon masuk, Nathan mengira Kirana yang meneleponnya tetapi ternyata layar ponselnya menampilkan nama Uta bukan Kirana. Nathan mengusap layar ponselnya dengan sebelah tangannya sedangkan tangan lainnnya masih memegang kemudi.

“Jo, dimane?”

“Jalan. Kenapa?”

Forum. Apartemen Ares buru yak.” Terdengar suara lain yang berteriak dibalik telepon.“ NitipDomino dua pan, Jo. Bayarnya ntar kalau si jamet lulus.” Suara siapa lagi kalau bukan Ares.

“Iye, nyet.” Nathan menjawab dan kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.

Nathan tau persis tentang forum yang geng mereka lakukan. Forum itu tidak lebih dari membahas masalah bersama kalau memang tingkatannya sudah urgent dan syarat forum didalam geng mereka adalah full team. Berbeda dengan syarat musyawarah sebenarnya adalah jumlah yang hadir setengah n ditambah satu. Dan itu artinya Dio juga hadir disana.

oOo

Nathan tiba di apartemen milik Ares, benar seperti dugaan anggota geng mereka lengkap berkumpul menatap Nathan dengan pandangan mengintimidasi. Dibandingkan forum ini lebih cocok dikatakan sebagai introgasi.

Belum kaki Nathan menginjakkan kaki di karpet apartemen Ares, Uta tiba-tiba angkat bicara.

“Kirana tadi gimana?”

“Nggak ketemu, tidur dia, gue ketemu nyokapnya doang.” Nathan menjawab sekenanya.

To the point aja lah ya. Gue minta maaf nih Jo, kita disana ngikutin lo tadi. Gue tau lo sedeket itu sama Kinan, tapi gue cuma mau minta ke lo, pilih. Lo nggak mungkin seserakah itu kan dua-duanya lo mbat juga? Lo udah dewasa, coba pikirin, Jo.” Keynal angkat bicara setelah memakan satu potong pizza yang dibawa Nathan.

“Gini Jo, kita tau banget lo kaya apa, kita juga nggak bisa dibilang nggak ikut campur, tapi yang dibilang Keynal benar. Memang diantara kita juga nggak ada yang bener- bener amat malah bobrok semua kecuali gue mungkin. Tapi Key bener, lo nggak bisa ambil keduanya.” Dio pun yang dari tadi diam tidak  berminat akhirnya ikut berbicara. Nathan hanya diam mendengarkan perkataan teman-temannya, dia tidak mengelak tidak juga mengiyakan.

“Gue nggak tau guys. Gue belum bisa memutuskan apapun tapi Kinan ya tetap Kinan. Perasaan gue ke dia ya akan selalu begitu.”

“Kirana?” Uta menanyakan segera setelah Nathan berhenti berbicara. Nathan bungkam.

“Gue tau,Jo. Mau lo menolak se-kaya apapun gue ngerti. Gue bilang kan sama lo, lo suka tapi lo nggak sadar. Liat aja nanti, jangan lupa hutang lo sama gue. Hahaha” Keynal merangkul Nathan yang sedang duduk termenung mencoba mencairkan suasanya yang agak sedikit tegang tadi.

Ares tidak terlihat dari tadi. Dia dikamarnya sedang menerima telepon. Sebenarnya tujuan mereka mala mini selain forum adalah bermain berjadwal mereka setiap satu bulan tiga kali dan kali ini adalah giliran Ares.

Ares yang tadi tidak terlihat tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya dengan muka yang pucat seperti tak bernyawa.

“Kancut, lo abis ngeliat tuyul apa gimana dah?” Keynal meledek Ares.

Bad news, nyokap gue nelepon tadi.”

“Kenapa? Duit lo mau ditarik? Apa lo mau dipindahin ke kontrakan?” Uta menukas.

“Lebih parah dari itu.” Ares berdiam sejenak. “Brenda.”

Keynal diam mencoba mengingat. “Brenda yang ngintilin lo sampe kita SMP itu?”

“Menurut ngana?” Ares memutar bola matanya dan mendudukkan dirinya dengan serampangan.

“Wah anjir, mampus nikah muda lo Res. Hahaha.” Uta tertawa terbahak dan Dio pun ikut tertawa membayangkan Ares nikah muda.

“Bangsat lo pada!” Ares melempar sandal yang dia pakai ke Dio dan Uta, sedangkan mereka semakin tertawa.

Nathan yang tadinya terdiam pun ikut tertawa sejenak, di sela-sela percakapan mereka, Nathan melihat ponselnya dan membuka aplikasi Linenya dan mencari nama Kirana. Pesan darinya belum kunjung dibalas, tapi di layarnya tertulis bahwa pesannya sudah dibaca.

oOo

#TBC#

A/N

Terimakasihh yang sudah membacaa jangan lupa yaa feedbacknya aku terimaa dan kritik dan sarannya ofcourse.

Btw, utk next update enaknya update apa ya? dan untuk story linenya adakah yang penasaran sama kisah utazee millikey diorasya atau kepo tentang Brenda atau mau stay sama Nathan kirana aja? Ku bingung sebenarnya tapi kita liat aja next week hehe. Please enjoy and hope you like it!! Terimakasi banyak!!

Seeya next chap!

 

 

 

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Die geheime Tür (Chapter 13)”

  1. Cepet nih update nya kak…
    All about them dah aku maunya…
    Benih2 cinta timbul.
    Ares,kau mau nikah muda..???selamat res.
    Ngerasa paling baik aja loh Dio,oh gue inget waktu si Jo bilang kalo Dio udah tobat.
    Pasangannya Key sama Uta nih belum terlalu kentara..
    Next agak dipanjangin kak…
    Fighting nulisnya…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s