[EXOFFI FREELANCE] SHADOW (Chapter 1)

|  SHADOW  |

| Oh Sehun & Hwang Mora |

| Bae Irene |

| Angst x Drama |

| PG-17 | Chaptered |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Seperti bayangan, kita selalu bersama.

Tetapi tidak dapat bersatu.

Prev : Prologue

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

Mulutku berdusta, pikiranku mempermainkanmu,

dan di matamu aku adalah seorang penipu.

Aku memang licik, tapi itu bentuk pertahananku terhadapmu.

 

—×◦ shadow ◦×—

“Kau tidak meminta sesuatu? Dua hari lagi, ibumu pulang dari dinas.”

“Tidak, aku sudah biasa ditinggal. Jadi, tidak masalah berapa lama ibu pergi.”

‘tuk . . .tuk . . . tuk . . .’

    Aku melirik Sehun yang sedang melangkah menuju kami, ia tampak malas berjalan ke meja makan.

‘Sreett . . .’

    Ia menarik kursi dan duduk. Lalu, melemparkan tas yang dibawanya ke kursi sebelah. Sejujurnya, dulu aku sering berfantasi mengenai wajah Sehun yang terlihat manis ketika bangun dari tidur. Dengan raut wajah yang masih mengantuk, ia berjalan menuju meja makan. Ah pasti, Sehun akan terlihat lebih imut. Sayang sekali, hal itu hanya sebuah ilusi belaka.

“Sehun, apa kau tidak bisa bangun lebih cepat? Harusnya, kau contoh Mora yang selalu bangun pagi. Sudah dua minggu ia di sini, tapi kalian belum pernah berangkat ke sekolah bersama.”

    Sehun mendengus, ia menoleh dan menatapku dengan raut wajah tidak suka. Yah, itulah fakta yang terjadi. Rutinitas pagiku, selama dua minggu pasca pernikahan ibuku adalah mendapatkan tatapan tajam dari Oh Sehun.

“Maksud kakek, aku harus meniru sandiwara yang dilakukannya sebagai anak yang baik. Wah, memang benar buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ibunya gila harta, anaknya gila perhatian.”

“OH SEHUN! Bicaramu sudah keterlaluan, jaga sopan santunmu.”

    Aku hanya diam. Itu benar, anggap saja pendapat Sehun adalah sebuah fakta. Bukan berarti, aku tidak marah ataupun tidak tersinggung.

Menyerang musuh dari gerbang depan adalah tindakan bodoh yang gegabah. Dan menyerang secara diam-diam lalu menusuknya dari belakang, memang sebuah tindakan yang sangat licik. Tapi, itulah yang disebut dengan strategi.

“Kau harus menjaga sikapmu, Oh Sehun. Mora dan ibunya sudah menjadi bagian dari keluarga kita.”

    Sehun hanya mengangguk malas, ia menurut agar kakeknya tidak marah berkepanjangan.

“Kalau begitu, kakek harus berangkat sekarang. Ada rapat pagi ini. Dan Mora, jangan dengarkan ucapan anak tengil ini.”

“Iya, paman. Hati-hati di jalan,”

    Kakek Sehun tersenyum padaku, lalu ia berjalan menjauhi meja makan. Tak lama, terdengar suara deru mesin mobil menjauh. Tanda bahwa beliau sudah berangkat.

“Lucu sekali, setiap mendengarmu memanggil kakekku dengan sebutan paman. Tidak sekalian saja, kau panggil kakekku dengan sebutan ayah.”

    Aku meletakkan peralatan makanku, lalu mengambil segelas air dan meminumnya.

“Oh Sehun, jangan berbicara seakan kau tahu segalanya. Menurutmu, semiskin apa keluargaku hingga harus mengemis padamu. Ibuku seorang pegawai pemerintahan dan itu sudah turun-temurun dari keluarga kakekku, aku juga tidak perlu menjelaskan betapa gemparnya perceraian kedua orangtuaku yang sekaligus memecahkan hubungan dua keluarga pejabat di negara ini.

    Sehun menghentikan aktivitas makannya, perhatian pemuda Oh itu sepenuhnya tertuju padaku.

“Kekayaan keluargaku memang tidak sebanding dengan keluargamu. Tapi mengemis pada keluargamu, kupikir itu tidak perlu. Kami tidak hanya mampu tapi juga memiliki kekuasaan, tidakkah kau berpikir bahwa keluargamu yang memanfaatkan keluargaku.”

    Sehun menatap tajam padaku, sepertinya ia tidak setuju dengan pendapatku.

“Pernyataanmu tak berdasar,”

    Aku tertawa mendengar ucapannya. Oh Sehun, kau lucu sekali. Mencoba mengendalikan diri, kuhirup udara dan menghembuskannya.

“Bukankah, pernyataanmu juga tidak berdasar.”

    Ia bungkam. Oh Sehun tak dapat mengelak, ia tidak mengeluarkan argumen apapun.

“Pajak. Keluargamu membutuhkan kekuasaan dari keluargaku untuk mengatasi masalah pajak perusahaanmu. Kau tidak terlalu bodoh, bukan? Untuk tahu seberapa tinggi pajak yang ditanggung oleh sebuah perusahaan besar. Dan satu lagi, ibuku cantik dan lumayan masih muda. Jadi, menurutmu siapa yang memanfatkan siapa?”

    Wajah Sehun menjadi merah padam, ia benar-benar marah. Aku melirik tangannya yang berada di atas meja, kini mulai mengepal erat.

“Seorang gentleman tidak menggunakan kekuatan fisiknya, untuk memukul seorang wanita.”

“Apa kau pikir aku seorang pecundang? Hingga akan memukul seorang perempuan,”

    Aku mengangkat kedua bahuku seakan tak peduli.

“Siapa yang tahu?”

“Oh ya ampun, Hwang Mora. Kau mencoba mempermainkanku,”

    Aku beranjak dari kursi dan mengambil tas yang berada di kursi sebelahku.

“Kau lucu sekali, Oh Sehun. Selesaikan sarapanmu, aku pergi dulu. Sampai jumpa,”

    Aku melangkah pergi meninggalkan Sehun. Meski aku tidak melihat wajahnya yang berada dibalik punggungku, tapi aku tahu ia pasti sangat kesal. Sekali-kali memberi pelajaran padanya, bagus juga. Duh, coba aku tinggal lebih lama. Pasti wajahnya yang sedang cemberut, terlihat sangat lucu.

×◦◦×

In Author’s Eyes . . .

    Irene menatap ragu pada sekumpulan anak kelas dua. Tapi, ia harus bicara pada salah satu dari mereka. Dengan langkah besar, ia mendekati beberapa siswi yang sedang mengobrol. Melihat Irene mendekat, mereka menghentikan obrolan dan memberi salam.

“Hwang Mora, ikut aku. Ada hal yang perlu kusampaikan,”

    Tidak hanya teman satu grup Mora, tetapi juga beberapa siswa dan siswi yang lewat mulai memperhatikan mereka berdua. Irene berbalik dan berjalan menjauhi keramaian, Mora mengikuti dalam diam dari belakang. Mereka berhenti di halaman belakang perpustakaan, dekat dengan lapangan basket.

“Kau perlu apa denganku?”

    Irene menatap adik kelasnya itu dengan raut wajah tidak senang, tidak ada sopan santun dari mulutnya.

“Wah, mulutmu masih saja berbicara kasar. Bagaimanapun aku lebih tua darimu,”

“Maksudmu, aku harus memanggilmu seperti dulu. Eonni? Menjijikkan sekali,”

“Aku juga tidak mau mendengarmu memanggilku seperti itu, membuatku merinding saja.”

    Irene menggelengkan kepalanya, bukan ini yang seharusnya dibahas. Itulah mengapa, ia tidak ingin bertemu ataupun berbicara dengan Mora. Setiap mereka bertemu dan melihat satu sama lain, perdebatan akan mulai terjadi. Dulu mereka tidak seperti itu, yah tapi itu dulu.

“Sebentar lagi, ulang tahun ayah. Kami berencana pergi liburan untuk merayakannya. Jadi, ayah menyu—”

“Kami? Kau berkata kami? Lucu sekali, itu terlihat seperti aku orang asing. Wah, sepertinya ayah lebih menyukai anak orang lain daripada darah dagingnya sendiri.”

“Intinya kau mau ikut atau tidak?  Asal kau tahu saja, hanya ayah yang menginginkanmu ikut serta. Kau pasti mengerti maksudku, bukan?”

    Hati Mora mencelos. Yah, ia tahu itu. Lagipula, ia juga tidak menginginkan berada disekitar orang-orang yang sudah merusak kebersamaan keluargnya.

“Tentu saja, akan sangat membosankan jika aku ikut dan selama beberapa hari melihat wajah kalian terutama ibumu itu. Karena aku baik hati, aku akan meminjamkan ayahku kepada seorang yatim sepertimu.”

    Wajah Irene menjadi merah padam, ia benar-benar sangat marah. Tangannya sudah terkepal erat, ketika ia akan mengambil langkah maju. Tiba-tiba lemparan bola datang dan hampir mengenai mereka berdua. Beruntungnya, bola hanya mengenai tumpukkan kayu yang berada di belakang Irene. Seharusnya mereka memang tidak perlu melihat satu sama lain, hanya membawa malapetaka saja. Dengan kesal, Irene berteriak dan menghentak-hentakkan kakinya.

“HEI!! Siapa yang melempar bola? Akan kulempar kepalamu dengan bola ini!”

    Mora melihatnya, tumpukkan kayu yang berada di balik punggung Irene mulai bergeser. Ia merasakan firasat yang buruk.

‘Tap . . . tap . . . tap . . .’

    Suara langkah kaki mendekat.

“Maaf, aku tid—

AWAS!!”

    Sekuat tenaga Mora menarik Irene, mereka berdua terjatuh. Beberapa kayu tergeletak di samping Irene, hanya beberapa sentimeter lagi akan mengenai mereka. Mora memperhatikan Irene yang sepertinya sedikit terkejut.

“Kau baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Noona! Noona baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Apa perlu kita ke rumah sakit?”

    Sehun datang dan menginterupsi percakapan mereka. Melihat Sehun datang dan menghujani Irene dengan berbagai macam pertanyaan, Mora memutar bola matanya. Ia benar-benar malas melihat pemandangan ini.

“Tenanglah, Sehun. Aku baik-baik saja,”

    Sehun melirik Mora yang juga jatuh terduduk di samping Irene. Ia memperhatikan Mora yang sedang memeriksa tangan dan kakinya. Yah, sepertinya Hwang Mora tidak terluka. Sehun mengembalikan atensinya pada Irene, pemuda itu memperhatikan tangan dan kaki Irene. Takut, gadis pemilik hatinya itu terluka.

“Noona, lenganmu berdarah. Kita harus pergi ke ruang kesehatan,”

    Irene melihat lengan sebelah kanannya. Memang sedikit berdarah, tapi itu hanya luka gores yang kecil.

“Kau sungguh berlebihan, Oh Sehun. Ini hanya luka kecil,”

    Sehun membantu Irene berdiri, ia menjaga gadis Bae itu seakan-akan Irene memiliki luka yang parah.

“Terima kasih sudah menolongku, Mora.”

    Mora mendongak. Irene yang melihatnya terkejut, begitu pula dengan Sehun. Mereka berdua mendapati wajah Mora yang terlihat pucat, keringat dingin menetes dari pelipisnya. Bibir gadis itu pun bergetar.

“Hwang Mora, ada apa denganmu?”

    Sehun tak mendapatkan jawaban dari gadis Hwang itu. Mora berdiri dan melirik luka gores yang terdapat pada lengan Irene.

“Aku pergi dulu,”

    Irene dan Sehun dibuat bingung dengan kelakuan Mora, gadis itu terlihat tidak baik-baik saja. Ia bahkan berjalan terburu-buru meninggalkan mereka berdua.

“Apa dia terluka?”

“Tidak, noona. Mora sama sekali tidak terluka,”

“Kau tahu darimana?”

    Sehun hanya tersenyum tak menjawab. Tentu saja, Sehun tahu. Ia memperhatikan gadis itu saat memeriksa tubuhnya sendiri.

“Ini semua karena ulahmu, bukan? Kau yang melempar bola basket itu,”

“Itu ulah Suho hyung, ia melempar bola basket seakan-akan dia adalah seorang pro. Padahal, teknik dan tinggi badan saja tidak mendukung. Aku hanya membantu mengambilkan bola saja.”

“Sudahlah, katamu ingin membawaku ke ruang kesehatan.”

    Irene berjalan mendahului Sehun, pemuda itu mengikuti dari belakang. Sejujurnya, Sehun sedikit mencemaskan Mora. Bagaimanapun juga, bibi tirinya itu sudah menyelamatkan pujaan hatinya. Wajar saja kan, jika ia menjadi sedikit khawatir.

—×◦ to be continued ◦×—

Kupikir sinar matahari sudah menantiku di ujung terowongan.

Sayangnya, sekali lagi aku ditampar oleh kenyataan.

Tidak ada satupun orang di sana.

Ilusi membutakan mataku, mempermainkan isi pikiranku, dan mendustai hatiku.

Dan pada akhirnya, aku tetap berjalan sendiri.

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

JHIRU’s Note :

Aing mengganti pen name menjadi JHIRU H.

Yah, sebenarnya itu pen name lamaku cuma ditambah huruf J aja. J inisial dari nama asliku.

Terima kasih sudah membaca fanfic ini hingga habis.

Dan please pakai banget-nget-nget, jadilah pembaca yang baik dan menghargai karya tulis penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment. Bukan pada saya aja y, tapi seluruh penulis. Itu berarti banget buat kita. Sekian dan terima kasih ^^

 

24 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] SHADOW (Chapter 1)”

  1. heoll ga nyangka mereka jadi perang dingin gtu,, gilaa mora berani bgt yaa ngatain sehun..serius ga nyangka, kirain dia bakaln diem aja di caci sehun. good mora, aku suka karakter dia yg kuat cuek masa bodoh lah,,
    tp geli juga sih, masa iya sehun manggil mora bibi wkwkwk..ga kebayang,,
    ehh iyaa, itu mora knpa kk..?? dia punya trauma yaa.. ??

  2. Annyeong, aku baru pertama kali baca dsini.
    Ceritanya menarik, hubungan antara sehun sama mora seorang bibi sma keponakan. Next chap semoga gak ngebosenin, aku gak coment disetiap chap ya. Mngkin coment lgi dichap terakhir yg udh update

  3. Aku kira Mora adalah saudara tiri Sehun, gak taunya Bibi tiri. Yaampun sepertinya pas awal baca gak ngeuh sama percakapan di meja makan deh. Hahaha 😀
    Aku suka ceeitanya, semoga updatenya rutin ya. Semangat 🙂

    1. Terima kasih sudah mau baca plus comment ^^ seneng banget ada yg baca ff ini. Rencana jadwal updatenya seminggu sekali, diusahain bakal rutin. Tunggu chapter berikutnya y ><

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s