[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) (Chapter 21)

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle            : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 21

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast        :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating        : T

Length        : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

 

‘Yak! Kang Rae Mi! ini semua salahmu kesalahanmu!’

Seorang gadis yang memakai seragam sama dengan yang Rae Mi kenakan berteriak histeris, tubuhnya yang dikekang oleh dua orang berpakaian serba hitam meronta tak karuan hingga rambutnya compang-camping, bahkan tidak mempedulikan wajahnya yang basah oleh air mata. Gadis itu hendak menyerang Rae Mi, melampiaskan amarahnya pada gadis bermarga Kang yang duduk disamping foto gadis lain yang dibingkai oleh bunga tanda duka cita.

Beruntung orang-orang berhasil membawanya pergi, menjauh dari Rae Mi yang masih linglung sampai tak bisa mendengar sepenuhnya kata-kata gadis yang sedang marah tersebut. Pandangannya kini hanya terarah pada potret gadis manis yang beberapa waktu yang lalu telah dikremasi itu, tiba-tiba tangisnya pecah dan berbaur dengan keributan pelayat lainnya.

‘…kau pembunuh Kang Rae Mi!’

“Sudah kubilang!, dia bukan kakakku!”

Suara teriakan Jinhyo membuat Rae Mi menyadarkan diri dari segala lamunan tentang masa lalunya yang entah kenapa tiba-tiba muncul sesaat setelah orang-orang yang menyekap dirinya dan Jinhyo membawa mereka kesebuah bangunan tua dengan bau menyengat. Gadis itu mengatur napasnya seperti orang yang habis berlari berkilo-kilo meter, pun mencoba membiasakan diri dengan udara berbau tersebut.

“Yak!, masih mau mengelak huh?!”

Pandangannya kini tertuju pada salah seorang preman berambut merah yang memojokkan Jinhyo atas pertanyaan yang Rae Mi sendiri tidak mengetahuinya. Bahkan ia masih belum tahu alasan pria-pria itu memukul belakang kepalanya, membuatnya pingsan selama beberapa saat sehingga ketika dia bangun, Rae Mi mendapati dirinya sudah berada di bangunan tersebut bersama Jinhyo dengan keadaan tubuh terikat pada kursi.

“Aku tidak mengenalnya!” pekik Jinhyo, mengumpulkan sisa tenaga yang ia miliki setelah dipukul berkali-kali oleh preman-preman itu. “Kami tidak saling mengenal!”

Si pria berambut merah menarik kerah seragam Jinhyo yang memerah karena darah, “Heh! Kau pikir kami ini bodoh?. Jelas-jelas aku dengar bagaimana dia memanggil namamu tadi!”

“TAPI AKU TIDAK TAHU SIAPA GADIS ITU!”

Sebuah tinjuan di pipi kiri serta tendangan di perut harus diterima oleh Jinhyo. Rae Mi menutup mata sambil menunduk karena tak sanggup melihat lagi bagaimana adik dari sahabatnya diperlakukan begitu kasar. Ia takut hal itu juga akan berlaku padanya setelah mereka puas menyakiti Jinhyo.

“Bajingan ini benar-benar…” pria berambut merah kembali meraih kerah kemeja Jinhyo, “Mulai berani karena ada kakak ya? hahaha!. Heh bocah! Jangan kira kami akan kalah lagi dari kakak bodohmu dan teman brengseknya itu!”

“H-hyu-hyung…”

Tangan pria berambut merah yang terangkat itu kembali turun ketika mendengar seseorang memanggilnya, ia menoleh dan mendapati Donghyuk, anak buahnya yang baru datang, berdiri di pintu masuk seraya memasang ekspresi terkejut seperti baru saja melihat sesosok hantu.

“Ada apa denganmu?” seru pria itu.

Donghyuk menghampiri Rae Mi yang meronta sekuat tenaga ketika laki-laki seumuran Jinhyo itu menyentuh wajahnya, tapi bukan hanya Rae Mi saja yang menjerit ketakutan, Jinhyo pun melakukannya sampai jatuh terjerembab ke tanah.

“Kau ini kenapa sih?” tanya si pria berambut merah yang mulai tak sabaran.

Dan sebelum Donghyuk sempat menerima pukulan apapun, ia mengatakan alasannya.

“Di-dia bukan kakaknya Jinhyo…” lirih Donghyuk.

“Apa katamu?”

Donghyuk berdiri dan menatap ketuanya dengan cemas, “Dia bukan wanita yang membuat saudaramu masuk rumah sakit!. Gadis yang kau bawa bukan kakaknya Lee Jinhyo!”

“Hah?!”

Jinhyo masih bisa tertawa saat keadaannya tidak baik seperti itu, “Kan sudah kubilang, kupikir cuma tuli, ternyata kalian juga tidak punya otak!” ucapnya, menyulut emosi para preman yang telah berusaha menyekap dirinya dan Rae Mi supaya mendapat tebusan dari pria yang menghajar anggota mereka tempo lalu -yang adalah Bang Yongguk- serta membalaskan dendam mereka dengan menghajar Yongguk secara keroyokan, mengingat mereka membawa anggota yang lebih banyak dari sebelumnya yang berhasil dikalahkan Yongguk sendirian.

Si pria berambut merah menghampiri Jinhyo dan hendak menghajarnya lagi sampai sebuah suara dari anak buah yang ia perintahkan untuk berjaga didepan kembali menginterupsinya.

“Kali ini apa lagi?!”

Pria berseragam yang merupakan anak buah dari pria berambut merah tidak datang sendiri, bukan dengan rekannya yang turut menjaga pintu masuk, melainkan tiga orang pria yang tidak mereka kenal berjejer disamping kanan dan kiri sang anak buah. Salah satu diantara mereka mendorong tubuh pria berseragam tersebut hingga jatuh tak jauh dari tempat ketuanya berdiri, mempertontonkan luka-luka yang ia derita pada anggota lain yang juga sedang menyaksikan.

“Brengsek! Siapa kalian?!. Cari mati di daerah kekuasaan klan naga merah huh?!” teriak sang ketua tak terima.

“Apa? Naga merah? Nama macam apa itu?” ledek Jun Hong.

Himchan menimpali, “Kekanakan sekali anak SMA zaman sekarang.” Sambil menggelengkan kepala heran. “Dulu, kalau ingin mengintimidasi orang lain, tidak perlu membuat grup dan menamainya, kalian ingin jadi preman atau boygroup?”

Jun Hong menghentikannya sejenak, “Hyung!, bukannya kita juga berkelompok dan punya julukan ‘Troublemaker’ di kampus?”

“Eoh? Iya juga ya…” Himchan mencari alasan lain sebagai pembenaran, “Hey! Kan bukan kita yang membuat julukan itu?”

“Oh iya! benar juga!” tiba-tiba Jun Hong menjadi begitu polos dan menerima perkataan Himchan begitu saja.

“Apa-apaan!, jadi ini orang yang mengalahkan Gong Min waktu itu?!” kesal si pria berambut merah.

Donghyuk segera menghampirinya, untuk menenangkan sang ketua dan menjelaskan siapa yang seharusnya mereka serang dengan anggota yang lebih banyak daripada sebelumnya. Apalagi kakak Jinhyo yang cukup kuat juga sedang tak ada disana, sehingga dapat memudahkan mereka untuk mengalahkan Yongguk dan kawan-kawannya.

Mata Yongguk menangkap sosok Rae Mi, ia menggertakkan gigi seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat kemudian menyeringai kejam seperti kebiasaan lamanya. Pria itu maju untuk segera menyelamatkan Rae Mi, namun langkahnya tersendat oleh kepungan preman yang siap menghajarnya kapan saja kalau dia berani mendekat lebih jauh lagi.

“Apa-apaan para pengecut ini…” ujarnya penuh penekanan, menatap tajam tiap orang yang menghalangi jalannya, “Heh! Brengsek!, pergi atau kubuat kalian kehilangan tangan dan kaki!” gertaknya dan berhasil membuat gentar beberapa diantara mereka.

“Yongguk hyung benar-benar terlihat keren ketika marah, aku heran kenapa dia memutuskan berhenti mengusili anak-anak di kampus padahal tak seorang pun dapat mengalahkannya.” Gumam Jun Hong yang memutuskan menjadi ‘petarung cadangan’ bersama Himchan, dimana mereka baru akan terlibat apabila Yongguk sudah tidak sanggup bertahan, walau keduanya cukup yakin kalau Yongguk bisa menyelesaikannya sendirian.

“Ya, memang. Jadi rindu masa lalu.” timpal Himchan.

“Sedang apa kalian?” tanya Hyojin sambil mengunyah kacang yang ia beli didepan gang, “Uwaaah, Bang Yongguk beraksi kembali ya?”

Jun Hong mengangguk, “Keren kan? Seharusnya kami bisa menguasai kampus jika saja kau tidak mengacukan kehidupannya. Aigooo uri-hyung yang malang…”

“Sialan, kalau tidak sedang sibuk makan sudah kuhajar wajahmu yang menyebalkan itu!” balas Hyojin.

Himchan menatap Jun Hong dengan bingung, “Bicara dengan siapa kau?” tanyanya yang masih belum sadar bahwa Hyojin tengah berada dibelakang mereka.

“HWAA!”

“Aisshh!” keluh Hyojin seraya menggosok telinganya, “Ada pengeras suara yang tersangkut di kerongkongan kalian ya?!”

“B-b-ba-bagaimana kau bisa ada disini?!” Jun Hong bertanya balik.

Hyojin membuang kulit kacang sembarangan sebelum menjawab, “Jalan kaki.” Dengan santainya, “Oh salah!, aku membuntuti kalian tadi.” Ralatnya.

“Tidak sadar kalau aku berada satu mobil dengan kalian?”

Jun Hong dan Himchan menggeleng cepat.

“Kau membuntuti kami? Bagaimana bisa…” Himchan sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya.

Jun Hong membawa Hyojin keluar dari bangunan tua itu, menjauhkannya dari kumpulan preman tersebut serta menutupi fakta bahwa Rae Mi juga ada disana, dan merupakan alasan mengapa Yongguk bersusah payah melacak keberadaan gadis itu lantas bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Himchan juga setuju atas tindakan kawannya, ia juga tidak ingin Hyojin bernasib sama dengan Kang Rae Mi hingga makin menyulitkan mereka bertiga.

“Heeee… kenapa?” protes Hyojin, padahal dia juga ingin menonton adegan perkelahian Yongguk. Gadis itu jelas tak mau perjalanannya sia-sia mengingat dia sudah bekerja keras untuk datang kemari.

“Ini urusan kami, kau tidak perlu ikut campur.” Jawab Himchan tegas. Kemudian bergegas meninggalkan Hyojin untuk melihat keadaan Yongguk didalam bangunan.

“Diam saja disini!” titah Jun Hong, kali pertamanya memerintah gadis yang dia hindari supaya ‘penyakit’ konyolnya tidak menularinya. “Awas kalau kau berani macam-macam!”

Hyojin berdecak sebal, hendak membangkang dengan kembali mengikuti mereka diam-diam, namun deringan ponsel menghentikannya. Gadis itu terdiam begitu melihat nama yang tertera pada layar benda kecil persegi empat itu. Ia menarik nafas seraya mendongak bermaksud menatap langit, tapi kegiataannya justru mengingatkannya pada Chanyeol -sang penelpon- yang bertubuh tinggi sehingga Hyojin harus selalu menongak untuk melihat wajahnya.

“Ah sial! Harusnya aku benturkan kepalaku ke tembok supaya hilang ingatan sekalian!” keluhnya. Ia menatap ponselnya lagi, Chanyeol masih belum menyerah untuk menghubunginya.

*Hyojin POV*

Pria ini maunya apa sih?, dari sekian waktu aku menunjukkan perasaanku padanya, kenapa baru sekarang dia membalasnya?!. Apa dia pikir dunia ini hanya berputar padanya?. Datang ketika butuh dan pergi ketika bosan?. Ah! Lama-lama aku bisa gila!.

“Arrggh! Kenapa si bodoh itu bisa salah membawa orang sih?!”

Siapa? Siapa yang bodoh?!. Si sialan mana lagi yang mau membuat masalah denganku?!.

Beruntung aku tidak jadi memukul atau sekedar memaki bocah SMA yang rupanya tidak sedang bicara padaku itu. Haha, bodoh sekali, saking emosinya aku sampai tidak tahu kalau anak laki-laki bernama Donghyuk itu cuma mengumpat pada orang lain yang aku tidak tahu siapa. Seharusnya aku tidak tersulut emosi begitu mudah.

“Haha…” tawaku dengan nada datar. Aku kembali menatap ponsel yang kini menampilkan panggilan tidak terjawab dari nomor Park Chanyeol itu. Tak ada telepon lagi, hmmm, baguslah kalau dia menyerah.

Kemudian aku menyadari sesuatu.

“AH AKU LUPA BAYAR KACANGNYA!” seruku sambil menepuk dahi.

Kenapa aku jadi pelupa begini sih?!. Lebih baik aku segera pergi ke tempat aku membeli kacang tadi sebelum pak tua penjual kacang di depan gang sana melaporkanku sebagai pencuri, lalu menempel poster tentangku, membuatku dikenal sebagai pencuri bedebah dilingkunganku dan…

Dan…

Sepertinya aku melupakan sesuatu. Apa ya?.

“YAK! DONGHYUK!”

*Author POV*

Chanyeol melempar ponselnya kesembarang arah, kemudian menyesalinya karena benda persegi yang berguna dalam membantu kegiatannya sehari-hari itu kini mati total karena membentur lantai. Ia menggeram kesal seraya menjambak rambutnya kuat-kuat. Siapapun yang melihat kelakuan Chanyeol sekarang pastinya khawatir jikalau pria itu mengalami kebotakan dan buru-buru membelikan suplemen rambut sebagai hadiah ulang tahun untuknya.

Sayangnya (atau untungnya?) ia hanya sendirian dirumah -sementaranya- karena sang kakak tengah pergi menemui teman-temannya juga menyelesaikan urusannya mengenai Oh Sehun yang memata-matainya.

“Gadis itu kenapa lagi sih? Susah sekali ditebak perasaannya!” gerutunya sembari cemberut sebal, tidak berkaca pada diri sendiri bahwa bagi Hyojin pun dirinya sulit ditebak pemikirannya.

Beruntung, setelah bunyi ‘tring’ terdengar dari ponselnya, mood pria tersebut kembali naik dan ia segera menghubungi Hyojin sekali lagi. Kali ini tidak langsung dimatikan seperti sebelumnya, terdengar bunyi sambungan yang cukup lama hingga akhirnya suara Hyojin terdengar dari sebrang sana.

“Halo? Hyojin-ah… kau dimana sekarang?”

“Dasar brengsek! Kenapa kau angkat teleponnya?!”

“M-m-maa-maaf… aa-ku tidak-”

Suara seorang pria, lebih tepatnya laki-laki yang beranjak dewasa. Chanyeol mulai khawatir, dia kenal dengan baik suara adik Lee Hyojin, dan bukan yang ia dengar sekarang.

“Aissh! Kembalikan ponselku, sialan!”

“Halo? Hyojin-ah? Kau dimana sekarang?!”

Bukannya Hyojin, malah laki-laki tadi yang menjawab dengan gemetar namun cukup keras untuk didengar oleh Chanyeol, dan termasuk Hyojin yang bersama dengan laki-laki itu.

“D-d-d-d-daerah xxx!, TE-TEPATNYA JALAN XXX NO-NOMOR XXX!. Bangunan tua bekas pabrik -KYAAAAAA!!!”

Lalu sambungan terputus setelah laki-laki tadi berteriak ketakutan. Chanyeol terdiam dengan pandangan lurus kedepan. Ia semakin khawatir. Bukan hanya pada keadaan Hyojin yang tidak jelas, namun juga kepada laki-laki tak dikenal tersebut. Chanyeol takut kalau laki-laki itu terlibat perkelahian dengan Hyojin seperti yang dulu lantas gadis itu tersangkut masalah hukum dan Chanyeol benar-benar tidak ingin hal seperti itu terjadi kepada Hyojin.

“Ini mungkin bukan ide yang bagus…” katanya seraya beranjak mengambil jaket, ponsel serta sepatunya, “…tapi aku tidak mau berdiam diri lagi dan menunggu Hyojin terluka.” lanjutnya yang kemudian keluar dari rumah sewanya.

*Hyojin POV*

Aku mendelik menatap ponselnya yang sudah tidak bisa dinyalakan karena dijatuhkan kemudian diinjak -tanpa sengaja- oleh Donghyuk. Gadis itu lalu menatap laki-lakiyang berdiri sejauh sepuluh meter darinya tersebut, bergeming ketakutan, berharap Hyojin tak semakin marah padanya, meskipun itu mustahil.

“Ma-m-m-maaf…”

“Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Hyojin, “Kenapa kau ada bersama preman-preman yang membuat masalah dengan Bang Yongguk itu?. kau ada sangkut pautnya dengan mereka?”

Donghyuk membisu, tidak mungkin dia bisa mengatakan bahwa ia dan preman lainnya telah menculik Jinhyo serta wanita salah sasaran yang membuat Yongguk datang tanpa diundang terlebih dahulu itu. Bisa-bisa, Hyojin menghajarnya lagi seperti pertama kali mereka bertemu dulu, ketika dia dan teman-temannya mengintimidasi Jinhyo dipinggir sungai Han waktu itu.

“Kau ingin kupanggil Bang Yongguk untuk mematahkan setiap tulangmu?” ancam Hyojin yang kesal karena tak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaanya. “Ah, tidak-tidak, aku sendiri pun bisa menghabisimu dalam sekali pukul.”

Hyojin melangkah lebih dekat terhadap Donghyuk, dan pria itu berlaku sebaliknya.

“Jika kau kabur, aku tak segan-segan mencarimu sampai ke ujung dunia, yah, jika ujung dunia itu benar-benar ada-”

“LEPASKAN AKU!”

Hyojin dan Donghyuk menoleh bersamaan, dengan ekspresi wajah yang berbeda. Terkejut dan cemas. Sebelum Hyojin bertanya pada laki-laki itu apakah suara yang ia dengar dari dalam gedung tersebut merupakan teriakan Jinhyo adiknya atau tidak, Donghyuk sudah melarikan diri tanpa peduli atas ancaman Hyojin sebelumnya. Gadis itu menggertakan giginya seraya mengepalkan tangan. Kemudian tanpa menunggu lama, ia segara berlari memasuki bangunan tua itu dan mendapati Yongguk, Himchan, Jun Hong yang terpojok oleh kepungan preman yang jumlahnya lebih banyak dari mereka, serta Rae Mi dan Jinhyo yang terikat kuat diatas kursi dengan banyak luka pada tubuh mereka, terutama adiknya.

“Lee Jinhyo…” lirih Hyojin, tak menyangka adiknya benar-benar ada didalam sana.

Yongguk berseru pada gadis itu, “Pergi! Panggil bantuan! Kami yang akan menyelamatkan mereka!” tapi Hyojin tak bergeming, “Yak! Lee Hyojin!”

Hyojin mengabaikan perintah Yongguk. Ia mengambil langkah pertamanya, pelan namun pasti dia akhirnya berlari menuju gerombolan preman yang siap menghajarnya kapan saja. Tapi dia juga tak kalah siap, walau ia tahu betul kemampuan berkelahinya tidak terlalu bagus, namun kepercayaan diri Hyojin atas menghajar orang lain ketika sedang marah juga cukup tinggi. Seorang kakak tidak mungkin tinggal diam ketika tahu adiknya tengah dalam bahaya.

“KEMARI KALIAN CECUNGUK SIALAN!”

~To Be Continue~

Sorry for late update readers-deul…

Kemarin-kemarin habis pulang kampung rutin dan sinyal ngadat disana, gasempet ngetik lanjutannya dan sekarang dikebut.

Insyaallah minggu depan saya buatin chapter bonus sekalian.

Okedeh RCL juseyoooo~~~

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) (Chapter 21)”

  1. Yaampun kapan chanyeol jadian sama hyojin nyaaa. Yey next ya, pengen liat adegan tonjok tonjokan chanyeol nyelametin hyojin *soktaubangetaku

  2. Itu padahal lagi adegan berantem,aigooo,kenapa sih tbc pake muncul sih…
    Chan,kapan nyadar sama perasaanmu sih biasku tersayang…
    Next deh kak..
    Dan please jangan hilangin adegan figh nya itu
    Fighting nulis lanjutannya kak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s