[EXOFFI FREELANCE] CARNIVAL

|  CARNIVAL  |

| Park Chanyeol & Rosėanne Park (BLACKPINK) |

| Support Cast Byun Baekhyun |

| Angst x Fantasy |

| PG-17 | Oneshot |

2017 – Storyline by JHIRU H.

|Theme song : Carnival_Gain|

Ketika pintu karnaval terbuka malam ini

Kau harus benar-benar melupakanku

Related to: Hurt|Last Goodbye |

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

In Rose’s Eyes . . .

    Selama tiga hari ini, Chanyeol sedikitpun tidak beranjak dari kamarnya. Ia meringkuk di sudut kamar yang pengap dan gelap. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa Chanyeol akan menjadi seperti ini. Dengan perlahan, aku mendekatinya yang sedang menutup mata.

    Hanya dalam beberapa hari, ia kehilangan berat badan. Wajahnya tak bersemangat, berbeda sekali dari Park Chanyeol yang kukenal. Bibirnya pucat dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

Apakah sudah terlambat?

Apa kau sudah menunggu begitu lama?

    Pada malam saat aku tidak datang. Apakah itu terasa menyakitkan, lama, dan gelap?  Maka mari kita hentikan larut malam ini, dan perlahan-lahan kembali ke hari itu. Ketika aku tidak ada sama sekali.  Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirkanmu.

    Aku menyentuh puncak kepala Chanyeol, dengan lembut kubelai rambutnya yang hitam.

“Chan, buka matamu. Sekarang, aku ada di sini.”

    Chanyeol sedikit bergerak, tetapi ia masih tak membuka matanya.

“Chanyeol-a, ini aku Rosė. Aku datang untuk menemuimu,”

    Chanyeol kembali bergerak. Perlahan-lahan ia membuka matanya, menatapku dengan sayu. Chanyeol mencoba untuk duduk, sambil menatapku tak percaya ia mendekatkan tubuhnya.

“Rosė! Itu sungguh kau?”

    Ia menarik dan memelukku dengan erat. Sayup-sayup, aku mendengar isakkan tangis darinya.

“Kumohon! Jangan tinggalkan aku, aku benar-benar merindukanmu.”

    Aku hanya diam, tak menjawab. Tidak ada yang bisa kujanjikan untukmu, Chanyeol-a. Aku kembali membelai rambutnya, setelah itu secara perlahan kucoba melepaskan pelukkannya. Aku menatap matanya. Mata yang selalu memancarkan sinar kebahagian, kini sudah sirna. Park Chanyeol-ku yang selalu bahagia, kini berubah jadi pemurung.

    Aku mengangkat kedua tanganku, lalu membingkai wajahnya yang nampak lelah itu.

“Chanyeol-ku, kenapa kau tampak kurus? Kau harus makan dan pergi mandi, lalu kita akan bersenang-senang. Malam ini juga, kita akan pergi kencan.”

“Sungguh? Kau tidak akan pergi meninggalkanku. Kita harus terus bersama, bukan?”

    Aku hanya tersenyum menanggapinya. Sudah kubilang, aku tidak bisa berjanji apapun untuknya.

×◦◦×

“Bukankah kita pergi kencan? Kenapa kita pergi ke universitas? Ini sudah malam, Rosė. Gerbang kampus tidak akan buka pukul duabelas malam.”

    Chanyeol menatap pintu gerbang kampus, sesaat ia berpikir. Mungkin, Chanyeol mencari cara agar kami bisa masuk. Aku tersenyum geli melihatnya, Park Chanyeol-ku yang lucu dan manis telah kembali.

“Chan, kau tak perlu khawatir. Tutup matamu, setelah kau mendengar bunyi lonceng tiga kali. Matamu boleh dibuka.”

    Meski ragu, Chanyeol menutup matanya.

Ketika pintu gerbang terbuka malam ini, kau harus benar-benar melupakanku.

“Teng . . . teng . . . teng . . .”

    Pintu gerbang terbuka, diiringi suara lonceng yang berbunyi. Chanyeol membuka kedua matanya. Ia nampak terkejut, melihat seberapa ramainya orang-orang yang berlalu-lalang.

“Aku tidak tahu, ada pasar malam di sini.”

    Chanyeol menatapku dengan bingung. Mungkin, ia merasa ada hal yang ganjil di sini.

“Carnival, Chan. Ini khusus untukmu, Rosė Carnival. Kita akan berkencan, bukan?”

    Aku tersenyum memandang Chanyeol. Ia mengenggam tanganku dan membalas senyumku, lalu Chanyeol menarikku masuk melewati pintu gerbang.

    Seluruh isi kampus dipenuhi lampu yang bersinar indah, ada banyak stand makanan, bahkan ada banyak stand permainan. Di ujung belokkan aku melihat sesuatu yang datang, mereka berkelompok memakai pakaian yang indah dan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar,

“Chan, lihat! Itu parade, Wah! Mereka benar-benar cantik, ada banyak sekali putri yang duduk di kereta.”

    Chanyeol menatap parade yang mulai mendekat ke arah kami dengan wajah takjub, ia mempererat genggamannya dan menarikku agar berdiri lebih dekat dengannya.

“Kenapa? Kau iri pada mereka? Rosė juga seorang putri dan jauh lebih cantik,”

    Aku menatapnya dengan wajah heran, apa maksudnya? Aku bukan seorang putri, tidak ada kerajaan di negara ini.

“Park Chanyeol, rumahku itu bukan istana. Itu hanya rumah biasa, jadi aku bukanlah seorang putri.”

“Siapa yang bilang begitu? Kau adalah putri, Rosė. Aku adalah istanamu, tempat kau pulang. Lalu, hatiku adalah kerajaanmu. Jadi, kau adalah seorang putri.”

    Sepertinya suhu udara menjadi sedikit panas, pipiku terasa panas. Aku hanya bisa tersenyum malu.

“Apalagi saat kedua pipimu memerah karena aku. Kau sangat manis, Rosė.”

    Oh, Park Chanyeol. Kau membuatku tidak bisa berkata apapun, sekarang aku benar-benar tidak dapat melihat matamu. Kualihkan pandanganku pada parade yang melewati kami. Mencoba mengatur debaran hatiku dan mengatur nafas, dengan gugup aku mengeluarkan suara.

“Tapi pangeran itu, jauh lebih tampan darimu.”

“Itu tidak masalah, pada akhirnya putri Rosė akan menikahi Park Chanyeol. Seorang pemuda biasa yang sangat mencintai putri Rosė,”

‘Yakk! Park Chanyeol! Berhenti berkata seperti itu, ukh . . . aku malu.”

    Aku menutup wajahku yang memerah dengan kedua telapak tanganku. Tak lama, aku mendengar Chanyeol tertawa dan perlahan memelukku dengan hangat.

“Kenapa harus malu? Aku mengatakan hal yang sebenarnya,”

    Chanyeol menarik kedua telapak tanganku dan menggenggam keduanya.

“Jangan tutupi wajahmu, aku senang melihatnya. Daripada kita berdiri di sini, lebih baik kita berkeliling. Tadi, aku melihat sebuah stand penjual. Sepertinya, kau akan menyukainya.”

    Ia melepaskan tangan kiriku dan kini hanya meninggalkan genggaman pada tanganku. Aku mengikutinya, berjalan dan masuk sebuah stand penjual barang-barang yang lucu. Wah, Park Chanyeol benar-benar mengenalku.

    Aku mengambil sebuah bando yang berbentuk kelinci dan memakaikan pada Chanyeol, ia benar-benar kelihatan imut apalagi saat tersenyum.

“Rabbit Park, kau benar-benar lucu.”

“Oh, benarkah?”

    Chanyeol berpose imut, itu benar-benar dirinya. Aku hanya bisa tertawa geli melihatnya. Ia kemudian melihat ke sekeliling, mencari-cari sesuatu. Chanyeol mengambil sebuah rangkaian bunga dan meletakkannya di atas kepalaku.

“Mahkota mawar untuk si putri Rose,”

    Aku tersenyum senang dan merapikan rambutku.

“Apa aku cantik?”

“Kau selalu cantik, Rosė.”

    Chanyeol hendak membayar bando yang dipakainya dan rangkaian bunga yang berada di atas kepalaku, tapi aku melarangnya. Aku mengatakan padanya, karena Rosė Carnival sama seperti namaku maka semuanya gratis dan kami tidak perlu membayar. Awalnya, ia sedikit kebingungan dan tidak mengerti. Tetapi Chanyeol tidak terlalu memusingkannya, ia hanya diam tanpa banyak bertanya. Lalu, kami setuju untuk mendatangi stand makanan.

“Chan, kau harus makan. Aku tidak mau kau menjadi lebih kurus, tinggi badanmu itu sudah sangat ‘wow’ tahu.”

    Aku memberikan roti panggangku padanya, ia menggigitnya sedikit.

“Oh ya ampun, Rosė. Aku sudah makan banyak, kau tidak lihat? Kedua tanganku sudah penuh dengan makanan. Lalu, kau masih saja memberikan rotimu padaku.”

    Aku melihat kedua tangan Chanyeol yang sedang mengenggam makanan, dan sejak tadi tidak berhenti mengunyah. Aku hanya tidak ingin dia lebih kurus daripada ini.

“Kau harus berjanji padaku untuk makan dengan baik dan teratur. Lalu, kau harus istirahat dan tidur yang cukup.”

    Chanyeol menunjukkan raut tanya padaku, tanda bahwa ia tidak mengerti karena secara tiba-tiba aku menyuruhnya membuat janji. Tetapi mulutnya dipenuhi dengan makanan dan tidak bisa mengatakan sesuatu, ia hanya menggangguk tanda bahwa ia setuju.

    Aku menariknya mendekat pada stand penjual permen kapas, dan meminta dua permen kapas pada penjual. Chanyeol melarangku, ia hanya memperbolehkanku mengambil satu permen kapas saja.

“Kenapa? Aku suka makanan manis,”

“Aku tahu, karena itu sejak tadi kau sudah banyak makan permen dan kue manis. Rosė, kau itu sudah sangat manis. Jadi, tidak perlu makanan manis lagi. Lagipula, aku tidak mau kau sakit gigi. Aku tidak ingin melihatmu sakit,”

    Pada akhirnya, aku mendengarkan kata-katanya. Hanya satu permen kapas. Yah, malam ini saja. Aku akan menuruti semua keinginan Chanyeol, membuatnya tersenyum senang seakan malam yang terasa seperti sebuah dunia yang bebeda. Seperti itu adalah mimpi. Lalu jika semua ini menghilang, maka itu akan lebih sempurna.

    Kami kembali berkeliling, melihat-lihat stand yang lain. Aku berhenti, ada sebuah pertunjukkan musik di depan gedung universitas dan yang lainnya menikmati musik bahkan banyak yang ikut menari.

    Chanyeol juga melihatnya, ia lalu mengajakku untuk lebih mendekat. Ketika pertunjukkan musik selesai, aku sedikit menarik lengan bajunya.

“Kau mengatakan bahwa kau bisa memainkan semua alat musik Kalau begitu, coba kau mainkan terompet itu untukku.”

“Tapi aku tid—“

“Ayolah, Chan.”

    Chanyeol tampak gusar. Ia meminta izin untuk memainkan alat musik terompet. Chanyeol menatapku dengan gugup, ia mengangkat terompet dan mulai meniupnya.

“Tet . . .tet . . . tet . . .”

    Kupikir, hanya aku saja yang tertawa mendengarnya. Tetapi, semua orang di situ ikut tertawa. Chanyeol menundukkan wajahnya menahan malu, aku berjalan mendekatinya. Mengembalikan terompet itu, lalu mengenggam tangan Chanyeol.

“Kenapa kau menundukkan wajahmu? Meskipun itu terdengar sangat tidak bagus, di mataku kau tetap keren.”

    Chanyeol mengangkat wajahnya, lalu menatapku yang tersenyum padanya. Tak lama kemudian, ia pun ikut tersenyum. Para pemain musik mengatakan akan memainkan musik khusus untuk kami. Jadi, aku menarik Chanyeol untuk membaur dengan yang lain.

    Itu aneh, tarian kami benar-benar kaku. Sejujurnya, kami berdua hanya melompat-lompat kegirangan sambil berputar-putar.

“Ini hari yang luar biasa, bukan? Hari yang aku impikan dan sudah lama kutunggu. Aku akan meninggalkanmu, Chan. Jangan khawatir dan jangan menangis,”

    Chanyeol tidak mendengar apa yang aku katakan, suaraku teredam oleh suara musik. Itu memang kusengaja.

“Dari awal, segalanya adalah untukmu. Hanya percaya saja pada itu, seperti kau yang akan melupakanku.”

    Melihatku yang terus mengatakan sesuatu, Chanyeol melangkah lebih dekat padaku.

“Duar . . . duar . . . duar . . .”

    Atensi kami teralihkan pada kembang api yang bersinar di langit malam, Chanyeol menggenggam tanganku dan menarikku lebih mendekat padanya.

“Indah, seperti dirimu Rosė.”

    Itu benar, Chanyeol. Kembang api itu indah sama sepertiku dan kami akan sama-sama menghilang.

“Chan, menurutmu akankah kenangan yang lebih indah datang padaku?”

    Chanyeol menoleh padaku, ia menatap mataku dengan lembut lalu ia tersenyum.

“Tentu saja,”

    Aku tersenyum, aku sedikit menjijit agar tanganku sampai dan dapat membingkai wajahnya.

“Tidak, Chan. Tidak ada memori yang paling indah dibandingkan keberadaanmu di hidupku.”

    Perlahan, kurasakan tangan Chanyeol berada di pinggangku dan mendekapku erat.

“Aku sangat mencintaimu, Chan.”

“Lebih dari yang kau pikirkan. Aku sangat mencintaimu, Rosė.”

    Kami menutup mata masing-masing dan mendekatkan wajah. Lembut, aku merasakannya. Bibir Chanyeol yang lembut dan ia mendekapku dengan hangat.

    Aku tidak dapat menahannya. Air mataku menetes, setelah kau membuka matamu. Semua akan menghilang, Chan. Seakan aku tidak pernah ada.

“Aku mencintaimu, Park Chanyeol.”

×◦◦×

In Author’s Eyes . . .

Chanyeol dengan malas memakai kemejanya, ia benar-benar masih mengantuk. Ini aneh, seingat Chanyeol semalam ia tidak melakukan apapun yang membuatnya tidur sampai larut malam. Entah kenapa, pagi ini ia benar-benar lelah dan sangat membutuhkan tidur. Tetapi, ia harus pergi kuliah.

Ia melihat dirinya di cermin, ada sebuah lingkaran hitam di bawah matanya. Wah, siapapun juga tahu bahwa Chanyeol kurang tidur. Pemuda Park itu menyeret kakinya mendekati meja belajar, saat hendak mengambil tas yang berada di atas meja. Matanya menangkap sebuah bando berbentuk kelinci, sebuah rangkaian bunga mawar merah yang berbentuk mahkota, dan setangkai bunga mawar putih.

Ada hal yang ganjil disini. Chanyeol sangat yakin, ia tidak membeli barang-barang ini. Terutama bunga mawar yang masih sangat segar itu. Ia mengambil mawar putih, lalu mengamatinya dengan cermat. Tentu saja, tidak ada yang aneh dengan mawarnya.

Chanyeol tak sengaja menatap jam tangannya, ia benar-benar kesiangan. Tanpa sadar, ia membawa serta bunga mawar yang berada dalam genggamannya. Chanyeol berlari terburu-buru, ia bahkan memencet tombol lift berkali-kali.

Pemuda Park itu bernapas lega ketika pintu lift terbuka, ia segera masuk dan menutup pintu lift. Sesampainya di lantai dasar apartemen, Chanyeol melihat Baekhyun yang sedang menunggu.

“Aku baru akan ke tempatmu,”

“Ada apa ini? Aneh sekali, kau menjemputku.”

    Baekhyun menatap heran pada Chanyeol, ia datang mendekat dan menoyor kepala sohibnya itu.

“Sepertinya kau sudah tua, Park. Kau sendiri yang memintaku menjemputmu kemarin,”

    Chanyeol menatap bingung pada Baekhyun. Sesaat ia berpikir, mungkin saja yang dikatakan Baekhyun benar. Sepertinya Chanyeol terkena penuaan dini.

“Aku tidak tahu, kau lumayan dekat dengan Rosė. Kau bahkan sudah membeli bunga untuknya,”

    Bunga? Ah iya, Chanyeol secara tidak sengaja membawa bunga mawar yang ditemukannya.

“Rosė? Siapa Rosė? Aku baru mendengar namanya,”

“Rosė satu klub paduan suara denganku, kalian beberapa kali pernah bertemu. Kupikir, kau membeli bunga itu tanda maaf untuknya. Ini sudah lebih dari tiga hari dan kau sekalipun belum pernah mengunjunginya di rumah duka.”

“Rumah duka?”

“Iya, hari ini adalah hari terakhirnya sebelum dikubur.”

    Chanyeol benar-benar tidak mengerti, paginya disambut dengan hal-hal aneh. Pada akhirnya, ia hanya mengikuti Baekhyun. Chanyeol hanya diam sepanjang perjalanan, mencoba mengingat apa yang sudah dilakukannya akhir-akhir ini. Sayangnya, hal yang diingatnya tidak banyak dan samar-samar.

    Sebelum masuk ke rumah duka, Baekhyun mengatakan bahwa Rosė meninggal karena sebuah kecelakaan. Sejujurnya, Chanyeol merasa sangat gugup sekarang. Entah kenapa, seluruh tubuhnya merasa lemas.

    Setelah menyalakan lilin, Chanyeol berjalan mendekat ke peti jenazah. Ia meletakkan bunga mawar putih yang sejak tadi dibawanya, Chanyeol mengambil satu langkah lagi. Kini ia melihat denga jelas, seseorang yang dipanggil oleh Baekhyun dengan nama Rosė.

“Dia cantik. Sangat cantik,” gumam Chanyeol.

‘tes . . . tes . . .tes . . .’

    Ini aneh. Hari ini benar-benar aneh. Chanyeol sendiri tidak mengerti kenapa ia menangis, hatinya terasa sakit saat melihat gadis yang bernama Rosė itu terbujur kaku di sana. Wajah cantiknya terlihat pucat, Chanyeol yakin gadis itu merasa kesepian dan kedinginan.

“Ini aneh, aku tidak bisa mengingatmu. Tetapi aku yakin, kau adalah orang yang sangat baik. Dan kau sangat cantik, putri Rosė.”

FIN

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

JHIRU’s Note :

Aing mengganti pen name menjadi JHIRU H.

Yah, sebenarnya itu pen name lamaku cuma ditambah huruf J aja. J inisial dari nama asliku.

Terima kasih sudah membaca fanfic ini hingga habis.

Dan please pakai banget-nget-nget, jadilah pembaca yang baik dan menghargai karya tulis penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment. Bukan pada saya aja y, tapi seluruh penulis. Itu berarti banget buat kita. Sekian dan terima kasih ^^

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] CARNIVAL”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s