GAME OVER – Lv. 15 [Dawn Attack] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11 — Level 12Level 13Level 14 — [PLAYING] Level 15

Lift your head to a higher place now

The dawn will shine brighter than the sun

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 15 — Dawn Attack

In Jiho’s Eyes…

“Aku hanya akan satu kali memberikan Wild Rose milikku, dan aku ingin kau jadi satu-satunya player wanita yang pernah meneirma Wild Rose dariku. Karena aku juga tidak akan melepaskanmu, jadi kau mungkin akan jadi wanita dari seorang posesif sepertiku. Apa… kau bersedia? Menjadi pendamping hidupku, Song Jiho?”

Bagaimana bisa aku menolaknya? Mana mungkin aku mengatakan tidak? Baekhyun adalah seorang pair yang sempurna, dia punya segalanya dalam permainan ini, ability, uang, dan kekuatan. Dia bahkan punya kekuasaan nyata yang diinginkan semua player WorldWare.

Mana bisa aku menolaknya?

Lagipula, bukankah hal-hal aneh yang terjadi padaku belakangan ini adalah tanda bahwa aku juga menyukai Baekhyun?

Tapi apa aku cukup pantas untuk bersanding dengannya?

“Baekhyun, tidakkah kau pikir aku mungkin terlalu lemah untuk jadi—”

“—Aku tidak suka penolakan, Jiho.” Baekhyun sudah memotong ucapanku bahkan saat aku belum sempat menyelesaikan kalimatku.

Apa keraguan itu terdengar menyelip dalam ucapanku barusan?

“Tentang wedding yang pernah kau bicarakan… apa kau sudah merencanakannya?” tanyaku akhirnya, menyerah karena bibirku juga tidak sanggup untuk sekedar mengatakan ‘ya’ padahal yang sekarang ada di dalam survival mode adalah benakku dan bukannya tubuhku.

Mengapa mengatakan ‘ya’ saja begitu sulit?

“Apa itu artinya kau menerima Wild Rose yang kuberikan?” tanya Baekhyun memastikan keputusanku.

“Bagaimana aku bisa menolakmu sementara kau begitu… sempurna, Baekhyun?”

Bisa kudengar bagaimana Baekhyun sekarang tertawa karena ucapanku. Apa baginya perkataanku menggelikan? Padahal aku mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.

“Aku tidak bercanda, Baekhyun. Kau memang sempurna.” ucapanku lagi-lagi membuat Baekhyun tergelak.

“Aku tahu, kau tidak perlu memperjelasnya, Jiho. Ini pertama kalinya untukku, mendengar seseorang mengatakanku sempurna seperti caramu mengucapkannya.” Baekhyun menjelaskan.

“Kenapa? Aku hanya mengatakan apa adanya. Suaramu, wajahmu, caramu bicara, caramu memperlakukan seseorang, sikapmu, semuanya begitu sempurna dalam pandanganku. Jantungku bahkan seringkali berkhianat dengan berdegup tidak karuan karena—”

—tidak. Hentikan Jiho, apa yang sedang kau lakukan?

“Apa aku seperti itu?” aku menatap Baekhyun saat akhirnya dia bicara, ekspresinya sekarang sungguh tidak bisa kuartikan. Mengapa dia memandangku seperti itu?

“Ya…” aku akhirnya dengan pasrah berkata.

Memang kenyataannya begitu, Baekhyun terlampau sempurna.

“Terima kasih, Jiho. Kau orang pertama yang mengatakan hal semacam itu padaku, dan aku sungguh senang mendengarnya, karena kau lah yang mengatakan semua itu.” ucap Baekhyun, dia meraih tangan kananku, meletakkan Wild Rose-nya di telapak tanganku sebelum ia menarikku mendekat.

“Bagaimana bisa aku menemukan seseorang sepertimu di dalam permainan, Jiho?” aku menatap Baekhyun saat mendengarnya bicara.

“Mengapa? Memangnya di kehidupanmu kau tidak pernah menemui seseorang sepertiku?” tanyaku dijawab Baekhyun dengan sebuah senyum tipis.

“Tidak ada yang memerlakukanku sebaik dirimu.”

“Terima kasih, aku anggap itu sebagai pujian.” kataku akhirnya, kalau diingat-ingat lagi, aku juga tidak selalu memperlakukan Baekhyun dengan baik.

Di awal-awal pertemuan kami dulu, aku bahkan sempat mencurigainya dan menuduhnya sebagai seorang player yang tidak kalah kejamnya dengan player haus kekuasaan lainnya. Ya, memang ada benarnya pepatah yang mengatakan kalau kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya saja.

Baekhyun nyatanya tidak seburuk yang kupikirkan di awal pertemuan kami dulu.

“Jadi kapan kita akan mengadakan wedding, kau yang tentukan harinya, Jiho.”

Aih, bahkan caranya sekarang bicara saja sudah membuatku merasa seolah kami akan melakukan wedding yang benar-benar serius. Kita hanya akan melangsungkan pernikahan di dalam game, Baekhyun. Mengapa kau membuatnya terlihat begitu serius?

“Lusa?” ucapku membuat Baekhyun menyernyit.

“Kita tidak punya waktu sampai lusa. Seleksi untuk pasangan yang bisa mengikuti monthly quest sudah akan dimulai lusa.” ucap Baekhyun lantas mengingatkanku pada monthly quest yang aku incar-incar.

“Baiklah, besok sore?” aku akhirnya berkata.

Baekhyun tampak berpikir sejenak, sebelum dia akhirnya mengangguk mengiyakan.

“Aku akan menunggumu pukul empat sore.” Baekhyun memutuskan.

Aku menjawab ucapannya dengan anggukan. “Apa yang harus kupersiapkan?” tanyaku kemudian. Aku lantas tersadar, mengapa aku menanyakannya pada Baekhyun? Dia bisa saja berpikir aku adalah gadis terbodoh yang bahkan tidak tahu harus berbuat apa saat diajak wedding di dalam sebuah game.

Mengapa aku tidak diam saja dan bertanya pada Ashley nanti?

“Tidak perlu menyiapkan apapun, Jiho. Cukup datang saja ke Hall utama. Aku akan menunggumu di sana.” Baekhyun berkata.

“Baiklah, kalau begitu… aku bisa logout sekarang? Kupikir Ashley dan yang lainnya sudah menungguku.” kemudian aku memutuskan, berlama-lama dengan Baekhyun dan membicarakan soal wedding yang sebenarnya kuyakini ditawarkan Baekhyun padaku hanya karena ia tidak ingin aku terlepas dari genggamannya di satu sisi entah mengapa membuatku bahagia.

Tapi ada secuil rasa sakit yang lancang ikut serta dalam kebahagiaan itu. Entah mengapa, aku tidak merasa jika kebersamaanku dengan Baekhyun ini akan bertahan lama. Ada hal yang sebenarnya lebih mengerikan daripada membayangkan kekalahan dalam quest.

Terkadang, menjadi teman saja sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang menjadi dekat dengan seseorang yang diinginkannya. Karena hubungan semacam ini cenderung tidak akan bertahan lama.

Ya, anggap saja, setelah orang lain mengetahui kekuranganmu, mereka kemudian mempertanyakan kembali keputusannya karena telah memintamu untuk hidup bersama mereka. Pada akhirnya, pertengkaran-pertengkaran mulai muncul dan akhirnya berujung pada sebuah perpisahan.

Dan aku tidak ingin berpisah dengan Baekhyun.

Bukan dalam maksud sebagai pair, tapi aku memang tidak ingin Baekhyun kemudian menyesali keputusannya untuk menjadi dekat denganku, dan rasa sakit yang membuatku khawatir ini rupanya tengah mengajakku bermain-main dengan delusi dan kemungkinan bahwa Baekhyun akan meninggalkanku begitu dia tahu bagaimana aku sebenarnya.

Tapi ah, sudahlah. Toh, ini hanya sebuah permainan yang cepat atau lambat pasti akan berakhir juga. Untuk apa aku berlama-lama khawatir?

“Ya, beristirahatlah untuk malam ini, Jiho. Jangan memaksakan diri untuk ikut terlibat dalam pekerjaan mereka.” pesan Baekhyun sebelum dia menginjak logout dan meninggalkanku sendirian.

Mau bagaimana lagi, aku memang harus mendengar perkataan Baekhyun sekarang, bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Bagaimana? Apa survival tube-nya bekerja dengan baik?”

Aku segera disambut oleh pertanyaan penasaran dari Taeil ketika terbangun. Kuakui, survival tube yang dia modifikasi memang bekerja lebih cepat dan tanggap dalam memahami keinginan dalam benakku.

Tapi masih ada beberapa lag dan masalah pada sistem pemilihan optionnya.

“Sejauh ini aku rasa keadaannya sudah cukup baik. Tapi aku masih menemui kesulitan ketika akan memilih option dan equipment dengan level di atas 50.” jawabku, teringat pada saat battle tadi aku sempat kesulitan mengganti equipment yang kugunakan.

“Ah, begitu ya? Baiklah, aku dan yang lain akan mencoba untuk memperbaikinya setelah ini. Bagaimana keadaan tubuhmu? Tidak merasa mual atau pusing?” tanya Taeil lagi.

Aku kali ini menjawabnya dengan sebuah gelengan.

“Tidak, belum ada.” ucapku yakin.

“Syukurlah. Aku sempat khawatir karena kau bertahan cukup lama dengan survival tube ini. Elemen-elemennya masih ada yang dikembangkan oleh yang lainnya, kalau kau merasa tidak nyaman saat menggunakan survival tube ini beritahu saja aku.” Taeil berkata, dia kemudian menyandarkan tubuh di atas salah satu kursi kerja yang ada di sana.

“Jeno dan Herin keluar mencari makan malam dan sedikit snack kecil untuk kerja lembur kami malam ini. Setelah kau mengalahkan kami dalam battle, aku sadari ada begitu banyak kekurangan di dalam system visualisasi survival mode WorldWare ini.

“Lihat di layar ini, aku merekam battle kita tadi dengan kamera infrared yang terinstal dalam survival tube-ku dan lihat apa yang aku dapatkan? Nah, di sini, di beberapa bagian seranganmu, visualisasinya tidak terlihat, dan ini jadi masalah kalau terus-terusan terjadi.”

Aku bersusah payah berusaha memahami penjelasan Taeil sekarang. Sejauh ini yang kulihat hanyalah bagaimana battle kami tadi ter-play dalam slow motion dan—ah, inikah yang Taeil bicarakan?

Memang, beberapa kali gerakanku terlihat buram dalam rekamannya. Apa ini karena efek visualisasi WorldWare yang masih kurang? Selama ini aku tak pernah merasa hal semacam ini sebagai masalah.

“Ah, aku bisa melihatnya. Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanyaku membuat Taeil menatap dengan alis terangkat.

“Itu adalah bagian Herin, dia bertanggung jawab pada visualisasi game yang sedang tim kami kembangkan. Karena kau adalah player yang handal, kami bisa mendapatkan banyak bugs tidak terlihat dari segi visualisasinya.

“Itulah mengapa kau jadi bagian yang sempurna sebagai player trial WorldWare yang kami kembangkan, Jiho. Aku, Daniel dan Seungwoo punya kerja berat hari ini. Jadi, kau bisa pulang bersama dengan Ashley, Jaehyun akan mengantar kalian kembali.”

Taeil mengakhiri penjelasannya dengan sebuah senyuman. Sementara Ashley sendiri memilih untuk bergelayut di sofa panjang yang ada di sana.

“Aku tidak masalah kalau pulang terlambat, sudah biasa. Tapi Jiho mungkin harus segera online karena ada yang menunggunya.” Ashley berkata.

Siapa yang menungguku? Baekhyun? Tidak, dia tidak menungguku malam ini.

“Tidak ada yang menungguku.” ucapku membantah perkataan Ashley.

“Jangan begitu, Ashley. Jiho juga butuh istirahat, anggap saja ini istirahat bonus karena dia baru saja jadi anggota Tim Delta. Besok pagi kami mungkin akan mampir ke perusahaan untuk menampilkan demo versi pertama yang Tim Delta buat.

“Kalau tidak keberatan, kau bisa datang besok pagi sebagai player trial kami, Jiho. Kami sudah buat alternate ID yang bisa kau gunakan untuk bermain. Meskipun alternate ID ini tidak berada dalam level yang tinggi, tapi setidaknya kau tidak perlu khawatir jika seseorang mungkin tahu kalau kau adalah HongJoo.”

Aku terdiam, benar juga ucapan Taeil. Mengingat tadi aku bermain dengan menggunakan profile milikku, sudah jelas ability dan equipment yang kumiliki jauh berbeda jika dibandingkan dengan profile buatan mereka.

Bagaimana kalau aku tidak terbiasa?

“Atau kau mau bermalam di sini dan menjadi player trial sementara kami bertiga membenahi sistem?” kudengar seorang pria bersurai gelap di sudut ruangan berkata.

Dia tengah disibukkan dengan PC dan barisan-barisan command yang tidak begitu kumengerti tapi kuyakini pasti akan digunakan untuk mengembangkan game ini.

“Tidak masalah, aku bisa bermalam di sini.” ucapanku sekarang membuat Taeil tersenyum kecil.

Bisa kutangkap kalau dia sebenarnya memang mengharapkan jawaban semacam ini dariku. Hanya saja dia terlalu sopan dan masih merasa canggung untuk memintaku bermalam sementara kami baru saja berkenalan.

“Benarkah?” tanya Taeil memastikan.

“Ya, kau tahu, mungkin aku bisa belajar ini-itu yang akan berguna untuk pengembangan game ini. Jadi aku tidak hanya duduk berpangku tangan dan menjadi player trial sementara kalian sudah berusaha untuk mengembangkannya dengan sempurna.” kataku kemudian.

Memang benar, aku tak mungkin dengan santai memilih untuk terlelap di dalam survival tube dan hanya tinggal bermain game saja. Meski Baekhyun berkata bahwa aku tidak sebaiknya terlalu banyak melibatkan diri dalam pekerjaan Taeil dan kawan-kawannya, tapi entah mengapa aku juga tidak merasa bahwa diriku pantas untuk duduk berpangku tangan seperti ini.

“Bagus! Kau tidak perlu membingungkan soal pakaian, Jiho. Aku sudah sering menginap di sini dan ada beberapa pakaianku yang bisa kau pakai.” Ashley sontak bangun dari sofa tempat ia sedari tadi bermalas diri.

Dengan mudah aku bisa menangkap sejauh apa hubungan yang sudah Ashley dan Taeil jalani. Lagipula, Ashley bukanlah tipe yang bisa ditolak, meskipun yang berhadapan dengannya adalah seorang seperti Taeil.

Dan juga, ada apa dengan bayanganku mengenai orang-orang dalam dunia game yang begitu terlihat aneh dan ketinggalan zaman. Mereka semua di dalam Tim Delta ini terlihat baik-baik saja.

Mulai dari Jeno, Jaehyun, Daniel, Seungwoo, Herin dan Taeil sendiri, mereka terlihat cukup rapi dan tidak akan membuat orang lain berpikiran bahwa mereka ‘aneh’. Bahkan jika kumasukkan Tarin ke dalam hitungan, dia juga tetap tidak terlihat memalukan.

“Aku sungguh berterima kasih karena kau sudah bersedia bergabung dengan projek ini, Jiho. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana jadinya jika kuserahkan player trial kepada Daniel ataupun Seungwoo.

“Kami semua punya peran di balik layar, dan saat demo nanti, masing-masing dari kami juga akan memegang peranan untuk langsung memperbaiki bugs atau masalah lain yang ditemukan.

“Ashley katakan dia tidak cukup kompeten untuk bisa bermain dalam survival mode. Dan kau seolah jadi kartu As bagi kami.” Taeil kembali berkata panjang lebar.

Heran sekali bagaimana dia bisa punya kemampuan bicara yang begitu baik. Dari mana dia belajar semua kata-kata itu padahal selama ini ia selalu berkutat dengan game dan komputer?

“Aku kembali!” kudengar cicitan seorang gadis ketika aku baru saja hendak membuka mulut dan menyahuti ucapan Taeil.

Herin dan Jeno muncul di ujung pintu dengan masing-masingnya membawa dua kantong plastik besar yang kuyakini berisi makanan.

“Wah, luar biasa. Seungwoo, tolong lihat Jaehyun di ruang sebelah. Dia pasti kelelahan karena sudah tiga hari tidak tidur. Kalau dia tertidur biarkan saja, tidak perlu dibangunkan.” ucap Taeil, dia kemudian bergerak meraih kantong plastik yang ada di tangan Herin.

Diam-diam aku berpikir, berapa lama mereka sudah menghabiskan waktu bersama? Mengapa di mataku mereka terlihat seperti keluarga yang saling memedulikan satu sama lain? Taeil bahkan kuyakini tidaklah terlalu tua jika dibandingkan dengan Daniel atau Seungwoo, tapi saat Taeil memerintah tadi, Seungwoo langsung meninggalkan PC-nya dan melangkah ke ruang sebelah yang dimaksud Taeil.

“Jaehyun tertidur. Sisakan saja ramyeon untuknya, juga beberapa bungkus kimchi. Dia pasti akan sangat kelaparan saat terbangun nanti.” Seungwoo muncul di ujung pintu.

Benar, bukan? Mereka sudah begitu akrab dan dekat layaknya kedekatanku dengan Ashley juga Taehyung? Kira-kira, bagaimana keadaan Baekhyun di kehidupan nyata? Apa dia juga seorang game freak sepertiku?

Atau dia seorang mahasiswa jenius seperti Taeil? Dia tidak mungkin berasal dari keluarga seperti Taehyung, atau Royal Thrope… atau unggulan-unggulan dari White Town, bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku hanya punya waktu dua jam untuk tidur, dan waktu tidur itu adalah jam empat hingga enam pagi. Sementara jam sembilan kami harus sudah tiba di perusahaan untuk menampilkan demo pertama yang sudah dibuat oleh Tim Delta.

Daniel, Seungwoo, dan Taeil, sama sekali tidak tidur. Ketiganya begitu sibuk memperbaiki sistem dalam demo version, sementara Herin sendiri pukul tiga dini hari tadi terlelap di atas drawing pad miliknya. Bisa kuingat bagaimana Jaehyun dini hari tadi menyelimuti Herin dan memindahkannya ke sofa untuk tidur berjajar dengan Ashley—dia juga ikut bermalam karenaku.

Jeno sendiri hampir tidak berkedip memandang layar komputer sejak tengah malam sampai akhirnya dia menyerah dan tertidur di jam yang sama denganku. Jaehyun terbangun tengah malam, jadi rasanya dia sudah pasti ikut melupakan waktu tidur seperti tiga orang lainnya.

“Oh, selamat pagi.” Taeil menyapa begitu dia melihatku bangkit dari survival tube yang jadi tempatku terlelap tadi.

“Sudah sejauh mana kalian memperbaikinya?” tanyaku, mengingatkan Taeil pada masalah terakhir yang kami temui dini hari tadi saat aku terakhir kali masuk ke dalam survival mode.

“Aku sudah berhasil memperbaiki visualisasinya dengan karakter yang Herin buat malam tadi. Tapi Daniel belum berhasil meminimalisir penggunaan RAM dalam permainannya. Seungwoo sendiri masih mengawasi kinerja RAM yang Daniel kerjakan.

“Jaehyun sepertinya menyimpan dendam pada music background opening demo ini. Jadi semalaman suntuk dia sibuk menggumamkan musik tidak jelas. Kau bisa mempersiapkan dirimu dulu, Jiho. Kalau jam delapan baru mempersiapkan diri, kita semua pasti akan terlambat.”

Aku akhirnya mengangguk paham, sementara kutepuk pelan bahu Taeil.

“Semangat, kau pasti bisa menyelesaikannya.” ucapku membuat Taeil mengerang pelan.

Argh! Senang sekali bisa merasakan seseorang menepuk bahuku begitu. Seluruh tubuhku rasanya begitu kaku.” Taeil berucap sembari memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, bunyi kemeretak pelan kemudian berhasil kudengar.

Aigoo, aigoo. Lihat bagaimana Taeil berubah menjadi kakek tua dalam semalam.” Seungwoo kudengar menyeletuk disusul dengan kekehan pelan dari bibir Daniel.

“Biar kubantu mengembalikan fungsi tubuhmu, Darkpollo-ssi.” kataku sambil menepuk-nepuk pelan kedua bahu Taeil bergiliran.

Bisa kudengar bagaimana Taeil menghembuskan nafas panjang, pasti tubuhnya sekarang bisa terasa sedikit lebih relaks daripada tadi, bukan?

“Aku juga mau, Jiho-ssi. Dibandingkan dengan Taeil, kami berdua lebih kekurangan tidur, asal kau tahu.” Seungwoo lagi-lagi berkata.

Aku hanya menyahuti perkataannya dengan gelengan pelan. Tidak ada kecanggungan yang tercipta di antara kami, meskipun aku seharusnya bisa mereka kategorikan sebagai orang asing baru di dalam kelompok ini.

Apa mereka semua memang sudah terbiasa menerima seseorang baru seperti ini?

“Baiklah, baiklah. Sekarang kalian bertiga terlihat seperti tiga orang kakek tua.” candaku membuat ketiganya tergelak.

“Kami sudah terlalu sibuk menghabiskan waktu dengan komputer sampai tidak ada waktu untuk mengingat-ingat umur kami sendiri.” Daniel berucap, dibandingkan dengan Seungwoo, Daniel tampaknya lebih jarang bicara.

“Aku tahu, kalian’kan jenius komputer, sudah jelas lebih sibuk dengan komputer dibandingkan hal lainnya.” ucapku sambil kemudian berpindah pada bahu Seungwoo dan juga Daniel.

“Dimana Jaehyun, omong-omong? Aku tidak melihatnya dan tidak juga mendengar musik yang dia buat.” ucapku kemudian, menyadari bahwa Jaehyun tidak duduk di depan layar besar PC yang semalam seolah jadi bagian dari jiwanya.

“Ah, dia pasti di studio. Biasanya Jaehyun beristirahat di sana setelah menyelesaikan musik demo buatannya.” ucap Taeil menyahuti.

“Ah, begitu… kalau begitu aku akan mengecek keadaan Jaehyun. Aku juga ingin sedikit menyegarkan diri sebelum kita berangkat.” aku berkata, memutuskan untuk meninggalkan mereka bertiga yang masih terjaga untuk menyelesaikan bagiannya.

Aku kemudian melangkah keluar ruangan, mendapati bayangan Jaehyun yang terlihat dari jendela studio. Dia tampak memandang serius ke arah deretan tombol-tombol rekaman suara yang ada di dalam studio, sementara sebuah headphone terpasang di telinganya.

Apa Jaehyun sadar kalau sekarang sudah pagi hari?

Penasaran dengan keadaan Jaehyun, aku akhirnya melangkah mendatangi Jaehyun, mengetuk pelan kaca studio—membuat Jaehyun mendongak menatapku dan melepaskan headphone yang ia kenakan sembari menatapku dengan alis terangkat.

Aku kemudian mengetukkan jemariku ke pergelangan tangan, menandakan bahwa aku mengingatkan Jaehyun tentang waktu sekarang. Dengan tanggap Jaehyun memutar tubuhnya, menatap ke kiri dan kanan mencari keberadaan handphone yang rupanya ia abaikan di atas meja kecil dekat pintu.

Jaehyun lantas meraih ponselnya dan menekan tombol power di samping handphone tersebut. Ekspresinya sedikit terkejut ketika dia melihat jam enam lewat lima belas menit di layar handphone tersebut.

Jaehyun kemudian berbalik, menatapku dan mengarahkan tangannya ke arahku dengan membentuk tanda ‘ok’ sebagai tanda bahwa dia sudah sadar akan waktu yang sekarang sudah terbatas.

“Aku sungguh tidak sadar kalau ini sudah pagi.” ucap Jaehyun saat dia melongokkan kepala keluar dari pintu studio.

“Kupikir kita harus berangkat jam delapan dari tempat ini. Kata Taeil jarak dari tempat ini menuju perusahaan cukup jauh, dan ini hari sibuk, macet pasti ada di mana-mana.” ucapku mengingatkan Jaehyun.

“Aku tahu, aku juga ingin mandi. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan air.” kekehnya sambil kemudian keluar dari sudio dan menutup rapat pintu ruangan tersebut.

“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanyaku dijawab Jaehyun dengan sebuah gelengan pelan.

“Masih ada masalah. Kau tahu, musik yang kubuat akan sedikit tersendat-sendat saat player memilih untuk masuk ke dalam Hall utama. Padahal Hall utama adalah tujuan yang pasti setiap player datangi saat login.” Jaehyun menjelaskan, sementara dia sendiri sekarang sibuk meregangkan tubuhnya.

Pasti melelahkan, karena harus menghabiskan waktu dengan duduk terus-terusan di atas kursi keras dan memekakkan telinga dengan menciptakan musik.

“Kau sebaiknya mandi, kemudian sarapan. Semalam kau juga tidak memakan ramyeon dan kimchi yang Taeil sisakan untukmu, bukan?” ucapku sambil menatap Jaehyun yang sekarang memamerkan deretan sempurna giginya.

“Benar, aku sudah berniat untuk makan ramyeon saat aku ingat pekerjaanku belum selesai.” ucap Jaehyun membuatku menggeleng-geleng takjub.

Ternyata, aku bukan satu-satunya orang yang bisa melupakan segala hal hanya karena game. Bedanya, yang Jaehyun lakukan dan sibukkan adalah soal permainan, dan pekerjaan, bukan sekedar bermain game seperti yang aku lakukan.

“Cepatlah menyusul kami ke ruang utama.” Jaehyun berucap sebelum dia kemudian berlari kecil ke arah ruangan tempat Taeil dan yang lainnya berada.

Ah, hari ini sepertinya akan melelahkan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kami sampai di NG Game Factory tepat jam setengah sembilan pagi, dengan menaiki mobil yang Taeil miliki. Sepanjang perjalanan menuju NG Game Factory kami banyak bertukar cerita, tentang bagaimana Taeil menjadi sumber dana utama bagi Tim Delta, sampai rasa penasaran mereka terhadap Invisible Black yang dekat denganku.

Ah, ada rasa bangga yang mau tidak mau menyelip dengan lancang ke dalam batinku tiap kali seorang player bicara soal kedekatanku dengan Baekhyun. Mereka bahkan menduga-duga tentang hubunganku dengan Baekhyun yang bisa berubah menjadi pair.

Well, kami memang sudah menjadi pair. Hanya saja, seisi WorldWare belum mengetahuinya. Herin jadi orang paling antusias saat kami bicara soal Invisible Black, dia katakan kalau dia selalu terinspirasi untuk membuat character villain tiap kali melihat Baekhyun beraksi.

Sementara Daniel dan Seungwoo sendiri lebih membicarakan Baekhyun karena rasa kesal mereka setelah Town mereka diserang oleh Baekhyun. Tiadk ada yang mencurigai keterlibatanku dengan Baekhyun sebelum Enterprise diserang.

Mereka justru mengira jika aku dekat dengan Baekhyun semenjak aku meninggalkan Enterprise. Ah, bahkan dari mereka aku juga tahu bagaimana buruknya kelakuan anggota Enterprise sendiri.

“Oh, kudengar dari Tim Alpha ada SelynMa yang disebut sebagai saingan Ashley saat berusaha menduduki kursi The Most Gorgeous Player dalam WorldWare. Apa tidak masalah bagimu?” tiba-tiba Jaehyun berkata saat kami berjalan menuju lift yang akan membawa kami ke lantai tujuh, tempat semua tim berkumpul untuk menayangkan demo mereka.

“Benarkah? Ya, kurasa, aku hanya tidak perlu memberitahu siapapun tentang siapa aku, bukan? Lagipula, tidak ada bangganya menjadi player unggul di saat seperti ini. Bukannya aku akan masuk dalam survival mode yang kalian modifikasi dengan menggunakan ID yang juga sudah dimodifikasi?” kataku, secara tidak langsung mengisyaratkan pada mereka semua tentang keenggananku untuk memberitahukan pada siapapun mengenai fakta bahwa aku adalah HongJoo.

Tidak ada yang bisa dibanggakan, sungguh. Yang ada aku justru merasa khawatir, karena permasalahan yang aku hadapi sebagai HongJoo di dalam WorldWare masih belum terselesaikan.

“Benar, kami juga tidak pernah mengumbar-umbar ID kami saat kita melakukan pertemuan tim. Taeil katakan kalau hal itu sangat tidak menguntungkan.” Seungwoo berucap, dia sekarang tengah memerhatikan keadaan Daniel yang datang dengan membawa survival tube di punggungnya.

“Ya, terutama karena aku dan Seungwoo berasal dari Town yang cukup berbahaya bagi mereka. Kupikir mengumbar ID hanya akan menyusahkan saja.” sambung Daniel mengingatkanku bahwa mereka berdua berasal dari ANonymous dan artinya, mereka berdua tergabung dalam Town yang kerapkali membuat masalah karena meretas akun player lainnya.

“Jadi kita sepakat untuk saling menutupi ID satu sama lain?” Herin kemudian angkat bicara, dia dan Jeno disibukkan dengan perangkat komputer milik Jeno.

“Yap, anggap saja ini komitmen, untuk saling menjaga privasi masing-masing anggota tim. Bagaimana?” Taeil akhirnya berkata.

“Baiklah, aku setuju.”

“Aku juga,”

“Setuju.”

Pintu lift terbuka saat kami saling menyahuti perkataan ‘setuju’ dengan kalimat serupa namun bermakna sama. Ada tiga orang yang rupanya sudah ada di dalam lift. Dua laki-laki dan satu perempuan. Ketiganya mengenakan pakaian yang seragam. Diam-diam hal ini membuat nyaliku ciut juga.

Apa mereka salah satu anggota tim lainnya yang jadi saingan dari tim Taeil?

Tanpa bicara apapun kami kemudian masuk ke dalam lift. Aku sendiri berdiri menjajari Jaehyun, dan kami berdiri di bagian sudut belakang lift. Bisa samar-samar kudengar musik yang terplay dari headset yang terpasang di telinga Jaehyun.

Aih, bisa-bisanya Jaehyun mendengarkan musik rock di saat seperti ini?

Kecanggungan kemudian mendominasi, bahkan saat kami sampai di lantai tujuh, tidak ada satupun dari kami yang berhasil menemukan bahan pembicaraan. Ekspresi Taeil sendiri tampak tertekan dan terbebani. Apa dugaanku tadi benar?

Aku baru saja hendak bertanya pada Jaehyun saat pintu lift terbuka, membuat tiga orang sebelum kami tadi segera keluar dari lift, menyisakan anggota tim Delta di dalamnya.

“Itu tadi SelynMa.” Jaehyun berucap padaku, pandangannya lekat tertuju pada gadis bertubuh tinggi semampai yang sekarang berjalan dengan penuh kepercayaan diri ke dalam ruangan dengan sekat kaca yang ada di hadapan kami.

“Jangan terlalu merasa tertekan. Kita boleh saja tidak unjuk gaya dengan mengenakan seragam serupa. Tapi kita harus tunjukkan hasil pekerjaan kita yang sesungguhnya.” ucap Taeil penuh percaya diri.

Bagaimana bisa kami percaya diri saat Taeil saja tidak terdengar percaya diri?

“Ada Jiho di sini, apa lagi yang kita khawatirkan?” Jaehyun berucap, dia kemudian menepuk bahuku sembari melempar sebuah senyum.

“Di demo penyisihan dulu, kami dipermalukan karena player trial kami yang begitu buruk. Well, jangan salahkan Ashley, dia dipaksa Taeil untuk jadi player trial saat itu. Tapi sekarang, kita punya kau, Jiho.” ucap Jaehyun.

Aku sendiri sibuk berspekulasi, siapa yang akan jadi player trial untuk tim lain? Apa SelynMa juga ikut? Kuakui dia punya skill battle yang cukup bagus meskipun ranknya masih jauh dariku.

Aku tidak pernah mencoba berhadapan dengan SelynMa karena kami ada di Town yang sama selama ini. Tapi lihat sisi baiknya, Jiho, kau benar-benar bisa menguji dirimu sendiri kali ini.

“Ayo kita masuk.” Taeil berkata saat kami mulai melangkah menyusuri koridor yang membawa kami kepada ruangan bernuansa kaca yang ada di sudut lantai tujuh.

Ada beberapa bilik kaca di sana, masing-masing telah berisi beberapa kelompok. Tim Delta sendiri ada di sudut terjauh dari layar yang akan menjadi tempat kami unjuk aksi. Tapi tidak masalah, justru di sudut sana ada ruang cukup luas bagi kami semua.

“Ah, tim terakhir sudah datang. Kulihat kau sudah membawa orang baru.” seorang pria berpakaian rapi dengan nuansa merah marun berdiri di dekat sebuah layar proyektor besar di bagian depan ruangan.

“Apa kau membawa player newbie lagi, Taeil-ssi?” kukenali sosok yang tadi Jaehyun katakan sebagai SelynMa berkata, meledek Taeil tentu saja.

“Jangan mempermalukannya sekarang, Selyn. Kita bisa menghancurkannya nanti di dalam demo.” seorang pria dari kelompok lain berkata.

“Dia berasal dari Enterprise juga.” Jaehyun berbisik di belakangku sementara anggota lainnya sibuk menata perlengkapan mereka di atas meja.

Well, well. Jangan saling menjatuhkan mental saat perang belum dimulai. Seperti yang sudah kukatakan tempo hari, battle beta version kali ini akan menentukan ruangan tempat kalian bekerja nanti.

“Sudah kujelaskan sebelumnya, kalau di lantai tujuh ini adalah ruang untuk kalian semua para tim pengembang WorldWare yang baru. Tiap-tiap ruangan memiliki kelebihan tersendiri. Dan tim yang menampilkan beta battle terbaik hari ini akan dapat menggunakan ruangan Tipe A yang berada dekat dengan kantorku.

“Kelompok yang paling buruk, akan kuberi kesempatan terakhir dengan menempati ruangan Tipe D dengan perlengkapan seadanya. Ingat, ruangan yang kalian tempati akan sangat berpengaruh pada karya yang kalian buat.” pria itu lagi-lagi menjelaskan.

Mengapa wajahnya terlihat sangat familiar dalam pandanganku? Apa aku pernah melihatnya, di dalam game? Atau aku pernah melihatnya dalam televisi maupun majalah yang selalu Ashley bawa pulang?

“Aku tidak berharap banyak, tapi kudengar ruangan Tipe C sudah cukup bagus.” Taeil berkata padaku saat aku memutuskan untuk duduk di sudut bilik kecil kami.

“Dan kau mau biarkan mereka menginjak-injak harga diri tim kita lagi?” aku berkata, kutatap Taeil dengan pandangan tidak percaya.

“Kemampuan mereka jauh di atas kami, Jiho. Beberapa dari mereka bahkan lulusan dari universitas terkenal di luar negeri. Sebagiannya lagi bahkan sudah pernah berhasil menciptakan game meskipun game itu pada akhirnya mengalami kerugian.

“Ada hal yang tidak kuberitahukan padamu, kalau di sini persaingannya terlalu mengerikan. Kau mungkin bisa bermain dengan luar biasa bagus, tapi kemampuan kami mengembangkan survival tube yang kau gunakan masih belum cukup bagus.”

Aku menggeleng tegas, menolak argumen Taeil tentang bagaimana aku harus mengalah pada orang-orang yang sudah jelas ingin menginjak-injak kami saat ini. Bagaimana mungkin aku tidak menduga kalau orang-orang kejam seperti mereka akan menjadi saingan tim ini?

Hey, kau gadis berkemeja biru.” kudengar seseorang memanggilku.

Aku melemparkan pandang ke arahnya, jelas kukenali siapa yang sekarang bicara padaku. Wajahnya dalam visualisasi WorldWare dan dalam kenyataan tidaklah jauh berbeda.

Dia adalah Caffein dari White Town. Ah, namanya Cha Eunwoo, aku bisa mengetahui namanya dari nametag yang dia kenakan sekarang.

“Dari Town mana kau berasal? Apa kau punya rank yang bagus dalam WorldWare?” tanyanya membuatku mendengus pelan.

Bagaimana bisa dia bandingkan dirinya dengan diriku yang bahkan jauh di atas rank miliknya? Tidak, Jiho, ingat komitmen yang sudah kau buat dengan timmu. Aku menatap sejenak pria berpakaian merah marun yang berdiri di bagian depan ruangan, sementara pandangannya sekarang mengawasiku.

Tampaknya dia menunggu jawaban dariku. Ah, apa dia juga seorang player WorldWare?

“Kenapa? Apa kau khawatir karena rankmu dalam WorldWare termasuk dalam rank rendah yang bisa dihancurkan dengan begitu mudah?” ucapku, tidak salah bicara tentu saja, karena jika aku sekarang login dengan menggunakan ID milikku, Cha Eunwoo bukanlah apa-apa.

“Kau sombong sekali, ternyata.” Eunwoo berkata, dia kemudian menepuk bahu pria di sebelahnya—yang sejak tadi membelakangi kami. “Bukan aku lawanmu, tapi dia. Kau pasti tahu kuda hitam terkenal dari White Town, bukan?” ucapnya mengingatkanku pada sosok White Horse yang selalu dibangga-banggakan oleh White Town.

Tawa pelan kudengar lolos dari bibir pria yang sedari tadi mengawasi kami. Bisa kulihat kalau dia lah orang yang paling berkuasa dalam ruangan ini.

“Kau pikir aku takut karenanya? Lagipula, kita tidak bicara tentang rank dalam permainan ini, tapi kita bicara tentang kemampuan.” ucapku, meski sebenarnya aku tidak juga percaya diri tentang timku sendiri.

“Mintalah maaf padaku sebelum aku berkeinginan untuk membantaimu dalam game yang kita jalani nanti.” ucap White Horse memperingatku.

“Kenapa dia harus meminta maaf padamu?” Taeil angkat bicara.

Hah, lihat siapa yang sekarang punya keberanian untuk bicara.” White Horse berkata dengan nada geram. “Kau ingin mati?” sambungnya membuat Jaehyun segera berdiri menantang.

Hey, kau pikir kau pantas berkata seperti itu pada leader kami?” ucap Jaehyun.

“Ruangan ini sudah berubah begitu panas, rupanya.” komentar si pria berpakaian merah.

“Tim Delta bahkan sudah berani menegakkan pandangan karena player trial yang dibawanya. Kuduga kau pasti seorang player berbakat karena Tim Delta begitu membanggakanmu.

“Tema battle hari ini adalah The Red Sun. Berbeda dengan tema di battle yang lalu, The Dawn’s Fall. Karena kau adalah orang baru di sini, bisa kuumpamakan kau sebagai Dawn ketimbang Sun, Song Jiho-ssi.” pria itu berkata.

Ucapannya kemudian berhasil membuat Taeil tertunduk. Sudah jelas, di battle sebelumnya tim ini dipermalukan dengan begitu parahnya oleh mereka semua yang berdiri di dalam ruangan ini.

Dan apa tadi dia menyebutku? Matahari yang baru saja terbit? Dan dia pikir dia sudah cukup baik karena bisa membanggakan diri sebagai matahari yang terik?

“Jangan menunduk, teman-teman. Sudah seharusnya kita semua sama-sama menegakkan pandangan. Karena matahari terbit yang mereka cemooh sekarang akan bersinar lebih terang daripada mereka yang mengumpamakan diri sebagai matahari terik.”

Mendengar ucapanku, pria berpakaian merah itu menyunggingkan sebuah senyum sarkatis.

“Kau begitu percaya diri, ya?” ucapnya.

Aku kemudian berdiri, menatapnya di kedua manik mata dengan pandangan sama menantangnya, juga dengan sebuah senyum sarkatis yang sama menghinanya.

“Kudengar, cara apapun diperbolehkan dalam battle beta version ini. Kalau begitu, aku akan gunakan Dawn Attack. Apa kau pernah mendengarnya? Kalau belum, biar aku tunjukkan pada kalian semua tentang apa Dawn Attack itu dalam battle ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku masuk ke dalam survival mode dengan penuh percaya diri. Dengan mudah diriku bisa beradaptasi pada survival tube yang semalam dimodifikasi lagi oleh Taeil. Kami sekarang berdiri di tengah Tacenda Corner, rupanya mereka sudah melakukan modifikasi pada Tacenda Corner, sehingga sekarang aku bisa berdiri di Tacenda Corner tanpa harus repot-repot berusaha mengaksesnya.

Aku tidak bisa mengontak Wendy saat ini, meski aku bisa melihat bagaimana dia berdiri menungguku dan lima player trial lainnya menginjak start. Tapi, tujuanku sekarang bukanlah Wendy.

Meski pria berpakaian merah itu mengatakan bahwa dia sudah melakukan modifikasi pada NPC yang ada di dalam sini, tetap saja… bagiku Red Hair Witch yang sekarang berdiri di hadapan kami adalah Wendy.

Dan juga, sekali lagi tujuanku bukanlah Wendy. Pria itu mungkin mengatakan pada kami bahwa pemenangnya adalah player pertama yang berhasil mengalahkan Red Hair Witch. Setelah Red Hair Witch tumbang, akan muncul Red Hair Witch lainnya untuk menentukan player dengan rank ke-dua, ke-tiga dan seterusnya.

Tapi, aku sedang berdiri bukan untuk mengalahkan Wendy, melainkan untuk mempermalukan mereka semua.

Dawn Attack adalah sebuah strategi lama yang diketahui oleh segelintir player. Dawn Attack menggunakan konsep, mengalahkan player lainnya sebelum player tersebut menguasai villain sendirian.

Jadi, jika aku ingin melancarkan Dawn Attack, aku harus membunuh lima orang player lain di sini, ketimbang berputar-putar memperebutkan serangan pada Wendy. Baru kemudian setelah mereka semua kukalahkan, aku bisa mengalahkan Wendy sendirian.

“Sekarang!” kudengar salah seorang player berteriak. Tunggu, kenali mereka dulu, Jiho.

White Horse, Titania, Olympus, O-Clown dan White Flaw. Dan mereka adalah… Park Jimin, Kim Yoojung, Park Jisung, Hope, dan Jung Krystal. Baiklah, lawan yang mudah, Jiho. Kau bisa mengalahkan mereka.

“Mengapa kalian begitu senang bermain-main di tempat tinggalku?” kudengar suara Wendy menyapa, dia tengah melayang di udara sementara orch-orch kecilnya mulai berterbangan menyerang kami.

Ugh, aku tidak boleh menyibukkan diri dengan orch ini sekarang.

Aku ada di level 59, dan beberapa equipment unggulan juga kumiliki. Ah, sword. Twins sword ada di tanganku sekarang.

“Flaw! Serang dia dengan ability Mage-mu!” White Horse berteriak pada White Flaw.

Meskipun mereka ada di tim yang berbeda, rupanya kelakar mereka sebagai satu Town yang sama masih tidak berubah juga.

Segera, aku mengambil archery dari equipmentku, mengarahkannya pada White Flaw yang sekarang berusaha untuk terbang menggapai Wendy. Kugunakan salah satu racun dalam potion untuk melumuri anak panah yang kugunakan dan—

SRASH!

Argh!”

White Flaw ambruk ke tanah karena kedua sayapnya sekarang menjadi sasaran utama archery milikku.

Hey, anak baru apa yang kau lakukan?!” White Horse berteriak, meski dia tidak menggunakan ID asli, tapi aku tentu mengenali visualisasinya.

“Mengapa? Bukannya tadi kau menantangku?” ucapku sembari tersenyum sarkatis, rupanya White Horse tidak menyadari bagaimana sekarang salah satu twins swordku sedang menyelinap dari punggungnya.

“Bersiaplah, Park Jimin-ssi.” kataku sambil berbalik, tidak lama kudengar erangan kesakitan White Horse, diikuti dengan suara gedebuk tanda bahwa dia ambruk.

Ternyata, ada gunanya berlama-lama menghabiskan waktu dengan Baekhyun. Dia bisa membuatku belajar tentang kata-kata sarkatis yang bisa kugunakan untuk melawan seseorang.

“Yoojung, anak baru itu!” White Flaw berteriak memperingati, tapi dia sudah terlalu terlambat untuk memberi ruang pada player muda seperti Kim Yoojung untuk bisa berlari dari kejaranku.

Jadi dengan cepat aku menyerang Yoojung, mencabik tubuhnya dengan salah satu twins sword yang ada di tanganku sementara tanganku yang terbebas mengeluarkan black rodeo yang kugunakan untuk membelit O-Clown saat dia hendak menghancurkan pertahanan Wendy menggunakan equipmentnya.

Argh!”

O-Clown terlogout karena game over. Baru saja, Wendy menyarangkan sebuah sword berukuran besar di tubuhnya, tepat setelah aku membuat O-Clown ambruk.

“Rasakan ini!”

“Jiho, awas!”

Baekhyun?

Aku terkejut bukan kepalang saat kudengar seseorang dengan suara serupa Baekhyun meneriakkan namaku. Saat aku berbalik, kudapati Olympus sudah berdiri dengan sebuah ministry sword bersarang di lehernya, ministry sword dengan kabut hitam di sela-sela rantainya.

Tubuh Olympus kemudian ambruk, dan perlahan berubah samar. Dia terlogout juga karena game over. Tapi tunggu dulu… aku sungguh mengenali ministry sword yang baru saja membunuhnya.

Ministry sword ini… tampak seperti milikku saat Baekhyun menggunakannya di tengah after effect.

Apa ini? Bagaimana bisa ministry swordku ada di sini?

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Oke, tarik nafas-hembuskan. Ini adalah rekor terpanjang aku ngetik satu chapter dalam waktu cuma dua jam setengah. Rasanya kayak balapan antara jari-jari sama perut yang keroncongan. Balapan juga sama pengajian di depan rumah yang udah menunggu, hu hu ~

Jadi ceritanya, miane hajima, wedding mereka nanti ya, chapter depan, karena ada kejutan lainnya di dalem wedding mereka nanti. Ehem, ehem. Anggep aja ini orientasi dulu si Jiho biar berpuas-puas ria di kehidupan nyata sebelum dia nanti kejebak dalem game /eh spoiler eh/ /ohok/.

Beberapa orang yang biasable juga muncul yha di sini. Duh, duh. Ngebayangin Cha Eunwoo jadi somse di sini itu greget greget gimana gitu rasanya, tapi demen. Dan semakin aw, aw gitu aku pas ngetik chapter enam belasnya bikos di sana kan masih lanjut sama Wendy ya, LOLOLOL. Tega enggak sih nanti Jiho ini ngebunuh Wendy? Tebak aja udah, karena aku mah suka-suka jari nanti buatnya.

Btw, karena terlalu semangat ngebut tiap hari setelah pulang kerja, dua hari terakhir jari-jari aku sering tiba-tiba kram dan gabisa dipake ngetik. Duh sedih, pertanda buruk apakah ini. Tapi enggak masalah sih, masih bisa ngetik ngebut juga :”)

Nah, sekian dulu ocehan dariku. Dari istilah di atas apakah ada yang masih perlu dibuat glossarium? Enggak kayaknya ya, udah mulai pada hafal sama istilah-istilah yang dipamerin sama Baekhyun dkk di sini kan? Alhamdulillah.

P.s: ini ceritanya Dawn Attack ini punya arti ambigu yang bikin keinget sama masa-masa UN, LOLOLOLOLOLOLOL.

Ya udah, sekian dulu, sampai ketemu minggu depan, kawan!

Salam kecup dariku, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

32 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 15 [Dawn Attack] — IRISH”

  1. kebayang weddingnya…aaahhh…
    gegara baca satu chapter aja jadi ketagihan..yang awalnya bingung dengan kosakatanya jadi ngerti sendiri,,
    irish..love youuuuuu 😀

  2. Uh.. uh.. Jiho keren mahhhh…
    suka banget sama jiho yg galak euhhh…
    kayak gitu donk, ngelawan orng yg somse tu pkai omongan + tindakannn…
    btw, jiho nya lupa gak sma janjinya??
    kn cian si byunbaek lama nunggu…
    but kk, keep writing yyy.. good jooobbbb….

  3. Aku yakin deh. Itu bukan Baek,
    tapi kok aura bahayanya mulai berasa deh di level ini.
    Kalo ingat cluenya Irishnim kemaren, si Taeil dan kawan-kawan tim Deltanya memang bakal bawa masalah kan? yakan, kan kan kan? /yee, maksa nih daku/

    trus, kan kupikir kalo Daniel, Seungwoo, Jeno, Jaehyun de-el-el de-el-el itu musuhan kan sama Baek sama Jiho, awalnya kupikir yang cowok merah marun itu si white tiger kek ato apa, tapi gak mungkin banget kan, soalnya kan yang musuhan sama Jiho di game jadi temennya di reallife.
    Hadeuh, bingung nih. Penasaran jadinya. /maaf, tolong abaikan paragraf ini, gakjelas banget. mian/

    Tapi iyah. emang bingung.

    Trus weddingnya kapan hayoo…?
    Plis.
    Aku gregett ngebayanginnya.
    Baek itu ganteng, level nya tinggi lagi, trus, /jangan anggap aku matre plis, tapi setiap orang tetep ga bisa mungkirin fakta kalo richness juga menggoda iman. hhaha/ pouchnya banyak banget.
    uwaahhh…
    Weddingnya gimana kira” ya?

    Himnebuseyo Irishnim.

    Sincerely,
    Shannon

    1. Iyes, aku emang ada bilang kalo Taeil dkk bakal ngebawa Jiho ke kehidupan yang baru XD dan udah kan, jihonya udah ikutan di kehidupan yang baru milik mereka XD enggak ngegame mulu kelakuannya jiho sekarang mah XD
      DAN AKU BAHAGIA KARENA MEN IN RED NYA BELUM AKU KASIHTAU SIAPA XD XD NANTI DEH CHAPTER SELANJUTNYA AJA AKU KASIH TAU… NUNGGU DEMO VERSE DULU SOALNYA XD

  4. yeuu kepotong T,,T

    ohlupa kan dia yg nanti sorenya nikahan kan ya wkwkwk masa mau wedding sama babak belur kan gamungkin ngehehe :v
    serangan fajar ya kak? wkwkwk btw aku aja sampe abis un masi gapaham apaitu serangan fajar >~<

  5. pria berpakaian merah marun deket proyektor hmm deket kantorku… hmm gak asing… udah fix jelas mah ini baekhyun ini yg buat worldware, mungkin baekhyun udah menyadari ada jiho di tim delta pas dateng itu ya? adudududu kok khawatir banget sampe ikut masuk ke ww sih baek kan jadi baper >~<

  6. Wah wah wah..
    Apa ini? Apa ini? Knp TBC nya begini? Bikin g bisa tidur..
    Knp si baekyun tiba2 ada? Atau mmg dia ada di demo itu? Ya kan? Ya kan? Aku bener kan? /tuh kan gue jd comel/ gegara deg2an
    Udah ah, cuz baca lagi..

  7. Kak Rish… Swear… Ini chapt aku suka banget.. gregetan sendiri jadinya… Kenapa TBC nya kak Irish nempatinnya thu pas bgt.. kan jadi kepo tingkat dewa gini.. huhuhuhu .. masih harus nunggu Minggu depan baca lanjutannya.. cepetan update ya kak…
    Btw kak.. aku punya tebakan sendiri tentang si Baekhyun ini.. tapi males ngetik kebanyakan 😁

  8. Keknya baekhyun yang bikin ini game, trus cowo yg jelasin ruangan A B C D itu baekhyun kan kak rish? Kan kan kan /maksa 😂
    Geregetan tbc nya pas lagi greget”nya..
    Btw mau curhat, gara” baca ff ini aku yg awalny gak tahu menahu ttg game online jadi pnasaran pengen main game online.. Terus nanya” ke temen yg gamers game yg lagi rame apa trs doi nyaranin werewolf soalny gampang buat yang gangerti game.. Trs mulai main kan aku ga berapa lama ditawarin ikut clan yaudah ngikut eh terus ada slah satu member yg mulai chat” terus ngajakin wedding, ya krn aku pikir ini cuman game aku terima ae,, eh makin kesini doi mulai chat yg gaberhubungan sma game trus bilang klo dia bneran baper dan pengen pacaran real life 😂 gangerti lagi harus kek apa ,, ini semua salah kak rish /ga
    Sekian curhatan gaje dari aku 😂
    Ditunggu terus kelanjutanny,fighting kak rish !!

    1. XD aku kan emang demen nyempilin tbc di bagian greget gitu sayangku ~~
      DAN PLIS, INI AKU NGAKAK GITU BACANYA, ANTARA MAU KASIH UCAPAN SELAMAT SAMA GIMANA GITU…
      kan berarti Game Over enggak salah ya ngebuat Baek-Jiho kopelan, soalnya di real life kita aja yang pada main game online bisa baper gitu XD ICIKIWIR ~ ADA BAU PEJE NIH

  9. Pagi2 ak kepoin wp dan ternyaga semalem kamu up level 15
    Romantis banget yaa kata2 baekhyun jadi ngiri. Pen juga di lamar kek gitu
    Tapi masalahnya adalah bagian akhir yg bikiiiiiiin penasaran
    Uuuummm siapa yg pake ministry sword itu? Padahal gak ada baekhyun di tempatnya??

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s