GIDARYEO – 6th Page — IRISH’s Tale

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  Crime  — Family — Fantasy — Melodrama — Supranatural — Suspense  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 4 | 1st Page5th Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

“Apa itu artinya aku tak akan bisa pergi kemana pun? Kalau begitu aku cabut ucapanku, aku lebih merasa takut jika kau mengikutiku dengan cara mengerikan dan—”

Ucapanku terhenti saat Shadow menarik bahuku dengan cukup keras, menyudutkanku ke tembok hingga ia sekarang mengurungku di antara sepasang lengan kuatnya.

“Sekarang sudah terlambat, aku sudah memutuskan apa yang harus kulakukan padamu.” ucapnya dengan nada dingin yang anehnya terdengar begitu hangat di dalam runguku.

“Apa… yang akan kau lakukan?” tanyaku hati-hati.

“Aku tak akan melepaskanmu, Anna. Kau juga tidak akan bisa berlari dariku meskipun kau ingin. Karena kau sudah memilih, bukankah sekarang bisa kunyatakan kalau kau adalah milikku?”

██║│█║║▌    Gidaryeo  —  │█║║▌║██
   Page 06  

Bagaimana ini? Mengapa jantungku justru melonjak kegirangan saat mendengar ucapannya? Ancamannya? Bukankah aku seharusnya merasa ketakutan?

“Apa kau sedang mengancamku?” tanpa sadar bibirku berkata saat kesadaranku kembali. Ucapan Shadow terlampau membingungkan dan tidak bisa kuartikan.

Apa yang dia maksud dengan tidak akan melepaskanku? Dia sedang mengancam, atau sedang berusaha membuat jantungku melonjak tidak karuan?

“Apa aku terdengar sedang mengancammu sekarang, Anna?” tanyanya masih dengan suara dingin yang justru melelehkan pertahananku.

Aku sudah menyerah, sungguh, dia terlalu memikat untuk ditolak. Bahkan dengan eksistensinya sebagai seorang pembunuh sekalipun, dia begitu memikat.

“Tidak…” ucapku ragu.

“Kalau begitu kau tidak perlu merasa bahwa aku sedang mengancammu. Aku hanya ingin menandai seseorang sebagai milikku. Ternyata… rasanya menyenangkan.” ucap Shadow, sudut bibirnya kemudian terangkat membentuk senyum samar.

Tidak, jangan tersenyum. Kumohon. Kau bahkan terlihat berkali lipat lebih memikat saat tersenyum seperti itu.

“Mengapa menatapku seperti itu, Anna?” tanya Shadow menyadarkanku.

“Tidak, jangan tersenyum seperti itu. Kau terlihat sangat memikat kalau tersenyum begitu, kau tahu?” aku berkata.

Lagi-lagi, Shadow tersenyum. Sial, sungguh, jangan tersenyum seperti itu, kumohon.

“Apa itu yang kau pikirkan saat menatapku tadi?” tanyanya kujawab dengan sebuah anggukan pelan.

“Ya, aku memikirkan itu.” ucapku. “Dan juga, apa maksudmu dengan kata ‘menyenangkan’ karena memiliki seseorang itu?” sambungku.

Shadow kemudian menjauhkan tubuhnya dariku, dipandanginya aku sejenak sebelum dia akhirnya berucap.

“Hanya saja… menyenangkan. Kalau kau tidak pernah memiliki seseorang dalam kurun waktu yang teramat lama, bukankah menyenangkan ketika akhirnya memiliki seseorang?” aku menyernyit bingung saat mendengar ucapannya.

Tapi bisa kutangkap kalau sekarang dia tengah bicara tentang dirinya sendiri yang sebenarnya selalu sendirian. Apa selama ini dia kesepian? Berapa lama waktu yang dia habiskan dengan menyendiri?

Mengapa sekarang menjadi seseorang yang dimiliki oleh pembunuh mengerikan sepertinya justru membuatku merasa lebih baik dan berguna bagi orang lain?

“Kalau begitu, kau boleh memilikiku.” ucapku akhirnya.

“Apa?” ia menatapku.

“Aku juga tidak punya siapa-siapa. Anggap saja, aku juga punya kau sekarang. Meski kita hanya ada dalam hubungan saling mengejar antara seorang reporter dengan bahan pemberitaan.” aku tersenyum sembari mengatakannya.

Tidak mungkin aku katakan bahwa sekama ini aku juga cukup kesepian dan sendirian, bukan? Dia mungkin akna merasa kasihan padaku karena keadaanku yang begitu menyedihkan.

“Kau tidak sendirian, Anna. Kau bisa menemukan banyak orang untuk ada di sisimu. Aku lah yang selamanya akan sendirian, karena aku hanya seorang pembunuh yang dihindari oleh semua orang.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Tempat baru, lingkungan baru, mungkin harusnya menjadi jalan bagi kehidupan yang baru bagi seseorang. Tapi hal itu rupanya tidak berlaku bagi Do Kyungsoo. Sekolah barunya sekarang justru membuatnya merasa bahwa dia telah melakukan kesalahan yang cukup fatal.

Bukan hanya karena dia telah merasa terlalu percaya diri untuk kemudian sadar bahwa dia telah membawa dirinya keluar dari kandang harimau untuk masuk ke kandang buaya. Tapi karena Kyungsoo juga sadar, bahwa kesalahan yang dia lakukan sekarang akan membawanya ke dalam permasalahan yang sudah bertahun lamanya berusaha dia kubur.

Sosok itu berdiri di sana, tengah bicara di depan kelasnya dengan cara terlampau intelek untuk bisa Kyungsoo tuduh sebagai seseorang yang sama seperti yang dulu dikenalnya.

Park Chanyeol. Murid bermasalah yang berasal dari kelas yang sama dengan seseorang yang dulu dilibatkannya dalam masalah mengerikan, sekarang berdiri di depan kelas sembari menjelaskan tentang teori relativitas pada teman-teman sekelasnya.

“Wah, tidak salah kalau Chanyeol menjadi jenius Fisika di kelas kita, bukan?” celetukan dari salah seorang teman sekelas mereka justru membuat Kyungsoo semakin tidak merasa nyaman.

Beberapa tahun sebelumnya, Chanyeol hanyalah seorang murid biasa yang ada di kelas juniornya, bersama dengan seorang lagi gadis manusia yang diam-diam sudah Kyungsoo kubur dalam ingatan.

“Benar sekali, kita bangga karena punya Chanyeol di sekolah ini.” guru di depan kelas Kyungsoo berkata.

Tidak ada pilihan, salah satunya harus pergi dari tempat ini. Meski Kyungsoo mulai merasa nyaman pada keadaan yang disuguhkan kota kecil ini, mengingat bagaimana dia juga bisa mendapatkan teman baru di sini, tapi dia tidak bisa menetap.

Dia harus menghindari masalah. Dan menghindari VPGN sepertinya adalah salah satu cara untuk menghindar dari masalah itu. Kalau Chanyeol yang pergi, sekolah ini hanya akan berada dalam kekacauan yang tidak Kyungsoo harapkan.

Maka, Kyungsoo lah yang harus pergi.

“Baiklah, Chanyeol kau boleh duduk kembali di kursimu. Kau sudah absen empat hari, jadi kau melewatkan perkenalan murid baru yang sekarang menjadi teman satu mejamu.” ucap guru di depan kelas Kyungsoo.

Ingatkan Kyungsoo kalau dia tadinya sudah merasa bahwa dia akan menjalani hari yang menyenangkan di sekolah baru ini saat kemudian Park Chanyeol muncul di ujung pintu kelas, terlambat datang, dan telah absen selama empat hari.

Sialnya lagi, pemuda itu adalah teman satu meja Kyungsoo.

“Lama tidak bertemu.” ucap Chanyeol saat dia duduk di sebelah Kyungsoo, tidak ada emosi yang terselip dalam sapaan itu.

Chanyeol hanya sekedar menyapa Kyungsoo saja, mengingatkan pemuda itu bahwa Chanyeol masih mengingatnya. Hal yang kemudian membuat Kyungsoo mendengus pelan dari kursinya.

“Dunia ini ternyata sempit juga, lama tidak berjumpa, Park Chanyeol. Apa kabarmu?” ucap Kyungsoo, dia bisa saja berlagak tengah memperhatikan pelajaran padahal sekarang fokusnya ia arahkan pada pemuda yang duduk di sampingnya.

“Baik, sebelum kulihat kau tiba-tiba muncul di kelasku.” Chanyeol menyahuti.

“Aku juga sama terkejutnya denganmu. Tapi tenang saja, aku akan mengalah kali ini. Aku tidak mau masalah lain muncul di sini, jadi aku akan pergi.” kata Kyungsoo dijawab dengan anggukan pelan oleh Chanyeol.

“Baguslah, aku sudah nyaman di sini.” sahut Chanyeol.

Keduanya kemudian sama-sama berusaha menyibukkan diri dengan mencatat. Padahal, masing-masing dari mereka punya pembicaraan yang ingin diutarakan. Tapi sayang, waktu sudah menelan keberanian  mereka untuk saling bicara satu sama lain.

“Bagaimana kabar Ahri?”

KRAK!

Pertanyaan berikutnya yang Kyungsoo ucapkan berhasil membuat Chanyeol mematahkan bolpoin yang ada di tangannya. Beruntung, tidak ada yang menyadari kesibukan mereka berdua sehingga keduanya tidak perlu merasa terkejut karena melihat apa yang Chanyeol sekarang perbuat.

“Jangan berlebihan, Park Chanyeol. Aku hanya membuatmu benar-benar ‘ingat’ saja.” ucap Kyungsoo berhasil membuat Chanyeol mendengus pelan.

“Untuk apa? Bukannya kau juga tidak peduli? Kau juga tahu benar apa yang teman lamamu itu perbuat pada Ahri, bukan?” tanya Chanyeol.

“Dia bukan temanku.” ucap Kyungsoo menyahuti perkataan Chanyeol. “Tapi setidaknya aku senang melihat bagaimana kau terlihat baik-baik saja.” sambung Kyungsoo membuat Chanyeol akhirnya menghela nafas panjang.

“Bagaimana keadaan Baekhyun?” tanya Chanyeol.

“Xiumin sudah menghancurkannya, apa kau tidak ingat?” ucapan Kyungsoo sekarang berhasil mengingatkan Chanyeol pada peperangan mengerikan yang sudah mereka lalui bertahun yang lalu.

Meski tahun sudah berlalu, tapi Chanyeol tidak bisa berbohong. Dalam ingatannya, jelas sekali semua rekaman tentang perang tersebut seolah baru saja terjadi di hari kemarin.

“Jadi… dia sudah tidak ada, ya?” kata Chanyeol dengan pandangan muram.

“Bagaimana dengan jasadnya? Kau tidak membawa tubuh Baekhyun? Bukankah masih ada Jiwa-nya yang tersisa?” tanya Chanyeol kemudian, Kyungsoo padahal belum memberikan jawaban apapun terhadap pertanyaannya yang tadi.

“Ada hal yang tidak bisa kau mengerti, Chanyeol. Meskipun aku dan Baekhyun lama menghabiskan waktu bersama, tapi kami juga harus berpisah jika tidak ingin sesuatu seperti dulu terulang kembali.” tutur Kyungsoo, sesekali dia pandangi sekelilingnya, seolah mengawasi orang-orang yang mungkin akan mendengarkan pembicaraan mereka sekarang.

“Jadi kau membiarkan Baekhyun mati?” tanya Chanyeol, rupanya dia sudah sampai pada satu kesimpulan saat mendengar apa yang Kyungsoo jelaskan.

“Memangnya apa yang kau lakukan sekarang? Kau juga tidak menyelamatkannya bukan? Kemana kau di saat perang itu terjadi? Hanya dengan melenyapkan Kris kau sudah puas?” ucap Kyungsoo membalas.

Tidak berniat untuk menyahuti sindiran Kyungsoo, Chanyeol lantas melanjutkan.

“Lalu, Sehun, Kai, dan yang lainnya?”

Kyungsoo mengalihkan pandangannya saat tahu kalau Chanyeol sedari tadi hanya mengabsen mereka saja, tanpa ada niatan untuk peduli.

“Aku tidak tahu.” ucap Kyungsoo.

Chanyeol menyernyit.

“Kau sama saja sepertiku. Meninggalkan tempat kejadian setelah itu… Kau bahkan tidak mempedulikan Injung? Dan hanya pergi dalam sosok Jiwamu?” ucap Chanyeol.

“Lalu bagaimana denganmu hah? Apa kau peduli pada Ahri? Kau juga pergi dari tempat itu.” Kyungsoo lagi-lagi berkata, tidak, dia tidak sedang berusaha menyudutkan Chanyeol, yang ada sekarang Kyungsoo tampak berusaha mengingatkan Chanyeol atas tempat yang telah ditinggalkan dan dilupakannya beberapa tahun silam.

“Mereka semua harus aku jauhi dan aku lupakan.” Chanyeol berkata dengan nada muram.

“Ternyata kau sudah berubah sebanyak ini selama empat tahun.” kata Kyungsoo.

Keduanya kemudian terdiam. Tampak sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing sementara waktu terus berjalan. Chanyeol sendiri tampaknya enggan untuk menyahuti ucapan Kyungsoo. Sebab yang dikatakan pemuda itu tidak ada salahnya. Dia memang berusaha untuk berlari dari kenangan yang empat tahun lalu sudah menghancurkannya.

Sementara Kyungsoo sendiri hanya berpura-pura kuat, padahal sebenarnya dia sama takutnya dengan Chanyeol. Bagaimana tidak, empat tahun lalu dia harus menyaksikan orang terdekatnya dihancurkan oleh seorang A-VG. Dan bagi Kyungsoo, kenangan itu sungguh mengerikan.

“Pergilah, Kyungsoo. Salah satu dari kita harus pergi, dan aku sudah katakan kalau aku nyaman di lingkungan ini, bukan?” ucap Chanyeol akhirnya.

“Aku memang sudah berencana untuk pergi. Aku tidak akan membiarkan Injung lain, atau Ahri lain menjadi korban dari Jiwa kita yang sudah pulih. Aku akan pindah secepatnya.” ucap Kyungsoo.

Chanyeol tersenyum samar saat mendengar ucapan pemuda itu.

“Semoga kau akan baik-baik saja…”

“Kau juga. Aku harap kau sadar dari kebodohanmu ini, Park Chanyeol.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Anna’s Eyes…

Kyungsoo tidak terlihat baik hari ini, dia terus-terusan memasang ekspresi muram padahal siang hari ini begitu terik. Sungguh, ekspresinya sekarang benar-benar jadi pertanda bahwa dia tidak sedang berada dalam mood yang baik.

“Kyungsoo, kau baik-baik saja?” tanyaku, untuk ketiga kalinya di hari ini.

Dan seperti dua pertanyaanku sebelumnya, Kyungsoo agaknya memilih untuk mengabaikan—

“Aku akan pergi, Anna.”

—apa?

“Kemana kau akan pergi?” tanyaku saat mendengar ucapan Kyungsoo.

Ada apa dengannya? Mengapa tiba-tiba bicara soal pergi tanpa ada alasan seperti ini? Apa seseorang berbuat buruk pada Kyungsoo di sekolahnya? Atau… apa dia dibully? Sekolah sekarang sangat buruk karena membiarkan murid-murid dibully, bukan?

“Aku harus pergi. Di sini bukanlah tempatku.” ucap Kyungsoo membuatku semakin menatap tidak mengerti.

“Kenapa kau harus pergi? Mengapa kau mengatakan hal aneh semacam itu, Kyungsoo? Mana bisa kau menentukan tempat ini pantas atau tidak untukmu secara sepihak?” tanyaku membuat Kyungsoo tertawa pelan.

“Aku tahu, hanya dengan melihatnya. Ada tempat yang pantas untukmu, ada yang tidak. Dan tempat ini… tidak menerimaku, Anna.”

“Apa kau… dibully?” tanyaku hati-hati, mendengar dari ucapan Kyungsoo sekarang, sudah jelas dia tampak tidak nyaman karena lingkungan baru yang dimasukinya.

“Tidak, sekolah baik-baik saja. Sudah kubilang kalau lingkungan ini tidak pantas untukku, Anna. Ada alasan yang membuat aku tidak bisa terus ada di sini.”

“Lalu… apa alasannya?”

Kyungsoo menghela nafas panjang, lalu tersenyum.

“Ada hal yang sangat menyakitkan yang selalu aku ingat jika aku berada di sini, jika aku pindah, aku akan lupa pada hal menyakitkan itu. Begitu Anna.”

Aku terdiam. Memangnya hal menyakitkan apa yang akan bisa ia lupakan hanya dengan pergi dari satu tempat? Bukankah Kyungsoo juga sama barunya denganku di tempat ini? Mengapa dia justru bicara seolah dia dulu berasal dari tempat ini?

“Lalu… kau berlari dari masalah itu, Kyungsoo? Bukankah berlari dari masalah sama saja dengan membiarkan masalah itu mengejarmu? Lagipula, berlari dari masalah adalah tindakan seorang pengecut, Kyungsoo.”

Mendengar ucapanku, Kyungsoo justru kembali tertawa. Apa sekarang ucapanku terdengar menggelikan dalam pendengarannya? Aku ‘kan tidak sedang berusaha untuk melucu.

“Kau benar, aku memang seorang pengecut. Itulah mengapa aku memilih untuk pergi.” ucap Kyungsoo membuatku menatapnya tidak mengerti.

“Apa sebenarnya masalahmu, Kyungsoo? Kemana kau akan pergi?” tanyaku, masih tidak memahami mengapa berlari jadi pilihan yang lebih baik bagi Kyungsoo.

“Bukcheon, mungkin. Aku punya kenalan di sana.” ucap Kyungsoo.

“Bagaimana jika hal menyakitkan itu mengikutimu sampai ke Bukcheon? Apa kau akan pindah lagi? Sampai kapan kau mau menghindarinya?”

“Hal seperti ini bukanlah hal yang bisa kau mengerti, Anna. Ada kalanya, masalah itu tidak bisa dengan mudah dijelaskan pada orang lain, meskipun kau berusaha untuk memahaminya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Tatapan nyalang seseorang di sudut jalan tampak meneror dua orang pria yang sekarang tengah berjalan menyebrangi jalan raya di antara belasan orang yang juga menyebrangi jalan bersama dengan dua orang tadi.

Sebuah pisau lipat sekarang menari-nari di sela jemari sosok berpakaian gelap yang sedari tadi mengawasi dua orang tersebut. Sesekali dia menyiulkan lagu dengan nada meneror, seolah tindakannya tidak akan menarik perhatian orang lain yang melewatinya.

Baru saja, pria berpakaian gelap itu hendak melangkah dengan pisau lipat yang terarah lurus pada satu dari dua orang yang diincarnya, manik pria itu sudah berpaku pada seorang gadis berambut sebatas punggung dengan highlight merah muda yang sekarang tengah tergesa-gesa melangkah di penyebrangan jalan yang sama.

“Jadi, ini yang disebut sebagai takdir ya? Kemana pun aku pergi pasti aku akan bertemu dengannya.” gumam pria itu, tanpa sadar fokusnya pada dua sasaran yang sudah diincarnya sejak tadi sekarang beralih pada si gadis.

Tanpa sadar, pria itu memasukkan kembali pisau lipat yang sudah ia siapkan tadi, sengaja menutupi wajahnya dengan topi, meskipun topeng yang ia kenakan masih juga jadi perhatian beberapa orang.

Tapi sepertinya tak ada yang ambil pusing. Pagi ini sudah terlalu sibuk, dan tidak ada waktu meskipun hanya dua sekon hanya untuk memperhatikan penampilan orang lain. Diam-diam, pria itu memperhatikan gerak-gerik si gadis, yang sekarang tengah disibukkan oleh sebuah surat kabar di tangan, sementara langkahnya mulai memelan karena jalanan sudah mulai lenggang.

Baru saja, sebuah senyum hendak muncul di raut si pria lantaran melihat bagaimana gadis itu merengut, dia sudah dikejutkan oleh pemandangan lain yang mengerikan. Sebuah mobil sekarang melaju dengan kecepatan cukup tinggi ke arah si gadis. Dan tak menunggu waktu, pria itu segera melesat ke arah si gadis, menariknya paksa bahkan sebelum si pemilik mobil tersebut sempat menekan klaksonnya untuk memperingati.

Akh! Hey!” gadis itu sontak memberontak begitu dirinya ditarik paksa ke seberang jalan, koran yang tadi dibacanya bahkan jatuh di tengah jalan, sekarang menjadi korban lindasan mobil yang dua sekon lalu hampir saja menabraknya jika pria itu tidak menyelamatkan si gadis.

“Apa kau sudah bosan hidup, Anna?” pertanyaan itu segera menyambut rungu si gadis, membuat gadis itu segera mengalihkan pandang ke arah sosok yang tadi dengan lancang menariknya.

“S-Shadow…” gumamnya tanpa sadar, tangannya yang tadi dengan paksa berusaha melepaskan cengkraman si pria kini dengan pasrah ia alihkan, seolah gadis itu membiarkan tangan si pria untuk terus mencekalnya seperti saat ini.

“Kau tidak dengar apa kataku? Apa kau sudah bosan hidup? Beberapa detik yang lalu kau bisa saja tertabrak mobil, Anna.” ulang pria itu memperingatkan si gadis.

Tapi gadis itu tampaknya sudah terlalu bebal untuk diperingati.

“Apa kau… baru saja menyelamatkanku?” tanyanya berlawanan dengan kekesalan yang sekarang ditunjukkan si pria.

“Apa?”

“Kau menyelamatkanku, Shadow.” Anna menunjuk ke arah tangan si pria yang masih mencengkramnya. Meskipun jemari pria itu terbalut sarung tangan berwarna hitam, tapi bisa Anna rasakan bagaimana eratnya cengkraman si pria di lengannya sejak tadi.

Sontak, pria itu melepaskan cekalannya pada Anna. Sadar bahwa tindakannya justru membuat si gadis makin terobsesi padanya, pria itu lantas berbalik, memilih untuk mengambil langkah meninggalkan si gadis.

Hey, tunggu sebentar.” Anna segera menahan langkahnya.

“Ada apa lagi?” tanya pria itu.

“Bagaimana kita bisa bertemu lagi? Aku bahkan tidak berusaha mengikutimu selama beberapa hari ini.” ucap Anna, senyum kecil dikulumnya sebab pertemuannya dengan si pria setelah beberapa hari dia berusaha menghindar—karena ancaman yang diberikan Shadow of The Dark tempo hari mengenai bagaimana berbahayanya pria itu bagi Anna—dia justru bertemu lagi dengan cara yang cukup unik dengan pria itu.

“Aku tahu, kau bahkan melewati jalan-jalan yang biasanya tidak kau lewati untuk menghindariku. Mengapa? Apa karena kukatakan kau adalah milikku lantas kau menyesal dan akhirnya ingin menjauh dariku?” tak ayal tanya yang selama ini disimpan si pria terucap juga.

Lagi-lagi, senyum muncul di wajah Anna sebagai jawaban.

“Apa kau memperhatikanku, Shadow?” pertanyaan Anna sekarang berhasil membuat pria itu berbalik.

Dipandanginya Anna, yang tidak sedikit pun menaruh ketakutan terhadapnya, tidak juga memandangnya seperti cara orang-orang memandangnya seolah dia adalah makhluk mengerikan yang harus dihindari.

Anna, selalu memandangnya dengan cara yang sama, hangat.

“Bukannya memperhatikanmu, tapi aku juga berusaha menghindar darimu, Anna. Bodohnya, selama beberapa hari ini aku justru melihatmu saat kau melewati jalur yang tidak biasa kau lewati.” aku si pria.

“Benarkah? Wah, itu artinya takdir mempertemukan kita kembali.” Anna menyahut ringan, seolah pertemuan berulang kalinya dengan si pria bukanlah masalah yang serius.

“Kau tidak takut?” tanya si pria pada Anna.

“Untuk apa aku takut? Aku bertemu denganmu, Shadow, mengapa aku harus takut? Bukannya kau juga tidak akan melukaiku?” tanya Anna, kini si gadis mengambil satu langkah berani mendekati pria tersebut.

Hati-hati, Anna bergerak melingkarkan lengannya di lengan si pria, sementara tungkainya mulai membawa si pria untuk berjalan menjajarinya.

“Orang-orang mungkin akan terus memandangimu kalau kita bicara di pinggir jalan. Apa kau sudah makan? Aku bisa mengajakmu ke—ah, maaf… aku bahkan tidak tahu kau sebenarnya siapa.” Anna kemudian terdiam.

Sadar bahwa selama ini pertanyaannya atas identitas si pria belum juga terjawab. Dia yakin benar, pria di hadapannya bukanlah manusia biasa. Tapi Anna juga tidak bisa berspekulasi, sebab dia tidak punya bukti pasti untuk dia gunakan sebagai kemungkinan mengenai identitas pria tersebut.

Selama ini Anna hanya menerima keadaan yang disuguhkan oleh si pria, memercayai apa yang dilihatnya tanpa ingin tahu apa fakta di balik kejadian yang dilihatnya itu.

“Aku bisa menemanimu makan, Anna. Aku tahu, kau masih ingin bicara denganku, bukan?” pertanyaan si pria membuat langkah Anna terhenti.

Dipandanginya pria itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Bagaimana bisa kau tahu? Aku baru saja memikirkan ‘ah, aku ingin bicara lebih lama dengannya’ saat kau tiba-tiba bicara begitu. Apa kau… bisa membaca pikiranku?” pertanyaan Anna sekarang membuat si pria tanpa sadar menyarangkan tangannya yang terbebas di puncak kepala si gadis.

“Andai saja bisa begitu, pasti aku bisa mengenalmu dengan lebih baik.” ucap si pria sebelum dia merapikan anak rambut Anna yang acak-acakkan karena terkena angin.

“Dimana tempat yang kau sukai itu? Kita bisa ke sana, kau bisa makan dan aku akan menemanimu. Lalu kita bisa bicara satu dua hal, itu yang kau inginkan bukan?” tanya si pria dijawab Anna dengan sebuah anggukan mantap.

“Ya, astaga, kau sungguh bisa tahu apa yang aku pikirkan, Shadow.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Anna’s Eyes…

Shadow of The Dark ada di hadapanku. Dia duduk di depanku, mengamati diriku yang tengah makan sementara aku bisa mendengar tarikan dan hembusan nafasnya karena kami berada di bilik kecil yang ada di sudut paling belakang dari restoran kecil yang jadi favoritku selama beberapa hari terakhir.

Tidak, Anna. Kendalikan jantungmu. Ingat, dia adalah seorang pembunuh. Lihat saja bagaimana caranya sekarang memperhatikan tiap gerakanmu, bagai seorang pemburu yang tengah mengamati mangsa—tidak, Shadow tidak seperti itu.

Dia tidak pernah berusaha melukaiku.

“Kita akan bicara tentang apa?” akhirnya aku berkata, setelah beberapa menit berlalu dalam kebisuan sebab Shadow of The Dark tampaknya lebih suka berdiam daripada memulai sebuah pembicaraan.

“Kau yang mulai, Anna, bukankah kau yang lebih banyak ingin tahu tentangku?” ia bertanya balik padaku.

“Tapi aku selalu bicara begitu banyak saat kita bertemu. Aku juga ingin mendengarmu bicara, Shadow.” kataku, berusaha untuk terlihat santai padahal sekarang jantungku tengah melompat ke sana kemari.

“Hmm…” Shadow of The Dark menggumam pelan, “Aku mungkin harus pergi, Anna.” sambungnya berhasil membuatku menghentikan aktivitasku.

“A-Apa?” tanyaku tak percaya.

Mengabaikan ekspresi terkejut yang sekarang kupamerkan, dia malah bergerak melepaskan sarung tangan kanannya, sebelum jemarinya kemudian menyentuh sudut bibirku, mengusapnya lembut.

“Aku akan pergi, tidak, maksudku… aku harus pergi, Anna.” ulangnya, kini tangannya bergerak meraih tissue yang ada di dekat kami, dan ia mengusap jemarinya di sana. Bisa kulihat bekas sauce ada di tissue itu.

Sadarlah, Anna. Jangan hanya berfokus pada apa yang baru saja jemarinya lakukan dengan lancang pada wajahmu, tapi fokuslah pada apa yang sekarang sedang dia beritahukan padamu.

“Kemana kau akan pergi?” tanpa sadar aku bertanya.

Kenapa dia harus pergi? Apa seseorang di sini mencurigainya? Atau… ada journalist lain sepertiku yang berusaha mengungkap keberadaannya?

“Di sini bukanlah tempatku.”

“Aku harus pergi. Di sini bukanlah tempatku.”

Mengapa… dia mengatakan hal yang sama dengan Kyungsoo?

“Kemana kau akan pergi? Mengapa kau mengatakan hal yang sama… dengan seseorang yang aku kenal?” tanyaku, kembali tanpa sadar kuutarakan apa yang ada dalam benakku.

“Benarkah?” dia bertanya dengan tenang, “Apa orang yang kau kenal itu juga mengenakan topeng sepertiku?” sambungnya sambil memasang kembali sarung tangan yang tadi dia lepaskan.

“Tidak… Tapi dia mengatakan hal yang sama denganmu, Shadow. Dia katakan bahwa dia harus pergi karena di sini bukanlah tempat yang pantas untuknya. Dia katakan… kalau dia harus pergi untuk melupakan hal yang akan selalu dia ingat kalau dia ada di sini.

“Aku tak ingin mengatakannya padamu juga, tapi kepadanya aku katakan bahwa tindakannya adalah tindakan seorang pengecut. Mengapa pergi kalau hanya ingin menghindari seseorang atau sesuatu yang ada di tempat ini?”

Kudengar bagaimana sosok di hadapanku menghela nafas panjang.

“Aku juga begitu, apa aku juga seorang pengecut di matamu, Anna?” pertanyaannya sekarang membuatku semakin tidak mengerti.

“Apa maksudmu?”

“Aku juga pergi karena menghindari hal yang menyakitkan yang akan selalu aku ingat jika aku ada di sini. Itu artinya aku pengecut juga kan?”

Mengapa… begitu sama? Mana mungkin ada kebetulan yang begitu sama seperti ini? Tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku menerima dua perpisahan yang serupa dari dua orang berbeda?

“Mengapa? Apa alasan yang membuatmu harus pergi?” lagi-lagi aku bertanya, sungguh tidak bisa kuterima alasannya begitu saja ingin meninggalkan tempat ini tanpa dia peduli pada apa yang dia tinggalkan.

Mengapa? Mengapa saat aku justru merasa bahwa hubungan kami semakin dekat, dan semakin dekat pula aku pada kebenaran tentang identitasnya, mengapa dia justru memilih untuk pergi?

“Alasan menyakitkan itu yang membuatku harus pergi, Anna.”

“Dan apa alasan bodoh yang menyakitimu itu, Shadow?” tuntutku dengan nada tidak terima.

Shadow of The Dark terdiam sejenak, dipandanginya aku seolah kefrustasian yang sekarang kupamerkan adalah reaksi tidak wajar yang tidak seharusnya dengan lancang aku pamerkan di hadapannya.

Tapi aku tidak peduli. Aku sudah terlampau jauh membiarkan diriku mengenalnya, berada di dekatnya. Untuk apa aku merasa takut hanya karena satu kalimat lancang?

“Kau, Anna.”

“Apa?” aku menatapnya tidak mengerti.

“Kau adalah alasan menyakitkan itu.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

HAMDALLAH, ya Lord, kuatkan hamba dalam menjalani komitmen yang sudah hamba buat untuk menyelesaikan semua fanfiksi berchapter di tahun ini ya Lord. Kuatkan kesehatan hamba dan terutama jari juga otak hamba ya Lord, supaya hamba ini enggak cepet menyerah di tengah peperangan buat nyelesein fanfiksi…

Chapter enam gidaryeo akhirnya bisa selesai, dengan jumlah kata yang enggak mengecewakan aku juga, huhu rasanya mengharukan sekali, kayak berhasil dapet bocoran UNAS, LOLOLOLOL. Tapi tetep mengharukan yang ini dong rasanya, soalnya selesainya satu chapter berarti aku selangkah lebih dekat ke target selesaiku di akhir Desember tahun ini.

Ya ampun, tahu enggak sih kesannya di kalender itu masih jauh ya Desember, tapi sebenernya sebentar banget kalo dijalanin. Seminggu aja muternya cepet banget, apalagi sebulan. Apalagi dua bulan.

Lah ini tinggal empat bulan dan deadline masih seabrek, ya Lord, sekali lagi kuatkan hamba ini. Sesungguhnya tanpa ada ide yang tiba-tiba aja diniatin buat diketik, ini chapter enggak akan bisa selesai.

Huhu, chapter enam udah ngomong soal ending aja, padahal masuk ke inti permasalahan aja belom, si Shadow aja belum ketauan siapa /eh/eh/eh/eh/eh/.

Sudah dulu ya ocehan di akhir katanya, jari aku seharian ini overload kerjanya, sekarang ngilu binggo rasanya kalo dipake ngetik, apalagi jari manis sama kelingking kiri… :”) cekit cekit gitu rasanya huhu. Ngetik pake tangan kanan aja kan enggak enak. Mana ini kaki kaku banget akibat jaga P3K plus jalan sehat yang begitu penuh perjuangan :”)

Sekian dulu dariku, sampai jumpa minggu depan!

Salam kecup, Irish!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

13 tanggapan untuk “GIDARYEO – 6th Page — IRISH’s Tale”

  1. irisheu mana sehun injungnya ???? OMG vpgn udah muncul semua tinggal avg yang masih jadi tanda tanya kenapa berasa shadow of the dark itu luhan ya ??

  2. Masih aja penasaran siapa itu shadow, apa shadow itu baekhyun yah ? Dan kenapa alasan shadow pergi karna anna ? Apa shadow suka sama anna ya ?
    Ditunggu next chapter nya kak.

  3. Bc chptr 6 ni jd brasa ky 찬열 yg tetiba ktmu d.o di kls’ny, slowly but surely mule inget yg lalu2. Kembali di remind ttg 백 yg ‘spt-ny’ sdh tiada akibat prang yll tu makes me assume klo si shadow itu adlh 백 😅 bner ga ya? Smngt u/ bs konsisten dg target finish di akhr thn ini ya rish! Sp tu 남자 yg hmpr kna serangan pisau lipat’ny shadow? Pasti anna sdih & ga rela klo hrs pisah sm 2 tmn yg br ja mule dket di lngkng br t4 dy tinggal skrg, di hr yg sm dg alasan yg jg sm bgt, gmn ga makin curiga, pa lg anna journalist yg kritis bgt, ni ky challenge yg hrs dy kuak kbenaran’ny. Disiplin u/ mengistirahatkan diri jg ya, don’t push urself too hard iriseu.. See u nex week!

    1. XD chapter ini emang penuh masa lalu, rasa nostalgia gitu XD sayangnya dulu kan mereka enggak sekelas itu XD wkwkwkwk iya kak, ini juga lagi usaha buat bikin semuanya sesuai deadline XD sesekali gitu aku niat ngerjain sesuatu wkwkwkwk XD makasih kak nindy ~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s