[EXOFFI FREELANCE] The Sound of The Rain (Chapter 6)

Title    : The Sound of The Rain – Chapter 6

Author    : Whitecreamy

Main cast    : Lee Shin Young (OC), Byun Baekhyun, Oh Sehun

Support cast    : EXO members and ex members and others

Genre    : Sad, Romance, Family

Rating    : G-PG

Disclaimer    : I just own the story

Poster by Byun Hyunji @ Poster Channel

Mengapa banyak orang mengenang saat hujan? Karena kenangan itu seperti hujan. Tidak bisa dihentikan. Hanya bisa ditunggu hingga berhenti dengan sendiri nya.

( Novel Hujan oleh Tere Liye )

Chapter 6

Di suatu pagi di pertengahan musim panas, dua orang anak laki-laki memulai hari nya dengan ceria. Seorang wanita berusia akhir dua puluhan yang tengah hamil tua mendatangi mereka. Dengan senyuman yang terukir jelas di bibir, kedua anak itu menyambut wanita yang merupakan  guru les piano mereka. Tak lama kemudian, kakak adik tersebut telah larut dengan kegiatan mereka belajar bermain piano. Mereka memainkan beberapa lagu anak-anak popular dari berbagai negara. Salah satu nya lagu Tik Tik Bunyi Hujan dari Indonesia. Miss Arina-begitulah mereka memanggil guru les piano mereka- merupakan seorang wanita Indonesia yang menikah dengan pria Korea.

“Kalian selalu menakjubkan.” Puji Miss Arina sembari mengusap puncak kepala kedua murid kesayangannya tersebut.”Baekhyun-ie…permainan jari kiri mu sedikit kurang. Tapi kau tidak perlu khawatir. Dengan banyak berlatih, kau akan segera bisa.”

Anak laki – laki yang diajak bicara tersebut hanya diam tak menanggapi, sementara anak lelaki satunya terkikik geli. Membuat sang guru piano menyadari sesuatu.” Ah, maaf… sepertinya ibu guru salah mengenali kalian lagi,ya?”

“Hem, aku bukan Baekhyun..” protes si anak laki-laki tadi lalu memanyunkan bibirnya.

“Maaf kan ibu guru,ya.” Sesal beliau lalu kembali mengusap kan tangan lembut di atas puncak kepala anak tersebut. Ah, sudah hampir empat bulan mengajar mereka, tetap saja dia masih mengalami kesulitan membedakan kakak adik kembar identik tersebut.

Lalu, ketika hari menjelang siang, Miss Arina mengakhiri kelas nya. Usai kepergian beliau, seorang laki-laki bertubuh besar memasuki halaman rumah dengan sempoyongan. Kemeja yang ia kenakan tampak sangat lusuh, kancing nya terbuka beberapa dan bau alcohol menguar dengan tajam dari tubuh nya. Ketika itu lah keributan mulai terjadi. Laki-laki yang merupakan ayah si kembar tersebut telah memusnahkan keceriaan dua besaudara itu. Menggantinya dengan rasa takut yang luar biasa.

Pertengkaran antara ayah dan ibu nya tidak bisa terhindarkan lagi. Selalu seperti itu, setiap kali laki-laki yang mereka sebut ayah itu pulang ke rumah. Seakan segala kedamaian yang ibu mereka berikan sirna sudah. Laki-laki itu seolah seorang teroris yang menebarkan ketakutan.

“Kau tidak boleh memukulnya!” salah satu dari dua anak laki-laki itu berdiri dihadapan ibunya yang kini tersungkur akibat pukulan keras yang ayah nya layangkan tepat di wajah. Suara tangis ibu nya membuatnya berani menjadikan dirinya sebagai tameng pelindung Sang Ibu.

Ayah nya menyeringai menakutkan,”Menyingkirlah bocah! Atau aku akan memukulmu juga!” teriak pria itu  membuat putranya bergidik ketakutan.

“Aku tidak akan menyingkir! Kau lah yang harus menyingkir dan pergi dari rumah ini! kau menyiksa ibu, kau membuat ibu menangis! Kau bukan seorang ayah, kau seorang monster !” entah mendapat keberanian darimana, bocah kecil tersebut dengan lantang mengatakan semua hal tersebut. Kemurkaan sang ayah semakin memuncak, tangannya bersiap melayangkan tinju ke arah putranya. Namun sebuah tarikan berhasil membuat putranya terhindar dari tinju tersebut. Melainkan sang ibu lah yang menjadi tempat mendarat nya tinju itu.

“Ibu…” lirih bocah laki-laki tersebut ketika melihat darah segar mengalir dari pelipis ibu nya. Tatapan matanya berpindah pada laki-laki yang kini tak sudi ia sebut sebagai ayah lagi. Amarah dan kebencian tergambar jelas di kedua bola mata bocah berusia lima tahun tersebut. Dia tidak ingin menjadi pria seperti ayah nya. Dia ingin menjadi pelindung bagi ibu juga adik nya.

Sementara itu, di balik lemari kayu yang terletak di sudut ruangan itu, sang adik duduk meringkuk. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Di usia belia, ia telah melihat begitu banyak hal yang tidak seharunsya ia saksikan. Pertengkaran yang berakhir dengan kekerasan.

Baekhyun terbangun dengan nafas yang memburu, ia bisa merasakan keringat dingin mengalir dari dahi nya. ia baru saja bermimpi buruk. Sesuatu yang jarang sekali menghampirinya. Apalagi, mimpi kali ini terasa begitu nyata. Seolah membawa Baekhyun kembali ke masa lalu. Ketika dirinya masih kanak-kanak.

“Oppa, kau baik – baik saja?” Sebuah suara berhasil membuat Baekhyun mengalihkan perhatiannya. Ia sedikit terkejut, saat mendapati Shin Young duduk di ujung ranjangnya. Entah sejak kapan gadis itu duduk disana.

“Apa kau bermimpi buruk?” tanya gadis itu.” Apakah tentang ibu? Kau terus mengigau memanggil ibu.”

Baekhyun mengusap wajahnya yang basah karena keringat dingin. Ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Dia pasti sudah berada di kamarnya cukup lama, hingga dia bisa menebak kalau Baekhyun bermimpi buruk.

“Aku terkadang juga memimpikan ibu. Mungkin kita bisa menjenguk ibu bersama,” gadis itu beranjak dari ranjang Baekhyun,” tentu saja, kalau oppa sudah tidak sibuk.” Tambah gadis itu lantas keluar dari kamar Baekhyun. Meninggalkan pria itu termenung sendirian di atas kasurnya.

Nasi dengan tauge, telur gulung, galbi, dan sup mentimun dingin. Semua menu tersebut telah tersaji di atas meja makan ketika Baekhyun keluar dari kamar nya dengan penampilan rapi. Tak perlu Baekhyun bertanya, karena sudah pasti Shin Young lah yang memasak semua makanan itu.

Ketika Baekhyun mendekat ke arah meja makan dan melihat makanan itu satu persatu, sebuah kenangan melintas di benaknya. Seketika membuat hatinya terasa sakit saat mengingat kenangan itu.

“Oh, Oppa…!” Shin Young muncul dari arah dapur. Baekhyun mengamatinya. Dia tampak segar dan ceria sekali. Di tangan nya terdapat nampan yang berisi dua buah cangkir yang entah berisi kopi atau teh.” Aku membuat teh ocha untukmu. Teh ocha sangat baik untuk merilekskan pikiran mu setelah mimpi buruk yang kau alami.” Gadis itu meletakkan dua cangkir teh ocha ke atas meja, kemudian berjalan ke arah pantry, meninggalkan nampan nya di atas sana.

“Ayo oppa, kita sarapan. Aku sudah memasak semua menu kesukaanmu.” Ajak nya lalu menarik salah satu kursi. Baekhyun tidak bergeming sama sekali. Baginya, situasi ini sangat awkward. Dia tidak pernah melakukan kegiatan sarapan seperti ini. Apalagi ditemani oleh seseorang yang mengaku sebagai anggota keluargamu, lebih tepat nya seorang adik.

“Aku tidak terbiasa sarapan.” Ucap Baekhyun berniat pergi menghindari situasi ini. Tapi, gadis itu berhasil menghentikan langkahnya. Dia menarik paksa Baekhyun agar duduk di kursi yang telah ia tarik tadi.

Entah sihir apa yang gadis itu gunakan, tapi Baekhyun kini benar-benar duduk di kursi makan dengan tenang. Matanya tidak lepas dari pemandangan Shin Young yang mengambilkan nasi untuk nya. Baekhyun mendesah. Demi Tuhan, ini aneh dan asing sekali. Terakhir kali Baekhyun berada di situasi seperti ini ialah bertahun-tahun yang lalu, saat ia berusia 5 tahun mungkin.

“Oppa, harus makan yang banyak. Lihat tubuh mu itu, kurus sekali…” mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Shin Young itu membuat Baekhyun memalingkan wajah tepat ke arah Shin Young. Mata mereka berdua saling bertemu untuk beberapa saat. Suasana berubah hening. Kecanggungan semakin terasa, Baekhyun pun lekas membuang pandangan nya ke tempat lain. Shin young pun melakukan hal yang sama. Dengan kikuk, ia mengambil satu mangkuk kecil sup mentimun dingin untuk kakaknya.

“Aku tidak suka mentimun.” Ujar Baekhyun tanpa melihat ke arah Shin Young. Tangan gadis itu terhenti di udara, sedikit terkejut dengan penuturan kakaknya.

“Benarkah? Bukankah dulu kau sangat menyukai mentimun?” balas Shin Young sambil meletakkan mangkuk nya kembali. Shin young tidak lupa sama sekali tentang apa yang disukai dan tidak disukai oleh kakaknya. Mentimun adalah salah satu yang disukai kakaknya.

“Aku tidak pernah menyukai mentimun sejak kecil.” Tegas Baekhyun sembari mengambil sendok. Kakak ku lah yang menyukai mentimun.” Lanjut Baekhyun di dalam hati.

Shin young mengangguk kan kepalanya beberapa kali sebagai tanda mengerti. Orang bisa berubah kapanpun, termasuk berubah tentang hal yang disukai atau tidak disukainya. Jadi Shin Young tidak perlu terlalu memikirkan hal itu.

Sebuah Audi hitam melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah padatnya jalanan kota Seoul siang itu. Dua orang pria yang berada di dalam mobil itu, Baekhyun dan juga Kai. Mereka baru saja mengakhiri pertemuan dengan Sang Bos Mafia Kanada bernama Kris Wu itu. Memberi keputusan tentang penawaran kerja sama bisnis narkotika.

“Turunkan kecepatan mobil nya, Kai. Aku tidak ingin berurusan dengan polisi karena laju kecepatan mobil ini.” tanpa mengalihkan pandangannya, Baekhyun memperingatkan partnernya tersebut. Yang kemudian disambut dengan seringaian mengejek dari pria berkulit eksotis tersebut.

“Sayangnya, aku tidak takut dengan polisi, Baek.” Kai sama sekali tidak mengindahkan peringatan Baekhyun. Ia justru mempercepat laju kendaraannya seolah menantang adrenalin rekannya. Baekhyun hanya mampu mendesah pasrah dengan kelakuan Kai. Sedikit memaklumi nya jika mengingat latar belakang Kai yang pernah bergabung dengan geng balapan mobil.

Kecepatan audi hitam tersebut menurun tatkala memasuki daerah Gangnam. Kai menghentikan laju audi nya tepat di depan sebuah café ternama di Gangnam. Dengan elegan, dua pria tampan tersebut keluar dari mobil. Mereka segera masuk ke café, berjalan mengahampiri seorang laki-laki yang duduk sendiri di kursi bagian belakang café.

Tak berselang lama, sebuah mini cooper warna putih juga berhenti di depan café tersebut. Kali ini, seorang pria yang tak kalah tampan dari Baekhyun dan Kai keluar dari mobil itu. Pria itu adalah Oh Sehun. Dia memasuki café dan menyambangi meja kasir. Memesan secangkir vanilla latte. Usai membayar dia memilih tempat duduk yang kebetulan tidak jauh dari tempat duduk Baekhyun dan juga Kai.

Pria bermarga Oh itu kemudian mengeluarkan handphone nya. Mengecek jadwal perkerjaannya hari ini. Dua jam setelah istirahat makan siang, ia harus kembali ke meja operasi. Sehun mendesah berat. Pikirannya sedang sangat kacau akhir-akhir ini, dan dia harus dihadapkan pada jadwal operasi yang menumpuk minggu ini.

Sehun sebenarnya bukan pecinta kopi. Ia lebih cinta pada buble tea nya, mungkin karena dia sedang dilanda stress, jadi dia mengingingkan kopi. Barangkali, secangkir kopi bisa sedikit menenangkan pikirannya. Begitu kopi yang dia pesan telah datang, Sehun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Terima kasih.” Ucap Sehun pada waitress yang mengantar kopi nya. Ia pun mulai menyeruput kopinya. Di edarkannya pandangan ke seluruh penjuru kafe. Sesuatu yang janggal menghampirinya, hampir semua orang yang singgah di café ini tidak sendirian. Ada dua orang di sudut depan café yang tampaknya sepasang kekasih, lalu se gerombolan wanita yang tampak riuh memperbincangkan sesuatu yang tentunya tidak jauh – jauh dari make up, fashion, barang – barang branded juga laki-laki tampan semacam Sehun tentunya. Bahkan salah satu dari mereka ada yang terang-terangan memberi tatapan memuja pada Sehun. Membuat dokter muda itu risih, lalu dengan cepat membuang pandangannya ke arah lain. Tepatnya ke sebuah meja di bagian sudut belakang café.

Tampak tiga orang laki-laki tengan berbincang serius. Seorang laki-laki jangkung, lalu pria berkulit gelap, dan seorang lagi yang terlihat tidak asing di mata Sehun…

Sehun mengamati orang tersebut dengan seksama. Sesaat kemudian, Sehun baru sadar bahwa itu adalah kakak nya. Ya, tidak salah lagi. Orang itu adalah kakaknya. Mulut Sehun terbuka, siap melontarkan sapaan untuk kakak nya. Namun sesuatu menahan bibir nya untuk berucap.

Sehun memperbaiki posisi duduk nya. Dari sudut matanya, ia meneliti penampilan orang itu dengan baik. Celana jeans hitam, juga jaket kulit berwarna coklat tua, rambut coklat madu. Sehun memejamkan matanya. Dengan kuat ia menggelengkan kepalanya. Orang itu tidak terlihat seperti kakaknya. Caranya berpenampilan, sungguh bukan style kakak nya. Tapi wajahnya….

Sehun kembali memperhatikan orang tersebut. Lalu dengan satu gerakan cepat, ia meninggalkan tempat duduknya. Ia keluar dari café tersebut. Tanpa menunggu lebih lama, Sehun mengeluarkan ponsel lalu menghubungi kakak nya. Ia penasaran sekali dengan apa yang terjadi. Dari luar, Sehun tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari orang itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa orang tersebut akan menerima panggilan telepon. Hingga…

“Halo…” suara kakaknya terdengar dari speaker ponselnya. Nafas Sehun tercekat,” Halo, Sehun? Ada apa?”

Sehun membisu. Orang itu tetap asyik mengobrol dengan kedua rekannya disana. Lalu, kakak nya pun bisa menjawab panggilannya. Lalu, siapa orang itu?

“Sehun, apa kau baik-baik saja?”

“Hyung?” suara Sehun bergetar.

“Ya, ini aku. Apa kau baik baik saja, Hun? Kau butuh bantuan ku?”

“Sekarang, kau ada dimana?”

“Oh, aku di tempat les piano. Ada apa? Kau ingin berkunjung kesini?”

“Apa kau benar-benar ada disana?”

“Tentu saja, Hun. Kau tentu bisa mendengar suara denting piano, kan?”

Sehun mengangguk. Ia mendengar suara denting piano, itu artinya kakak nya memang sedang berada disana.” Apa kau baik-baik saja? Suara mu terdengar aneh.”

“Aku baik-baik saja, Hyung. Maaf, mengganggumu.” Sehun memutus sambungan secara sepihak. Ia masih belum bosan mengamati orang itu. Sehun sangat yakin, kalau amoeba bisa membelah diri, tapi Sehun tidak yakin jika manusia bisa membelah diri. Tidak mungkin, kakak nya ada di dua tempat berbeda di waktu yang sama. Kecuali, jika…

Kris Wu bukan pemain baru dalam dunia bisnis hitam para mafia atau pun gangster. Ia tumbuh besar di lingkungan para gangster sejak ia berusia lima tahun. Orang tua nya meninggal dibunuh para gangster jalanan saat itu, seorang anggota gangster yang lain menyelematakannya lalu menjadikannya sebagai anak asuh. Saat ia berusia tujuh belas tahun ia mewarisi seluruh kerajaan bisnis dari orang tua angkat nya, juga mendapat kehormatan sebagai pemimpian The Scorpion. Menjadikannya sebagai pemimpin mafia termuda saat itu.

Kris Wu seorang laki-laki yang tegas dan penuh karisma. Di otak nya selalu muncul pemikiran pemikiran yang membuat kelompok nya semakin besar dan kuat setiap hari nya. Ia disegani juga ditakuti oleh para pimpinan gangster di seluruh daratan Amerika. Kini, tujuan Kris adalah menaklukkan wilayah Asia-yang saat ini masih dikuasi oleh para Yakuza ataupun TRIAD. Kris memulai langkah nya di Korea. Ia mengirim salah satu anak buah  terbaik nya ke negeri ginseng itu. Mencari tahu gangster mana saja yang layak untuk di ajak bekerja sama dengan The Scorpion. Selain itu juga mencari tahu seluk beluk negeri itu, terutama terhadap sistem birokrasi politik dan juga hukum.

Nama Red Fox- salah satu gangster yang menguasai kota Seoul dan beberapa kota besar di Korea Selatan pun mencuri perhatiannya. Sebuah gangster yang terbilang belum lama beroperasi, tapi mampu memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas. Maka, penyelidikan pun di fokuskan pada gangster yang dipimpin Baekhyun tersebut.

Kris Wu menawarkan kerja sama penyelundupan narkotika di negeri itu. Tentu dalam jumlah besar yang disertai dengan keuntungan besar untuk kedua belah pihatk. Pembicaraan antar pemimpin telah dilakukan beberapa hari yang lalu, hingga sekitar satu jam yang lalu, Baekhyun dan juga Kai-partner nya datang memberi jawaban.

Sungguh tidak Kris duga, jawaban Baekhyun jauh dari prediksinya. Sebelumnya, ia sangat yakin kalau Baekhyun akan menerima tawaran tersebut. Tapi perkataan Baekhyun satu jam yang lalu membuat Kris merasa harga dirinya sebagi ketua mafia kelas kakap telah ditampar dan dihina.

“Maaf, Tuan Wu, tapi aku tidak tertarik dengan kerja sama yang kau tawarkan…” serentetan penjelasan Baekhyun berikutnya membuat Kris sangat muak dan juga membuat telinganya terasa panas. Selama bertahun tahun ia berkecimpung dalam bisnis kotor dan hitam ini, dia belum pernah satu kalipun ditolak. Red Fox adalah yang pertama menolak uluran tangan The scorpion. Baekhyun bahkan tidak tertarik dengan keuntungan menggiurkan yang Kris tawarkan.

“Aku memang bukan orang yang baik, Tuan Wu. Tapi, setidaknya aku tidak ingin merusak orang dengan narkoba ataupun membahayakan anggota ku yang lain jika harus berurusan dengan polisi. Aku belum berani mengambil resiko.”

Kris tertawa ringan. Tidak berani mengambil resiko? Lalu, ganster macam apa yang tidak berani mengambil resiko. Itu terdengar sepreti sebuah lelucon di telinga Kris. Bukankah gangster ataupun mafia memang sudah biasa terjun di dunia bisnis hitam yang penuh dengan resiko? Lalu?

Kris Wu kembali tertawa saat teringat ucapan Baekhyun tersebut. Namun, tawa itu lama kelamaan terdengar seperti geraman amarah. Bunyi  kaca pecah menyusul kemudian. Botol wine yang sedari tadi digenggam Kris hancur berkeping keping setelah menghantam tembok.

“Jason!” seru Kris pada salah satu anak buahnya. Pintu terbuka, menampakkan seorang laki-laki tinggi berambut pirang.

“Tuan memanggilku?” Kris menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepala sekaligus jentikan jari yang mengisyaratakan Jason untuk mendekat.

“Kumpulkan semua loyalis Baekhyun malam ini di kasino.” Titah Kris pada Jason.

“Baik, Tuan. Ada perintah lainnya?”

“Tidak.” Jawabnya tegas. Jason undur diri. Ia menutup pintu, bersama seorang teman nya yang lain ia pun menjalankan perintah tuannya tersebut.

Kris bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela besar di ruangannya tersebut. Matanya memandang lurus menembus kaca yang menampakkan pemandangan gedung – gedung pencakar langit.

“Tikus kecil menghina Sang Raja Rimba, kira-kira apa yang akan terjadi?”

Hari telah menjelang sore ketika seorang laki-laki bertopi biru tiba di depan kediaman Tuan Lee Jae Ha. Dia memandang pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu untuk beberapa saat. Sedikit keraguan menyelinnap di hati nya, namun keraguan itu singgah tak lama. Ia melangkahkan kaki nya mendekat ke arah bel yang terletak di sisi kiri pintu gerbang tersebut. Satu, dua hingga tiga kali ia menekan bel tersebut. Namun, tidak ada tanda-tanda seseorang membuka kan pintu untuk nya. Maka ia pun menekan bel itu sekali lagi.

Terdengar suara derit pintu terbuka, hanya saja suara derit pintu itu tidak berasal dari pintu di hadapannya melainkan dari arah pintu sebelah yang merupakan pintu gerbang tetangga. Seorang nenek berusia kira-kira 60 an tahun muncul dari pintu tersebut.

Laki-laki itu membungkuk hormat pada nenek itu juga mengucapkan salam.

“Apa kau mencari tuan Lee Jae Ha?” tanya nenek itu dengan suara serak khas orang tua.

“Ya, aku mencari beliau tapi sepertinya tidak ada.” Jawab laki-laki tersebut.

“Oh, dia beserta istri dan putrinya pergi ke Busan tadi pagi karena salah satu kerabat mereka meninggal.”

“Oh, begitu. Jadi, kapan mereka kembali?”

“Kalau soal itu aku tidak tahu.”

Laki-laki itu berpikir sejenak. Ia kembali memandang rumah tersebut. Sebenarnya sudah sejak lama ia ingin berkunjung ke rumah ini tapi saat ia melihat bagaimana keadaan kaki nya yang belum sembuh sempurna membuat nya mengurungkan niatnya. Ada seseorang yang ingin dia temui. Seseorang yang sangat penting di hidupnya.

“Baiklah, nek. Kalau begitu aku pamit. Terima kasih atas bantuannya.” Nenek itu hanya mengangguk lantas kembali ke rumah nya. Begitu pula laki-laki itu, dengan tongkat nya ia berjalan pelan menuju halte bis. Sesekali, ia melihat ke arah rumah tuan Lee Jae Ha. Entah mengapa, di salah satu sisi hatinya, laki-laki itu merasa sangat sedih dan kosong. Ia merasa bahwa seharusnya ia datang ke rumah ini sejak awal ia tahu bahwa orang itu tinggal di sini. Seharusnya, ia tak perlu mempedulikan kondisi kaki nya yang cacat itu. Kini, ia menyesal. Seolah ada sesuatu yang terlambat dari semua ini.

Kalau saja bantal berwarna coklat dengan motif polkadot itu bisa bicara, pasti bantal itu akan mengatakan bahwa dirinya merasa kesakitan. Bagaimana tidak, ia terus dicubiti dan digigit oleh si pemakai nya yang tak lain adalah Lee Shin Young.

Gadis itu sedang galau. Berkali-kali ia melihat ke arah jam dinding di ruang tengah tempat nya berada saat ini. Jarum jam telah melewati angka dua belas, matahari telah tenggelam berjam-jam yang lalu, itu artinya sudah lewat tengah malam. Dan orang yang ia tunggu belum juga datang. Shin young cemas. Bagaimana bila terjadi sesuatu dengan kakak nya? Ya, walaupun hal itu sangat tidak mungkin jika mengingat siapa kakak nya. Mana ada yang berani melawan kakak nya yang merupakan ketua kelompok gangster. Tapi tetap saja, Shin Young merasa khawatir. Atau jangan-jangan kakak nya memang tidak pulang?

Aish !! Shin Young mengacak rambut nya dengan frustasi, tak lupa pula ia memukul-mukul bantal polkadot coklat itu untuk melampiaskan seluruh perasaannya yang tak menentu ini. Apa yang harus ia lakukan untuk mengusir rasa cemas bercampur bosan ini? Gadis itu bertopang dagu…dahinya berkerut. Memikirkan beberapa opsi yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa cemas, bosan dan juga rasa kantuk yang juga mulai melanda. Gadis itu berjingkat dari tempat duduknya tatkala sebuah ide brilliant muncul di otak nya. Senyuman yang indah tersungging dari bibir nya.

Gerimis membasahi bumi ketika Baekhyun tiba di rumah nya setelah jarum jam menunjuk angka dua. Setelah memarkirkan mobil nya di garasi, dengan langkah gontai ia menyusuri lorong kecil yang menghubungkan garasi dengan rumah utama. Tak perlu finger print untuk mengakses pintu menuju rumah utama, cukup dengan lambaian tangan dan pintu pun terbuka.

Lampu utama telah sepenuhnya temaram, hanya tersisa beberapa lampu kecil yang menyala sebagai lampu cadangan. Keadaan rumah sunyi, hanya terdengar suara gerimis saja. Baekhyun sudah terbiasa disambut dengan kesunyian ketika ia pulang ke rumah nya. Karena memang hanya Baekhyun yang menempati rumah itu. Walau sesekali kai, Lay ataupun anak buah nya yang lain juga menginap di rumah nya.

Laki-laki itu mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas. Dalam beberapa kali tegukan, air dingin tersebut sudah habis. Sambil melepas jaketnya, Baekhyun berjalan menaiki tangga. Saat itulah, kesunyian yang biasa menyambut Baekhyun sirna. Langkah nya terhenti di tengah tangga. Sayup-sayup ia mendengar sebuah suara dentingan piano. Baekhyun menajamkan indra pendengarannya. Dan memang benar. Itu suara piano. Tapi, siapa yang memainkan piano di tengah malam seperti ini? hantu? Itu jelas tidak mungkin. Lalu siapa? Ups, Baekhyun baru ingat kalau ia tidak lagi sendirian menghuni rumah ini. Ada satu orang lagi. Yaitu Lee Shin Young.

Baekhyun pun mempercepat langkah kaki nya menaiki tangga. Begitu mencapai lantai dua, Baekhyun di buat membeku di tempat nya. Seluruh indra pendengaran dan indra penglihatannya terfokus pada satu moment yang terjadi di ruang tengah lantai dua tempat grand piano nya diletakkan.

Indra pendengarannya menangkap melodi indah dan juga lirik lagu yang begitu akrab di telinga Baekhyun. Sementara indra penglihatannya terpana pada sosok gadis yang duduk di kursi menghadap piano tersebut. Dengan lincah jari nya memainkan tuts piano.Tubuh yang sesekali bergoyang ke kanan dan ke kiri.

Oh tuhan, Baekhyun merasa dirinya ditarik ke masa lalu.

Sunyi. Nada – nada yang tadinya menghiasi kesunyian itu kini telah hilang, tenggelam bersama suara rintik hujan yang begitu deras di luar sana. Lee Shin Young tersenyum mengakhiri permainannya. Ia merasa baru saja mendapatkan jiwanya lagi setelah sekian lama jiwa nya tidak disirami dengan nada-nada piano yang indah. Shin young merasa sangat hidup.

Begitu ia berbalik, ia menemukan Baekhyun berdiri tegap di ambang tangga. Gadis itu menatap kakak nya. Tak ada kata yang terucap, tapi begitu melihat Baekhyun berdiri disana, hati Shin Young luruh dalam kehangatan. Rasa cemas nya telah larut bersama air hujan. Shin young berjalan menghampiri kakak nya, yang masih diam mematung.

“Kau tahu, aku sangat menghkhawatirkan mu. Tapi begitu melihat kau sudah berdiri disini, rasa cemas ku telah hilang.” Shin young memberikan senyum terbaik nya sebagai tanda bahwa kecemasannya telah berakhir. Saat  tidak mendapatkan jawaban apapun dari kakak nya, kecemasan itu kembali.

“Oppa, kau baik-baik saja kan?” tanya Shin young dengan alis bertaut. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Baekhyun, tapi yang jelas ia bisa melihat sinar mata kakak nya meredup. Seolah kesedihan baru saja menghampiri nya.

“Oppa…” Shin young berbisik, tangannya bergerak meraih tangan Baekhyun. Tak ada reaksi dari Baekhyun, laki-laki itu tidak menolak sentuhan tangan dari gadis itu. Padahal biasanya, Baekhyun paling anti dengan skinship gadis itu.

“Kau bisa bermain piano ya?” tanya Baekhyun tiba-tiba. Matanya tertuju pada grand piano. Gadis itu memutar kepalanya ke arah piano, sejenak kemudian ia mengangguk juga tersenyum pada Baekhyun.

“Ayo, kita mainkan lagi piano itu.” Baekhyun berjalan menuju piano nya, sementara Shin Young masih berdiri di tempat nya. Sedikit terkejut dengan ajakan Baekhyun tersebut. Hei, Shin young sedang tidak bermimpi kan? Setelah sekian lama, ia tidak bermain piano dengan kakak nya, kini kesempatan itu datang. Ini benar-benar keajaiban.

“Hei, kenapa masih berdiri disitu?!” tegur Baekhyun yang telah duduk bersiap di depan piano nya. Shin young pun buru-buru menyusul kakak nya.

“Hyung, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan mu…”Sehun menghampiri kakak nya yang sedang memainkan beberapa lagu klasik dengan piano nya. Malam ini Sehun kembali menginap di apartemen kakak nya. Setelah apa yang dia lihat tadi siang, sepertinya Sehun memang harus membicarakan beberapa hal dengan kakak nya tersebut.

“Kebetulan sekali, aku juga ingin menanyakan sesuatu pada mu.” Kakak nya mengangkat jari jemari nya dari atas tuts, ia membalikkan tubuh nya. Menatap Sehun yang kini telah berdiri tepat di samping nya.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku, Hun? Apa ini tentang gadis yang kau sukai itu?” tanya laki-laki itu.

“bukan. Ini bukan tentang dia.” Jawab sehun dengan tegas. Pria itu lantas menarik salah satu kursi untuk duduk. Kini dua laki-laki itu duduk saling menghadap. Entah mengapa pembicaraan kali ini terasa serius dan sedikit menegangkan.

“aku ingin kau memulai lebih dulu, hyung. Apa yang ingin kau tanya kan pada ku?” tanya sehun yang disambut kakak nya dengan helaan nafas yang cukup panjang. Laki-laki dewasa itu membuang wajah kea rah jendela kaca yang menampakkan gerimis di luar sana.

“bisa kah kau menjelaskan padaku tentang siapa lee shin young itu sebernarnya. Gadis yang kau suka itu.”

Oh sehun tidak menyangka kalau kakak nya akan menanyakan tentang lee shin young. Dahi nya berkerut samar, mungkinkah kakak nya mengenal lee shin young? Sehun tidak berkutat lama dengan pikirannya, dengan ringan ia menjelaskan jati diri lee shin young. Dimulai dari lee shin young yang merupakan anak angkat dari tuan lee jae ha, sehun menjelaskan semua hal yang ia ketahui tentang lee shin young. Semua hal kecil yang sehun tahu tentang diri gadis itu pun juga ia ceritakan pada kakaknya. Dan selama sehun menceritakan itu semua, sehun sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari wajah kakak nya. sehun mendapati bagaimana ekspesi wajah kakak nya yang berubah selama sehun bercerita. Wajah hangat itu berubah menjadi sendu. Diliputi rasa sedih yang bercampur dengan penyesalan.

“jadi, apa kau mengenal lee shin young, hyung?” tanya sehun masih tidak mengalihkan perhatian dari wajah kakak nya. beberapa menit berlalu, tapi tidak ada suara dari kakak nya. sepertinya lelaki itu enggan menjawab. Terbukti beberapa saat kemudian, ia mengalihkan topic pembicaraan.

“lalu, apa yang ingin kau bicarakan denganku, hun? Mungkinkah kau akan bertanya tentang jati diri ku yang sesungguh nya? latar belakang keluarga ku atau mungkin masa lalu ku?”

Sehun sangat tahu bahwa kakak nya adalah orang yang sangat cerdas. Jadi, sehun tidak heran kalau kakak nya bisa menebak isi pertanyaan di kepala nya dan bahkan ia tahu kemana pembicaraan ini akan berlanjut. Sehun tak memberi jawaban, karena selanjut nya ia sibuk mendengarkan kisah yang kakak nya tuturkan.

Kapan terakhir kali Baekhyun bermain piano? Entahlah… Baekhyun sendiri lupa. Mungkin enam atau sepuluh tahun lalu, bahkan mungkin lebih dari itu. Meski tidak ingat lagi kapan terakhir kali nya Baekhyun memainkan jari nya diatas tuts piano, lelaki itu masih ingat dengan jelas kapan pertama kali ia memainkan piano dengan jemari lincah nya. Mungkin saat itu usia nya empat tahun, ketika ibu pertama kali mengenalkan cara-cara dasar bermain piano. Saat itu, Baekhyun kecil bermain piano hanya dengan kedua jari telunjuk nya, menekan nada do re mi terus menerus karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Walau hanya bisa melakukan hal tersebut, tapi bagi anak kecil berusia empat tahun itu adalah sesuatu yang luar biasa. Tidak henti – henti nya Baekhyun kecil terus menekan nada do re mi tersebut, hingga ia lupa makan, lupa bermain dengan ibu juga kakak nya. Baekhyun sangat bahagia, ia menemukan piano sebagai dunia nya.

Namun kini, piano tak lagi menyenangkan. Setiap kali ia melihat piano yang terpajang di ruang tengah lantai dua itu, Baekhyun selalu berakhir dengan air mata meleleh karena teringat dengan semua masa kecil nya. Tak ada satu pun yang mengetahui air mata itu, bahkan orang-orang terdekat nya sekalipun. Sebut saja, Baekhyun itu gangster cengeng, karena memang kenyataan nya seperti itu. Lelaki itu tidak pernah tahu bahwa masa depan nya akan berakhir menjadi gangster seperti ini. Bukannya pianis seperti yang ia impikan dulu.

Baekhyun tertawa miris saat mengenang masa masa itu. Kini ia terduduk di lantai balkon, bersandar pada dinding kaca yang menjadi pembatas antara rumah dan balkon nya. Langit kelam, ditemani suara rintik hujan yang mengguyur tidak begitu deras juga detik jarum jam yang berputar. Sunyi.

Disamping nya, Shin Young juga melakukan hal yang sama. Gadis itu menekuk lutut nya, dan menaruh dagu nya bertumpu pada kedua lutut nya. Sedari tadi ia memandangi rintik hujan di kegelapan malam itu. Ia pun juga mengingat masa kecil nya yang ia lalui bersama oppa nya. Ia ingat betul bagaimana cara kakak nya bermian piano. Kakak nya sedikit kaku saat melakukan fingering tangan kiri, tapi apa yang ia lihat tadi, benar benar luar biasa. Fingering yang sempurna, permainan yang indah.

Shin young melirik ke arah kakak nya yang termenung. Ia tersenyum simpul. Bersyukur bahwa kakak nya tidak lupa cara memainkan piano meski sudah bertahun – tahun tidak memainkannya karena terlalu sibuk dengan gang nya.

“Oppa benar-benar pianis yang hebat.” Celetuk Shin Young memecah keheningan malam itu. Baekhyun menoleh ke arah Shin Young yang kini memandang nya dengan senyuman cerah. Yang Baekhyun balas dengan senyuman simpul.

Pianis hebat katanya? Baekhyun tidak habis pikir dengan pujian itu. Sebernar nya ia sendiri juga heran, sudah lama ia tidak menekan tuts piano, tapi aneh nya ia masih bisa memainkannya dengan lancar, mengingat melodi dan tempo nya dengan tepat. Ia juga merasa aneh pula tatkala melihat Shin Young memainkan piano tadi, begitu melihat betapa senang nya gadis itu memainkannya, Baekhyun seperti mendaptkan energy untuk bermain piano lagi. Gadis itu seolah menyihirnya. Sejenak ia lupa bahwa dia adalah ketua gangster, sejenak ia lupa betapa gelap nya dunia yang ia jalani saat ini. Tapi sihir yang gadis itu lakukan, membuat Baekhyun tanpa sadar terus tersenyum saat bermain piano tadi. Ini aneh. Sangat.

“Kau juga pianis yang hebat. Usia berapa kau mulai belajar bermain piano?” tanya Baekhyun.

“Aish, oppa lupa ya,..” gadis itu memberengut menatap Baekhyun.

“Tentu saja aku lupa. Itu sudah bertahun tahun yang lalu.” Jawab Baekhyun percaya diri. Padahal, sejati nya Baekhyun memang tidak tahu.

“Aku sedih kakak tidak ingat hari itu. Padahal itu hari yang penting bagi ku.” Nada suara Shin Young terdengar kecewa, meski begitu gadis itu tetap antusias menceritakan salah satu kenangan terbaik nya tersebut pada sang kakak.”saat itu merupakan ulang tahun ku yang kelima. Ibu mengadakan sebuah pesta sederhana untuk merayakan hari jadi ku itu. Teman – teman sekolah ku datang bersama orang tua masing – masing. Mereka juga tidak lupa membawa kado untukku. Saat malam tiba, aku membuka semua kado yang kuterima. Namun, aku sangat sedih karena tidak menemukan satu pun kado atas nama kakak. Aku sedih dan kecewa, padahal kado dari kakak adalah yang paling aku tunggu. Tapi siapa sangka, Oppa memberikan kado istimewa sebelum aku tidur. Oppa mengajakku ke ruang tengah, dimana ada grand piano disana. Dengan indah kakak menyanyikan sebuah lagu untukku.”

Shin Young tersenyum mengingat hari itu. Ia pun terdiam karena tenggelam dalam kenangannya. Lain hal nya dengan Baekhyun yang justru merasa sangat penasaran dengan cerita tersebut.

“Hei, kenapa diam.” protes Baekhyun,”ayo lanjutkan ceritamu.” Lee shin young tidak menanggapi protes Baekhyun tersebut. Membuat Baekhyun menjadi kesal.

“Hei, kau tidak mendengar ku ya?” tanya Baekhyun lalu mendekatkan wajah nya ke arah Shin young. Membuat gadis itu reflek menjauh.

“Apa?” tanya Shin young sedikit gugup karena posisi wajah mereka yang cukup dekat.

“Cerita mu tadi. Ayo lanjutkan…”

“Tidak ada yang perlu dilanjutkan.”

“Haa? Apa maksudmu?”

“Maksudku, cerita nya berhenti disitu.”

Baekhyun menatap Shin young dengan pandangan campur aduk. Lelah, kecewa dan kesal karena merasa dipermainkan oleh Lee shin young. Padahal dia sangat memperhatikan cerita Shin young dan menanti kelanjutannya. Tapi gadis itu seenak nya saja mengatakan cerita nya berhenti disitu. Ck, Baekhyun benci dengan cerita yang berakhir menggantung seperti itu.

“Sepertinya cerita mu itu hanya kebohongan saja.” Ucap Baekhyun lalu menjauhkan wajah nya. Membuat Shin young bisa bernafas sedikit lancar, karena jujur saja, saat wajah Baekhyun mendekat tadi Shin young sempat merasa  sesak nafas. Ini aneh, mengingat Baekhyun adalah kakak nya senidri.

“Aish, aku tidak bohong oppa!” sahut Shin young dengan kesal. Tadi nya ia berharap bahwa cerita nya itu bisa membuat kakak nya mengingat sedikit saja tentang kenangan mereka.

Mendengar nada kekesalan Shin young, entah mengapa tidak membuat Baekhyun merasa kesal. Ia justru tersenyum samar ketika mendapati wajah Shin young yang ditekuk dan bibir nya yang sedikit manyun. Imut. Dia benar  – benar terlihat seperti seorang adik kecil di mata Baekhyun.

“Kalau kau memang tidak berbohong, bisakah kau memberi tahu ku lagu apa yang kakak mu mainkan sebagai hadiah ulang tahun mu?” tanya Baekhyun dengan nada lembut.

Lee shin young tercenung. Ia menatap Baekhyun tepat di kedua bola mata hitam kakak nya tersebut. Ia seolah melihat sebuah kenangan indah terpancar dari kedua bola mata itu. Shin young tersenyum. Dengan lembut ia memberitahukan judul lagu yang kakak nya hadiahkan pada nya dulu…

“Tik tik bunyi hujan. . .” Shin young mendendangkan lirik sekaligus judul lagu tersebut. Perlahan, ia melanjutkan dendangan lagu nya,” di atas genting… air nya turun tidak terkira, cobalah tengok.. dahan dan ranting, pohon di kebun basah semua…”

Kesunyian kembali merayap. Sementara lagu yang baru saja Shin young senandungkan seolah menjadi mantra pemanggil hujan, karena tak lama kemudian suara rintik  hujan kembali terdengar. Baekhyun menundukkan wajah nya, dengan mata yang terpejam ia coba menghalau air mata yang hendak mengaliri pipi nya. Namun, apa yang diusahakannya tak menuai hasil tatkala Shin young kembali mengalunkan lagu itu lagi. Dengan rintik hujan sebagai musik pengiring, lagu itu terdengar lembut dan sarat kenangan. Pertahanan Baekhyun pun runtuh. Sebulir air mata lolos membasahi pipi nya. Bibir nya yang sedari tadi terkatup rapat, perlahan terbuka ikut menrapalkan lagu masa kecil yang hingga saat ini masih dia ingat.

“Air nya turun tidak terkira, cobalah tengok dahan dan ranting,,, pohon di kebun basah semua..”

Pipi baekhyun basah oleh air mata. Semua kenangan yang tersimpan rapi di dalam jiwa nya satu per satu muncul seperti sebuah scene film.

“Oppa, apa kau tahu mengapa banyak orang mengenang saat hujan?” tanya Shin young tanpa melihat kearah Baekhyun yang kini tertunduk menahan air mata.

“Karena kenangan itu seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikannya? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendiri nya.”

To Be Continue

A/N ; Hai, adakah yang masih ingat cerita ini? hehe, kalau masih ada yang ingat, makasih banget. Karena beberapa kesibukan, cerita ini sempat tertunda. Maaf ya.. saya harap masih ada yang menunggu kelanjutan cerita ini. tolong tinggalkan komentar sebagai bentuk dukungan dan semangat ya. Thanks a lot for you guys 😉

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] The Sound of The Rain (Chapter 6)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s