[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 8)

After The Wedding (Chapter 8)

Author : WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. Oh Jae Ra. Sean Jung.

Genre: Hurt. Marriage Life. Romance. Life Family.

Summary: ‘You make me disspointed.’ –Sean.

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

https://whiteblove.wordpress.com/

 

Sebuah benda persegi dengan layarnya yang masih menyala menjadi objek benda yang tengah wanita ini amati. Sedari tadi ia tengah mencoba menelpon putra satu-satunya yang belum juga pulang. Mungkin sudah hampir puluhan panggilan yang ia lakukan untuk dapat berbicara dengan Sean, namun setelah suara sambungan telpon, hanya suara seorang oprator lah yang kembali terdengar, memberitahukan bahwa ia harus mencoba panggilan selanjutnya beberapa saat lagi karna si pemilik nomor tak kunjung menjawab.

Jae Mi baru ingat, dua hari yang lalu Sean memberitahukannya bahwa ia diajak pergi oleh teman-teman disekolahnya kesuatu tempat untuk menghabiskan waktu bersama. Wanita ini hanya mencoba berpikir positiv, mungkin pemuda itu tengah asik sampai-sampai dering telponnya tak terdengar atau bahkan memang sengaja diacuhkan agar tak mengganggu kesenangannya.

Jae Mi kembali meraih ponselnya dan menggeser menu dilayar untuk menekan suatu icon berwarna hitam.

Kali ini Jae Mi menyerah, Sean tak akan pergi jauh atau bahkan pulang begitu terlambat, pikirnya. Ia kembali asik dengan ponselnya seraya duduk disofa berwarna putih diruang tamu ini.

Mata Jae Mi dimanjakan dengan beberapa gambar makanan yang terlihat begitu lezat karna memang sebenarnya cacing didalam perutnya seperti tengah berpesta. Ditambah lagi ia baru menyadari bahwa sepuluh menit lagi adalah waktu untuk makan malam.

Sesaat bell pintu apartemen berbunyi menandakan seseorang baru saja masuk kedalam.

Jae Mi langsung bangkit dari duduknya meskipun matanya masih asik melihat deretan menu disebuah web pemesanan makanan cepat saji.

“Kya.. kenapa kau baru pulang?” tanya Jae Mi yang masih saja fokus pada ponselnya. Meskipun begitu, ia  dapat menyadari bahwa kini pemuda berumur lima belas tahun yang sedari tadi ia tunggu kepulangannya telah berdiri tak jauh darinya.

Pemuda yang disadari keberadaannya oleh sang ibu ini masih terdiam. Ia enggan untuk menjawab karna kini pandangannya benar-benar tertuju pada wajah figur yang terlihat begitu asik dengan ponselnya.

“Mom malas masak, kita delivery pizza ok?! Sepertinya enak.”

Sean dapat mendengar kembali suara sang ibu. Namun untuk kedua kalinya ia memilih untuk kembali diam, ada sesuatu didalam hatinya yang tengah ia tahan agar tak muncul kepermukaan dengan begitu kasar karna ia tak mau menyakini wanita dihadapannya ini.

Tak kunjung mendengar jawaban yang terlontar dari anaknya, Jae Mi langsung menaikan pandangannya untuk menatap kearah Sean. Tepat. Pemuda itu tengah memandang kearahnya.

Mata mereka saling bertemu, namun untuk beberapa detik hanya keheningan yang menghampiri keduanya.

“Tebak, tadi aku bertemu dengan siapa?!” ucap Sean dengan suaranya yang terdengar pelan namun tegas dibarengi dengan mata yang mulai terlihat memerah.

Kening Jae Mi sedikit berkerut dan detak jantung didalam dadanya terasa begitu cepat memompa darah ditubuhnya.

Suasana antara keduanya terasa menegang, dan untuk kali ini tatapan dari Sean yang ia terima dengan begitu tajam tak dapat dipahami dengan cepat oleh akal Jae Mi.

“Dad.”

Jae Mi dibuat mematung saat Sean baru saja menjawab semua kebingungan yang melandanya beberapa detik yang lalu. Bahkan kini ponsel yang tengah Jae Mi pegang terasa begitu berat untuk ia genggam.

“I met with him.”

Detikan jarum jam yang menempel di dinding seperti sudah kehilangan fungsinya. Jae Mi kehabisan kata-kata untuk menjawab ucapan Sean yang sepertinya sangat membutuhkan banyak penjelasan untuk pemuda itu dengar.

“Why you didn’t tell me about your past, Mom?! Why you didn’t tell me that I had a little sister?!! Even she is my twins?!!!”

Mata Jae Mi begitu reflek terpejam saat Sean meneriakan pertanyaannya dengan notasi suara yang semakin meninggi.

“Why?!!!” Bentak Sean kembali.

Air mata Jae Mi jatuh begitu saja tanpa dikomando saat kini hanya deru nafas tak teratur milik Sean yang dapat ia dengar. “Sean!” ucap Jae Mi yang kembali mencoba membuka matanya dan menatap Sean.

Hanya mata Sean yang kini menjadi fokus Jae Mi, wajah sang pemuda terlihat lesu setelah beberapa detik lalu sebuah amarah meluap dengan begitu cepatnya. “You make me disspointed.”.

Jae Mi rasanya ingin terjun dari lantai teratas gedung ini setelah mendengar bahwa Sean begitu kecewa terhadapnya meskipun Sean mengucapkan kalimatnya dengan begitu pelan tanpa bentakan lagi.

Sean langsung pergi melangkahkan kakinya saat melihat begitu banyak cairan bening yang jatuh dari pelupuk mata sang Ibu. Amarah yang sejak berpuluh-puluh menit lalu ia tahan agar tak meluap dengan kasar dihadapan ibunya kini tertumpah sudah seperti apa yang tak ia harapkan.

“Sean!!” Jae Mi berusaha menyusul langkah kaki Sean saat putranya tersebut berhasil pergi dari hadapannya menuju sebuah pintu berwarna putih yang tak lain adalah pintu kamar Sean.

“Tolong dengarkan Mom terlebih dahulu, Sean.” tubuh Jae Mi terasa begitu lemas saat kakinya yang tadi ia perintahkan untuk segera menyusul langkah Sean kini hanya bisa diam menopang tubuhnya sendiri.

Dada Jae Mi terasa sangat sakit saat tadi ia menerima bentakan Sean yang begitu murka terhadapnya.

Jae Mi menyadari betul sikap bodohnya yang telah memisahkan sepasang saudara kembar yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri untuk saling berjauhan, dan bahkan membuat salah satunya tak menyadari tentang adik kecil yang berumur sama dengannya.

Umpatan kasar begitu keras Jae Mi hujani pada dirinya sendiri. Ia menyesal, menyesal tak memberitahukan Sean tentang adik perempuannya, menyesal tak menceritakan begitu cantiknya sang adik saat masih bayi, menyesal karna ternyata Sean bertemu dengan adik kecilnya dengan keadaan yang tak terduga.

Kini semua rasa takut yang menghantui Jae Mi belasan tahun lama perlahan-lahan akan menjadi nyata. Ia begitu takut jika Sean akan membencinya atau bahkan yang lebih buruk lagi adalah pergi meninggalkannya.

Mencoba untuk tak membuat ketakutannya menjadi nyata, Jae Mi langsung menghapus air matanya dan berusaha untuk melanjutkan langkahnya menuju pintu kamar Sean.

“Boleh kita bicara?” tanya Jae Mi seraya berusaha menenangkan dirinya saat ia telah berada tepat didepan kamar Sean.

Tak ada jawaban. Kini hanya keheninganlah yang dapat Jae Mi dengar.

“Aku punya alasan untuk itu semua, Sean.” air mata Jae Mi kembali jatuh saat satu kalimat meluncur dengan begitu lancang dari mulutnya.

Jae Mi masih ingat saat ia membawa Sean kecil pergi dari Seoul menuju London.

Mata Sean yang masih terpejam dan pergerakan kecil yang tubuh mungilnya menjadi alasan senyum Jae Mi tercipta. “Aku sangat berharap besar padamu!” ucap Jae Mi hampir berbisik.

Mungkin memang hanya satu kalimat yang Jae Mi ucapkan, namun terdapat banyak hal yang benar-benar wanita ini harapkan dari seorang bayi kecil yang tengah tertidur dalam dekapannya.

Pria mature ini hanya bisa terdiam saat seorang pemuda yang berwajah mirip dengannya tengah berdiri tak jauh dari posisinya. Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata saat putra satu-satunya kini menampakan dirinya dengan begitu jelas setelah lima belas tahun tak pernah terjangkau oleh indra lihat sang pria.

“Senang bertemu dengan anda.”

Mata Sehun berkaca-kaca saat putranya memberikan salam yang ia dengar langsung untuk pertama kalinya, memang terdengar begitu kaku, namun pemuda ini terlihat begitu sopan dihadapannya.

Meskipun Sehun beranggapan bahwa ia adalah alasan utama berpisahnya Sean dengan Jae Ra, sama sekali tak terlihat guratan benci diwajah sang putra.

Bahu pria ini terasa begitu ringan saat sang putra kembali menatapnya.

Setetes air mata meluncur begitu saja saat senyum tulus tergurat dibibir Sehun. Langkahnya tercipta dengan begitu cepat bersamaan dengan sebuah ingatan yang kembali membawanya pergi saat pertama kalinya Sehun melihat wajah Sean yang saat itu masih berusia beberapa jam.

Putra kecilnya yang dulu belum sempat ia dekap kini tepat berada didalam pelukannya. Sebuah tangan kecil yang dulu hanya dapat menggenggam jari telunjuknya telah berubah saat Sehun merasa bahwa Sean membalas pelukannya dengan begitu cepat.

Rasa rindu selama lima belas tahun yang Sehun rasakan tumpah ruah sudah saat tubuhnya dapat merasakan balasan pelukan Sean.

Terbayar sudah rasa rindu Sehun yang sejak dulu menggebu-gebu ingin bertemu dengan putra pertamanya ini. Masa lima belas tahun yang sempat Sehun lalui benar-benar terlupakan saat Sean mau membuka tangannya menyambut dirinya sebagai ayah yang mungkin baru pertama kali pemuda itu temui, Sehun begitu lupa dengan rasa lelahnya yang dulu sempat begitu terasa saat ia mulai ingin menyerah mencari keberadaan Sean dan Jae Mi.

Pelukan keduanya sama-sama terlepas dengan begitu berat. kini Sehun kembali menatap Sean “Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Pemuda ini mengangguk, ia dapat menangkap tatapan sang ayah yang kini terlihat begitu bahagia saat mereka berdua sama sekali tak mengubah posisi berdiri mereka yang saling berdekatan.

“Jae Mi membesarkanmu dengan begitu baik.”

Suara Sehun hampir tak terdengar saat sebuah senyum kembali tergurat dibibirnya dengan begitu lembut.

Sean tersadar begitu saja dari lamunanya saat ucapan sang ayah beberapa menit lalu terlintas dikepalanya.

“Mom!” ucap Sean yang kembali mengingat kemurkaan dirinya sendiri terhadapat sang ibu.

Pemuda ini langsung beranjak dari kursi yang tengah ia dudukin dan beralih melangkahkan kaki kearah pintu kamarnya demi untuk menemui sang ibu dan segera meminta maaf atas sikapnya tadi.

Nihil. Sean tak dapat menemukan keberadaan Jae Mi saat kakinya menapaki kembali ruang tamu dimana beberapa menit lalu ibunya tengah berada didalam ruangan ini.

Pemuda ini hanya bisa terdiam seraya mengumpat akan dirinya sendiri saat telinganya dapat mendengar jelas tangis sang ibu dari arah balik pintu kamar yang sedikit terbuka.

Sebagian tubuh gadis ini masih bersembunyi dibalik selimut tebalnya sejak tadi malam. Waktu telah menunjukan pukul delapan pagi dan ia masih membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Untuk kali ini, Jae Ra yakin bahwa sang ayah tak akan memarahinya hanya karna ia tak kunjung berangkat sekolah meskipun jam mata pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi.

Sejak tadi malam suhu tubuh Jae Ra berada diatas batas normal. Meskipun begitu, ia tetap berkata bahwa ia baik-baik saja saat sang ibu terus meruntukinya dengan berbagai pertanyaan tentang keadaannya.

“Appa mu sedang menelpon dokter untuk segera datang.”

Jae Ra hanya membalas tatapan sang ibu saat wanita mature ini tengah duduk ditepi ranjangnya.

Gadis ini terdiam karna ia sadar bahwa bukanlah kedatangan seorang dokter yang ia tunggu untuk segera menyembuhkan dirinya, melainkan seseorang yang ia harap datang secepat mungkin karna Jae Ra sudah sangat ingin bertemu dengannya, yaitu ibu kandungnya sendiri.

Sang ayah masuk kedalam kamarnya dengan pakaian yang tak berubah sejak tadi malam, “Dokternya sedang dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi datang.” Ucapnya saat kedua tangan pria itu masuk kedalam kantong celana hitamnya.

“Bagaimana kalo kita bawa Jae Ra langsung ke rumah sakit saja?”

Sehun langsung menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Disetiap Jae Ra sakit, istri pertamanya ini emang selalu panik dengan kondisi anak perempuan mereka. Terlebih karna dulu Jae Ra pernah terserang tifus, wajar jika Hye Ra menjadi sangat sensitif tentang kesehatan Jae Ra.

“Jae Ra hanya butuh sedikit penanganan dokter, Honey. Semuanya akan baik-baik saja!” ucap Sehun yang langsung menyentuh kedua pundak Hye Ra seraya mengelusnya pelan.

Kini pandangan Sehun tertuju pada mata Jae Ra yang terlihat sedikit sayu saat sang pemilik tengah mengalihkan pandangannya kearah sudut lain.

Sehun sadar bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri Jae Ra. Sejak pertemuan mereka kemarin sore dengan Sean, gadis ini menjadi sedikit diam. Sehun masih ingat saat Jae Ra memohon dengan sangat pada Sean bahwa ia ingin sekali bertemu dengan ibu kandungnya, namun harapan Jae Ra harus tertahan saat saudara kembarnya itu berkata bahwa semuanya butuh waktu, terutama waktu untuk berbicara dengan ibu kandung mereka terlebih dahulu.

Sehun merasakan ada sesuatu yang kembali membuat dadanya sakit saat ia mengerti akan arti tatapan kosong dari mata Jae Ra. Sehun peka terhadap sikap putrinya yang terlihat murung, Jae Ra ingin segera bertemu dengan ibu kandungnya, Jae Mi.

Lamunan Sehun pecah begitu saja saat suara bell pintu terdengar oleh telinganya dengan begitu nyaring.

“Ku rasa dokternya sudah datang.” Hye Ra seperti akan bangkit dari duduknya, namun tangan Sehun yang masih berada dipundak Hye Ra langsung menahannya.

“Biar aku yang bukakan pintu.”

Sehun langsung melangkahkan kakinya untuk segera pergi keluar dari dalam kamar Hye Ra dan beralih kearah pintu utama untuk menyambut kedatangan seseorang yang sudah ia prediksi adalah seorang dokter.

Pria ini langsung memutar knop dan segera menarik pintu untuk mempersilahkan orang  dibalik sana segera masuk kedalam.

Ternyata prediksi Sehun sebelumnya salah besar, yang kini menampakan diri dihadapannya bukanlah seorang dokter.

Tanpa komando yang terucap dari mulutnya, tubuh pria ini langsung mematung saat matanya menangkap sosok seorang perempuan dengan seorang pemuda dibelakangnya tengah berdiri tepat dihadapannya.

Mata mereka saling bertemu, keduanya sama-sama terdiam.

Rasa rindunya yang terlupa beberapa saat kembali teringat saat wanita keduanya kembali menampakan batang hidungnya setelah lima belas tahun berlalu. Tak ada yang berubah, bahkan style pakaian sang wanita masih sama seperti dulu.

Jae Mi, ada dihadapannya.

Pandangan Sehun menjadi sedikit buram saat air mata dalam kelopak matanya mulai naik dan dan berlomba untuk jatuh keluar.

Sehun langsung melangkahkan kakinya untuk menjadi sedikit lebih dekat dengan wanitanya saat hasrat dirinya yang ingin memeluk Jae Mi muncul dengan begitu saja.

Dekapan dari tubuh Sehun mungkin sudah diterima penuh oleh Jae Mi, meskipun wanita itu terus terdiam. “Aku merindukanmu.” Ucap Sehun dengan cukup pelan saat ia sedikit mempererat pelukannya.

Meskipun Sehun merasa bahwa Jae Mi hanya terdiam didalam pelukannya, pria ini ingin sedikit bersikap tak peduli. Ia tengah egois untuk terus memeluk Jae Mi yang sangat ia rindukan sejak lama.

“Maafkan aku.”

Sebuah suara terdengar dengan begitu jelas oleh telinga Sehun. Bahkan kini, wanita keduannya ini tengah sedikit membalas pelukan Sehun yang sebelumnya sempat ia acuhkan.

Setetes air mata Sehun meluncur begitu saja. Maaf, tak perlu ada kata maaf yang Jae Mi ucapkan, justru diri Sehun lah yang seharusnya meminta maaf. Meminta maaf untuk semua yang telah terjadi, untuk semua hal bodoh yang telah ia perbuat, untuk semua sikap acuhnya dulu yang sempat muncul, dan untuk kesengsaraan yang mengular pada kedua anak mereka.

Sejenak Sehun melepaskan pelukannya dengan sedikit ragu. Memang, memeluk Jae Mi dengan waktu hanya kurang dari tiga menit sangat tak cukup untuk Sehun, tapi nyatanya ia ingin segera kembali menatap  mata Jae Mi. “Bukan salahmu.” Ucap Sehun seraya memperlihatkan senyum tipis dibibirnya.

Mata mereka kembali bertemu, kini tangan kanan Sehun tengah lancang memegang pipi kiri Jae Mi, senyum kembali merekah dibibir tipisnya, benar.. ia sangat merindukan wanita keduanya.

“Aku ingin bertemu Jae Ra. Dimana dia?”

Suara lemah Jae Mi terdengar oleh Sehun, sebuah anggukan menyusul untuk menjawab keinginan wanita dihadapannya ini yang ingin segera bertemu dengan putri satu-satunya. “Dia ada dikamarmu.” ucap Sehun.

Jae Mi kini kembali melangkahkan kakinya kedalam ruangan yang tak asing lagi untuknya. Posisi sofa yang berada ditengah ruang tamu masih tetap sama, bahkan letak potret pernikahan Hye Ra dan Sehun 23 tahun lalu dengan frame photo besarnya sama sekali tak berpindah.

Kini langkah Jae Mi terhenti saat Sehun yang berjalan dihadapannya membukakan sebuah pintu kamar yang dulu pernah tersentuh oleh Jae Mi setiap hari. Pintu itu masih sama, warna putih dengan knop putar berwarna hitam yang ternyata juga tak berubah.

Sean yang berdiri dibelakang Jae Mi sedikit membuyarkan pikirannya. “Mom!”, Jae Mi langsung mengarahkan pandangannya pada sang pemuda yang kini memberikan sebuah isyarat padanya untuk segera masuk kedalam kamar karna Sehun telah membukakan pintu dengan begitu lebar.

“Jae Ra!” Sehun hanya mampu memanggil nama putrinya karna ia tak mampu menjabarkan maksud dari panggilannya.

Mata Jae Ra langsung menangkap keberadaan sang ayah yang kini tengah membelakangi seorang wanita dengan rambut ikat satunya.

Wanita yang tak asing bagi Jae Ra, karna wanita itu adalah wanita yang tengah ia rindukan, wanita yang telah beberapa kali ia pandangi dari jauh, wanita yang ia sejak kemarin ia harapkan mau menemuinya dengan cepat, wanita itu adalah Jae Mi, ibu kandungnya sendiri.

Wanita ini masih memandangi dirinya sendiri dari pantulan cermin dihadapannya. Rambutnya masih basah dan tubuhnya masih terbalut oleh bathrobe berwarna putih.

Sudah tiga kali Sehun menggedor-gedor pintu kamar mandi demi untuk menyuruh wanita pertamanya ini segera menyelesaikan acara membersihkan tubuhnya disaat langit sudah terlihat gelap seperti ini. Namun nyatanya Hye Ra masih asik dengan dirinya sendiri, karna terlalu banyak hal yang tengah berputar dikepalnya.

Bagaimana jika Sehun marah? Apa Sehun akan segera mengusirku? Atau bahkan menceraikanku sekarang juga? Dasar bajingan kau Chanyeol!! Aku membencimu!! kau kembali dan merusak segalanya!!

Itu hanya segelintir pemikiran Hye Ra yang panik saat tadi pagi seorang dokter memberitahukannya bahwa kini ada janin yang hidup dalam rahimnya.

Wanita ini mengingat kembali kejadian saat ia bertemu dengan Chanyeol sekitar dua bulan yang lalu disebuah stasiun kereta. Pria itu mengajaknya minum disebuah kedai pinggir jalan, Hye Ra dapat mengingat dengan jelas saat Chanyeol duduk dihadapannya dan menuangkan soju kedalam gelas transfaran. Ia juga ingat saat saat pria itu merebut sebuah botol soju dari genggamannya.

Dan hal yang paling tak dapat ia lupakan adalah saat ia membuka mata dipagi hari, pria itu tengah tertidur disampingnya dengan keadaan tubuhnya yang hanya tertutupi selimut putih tanpa ada sehelai benangpun yang menempel pada tubuh Chanyeol.

Air mata Hye Ra jatuh begitu saja saat ketakutan menguasai dirinya dengan penuh. Ia takut Sehun meninggalkannya dan membencinya. ia takut untuk berterus terang bahwa janin yang berada dalam rahimnya bukanlah buah hatinya.

“Aku.. minta maaf.”

“Minta maaf untuk apa?”

“Aku bertemu Chanyeol.. kami minum dikedai pinggir jalan..”

“Kami berakhir tidur bersama.. aku minta maaf..”

Mata wanita berusia tiga puluh tahun ini terlihat begitu sembab. Sejak empat jam lalu ia tak berhenti menangis menyayangkan sikap bodohnya sendiri. Menyayang dirinya yang telah menerima ajakan Chanyeol dua bulan lalu, menyangkan sikapnya yang kembali membuka tangan saat Chanyeol kembali, menyangkan dirinya yang bodoh, terutama menyangkan dirinya yang terlalu jujur dihadapan Sehun tentang janin yang hidup dalam rahimnya.

Ia kembali mengingat saat Sehun hanya bisa terdiam saat ia berkata bahwa ia telah tidur dengan seorang pria bajingan yang merupakan mantan kekasihnya sendiri. Dan Sehun membenci pria itu karna dulu Hye Ra sempat hampir melenggang pergi darinya.

Dua butir obat berwarna putih kini tegah berada diatas telapak tangan kanan Hye Ra, ia tau bahwa obat itu akan membuat tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa, dan membuat janin yang hidup dalam janinya mati dengan begitu saja. Namun, yang kini ada didalam pikiran Hye Ra saat ini hanyalah Sehun.

“Aku tak sudi mengandung anak yang bukan buah hatimu, Sehun.”

Sebuah koper besar berwana hitam tergeletak begitu saja saat sang pemilik terdiam memperhatikan setiap sudut ruangan yang sangat asing baginya.

Ruangan ini terlihat begitu kecil, bahkan ia dapat membandingkan bahwa kamar mandinya jauh lebih luas dari ini. Ia sedang tak mengeluh soal keadaan ruangan yang sangatlah berbanding terbalik dengan apartemennya di Seoul, namun ia sedang mengeluh tentang kenapa ia hanya dapat menganggukan kepala saat sebuah ajakan untuk pergi terdengar begitu berat ditelinganya kemarin sore.

“Kau bisa menempati kamar yang itu, Mom akan tidur dikamar satunya lagi.”

Suara sang ibu kembali terdengar, namun Sean masih saja diam mematung.

Ada sesuatu yang berhasil membuat pundaknya terasa begitu berat dan dadanya terasa begitu sesak.

“.. Mom akan segera mencari sekolah baru untukmu didekat sini!”

Sean hanya dapat menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar saat tatapan sang ibu tengah mengarah padanya.

Setelah kemarin mereka bertemu dengan Jae Ra, ibunya ini langsung memesan tiket pesawat dan segera mengemasi pakaiannya kedalam koper. Sean dapat menebak bahwa ibunya memilih untuk kembali menghindar dari orang-orang yang menyangkut masa lalunya.

Sean terlihat acuh, ia bahkan terlalu malas untuk membalas tatapan sang ibu yang penuh dengan harap.

Pemuda ini langsung melangkan kakinya menuju kamar yang tadi sembat ditunjuk oleh Jae Mi, meninggalkan koper hitamnya yang masih tergeletak diatas lantai.

Ia sadar bahwa ibunya adalah seorang pengecut, namun Sean lebih menyadari lagi bahwa ia jauh lebih pengecut. Ia malah menerima ajakan sang ibu yang kembali pergi dari masalah yang seharusnya dapat dihadapi.

“Aku hanya memilikimu, Sean!”  

Lagi, kata-kata itu berhasil membuat hati Sean melemah dan memilih tetap berada dalam kudu sang ibu.

Hye Ra tengah menatap wajah Jae Ra dari samping saat mata gadis itu kembali sembab. Bukan karna bahagia seperti saat ia bertemu dengan sang ibu kandung, namun kali ini berbeda, Jae Ra kembali menangis saat mendapat kabar bahwa apartemen yag ditempati Jae Mi dan Sean sudah tak berpenghuni.

Gadis itu tau bahwa ibu kandungnya kembali pergi meninggalkannya, dan Jae Ra sangat menyayangkan hal itu terjadi, pasalnya ia hanya bertemu dengan Jae Mi beberapa jam saja, dan mereka hanya membicarakan beberapa hal yang menurutnya tak penting.

Ingat Hye Ra kembali perputar saat ia pertama kali melihat seorang bayi perempuan yang terus menangis karna ditinggalkan oleh sang ibu, dan kini bayi perempuan itu sudah berajak dewasa, namun kembali menangis untuk satu alasan yang sama, ditinggalkan oleh sang ibu, ibu kandung.

Hye Ra memberanikan dirinya untuk memeluk gadis itu dari samping, ia ingin memberi sedikit ketenangan karna sedari tadi Jae Ra sama sekali tak berhenti menangis.

“Semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Hye Ra.

Tak berapa lama, Hye Ra dapat merasakan bahwa tubuh Jae Ra sedikit bergerak, gadis itu ternyata membuka tanganya untuk membalas pelukan wanita mature ini.

Senyum pahit tergurat dibibir Hye Ra. Jantungnya terasa berhenti begitu saja saat Jae Ra kini berada didalam dekapannya.

Bukan ia tak bahagia saat Jae Ra masih sudi memeluknya, namun karna rasa takut yang kini kembali melingkupi dirinya. Hye Ra takut bahwa ia akan kehilangan Jae Ra.

“Mom akan segera kembali, bukan?” Hye Ra mengangguk, “Tentu saja.”.

Kini bulir air mata terjatuh begitu saja melewati pipinya, Hye Ra menangis karna bayangan jika Jae Ra pergi meninggalkannya untuk memilih pergi bersama Jae Mi kembali berputar dikepalanya. Membayangkan bahwa rumah ini akan sepi, dan hatinya akan merasa kosong kembali.

“Omma!” lamunan Hye Ra terpecah saat Jae Ra melepaskan sejenak pelukannya. Mata mereka saling bertemu, memperlihatkan mata sembab dari keduanya.

“Omma tak mau kehilanganmu, Jae Ra!!” demi dirinya, Hye Ra begitu lancang berkata jujur pada putri semata wayangnya sendiri. Memang benar, Hye Ra memang terlalu takut untuk kehilangan Jae Ra.

Jae Ra kembali memeluk tubuh Hye Ra, “Omma tetap Omma ku!”. Jae Ra membalas ucapan Hye Ra dengan kata terjujurnya meskipun ia sadar bahwa Hye Ra bukanlah ibu kandungnya, namun rasa sayang Jae Ra terhadap wanita yang telah merawatnya sejak bayi ini tak akan luntur begitu saja saat ia diberitahu bahwa Hye Ra bukanlah ibu kandungnya.

Sehun masih sibuk dengan ponselnya yang menempel ditelinga kanannya. Seseorang disebrang sana tengah memberitahukan keberadaan Jae Mi dan Sean padanya.

“Keberadaannya terlacak di Vancouver, Tuan.”

“Siapkan pesawat secepat mungkin!!”

Sehun langsung menghembuskan nafasnya kasar. Ia terlalu bodoh mempercayai sikap Jae Mi yang ia kira bahwa wanita itu tak akan kembali melarikan diri, terlebih lagi secepat ini, tak terlintas dikepala Sehun bahwa situasi akan kembali rumit.

Mata Sehun tengah turtuju pada Jae Ra yang tengah menganggurkan makanan dihadapannya, sejak kemarin gadis itu lebih banyak diam dan tak mau makan. Ia kembali terlihat murung, Jae Ra hanya akan bertanya tentang keberadaan Jae Mi, dan yang hanya dapat pria ini jawab adalah bahwa ia tengah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Jae Mi secepat mungkin.

Sehun melangkahkan kakinya untuk kembali menghampiri meja makan, dimana Hye Ra dan Jae Ra tengah berada disana.

Namun langkah Sehun terhenti saat bell pintu utama terdengar. Ia kembali membalikan haluannya untuk segera berjalan kearah pintu.

Pria ini langsung membukakan pintu tanpa melirik terlebih dahulu layar flasma berukuran kecil yang dapat memperlihatkan siapa yang berkunjung.

Sehun terdiam. Orang yang ia cari keberadaannya kini kembali terlihat oleh pandangannya.

Wanita ini masih sibuk dengan wajan panas dan dua telur mata sapi yang sudah matang dan tersaji diatas piring berwarna putih. Kini hanya tinggal menunggu Bacon yang masih berada didalam wajan matang untuk ia sajikan sebagai pelengkap santapan sarapannya dengan sang putra.

“Sean!! Wake Up!!”

Jae Mi kembali berteriak untuk ketiga kalinya. Anak itu belum juga keluar dari dalam kamarnya, terlebih lagi tak terdengar suara apapun yang dapat Jae Mi tangkap.

Sesaat Jae Mi mematikan kompor untuk segera melangkahkan kakinya menuju kamar Sean yang hanya berjarak sekitar enam meter dari dapur.

“Sean? Kau masih tidur?” Jae Mi mencoba tak langsung masuk kedalam meskipun beberapa detik kemudian tak ada satu suarapun yang dapat ia dengar.

“Sean?” kali ini Jae Mi memutar knop pintu dengan cukup pelan.

Kening Jae Mi sedikit mengerut saat mendapati keadaan kamar putranya terlihat begitu sepi.

“Sean?” kini suara Jae Mi terdengar begitu panik saat sang pemilik kamar tak kunjung terlihat.

“Sean?!!”

Wanita itu dibuat terdiam begitu saja saat menyadari bahwa ransel berwarna merah milik Sean tergeletak dan terlihat berantakan memperlihatkan beberapa benda pribadi milik  pemuda itu.

Jae Mi langsung mencoba mengeledah ransel Sean, mencoba mencari sesuatu yang beberapa detik lalu terlintas dikepalanya.

Bukan, ponsel milik Sean dilempar dengan ringan begitu saja kearah samping, karna bukan benda itu yang Jae Mi cari.

Kini semua barang dalam ransel Sean telah tergeletak begitu saja. Jae Mi tak dapat menemukan apa yang ia cari.

Passport. Ia tak dapat menemukan buku kecil itu.

Sean mungkin kembali ke Seoul, menemui adik dan ayahnya, serta meninggalkan dirinnya sendirian ditempat ini.

-To Be Continue-

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 8)”

  1. hye ra baik banget mau terima apapun sehun walau tau sehun masih merindukan istri ke duannya,,,mau merawat anaknya sehun dan jaemi,,,,mau gugurin kandungan dirinya sendiri demi sehun,,,,,tapi sayang rasanya dia cuma jadi nyamuk antara jaemi and sehun

  2. Aku bingung mau komentar apa kak, ini sangat menyakitkan 😭😭😭 mereka masih kecil untuk memahami masalah orang tuanga 😭😭😭 dan bertambah satu orang yang menyalahkan jaemi, dan itu orang yang paling dia sayang 💔💔💔💔💔

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s