[EXOFFI FREELANCE] TELL ME WHAT IS LOVE (Chapter 6)

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter /  PG 15

School life, comedy, romance, drama.

Kim Joon Myeon /  Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok /  Xiumin , Zhang Yixing / Lay , Park Chanyeol  (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red velvet)

Chapter 6

Bel  tanda usainya pelajaran selalu terdengar paling nyaring bagi para siswa, tak terkecuali bagi para siswa di kelas Chorong.

“Baiklah, sampai sini saja pelajaran kita hari ini, jangan lupa kerjakan tugas kalian” Guru Choi masih membereskan buku-buku bawaannya.

“Nde~ terima kasih pak” koor anak-anak sekelas.

Guru Choi mengangguk sebagai jawaban dan menuju pintu, lalu meninggalkan kelas. Sebagian anak menghela nafas lega, sebagian membaringkan kepalanya pada meja. Disisi lain ujung kelas, Chorong sudah merapikan buku dan alat tulisnya. Selesai memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal ia mensleting ranselnya

Ia menepuk bahu Irene yang duduk dihadapannya. “Bae, aku duluan” ujarnya dengan menyelempangkan sebelah tali ranselnya pada bahu.

“Kau sungguh-sungguh akan les private dengan tuan Kim itu?” Irene kali ini sudah berbalik penuh pada Chorong.

Chorong mengedikan kedua bahunya “Entahlah, aku pun tak yakin, tapi jika guru Nam yang memberi saran, itu bisa aku pertimbangkan. Lagi pula tak ada salahnya mencoba, apalagi ini geratis” senyuman lima jari tercipta di wajahnya. Jika sudah senyum seperti ini ia benar-benar mirip dengan Chanyeol.

Irene hanya mengangguk-anggukkan kepalanya “Semoga kau berhasil”.

“Baiklah aku pergi dulu, bye” Chorong berlari menuju pintu kelas, oh bahkan tadi ia hampir terpeleset.

“Jangan membuat ulah macam-macam” teriak Irene dari dalam kelas. Samar-samar ia mendengar gerutuan Chorong. Irene terkikik akan kelakuan sahabatnya satu ini, ‘kasihan sekali Suho harus mengajari Chorong ‘ pikirnya.

“Semoga kau mendapat kesabaran yang ekstra Kim Joon Myeon” doa Irene, setelah selesai membereskan barangnya Irene segera beranjak pulang.

***

“Suho-sii, pacarmu sudah menunggu diluar” ujar slah satu teman sekelas Suho yang duduk dekat pintu keluar.

“Pacar?”

“Iya, Park Chorong. Itu dia” tunjuk temannya keluar kelas dari jendela. Suho melihat arah yang di tunjuk oleh temannya. “Astaga, dia sungguh-sungguh akan permintaannya!” gumam Suho.

“Baiklah aku duluan” pamit temannya. Suho hanya melambaikan salah satu tangannya sebagai jawaban. Otaknya berpikir keras. Bagaimana cara dia menghindar.

“Uh, sial. Harusnya pelajaran tadi aku bolos saja” sesalnya.

Suho melihat keadaan sekita, jika diperhatikan tingkahnya seperti maling yang akan mencuri sesuatu. Berjalan dengan mengendap-endap.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya seseorang, ia berbalik dan menemukan Chorong disana dengan raut kebingungan.

‘Sial’ umpatnya dalam hati.

“Oh, hai Chorong. Aku duluan ya!” pamitnya dan berbalik.

“YAK!” belum melangkah, kerah belakang seragamnya sudah ditarik oleh Chorong. “Jangan mencoba untuk kabur, kau sudah berjanji, jadi tepatilah janjimu. Kau ini kan laki-laki” Chorong membawa Suho dengan menarik kerah belakang seragamnya.

“Uhuk lepaskan YAK!, UHUK. Kau ingin membunuhku ya?! Lagi pula kapan aku menyetujuinya! YAK LEPAS!” Suho berusaha melonggarkan bagian atas seragamnya, lehernya serasa tercekik.

“Kau bilang akan mengabulkan permintaanku, dan permintaanku adalah ajari aku. Kau sudah berjanji jadi kabulkan!” protes Chorong yang masih menarik seragam Suho. Jika ini dalam film pembunuhan, Chorong terlihat seperti seorang pembunuh yang sedang menyeret paksa korbannya. Bahkan hal ini menjadi tontonan menarik bagi para siswa yang melihatnya.

“Baiklah-baiklah, akan ku turuti. Jadi lepaskan ini ok?” Suho berusaha bernegosiasi.

“Tak akan, aku tau akal busukmu. Nanti kau malah kabur!” Chorong semakin gencar menyeret Suho.

“YAK!”

Xiumin yang baru saja keluar dari kelas dibuat melongo akan pemandangan menakjubkan pada penglihatannya.

“Daebak, akhirnya kau mempunyai lawan yang sepadan Myeonnie” gumam Xiumin.

“Bukankah itu adikmu?” tanya salah satu teman Xiumin.

“Iya” jawabnya santai.

“Apa tak apa ia seperti itu?”

“Tak apa, sekali-kali ia harus terkena akibatnya, ayo” Xiumin tertawa senang, temannya hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti.

***

Chorong dan Suho sedang berada di perpustakaan. Buku pelajaran menumpuk di sebelah kiri Chorong. Melihat wajahnya, sepertinya ia sangat frustasi. Apalagi Suho selalu mengejeknya bodoh.

“Ah, aku tak mengeri” ia mengacak rambutnya.

“Astaga Park Chorong, harus aku jelaskan berpa kali lagi agar kau mengerti!” geram Suho. “Bahkan anak tingkat awal pun tau mengerjakan ini”.

“Jelaskanlah secara ringkas agar aku paham” Chorong memainkan pensil di tangannya dengan cemberut.

“Aku bahkan sudah menjelaskannya dengan teramat sangat ringkas!” Suho menghela nafasnya. Tak ia sangka mengajari Chorong akan membuatnya sefrustasi ini.

“Pssst, jangan terlalu ribut” ujar penjaga perpustakaan.

Mereka menggangguk “Maafkan kami” ujar keduanya.

Suho mengatur emosinya dengan menghela nafas “Baiklah, kita mulai lagi. Jadi bagian mana yang kau tidak mengerti dari penjelasanku?” tanya Suho.

“Semuanya” jawab Chorong polos.

“YAK! PARK!”

“KELUAR KALIAN SEKARANG JUGA!” usir sang penjaga.

***

“Ah jadi begitu, aku paham. Ternyata mudah” Chorong mencatat pada bukunya, ia tersenyum senang.

“Ini memang mudah, kau saja yang bodoh” Suho meminum jusnya.

Mereka sedang berada di salah satu café, lagi pula Chorong mengeluh ia lapar.

“Berhentilah mengataiku bodoh, aku tak bodoh. Aku ini special, jadi kau harus bersabar” Chorong menepuk-nepuk bahu Suho.

“Spesial apanya, bodoh tetaplah bodoh” ejek Suho.

“YAK!”

“Besok datang ke rumahku, kita belajar disana. Akan ku rangkum secara lebih rinci lagi” ujar Suho.

“Kenapa di rumahmu?” Chorong mengerenyit.

“Tidak mau, ya suadah”

“Baiklah-baiklah, ngomong-ngomong makanan disini enak, apa boleh aku tambah lagi?” Chorong memberikan puppy eyesnya.

“Silahkan saja”

“Asa” Chorong memakan sandwichya.

“Lagi pula kau yang traktir” lanjut Suho.

“Uhuk” Chorong tersedak makannya, Suho tertawa melihatnya. Ia segera menyerahkan minuman pada Chorong.

“Uangku tak cukup” melasanya.

“Hahaha aku hanya bercanda, makanlah yang banyak” Suho menepuk kepala Chorong. Chorong tersenyum senang dan kembali memakan sandwichnya. “Anak babi” lanjut Suho.

“Habislah kau Kim!” Chorong sudah dengan tatapan tajamnya.

***

Lay berjalan dengan riang menuju kelasnya. Sepertinya suasana hatinya sangat gembira hari ini.

Brak

Ia mebuka pintu kelasnya “Myeonnie, kawan-kawan apa kalian merindukanku???” teriaknya.

Wush

Hanya terdengar bunyi angin yang menggoyangkan ranting pohon di luar jendela.

Matanya mencari keberadaan teman-temannya “Kemana semua orang? Apa mereka sedang bermain petak umpet? Curang sekali tidak mengajakku” .

“Loh, nak. Ada perlu apa datang ke sekolah?” tanya penjaga yang sedang berkeliling.

“Tentu saja untuk sekolah, oh, apa bapak tau dimana yang lain? kenapa aku tidak melihat seorang pun” tanyanya melihat sekeliling.

“Mereka di rumah masing-masing” balas sang penjaga.

“Astaga malas sekali mereka, bukannya sekolah ckck” omel Lay.

“Mereka bukan malas, ini kan hari minggu, kegiatan belajar mengajar tentu saja diliburkan. Malah bapak yang heran kenapa kau berada disini. Apa kau ada kegiatan lain?” tanya penjaga.

“Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika hari minggu itu libur!” Lay segera merogoh handphonenya dan menekan kontak seseorang.

Sang penjaga hanya dibuat geleng-geleng kepala akan tingkahnya. Ia kembali berkeliling.

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya sambungan terhubung.

“Hallo” terdengar suara khas seseorang baru bangun tidur.

“Myeon, kenapa tak beri tahu aku jika minggu itu libur!” bentak Lay.

“Memang dari dulu juga seperti itu!”

“Benarkah?”

“Yak! Kau membangunkanku hanya untuk menanyakan kenapa minggu libur? Terkutuklah kau Zhang Yixing dengan sikap pikunmu itu!” sumpah serapah Suho terdengar dari sebrang sana. Bahkan Lay sedikit menjauhkan telinganya.

***

Pukul 10 pagi Chorong sudah berdiri di depan pagar megah rumah seseorang. Mulutnya masih menggumamkan kata-kata takjub.

“Dia benar-benar kaya ck” Chorong menghampiri Intercome dekat gerbang dan menekannya. Selang beberapa detik terdengar suara seorang bibi. Mungkin itu salah satu pegawainya.

“Apa Suho ada? Ah maksud saya Kim Joon Myeon” ujar Chorong melalui intercome.

“Mohon tunggu sebentar”

Chorong kembali melihat sekitar, tak sampai lima menit ia menunggu, ia dikejutkan dengan gerbang yang terbuka sendiri.

“Daebak!” ia berjalan dan semakin dibuat kagum. Tapi beberapa detik kemudian ia menyumpah serapahi sang pemilik. Pasalnya dari gerbang utama menuju rumah jaraknya sama dengan rumahnya menuju halte terdekat.

Pintu utama terbuka setelah Chorong sampai di depannya.  Ia segera masuk dan dipersilahkan duduk, tak berselang lama seseorang muncul dan menyapanya.

“ Waw, angin apa yang membawamu kesini?” Chorong mengalihkan tatapannya pada sang penanya.

“Ah, Sunbae. Lain kali sediakanlah kendaraan dari gerbang utamamu, tak taukah kau betapa melelahkannya menuju rumahmu!” ceroscos Chorong.

“Ahaha, baiklah usul yang bagus. Akan ku pertimbangkan, ngomong-ngomong ada apa kau kemari?”

“Ah, itu . .”

“Kau sudah datang?” sapa Suho yang baru saja menuruni tangga, lihatlah pakaiannya. Masih terlihat seperti orang yang bangun tidur.

“Dia yang menyuruhku datang” tunjuk Chorong pada Suho.

Xiumin hanya terkekeh, jangan lupakan seseorang dibelakang Suho yang sedang melambaikan tangannya.

“Lay? Sedang apa kau disini?” Chorong mengerenyitkan dahi.

“Hai, Chorong. Aku? Aku sedang . . . hyung kenapa aku kemari ya?” Tanya Lay pada Xiumin.

“Mana aku tahu, kau sendiri yang datang kemari menggunakan seragam” jelas Xiumin.

“Ah benar aku baru ingat, aku bosan dan salah masuk sekolah akhirnya ku putuskan untuk kemari” terang Lay.

“Dan mengganggu tidur nyenyakku” lanjut Suho. Lay hanya menyengir.

“Ayo ke lantai atas, tunggu aku disana. Aku mandi dulu”

“Pantas saja ada bau tak sedap” Chorong pura-pura menutup hidungnya.

“Yak! Aish. Sudahlah”  Suho berjalan terlebih dahulu, yang kemudian diikuti oleh Chorong dan yang lainnya dengan tertawa.

Beberapa menit kemudian Suho keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih rapih. Tatapan matanya langsung tertuju pada Lay dan Chorong yang sedang berbincang, mereka terlihat sangat dekat. Sebenarnya disana ada Xiumin. Tapi entah mengapa focus mata Suho hanya pada mereka berdua. Ada perasaan panas di hatinya.

Ia berjalan dengan tergesa dan duduk diantara keduanya. “Apa yang kau lakukan?” Chorong yang tergeser mengajukan protes.

“Tentu saja duduk”

“Masih ada tempat lain” jawab Chorong.

“Aku ingin disini!” balas Suho. Xiumin hanya terkekeh.

“Ayo mulai belajarnya” Suho membuka buku dan Chorong mengeluarkan alat tulisnya dari tas. “Kau akan mengajari Chorong?! Kenapa kau tidak pernah mengajariku?” Tanya Lay.

“Kau ingin belajar juga? “ Tanya Suho.

“Tidak sih, aku akan bermain game dengan hyung saja. Ayo hyung!” Lay dan Xiumin masuk kedalam kamar. Meninggalkan Suho yang geram. “Lalu untuk apa kau bertanya!” teriak Suho.

***

Hari sudah mulai petang ketika Chorong selesai dengan les privatenya. “Akhirnya!!!” ia merenggangkan tubuhnya.

“Kau itu hanya perlu praktek tak bisa dijelaskan ckck, ternyata sudah jam 4” Suho melihat arlojinya.

“Nah, aku pulang dulu. Terima kasih atas bimbingannya hari ini” Chorong berdiri dan membungkuk.

“Ku antar” mata Chorong melebar.

“Tak perlu aku bisa sendiri” tolak Chorong. “Sudahlah, aku tau rumahmu lumayan jauh dari sini” Suho beranjak dari tempat duduknya, masuk kedalam kamar dan mengambil jaketnya.

“Ayo, Hyung, Lay aku pergi dulu!”

“Sudah mau pulang?” Tanya Xiumin. Chorong hanya mengangguk. “Hati-hati” lanjut Xiumin.

“Kapan-kapan datang lagi kemari ya, bye Chorong”.

“Ini bukan rumahmu Zhang!” ujar Suho. Tapi Lay seperti tak peduli dan kembali bermain game.

Chorong yang melihat terkikik geli. ‘Jadi masih ada orang lain yang bisa mengabaikan Suho’ pikirnya.

***

Suho mengantar Chorong menggunakan motornya. Entah sengaja atau apa Suho menambahkan kecepatannya membuat Chorong memeluknya karena tidak ingin terjatuh. Dibalik helemnya ia tersenyum sedikit. Memanfaatkan keadaan huh?.

Di tengah perjalanan tiba-tiba motor mereka di apit oleh tiga motor dengan pengendara berhelem fullface. Salah satu dari ketiga motor itu menyenggol Suho dan membuatnya terjatuh.  Chorong hanya sedikit tergores namun salah satu pergelangan tangan Suho terkilir.

Tanpa menunggu lebih lama. Chorong membenarkan motor Suho yang terjatuh dan menaikinya “Cepat naik, mereka masih mengejar kita!” Ujar Chorong.

“Apa kau bisa mengendarainya?” Tanya Suho tak yakin.

“Jangan banyak omong, cepatlah naik!” Chorong sudah menstater motornya, bahkan jika ia melepaskan rem tanganya sudah pasti motor ini melaju dengan kecepatan tinggi.

Tak ada pilihan lain, akhirnya Suho dibonceng oleh Chorong. Ia berdoa dalam hati agar ia selamat. Setelah Suho menaiki motor, Chorong melihat pada salah satu spion yang retak, ketiga motor itu masih mengejar. Dengan kecepatan tinggi ia membawa motor Suho. Kini giliran Suho yang memeluknya sangat erat. Bahkan kecepatannya melebihi Suho tadi.

“PARK CHORONG AKU INGIN SELAMAT~~~~” teraik Suho dibalik helemnya.

To be continue

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] TELL ME WHAT IS LOVE (Chapter 6)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s